I'm Hinata , Your Wife and Your Haters
Pairing : HinataxSasuke , NarutoxSakura , SasukexSakura .
Summary : Kami menikah karena dijodohkan , kami tinggal se-atap karena paksaan kedua orang tua . Hari – hari ku hanya di anggap angin oleh dirinya . Bahkan , ia tak segan – segan membawa kekasihnya kerumah kami dan membiarkan aku –istri sahnya- melihatnya .
Kapan penantian ku akan berakhir ? kapan aku akan terus dianggap bayangan oleh nya ?
Naruto bukan punya saya , tapi cerita ini punya saya .
By : Louise Yuiki
Warning : ada typo , ceritanya pasaran dan mungkin tak mempunyai feel , masih pemula jadi mungkin kurang menarik, dan mungkin serasa liat sinetron .
Chapters 2 : See My Shadow Eyes
.
.
Di sebuah ruangan yang terbilang cukup luas, terdapat seorang pemuda yang tengah bergelayut manja pada sebuah benda berbentuk lonjong yang bernama Guling. Pemuda tersebut memiliki rambut gaya emo dan berwarna raven.
Sasuke, nama pemuda tersebut menggerang pelan kala seorang pelayan membuka tirai jendela kamarnya. Dengan enggan ia paksakan kedua kelopak matanya untuk terbuka, ia mengumpat kesal kala yang membuka tirai tersebut bukan seorang pelayan pribadinya melainkan saudara kandungnya, Itachi.
" Pagi , baka otouto " sapa Itachi ramah, kedua tangannya ia lipatkan didepan dadanya.
" Ugh , mau apa kau baka aniki? " tanya Sasuke serak, ia menyampingkan tubuhnya, memunggui Itachi yang tengah menatapnya tajam.
" Begitukah kau menyambut aniki mu yang jauh – jauh datang kesini hanya ingin menjenguk adik kesayangan ku? " tanya Itachi dingin, ia menduduki diri di pinggiran kasur Sasuke.
" Langsung ke intinya saja , baka " jawab Sasuke malas, ia menarik selimutnya keatas berusaha menutupi seluruh badannya dari sinar mentari pagi.
" Kenapa kau membat Kaa-san mu menangis eh? Mau jadi anak durhaka? " tanya Itachi meremehkan, ia menyeringai.
" Tidak , Kaa-san saja yang terlalu berlebihan " ucap Sasuke asal.
Sudut siku – siku mulai tertampang di pelipis Itachi, ia tersenyum remeh, " Asal kau tahu saja Sasuk , aku setuju dengan perjodohanmu dengan Hinata " ucap Itachi.
Sasuke menyembulkan kepalanya , " Kau kenal Hinata ? " tanya Sasuke dan Itachi mulai mengeluarkan handphone canggihnya kala merasa getaran kecil dari handphonenya.
" Dia itu rival ku saat lomba 5 tahun yang lalu " jawab Itachi, sedangkan Sasuke membulatkan matanya " Jangan katakan bahwa Hinata itu orang pertama yang dapat mengalahkanmu saat kejuaran music itu " tanya Sasuke dengan nada sedikit meninggi.
" Kau tahu, Hinata itu rival pertama— " Itachi memutar-mutar handphone pintarnya "—dan cinta pertama ku "
Sasuke tertawa remeh dan tawa Sasuke itu mirip juragan pasar yang tengah menerima hasil dari bawahan.
" Kau tahu Sasuke, tawamu seperti mak lampir " aku Itachi, dan sukses mendapatkan deathglare gratis dari Sasuke.
Sasuke mengerucutkan bibirnya, ia pun kembali tidur dan menarik selimut. " Lalu, bila Hinata itu cinta pertamamu— " Sasuke berbalik, menampilkan senyum remehnya kepada Itachi. "—kenapa kau mau kawin dengan Ino-neesan"
" Karena aku tau Hinata akan dijodohkan denganmu, Sasuke " Itcahi menjitak kepala Sasuke keras. "Dan, aku ingin membahagiakan Kaa-san dengan menerima lamaran ini " Itachi tersenyum geli kala Sasuke merengut sambil menyumpah sarampah Itachi, persis seperti gadis. " Tidak seperti kau yang mulai durhaka hanya karena gadis bubble gum " lanjut Itachi.
" Tau apa kau dengan Sakura? " Sasuke menatap sinis Itachi yang saat ini tengah berjalan meneju jendela dan duduk disitu. " Jika kau berada di posisi ku, kau pasti akan mengerti "
Itachi melirik Sasuke sekilas, sebelum kembali memandang keluar jendela. " Aku juga sama denganmu, hanya saja aku tak seperti kau childish " Itachi tersenyum geli, " Sangat,sangat, childish tak pernah berubah "
" Sudahlah, bila kau kesini hanya untuk mengejekku sebaiknya kau pergi sekarang " Sasuke menyingkap selimutnya kasar, lalu berjalan menuju lemari pakaian.
" Oke-oke, adikku yang cantik. Kakak keluar " ucap Itachi seraya bertampang innocent, hampir saja Sasuke akan melempari Itachi botol parfume mahalnya, namun Itachi sudah duluan melenggang keluar kamar.
