Terdengar klise dan mengada-ada memang.
Namun cinta memang tak perlu memiliki.
Apalagi jika cinta yang ingin kau miliki itu tlah tiada.
Dan jika saat itu tiba,
Apapun yang dilakukan orang. Apapun yang dikatakan orang.
Cinta itu tak akan pernah mati dan terus hidup.
Selamanya bersama…
Dalam kehidupan dan kematian.
Tampaknya bahkan kematianpun tak akan dapat memisahkan cinta.
Karena cinta adalah keabadian.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
OC : Mai Uchiha and Hime Haruno
Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina
Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina.
.
.
.
Sasuke duduk di kamarnya sambil menutup wajah tampannya dengan kedua telapak tangan. Rasa bersalah yang besar membuatnya tak mampu berkata-kata lagi. Sudah beberapa hari berlalu sejak Mai tertembak, namun pemuda itu masih saja tak bisa kembali ke dunia awalnya. Dia terus mengurung diri di kamar dan menyalahkan dirinya sendiri yang gagal menyelamatkan adiknya dari serangan peluru tempo hari.
"Sasuke…" kata Naruto sambil menyentuh pundak sang calon tunangan selembut mungkin seakan-akan Sasuke akan pecah dan hancur berantakan jika dia bersikap lebih keras sedikit saja padanya. "Makanlah sedikit saja. Sudah beberapa hari ini kau tak makan." Bujuk pemuda bersurai pirang itu sambil meletakkan senampan sup di meja Sasuke. Dilihatnya steak yang diletakkannya di meja yang sama semalam, tak ada tanda-tanda adanya sentuhan yang diberikan pada makanan itu. Dia mendesah kesal. "Aku meletakkan steak ini di sini bukan untuk sesaji, Sasuke." Tegurnya lirih sambil membereskan steak tak layak makan itu.
Sasuke hanya mengangkat kepalanya sedikit dan menatap sang calon tunangan dengan pandangan sendu. "Jika sampai Mai tak sadarkan diri lagi… atau bahkan lebih buruk lagi, mati. Itu salahku." Bisiknya lirih sambil mengacak surainya yang berwarna dark blue. "Padahal tiga hari lagi adalah hari ulang tahunnya yang keseratus, usia yang sangat didambakan oleh adikku. Namun aku mengacaukannya…" sesalnya.
"Mai adalah gadis yang kuat, Sasuke. Aku yakin dia akan mampu bertahan menghadapi ini semua." Bisik Naruto samil bersimpuh di hadapan Sasuke dan meraih tangan pemuda itu dalam genggamannya. "Sebentar lagi dia akan bangun. Yakinlah."
Sasuke menatap mata sapphire di hadapannya lalu tersenyum lembut. "Terima kasih… Naruto…"
Mereka saling pandag dengan seuntai senyuman tersungging indah di bibir mereka. Kepala mereka saling mendekat hingga akhirnya…
"Ehem. Aku bukannya ingin mengganggu adegan romantis kalian. Tapi setidaknya tutup pintu jika kalian akan melakukan hal semacam itu, dong." Sebuah suara seorang gadis dengan sukses menginterupsi suasana romantis yang tercipta di antara dua pemuda itu. "Aku mau mengabarkan sesuatu untukmu nih, Sasuke."
Sasuke menatap sinis pada gadis bersurai merah muda yang berdiri di muka kamarnya sambil melambai-lambaikan sebuah dokumen padanya. "Kenapa kau ada di sini, Sakura." Katanya dengan nada tajam.
"Aku adalah dokter yang bertanggung jawab untuk mengurusi Mai. Dan aku membawa kabar baik." Katanya sambil menyerahkan dokumen yang dibawanya pada Sasuke. "Mai akan segera sadar. Namun selama beberapa saat kerja otot kakinya tak akan bisa pada Hime yang telah menemukan penetralisir racun aneh itu."
