I Know You Have A Girlfriend

Main pair: Yunho Jung x Jaejoong Kim

Previous…

"Min"

"Ya?"

"Menurutmu kalau aku mendekati Jaejoong bagaimana?"

"Omoo apa maksudmu hyung?"

"Aku sedikit tertarik padanya"

CHAPTER 2

"Haah" aku merebahkan diriku di ranjang kamarku. Entah kenapa hari ini aku sedikit merasa bahagia. Changmin bilang dia akan mengenalkan aku dengan Jaejoong. Apa benar aku bahagia karena itu.

"Ringringringringring!"

"Hello"

"Sayang aku mau mengabarimu besok aku hendak ke luar kota ada penelitian yang harus kulakukan, tenang saja aku bersama teman-temanku"

"Hm baiklah, berhati-hatilah disana nanti"

"Iya aku tahu, yasudah ya sayang. Selamat malam"

"Malam sayang" jawabku sekenannya

Rasanya aku seperti tidak begitu peduli dengannya. Kalau pasangan kekasih lain mungkin akan protective terhadap pasangannya jika ada kejadian seperti ini. Tapi mengapa aku tidak, benarkah aku sudah mati rasa. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi kembali…

"Ringringringringring!"

"Yun ini eomma"

"Ah ne eomma ada apa malam-malam begini menelepon?"

"Aigoo masak eomma tidak boleh menelepon anaknya sendiri. Eomma merindukanmu"

"Aku juga rindu eomma"

Hening. Entah mengapa suasana telepon ini menjadi canggung.

"Kau sudah makan chagi?"

"Belum, sebentar lagi eomma"

"Cepat makan sayang, eomma tidak mau maag mu kambuh"

"Ne eomma, aku akan makan"

"Baiklah eomma sudah mengantuk. Selamat malam ne Yun-popo"

"Eomma!"

"Hahaha sudah ne. Kau makan sana. Selamat malam"

"Malam eomma"

Pip.

Ugh eomma masih saja memanggilku begitu. Tapi kalau diingat-ingat aku juga rindu dengan panggilan eomma itu. Kalau saja eomma tidak berpisah dengan appa. Ya, mereka sudah berpisah sejak 8 tahun ini, saat aku masih di Junior High. Mereka tidak pernah memberitahukan padaku apa masalahnya. Eomma kemudian memutuskan untuk mengajakku ke China tapi aku tidak mau. Aku memilih tinggal dengan kakek dan nenek di Gwangju. Aku tidak pernah mau menemui orang tua ku lagi. Mereka jahat memutuskan begitu saja, aku orang yang paling terpukul dengan keputusan yang mereka buat.

Sejak saat itu aku menjadi anak yang pendiam, tidak banyak bergaul dengan teman-teman. Eomma sangat sedih melihatku begini, Ia pun datang bersama appa menengok keberadaanku di tempat kakek dan nenek. Aku masih saja bersikap dingin terhadap mereka. Eomma selalu menangis saat berkunjung. Aku sama sekali tidak peduli bahkan sampai appa menghajarku aku juga tidak peduli. Kalau mereka menginginkan aku seperti dulu mengapa mereka tidak rujuk saja, apa masalahnya. Tentu saja ada! Appa datang dan memberi tahu kakek dan nenek dia akan menikah lagi. Aku terkejut mendengar penuturan appa itu. Aku semakin membencinya.

Sudah hampir 1 tahun ini aku sedikit membuka hatiku untuk eomma, ya aku merasa eomma ku lah yang menjadi korban perasaan disini. Sesekali eomma datang dari China untuk menemuiku juga kakek dan nenek. Jujur aku merasa bersalah terhadap eomma. Dia adalah wanita yang kuat, yang kutahu sampai sekarang ia tidak dekat dengan siapapun. Haah memikirkan ini semua aku jadi merasa sesak. Aku rindu keluarga lama ku.

Xoxox xoxoX

"Jae hyung kenalkan ini Yunho hyung yang kuceritakan kemarin"

"Kim Jaejoong, panggil saja Jaejoong"

"Ah Jung Yunho, panggil saja aku Yunho, hyung"

"Nah kalian sudah berkenalan kan, aku harus pergi dulu. Kyuhyun menungguku. Bye"

Dengan seenaknya Changmin meninggalkan aku dengan Jaejoong hyung. Bagaimana ini? Ajak makan saja ya? Baiklah ajak makan saja, mungkin bisa lebih akrab.

