I'm Hinata, Your Wife and Your Haters

Naruto bukan punya saya, tapi cerita ini punya saya.

By : Louise Yuiki

Warning : ada miss typo, ceritanya pasaran dan mungkin tak mempunyai feel, masih pemula jadi mungkin kurang menarik, dan mungkin serasa liat sinetron.

Chapters 3 : The secret was betray.

.

.

Sebuah mobil Bugatti Veyron keluaran dari Bugatti Automobiles SAS terparkir manis di depan kediaman Uchiha. Seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda berambut emo tampak keluar dengan anggun dan gagah dari mobil mahal tersebut.

" Pokoknya, Kaa-san gak mau tau kau harus meminta maaf dengan Hinata-chan! " omel wanita tersebut yang kita ketahui bernama Mikoto.

Sedangkan pemuda yang tampak di omeli hanya bisa memutar mata bosan, ia menggaruk-garuk telinganya dengan jari kelinking. " Ya Kaa-san, kau sudah mengucapkan itu ke-30 kalinya "

" Habis, kau tak akan mendengarkan bila tak diingetin terus " omel Mikoto.

Mereka berdua disambut hangat oleh para pelayan mereka. Mikoto menyerahkan tas dan kantong belanjaannya sedangkan Sasuke menyerahkan jaket kulitnya untuk dicuci ke laundry. Sasuke akan saja mau menaiki setapak anak tangga jika saja saat ini tak ada seseorang yang sedang memeluknya dari belakang. " Ino-nee.. "

" Halo adikku sayang~ sudah pulang rupanya " bisik Ino menggoda.

" Wah, Ino-chan sudah baikkan? " tanya Mikoto, ia langsung menghampiri menantu kesayangannya yang saat ini tengah mengandung.

" Ya, tadi makanan sudah bisa masuk " jawab Ino riang, ia mengusap-ngusap lembut perutnya yang sudah membesar.

Merasa ter-abaikan, Sasuke melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

" Hei, Sasuke mau kemana? " tanya Ino saat mengetahui Sasuke mulai menaiki anak tangga.

" Ke kamar "

" Tak maukah kau mengobrol sebentar dengan ku? " tanya Ino sedikit cemberut. " Tidak " ujar Sasuke tampa mnghentikan langkahnya, ia mulai berbelok kekiri saat sudah sampai dilantai dua.

" Dasar anak itu.. " guman Ino sebal, setelah itu ia menoleh ke pada besan-nya. " Ne, Kaa-san mau kah menemani ku memakan kue? Aku lapar. " pinta Ino manja yang dibalas dengan anggukan setuju dari Mikoto.

Mereka berdua pun pergi diselangi dengan obrolan para wanita.

.

.

Sesampainya dirumah, Hinata langsung pergi kekamarnya mengindahkan panggilan Hanabi yang terus memanggilnya. Hinata langsung mengunci pintu kamar dan langsung menyambar handuk kesayangannya. Ia lepas seluruh bajunya hingga sekarang ia polos tanpa busana. Menyalakan keran, menuangkan minyak dan sabun lavender cair, lalu ia pun berendam kedalam.

" Ahh~ segarnya… " desah Hinata begitu merasakan hangatnya air yang beraroma wangi kesukaannya.

Hinata menatap langit-langit kamar mandinya, ia hari ini begitu lelah. Terjebak macet 4 jam lamanya, hampir menabrak kucing, dan dikatai sama calon suaminya sendiri. Entahlah, ia harus berkata apalagi bila bertemu dengan Uchiha Sasuke, apalagi ia meledak – meledak di depan umum hanya karena pemuda tersebut.

Hei, wajarkan aku marah bila dikatai seperti itu?

Hinata mengangkat tangan kanannya pelan, terus bergerak hingga keatas. Ia lebarkan jarak antara kelima jarinya dan melebarkan telapak tangannya, menutup sebagian cahaya lampu yang menerpa wajah Hinata.

" Apa mungkin, pernikahan ini akan berjalan lancar? "

.

.

Seorang pemuda berjalan santai di sebuah koridor yang kita yakini sebagai koridor dalam rumah. Ia mengenakan kemeja hitam dengan garis-garis putih, lengan kemeja tersebut dilipat sampai sebatas siku. Bawahan yang ia kenakan berupa jeans hitam dengan sepatu sport putih.

Pemuda tersebut mengenakan kacamata hitam dan kedua tangannya berteger nyaman di kedua saku celananya.

Pemuda tersebut berhenti didepan sebuah pintu besar berwarna merah bata. Mengambil sesuatu didalam saku celananya, setelah dapat ia keluarkan benda tersebut. Ternyata, itu adalah aneka ragam kunci-kunci yang berbeda warna dan jenis.

Pemuda tersebut mengambil sebuah kunci berwarna silver dan kunci itu lebih besar dari pada kunci lainnya. Setelah membuka pintu tersebut, pemuda itu memasukkan kembali rantai kunci kedalam saku celananya.

Cklek

Didalam ruangan tersebut, terdapat kasur berukuran king size dan sebuah lemari coklat tua, disampingnya ada sebuah tv. Di tengah-tengah ruangan tersebut, terdapat seorang pemuda menatap pemuda berkemeja tersebut tajam. Kedua tangan dan kakinya diikat, dan wajahnya tampak begitu pucat, lingkaran disekitar matanya sangat tebal, menandakan bahwa pemuda tersebut jarang atau tidak pernah sama sekali tertidur.

Pemuda berkemeja tersebut menyeringai, ia lepas kacamata hitamnya menampakkan iris ebony-nya yang berkilat tajam.

" Hello, Gaara.. "

.

.

" Hanabi, bisakah kau tidak mengambilnya? "

" Memangnya kenapa Aniki? Kau terlihat sangat kawai sekali "

Neji menghela napas frustasi, saat merasakan blitz menerpa di depan wajahnya lagi ia menatap Hanabi garang. " SETIDAKNYA JANGAN MEMFOTO KU SEPERTI ITU IMOUTO! " teriak Neji geram.