Sasuke membuka dokumen yang merpakan laporan kesehatan itu. "Apa kondisinya memungkinkan untuk menghadiri perayaan ulang tahunnya yang keseratus?" tanyanya pada Putri sulung Duke Haruno itu.
"Bisa. Dan bersyukurlah dia tak perlu memakai alat bantu jika saat itu tiba." Kata Sakura sambil melambaikan tangan pada Sasuke saat dia keluar ruangan. "Oh ya, sebulan setelah pertunanganmu. Datanglah ke mansion keluarga Haruno. Kau harus menghadiri perayaan pertunanganku dengan Putra bungsu Marquess of Africum. Lord Gaara." Katanya sambil membelakangi Sasuke, lalu dia berbalik dan memasang senyum sedih. "Soal dirimu… kurasa sudah saatnya aku menyerah…"
Naruto terdiam mendengar kata-kata Sakura. Dia menundukkan wajahnya yang manis sambil bergumam, "Maaf…"
"Tak ada yang perlu kumaafkan darimu, Uzumaki Naruto. Karena sejak awal aku sudah tahu jika aku tak memiliki tempat di hati Sasuke."
…
Hime duduk di samping ranjang Mai sambil memainkan botol berwarna hijau emerald yang senada dengan warna matanya di tangan kanannya. Botol dengan isi penawar racun yang digunakannya untuk mengobati Mai. Botol yang sama juga dengan botol yang diberikan Mai padanya saat mereka kembali dari labirin bawah tanah.
"Kenapa kau melakukan ini semua?" tanyanya pada Mai yang masih memejamkan matanya. "Sebenarnya apa rencanamu, Mai Uchiha?"
"Ren…canaku?" terdengar lirih suara dari bibir gadis yang masih tertidur di ranjangnya yang sangat mewah. "Bu…bukan rencana yang sulit…"
Hime melirik sedikit pada sahabatnya. "Kalau sudah bangun, kenapa tak bilang?" tanyanya pada gadis bersurai hitam yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya yang silau terkena cahaya matahari yang masuk dari jendela yang terbuka.
"Maaf, badanku masih sedikit kaku." Gumam gadis itu sambil mendudukkan tubuhnya perlahan. "Tampaknya aku tertidur cukup lama ya? Efek racunnya lebih kuat dari dugaanku, padahal cuma racun level tiga." Gumamnya lirih.
"Kau yang paling tahu, Mai. Itu kan racun buatanmu sendiri." Hime mendengus mendengar gumaman dari gadis itu. "Kau meracuni lukamu sendiri. Sebenarnya apa yang kau dapatkan dari kejadian ini, Mai?"
"Hm… dengan begini rencana Your Majesty akan berjalan lancar." Jawabnya, setelah mendapatkan tatapan tak mengerti dari sang sahabat dia melanjutkan, "Keluarga Uchiha adalah rintangan terbesar dalam rencananya. Dan dengan terlukanya aku tentu saja konsentrasi mereka akan terpecah menjadi dua kan?" kata gadis bermata hitam itu sambil mengusap matanya yang berwarna hitam gelap.
"Sebenarnya… apa yang kau harapkan dari Your Majesty. Raja penghianat seperti dia…"
Mai tersenyum pelan. "Yanng kuinginkan hanya satu. Yaitu pengakuan terhadap ras halfblood dan manusia."
…
FLASH BACK
"Kalian sampai juga, Lady Mai Uchiha, Lady Hime Haruno dan Lady Hanabi Hyuga. Aku sudah menunggu kalian." Sapa sebuah suara dari dalam ruanngan itu.
Hime dan Hanabi hanya sanggup terbelalak saat melihat sosok yang tengah berbicara dengan mereka. Tubuh mereka berubah kaku dan gemetaran sementara rona menghilang dari wajah cantik mereka.
Namun berbeda dengan Mai, gadis dengan seribu rahasia itu hanya tersenyum sambil membungkuk memberi hormat. "Suatu kebanggaan dapat berjumpa dengan anda lagi, Your Majesty."
