AU, Kehidupan Sekolah
Chapter 2: Kehidupan yang berbeda
~Didedikasikan untuk Rukishiro Kurosaki~
Naruto © Masashi Kishimoto
Bleach © Tite Kubo
AU, Kehidupan Sekolah © MnC21
Summary: Permohonan Sakura benar-benar dikabulkan. Pagi ini, ia bangun di kehidupan baru yang berbeda. Selamat tinggal kehidupan shinobi, selamat datang kehidupan anak sekolahan! AU, HitsuSaku
~xXx~
Seorang gadis muda berambut merah jambu sedang menggeliat di tempat tidurnya, belum benar-benar bangun dari tidurnya. Tubuhnya yang terbalut piyama gadis remaja yang manis masih tersembunyi di balik selimut. Gadis belia itu masih tetap menggeliat. Tubuhnya terus bergerak mencari posisi tidur yang nyaman, sampai-
Bruk! "Aduuuh…"
-gadis itu terjatuh dari tempat tidurnya, sebagian. Kepalanya berada di lantai, tapi bagian badannya sampai kaki masih berada di atas tempat tidur. Gadis malang itu mengusap keningnya yang masih terasa sedikit sakit, lalu ia menggerakkan tangannya untuk membelai rambutnya yang panjang. Tunggu, panjang?
Sembari berusaha berdiri, perlahan pengelihatan gadis bermata emerald itu mulai jelas. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, memandangi seluruh sudut ruangan. Ini seperti kamarnya, tapi terasa ada yang berbeda. Gadis tersebut bergegas menuju kaca panjang yang ada di ruangan tersebut. Betapa terkejutnya ia mendapati refleksi dirinya.
Di kaca itu terdapat bayangan dirinya dengan rambut yang sedikit berantakan karena baru saja bangun tidur, dengan panjang rambut sepinggang persis seperti panjang rambutnya dulu sebelum mengikuti pertandingan Chuunin.
Hal lain yang membuatnya terkejut adalah piyama yang ia pakai. Itu adalah piyama putih yang manis. Bukannya ia tidak suka dengan model pakaian tidurnya itu, bukan, malah sejujurnya piyama itu sangat manis dan sesuai seleranya. Masalahnya, dia tidak pernah punya piyama seperti itu.
Gadis berambut merah jambu itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia menyadari ruangan ini mirip sekali dengan kamarnya, tapi tidak sama persis, Ada yang sedikit berbeda. Interior ruangannya, furniturenya, bahkan model tempat tidurnya. Semuanya lebih… lebih… lebih sedikit feminim. Dan manis. Ini adalah kamar idamannya jika dia bukan seorang kunoichi.
Tunggu dulu… Gadis itu berjalan ke arah meja di samping tempat tidurnya dan menarik lacinya. Dia hanya mendapati notes mini, beberapa alat tulis, dan benda-benda aneh menurutnya, tapi sama sekali tidak ada kunai atau shuriken atau surat gulungan atau botol-botol penawar racun.
"Sakura! Ayo cepat bangun, nanti kau terlambat sekolah!" Suara wanita dewasa yang Sakura kenali sebagai suara ibunya terdengar dari luar ruangan membuatnya menyahut "Iya!" secara spontan.
Sekolah? Aku kan sudah lulus dari akademi. Tunggu dulu… Oh tidak! Sakura baru benar-benar sadar apa yang telah terjadi. Gadis yang sudah bukan kunoichi lagi itu tak percaya. Dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Cepat mandi dan ganti seragam sekolahmu. Makan pagi sudah siap!" suara Nyonya Haruno menginterupsi pikiran Sakura.
"Ah, iyaaa…" jawab Sakura. Gadis itu kemudian terduduk lesu di tempat ia berdiri tadi. Suaranya lirih, "Oh, kau benar-benar serius, Nona Penyihir." Sakura mendongak, sekali lagi melihat setiap sudut kamarnya. Sekitar satu menit ia berada di posisi terduduk. Akhirnya Sakura memutuskan untuk bangkit berdiri dan mulai menjalankan "kehidupan barunya".
Baiklah, gadis berambut merah jambu itu akan memulainya dengan mandi dan berganti, err, apa tadi ibunya bilang? Seragam sekolah? Oh, bagus. Sakura bahkan tak tahu yang mana seragam sekolahnya. Gadis yang masih sedikit shock itu membuka almari pakaiannya. Hmm, banyak sekali pakaian yang ada disana dan semuanya tertata rapi. Ada beberapa (baca: banyak) jenis pakaian yang asing bagi Sakura. Itu hampir membuatnya frustasi.
Sakura memutuskan untuk menemui ibunya saja dan bertanya yang mana seragam sekolahnya. Ketika dia menutup pintu almari pakaiannya, tatapan matanya membulat dan mulutnya membentuk garis horisontal (o_o)
Di pegangan pintu almari pakaiannya tergantung pakaian berwarna putih yang terdiri dari kemeja berlengan panjang dan rok selutut yang sangat rapi lengkap dengan dasi biru yang terpasang di balik kerah kemeja putih itu. Juga ada sabuk hitam yang terlingkar di pegangan hanger. Di salah satu lengan kemeja itu terdapat bet bertuliskan SMA NOBIGAMI.
