AU, Kehidupan Sekolah
Chapter 3: Hari Pertama Sekolah
~Didedikasikan untuk Rukishiro Kurosaki sebagai hadiah ulang tahun. Happy Sweet Seventeenth Birthday, Ruki-chan!
Juga dipersembahkan untuk para reader yang sudah sabar menantikan update fic ini, khususnya Tanigawa Rizumi no Sari-chan~
Full A/N bellow
Naruto © Masashi Kishimoto
Bleach © Tite Kubo
AU, Kehidupan Sekolah © MnC21
Summary: Hari pertama Sakura sebagai anak sekolah, dia pun harus mengikuti upacara di sekolahnya. Apa yang terjadi? AU, HitsuSaku
~xXx~
Seorang gadis belia berambut merah jambu sedang berjalan menuju kelas Kimia. Langkahnya mantap dan tegas. Dia tak sabar menjalani kehidupan barunya. Kemarin, gadis bermata emerald ini masih seorang kunoichi medis dari desa ninja bernama Konohagakure dan pagi ini ia terbangun sebagai seorang siswi SMA Nobigami.
Sungguh tak bisa dipercaya, perjumpaannya dengan seorang wanita misterius yang ternyata seorang penyihir telah membawanya ke kehidupan lain. Sakura tak tahu apakah dia harus berterima kasih pada Nona Penyihir itu atau tidak. Tapi, sepertinya Sakura akan menyukai kehidupan barunya ini.
Pagi tadi, gadis bermata emerald itu memang shock berat. Perasaannya campur aduk dan tidak karuan. Namun, insting shinobinya memaksanya untuk tegar dan berani menghadapi kehidupan yang berbeda ini, meskipun dia sudah bukan lagi seorang shinobi.
Paling tidak, Sakura mendapat teman baru, atau bisa dibilang teman pertamanya di kehidupan sekolahan ini. Namanya Toshiro dari keluarga Hitsugaya. Dia anak yang baik dan manis. Anak berambut seputih salju ini bagaikan malaikat penolong bagi Sakura. Oke, mungkin itu terdengar berlebihan, tapi anak bermata turquoise itu sungguh sangat membantu bagi Sakura.
Dia menjelaskan sedikit tentang SMA Nobigami tempat mereka bersekolah. Dengan beberapa pernyataan (atau pertanyaan) seperti, "Hei, kau tidak lupa kalau SMA Nobigami memakai sistem moving class, kan?", "Taruh tas sekolahmu di kelas kimia dan segera ke lapangan sepak bola untuk mengikuti upacara kalau kau tidak mau dihukum oleh Guru Zaraki. Eh, pelajaran pertamamu kimia, kan?", dan beberapa pertanyaan lain yang secara tidak langsung memberi tahu Sakura tentang sekolahnya, Sakura merasa bersyukur bisa mengetahui sedikit lebih banyak tentang tata cara kehidupan sekolah.
Sayang sekali Sakura dan Toshiro tidak sekelas, jadi mereka berpisah di depan pintu sekolah. Toshiro harus pergi ke kelas matematika untuk meletakkan tas sekolahnya. Sebelum berpisah, Toshiro menengok ke belakang ke arah Sakura dan berkata, "Jangan tersesat ya, Sakura. Kelas kimia ada di lantai dua, ruang ketiga dari tangga sebelah kiri. Aku takut kau salah masuk ke ruang biologi atau fisika."
Sakura yakin dia mendengar nada sarkasme dari kata-kata Toshiro tadi, yang menunjukkan seolah pemuda bermata turquoise itu sebenarnya bukan berniat memberitahu Sakura tentang letak ruang kimia tapi lebih seperti menyindir ingin mengatakan "Hei, kau tidak lupa letak ruang–ruang kelas di sekolah ini kan?". Itulah yang Sakura tangkap. Dan baginya, itu normal. Toshiro adalah teman sekolahnya, anak sekolahan normal. Jadi, semua yang dia katakan pastilah secara hanya kebetulan memberi tahu Sakura tentang tata cara kehidupan anak sekolahan ini.
Terkadang nada bicara Toshiro bisa sedikit menyebalkan (terutama nada sarkasmenya), tapi juga bisa sangat lembut dan manis (seperti saat memanggil nama depan Sakura pertama kali). Oh, anak ini benar-benar membuat Sakura tertarik. Keren dan punya penampilan rupawan. Ramah dan asyik diajak ngobrol. Dan yang terpenting, dia teman pertama Sakura dan sangat membantu. Sakura tak tahu apakah dia bisa berhenti memikirkan anak dari keluarga Hitsugaya itu.