Hanabi kembali mengambil foto muka Neji yang garang. Sangat disayang kan sekali bukan tidak mengabdikan ekspresi Neji yang biasanya tenang meledak-ledak seperti ini?

" Sudahlah Neji, cepat kerjakan pekerjaanmu bila kau ingin segera mengganti pakaian nistamu itu.. " komentar Hiashi, ia menatap Neji tajam kala Neji tak kunjung-kunjung mengerjakan perkerjaannya.

Hanabi nyengir saat berhasil mendapatkan foto yang ke-40 kalinya dengan foto ekspresi Neji yang berbeda-beda. Dari muka Neji yang gosong sampai muka Neji yang ngamuk. " Aku tak menyangka akan mendapatkan hukuman untuk melakukan ini " ucap Hanabi nyengir.

Ya dia enak disuruh foto, sedangkan aku?

Neji mengambil pupuk tanaman dengan terpaksa, sebenarnya ia tak masalah bila di suruh mencabuti rumput, mengganti pupuk, dan menyirami tanaman. Tapi, ada satu hal yang bikin ia enggan untuk melakukan hukuman yang diberikan Hiashi tersebut.

Masa, Hyuuga Neji yang terkenal akan ke-cool dan ke-tampanannya harus berkeliaran dikediaman Hyuuga dengan pakaian maid?

Ga banget kan?

" Setelah ini bersihkan kekacauanmu di dapur, mandikan Bunny, sapu dan lap seluruh kediaman Hyuuga, dan berbelanja keperluan dapur nanti di supermarket. " Perintah Hiashi datar, tubuh Neji menegang seketika, ia pun berbalik hendak protes tetapi di potong Hiashi cepat. " Tak ada alasan, kau harus mengenakan pakaian itu sampai tugas mu selesai " setelah itu Hiashi pergi meninggalkan Hanabi yang menahan ketawa dan Neji yang pundung dipojokan.

Hinata yang baru saja keluar dari kamarnya berpapasan dengan ayahnya langsung menyapa Hiashi dengan sopan. " K-konbanwa T-Tou-san.. "

" Hn "

Hinata membulatkan matanya, ia menegakkan kembali badannya dan menatap punggung ayahnya tak percaya. Tak lama kemudian, Hinata tersenyum lebar. Ia pun kembali melangkah dengan hati yang berbunga-bunga.

Akhirnya, Tou-san membalas salam ku.

Hinata kembali berpapasan dengan adik perempuannya di koridor luar yang saat ini tengah nyengir-nyengir tak jelas. Hinata menyerngit bingung, ia memutuskan untuk mendatangi adiknya yang sedang mengutak-atik kameranya senang. " H-Hanabi-chan.. "

Merasa dipanggil, Hanabi menoleh. " Oh! Nee-chan! Coba lihat! " Hanabi menjulurkan kamarenya kepada Hinata. Karena penasaran, Hinata pun melihat-lihat ada apa gerangan dalam kamera ini sampai membuat adiknya nyengir ga jelas.

Gambar pertama foto seorang gadis memakai baju maid yang tengah menatap kamera garang, membuat Hinata mendengus geli.

Gambar kedua foto seorang pemuda yang tengah menatap kamera datar dengan wajah dipenuhi dengan abu hitam dan rambut yang berdiri.

" Apa ini semua foto Aniki? " tanya Hinata tanpa mengalihkan pandangannya dari kamera. Hanabi yang sedang rebahan hanya mengangguk, kakinya yang menggantung ia goyang kan pelan.

Hinata terus saja memencet tombol next pada kamera digital tersebut, ia terus tersenyum geli melihat kakak laki-lakinya bertampil memalukan di dalam kamera tersebut. Pada page ke 30, senyum Hinata memudar.

Disana, tertera pada tanggal 10/01/2010 terdapat potret seorang pemuda berambut merah bata dengan tato 'Ai' di jidat kirinya tengah di rangkul akrab dengan seorang pemuda bersurai blonde jabrik. Ekspresi mereka bertolak belakang, bila pemuda berambut kuning tersebut tersenyum lima jari, pemuda yang disampingnya hanya menatap kamera datar.

Hinata menekan kembali tombol next.

Kali ini potret pemuda berambut merah bata itu lagi. Ia bersama seorang pemuda berambut hitam yang diikat satu keatas. Kedua pemuda tersebut mengenakan mantel putih, dengan sarung tangan putih dikedua tangan mereka.

Disana, tertera diambil pada tanggal 12/02/2010

Kedua tangan Hinata bergetar hebat, keringat dingin mulai bercucuran di sekitar pelipisnya. Ia menekan kembali tombol next.

Lagi-lagi foto pemuda tersebut dengan beberapa anggota lainnya yang tak ia kenal dan diambil pada tanggal 03/03/2010. Sontak saja Hinata langsung menyerahkan kamera tersebut terhadap Hanabi, dan berdiri tiba-tiba.

Hanabi yang menyadari keganjalan pada Hinata langsung juga ikut berdiri. " Doushite, Nee-chan? " tanya Hanabi khawatir.

Hinata menatap Hanabi ngeri, ia melangkah mundur, memperlebar jaraknya dengan Hanabi. " J-jangan m-mendekat.. " gumannya.

" Nee-chan kenapa sih? " tanya Hanabi bingung seraya mendekatkan diri kepada Hinata.

" KUBILANG JANGAN MENDEKAT! " teriak Hinata, membuat langkah Hanabi terhenti seketika.

Hanabi membulatkan matanya, " N-Nee-chan? " panggil Hanabi lirih.

" Apa yang terjadi? " tanya Neji tiba-tiba yang baru saja datang dari dapur – masih dengan pakaian maidnya –

Hanabi menatap kakaknya dengan sirat akan kekhawatiran dan kebingungan, ia menggeleng dengan alis yang saling bertekuk. Neji mengerti maksud dari Hanabi, ia pun menatap Hinata. " Hinata, ada apa? " tanya Neji selembut mungkin.

" T-tidak, tidak a-apa – apa.. A-aku tadi refleks.. " ucap Hinata terbata tanpa melihat kedua saudaranya. Ia pun bergegas pergi dari situ tanpa memperdulikan panggilan Hanabi.

