Memandang wajahmu tak akan pernah membuatku merasa bosan.

Aku senang menatap kulit indahmu yang terlihat lebih hidup dibandingkan warna kulitku.

Bibirmu yang berwarna kemerahan itu ingin sekali kukecap.

Tulang wajahmu telah membuatmu menjadi sosok yang sempurna, kau bagaikan malaikat yang tak bersayap.

Namun yang paling kusukai adalah….

Sepasang manik Sapphire yang Tuhan pasangkan di kedua belah rongga matamu.

Indah…

Namun akan jauh lebih indah jika sapphire itu telah berubah menjadi rubi.

Itu tak hanya sekedar indah.

Sempurna dan… berbahaya….

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

OC : Mai Uchiha and Hime Haruno

Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina

Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina. Salah seorang OC akan muncul di chap ini.

.

.

.

Perlahan, sepasang kelopak mata berwarna tan itu mulai menampakkan sapphire yang bersemayam di dalamnya. Mata itu mengedip beberapa kali mencoba memfokuskan pemandangan buram yang dilihatnya. "Aku… apa yang terjadi…?" dia melontarkan pertanyaan tanpa ada harapan akan ada yang menjawabnya.

"Hn. Kau sudah bangun rupanya."

Naruto langsung membelalakkan matanya kaget mendengar seseorang membalas pertanyaannya. Walaupun bukan dengan jawaban. Dan betapa kagetnya dia saat menyadari bahwa saat dia tengah berbaring setengah telanjang hanya menggunakan celana pendek hitamnya dengan seseorang yang berbaring miring di sampingnya sambil menatap intens wajah manis yang dimiliki pemuda bernama Uzumaki Naruto itu.

Naruto terkesiap menatap wajah sang pemuda di sampingnya yang dapat dikatakan sangat sempurna. Bagaimana tidak sempurna? Sepasang mata bagaikan onyx legam yang dibalut dengan kelopak mata berwarna seputih salju. Bulu mata yang panjang dan indah membingkainya bersama dengan sepasang alis berwarna gelap yang membusur bagaikan bulan sabit. Tulang wajah sempurna yang bagaikan realisasi patung apollo membentuk wajah indah dengan hidung mancung dan bibir berwarna kemerahan yang mengingatkannya akan buah apel di musim gugur. Warna surai yang sekilas terlihat berwarna raven namun jika diperhatikan sebenarnya berwarna dark blue menambah kesan klasik sang pemuda rupawan.

Naruto pasti akan langsung terpikat padanya andai saja memori otaknya tak mengingatkan akan sosok yang telah membunuh dua orang vampir yang mengincarnya. Pemuda itu begitu mirip… tidak mereka sangat serupa. Begitu identik andai saja raut wajah mematikan dengan sepasang mata berwarna liquid dengan tiga tomoe berwarna malam berputar di sana.

Segera si pirang langsung bangkit dan meloncat turun dari ranjang berwarna putih dengan sulaman biru gelap di sisi-sisinya dan memasang pose bertahan di atas lantai marmer mengkilat yang melandasi bagian bawah kamar mewah itu. "Kau vampir." Desisnya tajam.

"Begitukah sikapmu pada orang yang telah menolongmu dan mengobati luka-lukamu?" jawab sang vampir sambil bangkit dari tempat tidurnya dengan gaya malas.

"Brengsek kau! Lepaskan aku! Jangan kau kurung aku di sini, bastard!" teriak si pirang marah saat menyadari bahwa dia sudah tak mengenakan pakaian luarnya lagi, termasuk jaket orange hitam yang di sakunya terdapat benda pusaka miliknya yang bagi Naruto telah menjadi.

Sang vampir tertawa kecil, "Jangan panggil aku bastard, aku cukup yakin kedua orang tuaku sudah resmi menikah saat membuatku." Katanya tanpa menjawab perkataan Naruto. "Namaku Sasuke. Uchiha Sasuke tepatnya. Aku putra dari Duke of Orientem (1) Kerajaan Sucolavia, atau yang biasa kalian sebut sebagai… Kerajaan Vampir."

