Haloo…
Ketemu lagi dengan saya dan cerita saya masih gaje, terimakasih juga kepada kakak-kakak senior yang sudah memberikan saya kritik, saran, serta nasihat yang menurut saya bermanfaat. Kalau anda bersedia nge review fict saya ini, monggo kalau tidak mau juga saya gak bakalan maksa kok.
Disclaimer:Tante saya Masashi Kishimoto
Genre :Romance?Humor?
Warning :
cerita ini tidak ada di dunia nyata,hanya di dunia imajinasi dan siapkan penutup mata anda jika anda rasa fanfic saya jelek whahahaha… oh ya satu lagi, typonya bertebaran dari Sabang sampai Merauke…
Happy reading
Chapter 4
"Mau apa, kau?" tanya Ino pada orang itu.
"Mau apa? Kau tidak ingat ya insiden kemarin?" kata orang itu dan sedikit menyindir Ino.
"Jadi, kau mau aku bertanggung jawab? Oke, aku terima. Apapun itu, panda jelek."
"Oh, berani juga kau ya. Kalau kau bicara seperti itu, berarti kau tidak akan lari dariku seperti kemarin kan?"
"Tidak akan, what ever lah apa yang akan kau lakukan padaku, aku terima." kata Ino ketus.
"Baiklah, aku pikir dulu, hukuman apa yang pantas untukmu." kata Gaara sok misterius.
'Alah, paling juga disuruh minta maaf, kalau nggak suruh nyuci bajunya yang kemarin.'
Pikir Ino dalam hati.
"Hukumannya, kau harus jadi pacarku." Kata Gaara dingin. *Gaaranya masuk kulkas kali, makanya dingin.*
Ino mencerna kata-kata Gaara
1
.
.
.
.
.
.
.
.
2
.
.
.
.
.
.
.
.
3
.
.
.
.
.
.
.
"Opooo?" kata Ino setengah berteriak.
"Gimana?" kata Gaara, dengan tampang cool.
"Ora sudi." Kata Ino ketus.
"Koe juga ora sudi pacaran karo kamu, koe cuma ora mau dikejer-kejer sama pengel (baca: fansgirl) koe." kata Gaara lebih ketus.
"Itu mah derita kamu, pokoknya loe, gue, end!" kata Ino yang alay-nya kumat lagi.
"Pokoknya, kamu harus jadi pacar aku. Kalau nggak-"
"Huaa, ampun. Ia bang saya turuti, tapi jangan apa-apain Tou-san saya, dia kan udah tua."
'Kayaknya saya belum ngomong sesuatu sama dia deh? Aku kan mau ngancem dia jadi pelayan di rumah saya, kok malah melenceng ke Tou-sannya. Biarin aja, yang penting dia udah mau nurutin permintaan saya' ujar Gaara dalam hati.
"Baiklah, kalau begitu. Nanti pulang sekolah ku tunggu di kelasmu." ujar Gaara lalu meninggalkan Ino.
"Apa? Kelas? Memang dia tau kelas saya dimana? Ah, itu mah derita dia."
TENG TENG
Ino masuk ke kelasnya, lalu duduk di bangkunya dengan lesu. Sakura, sahabat barunya melihat Ino lalu menghampirinya.
"Ino, kau kenapa?" katanya khawatir.
"Aku? Eh, aku baik-baik saja, kok."
"Kau ada masalah ya? Ceritakan saja padaku, siapa tau aku bisa bantu?"
"Baiklah, tadi aku-"
"Selamat siang semua." ujar sang guru sambil melambai-lambaikan tangannya ala mis unipers.
"Siang, Guru Kakashi." kata anak-anak serempak.
"Nah, karena bapak sedang banyak kerjaan. Bapak hanya memberi PR saja, tapi perkelompok."
"Apa PR-nya pak?"
"Kalian semua harus mencari nama latin tumbuhan dan hewan, masing-masing 50, dan dikumpul besok, pakai kertas folio. Sudah, itu saja. Kalau begitu, bapak bagi kelompoknya."
"Hinata, Naruto, dan Shino."
"Sasuke, Tenten, dan Neji."
"Shion, Kiba, dan Lee."
"Ino, Sakura…"
"Yei… Sakura, kita barengan." kata Ino girang.
"Iya, No. takdir berpihak pada kita." kata Sakura gak kalah girang.
"Tadi sampai mana ya? Oh ya, Ino, Sakura dan…" kata Kakashi lagi milih-milih.
"Shikamaru."
Ino terkejut, Sakura apalagi. Ino memprotes gurunya itu.
"Pak, bisakah anda mengganti Shikamaru dengan yang lain pak?" tanya Ino.
"Tidak bisa, karena semuanya sudah lengkap, dan kelompok kalian ini cocok lho!" kata Kakashi santai.
"A-APA? Tapi pak-." kata-kata Ino terputus karena mendapat tatapan membunuh dari Sakura.
