Kau adalah sebuah pertanyaan tak tak akan kuketahui jawabannya.
Kau adalah misteri yang tak pernah kuketahui penjelasannya.
Namun di satu sisi hatiku, aku mengingkari kegelapanmu.
Aku hanya ingin melihatmu dengan putihmu.
Jadi biarkan aku tetap di sisimu dan melihat senyummu yang indah itu.
Karena aku sangat menyayangimu.
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
OC : Mai Uchiha and Hime Haruno
Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina
Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina.
.
.
.
Mai menapaki lantai-lantai batu yang dilewatinya. Sesekali matanya tampak menjelajah mengelilingi ukiran-ukiran gua yang hanya berbentuk spiral-spiral aneh yang saling bertumpuk dengan beberapa obor kecil menempel dengan jarak lima meter. Kegelapan jelas bukan masalah besar baginya dan Hime yag sudah menghabiskan setengah dari hidupnya untuk menemani sang bulan.
Sudah lima menit kedua gadis itu berlari di lorong-lorong gua dalam tanah yang telah mereka temukan, namun mereka masih juga belum menemukan sesuatu yang dicarinya.
"Aku yakin kita sudah lewat jalan ini." Kata Hime yang berlari tak kalah cepatnya di belakang Mai. "Tempat ini sengaja dibuat seperti maze, akan sulit bagi kita untuk menemukan intinya." Katanya memberi informasi.
"Aku tahu, Hime." Gerutu Mai sambil menghentikan larinya yang mampu menempuh jarak antara Jepang sampai Rusia dalam waktu 30 menit. "Harus kuakui dia memang sangat lihai soal membuat hal macam ini."
Hime mengernyit mendengar kata-kata temannya itu. "'Dia'? siapa yang kau maksud?"
"Tentu saja orang yang membangun maze ini. Nanti kau juga akan tahu sendiri." Jawab Mai abstrak. Dia menatap dinding labirin yang hingga menyentuh langit-langit gua itu. "Di saat seperti ini ingin rasanya aku memiliki mata keluarga Hyuga, deh." Gerutunya pelan.
"Kalian merindukanku, heh?" tiba-tiba terdengar suara dari belakang mereka. Sesosok gadis cantik dengan rambut berwarna coklat gelap dan mata bulan datang menghampiri mereka dengan senyum sombong terpatri di bibirnya.
Hime terbelalak kaget. "HANABI?! Sejak kapan kau di sini?!"
"Siapa yang bilang kami merindukanmu. Aku kan bilang menginginkan matamu." Tukas Mai pendek. "Dan kukatakan saja Hime, kau tak perlu kaget. Dia sudah mengikuti kita sejak kita keluar dari mansionku. Benarkan, Nona Stalker?" Tambahnya tak peduli.
Tampaknya Hanabi perlu menahan malunya karena ternyata aksi menguntitnya sudah ketahuan sejak awal oleh gadis yang didaulat sebagai saingannya itu. "Jika kau sudah tahu sejak awal, kenapa kau tak coba menghentikanku?"
"Soalnya aku tahu, aku akan membutuhkan matamu." Jawab Mai dingin. "Sekarang kau sudah tahu alasannya kan. Jadi apa lagi yang kau tunggu?"
"Apa motivasiku untuk membantumu, Mai Uchiha?"
Mai tersenyum sinis pada gadis itu. "Tunjukkan padaku kalau kau bisa lebih berguna dariku, Ha-na-bi Hyu-ga." Katanya sesinis mungkin untuk memprofokasi bungsu Hyuga dihadapannya. "Dan mungkin mereka akan mempertimbangkanmu untuk menjadi penggantiku untuk 'orang itu'."
Hime hanya bisa mengernyit tak mengerti saat mendengar kata-kata orang ketiga yang disebutkan Mai. Namun dia lebih memilih diam dan tak bertanya saat merasakan aura persaingan yang kuat menyelimuti dua vampir wanita dari keluarga banngsawan itu. 'Jangan sampai aku ikut campur, bisa mati nanti.' Pikirnya.
