Haloo…

Ketemu lagi dengan saya dan cerita saya masih gaje, terimakasih juga kepada kakak-kakak senior yang sudah memberikan saya kritik, saran, serta nasihat yang menurut saya bermanfaat. Kalau anda bersedia nge review fict saya ini, monggo kalau tidak mau juga saya gak bakalan maksa kok.

Disclaimer:Tante saya Masashi Kishimoto

Genre :Romance?Humor?

Warning :

cerita ini tidak ada di dunia nyata,hanya di dunia imajinasi dan siapkan penutup mata anda jika anda rasa fanfic saya jelek whahahaha… oh ya satu lagi, typonya bertebaran dari Sabang sampai Merauke…

Happy reading

Chapter 3

'Dasar manusia aneh, masa cuma dibangunin aku dapat di hari pertama sekolah. Pokoknya dia harus dapat pembalasan juga. Hahahahaha… uhukuhuk… hoekhoek… udah ah ketawanya, bisa-bisa suaraku yang indah ini abis nanti'

itulah umpatan-umpatan kecil yang Ino lontarkan dari mulutnya, dan intinya. Dia mau balas dendam karena Shikamaru sudah bikin dia malu.

Tiba-tiba…

GEDEBUK..

PRANGG..

NGENGG..

MEONG…

GUKGUK…

AUUU…

Ino nabrak makhluk lagi, Ino berdo'a mudah-mudahan yang ia tabrak itu manusia dan manusia itu baik dan akan melepaskannya, karena. Sebentar lagi mau masuk.

"Maaf, kagak sengaja nabrak kamu." kata Ino sambil melihat makhluk itu

"Maaf? Katamu? Apa kau tidak lihat, bajuku basah semua akibat ulahmu dan aku tidak mau tau, pokoknya kamu harus ngebersihin baju aku sekarang." kata makhluk itu dengan amarah yang menggebu-gebu.

Ternyata Dewa Neptunus tidak berpihak kepada Ino, Shikamaru, dan makhluk itu. Karena Dewa Neptunus lagi golput.

"Ta…Tapi-"

"Tidak pake tapi-tapian, pokoknya cepat bersihkan bajuku sekarang."

TENG TENG

'Waduh, bunyi bel masuk. Kata Sakura sih, sekarang jammya Asuma Sensei. Kalau telat masuk bisa disetrap di halaman sekolah, kalau gitu aku lari aja.' Kata Ino dalam hati.

"Baik, aku akan tanggung jawab ya panda. Sekarang pejamkan matamu."

"Kau tidak bermaksud untuk lari kan?" kata makhluk itu sinis.

"Nggak kok, rambut merah. Tenang aja."

"Namaku, Gaara. Bukan panda atau rambut merah, mengerti?"

"Up to you lah, sekarang tutup matamu." kata Ino dengan nada memerintah

Gaara pun menutup matanya dan…

1

.

.

.

.

.

.

.

.

2

.

.

.

.

.

.

.

.

3

.

.

.

.

.

.

.

LARIIII….

Gaara pun membuka matanya dan melihat wanita itu menghilanng di hadapannya.

'Sial, aku dikerjain.' Umpat Gaara dalam hati

Sedangkan Ino berlari dengan cepat karena ia telat masuk selama 2 menit. Dan akhirnya ia bisa bernafas lega karena ia sampai di kelas tanpa ada gurunya.

"Hosh… hosh… Lega juga sampai sini." Kata Ino ketika memasuki kelas dan menghampiri Sakura.

"Sak, gurunya udah dateng belon?"

"Udah."

"HAH!" teriak Ino panik.

"Terus, gurunya kemana Sak?" tanya Ino takut-takut.

"Di… dibelakang kamu, No."

"Beneran, Sak?" tanya Ino percaya gak percaya.

Sakura mengangguk dengan cepat, banget malah. Ino pun dengan ragu melihat ke belakang dan ternyata….

JENG JENG JENG…

Seorang pria berumur 30 tahun, memasang wajah menyeramkan di depan Ino. Ino yang melihatnya langsung berdegik ngeri.