"Pak, anda lupa sesuatu. " kata Naruto.
"Apa?"
"Untuk memilih ketua kelompoknya, bagaimana?" tanya Naruto.
"Oh, iya. Aku lupa. Ketua kelompok 1 Shino, ketua kelompok 2 Neji, ketua kelompok 3, Shion, ketua kelompok 4, Shikamaru. Nah, waktu pelajaran sudah selesai, selamat siang anak-anak."
"Siang, Pak." kata anak-anak serempak.
"Eh, Sak. Kok, gurunya kok gitu ya, datang lima menit terus pergi. Aneh." kata Ino sambil memegang dagunya yang mulus dan berjenggot(?).
"Gurunya memang begitu, datang lima menit lalu pergi."
TENG TENG
"Yei.. pulang.." ucap seluruh siswa-siswi di sekolah, mereka lalu pulang dan yang tersisa dikelas hanya Ino, Sakura, dan Shikamaru.
"Hei, jadi di mana kita kerja kelompoknya?" tanya Ino.
"Dirumah Sakura saja, orangtuanya lagi pergi." kata Shikamaru.
"Ck, baiklah. Kita kerja kelompok di rumahku, tapi jangan bikin onar disana." kata Sakura.
"Baik.." ucap mereka berdua serempak.
"Oh, ya. Ino, kau masih ada hutang padaku. Shikamaru, aku dan Ino mau ke toilet, kau tunggu disini saja ya!" kata Sakura, lalu meninggalkan pria itu sendirian.
Di toilet wanita
"Ino, ada masalah apa sih? Ceritakan padaku, seiapa tau aku bisa bantu?"
"Baiklah, tapi kau jangan bilang siapa-siapa ya?"
"Baiklah."
Ino pun menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir. Sakura yang mendengar pun terkejut tapi senang.
"Wah, kau beruntung sekali. Kau tau tidak, Gaara itu ketua OSIS disekolah kita dan banyak fansnya. Harusnya kau senang, bukannya sedih seperti itu." kata Sakura dengan mata yang berbinar-binar.
"Sakura, mau dia ketua OSIS kek, ketua Sosis kek. Nggak perduli, sekarang yang aku bingungkan dia mau menjemputku, bisakah kau bicara padanya agar aku bebas untuk hari ini? Please, Sakura.." kata Ino dengan puppy eyes no jutsu.
Sakura menghela napas, kalau dipikir-pikir Ino itu lumayan hebat, karena bisa menggaet Gaara, tapi kasihan juga dia, kalau gak nurut nanti dia diterror.
"Oke, tapi untuk hari ini saja ya?"
"Baiklah, eh Sakura. Aku mau tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau dan Shikamaru itu… pacaran ya?"
BLETAK
"Aduh Sakura, sakit tau." Kata Ino sambil mengelus kepalanya.
"Hei, sampai dunia kiamat pun. Aku tak akan pacaran sama dia tau, kau dapat informasi konyol itu darimana?"
"Hanya menebak, soalnya waktu itu kalau kau bercerita tentang dia selalu sempurna, tadi juga dia bisa tau kalau orang tuamu tak ada."
"Dia itu cuma sepupuku, tidak lebih. Lebih baik, kita ke kelas saja daripada dia tidur lagi."
Di kelas
"Hei, kau tau Yamanaka Ino?" tanya pria berambut merah.
Shikamaru menengok kearah orang itu, lalu dengan malas ia membetulkan posisinya.
"Tentu saja tau, dia kan teman sekelasku."
"Dimana dia?" kata orang itu dingin.
"Dia tadi-."
"Shikamaru, cepetan kesini." kata Sakura sambil memegang pergelangan tangan Ino, kedua pria itu menoleh kearah Sakura.
'Sakura bodoh, gak liat apa ada Gaara disitu. Ah, kalau Gaara ngamuk sama aku, hidupku pasti tak kan tenang lagi.' kata Ino dalam hati.
"Ino-chan dari mana ssaja kau? Ayo pulang." kata Gaara lalu menarik tangan Ino.
"Maaf ya, ketua OSIS. Tapi sepertinya Ino tak kan pulang bersamamu, karna kami ada kerja kelompok." ujar Sakura.
"Tapi kan, dia bisa ku antar?" kata Gaara cari-cari alasan.
"Maaf ya, Gaara. Tapi, itu kan tidak solid. Masa, kedua temannya jalan kaki, sedangkan dia naik motor bersamamu. Apa kau tidak ingat komitmenmu? Senang bareng-bareng, susah bareng-bareng, ya kan?" kata Shikamaru santai.
'Huh, sepetinya hari ini aku kalah.' ujar Gaara dalam hati.
"Baiklah." jawab Gaara lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Skip time
Di rumah Sakura.
"Ini rumahku. Agak gelap sih, karna jendelanya kurang." ucap Sakura.
"Ini sangat gelap tau, hidupkan lampunya." kata Ino.
