I Know You Have A Girlfriend

Main pair: Yunho Jung x Jaejoong Kim

Previous…

"Saranghae. Jeongmal Saranghae Kim Jaejoong"

"Kau serius Yun?"

"Apa jawabanmu hyung?"

"Na—Nado Saranghae"

Chapter 3

"Kalau kau memelukku terus bagaimana aku bisa memasak dengan benar?"

"Bukannya kau asisten koki?"

"Tidak ada koki yang memasak sambil dipeluk seperti ini"

"Sekarang kau perlu mencobanya, boo. Berlatihlah"

"Yuun geli"

"Sudah jangan pedulikan aku. Aku sudah lapar"

Ku perhatikan Boojae yang sedang memasak hmm aroma masakannya harum sekali, sepertinya Omeuraise.

"Sudah sana tunggu di meja, ini akan segera selesai"

"Hmm baiklah"

Aku pun melepas pelukanku darinya. Ia hanya tersenyum melihatku. Ku perhatikan Boojae sangat handal memasak, lihat saja ia cekatan sekali mencampur bumbu, memotong-motong sayur.

"Tadaa! Ini dia!"

"Aah akhirnya datang!"

"Cobalah"

Segera saja ku ambil sesendok Omeuraise itu. Wow tidak seperti Omeuraise yang pernah kumakan sebelumnya. Ini enak sekali. Ku tatap wajahnya sebentar.

"Bagiamana?" tanyanya penasaran.

"Tidak enak" dustaku, tentu saja ini enak sekali.

"Apa?" tanyanya tidak percaya dengan omonganku.

Ku lihat wajahnya yang merengut kesal. Lalu menarik piring Omeuraise milikku.

"Heeei aku belum selesai"

"Kau bilang tidak enak" ucapnya dengan wajah cemberut.

"Tentu saja tidak enak kalau tidak disuapi"

"Mwo?"

"Ayo suapi aku, boo"

"Manja sekali"

"Memangnya tidak boleh manja dengan pacar sendiri"

"Hmm baiklah aaak~"

"Aaak~aaam"

"Ini baru enak. Sangat enak"

"Kau bisa saja, bocah"

"Bocah-bocah begini kau juga mau padaku" celetuk ku padanya.

"Sudah cepat habiskan makanannya" ujarnya dengan wajah tersipu.

x

"Kita sampai" kataku pada orang yang kini menjabat sebagai kekasihku.

"Kalau begitu aku langsung menemui dosen ya, kau jangan bolos, langsung masuk, arra?"

"Arrasso my boojae!"

"Good boy"

Setelah itu kekasih baru ku keluar dari mobil dan langsung pergi ke ruangan dosen. Rasanya hari ini bahagia sekali. Bagaimana ya mendeskripsikannya? Ini seperti saat kau memenangkan hadiah utama dari sebuah lotre, ah tidak Boojae pacarku dia bukan hadiah lotre. Omong-omong belum lama ia pergi aku sudah rindu begini padanya. Haaah… baru beberapa jam yang lalu kami resmi berpacaran.

"Ringringringringring!" Tiba-tiba saja ponselku berbunyi nyaring dan sedikit membuatku terkejut.

"Hello?"

"Sayang, aku sebentar lagi akan pulang ini sudah di stasiun"

"Begitukah, baiklah nanti kabari aku lagi ya sayang sekarang aku akan masuk kelas"

"Ya nanti akan segera kuhubungi lagi sayang, sampai jumpa aku mencintaimu"

"Aku juga"

Pip

Haah dia akan pulang, akan repot membagi waktuku dengan mereka berdua. Aku harus pintar-pintar membagi waktuku. Ku putuskan untuk masuk kelas dahulu baru memikirkan urusan pacar-pacarku.

"Hei Chun tumben kau tidak bolos" sapaku pada sahabatku ini, tumben sekali ia datang lebih dulu.

"Sebentar lagi ujian aku harus sering-sering masuk Yun"

"Jadi karena ujian"

"Tentu saja bukan"

"Lantas apa?"

"Lihat saja nanti"

"Baiklah aku menunggu"

Terlihat seorang lelaki seumuran kami masuk ke dalam kelas, siapa dia? Semua mata memandang penuh tanya siapa gerangan lelaki yang sekarang duduk di kursi dosen.

