Lingkar mata Sapphire itu, helaian rambut emas itu, bahkan rubi yang muncul itu…
Kau begitu serupa dengannya.
Hanya orang buta yang tak dapat menebak jika kau adalah setengah darinya!
Walau begitu, aku tetap mencintaimu…
Aku tulus padamu, walau kuakui. Setengah alasanku melakukan ini adalah demi keluargaku.
Dan ikatan ini, ikatan yang akan menyatukan kita selamanya. Kubuat dengan serat-serat perasaanku padamu.
Itulah cinta.
Cinta adalah kau, Uzumaki Naruto.
.
.
. Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
OC : Mai Uchiha and Hime Haruno
Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina
Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina.
.
.
.
"Cara yang buruk untuk mati, menurutku." Gumam Mai Uchiha sambil menyisir tempat yang kini sudah hangus terbakar itu. "Ayolah, maksudku meledakkan diri menjadi berkeping-keping? Ini benar-benar pilihan terburuk untuk mati! Kalau mati, aku pasti akan memilih untuk mengorbankan diriku untuki orang banyak, atau setidaknya membuat diriku terlihat cantik selamanya. Kurasa mumi bukan pilihan buruk."
"Berhentilah mengoceh, dan lakukan saja tugasmu, Mai." Tukas Sasuke dingin sambil mengamati semacam serbuk yang tersisa pada tanah. Diarahkannya serbuk itu pada adiknya.
"Tanah liat kering, ada sedikit bau mesiu dan Black powder menurutku. Tipikal bom sensitiveness." Kata gadis itu setelah mengendus sebentar serbuk yang disodorkan kakaknya. "Kurasa aku tahu siapa pembuatnya, Deidara Schimdt."
"Knight dari Irlandia itu sudah mati."
Mendengar kabar itu sontak Mai menoleh pada kakaknya. "Aku belum men… oh, jadi kau yang membunuhnya, heh?" katanya dengan nada santai. "Tak ada masalah sih, hanya saja kita jadi kehilangan tersangka kita."
"Hn."
Mendengar gumaman dari kakak laki-lakinya, Mai memutuskan untuk tak mengajak pemuda itu mengbrol lagi. Beberapa batang pohon yang menjadi korban ledakan itu lebih menarik minatnya. Sebuah anomali kecil membangkitkan rasa keingin tahuan gadis itu. Dia memeriksa tiap pohon di sana. "Hei, Sasu-nii. Ini aneh, kenapa pohon-pohon di sini hangus di kedua sisi? Bukankah jika ini ledakan terpusat harusnya cuma ada bekas ledakan di satu sisi saja?"
Tanpa menjawab Sasuke ikut memeriksa pohon-pohon itu juga. Dia menemukan sedikit serbuk yang sama di batang-batang pohon itu. "Kasus bunuh diri, huh." Dengusnya pelan sambil bengkit berdiri. "Keluarga Namikaze memang perancang strategi yang sempurna."
"Sudah kuduga. Your Majesty memang takkan semudah itu mati." Timpal gadis itu puas. Dia terdiam sejenak merasakan ada bau yang menerpa indra penciumannya. "Lord Shikamaru dari arah jam sepuluh." Singkat dia mengabari kakaknya.
"Akhirnya rusa pemalas itu datang juga."
Sekelebat bayangan berwarna hitam gelap melesat turun dari rimbunnya pepohonan. Mantel tebal bayangan itu berkelebat di belakangnya mencoba memperlambat gerakan kilat vampir asal utara itu.
"Bagaimana? Kalian dapatkan sesuatu?" tanya vampir yang tak lain dan tak bukan adalah Shikamaru Olenovich Borowski sambil menguap lebar. "Kasus kematian Raja membuatku tak dizinkan tidur, Mendokusai."
"Aku tak tau kau bisa bahasa Jepang, Shika." Komentar Mai mendengar kata-kata putra Duke of Aquilonem itu.