"Umm Jaejoong hyung?"

"Ah ne?"

"Kau sudah makan siang?"

"Um belum"

"Mau makan bersama?"

"Boleh saja"

YES!

"Kau mau makan dimana hyung?"

"Um terserah kau saja"

"Baiklah ke tempat favorit ku saja"

Ku bawa mobil ini ke restoran tempat aku biasa makan. Well, dia manis sekali. Aku sampai gugup hanya berdua dengannya begini. Diam-diam aku mencuri pandang lagi ke arahnya. Wajahnya serius menatap layar ponselnya. Ada apa ya?

"Um hyung kita sampai"

"Ah ya"

"Kau makan sedikit sekali hyung?"

"Ah tidak apa-apa aku memang biasa makan seperti ini"

"Ku dengar kau bekerja di restoran hyung"

"Ya aku bekerja di restoran, sebagai asisten koki tapi masih tahap pemula hehehe"

"Wow! Di restoran mana hyung?"

"Kau tahu Le Louis XI?"

"Ah tentu saja aku tahu itu kan restoran bintang 3, hyung aku ingin mencoba masakan buatanmu"

"Mampir saja ke sana "

"Tapi aku ingin mencobanya langsung darimu"

"Kau boleh datang ke apartemen ku kalau mau"

"Benarkah?"

"Tentu saja"

"Oh ya kau hari ini kau tidak bekerja hyung?"

"Um tidak.. aku minta cuti untuk 3 hari kedepan hendak konsultasi dengan dosen di kampus"

"Omong-omong apa ada yang marah kalau aku main ke apartemen mu?"

"Tenang saja tidak akan ada yang marah um mungkin Jiji yang sedikit terganggu"

"Jiji, Jiji siapa?"

"Kucingku hehehe"

Setelah itu kami lumayan banyak bercerita, kebanyakan tentang kampus dan juga Changmin. Huh!

"Hyung kau mau langsung pulang atau mau berjalan-jalan dulu denganku hehe"

"Aku langsung pulang saja, nanti merepotkanmu"

"Tentu saja tidak hyung kau mau?"

"Ah tidak usah lain kali saja"

"Oh baiklah tapi aku antar pulang ya"

"Tidak usah aku naik bus dari sini saja"

"Tapi aku ingin tahu apartemenmu hyung, kau bilang aku boleh datang ke sana"

Jaejoong hyung tampak berpikir.

"Hm baiklah kau boleh mengantarku"

"Kenapa lewat sini bukankah lurus juga lebih cepat?"

"Sekalian jalan-jalan hyung hehehe"

"Kau ini bisa saja ya hahaha"

OW! Aku baru ini melihatnya tertawa lepas. Apa dia sebahagia itu, karena aku? Oh kuharap iya. Kesan pertama ini harus ku buat sebaik mungkin.

"Kau mau es krim hyung?"

"Kau bilang mau langsung mengantarku?"

"Oh ayolah hyung santai saja"

"Baiklah-baiklah…"

"Ayo kalau begitu"

Xoxox xoxoX

"Hyung kau melamun"

"Ah maafkan"

"Hm jadi kau tinggal sendiri hyung?"

"Umm ya, Umma sudah meninggal sejak aku umur 5 tahun"

"Oh maaf hyung"

Kulihat Jaejoong hyung tampak diam, apa dia sedih setelah aku bertanya tentang keluarganya? Oh aku menyesal menanyakannya. :(

"Sudahlah tidak apa-apa, aku hanya rindu saja pada umma"

"Bagaimana kalau kita mengunjungi makamnya saja hyung, kau bisa berdoa untuknya"

Tiba-tiba saja mulut besarku berkata demikian. Oh kuharap ini bukanlah ide buruk, aku bahkan baru berkenalan dengannya.

"Kau serius mau menemaniku tapi ini sudah sore"

"Tidak apa-apa hyung aku mau menemanimu"

"Baiklah kau baik sekali"

"Ringringringringring!" Tiba-tiba saja ponsel ku berbunyi.

