Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu

Hanya untukmu seorang, aku rela menahan kesedihan dan kehancuran

Bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak dapat memejamkan mata.

Sementara semua yang tampak dari mataku adalah kebencian.

Namun keberadaanku disisimu bukan karena apapun, Naruto…

Bukan karena apapun juga.

Hanya karena aku mencintaimu.

.

.

. Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

OC : Mai Uchiha and Hime Haruno

Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina

Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina.

.

.

.

Naruto menarik-narik jas yang dikenakannya dengan gelisah, renda-renda di bagian leher dan lengannya membuat perasaan tidak nyaman yang menyebabkan dirinya gelisah. Dia menatap pemandangan yang terhampar di hadapannya sambil sesekali mencium aroma segar yang dihembuskan angin, mencoba mencari kedamaian di hari-harinya yang membingungkan.

Namun dia sadar, tak pernah ada kedamaian yang menyertai hidupnya.

"Tuan muda Naruto, Lord Sasuke meminta anda untuk segera turun." Sebuah suara lembut menghancurkan kedamaian yang dicarinya. Seorang gadis berpakaian ala maid abad pertengahan masuk sambil membungkuk pelan. "Para bangsawan sudah hadir, Lady Mai sudah menunggu anda di bawah untuk memperkenalkan anda, Tuan Muda." Pelayan berambut biru itu melanjutkan.

"Ya." Timpal Naruto singkat sambil melewati gadis itu dan berjalan keluar ruangan. Sang pelayan dengan hormat tetap mengikuti langkah kaki Naruto, menjaga agar Tuan Muda barunya itu tak tersesat di rumah dengan ukuran mengerikan milik keluarga Uchiha.

Dia terdiam melihat seorang gadis berambut hitam panjang dengan dress gothik berdiri di hadapannya. "Kau boleh pergi sekarang, Konan. Dia tanggung jawabku sekarang." Suara berbibawa lembut itu memberikan titah pada gadis pelayan di belakang Naruto.

"Baik, My Lady…"

Naruto menatap gelisah gadis di hadapannya. Demi seluruh Tuhan dan Dewa yang bercokol di kehidupan manusia, Naruto benar-benar tak mengenal gadis berbadam malam dihadapannya. Usia gadis itu mungkin sekitar lima belas atau enam belas tahun, dia mengenakan sebuah dress gothic berwarna hitam gelap dengan aksen ungu muda di beberapa bagian. Rambutnya yang berwarna senada dengan bitunya langit malam digelung sederhana di salah satu sisi kepalanya dengan hiasan pita ungu berenda. Cantik, namun juga mengerikan. Itulah kesan pertama yang didapatkan Naruto.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya gadis itu sambil mengecek penampilannya.

Naruto menggeleng. "Tidak. Tapi… kamu siapa ya?"

Gadis itu berhenti mencoba mencari cela dalam penampilannya dan kini menatap langsung sepasang mata biru dihadapannya. "Naru-nii, kau tak mengenaliku ya?" tanya gadis itu dengan suara cempreng.

Panggilan itu, suara itu! Ya Tuhan, Naruto jelas langsung dapat mengenali siapa gadis di hadapannya meski penampilannya berbeda. "Mai?"

"Kau kaget ya? Yah, aku memang tak terlalu suka dengan penampilan asliku. Makanya aku lebih memilih berpenampilan berbeda saja. Wig perak dengan softlens ungu buatan manusia kupikir bukan pilihan buruk." Terangnya panjang lebar.

Ya, sekarang Naruto sudah paham di mana letak sisi kemiripan Sasuke Uchiha dengan adiknya, Mai Uchiha.

Kedua kakak beradik itu sangatlah mirip, nyaris identik. Rambut berwarna darkblue yang sama, mata obsidian yang sama, kulit putih yang sama dan tentu saja ekspresi datar yang sama juga. (Tak habis pikir kemana perginya Mai Uchiha cerewet dan periang yang tadi me make overnya hingga seperti ini. ) Mungkin satu-satunya perbedaan di antara mereka adalah perbedaan tinggi badan dan jenis kelaminnya saja.

