TRIANGLE
By
Yaya Chocho Brown
Chapter 2
.
.
.
.
Malam ini aku masih saja berbaring malas di tempat tidurku. Aku bukannya tak tau bahwa satu jam lagi teman-temanku akan datang kerumahku dan menyeretku untuk ikut bersama mereka keluar malam ini.
Oh! Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mau ikut campur dalam masalah ini. bisakah mereka pergi tanpa aku? Tidakkah mereka tau betapa sakitnya aku saat ini?. tentu saja mereka tak tau Sakura. Mana mereka mengerti posisimu saat ini jika kau saja tak mengatakan apa yang kau rasakan.
Bodoh!
"Sakura! Sakura! Cepat turun! Ada teman-temanmu disini!" tiba-tiba teriakan ibu mengagetkanku dan membuyarkan semua lamunan galauku.
Aku menghela nafas berat. Aku benar-benar tak ingin ikut! Bisakah mereka mengerti!
"iya! Aku segera turun, Bu!" jawabku dengan malas. Dengan masih memakai pakaian 'keramat'-Jeans sebatas lutut dan kaos oblong berwarna putih- yang biasa ku pakai sehari-hari dan rambut yang sudah jelas berantakan karena aku baru saja bangun dari bergelung di tempat tidur, akupun turun untuk menemui teman-teman yang sama sekali tak kuharapkan untuk menjemputku malam ini.
"SAKURA-CHAN!" baru saja aku akan menginjakkan kakiku di lantai bawah , aku sudah di sambut dengan teriakan super Naruto yang mampu membuat rumahku bergetar.
"APA KAU MAU MEMBUAT ORANG-ORANG YANG ADA DISINI TULI, HEH NARUTO?!" teriakku kesal pada Naruto. Sedangkan teman-teman yang lain(Ino, Karin, Kiba, Hinata, Temari,Neji, Shikamaru, Gaara dan Tenten.) hanya tertawa melihat tingkahku dan Naruto, kecuali Sasuke-tentu saja-
"m-maafkan aku Sakura-Chan! Habisnya aku rindu sekali denganmu!" ujar Naruto dengan ekspressi memelas dan otomatis membuat aku dan teman-teman membuat ekspressi ingin muntah. Sedangkan Naruto hanya nyengar-nyengir tak jelas melihat ekspressi kami.
"Hei Sakura! Kenapa kau masih santai-santai begitu?" Tanya Ino dengan wajah bingungnya. Aku yang memang sedang berusaha menghindari ajakan merekapun memasang wajah polos bak seorang bayi yang baru saja menginjak umur 1 bulan.
"memangnya kenapa?" tanyaku yang langsung di sambut dengan wajah tidak percaya dari mereka-kecuali Sasuke, tentu saja-.
"heh permen kapas! Kau lupa dengan rencana kita tadi pagi? Kau ini masih muda tapi sudah pikun. Bagaimana sich?" omel Karin yang aku sambut dengan wajah cemberutku.
"sudah-sudah! Jangan bertengkar! Sakura sebaiknya kau segera siap-siap dan kami akan menunggumu di sini. Jadi sebaiknya kau cepat-cepat sana." Titah Ino dengan kedua tangannya yang telah mendorongku ke tangga menuju lantai 2.
"iya, iya" jawabku malas. Kemudian dengan malas pula aku segera menuju ke lantai dua tepatnya kamarku.
Sesampainya disana aku acak-acak rambutku yang sudah berantakkan itu. Arrggg! Sebal rasanya! Rasanya ingin kabur saja dari pada harus mengikuti acara bodoh yang dapat merusak mood-ku seperti ini. namun karena sudah terlanjur janji dengan Temari-sahabat tercintaku-, akhirnya aku mengambil jaketku yang berwarna biru yang kebetulan belum aku cuci setelah menggunakannya untuk menjemput ibu dari mall tadi sore, dompet serta tas punggung kecil berwarna coklat, dan sepatu kets hitam kecoklatan. Oke. Sekarang aku sudah siap untuk menemui mereka.
Aku turun dengan dandanan sederhana dengan rambut yang hanya kusisir dengan jari dan langsung mendapat protes dari Ino, Tenten, Karin dan Temari. Namun dengan santainya kujawab protesan mereka dengan "Hiduplah dengan sederhana." Dan merekapun menghentikan aksi protes mereka.
Setelah perdebatan dan aksi protes dari teman-temanku selesai serta ijin kepada ayah dan ibuku, kami pun segera menuju ke teras depan rumah.
Aku tercengang.
Apa ini? apa Ayah secara mendadak telah membuka daler sepeda motor di depan rumah kami? Atau aku yang salah lihat?. Aku melihat ada 6 motor sport yang telah berjajar rapi di latar depan rumahku. Aku masih mlongo dan shock depan pemandangan tersebut sampai tangan Ino yang tiba-tiba menarikku untuk mengikutinya.
Aku baru tahu bahwa motor-motor tersebut milik para lelaki yang sekarang sedang duduk dengan santainya di atas motornya masing-masing.
"oke! Karena tadi kita semua sudah sepakat bahwa satu lelaki akan membonceng satu gadis cantik- cowok-cowok memasang wajah bosan mendengar kalimat ini – seperti kita, maka aku akan membaginya sekarang." Ujar Ino yang di selingi dengan wajah bingungku. "Karin, kau dengan Kiba. Tenten, kau dengan Shikamaru. Hinata, kau dengan si bodoh mulut Toa itu-"
"hei! Apa-apaan kau memanggilku mulut toa? Dasar wanita sok sexy!" protes Naruto yang tidak terima dengan Ino yang memanggilnya dengan seenaknya.
