Aku tertegun saat melihat sosokmu yang terlahir di hadapanku.

Tidak tepat dihadapanku, namun aku merasa kau seakan dapat kusentuh saat ini juga

Kau sama sekali tak mirip dengan wanita itu! Itu membuatku yakin kau adalah bagian dari 'kami'.

Dan saat mata sapphiremu terbuka…

Aku merasa tenggelam dalam samudra dan tak akan bisa lagi menemukan permukaan.

Kau telah memesonaku, memerangkapku dalam kegilaan yang indah.

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

OC : Mai Uchiha and Hime Haruno

Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina

Warning : Mulai Hari ini FF ini Cuma di publish di tempat Mai Narazaki saja, namun author tetap ganda, Mai dan Hime. Ada OC namun belum muncul di chapter ini…

.

.

.

Seorang pemuda berambut pirang berantakan terlihat tengah berlari menyusuri gang-gang sempit dan kumuh di balik kota metropolitan tempat dia tinggal, Tokyo. Matanya yang berwarna bagaikan samudra tak berdasar itu sesekali menoleh ke belakang, memastikan eksistansi sepasang makhluk kegelapan yang tengah memburunya.

Tangan berwarna kecoklatan itu meraba saku jaket yang dikenakannya, merasa aman karena benda 'itu' masih tertidur lelap di sana dengan amannya.

Sebuah pagar dari batu setinggi satu setengah meter berdiri di hadapannya, memblokade rute yang telah dipilih oleh pemuda dengan tanda lahir tiga garis halus di masing-masing pipinya. Sebuah seringai kecil muncul di bibir merah mudanya bersamaan dengan sepasang taring berwarna putih mengkilat yang menyembul di antara kedua belah kulit tipis itu.

Pemuda bernama Uzumaki Naruto itu mempercepat langkahnya, dan dengan satu hentakan keras dia melambung ke atas. Meloncati pagar itu dengan mudahnya. Namun dia tak dapat berlega hati mengingat dua makhluk kegelapan itupun memiliki kekuatan yang tak dapat dibayangkan oleh manusia normal melebihi kemampuannya.

Dan tampaknya, dewi Fortuna sedang cuti hari ini. Sepuluh meter di balik tembok yang baru dia lompati, Naruto harus kembali berhadapan dengan sebuah tembok lain. Kali ini tembok salah satu sisi gedung pencakar langit.

Sebuah geraman kecil meluncur bebas dari bibir putra Uzumaki Kushina itu. Di hadapan serta kanan kirinya hanya ada tembok gedung-gedung pencakar langit raksasa. Untuk apa manusia membangun jalan yang tak menuju ke manapun?! Itulah inner pemuda cantik ini.

Dia membalikkan tubuhnya, mencoba mencari kesempatan untuk berbalik ke arah jalan yang tadi dipilihnya, namun sial. Di satu-satunya jalan keluar yang dimilikinya, dua sosok makhluk kegelapan itu telah berdiri dengan sebuah senyum dingin tersungging manis di wajah mereka yang sebenarnya dapat dikatakan rupawan.

"Mau pergi kemana, Halfblood?" tanya pemuda berambut pirang panjang dengan manisnya. "Anak nakal harus ditangkap, un."

Naruto mengerang pendek. Dicengkramnya barang di sakunya erat-erat. 'Sial, aku tertangkap.' Batinnya gemas sambil memundurkan langkah kakinya desi ke belakang, hingga dirasakan punggungnya telah menempel pada beton yang keras dan dingin. "Mau apa kalian, vampir…" desisnya mengerikan sambil memamerkan taring sepanjang tiga senti yang menghiasi bibirnya.

"Lucu kau mengatai kami vampir, halfblood. Tak pernahkah kau berkaca melihat taringmu yang sama dengan taring bangsa kami, un?" si pirang itu kembali bicara sambil menunjuk sebuah taring yang sama di bibirnya sendiri. "Pantas Your Majesty menginginkanmu,un. Jarang sekali ada halfblood yang memiliki kekuatan vampir. Jika dijual kau pasti mahal, iya kan Sasori?" tanya si pirang itu pada rekannya yang berambut semerah mawar.

"Kurasa bayaran yang ditawarkan Your Majesty pun sudah cukup tinggi, Dei." Timpalnya dingin.