"Hari ini kau akan bertemu dengan empat Duke yang menguasai kerajaan Sucolavia. Yang pertama ada Duke Uchiha dari wilayah Orientem, lalu Duke Borowski atau yang lebih dikenal dengan sebutan Duke Nara dari wilayah Aquilonem. Duke Haruno dari wilayah Occidens dan tentu saja Duke Hyuuga dari Meridiem." Jelas gadis itu cepat. "Kau juga akan dipertemukan dengan keluarga masing-masing Duke dan juga keluarga besar Uchiha, sebisa mungkin kau diam saja hari ini. Sasu-nii tak mau kau terlibat masalah antar bangsawan. Kau mengerti Naru-nii?"

"Ya."

"Kau hanya boleh memperkenalkan dirimu dan menjawab seadanya jika ditanya. Jangan lebih. OK?"

"Ya."

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari gadis bermarga Uchiha itu, datanglah sepasang gadis yang mengenakan gaun panjang berwarna Lavender gelap di hadapan mereka. Mata sepasang gadis itu terlihat aneh di mata Naruto.

Warna yang mengingatkannya akan mutiara di dasar samudra. Tanpa pupil dan ukurannya juga cukup besar. Sebenarnya warna mata itu cukup mengerikan, namun anehnya bagi kedua gadis di hadapannya warna aneh itu malah memberikan kesan anggun tersendiri bagi keduanya.

"Putri Lord Hyuuga, Lady Hinata dan adiknya, Lady Hanabi." Bisik Mai memberitahu. Lalu dengan sebuah senyuman anggun gadis itu berjalan mendekati sepasang kakak beradik Hyuga itu dan menekuk kakinya memberi hormat. "Suatu kebanggaan tersendiri dapat bertemu dengan ada berdua lagi, Lady Hinata, Lady Hanabi." Katanya pada mereka.

"Ke-kebanggaan juga da-dapat bertemu dengan anda, Lady Mai." Balas sulung Hyuuga itu sambil membungkuk hormat. Lalu tatapan bulan mata gadis itu terhenti pada sesosok pemuda bersurai pirang yang berdiri di belakang Mai dengan pandangan tak mengerti. "Tak mengurangi ra-rasa sopan. Bolehkah saya mengetahui si-siapa pemuda itu, Lady Mai."

Mai mengangguk. "Dia adalah calon tunangan Sasuke Uchiha yang akan diperkenalkan hari ini, my Lady." Jawab gadis itu sopan sambil memberikan kode pada Naruto untuk memperkenalkan dirinya.

"Saya Naruto Uzumaki, senang berkenalan dengan anda." Kata si pirang persis seperti yang telah diajarkan Mai padanya.

Hinata tersenyum malu-malu, sebuah semburat merah mewarnai pipinya saat menatap pemuda pirang yang telah mencuri atensinya. "Senang berkenalan dengan anda juga, Mr Uzumaki. Saya turut berbahagia mendengar berita pertunangan anda dengan Lord Sasuke."

"Lady Hinata adalah tunangan dari sulung kami, Itachi Uchiha." Mai memberi informasi pada Naruto. Lalu pada dua gadis itu dia tersenyum lembut, namun di balik senyum memesonanya itu, sebuah enigma tak dapat disembunyikan dengan rapi. "Maaf, Lady Hanabi. Bila anda berkenan, bolehkah saya berbicara secara pribadi dengan kakak anda?"

Gadis yang dipanggil Hanabi itu mengerling kesal. "Tak usah bersopan-sopan ria denganku, Mai Uchiha. Tak seperti dirimu yang biasanya saja." Dengus gadis bersurai coklat gelap itu dengan nada sedikit kasar.

"Well, terserah kau saja deh Hanabi. Toh aku juga sudah capek bermain peran menjadi 'Lady Uchiha'." Jawab Mai dengan melepas segala sopan santun yang melingkupinya beberapa saat sebelumnya. "Jadi tolong gantikan tugasku sebentar untuk mengantar Naru-nii ke ruang pesta ya. Aku janji tak akan lama kok."