Shikamaru menggaruk kepalanya malas. "Laporkan saja, lah. Aku ingin segera tidur setelah kasus bunuh diri ini selesai."
"Tidak." Tukas Sasuke membantah pernyataan sahabatnya. "Your Majesty belum meninggal. Ini bukan bunuh diri. Jelas sekali bahwa Yang Mulia Minato memalsukan kematiannya sendiri." Dengan penuh percaya diri, pemuda bersurai dark blue itu berkata.
Namun Shikamaru tampaknya tak terlalu terkejut mendengar hasil analisa itu. "Akhir-akhir ini Your Majesty memang terlalu sering mendapatkan tekanan dari para tetua itu. Lagipula dia tampak sedang merahasiakan sesuatu sebelum penghianatannya dimulai. "Darimana kalian bisa mengambil kesimpulan kalau dia masih hidup?"
"Pohon ini terbakar di kedua sisinya. Berarti sumber ledakan berasal dari dua arah. Sasu-nii menemukan sisa bahan peledak di batang itu, berarti sumber ledakan tak terlalu jauh dari pohon itu hingga daya lontarnya sanggup mencapainya. Anehnya pohon itu hanya mengalami sedikit kerusakan saja, jadi kesimpulannya ini bukan bom tunggal dengan daya ledak tinggi yang terpasang di tubuh Your Majesty. Tapi puluhan atau ratusan bom mini yang dipasang di area sekitar pohon. Jika waktu ledakan terjadi tak kurang dari dua detik, kurasa ledakan beruntun ini pasti terlihat seperti sebuah ledakan tunggal yang dasyat. Sayang tersangka kami sudah mati." Oceh Mai panjang lebar.
Shikamaru mengangguk mengerti, "Masuk akal. Tapi ke mana Your Majesty melarikan diri dalam waktu sesempit itu. Dia hanya memiliki waktu tak kurang dari lima detik dalam rentang waktu kepergian pasukan kerajaan sampai ledakan itu. Tak mungkin dia dapat pergi terlalu jauh."
"Sisir tempat ini. Setidaknya pasti ada petunjuk." Dengus Sasuke kesal.
"Oh ya, lalu kalau Your Majesty masih hidup. Serpihan mayat berambut pirang yang sedang diotopsi Lady Sakura dan Lady Hime itu siapa?" dengan polosnya Mai bertanya.
Sasuke mendengus singkat. "Deidara Schimdt. Siapa lagi."
-Mai Narazaki and Hime Hoshina-
"Selamat pagi! Tampaknya aku membangunkanmu ya?" sapa sebuah suara ramah saat Naruto baru saja membuka matanya. "Cahaya matahari pagi ini cerah sekali, jadi kubuka saja tirainya. Tidak silau kan?" tanya suara itu lagi.
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali memandang sosok gadis yang berdiri di hadapannya. "Eh, kau kan… adiknya Sasuke?" katanya sambil menunjuk gadis bermata amethys yang sedang memperbaiki pintu yang rusak. "Eh, anu… itu… Sasuke?" tanya Naruto sedikit gugup.
"Sasu-nii? Dia sedang mempersiapkan jamuan untuk empat keluarga bangsawan di bawah. Tadi dia sudah ke sini saat kau masih tertidur, katanya dia enggan membangunkanmu karena kau terlihat sangat pulas." Kata gadis itu panjang lebar sambil mencoba membuka menutup pintu kamar beberapa kali, memastikan engsel yang dipasangnya sudah sesuai. "Dia minta aku mempersiapkanmu. Hari ini dia ingin mengenalkanmu pada orang tua dan kakak kami. Dan juga seluruh keluarga bangsawan juga, sebenarnya."
"E… eh? Memperkenalkan?!" tanya Naruto kaget.