"Selamat siang, saya asisten dosen kalian yang baru"

Gotcha! Terjawab sudah ia seorang asisten dosen, mengapa baru sekarang masuk. Kemana saja ia selama ini?

"Maaf karena kesibukan tugas akhir aku jarang masuk kelas mendampingi kalian. Aku minta maaf"

Oke terjawab lagi. Baiklah kita mengerti kesibukan tugas akhir seorang mahasiswa.

"Karena Park seongsaenim tidak bisa hadir saya yang akan mengambil alih kelas, saya akan memberikan beberapa tugas pada kalian, tugas ini sudah pernah diberikan Park seongsaenim sebelumnya jadi tidak akan menyulitkan kalian"

"Maaf Anda belum memperkenalkan nama anda" Yoochun tiba-tiba saja menginterupsi omongan si asisten. Hell! Kenapa juga dia peduli dengan namanya.

"Ah ya, maaf nama saya Kim Junsu. Kalian bisa menghubungi saya melalu email"

Terlihat Junsu sunbaenim menuliskan nama dan email di white board depan kelas lalu membagikan lembar tugas yang dititipkan Park seongsaenim.

"Kalau ada kesulitan kalian bisa bertanya pada saya"

Kuperhatikan Yoochun tampak semangat sekali hari ini, ada apa dengannya. Apalagi ia jadi lebih aktif dan sering bertanya pada asisten baru itu. Kelihatannya ia sedang senang sekali.

x

"Chun kenapa kau tadi antusias sekali di kelas, aku tidak pernah melihatmu begini sebelumnya"

"Hehehee kau ingat alasan mengapa aku masuk hari ini"

Sekarang kami berada di kantin, kelas sudah selesai 10 menit yang lalu, langsung saja kami putuskan pergi ke kantin sebentar.

"Jangan bilang karena kau tertarik dengan asisten dosen tadi dan kau sudah tahu bahwa ia yang akan masuk kelas hari ini"

"Hahaha kau pintar sekali Yunho chagi"

"Jadi benar?"

"Tentu saja"

"Kau tahu darimana?"

"Aku tak sengaja melihat jadwal asisten dosen di ruangan staff tadi pagi lalu kulihat namanya tertera disana, dan kau tahu, ia orang yang ku cari-cari sejak aku masih Junior High"

"Whoaa! Benarkah kau beruntung, aku mendoakanmu semoga berhasil"

"Ya kau harus mendukungku, aku begitu merindukannya, sudah lama tidak melihatnya tapi ia tak berubah, hanya rambutnya saja yang semakin panjang"

"Benarkah, ah kau pasti bahagia sekali"

Tiba-tiba saja sms dari seseorang yang ku tunggu masuk.

Ping!

1 new message received.

From: Jaejoong hyung

Yun, kamu dimana, aku sudah selesai. Aku di lobby depan.

"Ah Chun aku tinggal ya, aku ada perlu"

"Baiklah santai saja"

"Bye"

Segera saja aku menyusul pacarku itu di Lobby depan kampus kami. Mataku mulai menyusuri pelosok lobby yang cukup besar ini. Got it! Ia sedang duduk di pojok Lobby sambil memainkan ponselnya.

"Hei sudah lama menunggu"

"Ah tidak baru saja"

"Ayo langsung pulang saja, ada yang harus ku kerjakan setelah ini" dustaku padanya, tentu saja setelah ini aku menjemput Tiffany di stasiun.

"Begitukah, baiklah ayo"

Xoxox xoxoX

"Sudah lama?"

Kucium pipi manis pacarku yang satu ini, Tiffany, rasanya aku kasihan melihatnya.

"Tidak. Aku baru sampai tapi yang lain bilang mereka mencari makan di dekat sini"

"Kenapa tidak ikut bersama mereka?"

"Ah tidak apa-apa aku hendak menunggumu saja, lagipula kau bilang tadi lagi di jalan"

"Hmm baiklah ayo langsung aku antar pulang saja"

"Temani aku makan dulu ya"

Oh aku sedang malas tapi dia tak boleh tahu aku sedang jenuh dengannya begini.