Sayangnya mereka tidak sekelas. Hmm, apakah kalau upacara barisannya berdasarkan kelas ya? Tanya Sakura dalam hatinya. Gadis itu berharap untuk segera bertemu dengan anak bermata turquoise itu lagi secepatnya. Maka Sakura bergegas mempercepat langkahnya. Tapi bagaimanapun juga, naik tangga sampai lantai tiga itu bukannya tidak melelahkan. Sakura pun berhenti sejenak untuk mengatur nafas, lalu berniat untuk melanjutkan langkahnya ke kelas Kimia.
Sakura melihat sosok yang tak asing baginya sedang berdiri di tengah-tengah pintu kelas Kimia. Rambut hitam kelam, mata onyx, dan penampilan yang sok cool yang memikat banyak kaum hawa. Sebuah kata terlontar dari mulut Sakura dengan suara pelan, "Sasuke…"
Dulunya, Sakura memang salah satu fan girl-nya Sasuke. Tapi Sakura sudah dewasa sekarang. Gadis yang hampir berusia 15 tahun itu telah sadar bahwa obsesinya pada Sasuke itu sungguh kekanakan. Jadi, dia pun mulai mengabaikan hal konyol itu dan lebih fokus pada hal-hal penting lainnya.
Sakura pun berjalan dan berhenti tepat di belakang Sasuke. Dengan nada datar, Sakura berkata, "Oi, bisa minggir?"
Terkejut, Sasuke menoleh ke arah Sakura. Pria bermata onyx itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya dan ia pun hanya memandangi Sakura keheranan. Dia yakin bahwa Sakura yang dia kenal akan setidaknya menyapanya terlebih dahulu dengan nada sopan yang malu-malu. Kalaupun Sakura akan memintanya untuk berpindah tempat, Sasuke yakin dia akan melakukannya dengan pilihan kata yang lebih sopan dan bukan dengan nada sedater itu.
Merasa tak mendapat respon yang diinginkan, Sakura melambaikan tangannya di depan wajah Sasuke, "Hei, kau mendengarku tidak? Aku minta kau untuk minggir, Sasukeeee."
Pria bermata onyx itu masih terkejut, tapi sedetik kemudian setelah ia mendapatkan kembali ekspresi cool-nya, ia pun berpindah tempat mengizinkan Sakura untuk masuk kelas, tak lupa sambil melontarkan kata favoritnya, "Hn."
Beberapa anak yang menyaksikan hal tersebut juga terkejut. Yang paling lebay adalah sahabat Sakura yang langsung menghampirinya. Menangkap sosok gadis pirang, Sakura hendak mengucapkan salam selamat pagi. Namun, belum sempat sepatah kata keluar dari mulutnya, gadis bermata emerald itu merasakan tangan sahabatnya memaksa kepalanya untuk membungkuk meminta maaf ke hadapan Sasuke.
"Ya ampun, maaf ya, Sasuke. Aku yakin Sakura tidak punya niat untuk bersikap tidak sopan…" Ucap Ino sambil terus memaksa Sakura untuk membungkuk.
"Aduuuh, kenapa sih kau ini, Ino?" protes Sakura sembari berusaha melepaskan tangan sahabatnya dari kepalanya.
Gadis bermata aqua itu kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Sakura, "Kau yang kenapa, Sakura! Kau sadar apa yang kau lakukan pada Sasuke tadi? Apa kepalamu terbentur sesuatu?" Untuk kalimatnya yang terakhir, Ino mengetuk pelan kepala Sakura.
"Aw. Tidak, tapi tadi pagi aku terjatuh dari tempat tidur dengan kepala duluan. Apa itu termasuk?" Sakura berusaha untuk merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan gara-gara Ino tadi. Ino sendiri cuma menghela nafas sambil geleng-geleng kepala mendengar jawaban sahabatnya itu.
Tak berselang lama, bel sekolah terdengar membuat semua anak yang masih ada di kelas untuk bergegas menuju lapangan untuk upacara. Sakura pun memposisikan diri di barisan kelasnya. Sesekali mata emerald-nya mencari sosok teman pertamanya, dan benar saja, tak butuh waktu lama bagi Sakura untuk menemukan si putih yang telah menyita pikirannya sejak perjumpaan pertama mereka. Toshiro berada di antara kerumunan teman-temannya di barisan anak laki-laki di kelas sebelah.
Seolah bisa merasakan tatapan Sakura padanya, Toshiro menoleh dan seulas senyum terbentuk di bibirnya. Dia mengangkat tangannya ringan sebagai gesture menyapa dan Sakura pun membalasnya.
Tak lama kemudian, upacara pun dimulai. Bagi Sakura, upacara ini tidak terlalu jauh berbeda dari upacara yang pernah diikutinya semasa menjadi shinobi. Hanya perlu tertib dan rapi dalam barisan serta mengikuti jalannya upacara dengan khidmad. Oh, itu tidak sulit untuk dilakukan, sungguh. Hanya saja, Dewi Fortuna nampaknya sedang enggan mendekati para siswa SMA Nobigami.