Hanabi menatap sendu punggung kakaknya yang saat ini sudah menghilang di belokan koridor, Neji yang dibelakangnya mengambil sebuah benda elektronik yang tergeletakkan begitu saja. Saat itulah hati Neji terasa di hantam dengan palu, ia pun menyerahkan benda tersebut terhadp Hanabi.

" Sepertinya, kita harus berkata jujur sekarang " ucap Neji saat melihat wajah Hanabi berubah menegang.

" I-ini semua salahku, a-aku ceroboh menyerahkan langsung kamera kepada Nee-chan.. " sesal Hanabi, kedua tangannya mulai gemetaran.

Neji menggeleng, " Tidak, cepat atau lambat ini pasti akan terbongkar "

" Apa yang harus kita lakukan Aniki? "

Neji menatap Hanabi yang tengah menatapnya dengan kekhawatiran yang amat mendalam. Neji pun menghela napas pasrah, " Kita harus memberitahunya "

.

.

.

Hinata menutup pintu kamarnya sedikit kasar. Begitu sudah mengunci pintu kamarnya, ia segera berebah di atas kasurnya. Pikirannya masih tertuju pada gambar-gambar seorang pemuda berambut merah bata yang ada di kamera digital Hanabi.

Tapi, Hinata sulit untuk mempercayai ini. Gaara meninggal pada tahun 2009 dan itu sudah tiga tahun lamanya. Akan tetapi, kenapa didalam kamera digital Hanabi bertuliskan tahun 2010?

Tidak mungkin, itu pasti bukan Gaara-kun..

Hinata berbalik, memandangi sebuah poster besar yang tertempel di langit-langit kamarnya. Foto dirinya bersama kekasihnya, Gaara. Di poster tersebut, terdapat Gaara tengah memeluk perutnya seraya memberi sebuah ciuman di pipi. Sedangkan Hinata, tersenyum lebar dengan mata tertutup satu dan jangan lupakan kedua pipinya yang merona.

Tapi, itu benar-benar Gaara-kun..

Hinata bangkit dari tidurnya, ia menatap hampa boneka kelinci kesayangannya yang saat ini tengah menatapnya dengan senyum imutnya. Hinata hendak saja menggapai boneka tersebut, namun urun saat seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya.

" Nee-chan, bolehkah aku masuk? "

Tubuh Hinata seketika menegang, ia menoleh pintu kamarnya takut-takut.

" Nee-chan? " panggil Hanabi lagi, kali ini terselip nada kekhawatiran.

Hinata merangkak menuju pintunya dan kembali duduk diam didepan pintu. Ia bingung antara membuka pintu kamarnya dan membiarkan Hanabi masuk kekamarnya atau dia sampai Hanabi pergi sendiri dari depan pintu kamarnya.

Terdengar helaan nafas dari seberang, " Kalau Nee-chan sudah tidur, ya sudah. Oyasumi " dan setelah itu Hanabi pergi meninggalkan kamar Hinata dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Setelah kejadian tersebut, Hinata jadi lebih terkesan sering menghindari Hanabi dan Neji. Ia lebih memilih ketempat rumah mantan Sensei-nya dulu sekedar membantu mengajar para murid perempuan yang di didik menjadi wanita sempurna, dan tentu saja seluruh murid disana berasal dari keluarga bangsawan sama seperti Hinata.

Jika tidak ada kegiatan lain, Hinata akan mendatangi Mikoto hanya sekedar membahas pernikahan dirinya dan Uchiha Sasuke yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Terkadang, Hinata berpapasan dengan Sasuke dan mau tak mau Hinata hanya berpura-pura tak mengetahui keberadaan Sasuke dengan memandang lurus kedepan dan melangkah dengan tergesa-gesa.

Hinata terus mengusahakan agar dirinya tidak terlalu sering berada dirumahnya. Dan itu membuat Hanabi dan Neji merasa bersalah, pernah mereka berdua hendak mengatakan sesuatu pada Hinata namun urun kala Hinata mencari alasan dengan berkata " Aku ada urusan dengan Kurenai-sensei " dan pergi begitu saja.

" Aniki, bagaimana ini? Bila tak segera di beritahu Nee-chan bisa salah paham.. " keluh Hanabi, ia bertompang dagu malas menatap buku kuliahnya yang menggunung.

" Entahlah, aku tak menyangka hubungan kita bisa renggan hanya karena sebuah foto " ujar Neji seraya membenarkan letak kacamatanya, saat ini ia tengah mengerjakan sesuatu dalam laptopnya.

Hanabi menghela nafas, ia pun mengambil handphone-nya dan menekan tombol nomor menjadi sebuah nomor telepon yang sudah ia hapal di luar kepala, dan menekan tombol calling.

Nada tunggu sejenak sebelum dijawab di sebrang sana, " Halo? "

" Naruto-nii, bisa bertemu? "

.

.

Sasuke menatap bosan gedung-gedung kota yang menjulang tinggi di hadapannya sekarang. Saat ini ia, Hinata, Mikoto, tengah menentukan dekorasi pernikahannya dengan Hinata nanti di gedung hotel terkenal di Konoha, Konoha Land Hotel.

Ia tak peduli dengan pernikahannya, ia tak peduli dimana tempat pernikahannya nanti, ia tak peduli dengan dekorasi pernikahannya nanti, yang ia perdulikan sekarang adalah seorang gadis pinkky yang saat ini tengah bekerja sambilan di sebuah restaurant cepat saji.

Tak beda jauh dengan Hinata, walau diluar ia terlihat peduli dengan pernikahannya. Sebenarnya, ia merasa sebaliknya. Ia tak perduli dengan pernikahannya, yang ia perdulikan sekarang bertanya pada Hanabi tentang masalah foto tersebut atau tidak sama sekali.

Pikirannya terbagi antara memikirkan pernikahannya dengan potret pemuda yang ia cintai tersebut. Ia sadar, selama ia menghindari kedua saudaranya ia sadar bahwa ia telah membuat kedua saudaranya khawatir. Apalagi, tadi pagi ia dihadang lagi oleh kedua saudaranya dan tentu saja Hinata segera mencari alasan agar dapat bebas dari kedua sahabatnya tersebut.

