Waktu adalah sebuah jembatan yang berharga untuk dijaga.
Dan jika aku menyebranginya dengan terburu-buru.
Aku tak akan pernah dapat melihatmu di sebrangnya, menungguku.
Karena kau belum ada di sana.
Namun jika aku menyebranginya terlalu lama.
Kau akan bosan menungguku dan pergi.
Namun kurasa aku tahu waktu yang tepat.
Karena kita terhubung oleh benang merah bernama… cinta.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
OC : Mai Uchiha and Hime Haruno
Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina
Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina.
.
.
.
"Kukatakan saja. Kau tak akan pernah bisa membunuh vampir…"
Naruto terbelalak, "Apa maksudmu? Lalu yang kulakukan selama ini apa? Aku yakin mereka mati!"
"Dalam kehidupan manusia, definisi mati adalah penghentian fungsi jantung dalam waktu tertentu." Gadis itu berkata dengan nada datar. "Dan bagi kami, para vampir, jantung kami tak pernah berdenyut lebih cepat dari 3 kali tiap jam. Cukup untuk didefinisikan sebagai 'kematian' untuk manusia bukan? Jadi sebenarnya tanpa harus dibunuh pun kami sudah mati. Dan kau tak bisa membunuh oorang yang sudah mati." Jelasnya panjang lebar.
"Apa itu alasannya hingga kalian biasa disebut sebagai mayat hidup?" tanya Naruto yang mulai mengerti arah pembicaraan Mai.
Gadis tunggal keluarga Uchha itu mengangguk pelan. "Namun karena itu juga kami panjang umur. Tak seperti makhluk-makhluk usia pendek itu, karena setiap organ kami bekerja jauh lebih lambat maka jangka hidupnya pun kian lama."
Naruto hanya mengangguk saja.
"Yang selama ini kau lakukan bukanlah membunuh kami, kau hanya mematikan fungsi otak kami. Karena dibandingkan dengan semua organ kami yang berjalan lambat, syaraf dan otak kami memiliki kemampuan yang luar biasa. Dan bagi kami 'kematian' adalah matinya fungsi otak. Jika otak kami sudah tak berfungsi itu berarti kami sudah mati."
Gadis bersurai perak itu menoleh pada pemuda yang hanya dapat melongo mendengar penjabarannya yang terdengar abstrak di telinganya.
"Kalau kau tak mengerti ya?" tanya gadis yang kini mulai merapikan ranjang king size kakaknya sambil terus mengocah dengan semangat. "Wajar sih, kau kan manusia. Ilmu pengetahuan milik manusia dan kami sudah sangat berbeda. Tapi suatu saat nanti kau pasti akan dapat mempelajarinya kok."
"Memangnya boleh? Aku kan seorang halfblood." Katanya sambil menggaruk kepalanya yang ditumbuhi surai-surai jabrik berwarna senada dengan warna cahaya matahari. "Aku tahu, aku memang tunangan Sasuke yang merupakan bangsawan vampir. Tapi kurasa aku tak layak memperoleh informasi seperti itu."
Mai mengangguk mengerti sambil mendorong tubuh calon tunangan kakaknnya itu menuju kamar mandi. "Memang. Naru-nii tak akan mendapatkan informasi apapun selama Sasu-nii belum berhasil merubah Naru-nii menjadi vampir."
Tubuh Naruto berubah kaku. "Apa maksudmu? Merubahku jadi vampir?"
"Ah, jadi aku belum bilang ya…"
…
Sasuke berjalan masuk ke kamarnya sambil melepaskan jas tebal yang membalut tubuh atletisnya. Dilihatnya sosok berambut pirang itu berdiri membelakangi dirinya sambil menikmati cuaca cerah yang menyelimuti mansion itu.
"Naruto…" panggil Sasuke sambil melingkarkan lengannya pelan di pinggang ramping calon tunangannya itu.
