Jujur.
Adalah kata-kata yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan.
Apalagi jika aku ada di hadapanmu.
Menatap wajah polosmu yang seolah tanpa dosa itu…
Aku merasa ingin mengatakan jika di dunia ini tak ada hitam, hanya ada putih.
Tapi… aku tahu…
Kau harus mengetahuinya.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
OC : Mai Uchiha and Hime Haruno
Story : Mai Narazaki and Hime Hoshina
Warning :FF ini walaupun dipublish di account Mai Narazaki tapi merupakan karya join 2 author, Mai Narazaki dan Hime Hoshina.
.
.
.
FLASH BACK (Sasuke POV)
Aku hanya mampu melihatnya saja saat wajah cantiknya itu tersenyum manis ketika Itachi memasangkan cincin dari emas putih di jari manis tangan kirinya.
Kurasakan sebuah tangan mungil menggandeng tanganku mencoba memberi kekuatan saat setetes air sudah nyaris meluncur dari sudut mataku. "Sasu-nii, Sasu-nii sakit ya? Kok muka Sasu-nii pucat?" tanya gadis mungil berusia lima tahun itu dengan polosnya.
Aku tersenyum kecil melihatnya. "Iya, Mai. Aku memang sakit." Kataku sambil membelai surai darkbluenya yang serupa dengan suraiku sendiri.
"Kalau Sasu-nii sakit, ayo kita ke tempat Sakura-neechan. Pasti Sakura-neechan akan menyembuhkan Sasu-nii." Katanya dengan nada polos yang membuatku semakin merasakan yang namanya 'sakit'.
Kugelengkan kepalaku dan duduk di hadapan gadis mungil itu sambil memegang pundaknya pelan. "Sakura tak akan bisa menyembuhkannya, Mai." Kataku lirih sambil mengusap rambut Mai pelan. Sebelum adikku itu sempat bertanya lagi, aku berkata. "Belum saatnya kau tahu, Mai. Sekarang kau masih kecil. Beberapa puluh tahun lagi kau pasti bisa mengerti kata-kataku saat ini." Jelasku sambil pergi meninggalkannya.
Aku memilih untuk menjauh dari hiruk-pikuk pesta pertunangan kakak sulungku sendiri dan mengasihani diriku sendiri di taman mawar keluargaku.
Sebuah tawa sinis kusenandungkan untuk mengejek diriku sendiri. Adik macam apa aku yang malah bersedih di saat kakaknya mendapatkan pasangan.
"Kenapa harus Hinata?" tanyaku entah pada siapa. "Kenapa harus Hinata yang mendampingi Aniki?" kudengar diriku sendiri mengerang.
Kurasakan setetes air jatuh dari sudut mataku. Ah… bodoh sekali aku yang bisa jatuh cinta pada gadis yang aku tahu pasti merupakan calon tunangan kakakku sendiri. Bodoh sekali aku yang selama ini hanya bisa memandangnya tanpa memiliki keberanian untuk mengatakannya secara langsung pada gadis itu.
Kuhempaskan badanku di antara tanaman bunga mawar milik Kaasan. Kutatap satu-persatu tangkai mawar yang ada di sana.
Sebuah mawar berwarna yang biru indah sukses merebut atensiku, "Sejak kapan mawar ini ada di sini?" gumamku lirih sambil membelai bunga mawar indah itu. "Bukankah mawar biru adalah hal yang mustahil diciptakan?" dalam hati aku menambahkan, 'Seperti perasaanku pada Hinata.'
"Memang, itulah alasannya kenapa mawar biru diibaratkan sebagai sebuah kemustahilan."
Aku menoleh saat mendengar sebuah suara wanita yang terdengar familier menyapaku dari belakang.
"Namun seperti yang kau lihat. Mawar itu sekarang berada di sini." Tambahnya.
Aku menoleh menatap wanita yang seolah masih berusia tiga puluh tahun itu. "Kaasan, kenapa ada di sini?" tanyaku padanya.