Naruto menggeram mendengar panggilan keluarga kerajaan yang diucapkan dua vampir di hadapannya itu. "Peduli setan, apa kata Raja kalian! Aku manusia! Ibuku manusia! Jangan sebut aku Halfblood!" teriaknya murka. Ini bukan lagi pertama kalinya Naruto mendengar sebutan 'Your Majesty' dalam kosakata para vampir yang memburunya. Siapa sangka vampir dengan jabatan tertinggi di antara kerajaan vampir memiliki minat yang besar pada dirinya.

Vampir bernama Sasori itu diam saja. Perhatiannya kini lebih tercurah pada sosok halfblood yang diburunya dibandingkan kata-katanya. Bukannya dia tertarik pada tubuh ramping nan indah milik sang pemuda, namun perubahan yang dialami oleh halfblood itulah yang merebut atensinya.

Garis-garis di pipi sang pemuda itu kian berlipat ganda hingga tak dapat lagi dihitung tepat berapa jumlahnya. Kulit berwarna tan indah itu berubah warna menjadi pucat kemerahan, sedangkan mata cerullean cantik itu menjelma dan berubah bentuk menjadi merah darah dengan sebuah pupil tipis di tengahnya, secara keseluruhan mata itu mengingatkan Sasori akan mata rubah yang dulu pernah dihisap olehnya. Tangan dengan jari-jari lentik itupun memanjang dan membesar membentuk sebuah cakar mematikan khas bangsa vampir.

Namun yang paling menarik adalah sebuah aura berwarna merah jingga yang menyelimuti sosok pemuda itu, membentuk bayangan kedua dibalik tubuh aslinya.

"Ne? kau kata halfblood tak dapat bertranformasi, un?" keluh Deidara dengan malasnya.

Sasori hanya mengangguk kecil, "Dia istimewa, Dei. Tidakkah kau lihat aura merahnya itu? Mungkin dia… ah, tidak ini bukan hanya 'mungkin' tapi pasti…"

Mendengar gumaman rekannya Deidara yang mulai penasaran bertanya. "Pasti apa, un?"

"Pantas Your Majesty menginginkannya." Sasori terkekeh kecil mengerti, membuat Deidara semakin bingung karena pertanyaannya yang tak dijawab.

"Brengsek kalian!" teriak Naruto yang mulai merasa diabaikan sambil berlari cepat menyerbu dua orang di hadapannya dengan sabetan cakar yang mematikan. Dia menggeram pendek saat menyadari bahwa detik dimana dia tiba di tempat sepasang vampir itu, telah tak ada satupun makhluk hina itu di sana.

Deidara yang saat ini sudah bertengger vertikal di salah satu dinding gedung hanya bergumam kecil. "Dia lumayan juga rupanya, pantas Zetsu dan Kakuzu tak pernah kembali setelah ditugaskan menangkapnya."

Dia menyiapkan beberapa bom kecil rakitannya, dan mempersiapkan benda itu sementara di sampingnya Sasori mulai mengaktifkan boneka mayat yang sebenarnya merupakan korbannya yang terakhir untuk menyerang halfblood di hadapannya.

Sebuah pertarungan yang mengerikan terjadi. Memaksa Deidara dan Sasori memakai tubuh vampir mereka seutuhnya untuk melawan pemuda yang ternyata kahliannya tak dapat ditebak itu. Hingga akhirnya lautan darah yang telah terbentuk itu menemukan pemenangnya.

Naruto yang terduduk di genangan darah dengan tubuh yang sudah kembali menjadi manusia terpaksa menyerah di bawah ancaman sebuah pisau beracun yang dipasang pada tubuh boneka mayat yang menempel erat di lehernya tanpa melukai pemuda itu.

Naruto meraih benda di saku jaketnya sambil memejamkan mata pasrah. Hanya ada dua kemungkinan untuknya saat ini.

Mati atau ditangkap.

Setidaknya jika dia ditangkap, ada kemungkinan dia masih dapat hidup dan melarikan diri.

Jadi dia memilih pilihan kedua.