" Huh.. dasar baka aniki "
.
.
Hinata menyerngit bingung kala adiknya – Hanabi – menghadangnya didepan pintu seraya berkacak pinggang.
" A-ano.. Hanabi-chan, Nee-chan.. mau lewat "
Hanabi menggeleng, " Tidak sebelum Nee-chan menceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi "
Hinata semakin menyerngit bingung, oh sungguh orang yang baru bangun tidur pasti akan seperti orang linglung yang tak ingat apa-apa. "Ng.. a-apa masalah masakanmu lagi imouto? "
"Dewanai !" ucap Hanabi kesal.
" So? "
" Tell me Nee-chan, tentang kejadian dikediaman, Uchiha last night "
Hinata hanya mengedipkan kedua matanya, mencerna apa yang baru saja Hanabi lontarkan. Setelah mengerti, Hinata pun menyandar pada pintu kamarnya.
" Nee-chan yakin semalam kau mendengarkannya dengan jelas Hanabi "
Punggung Hanabi menegang, "A-a-apa.. Nee-chan ? " tanya Hanabi gugup.
" Apakau ingin diperjelas lagi tentang semalam? " Hinata memainkan ujung rambutnya, melilitkan rambutnya dengan jari telunjuk, membuat ujung rambut Hinata terlihat seperti bergelombang dan melingkar.
Hanabi memainkan kedua telunjuknya, ia tak menyangka bahwa ia ketahuan menguping semalam. Hanabi melirik kakaknya melalui bulu matanya yang tebal, " Y-ya, aku.. penasaran.. "
Hinata menegakkan kembali badannya, ia mengerang pelan saat menarik kedua tangannya keatas, bermaksud untuk meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. " Bisakah kita sarapan dahulu? Aku lapar Hanabi-chan~ " Hinata menguap lebar, lalu menggosok-gosokkan wajahnya dengan kedua tangan. Ia berjalan keruang makan diikuti Hanabi dibelakang.
" Kau masak apa hari ini? " tanya Hinata tanpa menoleh kebelakang.
" Bukankah hari ini jadwal Aniki yang memasak sarapan? " tanya Hanabi balik.
Hinata mengangkat alisnya, ia menghentikan langkahnya dan diikuti dengan Hanabi. " Hontou? Apa kau yakin membiarkan Aniki memasak? "
" Memangnya kenapa Nee-chan? " Hanabi mengangkat satu alisnya, ia tak mengerti apa yang Hinata maksud.
" Ya Tuhan.. apakau lupa bahwa Aniki tak bisa masak? Kau ingat? Bulan lalu dapur Hyuuga meledak hanya karena Aniki memanggang ayam tanpa membuka bungkusnya? "
Hanabi menepuk keningnya keras, " Astaga! Aku lupa! " seru Hanabi, langsung saja Hanabi berlari menuju dapur yang diikuti Hinata dengan larian kecil.
" Aniki ! "
BUM !
Seketika, kediaman Hyuuga mendapatkan gempa mendadak. Sontak, hal ini membuat para penghuni Hyuuga diserang panik luar biasa. Bahkan Hiashi yang tengah minum teh pun menggerutu kesal saat cairan coklat itu mengenai kemeja kantornya.
Kepulan asap hitam keluar dari pintu dapur, Hanabi dan Hinata yang berada di depan pintu dapurpun terbatuk-batuk.
" A-aniki.. uhuk.. " panggil Hinata, tak lama kemudian datanglah seorang pemuda dengan bagian depannya terpenuhi asap dan abu hitam, rambutnya yang coklat berdiri, menyebabkan ia seperti eksperimen yang tak pernah merawat rambutnya sampai kribo.
Hinata dan Hanabi syok ditempat.
" Don't laugh in front of me, girls " ucap pemuda itu ketus.
Hinata membekap mulutnya dan Hanabi memukul dinding dengan badan yang sudah bergetar hebat.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
Hyuuga Hiashi datang dengan tampang singa jantan yang makanannya baru saja dicuri.
" BWAHAHAHAHA "
Hanabi tertawa terbahak-bahak diikuti Hinata yang juga tertawa kecil – tawa kecil sudah dianggap terbahak dengan Hinata –
Langsung saja, para pelayan yang tadi panik karena ada gempa mendadak menjadi takut mendengar tawa kedua nona mudanya.
Neji memutar kedua matanya bosan, ia menyandar di pintu yang sudah menghitam karena ledakan yang ia buat. Saat ia menoleh kesamping kiri, ia harus meneguk ludah paksa.
" H-Hanabi.. Hinata.. " panggil Neji dengan suara mencicit, ia berusaha memanggil kedua adiknya walau nihil karena tawa Hanabi yang begitu melenking.
" Hyuuga Hanabi,Hyuuga Hinata,Hyuuga Neji, Sekarang juga pergi keruangkerja ku SEKARANG ! "
Hanabi dan Hinata merinding ditempat saat Hiashi memanggil mereka dengan suara garang. Sedangkan Neji? Entahlah, ia harus lega karena tak diketawai lagi atau sedih karena kesialan belum berakhir untuknya.
.
.