"Mai mencemaskanmu, dia bilang kau sakit tapi tak mau diobati." Kata Kaasan sambil ikut berjongkok di sampingku sambil mengamati bunga mawar berwarna biru itu. "Adikmu memang masih kecil, bahkan untuk ukuran manusiapun dia masih sangat muda, usianya juga baru lima tahun. Tapi taukah kau bahwa dialah yang menumbuhkan mawar biru ini?"
Aku menggeleng pelan. "Kurasa Tousan memang benar, Mai memang bukan seorang Uchiha biasa." Kataku pelan.
"Banyak sekali vampir dan manusia yang nyaris gila saat berusaha menumbuhkan tanaman ini, namun semuanya gagal. Di satu sisi, adikmu yang baru berusia lima tahun sudah berhasil menemukannya. Bukankah itu terdengar seperti sebuah kemustahilan?" kata Kaasan sambil memetik sehelai daun yang sudah tua.
Aku mengerang mendengar kata-kata Kaasan yang bagiku merupakan suatu nasehat yang tersirat. Namun aku bahkan terlalu malas untuk memikirkan artinya saat ini. "Sebenarnya apa yang ingin Kaasan katakan?"
"Sasuke, aku tahu selama ini kau merasa ada yang kurang pada dirimu bukan? Kau merasa minder karena Anata terus membandingkanmu dengan Itachi." Katanya lembut sambil berjalan menjauh mengambil penyiram tanaman dan mengisinya dengan air. "Dan satu-satunya orang yang secara langsung mengakuimu sebagai seorang pribadi adalah Hinata Hyuuga. Namun sekali lagi kau harus menerima kepahitan karena gadis yang kau berikan perasaanmu itu telah dijodohkan dengan kakak sendiri."
Aku menatap wajah wanita yang telah melahirkanku dengan tatapan intens. Kupandang manik onyx yang merupakan ciri khas keluargaku itu. Kupandang juga surai dark bluenya yanng diwariskannya padaku dan adikku.
"Apa aku semudah itu ditebak?" tanyaku.
Kaasan hanya tertawa saja mendengarnya. "Jika kau sudah hidup hampir sepuluh abad lamanya pasti membaca pikiran seseorang bukan lagi hal yang sulit." Katanya ramah. "Suatu saat nanti Kaasan yakin kau pasti akan menemukan seseorang yang mau berada di dekatmu dan memperhatikanmu dengan tulus, Sasuke. Dan jika saat itu tiba, maka Kaasan yakin kau akan bisa melupakan Lady Hinata dan membuka hatimu pada orang lain."
"Tapi kapan saat itu tiba?"
"Tak ada yang tahu. Bahkan Kaasan atau dirimu sendiri tak akan tahu sampai saatnya tiba." Katanya lembut. "Sekarang sudah saatnya kau kembali ke pesta. Kau pasti tak mau membuat adikmu khawatir kan?"
Aku mengangguk. "Ya, Kaasan benar."
…
Aku duduk di atas atap sebuah bangunan tinggi sambil mengamati sosok bersurai pirang itu merubah sosoknya menjadi setengah vampir. Sebuah senyum terkembang di wajahku. "Kau memang benar-benar seorang Halfblood, Naruto." Desisku kagum.
Kuperhatikan gerakannya yang semakin lincah dan indah dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu sejak pertama kali dia menjadi seorang vampire hunter, cantik.
Aku mengamatinya selama beberapa menit dia melakukan pertempuran itu. Kulihat gerakannya semakin tak beraturan akibat terdesak oleh para vampir kelas rendah yang harus dibunuhnya. "Lemah sekali." Gumamku perlahan.
Kuambil sebuah botol dari saku jasku dan kucelupkan beberapa jarum kecil yang kuselipkan di pergelangan tanganku ke dalam cairam berwarna coklat keruh itu. "Berterimakasihlah pada Mai yang sudah membekaliku dengan racun mematikan ini, Naruto Uzumaki." Kataku sambil melemparkan jarum-jarum itu ke titik mematikan seorang vampir.
"Kena." Gumamku puas saat melihat vampir rendahan itu terhuyung beberapa saat sambil memegangi leher bagian belakangnya yang terkena tusukan jarum mematikanku. Naruto balas menyerang dengan cakarnya dan langsung merobek tepat di bagian perut pria itu. Aku terkekeh puas, "Skak mat."
