DISCLAIMER :
Togashi-sensei
SUMMARY :
May I kiss you, touch you...then finally make you mine?
WARNING :
AU, OOC, FemPika, rate M.
Terinspirasi oleh salah satu fic yang judul dan authornya akan kusebutkan di ending chapter terakhir ini.
.
Happy reading!
Suddenly, I feel the need to be inside you
Baby, is it what you want too?
Just take my hand, and believe in our future
You're mine, all mine...
Sepasang tangan putih dan mulus mencengkeram seprai di bawahnya. Bibir mungilnya yang berwarna merah muda terbuka sesekali bersamaan dengan merdunya suara desahan yang keluar dari sana. Bahkan saat ini, bagian bibir bawahnya ia gigit–dikarenakan oleh sensasi menyenangkan yang dia terima di bagian bawah tubuhnya.
"Nggh..."
Gadis itu berusaha menahan gejolak yang dia rasakan. Dadanya naik turun dengan kedua puting yang menonjol dan keras karena rangsangan yang diberikan padanya. Dia membuka matanya, menatap sepasang mata hitam yang seolah tak berdasar itu.
Kekasihnya.
Tatapan keduanya saling terpaku, seolah sama-sama berkata:
Lihatlah aku...yang memiliki dirimu.
Kedua kaki jenjang di bawah sana mengangkang, sementara sang kekasih tak berhenti memberikan kenikmatan pada organ kewanitaannya.
Sudah lebih dari tiga tahun berlalu sejak malam itu mereka berkumpul di rumah Shalnark dan melakukan aktivitas intim yang lebih jauh dari sebelumnya. Ya, Kuroro dan Kurapika masih tetap bersama hingga mereka menjadi mahasiswa saat ini. Keduanya menempuh pendidikan di universitas yang sama, walau mereka memilih bidang ilmu yang berbeda.
Kuroro melepaskan tatapannya sejenak dari mata biru Kurapika. Dia menunduk, memperhatikan penisnya yang terus-menerus dia gesekkan di sepanjang vagina Kurapika, dan yang sangat membuatnya merasa begitu beruntung adalah melihat ekspresi wajah Kurapika saat kejantanannya yang panjang dan besar itu dia gesekkan di klitoris Si Gadis Pirang. Napas Kuroro pun memburu, menikmati aktivitas itu dan berusaha menahan diri untuk tidak memasukkan penisnya ke lubang senggama Kurapika. Mereka punya suatu kesepakatan yang tak terucap, yaitu tak boleh ada keterpaksaan.
Tubuh mulus Kurapika yang berkeringat berkilat indah dalam remangnya cahaya lampu tidur di kamar apartemen milik gadis itu. Kuroro mengulurkan tangannya yang satu lagi, memainkan salah satu puting payudara Kurapika.
"Ahh...Kuroro!" Pekiknya dengan suara tertahan dan punggung yang melengkung ke atas.
Kuroro melepaskan sebelah tangannya dari puting kanan Kurapika, dan menggunakannya untuk memasukkan sedikit ujung jari itu ke lubang senggama Kurapika. Tentu saja hal ini membuat Si Gadis Clementine semakin menggeliat nikmat.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah saling berpelukan. Kuroro membelai perut rata Kurapika yang basah oleh spermanya. Mereka saling mengecup bibir berkali-kali.
Kurapika menjauhkan wajahnya sedikit. "Kau rindu padaku?" Dia bertanya sambil tersenyum.
Kuroro merengut. "Perlukah kau bertanya?"
Kurapika terkekeh pelan. Dia membelai pipi kekasihnya yang tampan itu. "Aku juga rindu padamu..."
"Setiap malam?"
"Setiap pagi, siang dan malam..."
Kuroro pun tersenyum lagi dan memagut bibir Kurapika dalam satu ciuman panas. Susah payah, Kurapika melepaskan diri dari ciuman itu.
"Sebentar lagi fajar...Kau tidak lupa 'kan, aku harus menemui dosenku dan Ayah akan datang menjenguk sore nanti," dia mengelak.
Kuroro mendekat namun Kurapika pun semakin menjauh. "Aku hanya ingin menciummu," Sang Lucifer beralasan.
"Ya, tapi hanya awalnya saja, 'kan? Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian," Kurapika tetap menolak. Malah sebenarnya dia ingin mandi, tak enak rasanya merasa lengket karena aktivitas seksual mereka semalaman ini, tapi gadis itu merasa lebih baik dia membatalkan niatnya saat melihat raut wajah Kuroro. Kurapika hanya membersihkan tubuhnya dari bekas sperma dan cairannya sendiri dengan tissue basah lalu kembali berbaring. Kuroro memeluknya semakin erat dan menyandarkan kepalanya di dada Kurapika.
"Waktu aku pergi untuk penelitian arkeologiku kemarin, ibuku katanya datang...," kata Kurapika sambil membelai rambut hitam berkilau kekasihnya.
"Ya...aku menemaninya ke sini, dan Ibumu menemukan beberapa bajuku di dalam lemarimu," Kuroro menanggapi dengan suara mengantuk.
"Apa?!"
"Ssh...Ayo tidur..."
"Tapi—"
"Hmhh...kita bicarakan nanti saja..."
Kuroro memeluknya lebih erat, mengacuhkan Kurapika yang masih terlihat terkejut. Ibunya datang dan melihat beberapa baju Kuroro ada di dalam lemarinya...sudah pasti ibunya saat itu langsung membuat beberapa kesimpulan. Yah, walau Kurapika sendiri sebenarnya memang sudah merasa bahwa Eliza, ibunya, sudah mengetahui sejak lama tentang sejauh apa hubungan mereka dan apa saja yang sudah dia lakukan bersama Kuroro.
"Terima kasih atas bimbingan Anda," kata Kurapika pada dosennya. Dia baru saja menyampaikan laporan hasil penelitiannya pada dosen tersebut. Selesai berpamitan, Kurapika melangkah dengan agak tergesa-gesa di koridor itu, sesekali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kurapika!"
Tiba-tiba dia mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya. Kurapika tersenyum melihat gadis berambut merah muda yang tengah berlari menghampirinya.
"Tadi aku bertemu Kuroro, katanya kau sudah pulang!" Neon berkata dengan wajah berseri-seri. Dia mengambil bidang ilmu ekonomi di universitas yang berbeda namun masih terletak di kota yang sama dengan Kuroro dan Kurapika. Dengan alasan yang sederhana tentu saja, yaitu agar dia bisa terus melakukan hobi belanja tanpa harus menghadapi omelan orangtuanya.