Mengapa demikian? Oh, ini hanya bermula dari sebuah insiden kecil. Ketika upacara sudah hampir selesai –dimana para guru telah meninggalkan lapangan upacara dan para siswa hanya tinggal menunggu hormat penutup ketua upacara- Deidara selaku ketua upacara agak lama dalam hormat penutup mengakibatkan banyak celotehan dari para peserta upacara. Cengiran tanpa dosa cowok pirang itu pun tidak banyak membantu, justru membuat tidak sedikit dari para siswa tertawa. Yang menjadi masalah adalah suasana yang tidak kondusif ini disaksikan oleh guru paling killer di SMA Nobigami yang tidak lain adalah pak guru Zaraki.
Coba tebak, apa yang dilakukan oleh guru berpostur gagah nan menakutkan ini? Beliau masuk kembali ke lapangan upacara dan menegur dengan tegas semua siswa SMA Nobigami atas tindakan yang dianggapnya tidak disiplin itu. 'Hah, kayak gitu aja ditegur?' Mungkin itu yang ada dalam benak kalian, atau 'Ah, cuma ditegur aja kok, memang bisa separah apa?' Yah, tidak terlalu parah kok jika kalian menganggap bahwa 'mendapat hukuman untuk tetap berdiri di lapangan upacara selama dua jam ke depan' sebagai bukan suatu masalah yang berarti. Sungguh, guru yang satu ini punya gaya eksentrik dalam menghukum siswa.
Karena hukuman dari guru paling seram di SMA Nobigami ini, jam pelajaran pun jadi dipadatkan (meskipun sebenarnya sudah dipadatkan karena adanya upacara) supaya jam pulang sekolah tidak molor. Kalau karena insiden ini para guru harus tetap mengajar dengan jam sekolah yang tidak dipadatkan berganda, maka itu sama saja dengan ikut menghukum para guru untuk pulang sore kan?
Oke, lupakan soal pemadatan jam. Menurutmu, apa yang akan terjadi pada para siwa malang SMA Nobigami yang harus berdiri di lapangan upacara di tengah panasnya terik matahari tanpa istirahat selama lebih dari dua jam? Lelah, kepanasan, capek, itu pasti. Tak sedikit juga yang merasa jengkel pada guru telah menghukum mereka. Tapi apa daya, status mereka cuma siswa, sedangkan Zaraki adalah guru, guru kedisiplinan yang paling gemar menghukum siswa yang melanggar peraturan lebih tepatnya. Percayalah, kau tak akan menjumpai guru seperti ini di sekolah mana pun kecuali SMA Nobigami.
Para siswa malang yang sudah kelelahan itu pun segera membanjiri kantin SMA Nobigami setelah hukuman mereka dinyatakan selesai. Untungnya, kantin ini memang didesain cukup luas untuk bisa menampung seluruh siswa SMA Nobigami sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Cukup dengan melihat antrian panjang pada loket penukaran kupon, Sakura pun tahu bahwa kantin ini tidak menerima pembayaran uang cash melainkan yang sudah ditukarkan dengan kupon. Mengingat bahwa pagi tadi sebelum berangkat sekolah Sakura mengecek barang-barang yang ada di tasnya termasuk di dalamnya adalah dompet pribadinya, dia pun kembali ke ruang kelasnya untuk mengambil barang yang menyimpan persediaan uangnya itu. Sakura sama sekali sedang tidak membawa uang di saku baju seragam atau katong roknya. Huft, naik turun lantai tiga lagi deh…
Begitu kembali lagi ke kantin, antrian untuk memesan minuman dingin adalah yang paling banyak dilihat Sakura. Wajar saja, tak ada yang ingin mengalami dehidrasi apalagi dalam keadaan seperti itu. Sakura pun sudah merasakan ion-ion tubuhnya menguap akibat kepanasan dan kelelahan.
Setelah agak lama mengantri (di loket kupon dan loket minuman), Sakura pun mendapatkan es teh manisnya. Gadis ini segera mencari tempat kosong untuknya beristirahat sejenak, mengingat kantin ini sangat penuh dengan lautan manusia.
Sakura mendapati sebuah meja di pojok kantin dimana seorang gadis mungil berambut raven dan gadis berambut oranye yang postur tubuhnya jauh lebih besar dari gadis pertama tadi sedang mengobrol. Tak lama kemudian, gadis berambut oranye itu menampakkan gesture bahwa ia akan meninggalkan tempat itu. Pas sekali, hal itu menyisakan tempat kosong yang dicari Sakura, maka gadis bermata emerald itu pun bergegas menuju tempat kosong itu.