Namun pemuda pirang itu hanya menepiskan tangan porselen sang vampir bangsawan tanpa menolehkan wajah. "Kau sudah pulang rupanya, Sasuke."katanya masih sambil menatap pemandangan yang terhampar indah di mansion yang terletak di atas bukit itu.
Sasuke yang merasakan gelagat aneh dari sang calon tunangann langsung merebahkan kepalanya di perpotongan leher Naruto sambil menghirup arma citrus yang menguar dari tubuh pemuda Uzumaki itu. "Kenapa kau mengacuhkanku? Apakah ada yang salah?" tanyanya seduktif sambil merapatkan tubuh mungil pemuda yang dicintainya itu pada tubuhnya yang lebih kekar.
"Tentu saja ada yang salah." Jawab si pirang. "Kau tak tulus mencintaiku apa adanya."teriak Naruto marah.
"Hn." Gumam Sasuke sambil mengecup perpotongan leher tan pemilik mata sapphire itu dalam. "Siapa yang mengatakan hal sebodoh itu padamu, Naruto. Tentu saja aku tulus padamu." Katanya membela diri.
Naruto berbalik dan menyentakkan tubuh Sasuke agar menjauh darinya. Sasuke dapat melihat jika warna sapphire di netra Naruto telah digantikan oleh warna rubi yang mengerikan. Sebuah tanda yang cukup jelas jika pemuda setengah vampir itu sedang mengalami gejolak emosi yang cukup mendalam.
"BERHENTI MEMBOHONGIKU!" teriak pemuda itu marah sambil melemparkan segala benda yang dapat dijangkaunya pada sang raven yang ada di hadapannya. "Padahal aku mulai mencintaimu! Namun kau ternyata sama seperti semua orang yang mendekatiku selama ini! Kalian hanya mendekatiku untuk merubahku seperti yang kalian inginkan!"
Sasuke mengelak segala benda yang dilempar Naruto, mulai dari buku, ramuan, vas bunga bahkan hingga foto keluargapun dilempar oleh pemuda itu. Dia menangkap sebuah ramuan yang terakhir dilempar Naruto. "Siapa bilang aku akan merubahmu? Aku ingin kau tetap seperti ini!" katanya sambil mencengkram kedua tangan Naruto erat, tak membiarkan pemuda mungil itu memberontak lebih lama.
"Aku tahu kau hanya ingin merbahku jadi vampir saja kan?! Kau membenci sosokku yang hanya setengah vampir saja kan?!" jerit si pirang sambil menatap tajam mata Sasuke yang mulai berubah menjadi merah dengan tiga titik hitam berputar di dalamnya. Naruto merinding ketakutan melihat perubahan netra itu. "Kau tak mencintaiku…"
Sasuke mengerang mendengar kata-kata calon tunangannya itu. "Dengarkan aku Naruto, kumohon dengarkanlah aku. Tak peduli jika setelah ini kau membenciku atau mengataiku egois. Namun dengarkan aku, Naruto. Kumohon…"
Naruto tak dapat lagi melihat kemarahan dalam mata aneh calon tunangannya itu. Yang dilihatnnya saat ini hanyalah kesedihan yang mendalam.
"Ba…baiklah."
Sasuke menarik pelan tubuh mungil pemuda itu dan memaksanya duduk di ranjang king size Sasuke di samping pemuda itu. "Aku memang egois, aku terlalu ingin memilikmu bagaimanapun caranya. Dan… setelah puluhan tahun aku meminta pada ayahku, dia akhirnya merestuiku untuk meminangmu. Dengan satu syarat… aku harus dapat merubahmu dulu menjadi vampir sebelum kau resmi menjadi pasanganku." Ceritanya.
Naruto hanya dapat menunduk mendengar pernyataan Sasuke. "Mai bilang dulu kau pernah jatuh cinta pada… Lady Hinata Hyuga." Kata Naruto sambil menunduk. "Jika kau menganggapku hanya sebagai penggantinya, lebih baik kau tinggalkan aku, Sasuke…"
"Kau sudah tahu ya." Gumam Sasuke pelan. "Dulu aku memang sangat mencintainya… sampai-sampai aku rela melepaskannya agar dia dapat bahagia bersama kakakku. Aku merasa telah kehilangan jiwaku saat itu. Sampai-sampai aku… bersumpah tak akan ada lagi wanita lain yang dapat menghuni hatiku."
