Hembusan angin di sore hari memang terasa begitu meneduhkan.
Begitu lembut menerpa kulit dan rambut kuning keemasanku.
Dan angin ini juga membuatku teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sangat kurindukan selama ini...
Sentuhan lembut jemari-jemari lentik nan mungil milikmu...
Senyummu yang penuh kehangatan...
Rambut hitam kebiruan yang selembut sutra...
Dan kulit putihmu yang tak bernoda...
Semua terasa lembut dan nyaman seperti angin sore ini.
Segaris senyum tersungging kala aku mengingat semua kenangan kita, mataku terpejam untuk dapat lebih mendalami setiap ingatan masa lalu tentang dirimu,
Hyuuga Hinata...
Kau telah merebut satu-satunya yang paling berharga bagiku, yaitu... seluruh CINTA-ku...
.
.
.
Sunflower with Lavender
By B Dhii Chu
Disclaimer : Naruto, cs © Masashi Kishimoto
Pairing : Uzumaki Naruto Hyuuga Hinata Uchiha Sasuke
Rate : T+
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort, etc.
Song : Ronan Keating – "This I Promise You"
.
.
.
Puk!
Pemuda pirang yang tengah duduk bersantai di sebuah kursi taman terlihat cukup terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya. Mata indahnya terbuka menampilkan iris biru cerah yang senada dengan langit yang terbentang luas di angkasa.
"Hei! Kenapa kau melamun begitu Naruto?!"
"Kiba? Kau mengagetkanku saja. Ada apa?" tanya Naruto pada pemuda bertato segitiga terbalik yang telah menepuk pundaknya barusan.
"Kau ini. Ck! Semua kru untuk pembuatan video klipnya sudah siap. Kau harus bersiap-siap Naruto! Lalu, dimana model perempuannya?"
"Hahh?! Ya ampun! Apa Sasuke belum datang?!" Naruto tiba-tiba menjadi panik. Ia mondar-mandir sembari mengacak-acak rambut frustasi. Kiba hanya bisa menghela napas menyaksikan tingkah kawannya itu.
"Sasuke belum datang. Sebaiknya kau hubungi dia dulu Naruto." saran Kiba.
"Ah! Kau benar!" segera diambilnya telepon genggam yang sedari tadi ia bawa di dalam kantung celana. Dengan cepat Naruto menekan tombol-tombol pada benda mungil berwarna orange itu.
Tut... tut... tut...
"Hnm?" terdengar suara seseorang diseberang sana.
"Sasuke? Kau di mana?! Apa kau lupa sekarang sudah jam berapa?!" tanya Naruto dengan nada gelisah. Bagaimana ia tidak gelisah jika saat ini semua kru telah siap namun modelnya belum juga muncul.
"Tenanglah, Dobe. Aku sebentar lagi sampai."
"Benar ya! Awas kalau kau bohong! Aku siap-siap dulu. Nanti kalau kau sudah sampai tolong katakan pada modelnya untuk segera ke ruang ganti. Dan... apa kau sudah memberitahunya mengenai bagaimana dia harus berperan nanti?"
"Ck! Tak usah kau beritahu juga semua sudah kulakukan Dobe!"
"Oh...hehehe! aku hanya ingin-"
Tut... tut... tut...
"ARGGHHH~! SIALAN KAU TEME!" Naruto memaki-maki handphone orange kesayangannya. "Tidak sopan! Seenaknya saja mematikan telepon begitu saja!"
"Hahhh~ daripada kau marah-marah begitu sebaiknya segera ganti bajumu, Naruto!" Kiba menarik lengan Naruto menuju mobil van yang tak jauh dari tempat mereka berbincang-bincang.
"Sialan!" Naruto masih saja meronta-ronta, ingin sekali dia membanting handphone orange dalam genggamannya saking kesalnya pada si Teme.
.
.
.
Mobil porsche carrera biru tua yang baru saja sampai terparkir rapi di samping mobil-mobil yang lain. Pemuda bergaya rambut emo dengan penampilan yang 'waw' keluar dari dalam mobil. Ia berlari kecil untuk membukakan pintu mobil yang lain.
Seorang gadis dengan rambut indigo keluar menyambut uluran tangan pemuda tersebut. Gadis itu terlihat manis sekali. Begitu manis dengan rok jeans mini rampel dan kaos simple hijau polos. Jemari kakinya tertutup flat shoe biru tua.
