Desclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : OOC and many more

.

.

.

.

.

Sasuke dan Naruto melihat aksi para pemanah dari pembatas, mereka terus memperhatikan sahabat mereka si gadis Hyuuga. Hinata memang mengikuti eskul panahan padahal dia lumayan mahir dalam bermain basket.

Sekarang giliran Hinata yang kebagian untuk membidik. Dia mulai menajamkan matanya mengarahkan busur dan memegang stringnya, setelah itu ia mulai menarik busurnya hingga dagu lalu melepasnya setelah satu helaan nafasnya.

Suara tepuk tangan mulai terdengar Hinata melebarkan matanya panahnya tepat sasaran dia melompat kegirangan, sepertinya hari ini hari keberuntungannya.

''Wah! Dari mana dia belajar panahan? Tadi itu hebat!'' Naruto terkagum-kagum melihat aksi Hinata tadi.

''Dia memang menarik'' Naruto dapat melihat senyuman tulus dari Sasuke dadanya terasa sakit melihat bagaimana dia memperhatikan Hinata, dia hanya bisa tersenyum miris.

...

Hinata meneguk airnya, dia terus tersenyum mengingat kejadian tadi padahal dia baru sekali latihan dan berkat trik dan tips dari sang kakak tercinta, Neji. Hinata mengalihkan pandangannya dari siswa yang masih berlatih (walaupun sedang istirahat) saat Sasuke sudah duduk di sampingnya.

''Kau terlihat seksi dengan baju itu'' Pipi Hinata memerah mendengar ucapannya dan langsung menyilangkan tangannya di depan dada.

''Mesum!''

Sasuke terkekeh,menepuk kepala hinata pelan sebelum mengacak-acak rambutnya hingga ikatan rambutnya terlepas. Hinata menepis tangan 'nakal' Sasuke di barengi dengan gerutuan tak jelas.

''Tadi itu hebat, belajar darimana kau?''

''Ah, itu aku belajar secara otodidak dengan dibantu Neji-nii Hinata menjawabnya setelah merapikan ikatan rambutnya. ''Kenapa aku tidak tau ya?'' Hinata hanya terkikik.

''Kukira kau akan ikut eskul basket'' Hinata hanya tersenyum. ''Aku ingin mencoba yang lain dan aku pikir panahan adalah olahraga yang keren''. ''Dasar!''

''Ngomong-ngomong yang ikut basket siapa saja?'' Sasuke sedikit mengerutkan dahinya, yang ikut basket itu banyak! Apa ia harus menyebutkan satu per satu?

''Naruto, teman sekamarmu, Gaara, Kiba, dan gadis berambut merah muda itu''

''Kiba itu yang mana ya?''

''Yang mempunyai tatto segitiga di pipinya dan suka membawa anjing'' Sasuke terus memperhatikan Hinata yang tampak sedang berpikir selang beberapa detik mata besarnya menatapnya lagi sambil menggelengkan kepala. ''Dasar bodoh!''

''Semuanya kita mulai lagi!'' Suara Kurenai-sensei membangkitkan Hinata dari duduknya.

''Sudah dulu ya!'' belum sempat pergi tangan Hinata ditarik agar mendekat kearahnya lalu bibirnya di kecup singkat. Setelah itu ia berbisik di telinga Hinata. Wajah Hinata merah bukan main.

''Good luck''

...

Naruto kembali ke kelas saat Sasuke menemui Hinata, dadanya pasti akan sakit melihat mereka berdua. Tapi sepertinya di kelas adalah ide yang buruk dia sangat bosan hanya bermain game di ponsel canggihnya sendirian tapi berkali-kali tawaran pergi oleh temannya ia tolak. Naruto akhirnya hanya melihat foto-foto 'dia' setidaknya dia sedikit terhibur melihat berbagai ekspresi gadis itu dari foto yang dia ambil diam-diam.

Seseorang memasuki ruangan kelas membuat Naruto segera menutup ponselnya.

''Gaara!''

''Hei bodoh, kenapa tersenyum-senyum sendiri?'' wajah Naruto merenggut marah. ''Jangan panggil aku bodoh!''.

''Hei ! kan aku tanya kenapa senyum-senyum sendiri?''

''Ah itu, aku barusan sedang melihat foto Doraemon dari ponselku'' Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Gaara menaikan sebelah alisnya jawaban Naruto terdengar aneh.

''Jangan ganggu aku! Jika ada guru bangunin aku!''

