Syntia : Tiba-tiba pengen ngelanjutin XD Ane mau sungkem dulu yang sedalam-dalamnya karena kelupaan ada fanfict kayak gini. Ini tetap parody Princess X Princess. Jadi yang belum baca silakan ngacir baca itu dulu.

Title : Price Prince Princess

Disclaimer by : Jun Mochizuki dan Mikiyo Tsuda

WARNING! Maybe typo, shounen-ai

o.o

"Gil, apa kamu bawa bekal?" Tanya Oz saat bel istirahat makan siang selesai berbunyi. Beberapa lelaki disana sepertinya langsung menajamkan telinga mereka untuk mencuri dengar apa yang mereka berdua bicarakan.

"Eh? Emm, kata Oscar-sama aku tidak boleh membawa bekal. Menurut Oscar-sama aku harus menjalani kehidupan siswa biasa."

"Hah? Oscar-sama?" bingung lelaki berambut pirang itu.

"Ah itu sebenarnya…" Gilbert mengecilkan suaranya dan menyuruh Oz untuk mendekatkan telinganya. Lelaki itu langsung menurutinya meskipun dia bisa melihat teman sekelas mereka ada yang bersemu merah dan ada pula yang hampir pingsan. "Oscar-sama adalah tuan yang aku layani. Aku bisa bersekolah kemari karena Oscar-sama ingin aku menjadi pelayan bagi keponakannya. Tapi aku tidak tahu keponakan Oscar-sama itu siapa?"

"Eh? Lalu bagaimana kamu bisa melayaninya kalau begitu?" bisik Oz sambil mendekatkan wajah mereka dan menyebabkan teman sekelas mereka tumbang satu per satu.

"Emm, Oscar-sama bilang aku harus mencari keponakan beliau sendiri," ujar Gilbert sambil menghela nafas panjang. Oz tampak berpikir.

"Sebenarnya ada cara kalau kau ingin mencari seseorang disini dengan lebih mudah. Tapi…" Oz memperhatikan tubuh Gilbert dari atas rambut hingga ujung kaki. "Mungkin kamu…"

"Apa?" bingungnya.

"Hmm, mungkin kamu akan mengerti nanti. Bagaimana kalau sekarang kita berkeliling saja? Kita mulai dari kantin!" ajak Oz. Gilbert mengangguk dengan semangat. "Semuanya, aku akan mengantarkan Gilbert mengelilingi sekolah terlebih dahulu, tolong jangan mengganggu ya!" teriak Oz tiba-tiba kepada semua lelaki di kelas yang langsung membalas dengan seruan membiarkan Gilbert mencoba menelaah keanehan yang ada di depannya tanpa menghasilkan penjelasan.

o.o

"Oz-kun, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Gilbert saat mereka sudah melewati gerbang sekolah dan sepertinya sedang berjalan menuju ke asrama. Lelaki itu sebenarnya tidak menyangka bahwa Oz juga tinggal di asrama sepertinya. Namun yang lebih mengherankan adalah selama perjalanannya berkeliling sekolah dengan Oz, semua lelaki di sekolah itu sepertinya memberikan jalan kepada mereka berdua. Meski demikian ada satu hal yang tidak luput dari pandangan Gilbert yaitu, semua lelaki disana kalau tidak tertawa dengan tidak wajar kepada Oz pasti bersemu merah karenanya. APA YANG SEBENARNYA TERJADI DISANA?!

"Iya? Ada apa? Ah, kamu pasti bingung tentang keadaan sekolah kita ya?" Gilbert mengangguk dengan cepat. "Ok, seperti yang kamu tahu karena sekolah kita adalah sekolah khusus lelaki jadi hanya ada lelaki disetiap sudut. Pikiran mereka menjadi sedikit aneh dan mereka menyalurkan rasa frustasi itu ke cara yang aneh pula."

"Aneh?"

"Lebih lengkapnya mungkin kamu akan mengetahuinya dari orang yang berpengaruh di sekolah."

"EHH?! Kenapa kamu tidak menjelaskannya sekarang?" sedihnya.

"Karena aku tidak mau menghancurkan kejutan yang sudah dinantikannya." Gilbert menyipitkan matanya. Menatap ke arah Oz yang kini sedang tersenyum-senyum sendiri. "Ah, itu dia asramanya!" seru Oz sambil menunjuk ke sebuah gedung.

"Eh? Yakin itu asrama?" curiga Glbert. Di arah yang ditunjuk Oz dia hanya bisa melihat sebuah kastil yang berdiri dengan megahnya. Meskipun ada satu sayap yang hancur dan beberapa dinding yang sepertinya sengaja ditumbuhi lumut dan beberapa bagian yang sepertinya terkoyak karena termakan zaman, dia bisa melihat beberapa maid dan butler berdiri di depan pintu kastil.

"Sebenarnya sekolah kita dulunya merupakan rumah peristirahatan. Dan asrama ini adalah rumah utama. Meskipun terlihat seperti rumah hantu tapi dalamnya bersih. Hanya saja ada beberapa orang yang katanya mendengar suara langkah kaki dan panggilan anak kecil. Selain itu ada yang bilang bahwa pada malam-malam tertentu ada yang memainkan piano meskipun saat dilihat tidak ada orang sama sekali selain itu…"

"HUWAAAA!" teriak lelaki berambut gelombang hitam itu sambil merunduk dan menutup telinganya rapat-rapat.