"Kita akan ada shooting untuk video klip di tempat ini. Seperti yang sudah kukatakan tadi, kau hanya perlu berakting seolah lawan mainmu adalah seorang yang sangat kau cintai dan kau rindukan. Mengerti?" tanya pemuda tersebut pada sang gadis.
"Baiklah, Uchiha-san."
Mereka berdua melangkah menuju tempat lokasi shooting yang masih dapat terlihat dari tempat parkir. Baru beberapa langkah mereka berjalan, sebuah mobil berwarna pink metallic melintas. Kaca mobil terbuka dan menampilkan sesosok gadis berambut soft pink.
"Sasuke-kun!" panggilnya. Buru-buru ia memarkir mobilnya di samping mobil Sasuke. Hampir saja kaca spion mobil gadis itu menyentuh kaca spion mobil Sasuke.
'Cih! Awas saja kalau sampai kena tadi!' batin Sasuke. Gadis bermata lavender yang berdiri di belakang Sasuke dapat merasakan kalau Sasuke tak menyukai gadis itu, tapi...
"Sasuke-kun! Senangnya bisa bertemu dirimu di sini~!" pink girl tersebut langsung bergelayut manja di lengan Sasuke tanpa menghiraukan gadis yang berdiri di belakang pemuda itu.
"Lepaskan tanganmu, Sakura." tanggap Sasuke dingin. Risih dengan sikap Sakura. Gadis tersebut melepas lengan Sasuke.
"Ah, kau ini! Sama sekali tak berubah ya Sasuke-kunnn~..." rengek Sakura dengan nada manja. Diliriknya gadis berambut hitam kebiruan di belakang Sasuke. Gadis itu tampak takut melihat Sakura, ia memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.
'Apa itu pacar Sasuke?' batin Sakura.
"Kau..." Sakura berjalan mendekati gadis yang bersembunyi di belakang Sasuke. "Kau pacarnya Sasuke ya?" Sakura menatap penuh selidik pada Hinata.
"Eh? A-aku..."
"Sudahlah. Ayo, Hinata." Sasuke menarik lengan Hinata untuk menjauh dari Sakura yang berdiri mematung – sedikit tak percaya jika gadis itu adalah kekasih Sasuke.
'Siapa gadis itu?' Sakura masih berdiri seorang diri sampai ia sadar jika ia harus segera menemui kekasihnya.
.
.
Sasuke berjalan menghampiri gadis berambut pirang panjang diikat gaya ekor kuda yang sibuk mengecek alat riasnya.
"Ino, apa kau yang bertanggung jawab untuk bagian make up?" tanya Sasuke.
"Ah! Sasuke?!" pekiknya. Hinata memperhatikan gadis yang tengah asik bercengkrama dengan Sasuke, sepertinya mereka sudah lama saling mengenal. Gadis bernama lengkap Yamanaka Ino tersebut tampak ceria dan ... sexy?
Ya, Ino dapat terbilang sexy, jika dilihat pakaian yang ia kenakan memperlihatkan perut langsing dengan kulit kuning langsat yang mulus tanpa cacat. Jeans ketat berwarna hitam dengan high heels membuat kaki jenjangnya terlihat menawan.
"Oh... jadi dia yang akan menjadi pemeran perempuannya?" tanya Ino pada Sasuke sembari menengok ke arah Hinata.
"Hnm. Kuserahkan dia padamu."
"Tenang saja! Dia akan kusulap menjadi gadis paling imut sedunia, haha...!"
Sasuke memutar bola matanya, bosan. "Di mana Dobe?"
"Dia ada di ruang ganti di sebelah sana." Ino menunjuk mobil van yang tak jauh dari mereka. Sasuke berbalik dan menatap pemilik mata lavender yang sedari tadi tak berbicara sepatah kata pun.
"Aku akan pergi sebentar. Ino akan membantumu berganti pakaian dan berias."
"Kau ini Sasuke! Dia akan baik-baik saja denganku. Apa kau takut jika aku menculiknya? Haha!" goda Ino. Sasuke mendengus kesal dan berjalan menuju mobil van tempat si Dobe berada.
"Nah, siapa namamu?" tanya Ino pada Hinata.
"A-aku Hyuuga Hinata." gadis itu tampak gugup.
"Aihhh! Kau manis sekali Hinata-chan!" pekik Ino seraya memeluk Hinata dan menyeretnya masuk ke dalam tenda. Hinata yang terbilang gadis lugu nan polos hanya bisa pasrah diseret kaya kebo oleh Ino.
.
.
.