"Oh hello, Maaf hyung aku permisi dulu" aku pun keluar dari café Ice Cream ini, karena apa? Tiffany yang menelepon! Bisa gawat kalau saja Jae hyung tahu aku sudah punya pacar. Rencanaku untuk mendekatinya bisa gagal.

"Hello sayang ada apa menelepon"

"Hello sayang aku hanya ingin mengabarimu aku baru sampai di Busan"

"Oh begitukah, baik-baik ya disana"

"Tentu, kau jangan lupa makan ya"

"Ah ne"

"Baiklah sudah dulu ya aku ditunggu teman-teman nanti aku telepon lagi"

Pip. Buru-buru aku kembali ke dalam café lalu menghampiri Jae hyung.

"Ah maaf hyung"

"Tidak apa-apa, hanya saja es krim mu mencair"

"Oh tidak apa-apa. Ayo langsung saja kita ke tempat umma mu hyung"

"Ne. terima kasih banyak Yun"

"Kapanpun untukmu hyung"

Langsung saja kami meninggalkan café dan menuju ke tempat umma Jae hyung dimakamkan. Aku perhatikan Jae hyung sedikit ceria, mungkin dia rindu sekali dengan ummanya. Hei dimana appa-nya ya? Aku lupa menanyakannya.

"Umma aku datang bersama Yunho. Temanku di kampus"

Ku lihat Jae hyung menaruh buket bunga yang tadi kami beli. Setelah itu ia berdoa. Aku pun turut berdoa juga, walaupun aku tidak mengenal umma-nya kurasa ini tak salah. Setelah itu kami membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam umma Jae hyung.

"Yun mianhae, aku sudah merepotkanmu"

"Tak masalah hyung aku tahu kau rindu sekali dengan umma-mu"

"Sekali lagi terima kasih banyak"

"Tidak apa-apa hyung aku tidak keberatan, kalau begitu kita langsung pulang saja ya sudah jam 6 sore"

"Um baiklah"

Di jalan kami hanya diam. Ku lirik sedikit Jae hyung tampak sibuk dengan ponsel nya, kenapa dia tidak memperhatikanku saja, memangnya aku kurang keren?

"Apartemenmu di sebelah mana hyung?"

"Oh masuk saja ke jalan kecil disana"

"Oke baiklah"

Ku bawa mobil ini kearah yang ditunjuk Jae hyung tadi.

"Kita sampai"

"Terima kasih Yun, kau mau mampir dulu?"

"Ah aku langsung pulang saja hyung, ada tugas yang harus ku kerjakan"

"Sekali lagi mianhae Yun aku ajdi merepotkanmu"

"Tak apa hyung"

Ku lihat Jae hyung sedikit menunduk mungkin ia merasa tak enak. Ku raih bahunya pelan. Ia sedikit terkejut dengan perlakuanku. Entah keberanian darimana perlahan aku menghapus jarak diantara kami lalu ku kecup bibirnya singkat. Ia terkejut lalu mendorongku pelan.

"Ah maaf hyung aku—"

"Um aku langsung masuk ya"

Ku lihat Jae hyung buru-buru mengambil tasnya lalu keluar dari mobil ku. 'Bodoh' rutukku dalam hati. Bagaimana bisa aku langsung melakukan ini bahkan di hari pertama kami berkenalan. 'Jung Yunho bodoh' umpatku lagi dalam hati.

Sepanjang perjalanan aku terus merutukki diriku yang bodoh ini. Aku benar-benar kurang ajar. Bagaimana ini aku jadi tak enak dengan Jae hyung. Aku takut kalau dia tak mau berbicara lagi denganku atau bahkan tidak mau bertemu denganku. Baiklah aku kirim pesan saja.

Jae hyung,

Sebelumnya aku meminta maaf, aku sudah bertindak bodoh.

Aku benar-benar tidak bermaksud kurang ajar hyung

Kumohon maaf kan aku :'(

Sent.

1 menit. 2 menit. 3 menit. Sampai bermenit-menit aku harap-harap cemas menunggu balasan dari Jae hyung. Oh apa dia benar-benar marah padaku?