Naruto menatap dalam-dalam sosok mayat vampir di hadapannya, tampak tak mengerti kejadian yang baru saja dialaminya. Dia mendogak, mencoba mencari entitas yang telah membantunya. Mencariku.
Namun saat dia melakukannya aku telah pergi menjauh.
…
"Sasu-nii dari mana? Kenapa baru pulang sepagi ini?" tanya seorang gadis yang mengenakan gaun hitam gelap senada dengan warna mata dan surainya padaku. Dia tampak acuh tak acuh padaku dan tetap memfokuskan atensinya pada majalah mode yang sedang dibacanya. "Pasti menguntit Naruto Uzumaki lagi ya?"
Aku tetap melanjutkan langkah ringanku menuju tangga tanpa menoleh pada adik perempuanku itu. "Jangan bicara seolah-olah aku ini adalah stalker, Mai."
"Memangnya tidak?"
"Bukannya kau sama saja?" tantangku. "Kau adalah penerus keluarga Uchiha, Mai. Percuma saja kau mencitai si anjing itu karena pada akhirnya kau tetap akan menikah dengan Sai seperti yang diharapkan Tousan dan Kaasan."
Dia tampak tak terpengaruh pada kata-kataku. "Karena itulah aku ingin menikmati perasaanku saat ini sebelum menikah dengan si muka mayat itu." Jawabnya tenang sambil menyesap cairan berwarna merah kental dari gelas kristal di tangannya. "Yah… harusnya kau bahagia, Sasu-nii. Setidaknya Tousan mengizinkanmu menikahinya kelak meskipun itu hanya demi kedudukan dan gelar saja."
Aku menghentikan langkahku. "Meskipun begitu, aku tulus mencintainya. Tak peduli apapun yang direncanakan Tousan dan Aniki. Bagiku, asal dapat mendapatkan Naruto, itu saja sudah cukup."
Mai mengalihkan pandangannya dari majalah mode dan menatapku sambil tersenyum manis. "Semangat yang bagus, Sasu-nii. Kuharap aku juga bisa memiliki semangat yang sama untuk tetap mempertahankan perasaanku pada Kiba."
Aku hanya dapat membalas senyumnya dengan senyum tipis sambil melangkah pergi meninggalkannya. "Semoga saja."
Sayangnya, aku berbohong. Karena aku tahu, malam ini Aniki dan Sai Uchiha sedang berburu. Dan mangsanya adalah…
…Kiba Inuzuka.
Yah, mungkin yang dikatakan Mai ada benarnya juga. Ada baiknya aku bersyukur . Andaikata Naruto bukanlah seorang halfblood dan bukan merupakann putra 'orang itu' pasti nasibkupun tak akan jauh berbeda dengan Mai.
FLASH BACK END
…
Normal POV
"Kalau kau sebegitu khawatirnya dengan Naruto, kenapa kau tak susul saja dia ke Nepal?"
Sasuke mengerjabkan matanya beberapa kali sambil menatap adik perempuanya yang kini sudah duduk di meja kerjanya sambil membaca beberapa berkas yang berserakan di atasnya. "Sejak kapan kau ada di sini, Mai?"
"Sepuluh menit yang lalu. Bukankah kau yang memanggilku ke sini?" tanya gadis itu kalem. Sebelum kakaknya sempat melemparkan protes padanya dia kembali berkata. "Dan aku sudah mengetuk pintu. Tapi karena tak ada yang membukakannya, aku masuk saja."
Sasuke hanya dapat menghela nafas mendengar penjelasan adiknya. "Aku akanpergi ke Nepal setelah menyampaikan tugas untukmu, namun karena kondisi kakimu yang tak memungkinkan, aku terpaksa mengalihkan tugasmu." Kata pemuda bersurai dark blue itu tegas.
"Jadi? Apa tugasku?"
Mendengar jawaban tanpa ada gestur tertarik dari sang adik dia kembali melanjutkan. "Kau ditugaskan untuk membantu Lady Sakura dan Lady Hime untuk membuat antidot virus yang sedang berkembang di daerah Nepal. Dan antidot tu harus sdah selesai sebelum dua minggu lagi, sebelum para korban yang telah terinfeksi berubah menjadi vampir."