Naruto menelan ludah secara paksa, selama bertahun-tahun dia mendalami dunia vampir dia sudah mengenal pembagian strata bangsawan kerajaan Vampir, namun siapa sangka dia sendiri akan berhadapan langsung dengan salah seorang diantaranya. Bahkan salah satu yang paling berkuasa. Dari cerita salah seorang Vampir Hunter yang dikenalnya beberapa tahun lalu (Sebelum sang Hunter mati dihisap darahnya karena pengetahuannya itu) dia sempat mendengar jika Duke of Orientem merupakan Duke dengan kekuasaan kedua terbesar di bawah Raja. Bahkan jika keluarga Raja sudah tak mampu lagi menyumbangkan pewaris berikutnya, putra tertua Duke of Orientem akan menjadi pengganti putra mahkota.

"Kau… apa yang kau inginkan dariku?" kata Naruto sambil mundur teratur ke arah pintu, mencari kemungkinan untuk kabur. Walau ia tahu bahwa kemungkinan itu adalah suatu kemustahilan.

Sasuke bergerak cepat hingga kini dia sudah berada di depan hidung Naruto sambil menyentuh lengannya dengan lembut. "Tak ada yang kuinginkan. Tidak, selain kau."

"Ke…kenapa aku…?"tanya Naruto sambil menatap mata malam di hadapannya, terpesona oleh warnanya yang bagaikan lubang hitam sehingga membuatnya tertarik untuk menjelajahi dan tenggelam dalam gelapnya Netra itu selamanya. "Kenapa aku?"

"Karena kau…"

BRUAK!

Intrupsi yang didapatkan Sasuke atas kata-katanya berasal dari pintu kamar yang terbuka… tepatnya terbanting hingga membuatnya lepas dari engselnya saat menabrak tembok. "KEMBALIKAN PERCOBAANKU! KAU SELALU SAJA MENGAMBIL BARANG-BARANGKU DENGAN SEENAK JIDAT! SEKARANG KEMBALIKAN OBAT PENYEMBUH SEKETIKA MILIKKU YANG KAU AMBIL TANPA PERSETUJUANKU!" suara super keras membuat Sasuke terpaksa mengernyitkan alisnya kesal pada seorang gadis yang berdiri di depan kamarnya.

Naruto menoleh sedikit mencoba melihat siapa orang yang berani membentak putra Duke of Orientem. Matanya mendapatkan gambaran sesosok gadis dengan mata bagaikan amethys indah dan rambut silver sepanjang pantat model twintail dengan kulit berwarna putih pucat mengenakan gaun model gothick selutut berwarna hitam dengan aksen ungu yang indah. Dari wajahnya, Naruto mengira-ngira jika umur gadis itu sekitar lima belas atau enam belas tahun. (Namun seperti yang diketahui semua orang: Belum pernah ada manusia yang dapat menebak usia vampir dengan tepat.) Raut wajah kesal gadis itu segera berbah cerah saat matanya bersibobrok dengan mata Sapphire Naruto.

"Ah! Kenapa tak bilang kalau kau bawa makan malam?" katanya ceria, dengan sekejab dia sudah berada di belakang Naruto. "Kebetulan sekali aku belum makan beberapa hari ini."tambahnya sambil memebelai leher Naruto membuat pemuda itu merasa ketakutan. Dia mengeluarkan taringnya sambil mengamati denyut nadi pemuda karamel di hadapannya. "Kalau begitu selamat makan!"

Naruto memejamkan mata saking takutnya. Kini dia dihimpit oleh dua orang vampir, dan dia yakin tak ada kemungkinan untuk dia hidup lagi.

'Kaasan! Maafkan aku karena belum sempat membalaskan dendam Kaasan…' doanya dalam Hati.

"Berhenti, Mai. Dia bukan makan malam." Tegur Sasuke sambil menabrakkan jari tengah dan telunjuknya ke dahi gadis yang dipanggilnya Mai itu, sehingga membuat sang gadis mundur beberapa langkah sambil memegangi dahinya. "Dia milikku, namun dia tak akan kunikmati."

"Ne? Sasu-nii kejam sekali! Bahkan kau tak mau membaginya untukku!" protes sang gadis sambil memasang wajah cemberut.

"Sudah kubilang dia bukan untuk dihisap kan, baka imouto!" tandas Sasuke sambil meraih sebuah botol berisikan cairan berwarna hijau bening dan melemparnya dengan akurat ke arah gadis itu. "Ini yang kau cari kan? Sekarang pergi."

Sang gadis memperhatikan cairan yang isinya tinggal separuh. "Kau dingin sekali, Sasu-nii. Pantas saja banyak yang menjulukimu Lord of Ice." Gumamnya sambil berlalu dan menutup pintu kamar dengan serapat yang dia bisa, mengingat pintu itu sudah terlepas dari engselnya.