Naruto menyeka lelehan air mata yang jatuh dari matanya yang semakin lama semakin kembali ke warna semulanya itu. "Jika memang tak ada yang bisa, mengapa kau tetap nekad menjadikanku tunanganmu dan membuatku percaya jika kau mencintaiku? Kenapa Sasuke? Kenapa? Kenapa kau mengikatku sementara kau sudah berjanji jika tak ada lagi orang yang bisa menghuni hatimu selain Lady Hinata."
"…yang tak dapat menghuni hatiku lagi hanya wanita." Kata Sasuke sinanbi mencium sudut mata Naruto membersihkannya dari sisa-sisa air mata yang masih saja menutupi keindahan langit di mata itu. "Kau adalah orang pertama dan satu-satunya orang yang dapat membuatku melupakannya. Sejak kelahiranmu, aku mulai mendapatkan setengah jiwaku yang dulu kupikir tak akan pernah lagi kudapatkan…"
Sasuke menautkan tangannya di pipi Naruto lalu membingkai bibir mungil itu dengan sebuah sentuhan lembut dengan bibirnya tanpa ada maksud untuk mendominasi, hanya sekedar untuk menyampaikan perasaan sayang yag dirasakannya.
"…dan itu adalah kau, Naruto Uzumaki."
…
"Kau yang mengatakan hal itu pada Naruto kan?" tuduh Sasuke sambil mengamati sebuah cairan dengan label 'Racun Level Tiga' yang ada di kamar adik perempuannya sementara sang adik tengah sibuk mencampurkan beberapa tetes cairan berwarna hijau mengerikan ke dalam cairan berwarna merah pekat di dalam tabung reaksi. "Sudah kukatakan untuk tak mengatakan hal yang macam-macam padanya kan?"
"Hihihi, tapi tak apa kan. Toh kau juga sudah mendapatkan hadiah yang setimpal dari Naru-nii?"katanya dengan nada menggoda. "Namun kau bahkann tak mengatakan alasan utamamu menginginkan dirinya menjadi vampir kan? Sayang sekali."
Sasuke mendengus kesal. "Kau tak berfikir aku akan mengatakann jika aku melakukannya karena aku takut kehilangannya kan?" katanya dengan nada marah.
Diamatinya kamar sang adik dengan seksama. Ruangan kamar yang seharusnya bergaya lolita dengan warna ungu muda dan putih yang dirancang ibunya telah berubah menjadi ruangan yang seakan keluar dari salah satu film horor buatan manusia tentang dokter gila atau semacamnya. "Sebenarnya apa yang sedang kau teliti, Mai Uchiha?"
Mai menunjukkan sebuah benda yang diletakkan di sebuah cawan kecil. Dan yang dilihat Sasuke hanyalah sebuah rambut berwarna pirang yang tak menjelaskan apapun baginya. "Rambut? Rambut Naruto kah ini?" tanyanya tak mengerti
"Aku sedang meneliti struktur DNA Naru-nii. Ada sesuatu yang menarik perhatianku." Katanya sambil memasukkan sehelai rambut itu ke dalam tabung kimianya. "Dia memiliki struktur DNA yang lebih menyerupai vampir dibandingkan manusia. Dan aku sedang meneliti apa cara yang dikatakan buku catatan kakek Madara bisa dilakukan oleh kita."
Sasuke hanya menggumamkan beberapa hal dengan tidak jelas. "Memang apa yang dikatakann kakek tua itu di bbuuku hariannya?" tanyanya dengan nada tak peduli.
"Hmm, cara merubah Halfblood menjadi vampir seutuhnya." Kata-kata Mai sukses membuat Sasuke tertarik. "Yaitu dengan membunuhnya."