Hinata menoleh kebelakang kala merasakan sentuhan lembut di pundaknya, ia tersenyum lembut begitu mengetahui bahwa Mikoto lah yang menepuk pundaknya tadi. " Ada apa Hinata-chan? Kau tampak lelah sekali? Apa kau ingin pulang sekarang saja? " tanya Mikoto bertubi-tubi.

Hinata menggeleng kepalanya pelan, " Tidak, s-s-saya baik-baik saja.. " ucapnya disertai senyuman.

" Tapi, kau tampak pucat sekali. Lihatlah, bahkan ada kantung mata disekitar matamu. " ujar Mikoto sambil menekan-nekan lembut lingkaran mata Hinata. " Sebaiknya kau beristirahat. Lagi pula sebentar lagi selesai kok, tinggal masalah makanan saja dan semuanya beres. "

Hinata menatap onyx Mikoto, mencari kebohongan dalam sana. Tidak menemukan apapun, Hinata hanya mengangguk lemah. " Terimakasih, Mikoto-basan.. " ucap Hinata lirih dan dijawab dengan anggukan dan senyuman lembut dari Mikoto.

Hinata pun mengambil tas gengamnya yang sebelumnya ia geletakkan di meja bundar dekat pintu. Setelah mengambil tasnya, Hinata pun pamit kepada Mikoto dan para pekerja yang berada dalam ruangan tersebut – minus Sasuke – dan pergi, sebelumnya ia pergi ke toilet sebentar dekat dengan ruangan yang ia masuki tadi.

Hinata segera meletakkan tasnya dan membasuh mukanya dengan air wastafel. Ia usap berapa kali wajahnya dengan air, berusaha untuk menghilangkan raut penatnya walau sebentar. Ia ambil sapu tangan dalam saku celananya dan melap mukanya.

" Hhh.. " Hinata menghela napas lelah, ia pun menatap dirinya dalam pantulan cermin.

" Siapa kamu? " tanya pantulan tersebut ketus.

" H-Hyuuga H-Hinata.. "

" Kenapa kau gagap? Bukannya Hyuuga tidak di ajarkan untuk gagap? " ejek pantulan tersebut.

" I-i-ini keturunan.. " Hinata memainkan kedua jari telunjuknya, " D-dari ibu ku.. "

" Khe, pantas saja Sasuke membenci mu karena kau gagap.. "

Hinata mendongak, manatap pantulan dirinya tak percaya. " A-apa m-maksud mu? "

" Hyuuga Hinata, kau tahu kenapa Uchiha Sasuke mengejekmu? "

Hinata menggeleng, " T-tidak "

Pantulan tersebut menyeringai, ia pun melipat kedua tangannya di dada. " Seorang Hyuuga tidak boleh gagap, karena kau gagap kau dianggap lemah olehnya! "

" A-aku t-tidak lemah! "

" Tapi kau gagap " sela pantulan tersebut, ia menatap dingin Hinata yang berhasil membuat Hinata sedikit ketakutan. Hinata pun menggelengkan kepalanya kuat, ia kembali membasuh wajahnya dan melap mukanya kasar, setelah itu ia menengadah menatap pantulan dirinya yang sudah kembali normal.

Hinata kembali menghela napas, setelah itu ia meletakkan sapu tangannya dalam tasnya dan pergi. Hinata menutup pintu toilet lesu, ia pun berbalik namun matanya kali ini membulat lagi kala melihat seorang pemuda tengah menyandarkan tubuhnya sambil menatapnya tajam.

Tanpa sadar, Hinata mengeratkan pegangan pada tasnya seraya menunduk.

Pemuda tersebut menegakkan badannya, " Kau berhutang maaf padaku " ucap pemuda tersebut ketus.

" K-kenapa harus aku y-yang m-meminta maaf? " tanya Hinata tak terima, ia kembali menunduk kala Sasuke menatapnya lebih tajam dan dingin.

" Oke, kali ini kau lolos. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu.. " Sasuke mengambil sebuah rokok dalam saku celananya, Hinata yang melihatnya langsung menyambar rokok yang sudah terselip di bibir tipis Sasuke. " Hey! "

" J-jika kau ingin berbicara d-dengan ku, ha-harap ikuti t-t-tindakan ku! " perintah Hinata.

Sasuke mendecih, " Sampai mati pun aku tak sudi diperintah pleh mu "

Hinata membuang puting rokok tersebut di tempat sampah terdekatnya, " K-kalau begitu sa-saya permisi. " Hinata hendak saja kabur dari tempat situ, namun dengan cepat Sasuke menarik lengan Hinata membuat langkah gadis tersebut berhenti.

" Oke, aku turuti " ucap Sasuke terpaksa, ia pun melepaskan pegangannya pada lengan Hinata kala dirasa gadis di hadapannya tak akan kabur lagi.

" Ja-jadi, a-a-ada apa? " tanya Hinata langsung, ia ingin segera pulang dan menanyai Hanabi tentang keberadaan Gaara.

Sasuke tampak menghela napas, ia mengeluarkan handphone pintarnya, memencet beberapa tombol lalu menyodorkannya pada Hinata. Hinata yang tak tahu apa-apa hanya menyerngit bingung.

" Itu pacarku " ucap Sasuke, Hinata yang mendengarnya hanya ber-oh- ria saja. " Namanya Haruno Sakura, kami sudah berhubungan lebih dari 3 tahun " Sasuke mengambil kembali handphone-nya saat Hinata mengembalikannya kepada Sasuke.

" Lantas, a-ada hubungan a-apa dengan ku? " tanya Hinata tak mengerti, jujur ia tak pernah – dan selamanya – tak ingin tahu dengan siapa dan berapa lama Sasuke berpacaran. Sasuke saja tak peduli dengannya, mengapa ia harus peduli?

" Aku ingin kita bersandiwara " Sasuke menyadarkan tubuhnya pada dinding, " Kau hanya perlu menjadi istri yang baik saat berhadapan dengan kedua orang tua kita " Sasuke menyilang kan kedua tangannya dan menatap objek didepan lurus.