"Ah, kurasa ini seragam sekolahku…"
~xXx~
Sakura sedang berjalan. Langkahnya teratur dan normal. Tas sekolah bersandar di punggungnya. Sebuah pita merah yang manis dipakainya sebagai ikat kepala, seperti saat dia masih kecil. Tubuhnya terbalut pakaian seragam sekolah yang rapi. Sepasang kaus kaki putih panjang dan sepatu cewek yang feminim terpakai di kedua kakinya. Dari segi manapun, dia terlihat seperti anak SMA normal yang sedang berangkat sekolah.
Hanya saja, ada satu masalah besar: gadis itu tidak tahu dimana sekolahnya.
Sakura sudah bertanya pada orang tuanya dan alih-alih menjawab pertanyaannya, mereka malah tertawa. Ibunya berkata bahwa ia tidak akan mengabaikannya, jadi Sakura tidak perlu caper -cari perhatian- seperti itu.
Ayahnya hanya mengusap lembut kepala Sakura dan memberitahunya bahwa ia bisa saja mengantar Sakura sampai sekolahnya kalau saja arah dari rumah mereka ke sekolah Sakura dan ke tempat kerja ayah Sakura tidak berlainan arah. Oke, setidaknya ayahnya memberi tahu bahwa dari pintu depan rumah keluarga Haruno, arah ke SMU Nobigami adalah ke arah kanan.
Jadi, sekarang Sakura sedang berjalan di jalan yang arah kanan tadi. Dan gadis malang itu menghentikan langkahnya di pertigaan.
Bagus, sekarang belok kiri atau belok kanan? Sakura menyandarkan dagunya di telapak tangan kananya sementara tangan kirinya menopang siku kanannya. Hm, belok kanan saja ah, semoga jalan yang benar. Kalau salah, ya ambil jalan yang tersisa, yaitu kiri.
Gadis bermata emerald itu pun kembali melangkahkan kakinya. Dia berjalan ke arah kanan. Setelah beberapa meter berjalan, Sakura melihat sebuah pintu pagar rumah terbuka dan seorang anak laki-laki berjalan keluar dari sana.
Anak itu kira-kira seumuran Sakura. Dia memiliki rambut seputih salju. Postur tubuhnya sangat menawan. Sakura bisa melihat anak itu memiliki tatapan mata yang tajam tapi tidak menakutkan sebab warna turquoise yang lembut menghiasi kedua bola matanya. Anak itu memakai pakaian yang mirip dengan Sakura. Kemeja putih yang rapi lengkap dengan dasi birunya, tapi tentu saja dengan celana panjang yang berwarna putih. Sebuah tas sekolah juga bersandar di punggungnya.
Dia melihat ke arah Sakura. Sedikit keterkejutan dapat terlihat di matanya dan yang keluar dari mulutnya adalah, "Haruno?"
Di-Dia tahu namaku! Refleks, Sakura pun membungkuk tak terlalu dalam sembari berkata "Se-Selamat pagi…"
Anak bermata turquoise itu memandang Sakura dan berkata, "Pagi… Apa yang kau lakukan disini, Haruno?"
"Aku sedang berjalan menuju sekolah," jawab Sakura dengan jujurnya. Dia hanya mendapati pandangan bingung dari anak tadi sebagai jawaban, maka ia bertanya, "Kenapa?"
"Jalan dari rumahmu ke sekolah tidak melewati jalan ini," jawabnya.
"Benarkah?" Mata Sakura sedikit membesar. "Kau tahu jalan menuju sekolah? Bisa tunjukkan padaku? Em, maksudku… Kita satu sekolah, iya kan?" Sakura melirik ke lengan kemeja anak berambut putih itu. Mendapati kata SMA NOBIGAMI, Sakura merasa sedikit lega karena dia takut dikira sebagai anak yang sok tahu.
"… Iya, kita satu sekolah, tapi tidak satu kelas."
Pintu pagar rumah anak tadi yang memang belum tertutup sepenuhnya tiba-tiba terbuka karena terdorong, menampilkan si pendorong yang berkaki empat. Ekornya mengibas senang dan ia langsung mengitari pemiliknya. Anak berambut putih tadi cuma bisa bertanya, "Hei, ada apa, Hyo?"
Sakura yang memandangi si pendatang baru ini refleks langsung berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan makhluk yang dipanggil 'Hyo' tadi, meskipun Sakura masih lebih tinggi tentunya. Makhluk tadi memiliki monjong dan wajah yang seperti serigala tapi jauh lebih ramah dan tidak menakutkan. Bulunya agak gelap di bagian punggung, tapi putih bersih di bagian leher ke perutnya. "Lucunya…" adalah komentar spontan Sakura.
Menyadari komentar tadi, 'Hyo' meninggalkan majikannya dan melompat mendekati si gadis berambut merah jambu itu. Sakura nyaris terjungkal ke belakang karena kaget saat 'Hyo' melompat padanya tapi anak tadi langsung menangkap peliharaannya dan merengkuhnya dalam pelukan ringan. Dalam kondisi yang juga berjongkok, anak itu memandangi anjing peliharaannya dan begitu pula anjing itu memandangi pemiliknya. Sesaat kemudian anak itu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Sakura. "Sepertinya Hyo suka padamu."