…
"Sialan! Virus itu sudah menyebar di desa! Hampir seluruh warga desanya sudah terjangkit virus berbahaya itu! Kita harus menghentikannya…" teriak itachi marah sambil mengobrak-abrik data-data yag dibawakan Sasuke kepadanya. "Mereka manusia, tak sepantasnya kita merubah takdir mereka hingga sama seperti kita…" tambahnya geram
"Mau marah-marah sepert apapun saja percumah, Ita-nii." Kata Mai yang saat ini sedang mengasah pisau perak berukirkan bunga mawar kesukaannya. "Aku sudah mendengar tentang mengerikannya virus itu dari para tetua dan buku sejarah, tapi tetap saja aku tak bisa mendapatkan gambarannya secara menyeluruh. Saat itu kan aku belum lahir." Kata sang gadis dengan nada setengah tak peduli.
"Jangan meremehkan wabah ini, Mai Uchiha." Tukas Itachi sambil mengatur kembali nada bicaranya agar kembali tenang seperti biasanya. "Dulu kami terpaksa membunuuh hampir sepertiga penduduk benua Eropa akibat jangkitan wabah ini."
Sasuke mendegus pelan mendengar kata-kata sulung Uchiha itu. "Dari cara bicaramu, seolah kau sudah lahir saja pada zaman itu."gerutunya pelan.
Itachi hanya tersenyum saja saat mendengar nada sinis dalam kata-kata Sasuke. "Aku memang belum lahir saat bangsa kita meracuni seluruh manusia yang terjangkit virus itu." Dia mengakui. "Tapi aku sudah lahir dan bahkan ikut berpartisipasi saat peristiwa pembumi hangusan kota London untuk mencegah penyebarluasan virus itu."
"Kalau begitu kenapa kita tidak melakukannya lagi saja kali ini, toh itu kan hanya sebuah desa kecil kan? Tentunya tak akan lebih sulit dari membumi hanguskan sebuah kota yang merupakan pusat peradaban pada masa itu kan?" tantang Mai.
Itachi tersenyum pelan. "Sayang sekali Mai. Itu tak bisa dilakukan mengingat kondisi geografi desa yang sangat terpencil di daerah bersalju Nepal." Katanya sambil melemparkan foto sebuah desa pada Mai. "Api tak akan banyak berguna di daerah itu kalau kau mau tahu."
"Peracunan pun sudah tak bisa dilakukan. Manusia sudah dapat mendeteksi racun jauh lebih baik dibanding saat itu." Imbuh Sasuke sebelum Mai sempat mengajukan pertanyaan. "Apa data-data ini sudah di kirim kepada Lady Sakura dan Lady Hime?"
Itachi mengangguk. "Ya. Dan mereka sudah berjanji untuk meneliti Virus Black Dead ini. Dan jika mungkin mencari anti virusnya."
"Mencari anti virusnya?" tanya Mai tak percaya, "Dalam waktu yang setipis ini? Tak mungkin! Sudah banyak ahli yang mengorbankan hidup dan matinya untuk mencari asal-usul virus ini dan obatnya dan seperti yang kita semua tahu hasilnya: NIHIL." Kata gadis itu sinis.
Itachi mengangguk setuju. "Memang kemungkinannya tak sampai sepuluh persen. Tapi ini berharga untuk dicoba." Dia kembali sibuk mengurusi dokumen-dokemen yang sudah ditekuninya sejak Sasuke pulang pagi ini. "Kali ini kita tak akan dapat lagi membohongi para manusia itu jika ini adalah wabah pess."
Sasuke mengangguk pelan. "Aku akann ke Nepal lagi sekarang juga, akan kupastikann jika mereka tak akan membuat virus itu menyebar semakin luas."
"Benar, tak sebaiknya para manusia itu berubah menjadi seperti kita." Tambah Mai sambil bangkit berdiri. "Untuk kali ini, aku ikut. Dan kalian tak akan bisa mencegahku." Ancam gadis bermata amethys itu tajam.
