TRIANGLE
By
Yaya Chocho Brown
Chapter 3
.
.
.
.
Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan sehingga meninggalkan aku dengan 2 manusia es ini? Ditambah dengan Temari yang sedari tadi asyik dengan salah satu manusia es tersebut. Sedangkan mereka dengan seenak jidatnya pergi untuk berjalan-jalan dengan pasangannya masing-masing. Aku jadi bertanya-tanya. Sebenarnya hang-out ini untuk apa? Mereka bilang ingin menjadikan Temari dan Sasuke pasangan, kenyataannya? Semua orang hilang ketika tiba disini sehingga membuatku terjebak disini bersama 3 orang ini.
Aku mendengus ketika melihat Temari dan Sasuke terlihat akrab. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang asyik ngobrol tentang sesuatu yang sangat menarik. Sedangkan orang yang ada di sebelahku ini, tepatnya Neji, hanya diam dan asyik mengaduk-aduk capuccinonya. Ya, mereka meninggalkan kami di salah satu café yang ada di moll ini.
Jadilah aku orang aneh yang hanya bisa diam dan memandang nanar kearah depan yang terdapatSasuke dan Temari.
"Pip..pip…pip…" tiba-tiba hanphone ku berbunyi, aku pun merogoh celana jin pendekku untuk mengambil handphone kesayanganku tersebut.
"Ibu?" gumamku ketika melihat nama yang terpampang jelas di layar handphoneku. Dengan segera akupun mengangkatnya.
"Ya Bu? Ada apa?" sapaku.
"Sakura~ Nak~…." Ada apa dengan suara ibu? Kenapa dia terdengar seperti sedang menangis?
DEG!
Tiba-tiba perasaan tak enak menggelayuti hatiku.
"Ada apa Bu? Apakah ibu menangis? Ada apa Bu?" tanyaku panik. Aku tahu saat ini seluruh perhatian tetuju kepadaku.
"Ayah Sakura~ Ayah!" Ibu masih saja terdengar menangis sesenggukan.
"Ibu! Jangan membuat Sakura panik Bu! Ada apa sebenarnya dengan Ayah, Bu?" volume suaraku mulai meninggi. Temari pun pindah tempat duduk di sampingku dan memandang khawatir kearahku.
"Ayah meninggal Sakura~ sekarang kami sedang berada di Rumah sakit Konoha. Cepatlah kemari Nak!" ujar Ibuku cepat kemudian menutup sambungan teleponnya meninggalkan aku yang mematung mencerna kata-kata ibu tadi.
Apa? Ayah meninggal? Apa aku tidak salah dengar?. Aku tahu Ayah mempunyai penyakit Paru-paru yang lumayan parah. Tapi 2 tahun terakhir ini Ayah terlihat sehat-sehat saja. Dia bahkan tak pernah masuk rumah lagi sakit seperti dulu.
Ayah, kenapa?
Aku merasakan ada dorongan besar untuk segera menangis meraung-raung. Namun aku segera sadar bahwa aku sedang berada di tempat ramai sekarang dan sedang di kelilingi oleh 3 orang ini. Jadi aku berusaha untuk untuk tetap tersenyum di hadapan mereka.
"Ada apa Sakura-chan? Ada apa dengan Ayahmu?" Tanya Temari dengan raut wajah khawatir. Aku tersenyum, mencoba menghadirkan kesan bahwa tak ada yang terjadi.
"Tidak ada apa-apa. Sepertinya aku harus pulang sekarang, Ibuku ingin aku segera pulang." Ujarku seraya bangkit dari dudukku.
"Loh? Memangnya ada apa Sakura-chan?" Tanya Temari lagi dengan raut wajah yang semakin khawatir.
" Tidak ada apa, Temari. Ibu hanya menyuruhku untuk pulang sekarang." Jelasku pada Temari, aku berusaha keras untuk tak mengeluarkan air mata saat ini.
Setelah aku menyakinkan Temari dan memberikan senyuman terakhir pada ke-3 temanku maka aku pun langsung berlari meninggalkan mereka dan segera menuju ke Rumah sakit.
-000-
Toilet adalah tempat pertama yang aku datangi saat aku sudah sampai di rumah sakit yang di sebutkan Ibuku tadi. Kau pasti bertanya-tanya kan, mengapa aku tidak langsung saja menuju tempat Ayah dan Ibu saat ini, karena aku tak mau menemui Ibu dengan penampilan berantakan seperti ini. Sungguh aku benar-benar berantakan. Dengan keringat yang menempel ketat di tubuhku dan mata bengkak memerah serta rambut yang berantakan, aku benar2 pantas jika di samakan dengan Sadako.