"Tak seperti kedua temanmu, kau tampaknya tak terlalu kaget melihatku di sini, Lady Mai Uchiha." Sapa pria bersurai pirang berantakan yang duduk di singgasana dengan tenangnya. "Kau sepertinya sudah menduga semua ini, Young Lady."
Mai hanya mampu mengangguk kecil saja. "Jika saya berkata 'tidak' maka saya berbohong, Your Majesty."
"Sejauh apa yang sudah kau tahu?"
Gadis bersura perak itu tersenyum misterius. "Hampir seluruhnya aku sudah tahu. Termasuk rencana anda, Your Majesty."
Sang raja hanya tertawa saja mendengar kata-kata yang diucapkan oleh gadis di hadapannya itu. "Kau benar-benar seorang Uchiha! Sudah kukira tak sebaiknya aku meremehkan anggota keluarga Uchiha yang sudah terkenal kemampuan otaknya." Pria itu berkata sambil mendekati gadis itu dan membelai sisi wajahnya. "Pasti sangat menyenangkan jika kau bersatu dengan'nya'." Tambahnya sambil tersenyum misterius.
"Anda harus menahan kekecewaan rupanya, Your Majesty." Jawab gadis itu sambil menatap tajam sepasang manik sapphire sang Raja yang akan segera lengser dari tahtanya. " Aku sudah memiliki tunangan."
"Aku tahu." Gumam sang Raja Vampir kecil. "Tunangan yang ditunjuk oleh keluargamu demi memenuhi obsesi mereka terhadap kemurnian darah bukan? Kalau tidak salah namanya adalah…"
"Jangan sebut namanya di hadapanku."
Sang Raja hanya tertawa sinis mendengar kata-kata tajam yang dikeluarkan gadis di hadapannya. "Kau sadar bukan, jika kita ini 'sama'. Tampaknya kau belum benar-benar melupakan manusia itu, Lady Mai."
"Ya. Karena itulah aku mencarimu." Kata sang gadis sambil meraih pisau yang disembunyikannya di dalam gaun hitamnya. Dijilatnya pisau perak yang telah ternoda oleh darahnya sendiri dengan lidah. "Aku tahu obsesi anda, Your Majesty. Dan aku menawarkan sebuah transaksi dengan anda." Tambahnya.
"Menarik. Apa yang bisa kau berikan padaku. Aku memiliki segalanya dan dapat melakukan apapun yang kuinginkan. Aku tak membutuhkan bantuanmu, Lady Mai Uchiha. Namun kaulah yang membutuhkan batuanku untuk menyempurnakan janjimu bukan?"
"Ya." Jawab sang gadis sambil menunduk. "Namun ada yang takk anda miliki sekarang, King Minato Namikaze." Katanya dengan nada misterius. "Dan itu adalah kebebasan anda dari bayang-bayang keluargaku."
"Kuterima tawaranmu."
FLASH BACK OF
…
"Mai, katakan padaku. Apa kau masih belum dapat melupakan manusia itu? Inuzuka Kiba?" tanya Hime takut-takut. Saat dilihatnya sang sahabat tersenyum pahit sambil mengangguk dia berkata, "Sudah setengah abad sejak dia meninggal, Mai…"
Mai mengangguk pelan. "Aku tahu. Namun aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya."
"Kau adalah calon Duchess Uchiha berikutnya, menggantikan Lady Mikoto." Tegur Hime sambil membuang pandangannya. "Ingatlah, Lord Itachi akan menjadi Raja sedang Lord Sasuke memutuskan untuk menikah dengan laki-laki. Hanya kau satu-satunya harapan Uchiha yang tersisa saat ini, Mai."
"Terima kasih karena telah mengingatkanku akan hal itu, Hime." Kata putri bungsu Uchiha itu sinis. "Dan bagaimana denganmu sendiri? Jangan kira aku tak tahu mengenai perasaanmu pada Ita-nii." Katanya tajam.