Hanabi tersenyum marah. "Baiklah." Putusnya. Gadis bermarga Hyuga itu lalu membentuk simbol-simbol unik untuk mengaktifkan mata vampir khas keluarganya. "BYAKUGAN!" seru gadis itu lantang sambil membuka matanya. Pupil tersembunyi mulai menghiasi mata bulannya bersamaan dengan urat-urat di sekitar mata yag kian menegang."Ke arah kanan, lalu belok ke kiri dan lurus saja hingga menemukan sebuah dinding dengan ukiran aneh. Di sana… di sana ada sebuah ruangan rahasia yang telah diberi segel sehingga tak dapat ku tembus."
Tanpa membuang-buang waktu lagi ketiga gadis itu langsung melesat mengikuti arah yang telah ditunjukkan Hanabi. Hingga akhirnya mereka menemui jalan buntu dengan sebuah tembok bergambarkan simbol-simbol aneh yang berbeda dari motif lainnya.
"Huruf kuno." Bisik Hime sambil menyentuh ukiran yang tak dapat dibaca dua gadis lainnya.
"Apa kau bisa membacanya?" tanya Mai sambil menyentuh salah satu ukiran di dinding itu.
"Kurasa bisa, tapi aku tak yakin. Ini versi sederhananya yang sudah mati." Lalu dia menyipitkan matanya berusaha membaca serentetan huruf yang nampak asing baginya. "Kira-kira berarti 'Wangi yang memabukkan. Warna yang menghipnotis. Rasa yang Membuat candu.' Kurasa semacam teka-teki?" Katanya tak mengerti.
Mai berdecak kesal. "Dasar vampir." Gerutunya.
"Bukannya kau juga sama?" tanya Hime dan Hanabi bersamaan.
Mai memilih tak menjawab pertanyaan dua rekannya dan memilih mengambil sebuah belati perak dengan ukiran mawar yang selalu dibawanya ke manapun dia pergi. Lalu dengan gerakan kilat dia memotong sedikit kulit di ujung jarinya. "Ittai…" gumamnya lirih saat cairan liquid berwarna merah pekat mulai memancar dari sana.
"Mai! Apa yanng kau lakukan?!" teriak Hime kaget. Namun belum sempat dia meraih tangan Mai. Gadis bersurai perak itu sudah terlebih dulu menghidar dan meneteskan darahnya ke atas pintu itu. "Inilah cara untuk membuka segel ini, dengan darah." Jelasnya.
Dua gadis lainnya hanya mengangguk mengerti.
Sejenak dinding itu bercahaya aneh dan mengeluarkan pendar-pendar menyilaukan. Tiba-tiba dinding raksasa itu bergerak ke samping seolah tengah didorong oleh suatu gaya yang tak tampak. Di baliknya dapat mereka lihat sebuah ruang mewah dengan ornamen dan perabotan gothic yang mengagumkan.
"Kalian sampai juga, Lady Mai Uchiha, Lady Hime Haruno dan Lady Hanabi Hyuga. Aku sudah menunggu kalian." Sapa sebuah suara dari dalam ruanngan itu.
Hime dan Hanabi hanya sanggup terbelalak saat melihat sosok yang tengah berbicara dengan mereka. Tubuh mereka berubah kaku dan gemetaran sementara rona menghilang dari wajah cantik mereka.
Namun berbeda dengan Mai, gadis dengan seribu rahasia itu hanya tersenyum sambil membungkuk memberi hormat. "Suatu kebanggaan dapat berjumpa dengan anda lagi, Your Majesty."
…
Sasuke bergerak gusar berkeliling rumah mencari entitas adik perempuannya yang belum juga dijumpainya. "Kemana gerangan dia pergi setelah membuat Naruto tertidur dengan salah satu penemuan konyolnya itu?" gerutunya dengan suara lirih.
Langkahnya terhenti saat sepasang netra gelapnya menangkap sosok sang adik sedang berjalan di taman dengan dua orang gadis bangsawan lainnya. Tanpa basa-basi lagi Sasuke langsung melompat menuruni rumah mewahnya itu menuju ke tempat adiknya berada meski dia sebelumnya dia berada di lantai empat. "Pergi ke mana kau, gadis pembangkang?" tanyanya tajam pada Mai yang hanya tersenyum penuh misteri padanya.
"Kami bosan di rumah, jadi apa salahnya jika kami mencari hiburan, Sasu-nii?" balas gadis itu dengan wajah seinnoncent mungkin. "Iya kan, Hanabi, Hime?" katanya meminta persetujuan dari dua gadis lainnya.