''Kenapa tidak tidur di asrama?!'' Gaara mendecih mendengar suara berisik Naruto. ''Aku tidak mau ketinggalan pelajaran bodoh! sudah jangan ganggu dan jangan berisik!''. Gaara meletakkan kepalanya diatas meja dengan tangannya sebagai bantal. Naruto memaklumi Gaara saat ini, semalam dia begadang hingga jam dua hanya untuk menonton bola.

Mata Naruto beralih keluar jendela, ia bisa lihat Sasuke yang sepertinya sangat risih dengan jeritan perempuan di bawah sana, senyumnya mengembang melihat sahabatnya kesusahan. Tapi, matanya berubah sayu mengingat Sasuke baru saja menemui Hinata.

'Akh! Kenapa aku ini?'

...

Hinata terus tertawa mendengar cerita Sasuke, dia terus melihat laptopnya. Sedari tadi ia mendengar keluh kesahnya saat keluar dari ruang klub panahan, di kejar para gadis dan di teriaki dan mungkin ia harus ke THT untuk menyembuhkan telinganya yang berdenging.

Sasuke dan Hinata sedang berhubungan melalui skype. Hinata melirik ke arah jam kecil di dekat nakas, jam kecil itu menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh malam. Hinata sudah menguap kecil.

'Sepertinya kau sudah mulai ngantuk?' Hinata mengangguk sambil menatap laptopnya. 'jika kau berada di depanku sudah ku cubit pipi gendutmu, kau terlihat menggemaskan'.

''Siapa yang kau bilang gendut?'' Hinata sedikit merajuk. 'Sudah, tidur sana! awas disampingmu kau tau di sini angker? jangan sampai 'dia' tidur di sampingmu'.

''Sasukeeee!''

Setelah mematikan laptopnya Hinata segera tidur, tapi kata-kata Sasuke terus menghantuinya ia sedikit meraba tempat kosong di tempat tidurnya 'tidak ada apa-apa'. Namun ia masih takut, Hinata pun turun dari tempat tidurnya menuju ke tempat tidur Ino sambil memeluk bantalnya. Dengan perlahan ia mengguncangkan bahu Ino hingga dia terbangun.

''Ada apa Hinata-chan?'' mata Ino sedikit menyipit akibat kantuk.

''Boleh aku tidur disini?''

''Memangnya kenapa?'' mata Hinata berkaca-kaca ia sedikit memanyunkan bibirnya mengeluarkan puppy eyes-nya. ''Aku takut.''

''Jangan menangis...'' Ino lalu menepuk tempat tidurnya agar Hinata tidur di sampingnya dengan berkaca-kaca Hinata mulai tidur di sampingnya. Ino segera memeluk temannya itu. ''Sudah jangan takut, memangnya siapa yang menakutimu?''.

''Sa-sasuke...'' Ino sangat gemas melihat wajah Hinata saat ini, dia seperti balita yang kehilangan ibunya.

''Sudah...kau tidur bersamaku''

''Terima kasih Ino-chan'' Hinata tersenyum senang, karena aktingnya yang sering ia pakai untuk kakaknya berhasil juga untuk Ino.

...

''Sasuke, kau menakuti Hinata semalam''

''Benarkah? Bagaimana reaksinya?'' Ino hanya memutar matanya sambil mendengus. ''Kau tau dia kemarin hampir nangis dan meminta untuk tidur di sebelahku, kau sungguh jahil Sasuke'' tadinya Sasuke ingin menyela namun seseorang datang menghampiri mereka.

''Sasuke! Asuma-sensei meminta beberapa tim basket cowok untuk mengajari siswi yang kesulitan basket, termasuk kau, aku dan Naruto'' Ino mendengus kasar mendengar celotehan Kiba. ''Mereka hanya cari perhatian, tidak bisa main basket saja sombong sekali! Lihat mereka!'' Ino menunjuk sekumpulan gadis yang sepertinya mencari perhatian pada tim basket cowok. Sasuke hanya tersenyum miring padahal dia sangat ingin Hinata ikut klub basket tapi...yasudahlah.

''Ini sepertinya tugas berat, ayo Sasuke!'' Sasuke mulai meninggalkan area penonton yang sebelumnya ia gunakan untuk mengobrol dengan Ino.

''Semoga sukses!''

...

''Baik! Di kertas ini ada beberapa siswi yang kesulitan dalam basket, aku akan membagikan siapa saja yang akan kalian latih-''

''Asuma-sensei! Kenapa tidak kau saja yang mengajari mereka?!'' Naruto menyela. ''Karena jika mereka diajarkan olehku mereka tidak akan serius, mereka terus melihat tim laki-laki, maka dari itu kalian yang saya pilih karena kalian yang populer'' Sasuke berdecih mendengar penuturan gurunya.