-Mai Narazaki & Hime Hoshina-

Sesosok pemuda yang tampak berusia delapan belas tahun berdiri sambil menghisap pelan cairan berwarna merah kental dari gelas cristal di tangannya. Sesosok tubuh wanita tak bernyawa tergeletak kaku di belakangnya dengan darah mengucur cepat dari dua lubang yang tercetak indah di leher pucatnya.

Mata merah dengan tiga titik tomoe hitam yang berputar perlahan milik sang pemuda bersuraikan malam itu menatap intens pemandangan berdarah di bawah gedung yang menjadi singgasananya malam ini.

Dengan natanya yang indah dan unik itu sang pemuda berkulit pucat dapat menilik kejadian itu secara akurat meskipun jarak yang terbentang nyaris 50 meter di bawahnya. Detail-detail kejadian berdarah itu direkamnya kuat-kuat di memori kepanya. Sebuah senyum sadis tersungging di wajahnya saat melihat pemuda bersurai pirang itu jatuh bertekuk lutut di hadapan kedua vampir pemburu itu dengan mata yang berubah kembali menjadi biru samudra.

"Mata sapphire yang indah… namun ruby merah itu, menggoda. Kupastikan kau akan jadi milikku, Naruto." Bisiknya pelan pada langit malam.

-Mai Narazaki & Hime Hoshina-

FLASH BACK (A Human POV)

"Kenapa kita harus melakukan hal bodoh macam ini, Aniki." Dengusku kesal sambil duduk di atas pagar yang membatasi gedung tempat kami melakukan pengintaian saat ini.

Aniki menggeleng padaku. "Ini misi rahasian, ayah mencurigai anak yang akan lahir itu Halfblood." Kembali dia berkata menjelaskan misi ini untuk yang kesejuta kalinya.

"Kalau itu aku sudah tahu, baka-Aniki. Tapi biasanya halfblood ditangani oleh kerajaan, toh biasanya beberapa saat setelah lahir mereka akan dibunuh juga." Kataku sarkasme sambil memperhatikan proses persalinan yang bisa dikatakan membosankan. "Pasti ada sesuatu yang khusus kan, Aniki?" tanyaku pada salah satu dari empat Kesatria kerajaan yang juga merupakan kakakku ini seraya mengorek informasi.

"Em… dia tak akan dibunuh, Your Majesty meminta pasukannya untuk melindungi anak itu tanpa ketara." Jawabnya dengan nada penuh enigma.

Kuputar mataku bosan. "Berarti dia adalah anak dari salah satu bangsawan penting bukan?" tebakku lebih jauh.

Aniki tersenyum lebar. "Kau akan tahu jika melihat rupa anak itu nanti, Otouto."

Aku malas menjawabnya dan memilih untuk mendengarkan suara angin yang berhembus lembut. Hingga kedamaian kurasakan rusak karena suara tangisan keras seorang bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia.

Otomatis aku memalingkan wajahku kembali ke objek semula, di sana aku melihatnya…

Dengan tubuh yang masih berlumurkan darah, rambut pirang pendek dan kulit putih kecoklatan bak karamel. Dia adalah…

Malaikat.

Matanya terbuka, menampilkan mata biru indah yang merupakan persona dari langit musim panas. Aku tercekat…

Nafasku serasa berhenti, seolah-olah aku telah tenggelam dalam lautan tak berdasar atau luar angkasa tak berbatas. Bola mata itu… aku mengenalnya…

-Mai Narazaki & Hime Hoshina-

Pemuda berambut malam itu bangkit berdiri sambil melepaskan gelas kristal yang dipegangnya ke dasar gedung. Secepat kilat dia melompat mendahului gelasnya itu tanpa takut tubuhnya hancur terpelanting saat gravitasi mengikatnya.

Tiga pasang mata langsung terikat pada kehadirannya saat dengan anggun pemuda bermata darah itu mendarat di lantai beton dan menangkap gelas yang dijatuhkannya dengan sempurna walau cairan merah pekat di dalamnya telah berhamburan.

"Siapa kau, un?!" teriak Deidara sambil mengamati pemuda tampan yang baru saja muncul di hadapannya. Tangan yang sudah diubahnya ke wujud manusia kembali memanjang berubah menjadi cakar khas vampir.