Ping!

1 new message received.

From: Jaejoong hyung

Oh Yun.

Aku tidak apa-apa tenang saja.

Terima kasih sudah menemaniku tadi.

Apa benar Jae hyung tidak marah. Aku jadi sedikit cemas, walaupun aku tadi sudah membaca pesan nya bahwa ia baik-baik saja. Begitu sampai apartemen aku langsung saja menuju mandi lalu membersihkan apartemenku dan mengerjakan tugas-tugas paper dari kampus. Sedikit banyak aku masih memikirkan kejadian tadi. Hatiku tetap merasa tak enak. Ini sangat mengganggu sekali.

"Oh hello Yun"

"Oh—oh hello hyung"

Bodoh! Bisa-bisanya aku menekan tombol Call pada contact Jae hyung.

"Hello Yun ada apa?

Aku masih diam tak tahu harus bilang apa. Aku malu sekali.

"Tentang tadi tidak apa-apa Yun, kau pasti tidak sengaja kan?"

"Ah aku.. aku… Mianhae hyung aku—"

"Sudahlah tak usah dipikirkan. Kau sedang apa?"

"Ah aku— aku baru saja selesai mengerjakan tugas"

"Oh ya, tugas dari dosen siapa?"

"Itu… Lee seongsaenim memberikan tugas paper"

"Apa sebelumnya kau pernah mengambil kelasnya?"

"Um belum. Aku baru kali ini mengambil kelasnya"

"Hahaha kau tenang saja Lee seongsaenim sering lupa dengan tugas yang diberikannya"

"Oh benarkah hyung hahaha"

"Ne. Kau lihat saja besok"

"Hahaha aku jadi sedikit lega hyung tugas paper ini harus dikumpul besok maksimal 20 halaman"

"Sudah kau tenang saja, dia pasti lupa"

"Hehehe bagaimana dengan Choi seongsaenim hyung, kau tahu dia?"

"Tentu aku tahu. Kau sebaiknya berhati-hati dia senang sekali membuat mahasiswanya repot"

"Hehehe repot bagaimana hyung?"

Setelah itu kami mengobrol cukup lama, aku senang sekali Jae hyung banyak bercerita begini, ia banyak bercerita tentang kampus yang tidak aku tahu, ternyata walaupun jarang di kampus tapi dia tahu seluk beluk kampus. Aku pikir dia memang tidak mempermasalahkan hal yang tadi.

"Sudah malam Yun, kau besok tidak kuliah?"

"Tenang saja aku masuk siang hyung"

"Oh"

"Kau besok tidak kuliah hyung?"

"Um aku juga masuk siang"

"Benarkah, aku jemput ya?"

"Ah tidak usah aku bisa naik bus"

"Tidak apa-apa hyung lagipula aku merindukanmu" aku sedikit menggodanya. Semoga saja dia tak marah.

"Aku juga merindukanmu"

EH!

"Eh benarkah?"

"Tentu saja hehehe"

"Kau tidak bercanda kan hyung?"

"Tentu saja— aku bercanda hahahaa"

"Ah kau membuatku kecewa hyung"

"Ne, ne aku juga merindukanmu hihihi"

"Senangnya hehehe"

Hening

"Kau sudah mengantuk hyung"

"Um ne. Maaf aku mengantuk sekali"

"Yasudah tak apa lagipula ini sudah hampir jam 1 pagi"

"Ne. Aku matikan ya teleponnya"

"Ne. Good night hyung"

"Good night Yun"

"Hyung"

"Hmm"

"Ah tidak apa-apa"

"Oh"

"Neomu bogoshipo"

Pip. Langsung saja kuputus teleponnya. Aku berdebar saat mengatakannya. Ini berbeda dengan yang tadi, ini benar-benar dari hatiku tidak seperti sebelumnya saat aku menggodanya.

Ping!

1 new message received.

From: Jaejoong hyung

Nadobogoshipo, Yun-yun

Oh GOD! Jae hyung mengirimiku pesan ini!