"Si…siapa dia?" tanya Naruto sambil mengelus lehernya dengan tangan gemetaran.

"Adikku."

"Hah?" katanya tak percaya, "Kalian tak mirip…"

Sasuke mengacak surai pirang itu sebentar. "Kau hanya belum tahu saja. Namun aku yakin sebentar lagi kau akan tahu lebih banyak, Naruto." Katanya lembut. "Istirahatlah. Tubuhmu memerlukan banyak sekali istirahat setelah dipaksa menyembuhkan seluruh lukamu."

Naruto mengangguk lemah. Ya, dia memang lelah. Semua kejadian ini membuatnya pusing, dibaringkannya tubuh tan itu di kasur berwarna putih yang sebelumnya telah ditempatinya. Dia memejamkan matanya perlahan. Namun satu hal yang harus dikatakannya dulu pada sang vampir sebelum kesadarannya pergi ke alam mimpi… "Terimakasih karena telah menyelamatkanku dan mengobati lukaku…. Sasuke…"

Vampir itu tersenyum mendengarnya, dibelai pelan pipi dengan tanda lahir tiga cakaran itu. "Kau memang cantik, Naruto Uzumaki. Kupastikan kau akan segera menjadi bagian dari kami seutuhnya. Dan menjadi pengantinku."

.

.

.

Seorang gadis duduk jongkok di samping pintu kamar yang terbuat dari kayu jati kualitas terbaik yang telah dirusakkannya beberapa kali. Sebelah tangannya tampak menarik-narik rok hitam berlapiskan renda yang dikenakannya dengan tak sabar sambil sesekali menoleh sedikit pada pintu yang bahkan bergemingpun tidak. Wajahnya terlihat serius, terbukti dengan manik amethys yang tampak menyipit dan rayt muka yang tegang.

Sebuah senyum dingin tersungging di wajahnya saat melihat sesosok pemuda yang mengenakan jas hitam gelap keluar ruangan itu dengan wajah datar. "Sasu-nii, aku sudah menunggumu, lho." Sapanya dengan nada riang yang terdengar dibuat-buat.

"Hn. Sudah kuduga." Jawab sang pemuda sambil berpura-pura tidak peduli.

"Um, jangan begitu dong, Sasu-nii. Kita kan saudara." Katanya dengan nada manis yang dibalas dengan pandangan katakan-saja-apa-yang-kau-mau dari manik obsidian kakaknya. "Baiklah. Aku tak akan bertele-tele." Katanya menyerah sambil mengangkat kedua tangannya setinggi bahu. "Hm… Sasu-nii, dia… bukan manusia biasa kan? Bau darahnya berbeda. Lebih harum. Mirip dengan bangsa kita. Jangan-jangan dia…"

"Hidung yang bagus, Mai Uchiha. Kau bahkan belum mencium darahnya secara langsung, namun kau sudah dapat menyimpulkan dengan baik."

"Oh, jadi benar dia Half Blood." Ujar sang gadis sambil tersenyum puas. "Tapi jangan kira aku Cuma tahu hal itu saja lho, Sasu-nii. Bau darahnya khas. Campuran bau manusia dan bau keluarga 'itu'. Jangan-jangan karena alasan itu ya kau mengambilnya." Terka sang gadis.

"Aku hanya tak mau Raja pembelot itu mendapatkannya." Tukas Sasuke sambil mengambil katana yang diletakkannya di pinggang. "Orang yang sudah membuang bangsa dan kerajaannya sendiri tak pantas mendapatkan malaikat. Kau tahu itu kan, Mai?"

"Yeah, kau benar." Jawab Sang gadis sambil berjalan memimpin kakaknya menuju jendela yang cukup besar di ujung lorong gelap tempat mereka berada. "Ngomong-ngomong soal Your Majesty, kemarin pasukan kerajaan berhasil meringkusnya di hutan Myasnoy Bor (2) di wilayah Aquilonem (3). Dan kabarnya dia sudah mati, meledakkan diri."

Sasuke mengangguk paham. "Apa itu ada hubungannya dengan misi yang diberikan pada kita?"

"Yeah. Kita diminta menyelidiki TKP kejadian itu." Kata Mai sambil menyambar sebuah jaket tebal berwarna hitam gelap dari dua buah jaket yang telah diletakkannya di dekat jendela yang terbuka lebar. "Lady Sakura dan Lady Hime, putri Lord of Occidens (4) sedang melakukan… eng… penyatuan kembali jasad yang hancur itu. Harus kuakui nyali mereka besar juga. Kalau aku pasti akan langsung muntah-muntah jika melihatnya. Hasil penyelidikannya akan dikabarkan pada kita beberapa jam lagi."