Hime membuang tatapannya pada motif latai kamar Mai. "Lord Itachi, dia… dia sudah memiliki Lady Hinata. Wanita yang anggun dan serasi untuknya. Lagipula aku juga sudah memiliki Lord Shino untuk diriku sendiri."
Mai hanya diam tak membantah kata-kata Hime, bukanberarti dia setuju dengan pikiran bungsu Haruno itu. Namun dia juga mengerti, bagaimana rasanya tak dapat meraih orang yang dicintainya.
"Hime, dengarkan aku. Setidaknya orang yang kau cintai belum mati. Sayang jika kau melepaskannya begitu saja. Tak seperti aku…"
"Iya, tapi bagiku… Itachi Uchiha yang kusukai telah tiada. Yang ada tinggal Lord Itachi, dan dia adalah milik Lady Hinata."
…
Naruto berdiri diam di belakang Sasuke sambil mengamati sosok vampir yang sadang membaca hasil laporan dari anak buahnya itu. "Apa wabah di daerah Nepal itu sebegitu buruknya, Sasuke? Virus macam apa yang membuat kau begitu panik?"
"Sebuah virus yang kupikir telah musnah ratusan tahun lalu. Sayangnya aku salah." Jawab Sasuke sambil membaca secara teliti sebuah dokumen yang menuliskan tentang perkembangan virus itu. "Kau pernah dengar tentang wabah 'black death'?"
Naruto memutar matanya mencoba mengingat-ingat isi salah satu buku sejarah yang dimilikinya semasa SMA dulu. "Sedikit. Kalau tidak salah itu adalah wabah pes yang menyerang penduduk Eropa pada abad pertengahan kan?"
"Tepat, itulah yang menyerang desa itu."
"Tunggu dulu! Tapi setahuku Yersinia Pesti itu adalah bakteri dan bukannya virus!" protes Naruto tak mengerti. "Lagipula sekarang kan sudah banyak vaksin dan obat yang dapat menanggulangi penyakit itu, jadi seharusnya kalian tak perlu khawatir."
Sasuke menatap wajah Naruto dalam-dalam. "Masalahnya adalah black death bukanlah pes, Naruto." Kata pemuda itu singkat. Dia menghela nafas perlahan. "Kami yang menyebarkan berita bohong itu di kalangan manusia agar tak terjadi kericuhan."
Naruto mengernyit tak mengerti. "Lalu sebenarnya virus macam apa Black Death itu?"
Sasuke menatap tajam mata Naruto. "Itu adalah virus yang dapat menyebabkan manusia menjadi vampir."
"A… Apa?!" tanya Naruto tak percaya. "Merubah manusia menjadi vampir? i…itu tak mungkin kan?"
"Virus itu akan menyebabkan perlambatan kerja organ dan meningkatkan kebutuhan korbannya akan darah." Jelas Sasuke sambil mengecek lagi salah satu dokumen lainnya. "Bedanya, mereka bukanlah vampir sempurna. Akal pikiran mereka akan hilang bersamaan dengan kegilaan mereka akan darah yang semakin meningkat."
"I…itu buruk…" gumam Naruto. Namun belum sempat si pirang berkomentar apapun lagi, seseorang telah mengetuk pintu ruang kerja Sasuke dan masuk ke dalamnya.
Naruto hanya mampu melongo tak percaya melihat pemuda di hadapannya. Berambut perak dengan mata amethys. Sangat mirip dengan Mai saat gadis itu memakai wig dan soft lensnya. Dan menurut Naruto, pemuda itu tampak lebih cocok dikatakan sebagai kakak dari Mai jika dibandingkan dengan Sasuke. Namun semua kemiripan itu langsung lenyap saat pemuda itu membuka mulutnya dan menampilkan sederetan gigi yang berupa taring seluruhnya.