"Tunggu sebentar. Sebenarnya siapa di sini yang gila? Aku atau kau? Mana mungkin kami bisa membuat sebuah antidot yang bahkan tak sanggup dikerjakan para ahli virologi selama lima ratus tahun terakhir dalam waktu sesingkat itu?!"
Sasuke menghela nafas panjang. "Ini tugas yang diberikan Aniki."
"Berarti Aniki yang gila." Jawab Mai acuh tak acuh. "Bukannya aku berpesimistis ria, tapi ini adalah tugas yang indikasi keberhasilannya hanya 2 % kan?"
"Itulah alasannya kenapa aku merekomendasikanmu ikut ke dalam tim Haruno. Kau memiliki bakat dalam membuat ramuan atau semacamnya."
"Tapi tidak dengan virus! Aku sama sekali tak pernah mem[elajari virologi!" tolak Mai kasar. "Aku lebih senang terjun langsug ke Nepal daripada harus seharian berhadapan dengan rabung reaksi."
Sasuke hanya mampu menggelengkan kepala kesal melihat tingkah adiknya yang benar-benar kekanak-kanakan. "Kata siapa kau tak akan terjun langsung ke Nepal?" tanyanya pada sang adik. "Kau tetap akan ke sana, meski bukan dalam misi mengisolasi wilayah atau pertahanan."
Mai mengangguk paham, sebuah senyum terkembang di wajahnya. "Itu terdengar bagus di telingaku. Setidaknya aku bisa melarikan diri sementara dari manusia setengah mayat itu."
"Maksudmu Sai? Kudengar dia sudah datang kemarin, makanya aku menawarkan misi ini padamu." Kata Sasuke sambil menyerahkan sebuah data pada Mai. "Setidaknya kau akan dapat melarikan diri darinya sampai hari ulang tahunmu nanti."
Gadis manis itu tersenyum penuh arti. "Dan juga hari pertunanganmu."
…
"Jadi kau berniat mengindariku, heh?" tanya pemuda berkulit sepucat mayat sambil mengamati sang tunangan yang sedang mempersiapkan berbagai ramuan yang akan dibawanya.
"Kalau memang itu keinginanmu, akan kupertimbangkan."
Sai tertawa mendengar nada sinis gadis bersurai perak itu. "Memangnya kau pikir kau bisa melarikan diri selamanya dariku? Bagaimanapun caranya kau tetap adalah seorang Mai Uchiha, calon Duchess Uchiha berikutnya."
"Kau benar, itulah satu-satunya hal yang aku sesali di dunia ini." Gadis itu berkata perlahan, dibelainya surai perak palsu yang menyembunyikan kegelapan malam di baliknya. "Kau tahu kenapa au selalu memakai wig dan soft lens ini, Sai?" tanyanya dengan nada misterius. "Alasan kenapa aku selalu berpenampilan seolah aku berasal dari keluarga Hozuki adalah karena aku tak mau terlihat seperti seorang Uchiha!"
Sai tertawa mendengar kata-kata bernada tajam itu. Didekatinya tubuh gadis bungsu Uchiha itu dan diciumnya surai perak sang gadis. "Itulah alasan kenapa aku memilihmu. Kau berbeda."
"Tak ada artinya bagiku perasaanmu itu, Sai. Karena aku membencimu yang telah membunuh Kiba."
…
"NARU-NIIIIII!" teriak Mai sambil memeluk pemuda bersurai pirang itu dari belakang. "Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku melihatmu."
"Mai? Bukankah kau sedang sakit saat ini?" tanya Naruto tak percaya sambil mengamati sosok gadis di hadapannya dengan seksama. "Kau datang sendiri?"
"Kalau kau sebegitu merindukan Sasu-nii sebaiknya kau temui saja dulu Suigetsu-kun, Sasu-nii sedang menerima laporan darinya."