Sasuke mengakatakan pada pelayan bahwa hari ini ia memutuskan untuk berenang, mengingat cuaca sedang bagus.
Sekarang, ia tengah pemanasan sebelum berenang. Sasuke hanya mengenakan celana yang pendeknya hanya sebatas lutut, menampilak badannya yang kekar dan kakinya yang kekar. Badannya yang tak berotot tapi tak berlebihan, perutnya yang sixpack, dan wajahnya yang tampan membuat para pelayan tak menyia-nyiakan untuk tidak mengintip tuan mudanya yang tengah memamerkan tubuhnya yang.. hot.
" Kyaa.. Sasuke-sama~"
" Ah.. aku tak rugi kerja sebagai pelayan disini "
" Hot~ Uchiha memang keren ya.. "
Sasuke tersenyum dalam hati, inilah yang ia suka, mendapatkan perhatian yang berlebih dari wanita. Bahkan, karena ke-sempurnaannya inilah ia bisa mendapatkan primadona sekolah saat ia masih menduduki bangku mahasiswa semester pertama.
Aku yakin, pasti si Hyuuga itu akan lumer dengan ketampanan ku , Sasuke menyeringai, iapun menceburkan diri kedalam kolam renang. Setelah beberapa saat, Sasuke keluar dengan air yang mencuat ketas, menambah kesan keren pada dirinya.
" KYAAA SASUKE-SAMA~! "
" Hei kalian! Apa yang kalian lakukan disini!? Kembali bekerja! "
Sasuke tertawa dalam hati, saat pengasuh pribadinya – nenek Chiyo – mengusir mereka dengan garang. Membuat wajah-wajah para pelayan menekuk seketika.
"Ya tuhan.. benar – benar deh.. " keluh nenek Chiyo, setelah itu ia menghampiri Sasuke yang sudah kepinggir seraya meminum Margarita.
" Ada apa Chiyo? " tanya Sasuke seraya menambah jeruk nipis keminumannya.
" Tuan muda, anda mendapatkan tamu hari ini " ucap nenek Chiyo sedikit membungkukkan badan, Sasuke yang mendengarkannya sedikit menyerngit. " Siapa? "
" Haruno Sakura "
Sasuke tersenyum lebar, " Suruh dia masuk " suruh Sasuke, kali ini ia menegak habis minuman ber-alkohol tinggi tersebut.
Nenek Chiyo pun mengangguk mengerti dan pergi kedepan untuk menemui Sakura.
Setelah dirasanya habis, Sasuke menyerahkan gelas itu terhadap pelayan setianya – Suigetsu – yang langsung ditanggap oleh Suigetsu.
" Suigetsu, aku mau sarapan disini nanti bersama Sakura. Dan, jangan lupa dua gelas White Russian "
Suigetsu hanya mengangguk paham, lalu pergi meninggalkan kolam renang. Disaat bersamaan, nenek Chiyo datang dengan Sakura yang mengikutinya dibelakang.
" Saya permisi dulu nona "
" Oh, ya. Terima kasih nek "
Sakura pun menyingkir sedikit, untuk memberi akses jalan untuk nenek Chiyo. Dirasa nenek Chiyo sudah pergi meninggalkannya, Sakura pun berbalik dan langsung disungguhi pemandangan yang..
" Wow.. Sasuke, apa kau habis meminum Alcohol? " tanya Sakura seraya menduduki sebuah kursi pantai.
Sasuke tak menjawab, ia kembali berenang menyebrang lalu balik lagi ketempat semula dan mendekati Sakura yang tak jauh dari tempatnya berada. " Ada apa? " tanya Sasuke seraya duduk di pinggir kolam renang.
" Apa kau sibuk hari ini, Sasuke-kun? "
Sasuke menerima handuk yang disodorkan oleh Sakura, sambil mengusap kepalanya ia berpikir sejenak. " Kurasa ada, oh.. menemani Kaa-san pergi ke butik "
Sakura menyerngit bingung, " Ngapain? " tanya Sakura bingung.
Sasuke melirik Sakura sekilas, ia memakai jubah mandinya. " Pergi mencari baju pengantin "
Deg
Sakura mengepal kedua tangannya erat, " Apa kau akan bertemu dengan Hyuuga Hinata? "
" Jangan mengingatkanku kepada gadis bodoh tersebut " Sasuke duduk mendekati Sakura, diambilnya tangan kanan Sakura lalu mengecup punggung tangannya lembut membuat Sakura memekik pelan.
" Jangan khawatir, aku tak mencintainya " aku Sasuke, ia menyeringai kala pipi Sakura merona.
"A-apa orangtuamu ada Sasuke-kun ? " tanya Sakura mengalihkan pembicaraan. Sasuke menganggukkan kepalanya kala Suigetsu mendatanginya dan memberitahukan bahwa sarapan telah siap. " Tidak, mereka sekarang sedang pergi ketoko bunga "
Sasuke pun berdiri dan mengulurkan tangannya, " Shall we breakfast, honey? "
Sakura merona saat Sasuke memanggilnya 'honey' , Sakura pun mengangguk dan menerima uluran tangan Sasuke. " Sure "
.
.