Aku terkejut sekaligus bahagia membacanya. Semoga saja ia benar-benar merindukanku. Tidurku malam ini akan benar-benar indah :D

Xoxox xoxoX

Tidak seperti biasanya aku bangun pagi ini dengan penuh semangat. Yah mungkin juga karena efek bersama Jae hyung. Tak sabar rasanya untuk bertemu lagi dengannya. Oooh…

"Ringringringringring!"

Oh… Oh…

Incoming Call

My Lovely

Oh…

"Hello?"

"Hello sayang selamat pagi, maaf kemarin aku tidak menelepon, kemarin aku sibuk sekali penelitian, setelah itu kami ke tempat pemandian air panas lalu pulang dan capek sekali. Jadi aku langsung tidur. Maafkan aku"

"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti kesibukanmu" dustaku agar ia terlihat senang.

"Kapan kau pulang?" tanyaku lagi.

"Um mungkin besok sayang, jemput aku ya di Stasiun"

"Oke baiklah sayang"

"Terima kasih sayang aku mencintaimu. Sudah ya"

Pip.

Huh! Pagi-pagi mood ku sudah kembali jelek. Sepertinya aku harus cepat bertemu Jae hyung. Ohoo aku ada ide! Segera saja aku mandi lalu menyiapkan segala keperluan kuliahku kemudian memanaskan mobil! Huh! kenapa jadi terasa lama sekali!

Ting tong!

Cklek

"Oh Yun, ini kan baru jam 9 pagi, bukannya kuliah siang jam 13.30 ya?"

"Hehehe aku mau menagih janjimu hyung"

"Janji apa— oh masuklah"

"Ne janji mau memasakanku makanan bikinanmu" ;D

Aku duduk di sofa ruang tengah Jae hyung. Enak sekali disini, kuakui walaupun dia lelaki tapi ia sangat menjaga kebersihan. Aku suka wallpaper dindingnya, garis-garis berwarna soft dan ukiran-ukiran sulur pohon. Mengesankan.

"Oh ya tapi kan aku baru berjanji padamu kemarin kenapa cepat sekali menagihnya?"

"Ayolah hyung aku sudah lapar makanya kesini"

"Oh aku pikir karena kau merindukanku"

Eeeh? Kuperhatikan Jae hyung hanya senyum-senyum lalu pergi ke dapur, mungkin. Aku semakin tertarik dengannya.

"Ne! Aku merindukanmu hyung!" aku sedikit berteriak saat mengucapkannya.

"Benarkah?" balasnya tak kalah nyaring dari arah dapur.

Aku langsung bergegas menuju dapur kurengkuh ia yang sedang memasak dalam pelukanku. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya.

"Hei apa yang kau laku—"

"Apa? aku hanya melihat kau masak"

"Tapi—"

Ku balik tubuh rampingnya, ku tatap ia yang sedang tersenyum simpul lalu pelan tapi pasti ku kecup bibirnya lembut. Ia tak menolak sama sekali bahkan mulai membalasku ditambah lagi tangannya yang diletakkan di leherku, menambah mesra ciuman kami. Semakin lama ciuman kami semakin panas. Tak boleh, aku harus tahan dulu. Segera saja ku lepas ciuman kami. Tapi aku masih memeluknya lho.

"Saranghae. Jeongmal Saranghae Kim Jaejoong"

"Kau serius Yun?"

"Apa jawabanmu hyung?"

"Na—Nado Saranghae"

TBC

Kecepetan gak siiiiih hahahaaa.. maaf.. mianhae :3

Tapi gak apa-apa kan?

Harusnya jangan rated M dulu ya haa biarin deh…

Chapter kemarin kayaknya emang prolog fufufu

Iya Jae emang lebih tua, entah mengapa saya suka dia yg dewasa hehehe

Semoga yang ini suka deeh.. saya mau ngasih yang manis-manis dulu baru entarrr yang sedih-sedih nyee hehehe.

Buat kamuh-kamuh yg sudah me-review:

Himawari Ezuki, 10rh, Elephant Girl, HeroKittyJae, AndrianaSR, Choi Eun Seob, YuyaLoveSungmin, adindapranatha, MrsPark6002, YunHolic, Kyuubi kim, Cindyshim

Arigatou bangeeet *peluk satu2*

By the way semua penjelasan akan mucul dalam setiap chapter. Jadi simak saja yaa hehee.

See Ya :D