''Kenapa Gaara tidak ikut? Bukankah dia juga cukup populer?'' Kali ini Kiba menyela. ''Dia menyeramkan, dan lagi dia juga pasti tidak mau''. 'kita juga tidak mau' batin mereka.

''Oke akan aku bagikan, Naruto kau ajari Mizurashi Shion dan Amane Saara, Sasuke kau ajari Uzumaki Karin dan Haruno Sakura dan Kiba kau ajari Haruna Matsuri,

Nishiwaki Kaguya dan Orihime Mayu''

''Hei! Kenapa aku tiga?''

''Sudahlah, lakukan saja! Ini hanya sampai dua kali pertemuan karena nanti akan ada guru baru untuk mengajari mereka''

''Sasuke, siap-siap bajumu robek''

''Diam kau!''

...

''Kau tau? aku akan di latih oleh Uchiha Sasuke'' Siswi berambut merah berkacamata itu terus pamer kepada teman-temannya yang terlihat iri. ''Aduh aku tidak sabar''.

Sedangkan Sakura hanya tersenyum mendengar celotehan di sebelahnya dia duduk dan meminum air mineralnya di pinggir lapangan. Sebenarnya dia juga senang begitu tau siapa yang jadi pembinanya dia memang mulai menyukai Uchiha itu sejak pertama saat ia berpidato , tapi dia cemburu melihat Sasuke yang sangat dekat dengan Gadis itu, dia iri melihat perlakuan Sasuke terhadap gadis itu. tapi, dia masih punya harapan karena gadis itu hanyalah temannya dan sekarang waktunya dia akan berjuang untuk mendapati hati sang Uchiha rupawan itu.

''Hei! Lihat dia datang!'' Sakura kaget mendengar jeritan kecil dari sebelahnya saat ia sedang membenarkan tali sepatunya, ia sempat melirik ke arah perbincangan gadis-gadis di sebelahnya. 'Ternyata benar! Uchiha Sasuke!' jantungnya berdetak lebih keras saat ia mulai mendekat, namun ia mendekat ke gerombolan di sampingnya.

''Satu lagi mana?'' Sasuke terus menatap Karin dengan tatapan intimidasi, sedangkan yang di tanya hanya gelagapan.

''Aku di sini'' Sakura berdiri dari duduknya. Sasuke mengalihkan matanya kearahnya.

''Oke! kalian ikut aku'' Karin dan Sakura berjalan berdampingan di belakang Sasuke.

''Jangan coba-coba cari perhatian dengannya!'' Karin begitu menekankan kata-katanya, Sakura hanya tersenyum miring, ''Bukankah kau yang cari perhatian.'' belum sempat membalas perkataan Karin, Sasuke sudah berbalik dan melihat murid didiknya saling acuh.

''Kalian kenapa?'' hanya gelengan kepala yang ia dapat, Sasuke hanya mendengus kasar ''Oke, sebagai pemanasan lari lima putaran lapangan''

''Apa?!'' padahal di benak Karin dia akan bermesraan seperti yang ada di drama yang sering ia tonton, bagaiman sang pujaan mengajarinya dari belakang dan tangan bersentuhan, tapi ini?

''Ada apa?'' Karin hanya menggeleng. ''Oke hitungan ke tiga mulai lari'' Sakura dan Karin mulai bersiap-siap.

''Satu, dua, tiga! Go!'' Sasuke hanya menghela nafas, dan duduk sambil memperhatikan mereka, ia memperhatikan Sakura. Ia ingat bagaimana Sakura melihatnya saat berpidato.

'Gadis aneh'

''Hei!''

''Hinata, ada apa ke sini? Kau pasti ingin melihatku'' Hinata hanya tersenyum dan duduk di sebelah Sasuke. ''Kau kejam, membiarkan mereka berlari seperti itu''. ''Biarkan.''

''Mungkin kemarin hanya keberuntunganku, karena selanjutnya aku gagal membidik sasaran hingga aku harus berlatih sampai sore'' Sasuke menyeringai.

''Mungkin karena ciu-''

''D-diam!'' Pipinya memerah.

Hinata melihat sekitar dia melihat Naruto yang berlari. ''Kenapa dia berlari? bukannya dia pembinanya?'' Hinata menunjuk kearah Naruto, Sasuke hanya tersenyum.