Hinata saat ini tengah menuju restorant cepat saji yang terkenal buka 24 jam. Saat ini, Hinata tengah memakai tanktop putih dengan blazer hitam yang bagian dadanya terbuka, menampilkan pakaian tanktop putih Hinata. Untuk bawahan, Hinata mengenakan celana jeans hitam 3cm dibawah lutut dan highheels tali senada dengan blazer hitamnya.
Rambutnya yang panjang ia ikat kuda, menyisakan beberapa rambut disamping kanan dan kirinya demi membentuk wajahnya agar sedikit terlihat agak lonjong. Dan kacamata hitam yang berteger manis dihidung mancungnya.
Kalian saat ini pasti bertanya, dengan apa dan siapa Hinata pergi? Jawabannya, ia pergi sendiri dan mengenakan mobil sport pribadinya. Koenigsegg Agera, keluaran dari Swedia Koenigsegg .
Jangan salah bila kalian menganggap Hinata adalah tipikal wanita gaptek yang tak tahu dengan dunia luar. Justru karena Hiashi lah yang menginginkan ketiga anaknnya mandiri, maka masing-masing dari mereka dibelikan mobil sesuai keinginan disaat umur mereka menginjak ke 17.
Mobil putihnya begitu menarik perhatian, tentu saja. Karena mobil yang dibawa Hinata adalah salah satu mobil termahal didunia. Dan Hinata, sangat merawat dan menyayangi mobil pribadinya tersebut.
Bisa kebayangkan gak, harta keluarga Hyuuga itu berapa?
Hinata menyalakan liting kekiri saat restorant Eropa yang ia tuju sudah ada di depan mata. Saat memasuki gerbang restorant tersebut, Hinata disambut hangat dengan para penjaga yang pagi-pagi begini sudah siap mengenakan baju polisi dengan rapi.
Setelah menemukan tempat parker yang pas, Hinata keluar dari mobil tersebut. Karena cuaca sedang bagus, dan sedikit ber-angin, rambut Hinata sedikit tertiup angin, menambahkan kesan yang ' wah… ' bagi Hyuuga Hinata yang saat ini keluar dari mobil bagai bak seorang model.
Hinata menekan tombol lock , setelah mendengar bunyi piip, Hinata pergi ke dalam restaurant dengan anggunnya. Pinggungnya yang sedikit lebar melenggok kekanan dan kekiri, rambut indigo-nya yang bergerak pelan mengikuti langkahnya yang anggun, dan jangan lupakan aset Hinata yang diatas rata-rata tak jarang membuat kaum adam yang haus wanita menatap Hinata dengan tatapan nakal dan tanpa berkedip.
Hinata disambut dengan ramah oleh beberapa pelayan yang berkerja di rumah makan Eropa tersebut. Saat memberitahu bahwa tidak makan disini, sang pelayan langsung mengantarkan Hinata ketempat duduk khusus untuk pejabat atau tamu penting lainnya.
Tentu saja Hinata dikasih tempat duduk tunggu yang khusus saat mengetahui ada marga Hyuuga dibelakang nama Hinata, sang pelayan langsung memberi senyum sejuta wolt .
Setelah memesan makanan, Hinata ditinggal sendiri dengan ruangan asing yang jarang Hinata kunjungi. Jujur saja, ia terlalu malas untuk pergi kesini jika saja ia tak mendapatkan hukuman dari Hiashi untuk membeli makakanan diluar. Kalian pasti bertanya, mengapa mempunyai banyak pelayan tapi malah pergi makanan diluar?
Jawabannya cuman satu, dapur rusak para pelayan tak bisa memasak.
Salahkan Hyuuga Neji yang memiliki keahlian serba bisa kecuali satu, Pekerjaan rumah tangga.
Aku harap Aniki diberi hukuman yang lebih buruk dariku.
Hinata menyilangkan kedua kakinya, kedua tangannya ia lipatkan didepan dada. Para lelaki yang tengah sarapan di restaurant tersebut tak bisa untuk tak melihat.
" Hai manis.. "
Oh tidak.. kenapa ditempat seperti ini masih saja ada hidung belang ?
Hinata mendongak, lalu membuka kaca mata hitamnya. " Na-Naruto – kun.. " guman Hinata kaget.
Naruto, nama pemuda tersebut tersenyum lebar kearah Hinata. " Boleh aku duduk disini? " tanyanya.
" O-oh.. s-silahkan.. "
Naruto duduk di bangku kosong depan Hinata, setelah menyampirkan jas hitamnya di sandaran kursi, Naruto menatap Hinata menggoda. " Mana Hinata ku yang kalem? "
Hinata meronakan kedua pipinya, " A-aku disuruh adikku u-untuk berpakaian s-seperti ini.. "
" Oh, Hanabi? Dia memang sayang sama kamu ya " ucap Naruto seraya nyengir, ia menjentikkan jarinya saat ada pelayan yang kebetulan lewat disampingnya. " Tolong red wine dan.. " Naruto melirik Hinata.
" T-tidak, a-aku cuman s-sebentar.. " tolak Hinata halus.
" Baiklah, dan beefsteak satu dan satu set mayonnaise "
Sang pelayan pun mengangguk dan pergi meninggalkan Naruto dan Hinata berdua.