"Tentu saja! Sebentar lagi kau kan akan jadi bagian dari keluarga Uchiha." Riang gadis itu menjawab. "Aku sudah mempersiapkan desain jas dan gaun yang akan kalian kenakan. Kaasan memintaku untuk membuat yang model gothic, sesuai seleranya. Atau kau lebih suka yang model lolita? Simple dress juga bagus sih untuk tubuhmu, sayang kau tak punya dada."
"Gaun?!"
Mai tersenyum ceria. "Yap, gaun. Kan tidak mungkin Sasu-nii yang memakai gaun saat pesta petunangan kalian nanti."
Naruto hanya dapat melongo saja menatap senyum ceria di wajah gadis vampir itu.
'Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi padaku?! Aku nyaris ditangkap dua orang vampir dan ditolong oleh seorang vampir tampan yang ternyata merupakan salah seorang bangsawan di kerajaan Vampir yang sudah sejak lama diincarnya. Dan sekarang aku akan ditunangkan secara paksa dengan orang itu?!' pikirnya frustasi.
"Aku pasti bermimpi." Gumamnya lirih.
"Kalau memang benar mimpi, bangun dong!"
-Mai Narazaki and HimeHoshina-
"Kau yakin pada keputusan yang kau ambil, Sasuke?" tanya wanita cantik yang masih tampak berusia dua puluh lima itu pada putra keduanya. "Bukankah pertunangan ini terlalu cepat dilakukan? Kalau kau mau, kau tak perlu melakukannya secepat ini."
Sasuke menggeleng pelan. "Tidak, Kaasan. Semakin cepat kita melakukannya semakin baik. Naruto tidak boleh sampai terebut oleh keluarga lain atau bahkan Your Majesty sendiri." Katanya dengan keputusan yang sudah bulat.
"Kau sudah mengatakan kebenarannya pada pemuda itu?" kini ganti ayahnya yang bertanya."Walaupun dia seorang halfblood, dalam susunan monarki kita dia tetaplah Your Highness yang berhak mendapatkan posisi raja berikutnya."
Sasuke terdiam, ingatannya kembali pada sosok pemuda pirang yang tertidur pulas di kamarnya, tanpa menyadari jika dia adalah pion penting dalam pengambil alihan tahta kerajaan. 'Naruto, dia masih terlalu muda, masih terlalu polos dan naif untuk menghadapi seluruh kebusukan di balik semua ini.' Pikirnya kalut. "Jangan bilang padanya dulu, pemilihan raja berikutnya akan dilakukan sebulan lagi. Biar Aniki saja yang menduduki tahta itu." Katanya masih dengan nada dingin. "Bukankah menaikkan derajat keluarga Uchiha adalah obsesi kalian sejak awal. Aku tak pernah menyadari jika kalian masih memiliki hati hanya untuk sekedar memikirkan perasaan Naruto."
"Cara bicaramu membuat kami terlihat seperti setan saja, Sasuke." Timpal Fugaku Uchiha, sang Duke of Orientem sambil tertawa keras. "Katakan saja jika kau memang menginginkan pemuda pirang itu untuk dirimu sendiri."
Sasuke hanya mampu terdiam, namun semburat merah tipis tak mampu disembunyikannya pada kulit putih porselen itu. Ya, dia memang menginginkan Naruto untuk dirinya sendiri. Menginginkan malaikat pirang itu untuk terus bersamanya.
Namun sebelum itu, ada satu hal yang harus dilakukannya terlebih dahulu.
Mengubah Uzumaki Naruto menjadi vampir seutuhnya.
-Mai Narazaki and Hime Hoshina-
"Em, Mai. Pertunangan itu…?" ragu-ragu Naruto bertanya pada gadis remaja yang kini sedag merapikan jas berwarna putih bersih yang dikenakannya.
"Oh, soal pertunangan itu ya." Beo mai sambil memfokuskan perhatiannya pada renda-renda di bagian kerah Naruto yang tampaknya tak mau menurut. "Pertunangan itu akan dilakukan sepuluh hari lagi, bersamaan dengan hari ulang tahunku."