"Aku bukan pelayanmu, bodoh!" teriak gadis itu kesal. Namun tetap digiringnya juga Naruto ke tempat acara utama berlangsung.

Sepeninggal dua orang itu, keheningan yang kuat membuat Hinata memaksakan lidahnya ntuk berkata terlebih dahulu. "Ano… itu… apa yang ingin di-dikatakan Lady Mai padaku…? Ke-kenapa sampai harus mengusir Ha-Hanabi dan Na-Naruto segala?" tanyanya dengan sedikit hambatan akibat rasa gugup yang dideranya.

Mai menatap tajam mata gadis itu, "Maafkan aku My lady." Katanya dengan nada sedikit gusar. "Tapi tolong setialah saja pada satu orang. Kau telah memiliki Itachi-nii dan membawa pergi setengah hati Sasu-nii. Apa kau juga ingin mengambil jiwa Naru-nii?" tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Hinata terkesiap mendengar penuturan tegas gadis di hadapannya.

"Ingatlah." Kata Mai lagi dengan suara dingin. "Kau mungkin adalah calon permaisuri kerajaan Vampir. Maka dari itu, berusahalah tetap menjaga hatimu pada itachi-nii. Aku tak butuh skandal perselingkuhan Permaisuri dengan kekasih adik suaminya sendiri di keluarga ini kelak. Ingat kata-kataku ini, Lady Hinata…"

Hinata terpaku menatap mata kelam calon adik iparnya itu berubah menjadi sewarna dengan liquid lengkap dengan tiga tomoe hitam yang berputar lambat di dalamnya.

"Sudah ya, Lady Hinata! Aku mau mencari naru-nii dulu! Jaa-ne!" sebuah suara ceria dari bibir berwarna merah darah milik Uchiha Mai membuat Hinata tersentak kaget. Perubahan image yang begitu cepat, apa yang sebenarnya terjadi?

Namun satu hal yang diketahuinya secara pasti.

"Ma…mata itu, mata vampire terkutuk…Sharingan… tak mungkin…" bisiknya pelan. Sebelah tangannya terjulur menyentuh matanya sendiri yang berwarna lavender muda, sebuah mata kutukan juga, Byakugan. "Aneh…aneh…"

Naruto sudah memilih berdiri di sudut ruangan sambil menghisap minuman berwarna bening di gelas kristalnya, (Satu-satunya minuman yang ia yakin tak berasal dari tubuh manusia) matanya bergerak mawas mencari sesosok vampir yang seharusnya ada di ruangan itu. Namun nihil, dia bahkan tak bisa menemukan bayangan sesosok Mai Uchiha dari tempatnya berada.

"Kenapa kau ada di sini, Naruto." Sebuah sapaan lembut terdengar lirih di telinganya bersamaan dengan sebuah lengan yang dengan mesra memeluk piggangnya erat. "Kau adalah tokoh utama pesta hari ini, Naruto. Kenapa kau malah lebih senang bermeditasi di sini?"

Merasakan permainan nafas sang raven di telinganya membuat Naruto menggeliat geli. "Aku merasa terasing, Sasuke. Mereka bukan bangsaku…" katanya lirih.

"Mmmm…" Sasuke memainkan helaian-helaian pirang yang gagal dijinakkan oleh Mai. "Tak usah pedulikan tatapan mereka, Naruto. Lagipula sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari mereka. Dan mereka harus belajar menerimanya.

"Ya, baiklah."

Sementara itu di sudut lain pesta, tiga orang lady muda tengah mengobrol dengan bahasa tak formal.

"Jadi bagaimana proses penyatuan jasadnya lagi, Lady Sakura?" gadis berambut raven kebiruan bertanya pada gadis bubble gum di hadapannya. "Apa sudah dilakukan pengetesan DNA terhadap Jasad Your Majesty?" tanyanya lagi.