Lampu-lampu taman telah dinyalakan, menampilkan cahaya remang-remang yang menerpa kelopak bunga-bunga cantik berbagai jenis yang mengitari taman tersebut. Kunang-kunang pun ikut beterbangan, menari-nari di sekitar lokasi pengambilan gambar.
Semua kru telah bersiap pada posisi masing-masing. Di tempat pengambilan gambar telah di dekorasi dengan begitu indah dan terlihat alami. Suasana romantis begitu terasa menyelimuti taman yang kini menjadi dominan dengan bunga-bunga matahari dan bunga lavender. Ucapkan terima kasih pada keluarga Yamanaka yang merupakan florist terkenal di Konoha.
Naruto duduk seorang diri di bangku taman yang sengaja di taruh hanya satu dalam area pengambilan gambar. Rambut kuning keemasan pemuda tersebut nampak berkilau diterpa cahaya temaram dari lampu taman. Penampilannya terkesan santai dengan kaos v-neck orange tertutup jaket tebal coklat tua berbulu pada tutup kepalanya, dan celana jeans hitam, serta sepatu sneakers yang membungkus jemari kakinya.
Semua orang yang datang untuk menyaksikan pengambilan gambar video klip terbaru Naruto berdiri di belakang cameraman. Sasuke berdiri seorang diri, bersandar pada pohon rindang yang tak jauh dari tempat lokasi shooting.
"Ah! Sasuke-kun?!" seseorang tiba-tiba muncul mengagetkan pemuda tampan Uchiha tersebut. Sasuke hanya melirik sekilas gadis yang memanggilnya – Sakura.
"Kenapa kau berdiri di sini? Bukankah akan lebih terlihat jika kau berdiri di sana." Sakura menunjuk ke arah belakang cameraman. Belum sempat Sasuke menjawab Hinata muncul bersama Ino dari dalam tenda. Sasuke sedikit kagum melihat penampilan gadis Hyuuga itu.
"Bagaimana Sasuke-kun?" tanya Ino antusias. Sasuke hanya tersenyum tipis.
"Wah! Ternyata kau model untuk video klip itu ya?" Sakura mendekati Hinata.
"A, I-iya... aku Hyuuga Hinata. Salam kenal." Hinata membungkuk sedikit untuk memberi salam pada Sakura.
"Aihhh, Hinata-chan!" pekik Sakura yang langsung memeluk Hinata. "Aku Haruno Sakura, kekasih dari pemuda yang akan membuat video klip bersamamu!" katanya penuh semangat.
"Oh, begitu..." tanggap Hinata yang tak sadar jika kedua onyx pemuda yang berdiri di sampingnya terus memandangi dirinya. Hinata memakai mantel abu-abu dan sepatu boots ungu tua. Rambut hitam kebiruan yang biasanya dibiarkan tergerai indah kini nampak ikal dan terpasang jepit rambut simple di kedua sisinya.
Dari kejauhan terdengar seseorang memberi aba-aba agar shooting segera dimulai. Hinata ditemani Sakura dan Ino berjalan mendekati area pengambilan gambar. Entah apa yang mendorong Sasuke, hingga pemuda tersebut refleks menarik lengan gadis Hyuuga yang selalu tampak menawan di matanya. Hinata berbalik menatap Sasuke.
"Lakukan yang terbaik." pesan Sasuke. Hinata tersenyum lembut.
"Ha'i Uchiha-san..."
.
.
Hinata berdiri dengan jarak kurang lebih lima meter dari tempat Naruto duduk. Iris lavender-nya nampak terkejut melihat pemuda pirang yang ada di hadapannya. Dikepalkannya erat kedua tangannya di depan dada sekedar untuk membantu menguatkan diri menghadapi kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Ia masih belum yakin kalau pemuda itu adalah seorang yang hampir setiap hari ia rindukan. Wajah pemuda tersebut tertunduk membuat Hinata semakin penasaran apakah yang pemuda itu adalah ... Naruto?
"Baiklah, semua bersiap pada posisi masing-masing. Terdengar seseorang memberi aba-aba bahwa kamera telah siap dan pengambilan gambar akan dilakukan dalam... tiga... dua... satu!
"Take one ready, ACTION!"
Suasana menjadi hening, perlahan musik terdengar sayup dan semakin keras menyapa gendang telinga. Naruto bangkit berdiri dan perlahan menegakkan kepalanya berniat hendak menghampiri sang gadis, namun langkahnya terhenti. Matanya membulat seketika saat mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya.