Kurapika membalas sapaan gadis itu, "Bagaimana kabarmu? Sedang apa kau di sini, Neon?"
"Ah...aku baru saja mengunjungi kerabat Shalnark yang tinggal di dekat sini..."
Pipi Neon merona, tanpa sadar memainkan rambut merah muda miliknya dengan jemarinya, menampakkan cincin kecil bermata berlian yang ia kenakan pada dua bulan terakhir ini...yaitu sejak dirinya bertunangan dengan Shalnark.
"Kalau begitu, kenapa kau sendirian?" Tanya Kurapika lagi.
"Tentu saja karena Shalnark sedang mengobrol dengan Kuroro!"
"Begitukah? Di mana? Ayo kita hampiri mereka!"
Seketika, Neon langsung terpaku. Kurapika yang awalnya sudah bersemangat pun merasa heran, "Neon, kau kenapa? Kuroro dan Shalnark ada di mana?"
Neon menutupi mulutnya dengan tangan dan terlihat bingung. Ucapan Kuroro terngiang di benaknya saat mereka bertemu tadi,
"Jangan beritahu Kurapika kalau kau bertemu denganku di sini ya, ini kejutan..."
Neon pun berdehem, dan sambil tersenyum gugup dia pun berkata, "A-aku lupa tadi bertemu dia di mana..."
"Neon...," desis Kurapika, yang terdengar menakutkan bagi Neon–mengingat dia sudah sangat mengenal sahabatnya itu.
"Aku permisi ya, aku harus segera menghampiri Shalnark!"
"Kalau kau tidak ingat, ke mana kau akan menghampiri Shalnark? Bukankah tadi kau bilang Shalnark sedang bersama Kuroro?"
Kurapika tersenyum pada Neon, entah kenapa senyuman itu terasa bagai hembusan angin kering yang menerpa rambut merah mudanya yang kini dipotong pendek itu.
"A-aku..."
Neon benar-benar mati kutu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi...sebuah pesan masuk dari Shalnark.
"Ah, aku harus segera pergi! Sampai nanti Kurapika, di lain waktu aku akan datang ke tempatmu!"
Dengan cepat Neon memeluk Kurapika, lalu berlari pergi dari sana. Kurapika menghela napas. Tak ada gunanya menahan kepergian Neon. Dia kembali melangkahkan kakinya, menuju ke tempat parkir. Setidaknya Kuroro berjanji untuk menunggunya di sana. Kalau sampai Kuroro belum datang, sungguh...Kurapika harus menanyainya, menghubungkan keterlambatannya dengan sikap aneh Neon barusan. Dan ada maksud apa di baliknya?
Si Gadis Clementine itu tersenyum dan sesekali membalas sapaan mahasiswa lain yang berpapasan dengannya. Di umurnya yang sudah menginjak awal dua puluhan, Kurapika terlihat semakin memesona dengan rambut pirangnya yang kini dibiarkan panjang. Sebenarnya semua berawal dari suatu kebiasaan yang sederhana, yaitu ketika Kuroro selalu membujuk kekasihnya itu untuk menunda setiap kali dia ingin memotong rambutnya. Itu terjadi berulang kali hingga akhirnya tanpa sadar rambut pirang Kurapika sudah mencapai punggung seperti sekarang ini.
Kurapika sibuk dengan pikirannya sendiri, dan baru tersadar ketika matanya yang biru menangkap sosok Kuroro Lucifer yang tengah berdiri bersandar ke mobilnya. Dia mengenakan celana jeans biru tua dengan kemeja putih yang merupakan hadiah ulang tahun dari Kurapika beberapa bulan yang lalu. Senyumnya yang menawan langsung tertuju pada gadis itu.
"Kita langsung pergi sekarang?" Tanya Kuroro sambil membukakan pintu mobilnya untuk si gadis.
Kurapika mengangguk dan masuk ke dalam mobil. "Sebentar lagi pesawatnya akan mendarat..." jawabnya.
"Tenanglah, kita akan sampai tepat waktu."
Kuroro duduk di belakang kemudi, menyalakan mesin mobilnya. "Kau sudah makan siang tadi?"
"Ya, sudah," jawab Kurapika dengan sabar. Sebenarnya dia tidak begitu suka ditanyai hal kecil seperti itu, namun sepertinya begitulah salah satu bentuk perhatian yang diberikan kekasihnya. Kurapika pun memutuskan untuk memakluminya saja.
"Kau tidak hanya akan memberiku senyuman manismu itu 'kan?" Tanya Kuroro sambil menaikkan sebelah alis matanya.
Kurapika menghela napas. "Kurasa kau sedikit manja akhir-akhir ini," dia menanggapi sambil mendekatkan wajahnya.
Mendadak Kuroro mendahului, dia langsung menangkap bibir Kurapika ke dalam ciuman yang kali ini terasa lembut, setiap lumatannya begitu menenangkan sekaligus membuai. Kurapika berusaha membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, menahan keinginannya untuk melakukan ciuman yang lebih. Dia memejamkan matanya meresapi ciuman itu hingga dengan perlahan pula Kuroro mengakhirinya.
"Sudah siap pergi?" Tanya Kuroro sambil tersenyum.
"Sangat," Kurapika membalas senyuman itu lalu kembali melihat ke depan.
Kuroro mulai mengemudikan mobilnya. Diam-diam Kurapika mengamati pemuda itu. Penampilannya, sikap tubuhnya, setiap kata-kata dan perhatiannya yang menemaninya selama ini, sungguh betapa Kurapika mensyukuri semua itu. Tentu saja sesekali mereka pun bertengkar, kadang hingga saling meminta waktu untuk sendiri, namun tak pernah keduanya benar-benar ingin menyerah dari hubungan cinta itu.
Kurapika asyik mengamati Kuroro hingga lupa bahwa pemuda yang ia amati pun orang yang waspada, peka terhadap apa yang dilakukan orang-orang yang berada di sekelilingnya walau dia tak selalu menunjukkan hal itu–terutama saat seseorang terlalu lama menatapnya.
Kuroro tiba-tiba menoleh, membuat Kurapika tersentak seketika dan pipinya langsung merona. Kuroro hanya tertawa pelan dan mengangkat tangan kirinya, mengusap puncak kepala Kurapika.