" Apa maksudmu? "

Sasuke melirik sekilas Hinata, " Aku akan membayarmu lebih jika kau menjalankan aktingmu dengan baik. " ucap Sasuke enteng.

Hinata membulatkan matanya, sepertinya ia mengerti dengan awal tujuan Sasuke. " Kau akan membayarku jika aku bisa berakting menjadi istrimu dengan baik? " tanya Hinata mengulangi perkataan Sasuke.

Sasuke mengangguk, " Kau katakan saja apa yang kau minta, dan aku pasti akan memberikannya toh duitku tak akan habis hanya karena membayarmu. " Sasuke menegakkan badannya dan menghadap Hinata yang saat ini tengah menunduk. " Mudahkan? Nanti setelah menikah kita akan pisah kamar. Jadi, aku bisa leluasa membawa perempuan atau pacarku kekamar. " Sasuke menyeringai membayangkannya.

Hinata mengepalkan kedua tangannya, " Lalu, kau akan membiarkan ku bila aku membawa seorang pria ke kamar ku? " tanya Hinata dengan intonasi datar.

" Mungkin tidak, karena nanti suatu saat aku akan membayar mu untuk melayani ku. Aku tak pernah suka mainanku disentuh orang lain.. "

Hinata membulatkan matanya, " Selain bersandiwara kau akan membayarku lebih jika bisa memberimu kepuasan dan kenikmatan tiada tara dari tubuhku sendiri? " tanya Hinata tak percaya, kali ini nadanya sedikit meninggi.

Sasuke menyeringai mendengarnya, ia pun mengurung Hinata dengan kedua tangannya. " Ya, kau tahu setelah melihatmu memakai baju pengantin semalam aku selalu berpikir bagaimana bentuk lekuk tubuh mu tanpa sehelai benang pun " Sasuke mendekatkan wajahnya, " Kau semalam sedikit sexy saat sedang meledak-ledak, sayangnya aku tak terlalu menikmatinya karena kau menghina ku. " bisik Sasuke tepat disebelah cuping telinga Hinata, tak ada reaksi dari Hinata membuat seringainya semakin melebar, ia pun menjilat cuping telinga Hinata dengan sensual.

.

Badan Hinata bergetar hebat, ia pun menengadah, membuat dagu Sasuke terbentur dengan keras. Sasuke sempat memakinya namun ia tak peduli, saat ini emosinya kembali meledak dan menguasai dirinya.

Dengan sekuap tenaga yang entah datang dari mana Hinata membalikkan posisi, menjadi Sasuke menghimpit dinding dan ia yang mengunci pergerakan Sasuke.

" Kau tahu Uchiha Sasuke, ini sudah kedua kalinya kau menginjak harga diriku secara tidak sopan! " desis Hinata, ia menatap tajam kedua onyx Sasuke.

" Hoo, jangan marah dong sayang~ aku cuman bercanda " goda Sasuke, ia mengangkat dagu Hinata namun ditepis kasar oleh Hinata. " Jauhkan tanganmu dari ku.. "

" Jual mahal nih sekarang? " goda Sasuke lagi, ia menyeringai kala muka Hinata sudah merah total karena marah.

" Kau tahu Sasuke, saat mengetahui kau adalah sahabat Gaara aku tak bisa mengerti. Kenapa Gaara mau-maunya bersahabat dengan orang bejat dan mesum sepertimu.. " ucap Hinata dingin.

" Kau tahu Gaara?... Oh aku tahu, kau kan kekasihnya yang cengeng dan lemah itu.. " awalnya Sasuke kaget, namun saat mengingat Gaara pernah bercerita bahwa ia memiliki kekasih sekarang ia baru tahu bahwa kekasih Gaara selama ini adalah Hinata.

" Cih.. itu bukan urusanmu! " desis Hinata kesal, ia menarik kerah baju Sasuke. " Dengar Uchiha Sasuke, aku menerima perjodohan ini karena kupikir aku bisa berguna dimata ayahku walau aku tak tahu bahwa aku akan berhasil membangun sebuah keluarga bahagia dengamu.. " Hinata menghirup napas dalam.

" Aku menerima segela resiko asal aku bisa membahagiakan ayahku walau satu-satunya cara menyerahkan diriku kepadamu.. " Hinata mengalihkan tatapannya kelain, " Setidaknya dengan begini aku bisa berguna bagi keluarga Hyuuga " Hinata menatap Sasuke lagi, kali ini lebih tajam. " Tetapi, tidak pernah terpikirkan dariku untuk menjual diriku sendiri seperti wanita pelacur jalanan! Setidaknya aku masih punya harga diri dan seorang Hyuuga tak pernah menyerah dengan cara rendahan dan menjijik-kan seperti itu! "

" Kau beraninya hanya berucap eh, Hyuuga Hinata.. " sela Sasuke, Hinata yang tak terima menatap Sasuke tajam yang tentu saja tak berpengaruh bagi Sasuke. " Bagiku, kau sama saja seperti wanita lain yang datang kepada ku hanya karena aku kaya " Sasuke tertawa sinis. " Kau menerima pernikahan ini karena menginginkan hartaku kan? Jujur saja saat aku bilang 'akan membayarmu' kau tertarik bukan? "

" DEMI KAMI-SAMA, AKU HYUUGA HINATA TAK PERNAH SEKALIPUN TERTARIK DENGAN HARTAMU ATAUPUN SEGALA SESUATU YANG KAU PUNYA UCHIHA SASUKE! " bentak Hinata kesal, nafasnya nampak memburu setelah membentak Sasuke keras. Hinata hendak saja menampar pipi mulus Sasuke, namun urun dan ia hanya mengepalkan tangannya yang tadi sempat bergantung diudara.

Setelah menenangkan emosi dan deru nafasnya, Hinata berbalik mengambil tasnya yang tergeletak begitu saja. " Sudah cukup, aku tolak tawaranmu itu. Aku permisi Uchiha-san " setelah itu Hinata bergegas pergi meninggalkan Sasuke seorang diri yang awalnya tengah tertegun dengan ucapan Hinata tadi, namun detik selajutnya Sasuke menyeringai menatap punggung mungil Hinata.