"Diam kau!" semprot Ino yang di balas dengan Naruto yang memonyongkan bibirnya. Sedangkan Hinata yang notabenenya adalah pacar sang Toa-Naruto- hanya dapat tersenyum malu dengan kelakuan pacarnya.
"oke! Lalu Temari, dengan Sasuke. Aku dengan Gaara dan Sakura, kau dengan Neji." Lanjut Ino seraya menunjuk Neji yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kemudian kami semuapun segera berangkat ke tempat yang aku sendiri tak tau dimana.
-000-
Aku tak mengerti dengan Ino yang menyuruhku untuk membonceng ke Neji. Lihat saja sekarang, akibat dari keputusan konyol Ino, Aku hampir mati kebosanan karena dari tadi Neji tak ada niat untuk mengajakku bicara. Boro-boro bicara melirik kepadaku saja tidak sama sekali. Benar-benar manusia es.
Neji memang terkenal dingin di sekolah, sama seperti Sasuke. Bedanya Neji itu punya banyak teman sedangkan Sasuke hanya punya Naruto sebagai teman dan sahabatnya. Neji juga orang yang cukup terkenal di sekolah. Karna, selain dia tampan, dia juga pintar.
Aku tak pernah bicara dengan Neji. Atau lebih tepatnya aku memang tidak peduli dengannya. Tapi karna dia adalah teman dari Temari, makanya aku bisa kenal dengannya walaupun tanpa berbicara dengannya.
Aku baru saja akan berbaik hati dengan mengajak Neji ngobrol di perjalanan kami menuju tempat entah apa itu, ketika mataku tiba-tiba tak sengaja menangkap manic hitam yang menatap kearahku. Manic hitam itu segera mengalihkan pandangannya kedepan setelah aku balas menatapnya.
Apa aku salah lihat? Ataukah mataku yang sedikit buram karna cahaya dari lampu-lampu jalan tak terlalu terang, sehingga aku mengira bahwa Sasuke tadi sedang menatapku. Ah! Aku pasti salah lihat. Sasuke kan sudah punya Temari sebagai gadis yang di sukainya. Jadi untuk apa dia melirik gadis seperti aku. Lihatlah mereka sekarang. Bukankah mereka tampak bahagia? Dengan Temari yang sedang merangkul Sasuke dari belakang dan ekspressi Sasuke yang tampak tenang dan nyaman. Bahagia bukan?
Tanpa sadar aku mulai memeluk Neji dari bekalang dan menyandarkan kepalaku ke punggungnya. Dan air matapun mengalir dari kedua mata emerald ku.
-000-
"Wah! Sampai juga!" teriak Naruto seraya turun dari motornya yang telah terparkir di parkiran sebuah moll ternama di pusat kota. Naruto segera menarik Hinata kearahnya dan menggandeng tangannya dengan mesra, sedangkan sang pacar berusaha untuk tidak pingsan.
Aku masih berdiri di samping Neji dengan menundukkan wajahku yang pucat gara-gara menangis di perjalanan, ketika kami berkumpul di depan pintu masuk moll tersebut.
"Sakura kau kenapa?" Tanya Temari seraya menghampiriku. Bisa kurasakan tatapan mereka semua yang mengarah padaku. Aku segera manghela nafas, kemudian mendongak dan memperlihatkan wajah cemberut yang ku buat-buat.
"Sakura! Kenapa kau menangis?" Tanya Tenten histeris dan itu membuat mereka semua panic, kecuali Sasuke dan Neji. Mereka mengerubungiku dan bertanya kenapa aku menangis.
"Neji! Dia mengendarai motornya seperti ingin menyaingi angin saja! Aku sampai menangis di buatnya." Ujarku berbohong dengan tampang sebal.
Mereka menghela nafas lega setelah mendengar alasanku.
"aku pikir kenapa. Syukurlah kalau begitu." Ujar Karin seraya memelukku.
"Heh, Neji! Kalau kau sedang membonceng seorang gadis, bisakah kau berkendara sewajarnya saja? Lihatlah! Sakura sampai menagis seperti ini." omel Ino.
"sudahlah Ino-chan!" tenang Hinata sambil mengelus-elus pundak Ino yang sudah tesulut emosi.
Aku hanya menatap mereka dengan masih memasang wajah sebal.
"sudah-sudah! Jangan ribut terus! Lebih baik kita segera masuk dan bermain-main di dalam." Ujar Tenten seraya menarik tangan Shikamaru untuk masuk terlebih dahulu, kemudian di susul dengan yang lain.
"maaf." tiba-tiba saja Neji berkata seperti itu saat aku akan masuk kedalam moll. Aku menatap Neji yang menatap tepat di mataku. Aku tersenyum.
"tidak apa-apa." Balasku. Kemudian aku menariknya untuk masuk kedalam moll bersamaku.
TBC
-000-
Aduh…. Yaya mau minta maaf sebesar-besarnya karena udah update telat. Abiz akhir-akhir ini ada aja musibah yang menimpa keluarga Yaya. Jadi Yaya mohon maaf ya…
Yaya juga mau trima kasih buat MAKO-CHAN dan FUMIE yang sudah mau mengorbankan waktunya untuk mereview FF gaje ini… hehehehe
Dan tentu saja Yaya minta Reviewnya….
REVIEW….
Maaf kalo banyak typonya