Sasuke mengambil jaket yang sama tebalnya dari tangan adiknya. Lalu mengenakannya. "Kita pergi."

Mai tersenyum puas mendengar keputusan kakaknya, "Bersiap-siaplah, Sasu-nii. Tampaknya tangan-tangan Yuki Onna (5) di sana cukup kuat juga."

.

.

.

DREAM (Naruto POV)

Aku menatap cermin di kamarku yang memantulkan warna merah menyala dari mataku. Aku tersentak, kulangkahkan kakiku mundur karena ketakutan. Tidak mungkin! Mataku berwarna biru! Bukan merah! Kuteriakkan kata-kata itu berulang kali, namun tampaknya cermin mengatakan sebaliknya. Aku mengerang ketakutan. Kenapa setiap kali aku marah warna mataku selalu berubah? Kenapa? Tanyaku dalam hati.

Kulihat pintu kamar menjeblak terbuka. Seorang wanita berambut merah panjang berdiri di sana dengan wajah ketakutan. "Naruto?" tanyanya tak percaya sambil menghambur memelukku. "Sejak kapan ini terjadi?!" katanya histeris sambil mengguncang-guncang pundakku cepat. "Katakan pada Kaasan, Naruto! Katakan!"

Air mataku mulai jatuh. "Aku tak tahu, Kaasan… tapi… setiap aku marah, i-ini selalu terjadi…" bisikku pelan, takut membuat ibu yang kusayangi marah.

"Dia! Tak puaskah dia mewariskan seluruh genetik tubuhnya pada putraku! Tak puaskah dia membuat Naruto tak mirip denganku! Dia bahkan… dia bahkan hendak menyeret anakku untuk menjadi sama dengan dirinya." Sebuah rancauan tak jelas keluar secara bertubi-tubi dari bibir Kaasan, terkadang satu atau dua makian kasar ikut terselip di sana. Aku menangis, ibu yang sangat kusayang. Ibu yang selalu bersikap ceria dengan kata-kata lembut teruntai dari bibirnya. Kenapa hanya dengan membicarakan ayah biologisku dia bisa berubah menjadi wanita iblis seperti ini?! Kenapa?!

Dengan ragu aku bertanya, "Kaasan, sebenarnya…Tousan…"

"Dia tak pantas kau panggil TOUSAN! Dia hanya makhluk brengsek yang membuang kita!" potong Kaasan emosi. "Sialan! Vampir itu! Vampir itu!"

Seketika gambar berubah.

Aku memeluk Kaasan yang tubuhnya telah kaku dan pucat kebiruan. Di tangan kanannya terdapat bekas irisan melintang tepat di titik nadinya. Sebuah tawa kasar muncul di bibir Naruto bersamaan dengan air mata yang menetes tanpa henti. "Katakan ini bohong Kaasan! Kaasan! KAASAN!"

Sekali lagi gambar berubah.

Kurasakan aku sedang mengenakan sebuah kimono berkabung berwarna hitam. Dihadapanku duduk dua orang yang sudah sangat kukenal. Mereka kakek dan nenekku.

"Naruto, kurasa sudah sewajarnya kami memberitahukan kenyataan sebenarnya padamu." Baachan mulai berbicara sementara Ojiisan hanya duduk di sampingnya dalam diam. "Sebenarnya dulu Kushina, ibumu pernah sekali membawa… ayahmu ke rumah…"

"Mito, kurasa ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya. "Potong Ojiisan sambil menyentuh lengan istrinya yang terbalut kimono berkabung. "Naruto masih terlalu muda!"

"Hashirama, dia sudah delapan belas tahun! Berhentilah memanjakannya!" protes Baachan sambil menepis tangan suaminya. Perhatiannya kembali beralih padaku. "Awalnya aku mengira kalau pemuda itu hanya manusia biasa, sampai… sampai dia menunjukkan sosok aslinya saat menolong Kushina saat Ibumu diculik. Namun kami terlambat untuk memisahkan mereka. Karena… karena saat itu Kushina sudah mengandungmu."