"Tak ada yang bisa memaksa seorang Uchiha jika dia sudah bertekad."
…
Mai duduk di tanah yang beku sambil memeluk kedua lututnya agar tak membeku. "Perasaanku saja, atau memang kita terus menerus pergi ke tempat bersuhu di bawah lima belas derajat terus akhir-akhir ini?" gerutunya pelan.
"Salahkan saja Your Majesty Minato Namikaze yang terus-terusan memilih tempat bersuhu ekstrem untuk menjalankan rencananya." Jawab Sasuke sambil mengaktifkan Sharingannya untuk mengawasi desa dari jarak jauh.
Mai mengangguk pelan. "Memangnya kau berfikir kalau Your Majesty yang berada di balik kejadian ini?" tanyanya pada sang kakak yang masih saja mengawasi desa.
"Memangnya tidak?"
"Entahlah." Jawab Mai. Gadis itu memilih untuk diam sambil memainkan salju yang bertumpuk di bawah kakinya. Dia menghela nafas panjang sebelum kembali menikmati udara yang sangat dingin. Telinganya yang cukup peka merasa mendengar sebuah suara yang terasa ganjil jika terdengar di tempat antah berantah seperti ini.
Dia melepas soft lens amethysnya sehingga menampakkan dua batu onyx yang mendiami rongga di kepalanya itu. Dia merubah matanya sehingga menampilkan sharingan yang sama dengan milik kakaknya. Namun bukannya mengawasi desa, dia lebih memilih mengamati langit yang tertutup awan dan kabut tebal. "Dari arah jam 2, ada lima orang pria datang. Ah, salah. Maksudku ada lima vampir datang."
Sasuke ikut mengawasi arah yang dikatakan sang adik. "Aku mengenal mereka semua. Sir Pein Hicks dari Amerika, Sir Hidan Castillo dari Spanyol, Sir Kakuzu Sneijder dari Belanda, Sir Kisame Paddock dari Inggris dan Sir Zetsu Wagner dari Jerman." Kata Sasuke tenang. "Mereka semua adalah Knight yang diangkat langsung oleh Your Majesty."
"Your Majesty memang ahli strategi yang mengagumkan. Selama ratusan tahun tak ada satupun dari kita yang menyadari jika di balik senyum ramah dan tawanya, dia mengembangkan suatu pemberontakann tersselubung yang didominasi oleh para bangsawan level rendah yang diangkatnya sendiri." Komentar Mai sambil melepas jaket tebal yang membungkus tubuhnya agar tetap hangat tak terpengaruh udara Nepal yang kurang bersahabat. Toh setelah inipun udara akan berubah panas, jadi dia tak akan membuthkannya.
Sasuke tersenyum sinis. "Bukan saatnya terpukau. Aku yakin mereka datang bukan hanya untuk menyapa kita dan berramah tamah saja." Kata Sasuke sambil mengeluarkan sebuah katana panjang dari balik mantelnya sementara Mai mengambil belati peraknya.
"Mari kita berikan sambutann yang hangat bagi mereka." Ajak Mai riang sambil mencampakan wig peraknya begitu saja.
"Ayo."
…
Konan Carrol berlari sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi agar takmenjerat kakinya dan membuatnya terjatuh. Diketuknya pintu kamar Nyonya Besar Uchiha sambil berteriak-teriak panik memanggil nama Duchess itu.
"Lady Mikoto! Lady Mikoto!" teriak gadis bersurai biru gelap dengan mata berwarna orange itu nyaring .
Mikoto membuka pintu kamar pribadinya. "Ada apa, Konan. Tenangkanlah dirimu dan katakan padaku apa yang terjadi."
Konan menangis tersedu-sedu. "Lady mai…"
"Ada apa dengan Mai, Konan." Mikoto berusaha menenangkan pelayannya yang sudah mengabdi sejak dua ratus tahun lalu itu.
"Lord Sasuke mengirimkan pesan…" dia mulai bercerita meski suaranya terdengar tersendat-sendat."Lady Mai tertembak saat sedang melakukan pengintaian!"