Sakura Haruno mengangguk pelan. "Sudah, tapi kurasa pesta ini bukan tempat yang tepat untuk membahas itu, Lady Mai."

"Bukan peduliku. Toh, aku tak boleh ikut rapat setelah ini. Ada yang ingat kalau aku belum dewasa." Tukas Mai nUchiha dengan nada kesal. "Membosankan sekali hidup ini. Padahal umurku kan sudah sembilan puluh sembilan tahun, di kalangan manusia umur dua puluh saja sudah dianggap dewasa, kan?"

Seorang pria bertubuh besar dengan sebuah gurat kedewasaan di bawah matanya tampak menepuk kepala Mai perlahan. "Kau terlalu manusiawi, Mai. Ingat kita ini Vampir." Katanya dengan nada lembut.

"Ita-nii? Kapan Ita-nii pulang? Kenapa aku tak lihat ya?" tanya gadis itu beruntun sambil memeruk erat kakak sulungnya. "Sudah lima tahun aku tak melihat Ita-nii, Ita-nii sehat?" tanyanya ceria.

"Tentu." Jawabnya singkat. "Bicara soal dewasa, bukankah kau tak sendirian Mai. Lady Hime Haruno pun belum genap berusia seratus tahun, benar?" tanyanya pada gadis bersurai coklat keemasan yang sedari tadi berdiri di belakang Sakura dalam diam.

Gadis itu mengangguk dalam, "Terimakasih karena Lord Itachi sudah berkenan mengingat usia saya." Katanya dengan nada sopan sambil membungkuk memberi hormat. "Suatu kebanggaan tersendiri saya dapat bertemu dengan calon Kaisar Kerajaan berikutnya."

"Kau terlalu berlebihan. Bagaimana keadaan Lord Shino Aburame sebagai tunanganmu, Lady Hime?"

"Saya tidak tahu, Lord Itachi. Sudah hampir dua tahun saya tak pernah berjumpa dengannya." Jawab sang gadis yang mewarisi mata emerald dari ibunya itu.

"Kau curang, Lord Itachi. Kenapa hanya Hime saja yang kau sapa?" tegur Sakura sambil memasang wajah cemberut berpura-pura kesal.

Itachi tertawa. "Kau tampak sehat-sehat saja, Lady Sakura. Lagipula aku tak bisa menanyakan kabar tunanganmu karena kau selalu menolak semua pemuda yang mendekatimu. Kudengar, terakhir kau baru saja menolak Sir Rock Lee dari wilayahku, benar?"

"Aku masih terus berharap dapat menjadi adik iparmu, Lord Itachi. Tapi tampaknya aku harus mengubur impianku dalam-dalam sekarang." Katanya sambil memandang sosok Sasuke Uchiha yang tengah dengan mesra memeluk pinggang seorang pemuda 'cantik' yang mengenakan coat berwarna putih gading.

Hime duduk tegak di ruang tamu keluarga Uchiha sambil menyesap secangkir teh Ocha yang sulit dinikmatinya di wilayahnya sendiri. Setiap jengkal lidahnya mencoba merekan setiap sensasi yang terasa berbeda dengan teh Aaram yanng sehari-hari menemani waktu minum tehnya. Gadis itu menoleh sebentar pada sosok baru yang mulai menarik atensinya saat memasuki ruangan itu.

"Kau sudah merubah lagi warna rambut dan matamu, Mai? Padahal aku lebih suka melihat kau dalam mode Uchiha." Sapanya dengan bahasa non-formal pada sosok gadis yang mengenakan dress gothic hitam itu.

Gadis itu memutar matanya bosan. "Aku tak tahu kalau manusia itu cepat sekali terlelap, ya. Hanya dengan sedikit obat tidur ramuanku saja Naru-nii sudah terbang ke alam mimpi." Gadis itu melontarkan pernyataan yang bukan merupakan jawaban dari pertanyaan Hime.

"Tampaknya kau mendukung hubungan kakakmu dengan pemuda itu, huh?"