Lavender bertemu dengan Sapphire. Keduanya saling menyelami ke dalaman pandangan masing-masing. Sama-sama tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Hinata..." lirih Naruto berkata lebih kepada dirinya sendiri. Ia terdiam tak menghiraukan lagu yang terus terlantun membuat para kru menjadi bingung.
Naruto melangkah perlahan mendekati Hinata yang berdiri tak jauh darinya. Setelah jarak diantara mereka benar-benar tereliminasi, jemari tan Naruto menyentuh lembut pipi Hinata yang telah bersemu kemerahan. Iris lavender gadis tersebut berkabut karena air mata yang terbendung di setiap sudut matanya. Pandangannya sayu dengan bibir pink alami yang bergetar menahan kecamuk rasa rindu.
Sungguh tak dapat dibendung lagi... air mata pun mengalir membasahi pipi Hinata. Kerinduan yang tertahan selama beberapa tahun lamanya pun akhirnya menguap begitu saja. Naruto meraih tubuh Hinata ke dalam pelukannya. Seolah tak ingin kehilangan, dan untuk memastikan bahwa itu benar-benar Hyuuga Hinata.
"CUT! Take one complete." pekik seseorang lagi menghentikan pengambilan gambar. Suara tepuk tangan menggema sesaat, namun akhirnya semua menatap heran pada Naruto dan Hinata yang sama sekali tak bergeming. Keduanya masih setia saling memeluk satu dengan yang lain. Merasakan kehangatan dari dalam tubuh masing-masing.
"Na-Naruto-kun...hiks, i-ini benar-benar Naruto-kun...? hiks," Hinata terisak dalam pelukan Naruto. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipinya yang merona kemerahan. Pemuda pirang yang mendekap tubuh mungilnya, membelai lembut rambut Hinata. Senyum tipis dengan pandangan sayu penuh kesedihan terukir jelas pada wajah tampannya.
"Maaf, Hinata... maafkan aku." ucapnya lirih. Perlahan ia melepaskan pelukannya. Semua orang terdiam. Sakura mengerutkan dahinya. Ia tampak kesal. 'Ada apa ini?!' batinnya, ia akan melangkah menghampiri Naruto ketika Sasuke menarik lengannya.
"Diamlah." kata Sasuke. Sakura tak jadi melakukan aksinya, ia memandang kesal pada Hinata dan Naruto. Sasuke menatap tanpa ekspresi, pandangannya terus tertuju pada gadis bermata lavender yang berlinang air mata di hadapan Naruto.
Dengan lembut Naruto mengusap air mata Hinata. "Tak kusangka akan bertemu lagi denganmu... Hinata." katanya. Gadis itu masih sesunggukkan.
"Na-Naruto-kun...hiks, a-aku...tak percaya, hiks...ji-jika ini benar-benar Na-Naruto-kun..." ucapnya disela air mata yang kembali mengalir. Senyum tipis setia bertengger pada wajah tampan Naruto. Dipeluknya lagi gadis Hyuuga tersebut.
"Ini aku Hinata... Uzumaki Naruto-mu." gumamnya meyakinkan gadis yang telah merebut 'cinta' darinya. Dilonggarkannya pelukan mereka. Iris biru langit miliknya menatap lekat iris lavender Hinata. Sakura yang menyaksikan itu semakin geram. Ditepisnya kasar tangan Sasuke. Ia melangkah menghampiri Naruto dan Hinata.
"CUKUP UZUMAKI NARUTO!" teriaknya. Ditariknya Hinata dari pelukan Naruto. Dengan kasar ia menghempaskan tubuh rapuh Hinata, membuat gadis itu jatuh tersungkur di atas tanah. Sasuke berlari kecil menghampiri Hinata.
"Kau! Kau perempuan tak tahu malu!" pekik Sakura. Wajahnya memerah menahan amarah. "Bisa-bisanya kau bertingkah seperti itu dengan kekasih orang lain!" Iris hijau emerald-nya menatap garang dan berair. "Kau perempuan sialan! Kurang ajar! Tak tahu malu!" makinya pada Hinata.
"SAKURA! Hentikan!" bentak Naruto. Gadis itu terdiam. Air mata yang menggenang di sudut matanya mengalir dengan sendirinya.
"Apa yang telah kau lakukan Uzumaki Naruto? Kau... apa kau tidak sadar jika telah menyakitiku? A-apa kau tidak sadar dengan apa yang barusan kau lakukan? Heh?" tanya Sakura dengan suara parau. Suara itu pelan namun terdengar menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya.