"Hei!" Protes gadis itu sambil merapikan rambutnya kembali. Kuroro hanya meliriknya sebentar lalu menggenggam tangannya. Perlahan, Kurapika balas menggenggam tangan itu.
'Aku mencintaimu...'
Suasana bandara sore itu tetap sibuk seperti biasanya, Kuroro dan Kurapika menunggu dengan sabar sambil memperhatikan setiap penumpang yang baru turun dari pesawat.
"Ayah!" Serunya saat melihat seorang pria berumur empat puluhan yang menenteng mantelnya. Kurapika berlari untuk memeluknya...Shaiapouf Clementine. Kuroro mengikuti di belakangnya.
"Ah...kau mengantarnya? Terima kasih," kata Shaiapouf pada Kuroro. Kuroro mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak begitu sering bertemu dengan pria itu, sejak kedua orangtua Kurapika, Shaiapouf dan Eliza, resmi bercerai setahun yang lalu.
"Ayah akan menginap di tempatku, bukan?" Tanya Kurapika dengan setengah berharap.
Shaiapouf menghela napas dan tersenyum lemah, mengisyaratkan jawabannya atas pertanyaan Kurapika. Gadis pirang itu langsung merengut. Dia tetap diam saat Shaiapouf merangkulnya.
"Kalau begitu, mungkin kalian punya waktu untuk minum teh bersama denganku?" Shaiapouf mencoba mencerahkan suasana.
Kuroro segera menanggapi, "Ya, tentu...mari kita minum teh di tempat kesukaan Kurapika, dia sangat menyukai lemon tea dan cheese cake di sana."
Mereka bertiga masuk ke dalam cafe itu, bahkan Shaiapouf ikut memesan menu favorit putrinya.
"Aku sudah tahu apa yang akan Ayah bicarakan, jadi tidak usah susah payah menjelaskannya padaku," Kurapika berkata dengan wajah tanpa ekspresi, sambil mulai menyantap cheese cake-nya.
Shaiapouf menatap Kurapika dengan lembut. Mengetahui inilah saat di mana Kurapika dan ayahnya perlu bicara berdua saja, Kuroro mohon diri untuk pergi ke toilet. Kurapika sedikit menghela napas...agak menyayangkan sikap kekasihnya itu karena membuatnya harus menghadapi Shaiapouf sendiri.
"Ayah sangat terkesan waktu kau bercerita bahwa Kuroro sudah mulai menjadi kurator, selain aktif menulis artikel tentang art history tentu saja," dia berkomentar.
Kurapika terlihat tak sabar. "Bisakah kita langsung ke pokok pembicaraan?" Dia bertanya tanpa basa-basi.
Shaiapouf berdehem, mengambil sedikit jeda dengan menyesap lemon tea di hadapannya.
"Baiklah, jadi...aku bertemu wanita ini beberapa bulan yang lalu, kami—"
"Waktu yang sangat cepat untuk bisa memutuskan apakah seseorang pantas menjadi pendamping hidupmu atau tidak," Kurapika tak tahan untuk tidak menyela ucapan ayahnya.
Shaiapouf menatap putrinya. Di matanya, selama ini Kurapika selalu menjadi gadis yang tak banyak bicara, penurut dan pintar tentu saja. Tentang sikap keras kepalanya, Shaiapouf pun sudah tahu namun belum pernah gadis itu seterbuka ini memperlihatkannya.
Yah, sepertinya dia perlu banyak usaha kali ini. Lebih dari biasanya.
"Kurapika," ucapnya perlahan. "Kau harus mengerti...kadang sesuatu berjalan tak seperti seharusnya. Hingga kita harus melihat dari sisi yang lain...dan menerima dengan lapang dada."
"Untuk apa Ayah menemuiku? Sudah jelas bagiku, jawaban apapun yang kuberikan tak ada pengaruhnya sama sekali," Kurapika menanggapi dengan dingin.
"Aku akui itu."
Jawaban Shaiapouf yang begitu terus terang dan tanpa jeda sedikitpun untuk mempertimbangkannya dulu, sangat mengejutkan Kurapika. Sebelum gadis itu sempat berkata apa-apa, Shaiapouf segera melanjutkan ucapannya, "Tapi kau akan selalu menjadi Kurapika putriku...sudah menjadi hakmu untuk mengetahui kabar ini dari mulutku sendiri. Aku bukan orang yang sempurna, tapi bukan berarti aku tak bisa menjadi orangtua yang sempurna untukmu. Walaupun aku baru akan memulainya lagi sekarang..."
Kurapika terdiam. Dia menunduk, menolak untuk menatap mata Shaiapouf. Di lain pihak, Shaiapouf diam-diam merasa lega karena Kurapika mau mendengarkan dan mungkin merenungkannya kembali nanti.
"Kuharap kau mau hadir dalam pernikahan kami...Dia bilang, kau pasti semakin terlihat cantik jika mengenakan gaun berwarna safir."
Kuroro melangkah kembali menuju ke meja tempat di mana ia meninggalkan Kurapika dan Shaiapouf untuk berbicara berdua saja. Dia tertegun sejenak saat melihat Shaiapouf duduk seorang diri.
"Dia pergi begitu saja," ucapnya datar seolah berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, ketika menyadari kedatangan Kuroro. Shaiapouf berdiri, menatap kekasih putri tunggalnya. "Jagalah dia, Kuroro."
Ucapannya begitu singkat, namun sorot mata pria tersebut mengatakan segalanya.
Kuroro duduk diam di dalam mobilnya yang masih tak beranjak dari tempat parkir cafe itu. Dia berusaha menenangkan diri, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku. Menyadari bahwa kemungkinan besar saat ini bukan merupakan saat yang tepat untuk menelepon Kurapika, Kuroro memutuskan untuk mengirim pesan saja.
'Kurapika, kau ada di mana sekarang?'
Kuroro menunggu balasan dari Kurapika dengan khawatir. Akhirnya Kurapika membalas, walau membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari biasanya.
'Aku sedang menuju ke apartemen Ponzu. Aku perlu waktu...'
Kuroro tersenyum, kini raut wajahnya terlihat lebih rileks.
'Tentu, jaga dirimu baik-baik...'
Setelah memasukkan ponsel itu kembali ke tempatnya, Kuroro menyalakan mesin mobilnya. Masih ada banyak hal yang harus dia lakukan saat ini.