Hening sejenak beberapa saat sebelum akhirnya sebuah teriakan keras membuat Mansion Uchiha bergetar keras.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
…
Fugaku Uchiha berjalan mondar-mandir di hadapan kamar tempat putri bungsunya sedang ditangani oleh delapan orang vampir medis yang berusaha mengeluarkan timah panas dari kaki Mai Uchiha.
Semetara itu Itachi Uchiha sedang berusaha menenangkan Sasuke yang merasa bersalah dengan menepuk-nepuk punggungnya dan meyakinkan pemuda itu jika Mai adalah gadis yang kuat dan luka seperti itu tak akan membuatnya mati.
Seorang dokter keluar dari ruangan itu dengan wajah pucat.
"Bagaimana keadaan Mai?" Fugaku langsung menanyainya tanpa sempat memberi waktu untuk dokter tersebut menarik udara yang tak tersemar oleh bau anastesi.
"Lady Mai terluka parah. Luka tembak di betis kirinya tersusupi racun mematikan… kami ragu Lady Mai dapat bertahan…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Authors foot (kaki Author?)by: Hime Hoshina.
Akhirnya selesai jiga chap 6 ini. Berati sudah setengah jalan kami membuat FF gaje dan tak jelas ini.
Oh, ya. Sekedar info nih, belati perak yang dibawa-bawa Mai Uchiha itu sebenarnya adalah belati kesayangan Mai yang bahkan dibawanya ke RS. (Jangan tanya buat apa Mai bawa benda itu, karena akupun tak tahu.)
Dan yang paling penting, FF ini dibuat bersamaan dengan ulang tahun Mai dan Hime yang kebetula bareng (17 april). Sekarang kami sama-sama sudah dewasa, hehehe.
Yah, dari pada dengar cuap-cuap Hime yang nggak bermutu, sebaiknya kita baca cerita di balik layar soalnya nggak ada yang review tanpa login, kalau yang log in seperti biasa akan dbalas lewat PM.
Mai: Hime, ingat nggak waktu kita pertama ketemu?
Hime: Pertama ketemu? Ingat kok.
Mai: Entah kenapa aku jadi keingatan masa itu.
FLASH BACK ON
Hime: (Turun dari motor sambil celingak-celinguk bingung.) gawat, aku nyasar. (Lihat Mai yang lagi nunggu bis) permisi, mbak. Boleh tanya alamat ini di mana ya? (Sambil ngasihin HP ke arah Mai)
Mai: Oh, ini. Itu lurus aja mbak, terus nanti belok ke kanan. Habis itu belk ke kiri soalnya nggak boleh kalau lurus. Terus ke sana dan blablabla, paham?
Hime: Hah? (dengan muka cengo besar)
Mai: E… gimana kalau saya antar saja, nggak apa-apa kan?
Hime: Eh iya. (Sambil mboncengin Mai)
Sepuluh menit kemudian.
Hime: Sekarang belok kanan, kiri, atau lurus?
Mai: (inner: gawat aku lupa!) Ke… ke kanan! (Padahal harusnya lurus aja -_-' )
Lima menit kemudian…
Hime:Sekarang ke mana, mbak?
Mai: Eeee… nggak tahu.
Hime: (Jawdrop dan langsung ngerem motor) Eh? Terus sekarang kita di mana?!
Mai: Nggak tahu, hehehe
Setelah itu Mai dan Hime nyasar selama tiga jam di kota tempat Mai lahir dan hidup selama 15 tahun. Dan untungnya setelah itu mereka menemukan jalan yang benar dan Hime dapat menemukan alamat yang dicari.
FLASH BACK OFF
Hime: bagi para reader, jika anda mau tanya alamat. Tanyakann dulu pada si korban (?) apakah dia beneran tahu alamatnya atau tidak. Jangan sampai kejadian ini terulang pada kalian, mengerti?
Sekian dari Hime dan Mai.
Terima kasih karena telah membaca dan kami tagih reviewnya.