" So.. kudengar kau dijodohkan dengan Uchiha, apa itu benar? " tanya Naruto seraya bertompang dagu, namun tatapannya tetap melirik Hinata.
" Um.. y-ya.. maksudku.. ya i-itu benar.. " Hinata menundukkan kepalanya seraya memainkan kedua jarinya. " K-kau tahu d-dari mana, Na-Naruto – kun ? " tanya Hinata balik.
" Yah.. kau tahu si teme itu sahabatku waktu kuliah.. "
Hinata membulatkan matanya, " B-benarkah ? b-berarti dia tahu Gaara-kun ? "
Naruto tersenyum mengingat seseorang yang di panggil Hinata ' Gaara ' tadi. " Ya, kami bertiga terkenal saat kuliah " ucap Naruto, jari telunjuknya membentuk sesuatu diatas meja, lingkaran.
Hinata menggigit bibir bawahnya, ia menundukkan wajahnya. " Tapi.. " Hinata mendongakkan wajahnya. " Kami dikuliah terdengar.. naughty "
" N-nakal? " ulang Hinata.
" Ya, mengesumsi obat-obattan, minum-minumman keras, dan.. free sex "
Hinata hampir saja kena serangan jantug mendadak. Apa itu? free sex? Jangan katakan kalau Gaara..
" Tapi tenang saja, Gaara setia kok. " ucap Naruto menenangkan saat mengetahui wajah Hinata langsung memucat. " Yah.. dia melakukan semua yang kukatakan kecuali kata terakhir tadi, jadi dia masih dibilang perjaka.. "
Hinata menghebuskan nafas lega, ternyata Gaara memang benar-benar serius dan setia dengannya. Ah, seandainya kau masih hidup Gaara.
" Kau tahu Hinata, bila ia masih hidup pasti dia tak akan suka dengan penampilan sexy mu itu " Naruto menyeringai mengucapkannya, membuat wajah tampannya semakin tampan. Dan Hinata, mau tak mau merona melihatnya. " Dia pasti akan memukulku bila mendekatimu dan menggodamu seperti ini "
" J-jangan me-menggodaku Naruto – kun "
Sang pelayan yang tadi dipanggil Naruto pun datang dengan membawa troli dorong. " Maaf menggangu, tuan dan nona " pelayan tersebut sedikit membungkukkan badannya. Setelah menerima kata " tak apa-apa " dari Hinata, pelayan tersebut menyajikan makanan dan minuman alcohol yang dipesan Naruto lalu menyerahkan sebuah kotak besar untuk Hinata.
" Hyuuga – sama, maaf membuat anda menunggu. Ini pesanan anda dan silahkan bayar di counter depan dekat pintu utama, saya permisi "
Hinata pun berdiri, dan mengangkat kotak yang didalamnya sudah berisi makanan untuk sarapan dirumah nanti. " N-Naruto – kun , aku duluan.. Jaa " pamit Hinata seraya membukkan badan.
" Ehm, Jaa Hinata – chan " balas Naruto dengan cengiran, setelah itu Hinata pun pergi.
" Kau tahu Gaara? Wanitamu semakin cantik " guman Naruto saat masih menatap Hinata yang tengah membayar dan melambaikan tangan saat Hinata melambai kearahnya. " Cepatlah pulang.. "
.
.
Sesampainya di kediaman Hyuuga, Hinata disambut dengan hangat oleh Hanabi.
Catat : dengan-hangat-oleh-Hanabi
" Nee-chan! Kenapa lama sekali!? Aku jadi bolos kuliah! " sembur Hanabi tak tanggung-tanggung, Hinata hanya bisa tertawa miris. " Gomen, gomen.. tadi Nee-chan ketemu dengan teman lama "
Hanabi yang tadinya meledak-meledak langsung mingkem, namun tak sampai sedetik Hanabi mulai lagi. " Siapa? "
" Naruto – kun " jawab Hinata seraya mengasih kotak yang sedari tadi ia bawa tersebut kepada Hanabi. Hinata duduk sebentar untuk melepas Highheels-nya.
" Naruto-nii? Kukira dia masih di London " Hanabi mengekori Hinata yang saat ini melangkah menuju ruang makan untuk mengambil segelas air putih.
" Ya, awalnya kupir juga begitu… " setelah sampai diruang makan, Hinata menuangkan cairan bening tersebut kedalam gelas sampai penuh, lalu meneguknya hingga sampai setengah.
" Apa Nee-chan tak menanyai nomor teleponnya? "
" Astaga! " Hinata memekik kaget, hampir saja minuman yang sedang ia teguk menyemprot keluar. Hanabi yang melihat kakaknya kaget tersebut hanya bisa terheran, " Kenapa? "
" Hari ini aku ada janji dengan Mikoto-obasan! " pekik Hinata, langsung saja ia berlari kekamar yang berada diatas.
Meninggalkan Hanabi sendirian yang menatap Hinata bingung.
" Dasar baka Nee-chan "
.
.
Sasuke menggeram frustasi, kala orang yang ditunggu – tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sedangkan Mikoto yang ada disamping Sasuke hanya bisa mengelus lengan anaknya pelan.