"Halo, Pak." kata Ino rada-rada takut.

"Halo juga, lagi ngapain kamu?" tanya guru itu dengan ramah.

Sakura dan Ino cengok, bengong. Sakura bengong akibat gurunya yang killer berubah 180 derajat jadi ramah. Sedangkan Ino bengong karena kata Sakura, guru Asume itu killer kok jadi ramah tamah.

"Saya mau mendiskusikan pelajaran matematika bersama Sakura, Pak." kata Ino dengan nada ketakutan.

'Ino bego, guru Asuma itu ngajar kimia sayang. Bukan matematika, tamat sudah riwayatmu Ino.' rutuk Sakura dalam hati.

"Oh.. begitu ya, kalau begitu ikut aku." kata Asuma dengan nada yang menggelegar.

'Aduh, mati aku. Tadi saya salah ngomong apa ya? Aaaaa takut, Sakura tolong aku.' kata Ino dalam hati sambil mengikuti guru killer itu.

Sementara Sakura menangis tersedu-sedu merutuki kebodohan temannya. *lebay*

"Nah, sudah sampai." kata guru killer itu sambil menyeringai.

"Kenapa kita ada di lapangan sekolah, guru? Kenapa guru mengajakku kesini?" tanya Ino dengan tampang bego.

"Saya mau tanya sama kamu, saya ngajar pelajaran apa?"

"Matematika, guru." jawab Ino ngasal.

SEKARANG BERDIRI DI LAPANGAN SAMBIL MENGANGKAT SATU KAKI SAMPAI PULANG!" kata Asuma ngamuk-ngamuk.

"Memangnya saya salah apa, Guru?" tanya Ino takut-takut.

"KAU SALAH APA? BANYAK, PERTAMA. AKU BUKAN GURU MATEMATIKA, AKU GURU KIMIA. KEDUA, KAU TELAT PELAJARANKU SELAMA DUA MENIIIIITTTT." Asuma marah besar karena melihat ketelmian anak muridnya.

"Kapan saya musti berdiri disana?" kata Ino polos.

"Besok."

"Oh… ya sudah kalau begitu, saya dihukummya besok saja."

"Ya sudah, kalau kamu milih besok bapak akan menjemur kamu dari jam tujuh pagi hingga jam dua siang. Bagaimana?" kata guru itu dengan nada mengancam.

"Aku lebih pilih sekarang pak." kata Ino dengan nada kekhawatiran karena sebentar lagi lahar panas akan keluar dari kepala gurunya itu(?).

Lalu ia melangkah bejalan di lapangan dan bertemu alien berambut nanas berdiri disana sambil mengangkat satu kakinya, Ino langsung tersenyum kemenangan karena dia sengsara. Tapi, dia juga ikutan sengsara.

"Gatcha, kau kena juga?" tanya pria itu sambil menguap.

"Apa kau tidak lihat? Puas kau sekarang melihatku menderita?" tanya wanita berambut blonde ngamuk-ngamuk.

"Puas, Puas banget. Troublesome." jawab pria itu sambil memejamkan matanya.

"Kau…" kata Ino geram.

"Kalian berdua jangan bersisik eh maksudku berisik, apa mau kutambah lagi hukumannya?" kata guru killer itu sengit.

"Tentu saja tidak pak." kata Ino ngeri ngedenger suara gurunya dari tadi ngamuk melulu.

"Hoam… nggak pak." jawab Shikamaru sambil nguap lebar banget.

"Baguslah kalau begitu." kata guru killer itu dan meninggalkan mereka berdua di lapangan.

Hening, tidak ada yang mau berbicara sama sekali. Sampai akhirnya Ino membuka suara.

"Kata Sakura kau itu pintar, tapi kenapa kau bisa dihukum?" tanyanya penasaran.

"Aku tadi telat masuk, dan akhirnya dihukum."

"Oh…"

"Kau sendiri?"

"Kalau aku dihukum karena-"

TENG TENG

"Hukuman sudah selesai, kalian boleh pulang." kata seseorang yang tiba-tiba nongol di antara mereka.