''Lihat baik-baik, lihat kebelakangnya!'' Hinata mengikuti perintah Sasuke, dia melihat Naruto berlari dan di belakangnya sang murid mengejar Naruto begitu agresif. Sontak Hinata tertawa.

''Naruto-kuuuuuunnnn!''

''Sialan!'' Mata Naruto beralih ke arah dimana Sasuke dan Hinata berada, dia melihat Hinata berdiri melambaikan tangan kearahnya dengan senyuman lebar dia membalas lambaian tangan Hinata sambil berlari.

...

Sakura sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik mereka, dia cemburu bagaimana Sasuke menatapnya dengan lembut dan senyuman tulus itu.

Sakura terus berlari tinggal satu putaran lagi, ia ingin memisahkan mereka. Dia tidak mau melihat hal menyebalkan itu lama-lama. Satu putaran itu sudah ia selesaikan menahan lelah ia segera menghampiri Sasuke.

''Uchiha-san...hhh selanjutnya...hhh apa?'' Sakura mulai mengatur nafasnya. Hinata merasa dirinya mengganggu pun mulai pamit.

''Maaf aku mengganggu kalian, sebenarnya disini aku mencari Gaara-san'' mata Sasuke mendelik tajam, 'mencari Gaara katanya?'. Hinata merogoh saku blazernya mengambil sebuah amplop biru dan memberikannya kepada Sasuke.

''Itu ada seseorang yang menitipkannya padaku, ini untukmu'' Hinata membungkuk lalu pergi. Sakura tersenyum senang melihat kepergian Hinata, tapi senyum itu tidak lama ketika ia membaca surat yang ada di amplop itu.

Sasuke berdecih, lalu membuang surat itu ke tempat sampah, senyumnya kembali mengembang. Dia yakin itu adalah surat cinta.

''Boleh aku duduk?'' Sasuke tidak menjawab dia hanya mengangguk.

''Dia itu pacarmu?'' Sakura melihat Sasuke penuh harap. ''Masih belum.'' dia tersenyum kecewa, 'belum' berarti tidak menutup kemungkinan kalau gadis itu akan menjadi pacarnya. Dan Sakura harus bergerak cepat sebelum mereka berpacaran.

''Aku ingin tanya satu hal kepadamu'' Sakura kaget atas kalimat yang di lontarkan Sasuke. Dia bersiap menunggu pertanyaannya dengan jantung berdebar.

''Waktu itu, kenapa kau berhenti berpidato saat melihatku?'' Sakura membisu.

''I-itu...''

...

Hinata menaiki tangga agar mencapai atap sekolah, sungguh dirinya di buat lelah karena laki-laki bernama Gaara. Semua orang yang ia tanya tidak tau dimana keberadaannya dan hampir seluruh ruangan ia kunjungi namun hasilnya nihil. Dan ini untuk yang terakhir kalinya, ia mencari Gaara ia berharap penuh agar Gaara ada di atap sekolah. Dia membuka pintu atap sekolah setelah menghela nafas panjang, dan ia menemukan laki-laki berambut merah yang sedang tidur di bangku. Dia sedikit merapatkan blazernya ketika angin dingin berhembus mengenai tubuhnya, pipinya memerah karena dingin.

Dengan tekad kuat dia menghampiri laki-laki itu, berjongkok dan mengguncangkan tubuhnya, dan tak butuh waktu lama laki-laki itu bangun dan menatap lama Hinata. Hinata hanya menundukkan kepalanya saat di tatap seperti itu. Pipinya semakin memerah karena saat dia menegakkan kepalanya wajah mereka sangat dekat.

''A-ano apa kau yang bernama Gaara?''

''Iya''

''Kau di panggil kepala sekolah'' Gaara bangkit dan berdiri, Hinata pun ikut berdiri. Menunggu Gaara beranjak dari tempat ini, namun Gaara tidak beranjak dari tempatnya.

''K-kenapa?''

''Aku tidak tau kantor kepala sekolah dimana''

Pembual adalah kata yang cocok dengan Gaara saat ini.

.

.

.

TBC

akhirnya apdet juga! Terima kasih yang sudah review :) ga bisa di sebut satu-satu. nama-nama yang diatas ngarang jadi maklumi kalau gaje. Dan terus maaf kalau banyak salah dan maaf buat fic Black Blue Rose yang kependekan, tapi ficnya bentar lagi tamat yeyyy! sekali lagi terima kasih yang udah review.

Review pleaseee!