" Ibu, kita tinggalkan saja gadis bodoh tersebut! " seru Sasuke geram.
" Jangan begitu Sasuke-kun, Hinata-chan tak salah. Kita aja yang datang terlalu cepat.. " protes Mikoto tak terima, Sasuke yang mendengar ibunya membela Hinata semakin kesal.
" Apanya yang tak salah bu!? Dia sudah telat lebih dari 30 menit! " bentak Sasuke kesal, hendak saja Sasuke segera pergi dari situ jika saja orang yang ditunggu tak kunjung datang.
" Sumimasen! Mikoto-obasan, Sasuke-san! "
Sasuke dan Mikoto menoleh kesumber suara, disana nampak seorang gadis yang tengah terengah-engah dan menumpu kedua lututnya.
" Hei gadis bodoh! Tak tahukah kau bahwa waktuku yang berharga terbuang sia-sia karena menunggumu yang seenaknya saja datang terlambat! " celutuk Sasuke kesal, ia menunjuk-nujuk jidat Hinata keras.
" Ugh, m-maafkan aku Sasuke-san.. " rintih Hinata, jidatnya serasa berkedut saat jari telunjuk Sasuke mendorongnya kuat dan kasar.
" Sasuke! Jangan kasar dengan wanita! " Mikoto menepis tangan Sasuke pelan saat merasa Sasuke sudah bertindak keterlaluan. Lalu ia menatap lembut Hinata, " Tak apa Hinata-chan, ini semua bukan kesalahanmu.. " ucap Mikoto seraya mengelus pelan rambut indigo Hinata yang saat ini beberapa rambutnya tengah diikat satu.
" Nah baiklah, ayo kita masuk kebutik bila ingin cepat selesai " usul Mikoto, ia pun menarik lengan Hinata dan membiarkan Sasuke mengikuti mereka berdua dibelakang dengan kesal.
Mikoto , Hinata dan Sasuke disambut hangat dengan lelaki gay yang memiliki tempat butik terkenal akan keindahan rancangannya untuk sepasang pakaian pengantin. Tak hayal, desainer gay tersebut terkadang tersenyum genit kearah Sasuke dan menatap Hinata garang saat Hinata hendak bertanya.
" Hinata-chan~ sudah nak? " tanya Mikoto sedikit berteriak saat Hinata tengah ganti baju dengan gaun pengantin.
"Ukh.. Obasan, a-apakah ini tak t-terlalu mencolok? " jawab Hinata ragu,membuat alis Mikoto terangkat. " Memangnya kenapa Hinata-chan? "
" D-d-dadanya.. dadanya terlalu.. t-terbuka.. "
Sasuke yang tengah menyandar didinding dengan kedua tangan yang terlipat didepan dada menyeringai.
Pasti dadanya kecil, makanya dia malu pakai baju yang pundaknya terbuka
Mikoto tertawa kecil mendengarnya, "Hinata-chan, gaun itu satu-satunya gaun yang dadanya tak terlalu terbuka. Apakau ingin ganti yang lebih terbuka? " goda Mikoto.
Hinata yang mendengarnya langsung menggeleng kuat walau ia yakin Mikoto tak akan tahu ia menggeleng atau tidak. " T-tidak.. "
" Kalau begitu ayo keluarlah~ "
Hinata berpikir dalam hati, antara keluar menunjukkan gaun yang ia kenakan atau tidak sema sekali. Tapi, bila ia keluar sekarang apa yakin si pantat ayam ia tak akan menertawainya? Lalu, jika Hinata tak kunjung keluar sama saja ia seperti wanita pecundang yang selalu dianggap kuper oleh bungsu Uchiha tersebut.
Oh, ayolah Hinata tahu bahwa tadi saat mereka berjalan menuju batik Sasuke tak henti-hentinya menatap dirinya dengan senyuman mengejek saat tahu, bahwa bangsawan seperti Hyuuga Hinata mengenakan jaket gombrong terusan dengan rok yang panjangnya lebih dari bawah lutut dan sepatu sandal peninggalan ibunya yang sedikit kusang.
Dasar playboy bajingan, tak tahukah ia bahwa aku bukan wanita jalang yang sering kau permainkan!?
Lelah berkutat dengan pikiran dan batin, Hinata pun pasrah dengan keputusan pertama. Ia menghela napas pelan, sebelum berbalik dan membuka pintu ruang ganti.
Cklek
Mikoto yang sedang melihat-lihat majalah langsung menoleh saat mengetahui bahwa Hinata sudah selesai berpakaian. Sasuke yang tengah berkutat dengan HP nya ikut menoleh.
Hinata melangkah keluar, rambut indigo-nya yang tergerai ikut bergerak pelan. Entah dari mana efek cahaya yang menyinari Hinata saat keluar dari ruang ganti. Namun, satu yang pasti dan Sasuke tanpa sadar mengakui bahwa Hinata saat ini terlihat sangat.. sexy.