Aku merasa seperti tersambar petir. Jadi selama ini bukan Tousan yang meninggalkan kami? Namun… Baachan dan Ojiisan yang memisahkan mereka? "Kenapa?! Kenapa kalian tega melakukan itu! Karena kalian Kaasan… Kaasan…"

"Dia bukan manusia, Naruto. Dia Vampir."

END DREAM

.

.

.

Naruto tersentak bangun, peluh menetes dari sekujur tubuhnya. Dia menoleh mencari ke segala sudut ruangan bergaya gothick dengan dominasi warna biru tua dan putih. Sebuah kata terlontar dari bibirnya. "Sasuke…"

.

.

.

"Kenapa bukan putra Duke of Aquilonem yang melakukan penyelidikan ini?" protes Mai sambil mengeratkan jaket tebal yang dikenakannya untuk mencegah hawa dingin yang serasa menusuk tulangnya. "Bukannya aku tak tahu jika Shikamaru Olenovich Borowski itu super pemalas dan sebagainya. Namun tetap saja, aku benci udara dingin!"

"Hn." Timpal kakaknya singkat. "Bukankah kamu sudah tahu tugas Lord Shikamaru?"

"Memang! Dia bertugas menutupi seluruh kasus vampir dari manusia kan? Saat ini dia sedang memasang dome hologram di atas TKP untuk mengelabuhi pandangan manusia dan memanipulasi beberapa satelit dan menyebarkan berita palsu untuk menutupi kejadian ini kan? Aku tahu! Tapi tetap saja aku jengkel." Kata gadis bersurai perak itu keras kepala sambil menyilangkan tangan di dada mengamati bagian hutan yang hancur berantakan terkena ledakan.

Dia melirik sedikit pohon-pohon yang terbakar. "Ada yang aneh di sini. Aku dapat merasakannya." Gumamnya pelan.

"Ya, dan tugas kitalah untuk memecahkannya."

.

.

.

Halo semuanya! Mai dan Hime kembali setelah hiatus karena Mai baru dioprasi dan lupa kasih tahu Hime pasword buat masuk akun Mai untuk update Chap terbaru ini. Hahaha.

Ceritanya agak kacau tapi udah mulai ketebak kan? Iya kan?

Nah daripada main tebak-tebakan nggak jelas mending balas review dari minna-san yang nggak login OK? Yang login akan dibalas Mai lewat PM, biasa…

Nyanmaruchii:Sebenernya kami nyaris nggak pake OC, dan adik Sasuke itu Konan. Tapi Konan sendiri akan punya peran yang cukup penting nanti, sedangkan tokoh lain… kadang fisiknya nggak mendukung. Nggak mungkin kakaknya berambut hitam dan dark blue adiknya berambut hijau kan? Maaf ya…

MJ: Makasih ya MJ! Aku seneng deh, hehehe

Sachi Alsace aka Sachi Koji : Makasih… yap 13 chapter. 14 sama trailernya hehehe… kalau ada yang reques spesial chapter mungkin malah 15 chap.

OK, sekarang behind the Story. (by: Hime Hoshina)

Di rumah sakit tempat Mai di opname Hime dan kakaknya, Ren datang menjenguk (Hime untuk ngerjain FF ini sementara Ren buat bikin jengkel Mai). Entah kenapa hari itu Mai pendiem dan dingin banget…

Hime: Sketsa ceritanya tinggal diketik kan? Mana naskahnya?

Mai: Hn (sambil nyerahin naskah yang dimaksud)

Hime: (inner: nih anak kenapa sih? Kena Sasuke Sindrom ya? Kok jadi pendiem banget? # sambil mulai ngetik.)

Mai: (ikut ngeluarin laptop dan ngetik sesuatu)

Ren: Apaan tuh, Mai? Tugas sekolah ya?

Mai: Hn. Makalah bahasa inggris.

Ren: Oh… temanya apa?

Mai: Tomat.

Hime: (#berhenti ngetik saking kagetnya. Inner: WHAT? Jangan-jangan dia beneran kenaSasuke Sindrom? Gawat! Padahal belum ada obatnya!)

Jadi sebenarnya Mai jadi pendiem dan nggak berekspresi karena sariawan yang menjajah bibir dan lidahnya, bukan karena kejangkit Sasuke Sindrom. Katanya buat ngomong dan senyum aja sakit banget. Kalau soal tomat, katanya hanya kebetulan semata tanpa ada maksud mengikuti Sasuke. Tapi siapa yang tahu?

Sekian cuap-cuap dari Mai dan Hime.

Jangan lupa…

R

E

V

I

E

W

Review, OK?