"Hyo? Namanya Hyo?" tanya Sakura dengan polosnya, sambil membetulkan posisi berjongkoknya.
"Iya. Hyorinmaru adalah anjing tipe Siberian Husky yang suka bermain," jawabnya menjelaskan.
"Berapa umurnya?"
"Empat bulan."
Sakura membelalakkan matanya, "Empat bulan dan sudah sebesar ini?"
Anak itu mengangguk, "Dan akan lebih besar lagi."
Sakura mengulurkan tangannya untuk mengelus bulu Hyorinmaru. Dia mendapati bulunya sangat lembut. Begitu pula tatapan mata anjing itu, sangat lembut, mengingatkan Sakura akan warna turquoise lembut milik mata anak tadi.
Tak sadar, Sakura memandangi wajah anak itu. Emerald bertemu turquoise. Turquoise bertemu emerald. Mereka terus saling berpandangan sampai Hyorinmaru menginterupsi dengan menyalak, membuat kedua anak itu untuk langsung menghentikan kontak mata satu sama lain.
Anak laki-laki itu menepuk kepala Hyorinmaru pelan, "Jangan coba-coba menggodaku, Hyo." Dia hanya mendapati nyalakan anjingnya sebagai jawaban. "Cukup, kau jaga rumah." Dengan itu, anak tadi memasukkan Hyorinmaru ke dalam rumah dan menutup pintu pagar rumahnya. Saat itulah Sakura melihat papan nama di tembok di samping pintu pagar, bertuliskan "Hitsugaya". Oh, jadi nama keluarganya Hitsugaya.
"Ayo," kata anak keluarga Hitsugaya itu.
"Eh?"
"Kau tidak ingi dihukum karena terlambat mengikuti upacara kan?"
"Upacara?"
"Memangnya kau pikir kenapa kita memakai seragam sekolah?" Anak itu menghela nafas sebelum menjelaskan, "SMA Nobigami adalah SMA terbaik di kota ini. SMA yang terkenal karena kedisiplinannya sekaligus juga satu-satunya SMA yang mengizinkan murid-muridnya untuk memakai pakaian bebas ke sekolah. Seragam sekolah hanya dipakai kalau ada acara khusus seperti upacara hari ini."
"O-Oooh…" Penjelasan tadi sukses membuat bulat mulut Sakura.
"Ayo, Haruno." Anak yang seperti versi kecilnya Kakashi itu mulai berjalan.
"Ah, i-iya, Hitsu.. Hitsugaya…" Anak lelaki itu berhenti berjalan dan melihat kebelakang ke arah Sakura dari pundaknya. "Err… Maaf, memanggil dengan nama keluarga rasanya agak asing bagiku…" ucap Sakura sambil mengelus bagian belakang rambutnya.
"…"
"A-ah, lupakan kata-kataku tadi. Kalau kau lebih nyaman memanggil dengan nama keluarga, maka–"
"Toshiro."
"E-Eh?"
"Kau boleh memanggilku Toshiro," ucap anak itu. Kemudian gadis berambut merah jambu itu mendengar nama depannya dipanggil dengan nada yang lembut, "Sakura."
Hening sejenak… Untuk sesaat cuma terdengar suara angin sepoi-sepoi yang mengalir ke arah kedua anak remaja itu. Angin yang lembut itu membelai wajah mereka dan mengibarkan rambut mereka.
Sebuah cengiran muncul di wajah gadis manis itu. Dia berlari ringan ke samping pemuda yang bernama Toshiro itu. "Makasih, Toshiro," ucapnya dengan nada yang manis. Sakura melihat seulas senyum di wajah pemuda tampan itu sebagai balasan.
Oh, kehidupan ini sepertinya akan sangat menyenangkan, batin Sakura. Kemudian, Sakura pun mulai berjalan menuju sekolah bersama dengan teman pertamanya di kehidupan ini.
~xXx~
Tsuzuku
~xXx~
HitsuSaku udah muncul di sini, yay! Maaf kalo masih kurang kerasa romance-nya, soalnya disini mereka baru pertama kali bertemu (bagi Sakura), jadi saya lebih berusaha fokus sama friendship-nya.
Aaa… Mohon jangan bunuh saya karena telah membuat Hyorinmaru sang naga es yang agung menjadi seekor anjing Siberian Husky yang lucu X3 Hehe, masalahnya, di kehidupan normal, naga bukan hewan peliharaan kan? Hwehehe…
Oh iya, soal seragam sekolah, itu sungguhan berlatarkan dari SMA saya dulu. Beneran, saya cuma pake seragam sekolah ga nyampe lima kali dalam setahun. Hehehe…
Ah, maaf, closing Author Note-nya kepanjangan ya? :3 Saya cuma mau ngucapin makasih udah baca. *bungkuk dalam-dalam* Makasih juga untuk yang follow, fave, apalagi review. Arigato gozaimasu ^^
Salam damai,
MnC21