'Mengerikan! Digigit dengan sepasang taring saja pasti sangat menyakitkan apalagi jika ada sebanyak itu!' itulah inner si pirang.
"Ada apa Suigetsu Hozuki? Apa ada perkembangan laporan dari Juugo dan Karin yang bertugas mengintai di Nepal?" tanya Sasuke dengan wajah datar dan suara yanng dingin.
"Ya, ada." Jawab pemuda mengerikan itu sambil menyerahkan beberapa dokumen pada Sasuke. "Kami sudah meneliti pola serangan dan para penyerang. Mereka adalah orang-orang yang secara sepihak diangkat oleh Your Majesty menjadi knight dengan kemampuan yang merupakan kemampuan dasar keluarga Namikaze."katanya memberi laporan.
"Jadi apa kesimpulanmu, Suigetsu?"
Suigetsu menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Ada kemungkinan pemberontakan itu dilakukan oleh Raja Minato sendiri. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Lord?"
Sasuke mengangguk. "Tepat sesuai dugaan. Sekarang siapkan beberapa pasukan untuk menjaga dan mengisolasi desa yang terinfeksi virus. Jangan biarkan virus itu menyebar luas."
"Baik!"
Naruto hanya menunduk saja. Selama ini dia membenci vampir dan bahkan membunuhnya. Tak pernah terfikir olehnya jika para vampir itu berusaha sekeras ini untuk menolong umat manusia. Selama ini di otaknya selalu terpatri jika para vampir adalah makhluk kejam yang tak segan-segan membunuh manusia demi memenuhi nafsunya. Namun kelihatannya dia mesti membuka pikirannya lebih jauh lagi mulai saat ini.
Dia menghela nafas. "sasuke, biarkan aku ikut juga untuk misi kali ini."
…
Mai duduk di kamarnya sinambi mencorat-coret sebuah buku di hadapannya. "Jika dengan cara ini… mungkin bisa kulakukan. Tapi… apa waktunya sempat?" gumamnya pada diri sendiri. Diedarkannya pandangan onyxnya ke sekeliling kamar, mencari bahan-bahan yang dibutuhkannya. "Akan segera kucoba."
Tiba-tiba suara pintu kamar yang dibuka mengambil alih atensi milik sang gadis. Diliriknya sedikit pintu kamarnya, namun segera dikembalikan pandangannya pada buku kerjanya. "Apa kau tak bisa mengetuk pintu dahulu? Itulah tata cara yang benar untuk memasuki kamar seorang Lady." Tegurnya tajam.
"Bahkan oleh tunanganmu sendiri?" tanya pemuda yang memiliki kulit putih sepucat mayat padanya. "Padahal aku sudah terburu-buru ke sini saat mendengar dari Lady Sakura jika kau sudah sadar. Tapi sambutanmu itu benar-benar dingin, Mai."
Mai tersenyum sinis pada pemuda di hadapannya yang memiliki ciri tak jauh berbeda dari Uchiha kebanyakan. "Sai Uchiha…" desisnya tajam. "Berapa kali aku harus mengatakan kalau aku tak mengakuimu sebagai tunanganku?"
"Namun para tetua Uchiha mengakuinya." Bantah pemuda bernama Sai Uchiha itu tajam. "Kau adalah tunanganku. Dan kitalah yang akan menjadi Duke dan Duchess Uchiha selanjutnya. Pertunangan darah dekat ini… dilakukan bukan atas dasar cinta. Namun atas dasar kemurnian darah."
"Aku tahu. Maka dari itu aku membencimu." Kata sang gadis tak kalah sinisnya. "Kau bisa saja memiliki tubuhku. Namun tidak hatiku."
Sai tersenyum miris mendengar kata-kata gadis itu. "Cara apa lagi yang harus kulakukan agar kau mencintaiku?" bisiknya pelan.