Sementara itu, Kurapika baru saja naik ke dalam kereta yang akan membawanya ke kota sebelah. Langit mulai bersemu merah, menandakan pergantian antara bulan dan matahari akan terjadi sebentar lagi. Pemandangan itu membuatnya teringat saat Kuroro menyatakan cintanya dulu,
"Kurapika, bolehkah aku menjagamu mulai saat ini, seperti bulan yang selalu menjaga matahari?"
Kurapika menghela napas berat sembari menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Dia memejamkan matanya.
Kuroro, kenapa Ayah dan Ibuku...tak bisa seperti bulan dan matahari?
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Entah merupakan suatu kebetulan atau apa, Ponzu-lah yang mendadak meneleponnya.
"Kurapika?" Ponzu langsung bicara tanpa menunggu Kurapika menyapa lebih dulu. Suaranya terdengar parau. Ini sedikit mengherankan.
Kurapika sempat berpikir untuk memberitahukan tentang kedatangannya pada Ponzu tapi sepertinya bukan saat yang tepat. Mungkin lebih baik jika dia tahu dulu ada apa sebenarnya. Kurapika bertanya, "Ponzu, ada a–"
"Aku sudah memutuskan...akan bercerai dengan Pokkle," Ponzu langsung menyela.
"Eh?!"
"Aku terlambat menyadari, kami menikah hanya karena aku sudah mengandung anak kami saat itu..."
Ponzu terus berbicara, tapi Kurapika tahu dia pasti sedang menangis.
"Apa kau..." Kurapika menggigit bibir bawahnya yang sedikit gemetar. "Tidak kasihan pada bayimu?"
"Kami bertengkar setiap hari...Apakah itu lingkungan yang sehat untuknya? Dari sisi mana pun, perceraian tetap salah. Tapi semoga saja ini yang terbaik untuk anakku...dan untuk kami, orangtuanya."
Suara petir yang terdengar segera setelah Ponzu selesai bicara, semakin menyadarkan Kurapika. Tanpa sadar setetes air mata menetes jatuh membasahi pipinya.
Kuroro membetulkan kacamata yang ia kenakan. The Visual Art of Harlem Renaissance, menceritakan tentang pergerakan kaum Negro yang bermula pada tahun 1920an. Kuroro berusaha memusatkan perhatiannya untuk mempelajari perkembangan sosiologis di masa itu, khususnya mengenai masalah kesadaran ras dan pengaruhnya. Namun tetap saja dia terus teringat pada Kurapika.
'Kurasa tak apa kalau tengah malam nanti aku menghubungi Kurapika lagi,' ucapnya dalam hati.
Kuroro menyalakan laptop-nya, mulai mengetik tugas essay untuk mata kuliah itu. Sekitar satu jam kemudian, ponselnya berbunyi. Dia mengambilnya, dengan perhatian yang masih tertuju pada layar laptop yang ada di hadapannya. Tapi segera saja raut wajahnya berubah ketika membaca pesan yang baru saja masuk.
Tanpa berpikir lagi, Kuroro menyambar jaket dan kunci mobilnya di atas meja. Raut wajahnya kali ini tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang terasa begitu menggebu. Dalam waktu sebentar saja, Kuroro sudah mengendarai mobilnya menuju ke stasiun kereta.
Ya, ini karena pesan itu...pesan masuk dari Kurapika.
"Kuroro, aku ada di stasiun sekarang. Aku tak jadi menginap di tempat Ponzu. Bisakah kau menjemputku?"
Sesampainya di stasiun, Kuroro segera mencari kekasihnya. Hujan deras yang turun sejak beberapa jam yang lalu belum juga berhenti.
"Kuroro?"
Kuroro segera menoleh, mendapati Kurapika berdiri di hadapannya dengan pakaian yang kotor dan basah. "Apa yang terjadi?!" Tanya Kuroro kaget.
Kurapika tersenyum tipis dengan tatapan mata yang sedikit terlihat menerawang. "Hanya hampir terjatuh tadi...," jawabnya.
"Kau terluka?"
Kurapika menggelengkan kepalanya lemah. Baiklah, sudah cukup. Kuroro membuka payung yang sengaja dibawanya lalu merangkul Kurapika, bersama-sama pergi dari tempat itu.
Selama perjalanan, di dalam mobil Kurapika tetap diam. Suasana pun hening, membuat Kuroro ingin tahu namun dia menahan diri. Dia yakin, setelah Kurapika siap, gadis itu pasti akan menceritakan semua padanya.
"Ponzu akan bercerai dengan Pokkle," tiba-tiba Kurapika memecahkan keheningan di antara mereka.
Kuroro melirik ke arahnya. Jauh di dalam hati, sebenarnya sudah sejak lama dia menduga hal tersebut akan terjadi.
"Dan apakah aku sudah bercerita padamu? Ayah bilang, wanita itu menyiapkan gaun berwarna safir untukku."
"Pasti kau akan terlihat semakin cantik, " komentar Kuroro sambil menggenggam tangan kekasihnya sejenak.
Kurapika tersenyum, mengangkat tangannya yang digenggam Kuroro lalu mengecup tangan pemuda itu perlahan. Sungguh nyaman...berada di dekatnya. Terutama pada saat yang sulit baginya seperti ini, kehadiran Kuroro sangat ia butuhkan.
"Aku...ingin menginap di tempatmu saja malam ini," ucapnya pelan sambil memandang lurus ke depan.
Kuroro pun menyanggupi. Selama sisa perjalanan, tak ada yang memulai percakapan namun Kurapika sesekali melirik pemuda itu. Kuroro masih memakai kacamatanya. Pasti dia begitu tergesa-gesa hingga lupa masih mengenakannya.
Sesampainya di apartemen Kuroro, Kurapika duduk di sofa milik kekasihnya yang nyaman. Sementara Kuroro sendiri langsung masuk ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya, menyiapkan air hangat di bathtub untuk Kurapika. Setelah selesai, Kuroro melangkah menghampiri Kurapika ke ruang tengah. Gadis itu duduk dengan tubuh yang masih menggigil, sekujur tubuh pun basah kuyup. Kuroro menghela napas. Dia menggulung kedua lengan bajunya hingga mencapai siku.
"Air mandinya sudah siap," ucapnya sambil bertekuk lutut di hadapan Kurapika dan menatapnya, mengulurkan kedua tangan merengkuh lengan Kurapika.