Namun tampaknya dua gadis itu tak berminat meng iya kan atau meng tidak kan pernyataan Mai.
Sasuke menatap tajam adiknya. "Tapi kau sudah menerima tugas dariku untuk menjaga Naruto. Kenapa kau melalaikannya?" tudingnya pada adik semata wayangnya itu. "Dan jangan bilang kalau dia kelelahan hingga tertidur, karena aku tahu kau yang membuatnya tertidur."
Gadis itu hanya mengangkat bahunya tak peduli. "Hm… aku pikir Naru-nii pasti tak mau terlibat dalam masalah mencari mangsa bagi vampir. Dan kupikir daripada meninggalkannya di kamar sendirian untuk melamun, lebih baik aku membuatnya tertidur." Jawabnya dengan nada cuek.
Sasuke mencoba mencari sedikit celah yang menunjukkan jika sang adik sedang berbohong, namun tak ditemukannya titik itu. "Terserah." Jawabnya sambil berlalu meninggalkan sang adik dengan kedua temannya yang sedang saling pandang dengan wajah kosong. 'Pasti dia merencanakan sesuatu lagi.' Sasuke membuat asumsi.
Namun belum sempat terlalu jauh dia mengembangkan asumsinya, seorang pria dewasa dengan rambut dibentuk menyerupai bunga yang menjadi ciri khas Jepang datang menghampirinya. "Lord Sasuke Uchiha, saya mencari anda." Katanya sambil memamerkan sebuah senyum yang penuh kepalsuan.
"Tentu saja Lord Haruno, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" kata Sasuke langsung ke inti pembicaraan.
"Tampaknya sifatmu yang dingin itu masih belum berubah ya, suatu saat nanti sifat itu pasti akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri." Katanya dengan sudah melepaskan semua topeng ramah-tamah dan basa-basi yang tadi dipegangnya. "Aku ingin membicarakan soal tunanganmu itu, Sasuke Uchiha."
Sasuke hanya diam menunggu Lord itu bicara lagi, dia sendiri sudah siap menerima sikap kontra dari makhluk sebangsanya yang masih tegas memegang adat untuk mempertahankan garis kemurnian darah Vampir. Bagi mereka menikah dengan bangsa non-vampir merupakan suatu tabu yang akan membawa kemalangan bagi pelakunya.
Dan sudah saatnya mereka menerima yang namanya perubahan.
Toh, selama ini banyak juga para vampir yang diam-diam menikahi atau menghamili manusia sehingga para halfblood seperti Naruto lahir. Dan biasanya beberapa saat setelah kelahirannya, anak-anak malang itu akan dibunuh secara keji oleh pasukan khusus vampir yang dibentuk dan diawasi oleh raja sendiri.
"Apa yang menjadi dasar sikapmu untuk menikahi makhluk setengah halfblood itu Sasuke? Sementara di satu sisi kau menolak putriku yang sudah mencintaimu selama tiga abad terakhir ini." Tanyanya dengan nada tajam.
Sasuke menghela nafas panjang. "Aku memilihnya karena aku mencintainya, bukan karena alasan lain."
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi Sasuke, meninggalkan jejak kemerahan yang amat jelas terlihat. "Apa yang kau lakukan, Sasuke. Sebagai putra seorang Duke dari timur tidak pantas kau melakukan ini! Apalagi dengan seorang halfblood seperti dia!"
Sasuke hanya mampu tersenyum sinis pada pria itu. "Anda tak tahu, alasan keluargaku merestui hubungan ini bukan?"
Lord Haruno terdiam mendengar pernyataan Sasuke. Otaknya berfikir cepat. 'Benar juga, dari seluruh keluarga yang ada, keluarga Uchiha adalah keluarga yang paling menggilai kemurnian darah. Bahkan mereka menikahkan keturunan mereka dengan sesama sepupu yang masih bermarga sama. Tapi mengapa mereka membiarkan putra bungsu mereka menikah dengan halfblood? Apa yang sebenarnya dimiliki oleh makhluk itu?'
Sasuke tersenyum syarat enigma melihat bahwa Duke itu termakan pancingannya. "Satu-satunya yang lebih dicintai keluarga Uchiha dibandingkan dengan Kemurniaan darah ialah… kekuasaan." Kata Sasuke seolah mampu membaca pikiran sang Duke.