"Arigatou, guru." kata Ino lalu mencium tangan guru dan meninggalkan lapangan beserta isinya.

Shikamaru juga menyusul Ino kedalam kelas untuk mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan Ino yang masih ada dikelas karena menunggu Sakura piket.

"Shikamaru…"

Dia menoleh asal nada itu, dan ditemukan wanita berkuncir empat memanggil dirinya.

"Shika.. tunggu."

"Ono opo?" tanyanya males.

"Iki mau ngomong karo kamu, iso?"

"Ora."

"Please, ini penting…"

"Apaan?"

Temari celingak-celinguk kesana kemari, untuk memastikan tidak ada satu pun makhluk yang melihat mereka.

"Heh, ngapain sih. Tengok sana tengok sini, kayak mau maling aja."

"Sst… diam, aku mau mastiin gak ada manusia disini."

"Gimana bisa gak ada, ada aku sama kamu disini. Troublesome."

"Kamu tuh pinter-pinter bego ya, aku mau ngomong ini sama kamu."

"Apaan?"

"Sebenarnya, aku pengen ngomong ini sama kamu dari dulu waktu kita ketemu pertama kali, dan aku mau ngomong kalau…"

"Apa?"

"Aku.."

"Ya.."

"Kalau aku.."

"Apaan sih, kayak sineteron aja. Cepetan ngomong." kata Shikamaru ngomel.

"Sabar dikit napa, oke Shikamaru maukah kau menjadi pacarku?" kata Temari gugup.

1

.

.

.

.

.

.

2

.

.

.

.

.

3

.

.

.

.

.

"APAAA?" ujar Shikamaru dengan nada yang super duper tinggi, sehingga membuat gempa susulan di Haiti.

"Jadi… apa kamu mau jadi pacarku." kata Temari malu-malu bebek.

"Tentu saja…" kata Shikamaru

Mata Temari berbinar-binar mendengar perkataan Shikamaru, rasanya terbang melayang-layang di angkasa, tapi Shikamaru melanjutkan perkataannya.

"Tidak mau." Kata Shikamaru sambil nguap.

"Jawab yang bener dong, Shika. Jangan bikin aku bingung."

"Tentu saja tidak mau, Troublesome. Puas."

"Tapi, kenapa?"

"Aku gak suka kamu, sudah aku mau pulang." kata Shikamaru lalu membalikkan badannya.

Temari lalu menangkap tangan Shikamaru lalu membalikkan badan Shikamaru dan

Cup..

Temari mencium pipi Shikamaru, dan kebetulan. Ino melihat adegan itu, lalu dengan buru-buru dan mencari handphonenya di dalam tas dan.

KLIK

"Haha.. rasakan pembalasanku Shikamaru." kata Ino sambil tersenyum sengit.

"No, kamu lagi ngapain?" tanya seseorang mendekatinya.

"Eh, Sakura. Ini aku dapet foto bagus dan akan membuat pembalasan padanya." kata Ino sambil menyeringai.

"Daripada kamu tempel fotonya di dinding mending kita terror dia pake foto ini."

"Maksudnya?" kata Ino heran.

"Aduh… ojo telmi-telmi amat toh ndok, sini koe bisikin." kata Sakura lalu membisikkan

rencananya di telinga Ino.

"Hahaha… geli Sak."

"Heh, mau tau rencananya gak'

"Mau."

Sakura membisikkan rencana tadi di telinga Ino, Ino mengangguk-angguk setuju.

"Ya sudah, aku akan menghampiri dia." kata Ino sambil berlari-lari kecil menuju mereka berdua yang sedang diam ditempat.

"Hei kalian."

Mereka berdua melihat kearah Ino, lalu Ino menghampiri mereka berdua.

"Kak, kakak pacarnya dia ya?" tanyanya sambil menunjuk Shikamaru.

"Bu-"

"Aku pinjam dia sebentar ya kak, sebentar kok. Jaa." kata Ino sambil menyeret Shikamaru pergi.

"Apaan sih?"

"Tidak apa-apa, hanya mau menunjukkan ini." kata Ino menunjukkan gambar dia sedang berciuman dengan Temari.