"Tentu saja, aku selalu mendukung apapun yang membuat kakakku bahagia." Jawab sang gadis sambil menghempaskan pantatnya di sofa di hadapan Hime. "Karena itu, hentikan saja usahamu untuk menjodohkan kakak kesayanganmu itu dengan Sasu-nii. Karena itu adalah hal yang sia-sia, Hime." Katanya langsung pada inti pembicaraannya.

Hime hanya tertawa kecil. "Mudah bagimu untuk bicara seperti itu, Mai. Kau tak melihat kakakmu tergila-gila pada satu orang selama ratusan tahun!"

"Ya, memang. Tapi aku melihat sendiri kakakku menjadi gila karena seseorang selama setengah abad terakhir, Hime. Dan kukatakan saja, orang itu bukan Lady Sakura."

"Kau tahu, orang yang banyak bicara itu cepat mati, Lady Mai Uchiha." Sinis gadis bungsu Haruno itu berkata. Dihisapnya lagi the khas negara timur itu dengan tenangnya. "Cinta itu bagaikan pertempuran. Dan ini adalah pertempuran Sakura dengan Lord Sasuke. Dan kurasa… Lord Sasuke tak mencoba menghentikannya."

Mai menggeram kesal. "Lady Hime, menurutku percuma saja jika pertarungan ini dilakukan. Jika Sasu-nii tak menghentikannya… maka yakinlah. Aku yang akan melakukannya!" kata gadis itu tajam. Ditatapnya mata emerald di hadapannya dengan tajam.

"Terserah bkau saja, Mai." Tukasnya kesal, "Bukankah kau menyuruhku datang ke pesta membosankan ini bukan hanya untuk saling menghina saja kan?"

Mai menyunggingkan senyum sadis khas keluarganya. "Pakai mantelmu, Hime. Jendral musim dingin Rusia jelas bukan tandingan untuk tubuhmu yang terbiasa dengan udara hangat bumi bagian selatan."

"Ku katakan saja, tingkah Raja Minato sudah melewati batasnya kali ini! Harusnya dia sadar jika di usia seribu tahun sudah tak sepantasnya dia bermain petak umpet dengan kita!" kata Lord Hyuuga marah. "Sikapnya semakin aneh sejak enam dasawarsa lalu. Dia semakin sering menyalah gunakan wewenangnya untuk mengangkat Knight tanpa persetujuan kita!"

Lord Uchiha selaku pimpinan rapat mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Tenanglah, Hiashi. Kita dengarkan saja laporan dari Shikaku dulu."

"Menurut laporan putraku. Ledakan itu jelas merupakan buatan. Hanya saja setelah disisir, mereka tak menemukan bukti apapun." Dengan cepat Lord Borowski, atau yang lebih suka dipanggil Lord Nara itu jelas.

Lord Haruno mengangguk setuju, "Hasil penyelidikan DNA dari jasad yang ditemukan di TKP pun menyebutkan kalau itu bukanlah tubuh dari Your Majesty. Hasil penyelidikannya akan kuserahkan pada kalian secepatnya."

Sementara para Duke dari empat wilayah raksasa kerajaan Sucolavia itu berdebat keras. Putra-putri mereka tampak tak terlalu tertarik dan memilih diam di sofa ujung ruangan sambil sesekali mengobrol ringan.

Perhatian mereka teralih saat melihat Sasuke Uchiha bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar ruangan rapat itu.

"Mau ke mana?" tanya Sakura pada pemuda yang ditaksirnya itu.

"Pergi. Di sini membosankan." Jawabnya singkat sambil keluar dari ruangan itu.

Itachi mengikuti arah perginya adik bungsunya itu dan kembali memusatkan atensinya pada dua pemuda lain yang sebaya dengannya, Shikamaru Nara dan Neji Hyuga. "Dasar, mentang-mentang akan segera bertunangan." Gerutunya lirih.