Hinata mengenakan gaun pengantin yang terbuat dari satin duchesse putih dengan train atau ekor panjang 11 kaki, dan disisi atas kanan dan pinggang gaun tersebut terdapat bunga mawar putih besar. Gaun penganti tersebut mirip dengan rancangan John Galliano yang gaun pengantinnya dikenakan oleh Melania Knauss. Hanya saja, bila gaun rancangan Galliano bawahannya terdapat kerutan-kerutan bila gaun Hinata tidak ada kerutan. Dan bagian bawah Hinata hanya dihiasi beberapa mutiara dan berlian dan bentuk gaun tersebut seperti mangkok terbalik.
Pundak putih Hinata yang ter-ekspos sempurna membuat Sasuke mengkhayal betapa mulusnya kulit tersebut saat tanpa sengaja terpantul dengan cahaya lampu. Sasuke menurunkan tatapannya, kali ini ia berhenti di aset kebanggan wanita.
Sasuke hanya bisa meneguk ludah saat mengetahui bahwa dada Hinata diatas rata-rata dan terlihat sesak dan penuh.
Sasuke menggelengkan kepala, apa yang kau pikirkan Sasuke! Dia itu wanita jalang yang sudah menggangu hubungan mu dengan Sakura!
"Hinata-chan! Incredible.. your so beauty and sexy honey!" pekik Mikoto senang, ia langsung menarik Hinata dan mengahadapkan Hinata kecermin yang memantulkan diri mereka berdua.
Hinata membulatkan matanya tak percaya, mulutnya sedikit terbuka tak percaya saat mengetahui bahwa gadis yang berada dicermin tersebut adalah dirinya sendiri, Hyuuga Hinata!
" I-ini aku? " tanya Hinata tak percaya sedangkan Mikoto hanya menjawab dengan anggukan semangat. Ia memekik senang lagi saat melihat Hinata meronakan kedua pipinya yang bulat, menambah kesan imut bagi Hinata. Mikoto pun menoleh kearah Sasuke, " Bagaiamana Sasuke – kun, lebih cantik dari pada Sakura kan? "
Sakura?
Sasuke membuang muka, " Cih.. seumur hidup Sakura dan gadis bodoh itu? Tentu saja Sakura yang menang! " Sasuke menoleh, menatap Hinata tajam. " Dia lebih tinggi, dia lebih cantik, dia lebih seksi, walaupun dia tak sekaya gadis bodoh tersebut tetap saja, Sakura yang terbaik " ucap Sasuke pedas, Hinata yang mendengarnya hanya bisa menunduk dengan kedua tangan yang sudah saling mengepal.
Apa katanya? Lebih cantik? Lebih seksi? Dasar hidung belang, aku sumpahi kamu sehabis ini jatuh dan patah tulang dan ada sesuatu benda yang melayang tepat kewajah mu lalu merusak wajahmu yang sok stoic itu!
" Dia istrimu Sasuke, tak seharusnya kamu berucap sepedas itu. "
" So? Bagiku dia itu gadis kuper yang selalu berlindung di punggung ayahnya dan mengatakan pada dunia bahwa ia masih perawan dan suci " Sasuke tertawa sinis, " Bilang saja ia membenciku, kenyataannya tak sampai satu bulan dia pasti bertekuk lutut kepada ku "
Hinata semakin mengepalkan kedua tangannya, punggungnya bergetar .
" See? Dia pasti akan menangis dan akan mengadukan pada ayahnya lalu ayah akan marah padaku dan menyuruhku untuk meminta maaf " Sasuke mendengus, ia nyisir rambutnya keatas dengan jari-jari panjangnya. " Dasar gadis cengeng, manja, kuper "
" Jaga ucapan mu itu Uchiha Sasuke-san "
Sasuke menoleh kearah Hinata yang saat ini tengah menatapnya tajam, melihat hal itu Sasuke menyeringai membuat Hinata muak dan siap manampar pipi Sasuke yang mulus tersebut.
" Kau tahu, mungkin aku memang gadis kuper seperti apa yang kau katakan. Tapi aku, tak pernah menyebarkan aib seperti itu keseluruh dunia dan kau— " Hinata menunjuk Sasuke dengan jari telunjuknya, " seharusnya koreksi dirimu sendiri, apa pantas kau seorang Uchiha yang terkenal playboy, suka mengkomsumsi drugs, mabuk-mabukkan, free sex, menyebarkan aib orang yang tidak – tidak tanpa bukti? Khe.. kau seperti gadis jalang labil yang dendam kekasihnya meninggalkan mu " Hinata menyeringai kala Sasuke menatapnya tajam.
Hinata mendekatkan dirinya pada Sasuke, bibir ranumnya berbisik seksi tepat ditelinga Sasuke. " Apa ya reaksi Sakura-san saat tahu bahwa kau tak setia dengannya dan melakukan sex dengan betina jalanan yang haus akan gairah? "
Hinata menyeringai senang saat tubuh Sasuke sedikit menegang, ia pun mempelebar jarak mereka. Hinata tersenyum angkuh saat mengetahui Sasuke mulai menggeram kesal, " Kau.. " desisnya.
" Ya, tuan Uchiha? " ucap Hinata dengan suara semanis mungkin, ia mencodongkan tubuhnya kesamping, mendekatkan telinga kirinya seolah-olah ingin mendengarkan ucapan Sasuke baik-baik.