"Oke kalau begitu, di dekat-dekat sini saja ya"

"Terima kasih sayang"

x

"Kau tahu disana ada desain terbaru Mccartney, aku mau lihat sayaaang"

"Oh makanlah dulu makananmu, itu kita bicarakan nanti"

Kami sekarang ada di restoran—entahlah, aku lupa namanya, sepanjang jalan tadi aku terus melamun dan sekarang ia berbicara tentang itu lagi. Ah ini yang membuatku semakin jenuh dengannya, andai ia mau berubah sedikit saja untuk lebih sederhana, sedikit saja. Tolonglah.

"Baiklah kalau kau tak mau menemani tak apa-apa"

"Ya ya, besok kita kesana" akhirnya aku mengalah, aku pikir ia akan langsung senang kembali.

"Tidak usah, tidak apa-apa" ucapnya tiba-tiba merajuk, tidak seperti dugaanku.

"Apa maksudmu?" aku bingung dengan sikapnya yang jadi berubah-ubah begini.

"Tidak ada, hanya saja sepertinya aku merepotkanmu"

"Oh ayolah aku hanya lelah saja karena kuliah tadi" ucapku berdusta, tentu saja aku lelah dengannya, ayolah aku hanya ingin melihat apakah ia bisa berubah apa tidak.

"Ah begitukah, maaf yun aku tidak tahu kau sedang ada masalah dengan kuliahmu"

"Maaf sayang, aku sedang dalam mood yang tak baik"

"Tak apa-apa aku mengerti" ucapnya yang entahlah jadi berubah-ubah begini.

"Terima kasih sayang kau baik sekali"

"Hei boleh aku mencoba makanamu?" tanyaku padanya, tiba-tiba saja makanannya jadi menggiurkan.

"Tentu"

Ia pun menyuapi sesendok makanan di piringnya padaku, aku hanya memesan minum saja tadi karena aku sedang tidak lapar.

"Hm enak sekali, rasanya sungguh berbeda"

"Tentu saja Le Louis XI kan restoran berkelas, sayang mana mungkin rasanya sama dengan restoran lain, mereka punya cita rasa sendiri"

"Apa kau bilang?" tiba-tiba saja aku jadi tersentak, aku seperti mengingat sesuatu.

"Apanya?"

"Kita dimana sekarang?"

"Le Louis XI"

"Apa?!" ucapku setengah berteriak

"Kau kenapa sayang?" tanyanya lagi heran melihat tingkahku yang tak jelas.

"Ah tidak apa-apa" ucapku pura-pura tenang.

Mati aku! Boojae bekerja disini kan. Eh ya! Aku ingat ia sedang tidak bekerja kan selama 3 hari, lagipula mengingat aku kan baru saja mengantarnya pulang beberapa jam yang lalu. Lain kali aku harus ingat-ingat lagi kalau mau mampir kesini bersama Fanny.

"Kau kenapa sayang"

"Ah tidak apa-apa cepatlah habiskan makanmu setelah itu langsung aku antar pulang, kau pasti lelah setelah perjalanan tadi"

"Ah iya"

x

"Terima kasih sayang, maaf merepotkanmu terus"

"Tentu saja tidak, aku tidak merasa direpotkan olehmu"

Ia pun lalu mencium ku pelan, tak ada balasan dariku, aku hanya diam saja.

"Aku masuk duluan ya"

"Istirahat yang cukup ya, atau besok tak usah kuliah dulu?" ucapku penuh harap.

"Ah aku tidak apa-apa besok pasti sudah segar kembali"

"Begitukah, kalau begitu kabari aku kalau ada sesuatu"

"Ya. Selamat malam, aku mencintaimu"

"Aku juga sayang, aku pulang dulu ya"

Xoxox xoxoX

"Kau sedang apa boo?"

"Tidur"

Hihihi aku terkikik geli sendiri mendengar suara kekasihku yang satu ini di telepon. Sedari tadi aku ingin meneleponnya. Begitu sampai di apartemen aku langsung segera mandi setelahnya aku bersiap meneleponnya, kurebahkan tubuhku di ranjang aah rasanya aku ingin memeluknya sekarang.