"Halo," sapa si gadis mungil berambut raven itu begitu Sakura memposisikan dirinya untuk duduk di sampingnya. Sakura membungkuk sedikit sembari membalas salam gadis itu. "Namamu Sakura, kan?" tanya gadis bermata violet itu.
"Iya… Ah, kau…" Sakura bingung bagaimana ia harus meneruskan kalimatnya. Gadis bermahkota merah jambu ini merasa agak canggung karena ia tak tahu nama gadis ramah yang mengajaknya bicara itu.
"Rukia. Namaku Rukia," ucap gadis itu, "Tidak apa-apa kok, Sakura. Ini kan baru beberapa minggu sejak kita resmi jadi murid SMA Nobigami. Dulu waktu kita berkenalan di POPSiBaSMANo, kamu pernah berkata padaku kalau kamu bukan tipe orang yang mudah untuk menghafal nama dan wajah banyak orang sekaligus."
Wah, setidaknya hal itu membuat Sakura tidak merasa canggung lagi karena dia jadi punya alasan untuk agak lupa (atau lebih tepatnya tidak mengenal) Rukia. Tapi, tunggu, tadi dia bilang POPSi apa?
Setelah menyeruput soft drink-nya, Rukia kembali berkata –yang bagi Sakura dia seolah menjawab pertanyaan dalam batinnya-, "POPSiBaSMANo, Pekan Orientasi dan Pengenalan Siswa Baru SMA Nobigami, itu nama yang lucu untuk menyebut masa orientasi siswa di sekolah ini, kan?"
"Ahaha, iya, ituuu nama yang unik," jawab Sakura sambil terus memandangi gadis mungil lawan bicaranya itu.
"Dan masa-masa paling tak terlupakan," tambah Rukia. Pandangan mata gadis manis itu seolah mengisyaratkan bahwa ia tengah mengenang kembali pekan orientasi itu. "SMA Nobigami sungguh adalah sekolah yang berbeda dari kebanyakan sekolah pada umumnya. Ini sekolah yang bebas tapi sangat disiplin, juga menekankan kebersamaan. Aku tidak menyesal masuk sekolah ini."
Okeeee, dari kata-kata Toshiro tadi pagi serta kata-kata Rukia baru saja, sepertinya Sakura masuk ke sekolah favorit yang spesial. Kehidupan ini sungguh tidak terlihat buruk –kecuali hukuman dari guru Zaraki tadi. Tapi, hey, tadinya Sakura adalah seorang kunoichi. Dia pernah mengalami hal yang jauh lebih melelahkan daripada cuma berdiri selama dua jam lebih di tengah panasnya matahari.
Jadi, kesimpulan Sakura akan kehidupan baru yang dijalaninya adalah, kehidupan shinobinya jauh lebih berat secara fisik daripada kehidupan sekolahan ini. Kehidupan barunya yang jauh dari rutinitas shinobinya itu memang kehidupan baru yang Sakura rasa dia tak akan bosan. Ia hanya perlu mengeskplorarinya lebih lanjut.
~xXx~
Tsuzuku
~xXx~
Terima kasih saya ucapkan setulus hati pada semua reader yang telah sabar menanti dan masih berkenan membaca fic ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas jangka waktu update yang sangat lama (sebenarnya disengaja baru di-update hari ini sih :p)
Soal hukuman berdiri di lapangan gara-gara 'mentertawakan' ketua upacara itu berlatarkan pengalaman pribadi saya zaman SMA dulu. Oke, dulu hukumannya bukan berdiri selama dua jam, tapi kalo dihitung dari upacara dimulai sampai akhir hukuman saya rasa dua jam memang nyampe kok, malah lebih. Ditambah lagi harus mendengarkan ceramah dan wejangan guru selama berdiri dan juga harus membuat tulisan tentang 'kerendahan hati' minimal satu lembar yang dikumpul hari berikutnya.
Ehehe, jadi seperti curhat ya? Tapi beberapa kejadian dalam fic ini memang akan mengisahkan curahan hati saya mengenang masa SMA dulu, hehe. Apa? Kalo udah lulus SMA, kalian juga pasti akan kangen dengan masa-masa itu kok, saya jamin itu!
Oh ya, Tanigawa Rizumi no Sari-chan yang saya sebutkan di atas juga adalah seorang author dalam fandom HitsuSaku Indonesia. Feel free to check her story out! Judulnya Cinta Yang Tumbuh. ;) Pada saat saya meng-update chapter 3 ini, status cerita tersebut masih ongoing story. Saya juga merekomendasikan fic Shiro-chan by Rukishiro Kurosaki yang sudah complete sampai chapter 5.
Salam damai,
MnC21