Naruto mengernyitkan alisnya tak mengerti. "Ulang tahunmu? Memangnya umurmu berapa?"
"Menurut tahun manusia atau vampir?" gadis itu balik bertanya.
"Ma…manusia saja."
"Sembilan puluh sembilan tahun tiga ratus lima puluh lima hari. Sepuluh hari lagi aku akan genap seratus tahun dan menjadi dewasa." Jawab vampir perempuan itu sambil memandangi hasil kerjanya dengan bangga. "Kalau Sasu-nii tiga ratus empat puluh enam tahun dan entah berapa hari." Tambahnya memberi informasi. "Tapi jangan salah kira dia itu pedofil ya, di dunia vampir menikah dengan orang yang umurnya jauh itu sudah biasa."
Naruto mengengguk pelan. "Tapi aku kan bukan vampir, aku manusia. Lagi pula aku ini laki-laki…"
"Manusia? Kau? Kau tidak pernah melihat cermin ya, Naru-nii? Mana ada manusia yang berumur setengah abad tapi tetap terlihat seperti anak SMA." Katanya sambil menunjuk wajah imut Naruto. "Kau lupa, kau itu vampire halfblood. Setengah vampir." Gadis berambut perak itu memamerkan senyum bekunya, membuat Naruto bergidik ketakutan saat melihat sebuah taring kecil berwarna putih gading muncul di sela-sela bibir gadis itu.
"Kau juga tak perlu khawatir soal jenis kelaminmu. Sebagai mantan Vampire Hunter kelas kakap kau pun tahu kan, kalau perbandingan jumlah vampir wanita dan pria itu satu banding sepuluh. Karena itu perkawinan satu gender di sini sudah tak menjadi hal tabu lagi. Kami ini beda dengan para manusia yang kolot itu." Gadis Uchiha itu melanjutkan ocehannya yang sempat terhenti. "Di keluarga Uchiha saja, tinggal aku satu-satunya gadis. Tampaknya keluarga Haruno dan Hyuga lebih beruntung, mereka masing-masing memiliki dua putri, walau memang tiga dari empat Lady itu sudah memiliki tunangan."
Naruto hanya dapat diam mencoba mencerna apa yang dikatakan gadis di hadapannya itu. Banyak sekali informasi yang tak pernah didengarnya sebelum ini bahkan saat dia menjadi vampire hunter beberapa tahun silam. Sebuah erangan pendek meluncur dari bibirya. 'Dulu aku adalah orang yang dengan senang hati membunuh puluhan vampir untuk membalaskan dendam ibuku. Apa yang terjadi padaku hingga kini aku dihadapkan pada kenyataan kalau aku akan menjadi tunangan salah seorang targetku dulu?'
-Mai Narazaki and Hime Hoshina-
Naruto POV
Aku berdiri dengan gelisah di dalam kamarku, mencoba menenangkan pikiranku yang rasanya seperti sudah tak di tempatnya lagi. Aku gugup. Aku panik dan aku nyaris gila! Selama setengah abad aku hidup, belum pernah sekalipun aku merasa segugup ini hanya karena… hanya karena akan diperkenalkan dengan sederetan vampir penting yang beberapa orang diantaranya dulu pernah nyaris kubunuh. Ingin rasanya aku meloncat keluar dari jendela kamar mewah ini andai saja aku tak ingat kalau sekarang aku berada di lantai tiga.
Dan kukatakan saja, seorang manusia, bahkan yang merupakan halfblood sepertiku pasti tidak akan baik-baik saja setelah meloncat dari lantai tiga. Sedikitnya aku pasti patah tulang.
Aku memainkan jariku di depan dada mencoba mengurangi perasaan tegang yang kurasakan.
"Kau tegang, Naru." Kudengar seseorang berkata dari belakangku.