Wajah Naruto memerah, siapa sangka intuisi bungsu Uchiha itu cukup tajam sampai dapat membaca makna tersirat yang ada dalam kata-kata pemuda Uzumaki itu. "B-bu-bukan begitu maksudku Mai. Ku-kupikir kau tak mungkin datang sendirian dengan kondisi kaki yang seperti itu…"
Mai tampak memainkan amethysnya bosan mendengar jawaban Naruto. "Hm… kalau kau tak rindu pada Sasu-nii mungkin aku bisa membujuknya untuk kembali ke Jepang dan menyelesaikan kasus Your Majesty yang sempat tertunda." Pancing gadis itu.
"Seriuslah Mai…"
"Baiklah, aku datang bersama Sasu-nii, Lady Sakura dan Hime. Kami semua kecuali Sasu-nii ditugaskan untuk membuat antidot untuk virus ini." Jawab gadis itu sambil memasang wajah kesal. "Semakin lama, aku merasa Naru-nii semakin mirip Sasu-nii, kelewat serius."
Naruto tertawa mendengar kata-kata calon adik iparnya itu. "Setidaknya aku harus serius di sini. Para vampir itu terus menerus menatapku dengan pandangan curiga."
"Itu karena kau adalah manusia, Naruto." Kata Sasuke yang telah selesai dengan laporan dari Suigetsu. Dipeluknya pinggang Naruto mesra dan dikecupnya pipi dengan tiga garis tipis itu lembut. "Bagaimana keadaanmu di sini, Naruto?"
"A…aku baik-baik saja, Sasuke…" jawab pemuda bersurai pirang itu malu-malu.
Sasuke kembali mengeratkan pelukannya. "Aku senang jika memang benar begitu. Kudengar kau cukup berperan dalam pengisolasian kemarin. Aku bangga padamu."
"Itu tidak benar Sasuke. A…aku…"
"Cih. Kupikir suhu di Nepal akan sedingin kemarin makanya aku memilih menggunakan mantel tebal. Tapi ternyata aku salah."potong Mai untuk menghancurkan nuansa romantis diantara Sasuke dan Naruto. "Aku akan pergi ke tempat Lady Sakura dan Hime saja, sebelum aku terpaksa memakai bikini akibat udara yang sepanas Hawai di musim panas ini."
"Memang sebaiknya kau pergi, Mai." Kata Sasuke dengan nada iseng. "Kalau tidak kau akan menjadi dewasa bahkan sebelum usiamu genap 100 tahun."
"A…APA?!" kata gadis manis itu dengan wajah memerah. "Mak-maksudmu kau… kau akan… AAAAAAA! Kau pasti mau menggodaku kan?!" teriak gadis itu dengan wajah memerah malu. "SASU-NII BODOH!" katanya sambil berbalik dan berlari pergi.
Naruto hanya mampu melongo saja melihat tingkah gadis yang biasanya terkendali itu.
"Tak seperti yang kau duga Naruto, meski dia sudah berusia seratus tahun tapi dia masih tetap anak-anak." Kata Sasuke sambil memeluk pundak Naruto erat. "Jangan biarkan dia mempermainkanmu lagi, OK?"
"Eh? I… iya."
…
Naruto merasa tegang saat dia duduk di sebuah sudut kamar dengan fasilitas yang cukup mewah jika mengingat mereka sedang berada di daerah Nepal yang sedanng terisolir akibat wabah aneh. Diliriknya pintu kamar mandi beberapa kali tiap menitnya, setengah berharap jika Sasuke tak akan keluar dari dalamnya.
'Tenanglah Naruto, bukankah kau pernah tidur seranjang degan dia sebelum ini?' pemuda bersurai pirang itu menyakinkan dirinya dalam hati. 'Pasti ini semua gara-gara ucapan ngawur Sasuke tadi siang! Ah, harusnya aku tak usah memikirkannya! Itu kan hanya salah satu cara Sasuke untuk menjauhkan Mai saja!'
"Ya, pasti begitu." Putus Naruto sambil menepukkan tangannya.
"Apanya yang 'pasti begitu'?"
Naruto menoleh mendengar suara Sasuke yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya sinambi mengeringkan rambut darkbluenya yang basah. "Eeeee? Sasuke? Sejak kapan kau ada di sini? Aku tak mendengarmu masuk tadi?"
"Jika mau, seorang vampir tak harus mengeluarkan suara."