Sasori tampaknya lebih bijaksana. Dia langsung mencekal tangan Deidara. "Dia…. Putra Duke Uchiha dari Timur, Lord Sasuke…"

Pemuda pirang di sampingnya tampak sedikit menegang. "Jadi dia… dia adik dari Lord Itachi? Oh sial, harusnya aku sudah sadar dari awal kalau matanya itu sama dengan mata si kriput brengsek itu!" gerutunya pendek sambil mengubah tangannya kembali ke sosok manusia.

Pemuda bernama Sasuke itu melirik sebentar dua vampir di hadapannya. "Sir Deidara Schimdt dan Sir Sasori Byrne. Dua orang knight dari Jerman dan Irlandia. Bukan orang penting." Gumamnya sambil menunjuk masing-masing vampir di hadapannya.

Lalu…

CRASH! CRASH!

Dua buah kepala menggeliding di lantai beton saat benda itu terpisah dari tubuhnya. Darah berwarna hitam pekat mengalir dari luka di leher mereka yang terputus oleh sabetan katana yang dibawa oleh Sasuke.

Naruto yang sejak tadi hanya diam mengamati langsung beringsut mundur, mencoba membuat jarak sejauh mungkin dengan sang Vampir di hadapannya. Dikedipkannya netra sapphir miliknya, dan saat terbuka, pemuda di hadapannya sudah menghilang.

"Di ma…AKH!" belum sempat dia menyelesaikan pertanyaannya, rasa sakit yang menghujam leher belakangnya membuatnya berteriak dan jatuh pingsan seketika.

"Akhirnya aku mendapatkanmu, Naruto."

.

.

.

TBC

Warning!

Istilah:

Duke : Duke merupakan gelar tertinggi dari lima tingkat gelar dalam kebangsawanan Inggris. Gelar ini berasal dari bahasa Latin yaitu 'Dux', yang berarti 'pemimpin', sebuah istilah yang digunakan di Kekaisaran Romawi untuk merujuk kepada seorang komandan militer yang tidak memiliki pangkat resmi (terutama yang berasal dari Jerman atau Celtic), yang kemudian menjadi sebutan bagi pemimpin komandan militer dari sebuah Provinsi di Kekaisaran Romawi.

Knight : gelar kebangsawanan yang diberikan bukan karena hubungan darah, namun karena pengaruh atau jasanya. Gelarnya tingkat terakhir, dipanggil dengan istilah 'Sir'

Your Majesty: Panggilan paling sopan untuk Raja.

.

.

.

Chapter 1 Update, udah lama singkat lgi. Yah… salahkan keterbatasan komunikasi Hime dengan Mai saja. Mulai Chap ini kayaknya bakal Cuma di publish di akunnya Mai Narazaki saja, mengingat ada aturan dari Fanfiction yang nggak boleh publish 2 cerita yang sama persis kan?

OK, jadi maaf kalau di chap sebelumnya masih bingung. Itu rangkuman dari 13 chap yang akan dibuat. Hehehe

Untuk yang review akan dibalas lewat PM oleh Mai Narazaki. Jadi diminta saran dan review untuk kedepannya ya!

Cuap-cuap duo author saat menulis FF ini:

Mai: Genrenya Romance and Mistery?

Hime: Bukannya Western?

Mai: Tapi tokoh utamanya kan dari Jepang?

Hime: bener juga, tapi masa mistery sih? Kayaknya kurang klop sama jalan ceritanya.

Mai: Jadi romance and Tragedy?

Hime: Itu mah maumu sendiri, kan? Pingin buat yang berdarah-darah dan sadis kan?!

Mai : (dalam hati: cih, dia tahu. Memang sejak kapan hime bisa baca pikiran?)

Hime: Aku nggak bisa baca pikiran kok.

Mai: … kau yakin? Aku meragukannya.

Hime: nggak usah dipikirin. Sekarang Genrenya mau apa?

Mai: Eng… Romance and… Fantasy?

Hime: … terserah deh, kalaupun nanti nggak cocok bisa diganti…

Mai: kalau gitu mending Tragedi aja!

Hime: Hei Sadistic girl! Jangan berani buat adegan sadistic bloody di sini, kalau sampai buat… yah, lihat saja apa yang bisa kuperbuat dengan golokku.

Mai: (Dalam hati: sekarang siapa yang sadistic coba? Lagipula… memangnya Hime punya golok?)

.

.

.

OK intinya REVIEW!