Gadis itu memiringkan wajahnya, tersenyum dan tiba-tiba menyentuh kedua belah pipi pemuda itu.
"Kau terlihat semakin tampan saat memakai kacamata," pujinya.
Kuroro terkekeh pelan, baru sadar bahwa dia lupa melepaskannya saat akan berangkat menjemput Kurapika tadi. Dia menyentuhkan hidungnya ke hidung Kurapika.
"Kalau begini..." dia mengecup bibir Kurapika. "Kacamata ini jadi mengganggu, bukan?" Dikecupnya lagi bibir merah muda itu beberapa kali.
Kurapika tersenyum dan melepaskan kacamata Kuroro, lalu memberinya satu ciuman lembut...yang ia akhiri dengan sebuah pelukan.
"Temani aku ke acara pernikahan Ayah nanti," bisiknya.
"Tentu," jawab Kuroro. "Tapi sekarang kau benar-benar harus mandi sebelum terserang demam."
Pemuda itu melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan kekasihnya, lalu menggendongnya secara bridal style.
"Kuroro, aku bisa sendiri!" Protes Kurapika sambil menahan tawa. Belum lagi wajah cantiknya yang memerah.
"Anggap saja ini pelayanan spesial dariku," kata Kuroro sambil mengecup kening gadis itu.
Kurapika merengut dan menyembunyikan wajahnya di dada Kuroro. Dari kata-kata yang diucapkan pemuda itu, kesannya seolah Kurapika pun harus 'membalas' kebaikannya itu.
Kuroro membuka pintu kamar mandi dengan mendorong pintu itu menggunakan kakinya, lalu mendudukkan Kurapika di dalam bathtub.
Saat akan melepaskan tangannya, Kuroro menyempatkan diri untuk menyentuh belahan vagina Kurapika dengan ujung jarinya dan sedikit memberikan tekanan ketika ujung jarinya itu sampai di bagian klitoris.
"Uhh..." Kurapika langsung mendesah, menyebabkan Kuroro terkekeh pelan. Si Gadis Clementine pun tersadar dan mencubit lengan kekar pemuda itu.
"Kenapa? Kau ingin aku mandikan juga?" Kuroro mendekatkan wajahnya. "Seperti waktu itu..."
"Tidak, tunggu di luar saja!"
"Kau yakin?"
Kurapika mengecup bibir Kuroro sekilas. "Pergi."
"Baiklah, Tuan Putri."
Kuroro pun beranjak, tentu saja setelah dia menggoda Kurapika lagi, dengan menyentuh dan sedikit menarik kedua putingnya yang merupakan salah satu titik sensitif gadis itu.
Ketika Kurapika selesai mandi, Kuroro sudah melepaskan pakaiannya yang semula dan kini hanya memakai celana panjang piyama yang longgar sementara bagian tubuh atasnya tidak mengenakan apapun. Kuroro meneguk segelas air putih perlahan, menikmati waktunya untuk menatap Kurapika. Gadis itu mengenakan mantel handuknya, dan dengan santai membuka lemari pakaian Kuroro. Setelah mengenakan sehelai kemeja yang bisa ia pakai, Kurapika melepaskan mantel handuk itu begitu saja dan mengenakan kemeja Kuroro.
Kurapika menoleh, tersenyum sambil mengancingkan kemeja itu. Dari raut wajah Kuroro, dia tahu bahwa pemuda itu menikmati apa yang tengah dilihatnya. Kuroro berdehem dan meletakkan gelasnya. Dia pun berbaring di tempat tidur, menyaksikan Kurapika menyusulnya. Mereka pun berpelukan dengan erat.
"Kurasa aku baru menyadarinya sekarang," Kurapika berkata, "Bahwa sebenarnya...selama setahun ini aku masih belum bisa menerima perpisahan kedua orangtuaku..."
"Itu bukan masalah...setiap orang perlu waktu," Kuroro menanggapi, mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.
"Kau selalu ada untukku..."
"Bukankah kau pun begitu?"
Keduanya saling mendekatkan wajah dan menempelkan bibir mereka. Kurapika membuka mulutnya, yang segera dimanfaatkan Kuroro untuk memasukkan lidahnya. Kurapika membalas dengan napas yang mulai memburu. Dengan gerakan yang halus bagai jaring laba-laba yang menjerat kupu-kupu, Kuroro membuka kancing kemejanya yang dikenakan Kurapika satu-persatu.
Kurapika menghisap lidah Kuroro, yang dibalas pemuda itu dengan ciuman yang ganas. Tanpa sadar dia semakin mendekatkan tubuh mereka hingga Kurapika bisa merasakan penis Kuroro mulai mengeras, menonjol menyentuh pahanya.
Kuroro mengangkat tubuhnya sedikit, menekan Kurapika hingga benar-benar terbaring. Ciuman mereka tak terlepas sekejap pun juga. Kedua tangan Kuroro memegangi pinggang gadis itu. Jantung Kurapika berdebar kencang...
"Ngghhh...!" Kurapika mengerang lemah ketika kedua ibu jari Kuroro menyentuh masing-masing putingnya.
Kuroro melepaskan ciuman mereka, tersenyum dengan bibir yang masih menyentuh bibir kekasihnya. "Kau benar-benar menyukainya, ya?" Bisiknya dengan suara menggoda, jemarinya kini benar-benar memainkan kedua puting Kurapika.
Gadis itu mendesah lagi. "Ya...mmh...," ia berkata, tiba-tiba meremas penis Kuroro dari luar celana perlahan, "Seperti kau menyukai ini..."
Kuroro menghela napas, menikmati belaian tangan Kurapika yang kini langsung menyelusup masuk ke dalam celana piyamanya. Gairah Kuroro langsung naik. Dia melepaskan kemejanya yang masih terpasang di tubuh Kurapika dengan cepat, lalu turun dari tempat tidur dan membuka celananyaーtermasuk boxer brief yang dia kenakanーsambil menatap tubuh telanjang Si Gadis Clementine.
Pipi Kurapika bersemu merah melihat penis Kuroro yang berdiri dengan gagahnya. Dan dia tertangkap basah oleh Kuroro. Seulas seringai nakal menghiasi wajah tampan pria itu.
"Enjoy your view, Princess?" Godanya sambil melangkah perlahan menghampiri Kurapika yang kini sudah setengah bangun dengan bertumpu pada kedua sikunya.