"Mendokusei…"

"Harusnya aku sudah membawamu sejak kemarin ke sini. Tenaga setanmu benar-benar dibutuhkan, kau tahu?" kata Mai ceria sambil mengetuk-ngetuk tanah di bawahnya dengan ujung sepatu hak tingginya. "Ada gua di bawak sini, aku dapat mendengar gemanya. Ada juga sedikit aliran udara dari bawak sana, hanya saja aku terlalu malas untuk mencari jalan masuknya."

Hime menautkan alisnya kesal. "Jadi kau mengajakku ke sini Cuma untuk menghancurkan gua saja?!" jeritnya tak percaya. "Aku pulang!"

"Gua… yang bukan sekedar gua." Gumam Mai membuat gerakan Hime terhenti seketika. "Ada kemungkinan inilah cara Your Majesty melarikan diri dalam waktu yang singkat."

Hime berbalik menatap gadis itu dengan tatapan kagum sekaligus tak percaya. "Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku percaya kalau kau adalah keturunan Uchiha juga katanya sambil memusatkan konsentrasi pada kepalan tangan kanannya, lalu…

BRAKKKK!

"Kerja bagus, Hime. Meski menurutku kau terlalu berlebihan." Kata Mai sambil melongokkan kepalanya ke dalam lubang raksasa yang sudah terbentuk akibat pukulan mematikan khas putri-putri keluarga Haruno.

"Hm… tega sekali mereka tak mengajakku…"

.

.

.

TBC

Hm, kali ini Hime yang akan kasih sambutan, berhubung Mai lagi asyik (?) berantem dengan kakakku sendiri.

Akhirnya, chap ke empat ini update juga. Maaf bagi yang sudah menunggu lama ya.

Kalau mau menyalahkan, salahkan saja Mai Narazaki yang sibuk dengan Fanfic-fanfic lainnya, OK? (Mai: Jangan seenaknya ngelemparin kesalahan padaku dong?! Siapa coba yang terlalu sibuk ngurusi tugas sekolah?)

Mungkin kali ini agak panjang ya, soalnya ini chap kemunculan OC Hime Haruno (Iyei!). hahaha. Di FF ini hubungan Mai Uchiha dan Hime Haruno jelek banget ya? Di real world sih, hubungan kami nggak sejelek itu. Cuma jelek aja. #ditimpuk Mai

Oh ya, bagi yang log in Review dibalas lewat PM oleh Mai Narazaki, sedang yang nggak log in akan dibalas di sini ^_^ :

Sachi Koji: kalau tidak salah, anda temannya Mai di FB kan? Namanya mirip sih ^_^ . begitulah Naru 52, Sasuke 436, Itachi 513, Hinata 420, Mai 99, Hime 98, Sakura 453, Hanabi 78. Kira-kira begitu deh. ^_^ (sudah tua semua ya…) terimakasih karena sudah menunggu updatenya…

Di balik pembuatan Red Dream:

Berhubung Mai sudah kembali ke kota asalnya tercinta, hime dan kakaknya Ren berniat menjenguk plus ngerjain FF aneh ini.

Ren: Na na na na naaaaaa…. (terjemahan: ini senandung sebuah lagu yang baik Mai, Hime bahkan Ren sendiri lupa liriknya)

Mai: Berisik!

Ren: kenapa sih kamu senang sekali bikin aku kesal?!

Mai: Mmm… kenapa ya?

Ren: Kok kamu malah balik tanya sih?!

Mai: Oh ya, aku ingat! (narik tangan ren dan megang pipinya) soalnya kalau kamu marah mukamu jadi kelihatan manis.

Ren: (blushing) apaan sih?!

Hime: (berhenti ngetik. Inner: Apaan nih?! Fan service ya? Adegan SasuNaru live? KYAAAAA!)

Kesimpulannya, kayaknya Hime harus merelakan kakak Hime sendiri sebagai uke dari seme sejati a.k.a Mai.

Poor Hime. Tampaknya jiwa Fujoshi sudah mengaburkan kenyataan kalau Mai itu sebenarnya cewek!

Sekian dari Mai dan Hime, semoga kalian menikmati FF ini ^_^

Dan kalau boleh, minta REVIEW?