"Sa-Sasuke, sejak kapan kau ada di sini?" tanyaku kaget karena tak merasakan kehadiran pemuda itu di kamar ini. "Aku tak mendengarmu masuk."
"Hn." Jawabnya dengan bergumam.
Aku mendesah kecil mendengar reaksinya yang begitu datarnya. Kuperhatikan dirinya saat dia berjalan ke lemari pakaiannya dan membuka kemeja putih yang dikenakannya, memamerkan punggung porselen berotot yang mengagumkan. Otomatis aku memalingkan wajahku yang memerah. Menyebalkan, kenapa dia begitu tampan! Begitu sempurna! Begitu sesuai dengan sosok idamanku. Aku mengerucutkan bibirku kesal. 'Mau sampai kapan kau bersikap seolah-olah kau itu 'normal' Naruto. Bukankah sudah dua puluh lima tahun kau sadar kalau kau sama sekali tak tertarik pada wanita dan malah tertarik pada orang yang bergender sama denganmu!'
Kugelengkan keplaku mencoba mengusir bayangan gilaku saat membayangkan Sasuke berganti pakaian. Tiba-tiba kurasakan sepasang tangan dingin mengalungi pinggangku dan menarikku merapat pada tubuhnya membuat kepalaku tertempel pada dada telanjangnya. "Sa… Sasuke…?" tanyaku dengan suara malu-malu. Semburat merah segera memenuhi pipiku membuatku sedikit salah tingkah akibat perlakuannya padaku.
"Maaf. Aku tahu ini terlalu terburu-buru untukmu. Namun aku tak mau melepaskanmu lagi. Sudah cukup aku menunggumu selama lima puluh satu tahun ini, Naru…" bisiknya di telingaku, membuat tubuhku sedikit bergetar akibat hembusan nafas dinginnya. "Aku mencintaimu…"
Mataku terbelalak mendengar kata-kata itu.
Dia…
Mencintaiku…?
.
.
.
Halo semuanya, duo author gila ini kembali. Maaf kalau mengecewakan ya. Soalnya Hime masih capek karena harus ke Jakarta nyusul Mai yang opname di Ibu kota untuk buat FF ini. Untungnya sekolah libur, kalau nggak…
Kurang baik Hime apa? Sampe rela nyusul sang partner jauh-jauh dari Jogja ke Jakarta.
Hahaha, maaf jika chap ini agak membingungkan ya.
Berhubung nggak ada yang review tanpa logg in di chap ini, semua dibales lewat PM. OK?
Di balik pembuatan Red Dream:
Hime yang dateng ke tempat Mai dirawat bersama Yuki (teman baik Hime dan Mai) untuk menuntaskan chapter 3 yang selama ini didiskusikan hanya lewat PM, e-mail dan pesan FB.
Yuki: Lihat dong, muka tampan tapi manis. Jelas-jelas kalau Mai itu tipe UKE.
Hime: Nggak mungkin! Dia suka mendominasi. Kamu lihat kan, dia itu punya sifat SEME!
Yuki: badannya nggak terlalu tinggi dibandingin cowok. Dilihat dari sisi manapun semua orang pasti bilang Mai itu 'uke'! pasti 'uke'.
Hime: kau lihat sendiri kan kalu dia itu yang sering bikin merona pasangannya. Dia itu Seme, pokoknya Seme!
Yuki: Uke!
Hime: Seme!
Mai: (berhenti ngetik FF ini, empat sudut siku-siku imaginer muncul di dahi.) Berhenti! Aku bukan seme ataupun uke! Aku ini cewek! Gimana mau jadi Seme ataupun Uke kalau aku bukan Homo?! Cowok aja bukan!
Hime dan Yuki: Oh iya, lupa…
Mai: (#sweatdrop. Inner: kenapa aku berteman dengan dua makhluk aneh ini ya?)
OK
Jangan kaget kalau FF ini dibuat di tempat sekacau itu yang penting…
R
E
V
I
E
W
Review. OK?