"Me…menyenangkan sekali." Kata Naruto lirih sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh indah Sasuke. "Andai saja, sebagai seorang halfblood aku juga memiliki kemampuan itu."
Sasuke menatap sebentar Naruto lalu kembali memeluknya dari belakang. Dihirupnya aroma tubuh Naruto dalam-dalam sehingga memenuhi rongga dadanya. "Kau memang akan segera dapat melakukannya, kok." Bisiknya di telinga Naruto.
"Mak…maksudmu?" bisiknya pelan.
"Naruto… setelah kau mati… kau akan menjadi vampir…"
…
Sakura meneliti sample darah yang didapatkannya sambil sesekali bergumam pelan. "Ini tidak mungin. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli sebelumnya, seharusnya kemampuan penularan virus ini tak secepat sekarang."
"Maksud kakak, kemungkinan virus ini sudah mengalami evolusi begitu?" tanya Hime sambil mencampur beberapa tetes cairan berwarna biru gelap ke dalam sebuah tabung reaksi. "Atau… jangan-jangan ada seseorang yang telah memutasi virus ini?"
"Ya, tepat sekali." Kata Sakura sambil mencatat sesuatu di dalam buku catatannya. "Dan kurasa aku tahu siapa orangnya."
Hime mengangguk pelan. "Your Majesty memang salah seorang ahli virologi yang cukup mumpuni di antara para vampir. Oh, maksudku dia ahli hampir di segala bidang."
"Kurasa Itachi harus diberitahu soal ini." Kata Sakura sambil bangkit berdiri. "Aku akan menghubunginya di luar, kau lanjutkan penelitian ini bersama dengan Mai."
Hime mengangguk pelan. "Titip salam untuk Lord Itachi."
"Tentu saja. Akan kukatakan 'Salam cinta dari Hime' hahaha." Kata Sakura sambil mengedipkan matanya pada sang adik.
"Kalau Kakak sampai mengatakan hal seperti itu maka aku akan… aku akan sangat membenci kakak!" ancam putri bungsu Haruno itu dengan wajah yang semerah tomat.
Namun Sakura hanya pergi sambil tertawa-tawa puas karena telah berhasil menggoda adik tunggalnya itu.
"Haaah…" Hime menjatuhkan dirinya di sofa sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Apa aku adalah orang yang semudah itu ditebak ya?" tanyanya pada sebuah entitas di sudut ruangan yang sedang sibuk membaca sebuah buku tebal.
"Aku tak menduga kalau kau benar-benar serius pada Ita-nii." Kata Mai acuh tak acuh. "Sayang sekali dia sudah punya Lady Hinata dan kau sendiri sudah memiliki Shino kan?"
Hime hanya mengangguk singkat. "Tepat sekali. Di saat-saat seperti inilah aku merasa setuju dengan pilihanmu mengikuti Your Majesty untuk menghancurkan tradisi konyol ini."
"Sekedar informasi untukmu. Aku. Tak. Mengikuti. Your. Majesty." Tandas Mai sambil melempar jauh-jauh buku mengenai virus yang sedang coba ditelaahnya. "Aku masih tetap tak terima dengan ide gilanya ini, namun jika ide ini berhasil maka… maka mungkin tak akan ada lagi vampir yang menderita akibat cintanya pada manusia."
Hime terdiam mendengarnya. "Jadi kau tak serius mencari antidot ini? Kau mau berfikir jika lebih baik seluruh manusia berubah menjadi vampir, sama seperti kita?!"
"Tidak… hanya saja… aku sudah terlanjur berjanji… lagi pula aku masih punya kewajiban untuk membunuh Naru-nii…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Mulai dari sini Hime Hoshina akan mengambil alih ^_^
Karena Mai sedang fitting baju, maka Hime yang akan mengisi Authors foot kali ini sekaligus membalas review dari para reader yang nggak log in.
Tampaknya, kami harus sekali lagi menegaskan jika FF ini dibuat dari novel buatan Mai Narazaki saat SMP. Jadi kami minta maaf kalau ada reader yang nggak suka pada Mai Uchiha dan Hime Haruno di FF ini. Sekali lagi aku menegaskan kalau di real story buatan Mai, Mai Uchiha dan Hime Haruno (fuyuumi an Helena kalau versi aslinya) adalah tokoh-tokoh kunci yang memegang alur cerita. Jadi maaf kalau mereka mendominasi terutama Mai Uchiha.