Sasuke membantu Hinata berdiri.
"Perempuan itu." tunjuk Sakura pada Hinata. "Siapa dia? Siapa dia hingga kau bisa membentakku seperti tadi hanya karena dia Naruto?!" pekik Sakura. Naruto segera menarik lengan Sakura yang siap menyerang Hinata.
"Lepaskan aku!" teriak Sakura. Ia meronta-ronta untuk melepaskan tangan-tangan kekar Naruto pada kedua lengannya. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat tercengang, ada pula yang berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tentu ini akan menjadi berita heboh keesokan harinya.
"Sasuke, bawa Hinata pergi." pinta Naruto. Tanpa menjawab Sasuke membawa Hinata menjauhi tempat itu. Naruto menatap nanar kepergian Hinata bersama Sasuke. Sakura duduk tersungkur dengan isak tangis kecewanya.
Hinata melirik untuk memandang Naruto sekilas sebelum ia masuk ke dalam mobil Sasuke. Semua terjadi begitu saja...
.
.
PLAK!
Sebuah tamparan telak membuat pipi tan Naruto sedikit memerah.
"Aku... aku tidak menyangka kau tega melakukan itu di hadapanku." desis Sakura. cairan bening dari masing-masing sudut matanya tampak mengalir deras. Naruto diam. Tak menjawab. Ia tahu pasti bagaimana perasaan Sakura sekarang.
Naruto lebih memilih untuk tersenyum. Senyum miris yang begitu terluka.
"Maafkan aku, Haruno-sama." ucapnya. Sakura yang mendengar perkataan Naruto semakin geram.
Setelah apa yang terjadi di lokasi pengambilan gambar, Naruto meminta Kiba untuk membereskan semuanya. Ia sendiri pamit untuk mengantar Sakura pulang. Saat ini mereka berdua tengah berada di dalam mobil tepat di depan rumah mewah kediaman keluarga Haruno.
Naruto akan keluar dari dalam mobil Sakura ketika suara parau anak tunggal keluarga Haruno tersebut menghentikannya.
"Kalau kau pergi, dapat kupastikan karirmu akan hancur saat kau membuka mata esok hari." ancam Sakura. Naruto mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan emosi yang terus menyiksanya selama ini. Ia memejamkan mata, berusaha memberi kekuatan untuk dirinya sendiri.
"Cukup. Sudah cukup kau terus mengekangku, Sakura."
Sakura memalingkan wajahnya memandang Naruto yang masih setia memejamkan mata.
"Aku sudah tidak sanggup terus menjadi budakmu. Aku tahu, aku bisa menjadi seperti ini berkat ayahmu yang menemukanku dalam audisi pencari bakat. Tapi, tak kusangka ia begitu lemah terhadap putri tunggalnya. Kita akhiri saja semua sandiwara ini, terserah padamu, apapun yang akan kau lakukan akan kuterima dengan senang hati."
Naruto membuka pintu mobil, dan melangkah pergi meninggalkan kediaman keluarga Haruno. Sakura segera keluar dari dalam mobil. Ia berlari untuk mengejar Naruto, hingga kedua tangannya meraih tubuh kekar Naruto dan memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku, Naruto... hiks, aku sungguh meminta maaf." suara Sakura bergetar. Air mata mengalir membasahi pipinya dan punggung Naruto. "Aku sangat mencintaimu, meski aku tahu kau sedikitpun tak pernah mencintaiku...hiks, Selama ini aku berusaha keras agar kau bisa membalas rasa cintaku, hingga aku meminta ayah agar dia mau membuatmu menjadi milikku, Naruto... kumohon jangan tinggalkan aku."
Raut wajah terluka tampak jelas pada wajah tampan Naruto. Dia sudah siap untuk menghadapi berbagai resiko yang akan dialaminya setelah ini, sungguh ia tak lagi peduli pada karir yang susah payah ia bangun dalam waktu yang tak singkat. Perlahan jemari tannya menyentuh lengan putih Sakura yang melingkar pada pinggangnya. Menariknya perlahan, hingga terlepas. Seorang Uzumaki Naruto, tak akan pernah menarik kata-katanya lagi.
Sakura sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Naruto. Ia menatap punggung pemuda pirang yang semakin menjauh darinya. Sudah tak ada harapan lagi untuk cinta yang ia paksakan selama ini, kini ia percaya bahwa setulus apapun cinta yang kau miliki pada seseorang takkan pernah dapat menjamin bahwa orang yang kau cintai juga akan membalas cintamu seperti kau mencintainya.