"Kau.."

"Itu pembalasan, kalau kau tidak mau foto ini tersebar di sekolah. Besok pada waktu jam istirahat kau harus mengatakan minta maaf kepadaku sekencang-kencangnya sambil menirukan gaya seekor monyet."

"Kau benar-benar m-"

"Aku tidak ada waktu untuk hal ini, jadi silahkan berpikir dan sampai ketemu besok."

Ino lalu pulang dengan Sakura yang dari tadi menunggunya di depan gerbang. Shikamaru bengong karena bingung apa yang harus dilakukannya. Temari? Daripada ikutan bengong kayak Shikamaru, mending dia balik.

Skip time

Konoha High School

TENG TENG

Bel istirahat berbunyi, merupakan kesenangan tersendiri bagi siswa di KHS. Tapi tidak untuk pria nanas satu ini, ia menghadapi masalah yang bisa dibilang konyol, tapi bisa menurunkan pamornya.

"Jadi, pilih yang mana?" tanya seekor(?) gadis berambut pirang diikat ponytail.

'Aduh, pilihan ini susah sekali, kalau aku biarkan dia memajang foto 'itu', maka. Aku hancur dan Temari juga bakal berfikir bahwa aku menerima cintanya. Kalau yang kedua juga susah, masa mukanya yang (menurutnya) cakep, disuruh melakukan hal nista tersebut.'

Setelah difikir, ditimang, dan ditabok(?) . Akhirnya, ia menjawab.

"Kalau aku melaksanakan hal 'itu', kau tak kan menggangguku, kan?" kata Shikamaru menguap.

"Cih, sudi amat gue gangguin elo, secara lo itu gak level sama gue. Kalau masalah ini sudah selesai, loe, gue ,end." katanya lebay.

'Gila, ni cewek. Cantik-cantik, tapi. Lebay' ucap batin Shikamaru.

"So, pilih yang mana?"

"Yang kedua aja deh." Kata Shikamaru, yang nguap (lagi).

"Oke, sekarang kamu keluar sana. Oh, ya! Jangan lupa, pakai ini!" kata Ino sambil melempar speaker dan langsung ditangkap oleh Shikamaru.

"Darimana kau dapat?" kata Shikamaru sambil menunjuk speaker.

"Aku maling di musholla sana." kata Ino polos, dan menunjukkan tempat speaker yang ia 'pinjam'.

Shikamaru shock, gak nyangka. Wanita di depannya ini adalah maling professional.

"Ngapain bengong, cepetan sana!" kata Ino ngebentak.

"Iya.."

Di Lapangan Sekolah

Shikamaru sudah berada di depan lapangan, lalu mulai menari ala monyet sambil meminta maaf pada Ino.

Teman-temannya bingung melihat keanehan Shikamaru, bahkan ada yang mengkritik.

"Ih, Shikamaru. Pinter tapi sarap ya?"

"Gak nyangka, pasti obatnya abis noh."

"Kenapa Shikamaru jadi begini ya? Apa dia digigit monyet tadi pagi?"

Itulah kritik yang dilontarkan anak-anak disana, Ino dan Sakura tertawa puas.

"Haha… aduh, mau-maunya Shikamaru melakukan 'itu'. Hahaha.." kata Sakura tertawa puas.

"Haha… iya Sak, lihat, dia lucu sekali."

"Hahaha…"

"Sak, aku mau ke kantin dulu ya."

"Oke deh.."

Ketika Ino berjalan menuju kearah kantin, ada seseorang yang menangkap tangannya. Membuat Ino terkejut dan membalikan badannya.

"Ka-kau…" kata Ino terkejut.

"Hai, kita ketemu lagi."

'Kayaknya ada masalah baru lagi nih.' Kata Ino dalam hati.

TBC

Ahh, maaf updatenya telat. Saya ulangan dulu dan akhirnya pembagian rapor dan akhinya.. aku naik kelas.

Kayaknya, ini fict makin gaje aja. Nah, silahkan nge-riview. Kalau gak mau juga gak apa-apa #pasrah.

Silahkan

1

2

3

Review…