" Dasar wanita jalang! " maki Sasuke lalu menampar pipi Hinata keras.
PLAK
" SASUKE! " bentak Mikoto, ia berlari kecil menghampiri Hinata yang tengah mengelus-ngelus pipinya yang sedikit membiru.
" Gadis jalang seperti mu berani-beraninya mengataiku hal-hal seperti itu, buktikan dahulu sebelum berucap! " maki Sasuke lalu pergi meninggalkan Mikoto dan Hinata bersama desainer yang sudah merinding ketakutan dari tadi.
Buktikan dahulu sebelum berucap katanya? Dia sendiri mengataiku tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Dasar playboy gila.
" Hinata-chan, apa pipimu baik-baik saja? " tanya Mikoto khawatir, Hinata hanya mengangguk.
" Daijoubu,ini tinggal dikompres saja setelah itu pasti sembuh " ucap Hinata menenangkan seraya tersenyum kecil. Mikoto pun hanya mengangguk, lalu memberi Hinata jalan saat Hinata kembali keruang ganti.
.
.
Hinata menaiki mobil Koenigsegg Agera-nya kesal, saat berpamitan dengan Mikoto, Hinata langsung menggerutu sebal dan menghentakan kakinya dalam setiap langkah ia ke mobil sport putihnya.
Kali ini, pakaian yang dikenakan Hinata bukan pakaian yang ia kenakan saat ia baru datang dibutik tadi. Kali ini ia mengenakan pakaian blus mini dress kaos berwarna salur warna oranye dengan model drapery dan celana jeans selutut. Ia mengenakan bando senada dengan bajunya dan jepit kupu-kupu di poni kanannya sesuai dengan bandonya.
Jujur saja, Sasuke tadi saat melihat Hinata mengganti pakaian yang ia kenakan sedikit terkejut dan hal itu tak luput dari pengawasan Hinata. Membuat Hinata menyeringai dalam hati.
" Sepertinya, aku bisa menjadi gadis modus tanpa gagap " ucap Hinata, ia menghentikan laju mobilnya kala lampu pemberhentian berwarna merah. " Oh, ayolah Hinata.. ada apa dengan dirimu? Apa kau benci dengannya? "
Hinata menyandarkan punggungnya, " Iya, aku benci dengannya sangat malah. " Hinata menginjak gas saat lampu yang tadi berwarna merah terganti dengan warna hijau.
" Ada apa denganku? Tak seperti biasa membenci orang, mana Hyuuga Hinata yang dulu? Yang selalu memaafkan orang selicik Sasuke? " Hinata menginjak rem mendadak saat ada kucing menyebrang dengan tiba-tiba. " Hah.. sepertinya berendam dengan air hangat bisa melepaskan penat.. " Hinata mengehala napas berat, ia pun mulai melanjukan kembali mobilnya.
Hinata lalu belok kekanan saat ada palang hijau menandakan bahwa jalan menuju Konoha's street berbelok kekanan. Hinata mengendarai mobilnya dengan tenang, karena bosan dengan keheningan Hinata menyalakan tape mobilnya dan membesarkan volume saat tape tersebut tengah memutarkan lagu kesukaannya.
Hinata menyandarkan tubuhnya, ia tersenyum kecil, setidaknya music bisa membuatnya menghilangkan penat sejenak. Namun, alisnya kini menyerngit saat melihat deretan mobil berhenti. " Oh tidak, jangan katakan bahwa sedang macet.. " Hinata memberhentikan mobil, ia membuka kaca mobilnya lalu melengok keluar. Matanya membulat kala melihat antrian panjang mobil yang tak ia duga bisa sepanjang ini.
Dengan frustasi, Hinata mengacak rambutnya kesal. " Kami-sama! Apa lagi kesialanku ini ! " jeritnya.
.
.
.
TBC
A/N : Huaa, selesai juga ceritanya. Thank's buat para readers yang sudah menyempatkan diri membaca dan mengriview fic nista ini. *nyengir*
Thank's to :
Dewi Natalia, Gyuururu-kun, Aoki Kou, Ame Yura-chan, Dreamer Ladies, and Hime No Rika.
Balas review :
Dewi Natalia : hehe, author juga bingung ingin mengasih ini genre apa. Bila Hurt-Comfort sama aja ga ada adegan kasar antara SasuHina. Author suka nge-bully chara soalnya *slap*
Gyuururu-kun : Yui ingin buat satu chapter dengan 6000 words lebih, supaya lebih panjang dan gak nanggung(?)
Aoki Kou : Souka? Hoo gomen, oke-oke terima kasih sarannya senpai~ tapi, bahasa asingnya Yui ga bisa kalo ga di Bold hehe
Dreamer Ladies : Yup, dan juga Sasuke mau saya buat dia jadi remaja sedikit labil. Ng, masalah endingnya sepertinya happy ending,entahlah author ngikutin alur saja.
Hime No Rika : wah, berarti khayalan anda terwujudkan di fic ini. Oke, Yui usahakan ceritanya bakal rapi, tapi ga janji ya~
Oke sekian, terima kasih untuk kalian semua. Arigatou minna..