.
.
Sasuke duduk bersandar pada sofa di ruang tamu apartemen Hinata, tangannya terlipat di depan dada, begitu pula dengan kakinya yang bersilangan memberi kesan santai namun berwibawa sekaligus mengintimidasi. Onyx-nya memandang gadis Hyuuga yang duduk diam di hadapannya. Wajah gadis tersebut tertunduk lesu, pipi yang biasanya merona kini berubah pucat dan sembab. Sasuke menghela napas, sebenarnya ia tak suka mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi 'rasa' yang dimilikinya terhadap Hinata membuatnya cukup penasaran. Ia merasa cemburu dan sedikit kesal saat melihat Hinata bersama Naruto tadi. Pikirannya menjadi kacau hanya dengan memikirkannya.
"Hinata, bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku?" pinta Sasuke pada Hinata.
Gadis itu hanya menggeleng pelan, lagi-lagi Sasuke menghela napas. Ia bangkit berdiri, membuat Hinata mendongak untuk memandangnya. Mata lavender yang sembab milik Hinata seolah menghipnotis Sasuke agar ia memberikan ketenangan pada gadis pujaannya yang tengah gundah. Refleks pemuda bergaya rambut emo itu melangkah, meraih tubuh mungil Hinata kedalam kehangatan pelukan seorang Uchiha Sasuke.
Hinata cukup terkejut, tetapi ia tak menolak karena sungguh ia merasa nyaman dalam pelukan lembut pemuda yang hampir setiap hari menghabiskan waktu bersamanya. Pemuda yang mengajarkan segala hal tentang dunia model padanya, bahkan Sasuke juga yang terus memperhatikan kondisi kesehatannya, meski kadang sifat cuek pemuda tersebut sedikit banyak membuat Hinata kesal.
Sasuke membelai lembut rambut Indigo Hinata, membiarkan gadis bermarga Hyuuga itu bersandar pada dada bidangnya. Tak berapa lama, dapat Sasuke rasakan Hinata telah tertidur. Ia tersenyum memperhatikan wajah lugu gadis yang telah membuatnya jatuh hati itu. Dengan lembut Sasuke menyentuh pipi tembem gadis tersebut dengan jemarinya dan memberikan kecupan pada puncak kepala Hinata. Betapa bahagia dirinya bisa memberikan ketenangan bagi seseorang yang mulai mengisi hatinya ini.
Perlahan ia menggendong tubuh mungil nan rapuh sang gadis. Menurunkannya di atas tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi sebatas dada. Mematikan lampu kamar Hinata dan menyisakan cahaya remang dari lampu yang ada di atas meja di samping tempat tidur gadis itu.
Lama Sasuke memandang wajah tidur Hinata. Entah apa yang merasuki Sasuke, sampai secara tak sadar ia mengecup lembut bibir gadis Hyuuga itu cukup lama. Lumatan kecil yang tak lepas dari kelembutan Sasuke mainkan pada bibir mungil Hinata.
"Nghh..." desah Hinata terbangun ketika dirasakannya sesuatu yang basah menyentuh bibirnya dan mencoba menyusup masuk ke dalam rongga mulutnya. Karena rasa kantuk yang sudah menyerang hampir seluruh kesadarannya ditambah cahaya remang yang membuat pandangannya tak jelas, Hinata hanya dapat melihat samar sosok yang terus menciumnya lembut. Entah bermimpi atau apa Hinata merasa yang ia lihat adalah Naruto, pemuda yang namanya terus melekat dalam benak Hinata.
Dengan lemah ia melingkarkan lengannya pada leher pemuda yang ia kira adalah Naruto. Sasuke terkejut, ia hampir saja melepas pagutan mereka kalau saja Hinata tak membalas ciumannya.
Sasuke tersenyum dalam hati, perlahan ia memejamkan mata untuk menyembunyikan keindahan dua bola mata obsidiannya. Perasaan hangat saat ia menyentuh gadis pujaan hatinya sungguh membuatnya merasa nyaman dan tenang. 'Inikah rasanya 'cinta' itu?' batin Sasuke.
.
.
TBC.
.
Akhirnya chapter 3 bisa publish juga^^
Gomen ne minna kalau ada yang gaje, OOC, aneh, bikin iuh, dan lain-lain...
minta review-nya ya?
hehehe...
Sampai jumpa di chapter selanjutnya :*