Biasanya Kurapika akan merengut...tapi kali ini dia langsung beranjak duduk, mengalihkan pandangannya dari daerah pribadi pemuda itu ke matanya yang hitam.
"Very much," jawab si pirang.
Kuroro merasa sedikit kaget sekaligus senang. Dia punya firasat aktivitas bercinta mereka kali ini akan terasa berbeda dari yang biasanya.
"Mmh...ngg..." Kurapika bergumam, membuat getaran nikmat terasa di batang kemaluan Kuroro yang memenuhi mulutnya. Dia hisap dengan cepat penis itu, sementara vaginanya pun tengah dijilati Kuroro.
Dalam posisi di mana Kuroro telentang sedangkan Kurapika menelungkup di atasnya dengan arah yang berlawanan, mereka saling memanjakan. Kuroro memasukkan lidahnya dalam-dalam ke lubang vagina Kurapika, sementara sebelah tangannya sibuk memainkan klitoris Kurapika yang sensitif.
"Ah...!" Kurapika sedikit menjerit, otomatis melepaskan penis Kuroro dari mulutnya. Kuroro segera menaikkan pinggul Kurapika sedikit dan menghisap klitorisnya.
Di bawah, Kurapika memberikan satu hisapan panjang dan lebih kuat pada penis Kuroro. Dia jilati dari ujung hingga ke pangkalnya, mengulum kedua testisnya bergantian dan lidahnya pun bergerak sedikit lebih jauh...yaitu ke daerah peritoneum.
"Nghhh...!" Kuroro mendesah lebih kencang. Kurapika tersenyum dalam hati sambil terus memanjakan salah satu titik sensitif kekasihnya. Rangsangan Kurapika membuat Kuroro semakin tidak tahan. Dia segera membaringkan Kurapika kembali, menelungkup di atasnya bahkan memegangi dan menahan kedua tangan gadis itu di atas kepalanya.
"Kuroro, lepaskan!" Perintah Si Gadis Clementine dengan kesal. Namun Kuroro hanya menyeringai. Dia menunduk melumat bibir Kurapika. Kurapika pun memberikan sedikit gigitan pada bibir bawah Kuroro, menyebabkan bibir sang pemuda menjadi agak tertarik saat dia melepaskan ciumannya.
Kurapika terlihat lebih bernafsu sekarang.
"Uhh...le-lepaskan!"
Tentu saja Kuroro tidak mengabulkannya. Dia menjilati telinga gadis itu dan berbisik dengan suara yang rendah dan menggoda, "Tenanglah...nikmati saja..Kurapika-ku Sayang..."
Ciuman Kuroro merambat ke leher, menghisapnya hingga menimbulkan bercak-bercak kemerahan. Hingga tiba-tiba saja Kuroro meraup puting kirinya dan memainkan puting yang satunya lagi. Kedua tangan Kurapika yang terbebas langsung memegangi bahu dan mencengkeram lembut rambut sang kekasih.
Kuroro menghisap puting kanan kali ini, sebelah tangannya bergerak ke bawah...pelan-pelan menggosokkan ibu jarinya ke klitoris, desahan merdu Kurapika pun terdengar.
Mata Kurapika sedikit terbelalak ketika merasakan sesuatu yang lain di lubang vaginanya.
"Kuroro, keluarー"
Kuroro segera mengecup wajah gadis itu berkali-kali. Jari telunjuknya memasuki lubang vagina, menggerakkannya maju-mundur. Kurapika memejamkan mata dan terdiam, berusaha tidak menggerakkan tubuhnya sedikitpun.
"Ohh...! K-Kuroro...hh...," desahnya.
Kuroro pun tersenyum, terlihat puas dengan reaksi Kurapika atas sentuhannya. Kini jari tengah dan jari telunjuknya sudah berada dalam hangatnya vagina gadis itu, dengan kedalaman yang masih cukup aman agar tidak sampai melukai selaput dara.
'Kencang sekali, Kurapika...Betapa menggairahkannya dirimu...' ucap Kuroro dalam hati.
Tiba-tiba saja, Kuroro membengkokkan kedua jemarinya dan menyentuh G-spot di dalam vagina itu. Kurapika memekik seketika, kepalanya terlonjak ke belakang.
Kuroro berhenti sejenak...takjub melihat reaksi kekasihnya.
"Nggh...lagi..." pintanya.
Kuroro langsung melakukannya lagi sementara Kurapika membenamkan wajahnya di perpotongan leher pemuda itu, mencoba meredam suaranya dengan menciumi daerah itu.
Beberapa saat kemudian, Kuroro mengeluarkan kedua jarinya yang telah basah dengan cairan orgasme Kurapikaーentah orgasme yang keberapa kali.
"Kau...belum...," ucap gadis itu, melirik penis Kuroro yang masih tegang lalu mulai menyentuhnya.
Kuroro tidak langsung menjawab. Dia memegangi wajah Kurapika dengan kedua tangannya, menatapnya mesra.
"Kurapika...," bisiknya.
Kurapika tertegun. Sorot mata hitam itu tampak berbeda. Mereka saling menatap.
Tatapan yang penuh cinta, hasrat akan segala sentuhan, keinginan untuk saling memiliki sepenuhnya.
Oh, inikah saatnya?
Mereka berciuman beberapa kali, lalu Kurapika memegangi kedua tangan Kuroro yang ada di pipinya.
"Lakukanlah..." Kurapika berkata sambil tersenyum.
Kuroro membelai rambut pirang gadis itu. "Untuk pertama kali, awalnya akan terasa sakit..."
"Tak apa...lakukan pelan-pelan..."
Kuroro menatap ke dalamnya mata biru yang sewarna dengan samudera itu. Hanya ada cinta untuknya di sana, yang tak pernah luntur hingga saat ini.
Kurapika mengganjal pinggulnya dengan bantal, lalu mengangkang lebar-lebar. Kuroro memandangi vagina yang merah dan menebal karena rangsangannya itu, cairan kewanitaan Kurapika membuatnya terlihat sangat basah.
Sungguh menggoda.
Kuroro mengarahkan penisnya ke lubang vagina Kurapika. Dia belai bagian tubuh atas gadis itu untuk membuatnya merasa rileks dan aman.
"Kalau terlalu sakit, katakan padaku...lalu kita hentikan. Kau mengerti?" Kuroro bertanya dengan suara berbisik.