" Kita coba saja Hyuuga, kau pasti terjebak sendiri oleh ucapanmu itu " ucap Sasuke sinis, setelah itu ia pun berbalik pergi dengan arah berlawanan dari Hinata.

.

.

.

" Jadi begitu, Hinata-chan sudah melihatnya ya.. " ucap Naruto lirih, ia memandang kedua Hyuuga yang ada dihadapannya secara bergantian.

" Ya, ini semua salahku.. Maaf.. " sesal Hanabi, ia menunduk membunyikan raut wajahnya yang sendu.

Neji menepuk kepala adik bungsu kesayangannya pelan, ia tersenyum singkat saat Hanabi menatapnya. " Apapun yang sudah terjadi, biarlah. Pasti ini semua akan terjadi Naruto " ucap Neji setelah mengalihkan pandangannya dari Hanabi.

Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, " Yah, dan juga kita harus bertindak. Karena Hinata sebentar lagi akan menikah dengan Teme.. "

Neji mengangguk, " Tapi, dengan begini kita bisa dengan leluasa mencari informasi tentang OniOno. Tapi sebelumnya kita harus memberitahukan hal ini dengan Hinata " jelas Neji yang disetujui dengan anggukan oleh Hanabi dan Naruto.

" Secepatnya, agar Sasuke dkk tak menghasut Hinata untuk bergabung dengan kelompok mereka. " tambah Hanabi, sepertinya sekarang ia mulai tenang tentang kakaknya.

Terdengar suara deru mesin mobil, Hanabi berdiri untuk sekedar melihat keluar. " Nee-chan pulang.. " bisik hanabi.

Setelah itu terdengar suara lembut seseorang, " Tadaima.. " Hinata yang kebetulan sedang melewati ruang keluarga langsung disambut hangat dengan Naruto. " Okaerinasai, Hinata-chan! " balas Naruto semangat, ia nyengir sendiri saat tahu pipi Hinata bersemu merah karenanya.

" Nee-chan sudah pulang? " tanya Hanabi dari dalam, ia pun berjalan mendekati Hinata yang saat ini tengah menatapnya ragu.

" U-umh.. y-ya.. Maksudku, ya aku sedikit lelah hari ini.. " jawab Hinata kikuk, ia bisa melihat raut kekhawatiran enam bola mata yang sedang memandanginya.

Neji yang sedari duduk diam berdiri dan menghampiri Hinata, ia punggung tangannya dikening Hinata. " Hn, sedikit hangat " guman Neji tanpa sadar.

" A-ano.. Hanabi, Neji, a-aku i-i-ingin tahu.. tentang.. yah k-kalian tahukan? " Hinata mengucapkan hal itu sambil menunduk dan memainkan kedua jarinya. Beberapa dari rambutnya yang ia ubah menjadi bergelombang ikut turun kebawah.

Hanabi menatap kakaknya, seakan meminta persetujuan secara tak langsung dari Neji. Neji hanya menghela napas lalu menyuruh Hinata untuk masuk kedalam. Dan sekarang, disinilah Hinata, bersama ketiga orang lainnya yang sudah duluan menempati meja berkaki rendah seraya melipat kaki.

" Apa kau yakin tidak memanggil yang lainnya? Maksudku untuk membuat Hinata yakin.. " ucap Naruto mengingati Neji sebelum memulai sebuah pengakuan yang berpengaruh besar bagi kehidupan Hinata.

Neji memijat pelipisnya, " Tapi aku tak yakin mereka tak akan ribut.. " keluh Neji.

Naruto mengerucutkan bibirnya, " Ayolah~ sudah lama kita tidak berkumpul.. " rengek Naruto.

" Baiklah, Hanabi panggil semuanya untuk segera kemari.. " perintah Neji yang dijawab anggukan oleh Hanabi.

Hanabi pun menghampiri laptopnya yang berada di meja lain, ia mulai mengetikkan sesuatu pada laptopnya sebelum terdengar nada tunggu dari laptop tersebut.

" Ya? " jawab seseorang disana serempak, sepertinya Hanabi memanggil langsung beberapa orang dalam satu panggil.

" Aniki menyuruh kalian semua kesini, rahasia Panda Merah sudah diketahui oleh Yin " ucap Hanabi dengan menggunakan mic yang entah dari mana.

" Benarkah? Kenapa bisa secepat ini? " kali ini yang menjawab adalah suara perempuan.

" Sudah aku duga, cepat atau lambat pasti Yin akan mengetahuinya " kali ini suara laki-laki.

" Kita bahas nanti saja, sekarang cepat datang kesini, Markas 1 " perintah Hanabi yang dijawab serempat oleh beberapa orang sebrang sana. Setelah itu Hanabi menekan tombol enter dan semua panggilan terputus.

Hinata yang melihat adik perempuannya begitu cerdik dalam mengenakan laptopnya tadi hanya bisa melongo. Ia tak percaya, bahwa adiknya lebih pintar dari pada dirinya, dan ini membuat Hinata menundukkan kepalanya sedih.

Tak berapa lama kemudian, terdengar sebuah deru motor dan mobil.. ? Hinata berdiri, mengamati halaman rumahnya yang saat ini sudah terdapati banyak orang didepan.

" Biar aku saja yang membuka. " sergah Neji saat Hanabi hendak membukakan pintu untuk para rekan mereka.

" Nee-chan.. sini.. " Hanabi menepuk pelan bantal duduk yang berada disampingnya, menyuruh Hinata untuk duduk disebelahnya.

Hinata pun menurutinya, dan ia pun duduk dekat dengan adiknya, Hanabi.

Suara derap langkah terdengar mendekat, setelah itu Neji datang dengan beberapa orang yang mengikutinya dari belakang. Yang pertama kali masuk adalah seorang perempuan dengan rambut dicepol dua, dari tampangnya sepertinya orang tersebut ramah buktinya begitu ia mengetahui bahwa Hinata tengah menatapnya, ia tersenyum lembut dan langsung dibalas dengan senyuman canggung oleh Hinata.