Pria yang sudah berusia lebih dari seribu tahun itu menyipitkan mata curiga. "Siapa dia? Siapa dia sebenarnya?"
"Hm… dia…"
…
Pagi ini sekali lagi Mai membersihkan kamar kakaknya, Sasuke sebagai hukuman karena sudah membius dan meninggalkan Naruto semalam, sambil bersenandung ria menunggu pemuda yang tengah tidur di ranjang mewah kakaknya untuk bangun dan menyapa langit biru nan cerah di luar sana yang warnanya sama dengan warna mata miliknya.
Terkadang Mai merasa para manusia terlalu berlebihan menceritakan mengenai kaumnya. Siapa bilang para vampir akan terbakar jika terkena cahaya matahari?
Mungkin mitos itu muncul bersamaan dengan maraknya kasus pembunuhan yang dilakukan oleh vampir pada malam hari. Tentu saja mereka melakukan itu bukan takut pada cahaya matahari, namun karena akal logika mereka. Hei, siapa sih vampir yang cukup gila untuk menghabisi mangsanya di siang hari di antara kerumunan manusia yang lalu lalang dengan seribu saksi mata yang cukup untuk membuatnya merenggang nyawa?
Saat gadis itu sedang teggelam dalam lautan pikirannya sendiri, tiba-tiba entitas seseorang yang mulai tersadar dari pengaruh obat bius menarik atensi Mai sehingga membuat gadis itu menoleh dan memamerkan senyumnya secara percuma. "Selamat pagi, Naru-nii. Tampaknya tidurmu nyenyak ya?" sapanya riang.
"Ukh, kepalaku sakit sekali." Gumam pemuda berambut pirang itu sambil emnyentuh pelipisnya yang terasa berdenyut. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Mai?" tanyanya.
Mai tersenyum pelan sambil merapikan beberapa buku di meja belajar Sasuke. "Kau kelelahan karena pesta semalam, sudah ingat?"dustanya.
Naruto mengangguk setelah mengingat kenyataan jika dia tertidur setelah minum teh yang diberikan Mai semalam. Lalu matanya berkeliling mencari keberadaan entitas lain yang merupakan pemilik resmi kamar ini. "Apa Sasuke tak kembali ke kamar ini, Mai?" tanyanya pada gadis yang kini tengah sibuk merapikan kelambu yang menggantung di sisi ranjang berukuran king size yang ditempati Naruto.
"Ah, Sasu-nii langsung pergi ke wilayah pegunungan Alpen untuk menyelidiki suatu kasus semalam. Ada semacam infeksi virus aneh atau semacamnya di sana yang tidak bisa ditangani manusia biasa." Jawab gadis itu ceria.
Naruto terdiam, suatu pikiran yang telah menghantuinya selama ini dan membuatnya tak dapat tidur dengan nyenyak tiba-tiba kembali menguar ke permukaan pikirannya. Tanpa pertimbangan yang matang tiba-tiba saja pemuda bersurai senada dengan cahaya matahari itu bertanya. "Mai, apa sebenarnya alasan Sasuke memilihku? Bukankah masih banyak vampir yang lebih pantas untuknya dibandingkan aku yang seorang halfblood ini?"
"Sudah jelas kan, karena Sasu-nii mencintaimu."
Namun jawaban itu tak memuaskan Naruto. "Tapi itu tak menjelaskan banyak, Mai! Banyak gadis vampir yang cantik misalnya… Lady Hinata Hyuga?"
Mai mendesah pelan. "Tak seperti yang kau pikirkan, Naru-nii. Itu menjelaskann lebih banyak dari semua yang ingin kau ketahui." Katanya dengan nada pelan. "Taukah kau bahwa dulu Sasu-nii sangat mencintai Lady Hinata?"
"Ta-tapi itu… bukankah Sasuke dia…dia…abnormal?" tanya Naruto dengan sedikit tergagap.
"Memangnya kapan aku bilang kalau Sasu-nii abnormal? Dia normal kok." Tukas Mai dengan nada tak peduli.
"Kalau tidak kenapa dia…dia memilihku?"