Kurapika mengangguk. Dia merasa terlalu gugup dan takut untuk berbicara.
Sebenarnya, saat itu terasa sangat mendebarkan bagi keduanya, terutama untuk Kurapika. Walau bagaimanapun juga, inilah saat pertama mereka berdua melakukan intercourse.
Cepat-cepat Kuroro mengambil kondom dari dalam laci. Dia dan Kurapika memang sepakat untuk menyiapkan benda itu, karena bisa saja mereka tiba-tiba ingin melakukannyaーseperti saat ini.
Setelah memakai kondom, ujung penis Kuroro mulai berusaha masuk. Perlu beberapa kali pemuda itu berusaha, hingga ujung penisnya berhasil memasuki vagina Kurapika.
"Ahh...nghh...," Kurapika mulai mendesah lagi, rasanya sakit...seolah lubang vaginanya dipaksa untuk meregang.
Kuroro memejamkan matanya, merasakan sensasi berkedut otot-otot kencang vagina Kurpaika yang mulai mencengkeram kepala penisnya. Sejujurnya rasanya pun belum nyaman bagi Kuroro, dia sendiri merasa ngilu.
"Apa kau masih bisa melanjutkannya?" tanya Kuroro, berusaha mengendalikan suaranya agar Kuraika tidak bertambah gugup.
Kuraika mengangguk. "Ohhh...ya...," jawabnya. "Pelan-pelan..."
Kuroro memajukan penisnya sedikit demi sedikit, lalu dia merasakan suatu ada suatu penghalang. Kuroro langsung menahan diri, merundukkan badannya dan mencium Kuraika sambil membelai rambut pirangnya penuh kasih.
"Kurapika...sekarang mungkin akan sedikit lebih sakit dari yang tadi...," bisiknya. "Tenangkan dirimu..."
Kurapika mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Kuroro. Sesaat kemudian, Kuroro mendorong penisnya menembus penghalang itu—yang tak lain adalah selaput dara Kurapika.
"Mmmh...! Ahhh..." Kurapika berusaha menahan suaranya dengan memeluk Kuroro erat-erat. Kuroro langsung membungkam mulutnya dengan ciuman, membelai lembut klitoris gadis itu agar tidak terlalu fokus pada rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.
"Aku mencintaimu...Kurapika...," Kuroro berkata dengan napas memburu.
Kurapika meneteskan air matanya, karena terharu dan juga merasakan rasa sakit yang ditambah dengan rasa perih di dalam vaginanya.
"Aku juga...ohh...Kuroro..."
"Sebentar lagi rasanya akan jauh lebih baik..."
Kuroro menghentakkan penisnya yang besar dan panjang itu, membuat Kuraika memekik tertahan di dalam ciumannya.
"Shh...tenanglah..."
Kuroro terus membisikkan kata-kata yang menenangkan, membelai tubuh Kuraika dengan penuh kasih sayang sembari menunggu gadis itu terbiasa dengan penis yang memenuhi vaginanya. Cengkeraman otot vagina Kuraika di sepanjang kejantanannya membuat Kuroro semakin bergairah.
"Gerakkan...," bisik Kurapika akhirnya.
Kuroro memaju-mundurkan penisnya perlahan, diiringi dengan desahan pelan Kurapika. Ah...begitu memabukkan. Lama-kelamaan gerakannya semakin cepat hingga kedua payudara Kuraika berguncang karena hentakannya.
"Ahh...! Oh Kuroro! Nnhh..."
"Hhh...vaginamu nikmat sekali...Uh..."
Kuraika tersipu. Baru pertama kali dia mendengar Kuroro melakukan dirty talk saat mereka tengah bercinta, dan yang membuatnya malu adalah hal itu ternyata membuatnya tambah bergairah.
"Lebih cepat...L-lagi..."
Kuroro tersenyum senang mendengar permintaan gadisnya. Dia mengangkat kedua kaki Kurapika ke pundaknya, menarik penisnya hingga tinggal bagian kepalanya saja yang berada di dalam, lalu mendorongnya masuk kembali dengan sekali hentakan.
"Kyaaaa...! Kuroro! Ahh...! Ah!" Kuraika memekik.
Kuroro menunduk, memerhatikan vagina Kurapika yang seolah ditarik-tarik oleh penisnya yang menggila. Ranjang yang mereka tempati berderit bagaikan suara musik yang mengiringi malam istimewa ini.
Faire L'Amour...
Kuroro dan Kuraika saling bertatapan di tengah kegiatan panas itu, seolah saling mengatakan : kini kau benar-benar milikku sepenuhnya...jiwa dan ragamu...
Rasa sakit yang pada awalnya dirasakan kini hilang entah ke mana, yang ada hanyalah rasa nikmat yang tak terkira. Kedua tubuh mulus yang berkeringat itu saling menempel, dengan penis milik sang pemuda menancap dalam-dalam di lubang vagina gadis yang telentang di bawahnya.
Kuroro merasakan kenikmatan yang dia rasakan semakin memuncak, tapi pemuda itu masih ingin bercinta lebih lama...dia berusaha menahan klimaksnya. Lalu dia melihatnya. Klitoris Kuraika terlihat menonjol. Diraihnya sebelah tangan Kuraika, lalu ia sentuhkan ke sana.
"Nggh...! J-Jangan...," kata Kuraika sambil memalingkan wajahnya yang sangat memerah. Dia merasa malu menyentuh tubuhnya sendiri seperti itu.
Kuroro terkekeh pelan, lalu berbisik, "Kau menikmatinya? Kau menyukainya?"
"Ahhhkk...! Penismu menakjubkan!"
Suatu reaksi lainnya yang tak terduga dari Kurapika. Kuroro tertegun sesaat, tapi kemudian ide lain muncul di benaknya. "Aku akan mengijinkanmu untuk menikmatinya sampai kau puas," bisiknya nakal.
Kuraika menatapnya tak mengerti. Tiba-tiba saja, Kuroro menukar posisi mereka. Kini dialah yang terbaring sedangkan Kurapika duduk di atasnya, dengan penis yang masih menancap karena Kuroro tak mengeluarkannya sekejap pun.
"K-Kuroro, apa maksudnya...?" Tanya Kurapika bingung.
Kuroro memegangi pinggul Kurapika, membimbingnya untuk mengangkat tubuhnya sedikit, lalu meghujamkannya kembali ke bawah, beradu dengan penis dan pinggul Kuroro. Kurapika langsung terengah-engah.