Setelah perempuan bercepol, kali ini muncul lagi seorang perempuan yang rambutnya senada warnanya dengan perempuan sebelumnya. Tapi, yang ini rambutnya pendek sebahu dan terkesan sedikit datar. Ia bahkan tak membalas senyum Hinata saat mengetahui Hinata tengah tersenyum kepadanya.

Yang ketiga adalah dua orang pemuda yang tampangnya bertolak belakang, pemuda berambut coklat jabrik tersenyum ramah kepada Hinata persis seperti Naruto. Hanya saja, pemuda tersebuk memiliki tato dikedua pipinya. Dan lelaki yang disamping pemuda bertato tersebut tampak berkesan dingin. Ia mengenakan kacamata hitam dan memakai jaket yang memiliki kerah keatas, sehingga dapat menutupi setengah wajah dirinya.

Setelah kedua pemuda itu masuk, terdapat lagi seorang perempuan yang mirip dengannya dan disampingnya terdapat seorang lelaki beralis tebal. Mereka berdua tersenyum lebar kearah Hinata, membuat mau tak mau pipi Hinata merona dan membalas mereka dengan senyuman lembut.

Setelah itu terdapat dua pemuda lagi tapi kali ini mereka berbeda badan. Yang satu berbadan gendut dan tersenyum ramah terhadap Hinata dan yang satu lagi seorang pemuda berambut hitam diikat keatas tengah menatap Hinata malas. Lalu, dibelakang mereka terdapat seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Hanabi nyengir tanpa dosa terhadap Hinata. Anak laki-laki tersebut memakai topi baseball.

Dan yang terakhir, sukses membuat iris amethyst Hinata membulat sempurna. " Temari-nee? Kankuro-nii? " panggil Hinata tak percaya, sedangkan yang dipanggil hanya tersenyum lemah terhadap Hinata.

" Ceritanya panjang, Hinata.. " ucap Temari lembut, seakan bisa menebak pikiran Hinata.

Neji memandang semua rekan-nya secara bergantian. Lalu, ia berdehem membuat seluruh perhatian terpusat kepadanya. " Apa ada yang belum datang? " tanya Neji entah kepada siapa.

" Para Sensei? " tanya pemuda bertato tersebut.

" Mereka percaya dengan kita semua, mereka yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik " jawab Hanabi, ia pun menoleh kearah Hinata, menatap kakaknya cemas. " Nee-chan, apa kau sudah siap? "

Hinata terdiam, ia menatap anggota asing yang ada di sekitarnya. Ia pun memandang kakaknya yang sedang duduk disamping kirinya, meminta bantuan.

" Hinata ingin kalian memperkenalkan diri, ia merasa sedikit.. yah kalian tahulah.. " ucap Neji mewakili Hinata yang saat ini tengah menatap ragu terhadap orang-orang asing melalui poni tebalnya.

Perempuan yang mirip dengan Hinata tersenyum lebar kearah Hinata, " Jangan khawatir Hinata-chan, mulai sekarang kita teman " ucap gadis tersebut, rambutnya yang blonde sedikit bergerak pelan kala ia memeringkan kepalanya sedikit seraya tersenyum lebar.

Hinata menatap perempuan yang mirip dengannya tersebut beberapa saat, setelah itu ia membalas senyum gadis tersebut dengan senyum termanis yang ia bisa. Semua orang yang berada diruangan tersebut terpana dengan senyum manis Hinata.

Hinata yang menyadari menjadi pusat perhatian kembali menunduk dengan wajah yang sudah memerah.

" Gaara memang tidak salah memilih cewek " timpal seorang pemuda beralis tebal.

" Aku tak menyangka seorang pemuda yang dingin seperti dia memiliki cewek selembut Hinata-chan " ucap seorang pemuda berbadan subur.

" Hei, kembali ke topik awal! " seru Hanabi yang berhasil membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut diam.

" Oke, mulai dari aku dulu. Namaku RockLee! Salam kenal Hinata-chan! " ucap pemuda beralis tebal tersebu semangat. Ia menunjukkan deretan giginya yang putih.

" Aku Shion, salam kenal Hinata-chan~! " ucap perempuan yang mirip dengan Hinata tersebut.

" Aburame Shino " ucap pemuda berkacamata tersebut singkat.

" Inuzuka Kiba, semoga kita bisa jadi rekan yang baik ya Hinata-chan! " ucap pemuda bertato.

" Konohamaru, teman sekampus Hanabi-chan. Salam kenal Hinata-neechan! " ucap pemuda bertopi tersebut seraya nyengir kearah Hanabi dan Hinata.

" Shikamaru Nara, salam kenal " ucap pemuda berambut nanas tersebut malas. Dan wajahnya serasa tak familiar lagi bagi Hinata.

" Akiyama Chouji! Salam kenal Hinata-chan! " sapa pemuda berbadan subur tersebut akrab.

" TenTen, salam kenal Hinata-chan " ucap wanita berambut cepol ramah, dari semua yang ada ia terlihat paling dewasa sendiri disini.

" Matsuri, salam kenal Hinata-neechan.. " sapa perempuan berambut coklat sepundak tersebut acuh. Dan, perempuan tersebut gratis dapat senggolan siku dari TenTen.

" Sabaku no Kankuro, semoga kita dapat bekerja sama Hinata-chan.. " ucap pemuda berambut coklat jabrik seraya tersenyum kearah Hinata.

" Sabaku no Temari, entah kenapa ini mengingatkan ku tentang pertemuan kita pertama Hinata-chan.. " gurau Temari, ia tertawa pelan, anggun sekali.

Setelah semuanya sudah memperkenalkan diri masing-masing, Naruto pun menyenggol Neji.

" Neji.. bisa kita mulai? " tanya Naruto tak sabaran, dan Neji pun hanya bisa mengangguk.

Naruto pun menghela napas, ia menatap Hinata sekilas sebelum memulai sebuah cerita yang terjadi sebenarnya dan akan membawa Hinata kedalam kehidupan malam yang sesungguhnya.

" Kejadian ini terjadi 6 tahun yang lalu.. "

.

.

.

TBC

.

.