Aku memang menangis dalam perjalananku kesini, tapi aku juga berlari dari moll untuk sampai kesini. Entahlah tadi mengapa aku sama sekali tak berpikiran untuk naik taksi. Aku benar-benar kosong. Yang aku pikirkan hanya aku harus segera sampai rumah sakit dimana Ayah dan Ibuku berada.
Jadilah aku berlari dalam perjalananku kesini. Dan sekarang aku harus segera memperbaiki penampilanku dan menemui Ibu.
Aku mengambil air keran dan kubasuhkan pada wajahku, kulakukan beberapa kali, setelah itu aku mengambil tisu yang memang wajib berada di tasku. Aku mengelap wajahku dengan cepat. Setelah itu menguncir rambutku dan memandang pantulan wajahku di cermin. Kurasa aku dah siap untuk menemui ibuku, jadi aku langsung keluar dari Toilet dan menuju tempat ibu.
Saat aku tiba di depan salah satu kamar, aku sudah melihat ibuku, adikku dan beberapa kerabat dekatku berkumpul menenangkan Ibu yang terlihat masih menangis. Aku merasakan airmataku sudah akan keluar dari mataku. Cepat-cepat aku menghapus air mataku dan memasang senyum tipisku kemudian menghampiri mereka.
"Sakura~" aku langsung disambut dengan pelukan erat Ibuku ketika mencapai tempat mereka. Aku menarik nafas panjang dan berusaha menahan air mataku.
"Tidak apa-apa, Bu." Ujarku sambil mengelus lembut punggung ibuku. Ibu melepaskan pelukannya dan menatapku.
"Kau tak sedih?" Tanya Ibu dengan wajah sendunya. Aku tersenyum.
"Tentu saja aku sedih. Bagaimanapun juga yang meninggal itu Ayahku Bu. " aku menghela nafas sejenak dan berbalik menatap kerabat-kerabatku dan adikku yang masih menangis di pangkuan salah satu Bibiku. Kemudian kembali menatap Ibu.
"Tapi, seseorang yang sedih itu bukan berarti harus menangis kan? Dan aku tidak ingin menangis Bu. Karena sebanyak apapun aku menangisi Ayah, Ayah juga tidak akan kembali. Ibu, semua akan baik-baik saja, tidak akan ada yang berubah di keluarga kita,Bu, Sakura janji. Ayah akan berada disini" Aku memegang dadaku. "Bersama kita."
Ibu menutup mulutnya dengan ekspressi haru sekaligus terkejut. Kemudian dia kembali memelukku kembali.
"apa yang sudah aku lakukan! Seharusnya aku yang berbicara seperti itu padamu, Sakura. Maafkan Ibu." Ujar Ibu. Aku memalas senyumannya dan tersenyum, walaupun aku ingin sekali menangis, tapi aku harus tetap kuat. Demi Ibu, Sasori adikku, dan Ayah.
"Sakura-Chan!" aku tersentak ketika mendengar Suara Temari yang tiba-tiba masuk di gendang telingaku. Aku melepaskan pelukan Ibu dan mencari asal suara tersebut. Ternyata itu memang benar Temari yang sedang berlari kearahku diikuti oleh teman-teman yang tadi hang-out bersamaku.
"Temar-" ucapanku terpotong karena Temari yang langsung memelukku dan menangis di pelukanku. Aku juga melihat teman-teman perempuanku juga menangis. Aku menghela nafas –lagi- kemudian tersenyum. Aku melepaskan pelukan Temari.
"hei, ada apa Temari? Kalian juga! Kenapa kalian menangis?" tanyaku dengan senyum yang masih elekat di wajahku.
"Sakura…" gumam Temari lirih.
"kalian ini kenapa? Hei Karin! Kau biasanya tak pernah menangis. Dasar cengeng!" ujarku pada Karin dan berusaha untuk tetap riang seperti biasanya.
Tiba-tiba saja Karin langsung memelukku,. Teman-temanperempuanku yang lainpun ikut memelukku dan Karin. Sedangkan yang laki-laki menunduk dengan Sasuke
Yang menatap tajam kearahku.
-000-
Wahh akhirnya selesai juga chapter 3 nya. Ini adalah chapter paling gaje. Tiba-tiba disini Ayah Sakura meninggal. Tapi aku berusaha untuk membuat cerita semirip kisah hidup temanku. Jadi karakter Sakura disini benar-benar aku miripin dengan temanku.
Makasih buat yang sudah membaca dan me-Review FFN Yaya. Juga makasih buat kritik dan sarannya.
Yang terakhir
Mohon Review nya kembali! ^_^