"Tidur tapi kenapa bisa menjawab teleponku"

"Kau mengganggu tidurku jadi aku tebangun"

"Benarkah kalau begitu aku matikan saja telponya"

"Matikan saja"

"…"

"…"

"Kenapa tidak dimatikan"

"Aku sudah mencari tombol End Call tapi tidak menemukannya" ucapku berbohong, tiba-tiba saja ingin menggodanya.

"Kenapa bisa tidak ada?" tanyanya heran

"Aku juga tidak tahu, yang ada hanya kau boo" ucapku sambil menahan tawa.

"Huh dasar gombal"

"Saranghae"

"Nado"

"Neomu bogoshipo"

"Nado"

"Kenapa singkat sekali menjawabnya" ucapku lagi pura-pura merajuk

"Nado bogoshipo, Yun-yun"

"Aku ke apartemenmu ya"

"Ini sudah jam 11"

"Ayolah aku merindukanmu" entahlah aku jadi benar-benar merindukannya.

"Kau tidur saja sana, ini sudah malam"

"Baiklah.. baiklah.. tapi besok aku akan menghabisimu hihihi"

"Ya! Anak kecil jangan macam-macam yaa hihihi"

"Aku bukan anak kecil!"

"Tapi kau punya kepala kecil"

"Tapi kau mencintaiku"

"…"

"Hei kau mendengarku?"

"Hmm"

"Ya sudah kau sepertinya mengantuk, Good night my boojae"

"Nite-nite yun-yun"

Pip

Xoxox xoxoX

"Sayang aku hari ini tidak masuk badanku letih sekali"

"Oh baiklah, nanti aku mengunjungimu setelah pulang kuliah"

"Kau masuk jam berapa?"

"Jam 10 pagi ini, mungkin aku keluar sekitar jam 2 sore"

"Baiklah beritahu ya kalau mau kemari"

"Tentu saja, sudah ya sayang aku buru-buru, aku mencintaimu, bye"

"Hati-hati sayang, aku juga mencintaimu bye"

Pip

HA! Tiffany tidak masuk, aku bisa pergi ke rumah Jae, beritahu dia tidak ya, hm tak usah saja. Kuputuskan untuk segera memanaskan mobil , kulirik jam ternyata masih pukul 7. Baiklah bersiap kau boojae…

Ting tong!

Cklek!

"Yun.. Kenapa datang pagi sekali?"

"Ah aku sudah bilang kan aku merindukanmu dari semalam" kuputar badannya ke belakang lalu ku tutup pintu dan menguncinya perlahan ku peluk sambil menuntunnya ke sofa di ruang tengah apartemennya.

"Kau mau apa?" tanyanya lembut.

"Mau ini" tunjukku pada bibir mungilnya.

Segera saja ku kecup bibir mungilnya yang menggoda itu, ku kecup berkali-kali sebelum akhirnya menjadi ciuman panas.

"Ummhn—ah"

"Booo—oh"

Kini aku menindih tubuhnya di atas sofa empuk ini. Perlahan aku mengecup lehernya semakin lama semakin kuat, entahlah nafsuku begitu tinggi bila didekatnya begini.

"Aaah yuun"

Ku singkap t-shirt yang dipakainya, ku raba-raba perutnya tapi ia mulai menghalangiku dengan menahan tanganku. Tak habis pikir tangaku ku selipkan ke dalam celanannya yang longgar. Ia pun mendorongku sehingga pelukanku terlepas darinya.

"Hei apa yang—"

Boojae ku yang manis kini ganti menindihku, ia mencecup bibirku penuh nafsu. Sekarang aku mengerti. Aku tahu ia juga menginginkannya. Ku angkat tubuhnya yang kini dalam pelukanku menuju kamarnya.

xx

"Ah—ah—aah.. ummh aaah"

"Booh—oooh"

"Yuunh—aaah"

Ku pandang tubuh ramping di bawahku yang kini penuh nafsu dan wajah yang merah. Tubuhnya yang indah tak bercacat membuatku kagum padanya, sudah banyak ku torehkan tanda-tanda di sekitar leher sampai dadanya. Ku kecup lagi bibirnya yang memerah karena ulahku juga.

"Umm aaah"

Terlihat ia yang begitu menikmati setiap permainan kami, bahkan ia tak ragu meminta lebih.