"Lakukanlah..." Kuroro mengambil kedua tangan Kurapika dan meletakkannya di pangkal penisnya. "Penisku milikmu..."
Kuraika pun mencobanya, hingga dia terbiasa dan bergerak naik-turun lebih cepat sambil sesekali memutar pinggulnya. Dia sangat menyukai bagaimana raut wajah Kuroro saat itu.
"Kau benar-benar nakal," komentar Kuroro, menggoda gadis pirang itu. Dia memegangi pinggul Kurapika lebih erat, menggerakkannya naik turun tanpa ampun. Klitoris gadis itu terlihat lagi olehnya, sebelah tangannya segera teralih untuk menggosoknya cepat. Kuraika menjerit, memekik, meneriakkan nama Kuroro. Merasa tak tahan atas luapan kenikmatan yang begitu memabukkan, Kurapika memegangi kepala tempat tidur, membuat kedua payudaranya berguncang menggoda di atas wajah Kuroro. Kuroro pun mengangkat bagian atas tubuhnya sedikit dan menyambar salah satu puting dengan mulutnya. Kuraika semakin meracau tak jelas. Perlakuan yang sama diberikan Kuroro pada puting yang satunya lagi.
"Ahhh...Kuroro...!" Kuraika klimaks lagi. Dia semakin lemas... "Aku tak kuat lagi...hhh..."
"Sebentar lagi, Sayang...sebentar lagi..."
Kuroro menggerakkan tubuh Kurapika begitu cepat, hingga tiba-tiba berhenti.
"Kurapika...arrghh...!"
Sperma kuroro langsung menyembur di dalam kondom yang dipakainya. Kuraika pun ambruk, ke dalam pelukan pemuda itu yang berada di bawahnya. Kuraika mengangkat pinggulnya sedikit untuk melepaskan penis Kuroro dari dalam vaginanya dan dengan cepat Kuroro melepaskan lalu membuang kondom itu.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berpelukan dengan ditutupi selimut, sementara di baliknya mereka masih sama-sama telanjang. Kurapika tersentak saat merasakan sesuatu yang dingin di jari manisnya.
Kuroro tersenyum. Dia baru saja memasangkan cincin ke jari manis Kurapika.
"Indah sekali...," ucap Kurapika seolah tak percaya. "Seperti cincin dari zaman Romawi Kuno..."
Cincin tersebut terbuat dari emas putih, dengan bentuk seperti dua buah tangan yang saling bertaut. Sederhana...dan indah.
Kuroro meraih tangan Kurapika kembali dan mengecup cincin itu yang kini tersemat di jari manisnya, lalu menatapnya. "Seperti yang kau tahu, cincin pertama kali digunakan sebagai lambang cinta sejati pada zaman Romawi Kuno, dan desainnya seerti ini. Kaulah cinta sejatiku, Kuraika...selamanya..."
Mereka berciuman dengan mesra, lalu Kuraika berujar, "Walau apapun yang terjadi?"
"Ya, walau apaun yang tejadi. Perjalanan kita pasti akan menemui hambatan seperti halnya yang dialami orang lain, tapi kita akan selalu berusaha untuk bisa tetap bersama...sampai akhir," Kuroro menanggapi.
"Aku tak akan pernah menyerah...selama kau mencintaiku...semua itu bukan masalah..."
Kuroro mendekap kekasihnya begitu erat, mengingat pertemuannya dengan Neon dan Shalnark ketika sedang mengambil cincin pesanannya itu di toko perhiasan. Dalam hati dia tersenyum, 'Kurasa...mulai sekarang aku harus lebih memikirkan lagi tentang kemungkinan melamar Kurapika lebih awal dari rencana.'
THE END
A/N :
Akhirnya selesai jugaaaaa...! Syukurlah, aku bisa menyelesaikan fic ini walau terlambat beberapa hari dari target. Yah...apa boleh buat, kesibukan masih berlanjut xDa
Masih ada fic dan translate yang belum selesai, masih banyakkk...tapi aku sudah punya rencana fic untuk bulan ini.
Terima kasih atas dukungan semuanya, termasuk untuk fic 5 Steps in A Relationship by yondie93 is yonchan yang menjadi inspirasi fic ini.
Oke, ini balasan chpater lalu ya :
anonymous :
Serem? Hahah anggap saja ini horror rate M xD
Moku-Chan :
Sepertinya sampai kapanpun bakal kurang hot buat Moku, sampai aku bingung yang namanya hot menurut Moku itu gimana =='
Hm, aku ga tau ya...Tapi sepertinya memang ga boleh sih seharusnya, hanya saja aku lihat sudah menjadi hal yang lumrah di rate M. Banyak yang jauh lebih vulgar (alias dirty mungkin ya sebutannya kalau di atas vulgar) di fandom lain. Aku merasa, tanpa sensor itulah kesan hot jadi lebih terasa. Kalau dipakai istilah kiasan, mungkin untuk yang lebih banyak romance. Aku memakai keduanya di fic-fic rate M sebelum ini, bahkan di chapter ini juga begitu.
Vulgar dan ga vulgar atas acuan penggunaan kata-kata itu, tergantung persesi masing-masing. Tapi ini pandangan subjektif aku loh ya...Hehe!
:
Untuk itu, jawabannya hanya satu...karena tema ceritanya tentang tahapan interaksi seksual antara KuroPika. Konflik yang sekilas aku ceritakan di chapter terakhir ini pun ide dadakan, mengalir begitu saja...
Natsu Hiru Chan :
Hahaha, untuk chapter ini aku ga tau deh, mungkin kurang hot...tapi memang aku ingin tahapan kelima terjadi secara romantis. Kalau dibikin lebih hot dari chapter kemarin, rasanya kurang logis akan terjadi ada intercourse pertama xDa
October Lynx :
Hahah, nice question...and I have answer this in our chat back then, right? At first I want to exlain it too in this chapter, but...this chapter is already too long xDa
Well, of course I have plan for the other fics...hehe
Nekomata Angel of Darkness :
Yah, katakan aja pada dirimu sendiri untuk lebih semangat bikin n update fic KuroPika ==
Qe :
Ini udah lanjuttt xD
.
Review please...dan jika ada yang ingin ditanyakan, jangan ragu untuk PM ya ^^v
Makasih...
KuroPika FOREVER