"Tak ada." Jawab Mai sambil menutup buku kerjanya. Ditatapnya sepasang onyx yang serupa dengan bola matanya sendiri. "Aku sudah memutuskan memberikan hatiku pada Kiba Inuzuka, dan kau telah membunuhnya. Dan aku tak mungkin jatuh cinta pada pembunuh kekasihku kan?"
…
Naruto mengeratkan jaket tebal yang dipinjamkan Sasuke kepadanya. Di hadapannya berdiri sekitar dua puluh vampir yang siap mengisolasi desa terpencil itu dari dunia luar.
"Aku harus buktikan kalau aku pantas menjadi pendamping seorang Uchiha."
.
.
.
TBC
.
.
.
Yeiy, chap 7 akhirnya update juga.
Mau minta maaf nih kalau misalnya tokoh Mai Uchiha terlalu mendominasi cerita soalnyasebenarnya kisah ini adalah kisah yang aku buat saat kelas 8 SMP dan bukan merupakan sebuah FF melainkann sebuah novel fantasi dengan judul 'Black Dream'.
FF ini dibuat atas usul dari Hime Hoshina yang membaca dan mengoreksi novel buatanku itu. Namun saat proses penyesuaian tokohnya ternyata banyak tokoh yang nggak mungkin ada di Anime Naruto. Misalnya tokoh Fuyuumi Takara (Mai Uchiha di FF ini) dan Helena Blake (Hime Haruno di sini), jadi kami sepakat memakai OC. Dan sebenarnya tokoh Naruto aslinya adalah cewek yang nggak bisa hamil. Makanya maaf kalau Naru kesannya cewek banget.
OK, sekarang saatnya balas review dari yag nggak log in. yang log in akan dibalas lewat PM ^_^
GOD AND ANGLE: Makasih atas reviewnya. Maaf tidak bisa update kilat T_T soalnya jarak rumah Hime dan Mai jauh sih. ^_^ Ok, aku akui hubungan kami memang agak tidak jelas kadang bahkan digosipin kalau kami Yuri (WTF?)hehehe. Terima kasih sudah membaca ^_^
Kisah di balik layar:
Baju baru.
Hime yang merasa sedikit cemas dengan gaya berbusana Mai yang selalu pakai celana jeans, kaus dan jaket, suatu hari memaksa cewek ini belanja, tentunya di Malioboro yang murah dan bisa ditawar ^_^
Hime: sesekali belilah baju yang membuatmu kelihatan 'cewek' dong!
Mai: Memangnya apa yang salah dengan pakaianku?
Hime: Baju itu kamu beli waktu kelas 1 SMP kan? Jaketnya pinjem punya sepupumu dan celana itu kamu beli yang model cowok kan? Ngaku!
Mai: (inner: Busyet, kok dia bisa tahu? Padahal kan waktu kelas 1 SMP aku belum kenal sama dia!)Jadi?
Hime: aku bukannya sok menggurui soal baju ya. Tapi setidaknya sekaliiiii saja pakai baju yang bukan baju lama, pinjem atau model cowok dong!
Mai: OK deh. (Langsung dipilihin baju model cewek oleh Hime dann dipaksa langsung dipake) udah kan? Lalu sekarang apa lagi?
Hime: berdiri di sana! (ngeluarin HP dan langsung momfoto Mai) Siip deh.
Mai: (Mual mual karena agak phobia di foto) mau diapain sih fotonya?
Hime: Mau dikirim ke tempat Teru (sepupu Mai) dia janji katanya kalau aku berhasil foto kamu pakai baju perempuan maka dia bakal traktir aku makan sepuasnya.
Mai: … (inner: Awas saja kau Teru! Akan kubuat kau menderita karena telah berani membuatku jadi bahan taruhan! Hahahaha! # tertawa ala psikopat)
Esok harinya Teru nggak masuk sekolah karena Mai nyampurin obat pencuci perut milik ayah Mai ke sarapannya Teru. Kasihan.
OK sekian dari kami.
Dan jangan lupa review ya?