"Fash—teer aaah"

"Kau nakal Booh—oh oh"

"Ah ah ooh—oh"

Karena bosan kuputuskan untuk berganti gaya, kini ia berada dalam pangkuanku. Ia hanya tersenyum dengan mata sayu lalu mengecupku pelan.

"Kau hebaaat" bisiknya di telingaku, tak ayal kata-katanya bagaikan sihir di telingaku. Aku menjadi bersemangat melanjutkannya lagi. Kini ku tuntun bokongnya pada milikku, dengan perlahan ku turunkan bokongnya yang montok itu seraya meremas-remasnya.

"Ah ah aaaah"

Tak tahan dengan dadanya yang menggoda sedari tadi di depanku, langsung saja ku kecup nipple kemerahan itu lalu menyesapnya.

"Ya—aaah yuun" pekiknya tertahan lalu memeluk kepalaku erat.

x

"Kau tidak kuliah?" tanyanya padaku

"Sebenarnya ada tapi aku malas masuk"

"Hei kenapa begitu?"

Kini ia tengah dalam dekapanku setelah beberapa saat lalu aku bercinta dengannya. Ku belai sayang kepalanya lalu mengecupnya lembut.

"Aku mau disini saja"

"Aku hari ini juga mau bertemu dosen, bukankah kau tahu?"

"Hmm"

Kulirik jam yang ada di atas meja samping ranjangnya. Masih pukul 9 lebih.

"Baiklah baiklah aku masuk"

"Harus begitu jangan malas"

"Ya ya aku tahu— hei omong-omong kau tadi hebat sekali aku sampai kewalahan"

"Sudah jangan dibahas, aku tidak tahu" ujarnya malu lalu menyesakkan kepalanya ke dadaku.

"Kalau kita begini terus aku jadi tidak bisa berpaling" ucapku menggodanya.

"Mwo?"

"Hahaaa aku bercanda tenang saja"

"Fiuuuh"

"Tapi tidak juga aku mau kita sering melakukannya"

"Tidaaak!" ia lalu mendorongku

"Sana pakai bajumu aku mau masak dulu" ujarnya seraya melepar celana dalamku.

"Hahahaaa" aku tertawa melihat tingkahnya yang lucu itu.

Tok tok tok

Terdengar ketukan pada pintu apartemen Boojae, kuputuskan untuk turun dari ranjang lalu mengenakan pakaianku. Saat mengenakan baju sama-samar kudengar suara seorang pria dan Boojae tengah berbincang. Siapa ya?

"Siapa boo?" tanyaku pada kekasihku ini.

"Ah bukan siapa-siapa tadi temanku datang" jawabnya agak terkejut lalu menutup pintunya.

"Begitukah, kenapa hanya sebentar?" tanyaku lagi

"Um oh itu ya karena ia terburu-buru ya jadi hanya sebentar" jawabnya kikuk, entahlah ia jadi salah tingkah begini.

"Oh"

"Aku sudah siapkan makanan di meja makan, makanlah sana aku mau mandi dulu"

"Baiklah"

Aku masih berpikir kenapa tingkah Boojae jadi aneh, siapa yang datang memangnya, apa penagih hutang? Sudahlah biarkan saja kalau memang tidak mengganggu…

TBC


Mohon maaf karena update yang seabad, dikarenakan… *lirik tugas-tugas* pusing juga berkutat dengan angka-angka -_-"

Percayalah saya tidak kabur~

Haaah sejujurnya saya agak geli sendiri… :x

Udah aah gausah bahas tentang itu….

By the waaaay bener gak sih itu viewnya, banyak bgt tapi yg review aah sudahlah~

Okee sampai sekarang belum terkuak apapun, besok yaa *Double Plak*

Rencananya pengen buka rahasia di chapter ini tapi entar kecepetan jadi yaa sabar ya hihihihii… ;P

Buat kamyuh-kamyuh yg masih setia me-review:

YunHolic, HeroKittyJae, Choi Eun Seob, KimYcha Kyuu, BooMilikBear, ky0k0, Cindyshim, Diitactorlove, Himawari Ezuki, MrsPark6002, 10rh, J-Twice, desi2121, jung jaema, YuyaLoveSungmin, FiAndYJ, riska0122

thank you so muucchhh *Kiss kiss*