"Eh? Kamu nggak suka cerita hantu?" Gilbert menganggukkan kepalanya perlahan. Air matanya sudah hampir keluar dari sudut matanya.

"Oz-sama, kami sudah menunggu anda kembali," ujar salah seorang butler yang datang sambil mengendarai kereta kuda.

"Terima kasih James. Ah perkenalkan, ini Gilbert yang mulai hari ini akan tinggal di asrama juga. Seharusnya barang-barangnya sudah sampai kemari."

"Selamat datang di Versaillus Asrama Gilbert-sama."

"Eh? Eh? Cu… cukup Gilbert saja."

"Gil, mereka berkewajiban untuk memanggil kita dengan sebutan itu karena kita tinggal disini dengan membayar biaya yang mahal. Jadi kita memperoleh fasilitas pula. Lagipula itu sudah merupakan tugas mereka, kalau kamu menolaknya, kamu akan membuat mereka merasa tidak enak."

"Be… begitu ya…"

"Silakan naik Oz-sama, Gilbert-sama." Oz naik ke kereta kuda terlebih dahulu dan disusul Gilbert. Meskipun jarak antara gerbang tidak begitu jauh dari sekolah karena seperti yang dikatakan Oz, sebenarnya sekolah mereka berada di halaman kastil tersebut. Mungkin karena inilah kenapa selain orang kaya, hanya orang yang mendapatkan beasiswa saja yang bisa bersekolah di Versaillus Academy.

"Oz-kun, apa anak yang tidak tinggal di asrama, mengeluarkan biaya untuk asrama juga?" Tanya Gilbert penasaran.

"Iya, karena meskipun tidak tinggal mereka terkadang menginap dan menggunakan fasilitas asrama. Tidak ada yang tidak menggunakan fasilitas itu disini. Fasilitas asrama ini terdiri dari pengklipingan buku, meskipun buku itu nantinya akan terbagi berada di perpustakaan asrama atau sekolah, fasilitas olahraga, karena di sekolah kita hanya bisa menggunakannya saat jam sekolah saja. Selain itu masih banyak lagi fasilitas lainnya. Bahkan ada fasilitas pengurungan di ruang bawah tanah dimana katanya disana ada…"

"HUWAAAA!"

"Ah, Gilbert, meskipun ada fasilitas seperti itu hampir tidak ada yang menggunakannya. Tenang saja."

"Hampir bukan berarti tidak ada!"

"Oz-sama, Gilbert-sama kita sudah sampai."

"Terima kasih James. Oh ya, kamar Gilbert itu…" Mereka berdua langsung memandangi Gilbert yang entah kenapa merasakan firasat buruk. "Aku rasa sebaiknya ada di pojok."

"Saya rasa, memang seharusnya yang berada di pojok. Tapi bukankah anda dan Reo-sama berada di kamar yang terjauh?"

"Kalau tidak salah ada satu kamar kosong disebelah kamarku juga."

"Kamar itu ya." Mereka kembali melihat kea rah Gilbert yang sudah berkeringat dingin. "Meskipun sebenarnya tidak masalah kalau Gilbert-sama menempati kamar itu sendirian, namun mungkin akan lebih baik apabila Gilbert-sama dengan orang lain karena Gilbert-sama belum tahu kehidupan di asrama ini. Namun kalau memikirkan Oz-sama atau Reo-sama yang harus pindah…" Mereka berdua tampak berpikir.

"Kalau aku tidak masalah kalau harus satu kamar dengan Gilbert, Tapi aku harus bertanya kepada Reo terlebih dahulu. Apa Reo sudah kembali?"

"Reo-sama sedang berada di ruang perpustakaan sekarang."

"Baiklah. Gilbert, apa kamu bisa menunggu di ruang depan terlebih dahulu? Aku akan menemui Reo. James akan menemanimu." Gilbert melirik kea rah butler tadi.

"Ba… baiklah."

"Kalau begitu sampai nanti Gilbert!"

"Gilbert-sama silakan ikuti saya ke ruang depan!" pinta James sambil menyodorkan tangannya ke dalam kereta. Bel bordering di kepala Gilbert. Namun karena dia tidak melihat sesuatu yang salah dia menyodorkan tangannya dan turun. Mereka kemudian berjalan ke arah pintu masuk dimana para maid langsung memberikan hormat kepada mereka.

"Emm, James?"

"Ada apa Gilbert-sama?"

"Soal kamar pojok itu?"

"Benar, ada apa dengan itu?"

"Emm, apa disana ada hantunya?"

"Sepengetahuan saya selama beberapa generasi tidak ada yang pernah melihat ada hantu disana. Karena meskipun itu kamar terjauh namun itu kamar yang dilindungi."

"Eh? Dilindungi? Oleh hantu?"

"Sebenarnya oleh manusia. Namun saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut. Karena itu hanya akan merusak kesenangan seseorang."

"Boleh aku tahu, Oz juga mengatakan hal seperti itu. Siapa orang ini?"

"Anda akan tahu cepat atau lambat." Dan pikiran Gilbert pun mulai mempertanyakan siapa orang yang dimaksudkan oleh mereka berdua.