A/ N : hehehe *nyengir sambil garuk-garuk kepala* gomen-gomen-gomen Yui telat update ini cerita. Habis, di sekolah Yui ada kegiatan lomba 17 Agustusan gitu~ aneh banget kan?Yui juga merasa sekolah Yui itu aneh, ngerayai pas orang lagi dag-dig-dug menunggu pembagian rapot. Oke-oke sudah curcolnya ah..

ATTENTION : Hinata disini berumur 22 tahun, Neji berumur 25 tahun, dan Hanabi berumur 20 tahun. Dan mengenai masalah menghilangnya Gaara akan diceritakan next chapter. Dan, oh.. mulai next chapter selanjutnyasampai seterusnya fic ini akan berubah genre yang tadinya romance menjadi action dan romance-nya mungkin muncul tapi hanya sedikit. Dan, saya mohon maaf bila di fic saya terdapat kata-kata kasar dan tak mengenakkan hati untuk dibaca. Sekali lagi, maafkan saya. Tapi, menurut saya tanpa kata-kata seperti tersebut, fic ini tidak akan berasa karena fic yang saya buat mengikuti zaman sekarang bukan di zaman Naruto yang ada di anime pada umumnya.

Sekali lagi, maafkan Yui bila ada salah kata,tutur,dan maafkan saya bila fic ini hancur,berantakan,dan membosankan. Sesungguhnya, Yui hanya manusia biasa yang bisa memiliki kesalahan dan kekurangan. Dan, saya disini newbie dan saya berusaha sekeras mungkin untuk bisa menjadi author yang baik seperti para senpai-senpai yang sudah lama menetap di Fanfiction World. Untuk para sensei atau para senpai, mohon bantuannya dan tolong maafkan saya bila ada kesalahan. Arigatou Gonzaimasu..

Reply Review's :

Aden L kazt : Terimakasih banyak. Yah, itusih memang author buat gagapnya hilang bila marah. Orang marah biasanya lupa situasi, sama seperti Hinata yang biasanya gagap menjadi tidak. Neji? Oh baca aja di chap 3 ini hehe.. Pernikahannya? Hmm.. Mungkin di chap 4-5-6, yah liat aja dulu alurnya. Terimakasih banyak sudah mau meninggalkan jejak dan sudah mau membaca fic saya.

Mitsuki Ota : Gomenasai,untuk yang di bold itu kata-kata asing yang jarang disebutkan kecuali kata kasar Yui tidak pernah nge-italic atau nge-bold. Orang marah biasanya sedikit OOC, coba lihat deh bila orang marah kadang ngomongnya bisa kemana-mana. Waktu bikin fic ini, teman saya lagi marah-marah dan marahnya itu sedikit OOC dan ngelantur dan jadilah ide untuk ngebuat Hinata dan Sasuke seperti itu hehe. Benarkah? Terimakasih. Masalah Gaara masih misteri, tapi di chap 3 sudah di jelasin kan? Ehehe.. kalau itu sih ikut saja alur ceritanya, Yui ga bisa janji ga ngebuat Hinata ga cinta sama Sasuke.

Ryuka Kagare : Benarkah? Sebenarnya sifat Hinata yang ada di fic ini sedikit sama dengan sifat Author. Pendiam,pemalu,keras kepala, dan tidak suka menyebar-nyebarkan privasi sendiri. Sayangnya, Yui bukan orang penyabar seperti Hinata *eh kok curcol* Benarkah? Terima kasih! Syukurlah ada yang suka dengan fic ini~

.9 : Terimakasih banyak!

Dreamer Ladies : Hehe, maaf masalah update Yui ga bisa janji untuk cepet-cepet. Tapi, akan Yui usahakan! Yosh! Terimakasih jejeaknya~

Greynindykawaii : wahh.. oke, tapi Author ga janji ya~ Silahkan..

Alice9miwa : Gaara masih misteri~. Ehm, maksud dari kata " Kau seperti gadis jalang labil yang dendam kekasihnya meninggalkannya " itu maksudnya Hinata, Sasuke itu seperti anak gadis labil yang biasanya suka ngatur dan ngatai orang sembarangan sebagai pelampiasan karena habis diputusin pacar. Untuk kata jalang, itu sengaja Yui masukin untuk ngebuat kata-kata Hinata sedikit kasar. Gaara ga ninggalin Hinata ko, alasannya nanti ada di chapter selanjutnya tunggu aja ya..

Maito takeru : okey~ arigatou gonzaimasu!

Koko : okeee! Arigatouuu!

Mizuhashi yumi : benarkah? Tetapi setelah membaca lebih lanjut Yui gak yakin Mizuhashi-san bakal suka atau enggak perjodohan seperti ini. Untuk itu silahkan baca di ATTENTION oke?

GoldWins : Terimakasih banyaaak! Dimana Gaara? Oho masih misteri~. Reaksinya? Mungkin shock atau mungkin biasa saja. Tekanan batin, ohoho tenang saja nanti di fic untuk selanjutnya genrenya berubah menjadi action dan itu pasti ada salah satu chap yang bikin Sasuke tertekan batin.

Suka snsd : hoo, begitukah? Gomenasai bila ceritanya selalu keluar dari inti. Yui benar-benar gak sadar, oke Yui akan usahakan untuk tetap berada di jalur inti. Terimakasih sarannya, sekali lagi gomenasai dan arigatou gonzaimasu sudah meninggalkan jejak,saran, dan mau membaca fic Yui.

Benarkah? Ehehe, berarti ide ngebuat Hinata ga sia-sia. Justru itu, seharusnya Yui minta maaf karena ficnya kurang memuaskan. Saya newbie, jadi mohon bimbingannya. Terimakasih ya sarannyaa datang lagi~ (?)

Ika chan : hehe, arigatou gonzaimasu!

Briesies : Pasti, benarkah? Hoo syukurlah bila anda puas dengan fic yang saya buat. Terima kasih banyak ya..

Ore : Oke sabar Ore-san.. terimakasih sudah mau membaca!

Stella : Author tidak bisa janji, soalnya di kehidupan nyata author juga jadwalnya padat banget. Maaf bila tak cepat selesai, gomenasai.