Mai tampak ragu menjawab pertanyaan itu, namun akhirnya dia memutuskan untuk menceritakannya juga. "Seperti yang sudah kukatakan. Lady Hinata adalah tunangan dari Ita-nii. Dan Sasu-nii tak mungkin bisa merebutnya meski dia mencintainya." Jawab gadis itu pelan. Matanya tampak kosong seolah berusaha mengingat sesuatu yang tak ingin diingatnya. "Kau harus tahu betapa kacaunya dia setelah melepaskan Lady Hinata. Dia seolah telah kehilangan setengah hatinya. Namun… namun dia berubah sejak pertama kali melihatmu, Naru-nii. Dia berubah sejak kau lahir."
Naruto terdiam mendengar kata-kata Mai. "Itu sudah setengah abad lamanya. Dan aku sudah bayak berubah sejak saat itu." Katanya dengan nada sendu.
"Memang sudah setengah abad, namun sadarkah kau bahwa selama waktu itu, Sasu-nii terus mengawasimu dan menjagamu agar tak terluka." Gadis itu membongkar rahasia yang selama ini hanya diketahui segelintir orang saja. "Kau adalah orang yang sudah berhasil mengembalikan Sasuke Uchiha kami yang lama. Dan kami sangat menghargainya."
"Kau tak mengerti, Mai!" teriak pemuda pirang itu marah. "Aku tak sepolos dan selugu yang kalian pikirkan! Aku adalah mantan Vampire Hunter! Dengan tanganku ini aku sudah banyak membunuh bangsa kalian!"
Mai terkekeh pelan mendengar pengakuan pemuda itu. "Kau salah, Naru-nii." Kata sang gadis sambil tertawa aneh. Lalu ekspresi wajahnya berubah serius. Sepasang manik amethysnya menatap tajam sapphire pemuda itu. "Kukatakan saja. Kau tak akan pernah bisa membunuh vampir…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Gomen kalau kami lelet banget updatenya… (By: Mai Narazaki dan Hime Hoshina)
Kalau dipikir-pikir FF ini lama banget ya updatenya lebih dari seminggu. Tapi apa boleh buat ya? Soalnnya kan kota tempat tinggal Hime dan Mai itu beda. Jadi mau ketemu dan buat FF bareng itu susaaaaahhhh banget.
Tapi jangan kira hubungan Mai dan Hime jelek ya? Walaupun jarang ketemu, kami sering berhubungan lewat E-mail dan FB, meski si Hime jarang online FB sih.
OK daripada membicarakan hubungan Mai dan Hime yang sangat absurd. Lebih baik kita balas review dari para reader yang nggak log-in. ^_^ kalau yang nggak log in akan dibalas lewat PM oleh Mai.
Sachi Koji: Soalnya ini kan dunia vampir. Kurasa kalau umurnya panjang pasti nggak pingin buat anak dengan jarak yang terlalu dekat. Hehehe. Tapi selain itu, karena selisih umur ini akan berpengaruh besar dalam cerita yang akan dibuat. Terima kasih karena sudah baca ^_^
Sekarang untuk yang dibalik layar.
Mai: Sebenarnya aku bingung. Karakterku di sini itu seperti apa sih? Kadang sinis kadang baik kadang misterius kadang sadis. Apa jangan-jangan aku antagoniser di cerita ni ya? (Ngarep.)
Hime: Benar juga ya? Karaktermu jadi ambigu. Tapi bukannya antagonisernya Minato?
Mai: Iya sih, tapi apa nggak berkesan seolah aku ini pengikutnya Minato?
Hime: Kamu memang tokoh paling absurd di cerita ini. Yah, menyesuaikan di dunia nyata aja deh. Kamu kan memang tipikal yang super absurd?
Mai: Aku? Absurd?
Hime: Yap, selain itu kamu juga sadis, cool, pemalu, heboh, aneh dan ceria.
Mai: Tunggu! Kenapa sifatku pada bertolak belakang semua sih? Apa maksudnya pemalu tapi heboh coba?!
Hime: Yah, itu karena kamu emang ambigu kan?
Mai: (Muncul tiga sudut siku-siku imaginer di dahi.) Si*l*n. Jadi kau mau bilang kalau aku ini nggak normal ya?
Hime: Eh? Ternyata kamu sadar to?
Mai: (inner: andai saja aku udah nggak butuh Hime untuk ngerjain FF ini, pasti dia udah kumutilasi dia pake gergajiku.) -_-
OK jadi karena cerita ini jelek dan absurd sama seperti yang mbuat (?) boleh minnta Review?