OK, saya mulai balas review aja ya ^_^
Naru Freak: dari kata-katamu aku bisa menebak kamu tak pernah membaca warning atau sekedar author foot di sebuah FF ya? Dan maaf jika tidak berkenan, tolong jangan gunakan lo gw karena aku merasa jika bahasa itu tidak terdengar ramah di telinga ^_^. Aku lempar lagi pertanyaan kamu, yang kamu tanya itu Mai Narazaki atau Hime Hoshina? FF ini dibuat 2 orang lho. Terimakasih atas pujiannya, tapi seperti yang sudah berkali-kali kami katakan di author foot. Ini dibuat dari novel buatan Mai, dan di sana Fuyuumi (atau Mai Uchiha kalau di sini) adalah tokoh kunci yang menggerakkan ceritanya dan karena kami terpaksa memangkas ceritanya hampir 60 % dari cerita aslinya dengan alur yang sama maka mau nggak mau tokoh kunci harus sering keluar. Maaf jika balasan ini kurang berkenan ya ^_^
Behind the Story:
Mirip?!
#Mai
Hari ini saat Hime datang ke rumah Mai…
Mai: Ini diminum ya. (Sambil naruh 2 gelas berisi jus tomat di atas meja)
Hime: Makasih. (inner: Tomat? Jangan-jangan dia… ah, nggak mungkin!)
Sepuluh menit kemudian.
Mai: Mau makan cemilan nggak? Tadi aku buat omelete lho.
Hime: Boleh.
Mai: Dihabisin lho. (Sambil naruh sepiring besar omelete)
Hime: (makan) Enak. (Inner: Lagi-lagi tomat? Ini…)
Tiga jam kemudian.
Mai: Pokoknya kamu harus makan! Aku udah buatin nasi goreng nih!
Hime: Kenapa kamu keras kepala banget sih? Aku lagi diet nih! Target 2 bulan 10 kg. disuruh Bu A**m nih.
Mai: Pokoknya makan! (Sambil naruh satu piring penuh nasi goreng)
Hime: Ini… (inner: Tomat lagi?! Gawat Mai sudah terkena Sasuke Sindrom! Padahal dia kan anti banget sama tomat sebelumnya!)
Kenyataan sebenarnya adalah keluarga Mai sedang panen tomat dan sekarang punya tomat banyak banget di rumahnya. -_-
#Hime
Suatu kebiasaan yang diturunkan lewat garis keturunan ibu di keluarga Hime adalah…
Hime: (Pasang muka setan sambil menggumam tak jelas)
Mai: Berantem lagi sama Yuki ya?
Hime: Dia terlalu keras kepala! Nggak mau ndengerin kata orang! Nyebelin!
Mai: Lalu?
Hime: Kutonjok mukanya.
Mai: Ooooh. (inner: Memang benar-benar berjiwa Sakura! Hahaha)
Hime: … Mai, tembok paling kuat di rumahmu di bagian mana?
Mai: Hah? Tembok? Eee… kayaknya tembok gudang deh.
Hime: Bagus. Kalau begitu bawa aku ke sana.
Empat menit kemudian…
Hime: Hm… kayaknya cukup kuat.
Mai: Kamu mau apa sih sebenarnya?
Hime: … HIAH! DASAR COWOK NYEBELIN! JELEK! KERAS KEPALA! BOTAK! (?) (sambil mukulin dan nendangin tembok secara brutal dan tak ber peri ke-tembokan)
Mai: … (inner: Benar-benar mirip Sakura! Keren! Tapi… apa tangannya nggak sakit ya?)
Kebiasaan Hime yang agak anarkis ini diperoleh dari ibunya yang kalau sedang maah punya hobi mukulin tembok belakang rumah. Bahkan temboknya sampai retak dan miring (Ini serius lho).
Sekian dari kami, semoga cukup menghibur. ^_^
Dan tinggalkan jejak kalian lewat review ya?