"Oke." kata Sakura.
CKLEK
"Baiklah, kita bagi tugas. Aku, mencari nama hewan dibuku, Sakura dan Ino nama tumbuhan dan mencarinya di internet." kata Shikamaru.
"Baik." ucap Sakura dan Ino bersamaan.
1 jam kemudian
"Huh, selesai juga." kata Ino.
"Oh, ya! Kalian belum makan ya? Aku ke belakang dulu ya." kata Sakura lalu meninggalkan mereka berdua.
Hening, tidak ada yang bicara sama sekali. Sampai akhirnya, Ino membuka suara.
"Shikamaru…"
"Hn."
"Maaf telah mempermalukanmu pagi ini."
"Ya, ini bukan salahmu sepenuhnya. Aku duluan yang mulai, jadi harus tanggung resikonya."
"Hei, Shikamaru. Kenapa kau menjahiliku waktu itu?"
"Karena, biasanya anak baru itu mudah dijahili. Sama sepertimu."
"Oh, ya sudah. Aku mau ke dapur." kata Ino lalu meninggalkan dia sendirian.
Di dapur
"Sakura, lama banget sih. Emang kamu masak apa?"
"Aku cuma masak ramen aja, kok."
"Ya sudah, biar aku bantu."
"Tidak usah, kau kan tamu. Jadi kau duduk saja diluar."
"Aku tidak mau, aku mau bantu kamu."
"Tidak perlu, bentar lagi juga mau selesai. Kamu duduk aja disana." kata Sakura sambil menunjuk kursi di pojokan dapur, agak jauh dari tempatnya berdiri.
Ino pun menurut, ia lalu duduk disana. Ia melamun, entah apa yang dipikirkannya.
Tiba-tiba…
CTARR!
"KYAA!" teriak dua gadis itu bersamaan.
"Sakura, kau dimana?, aku tidak bisa melihat." kata Ino histeris.
"Ino, namanya mati lampu, aku juga tidak bisa melihat." kata Sakura.
"Sakura, kau ada di mana? Aku takut gelap." kata Ino sambil meraba-raba dinding dapur.
"Aku juga tidak tau, sudahlah, kita raba saja tembok ini sambil berjalan." kata Sakura.
Akhirnya mereka berdua meraba tembok sambil berjalan, sedangkan Shikamaru? Disaat seperti ini ia masih saja tidur.
Ino terus berjalan tak tau arah, dan akhirnya Ino menginjak tangan seseorang yang ia kira Sakura. Langsung saja Ino memeluknya. Yang dipeluk pun langsung kaget.
"Sakura, akhirnya kita ketemu juga." kata Ino sambil memeluk orang yang ia kira Sakura erat, yang dipeluk pun diam saja.
"Eh, tunggu dulu. Sakura, sejak kapan dadamu bidang? Kan dada wanita tidak bidang?" tanya Ino pada orang itu, lalu ia meraba tangan orang itu.
"Terus, tanganmu juga kasar. Kan tanganmu biasanya halus." kata Ino sedikit bingung. Lalu ia meraba wajahnya. Ia takut kalau ia salah meluk orang.
"Kok, wajahmu juga kasar ya? Kan katamu waktu itu, kau mencuci muka 25 kali sehari. Tunggu dulu, dadamu bidang, tangan dan wajahmu juga kasar. Itu menandakan sifat laki-laki kan? Berarti yang kupeluk bukan Sakura, tapi…" kata Ino menerka-nerka.
"Aku yang kau peluk." kata Shikamaru.
"Kyaa! Maaf." kata Ino.
"Hn, ya sudah. Aku mau cari jendela dulu, siapa tau ada cahaya masuk, lagipula. Ini baru jam 4 sore, ruangannya gelap begini." kata Shikamaru, ketika ingin beranjak pergi. Tangan Ino memegang tangan Shikamaru.
"Tunggu dulu, aku juga ikut." kata Ino.
"Troublesome, kau ini bikin kaget saja. Kenapa kau mau ikut, kau takut?" kata Shikamaru menggoda.
'Bilang gak ya kalau aku takut gelap? Jangan deh, yang ada nanti dia malah ketawa lagi.' ujar Ino dalam hati.
"Aku-"
CTAAR
"Yei, lampunya idup. Oh, ya Sakura mana?"
"Aku disini, kalian berdua kemana saja? Ku cari-cari tidak ketemu?" kata Sakura yang tiba-tiba nongol entah darimana.
"Ahh.. kau ini merepotkan sekali, Sakura. Harusnya, aku yang bertanya seperti itu." kata Shikamaru.
"Sudah, berisik sekali kalian ini. Ya sudah, aku mau pulang dulu, Jaa." kata Ino, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Eh, gimana tadi rencananya? Berhasil?" tanya Sakura.
"Tentu, kau menjalankannya dengan sempurna." ujar Shikamaru.
"Sebenarnya, aku tak tega melakukan hal tadi. Aku kasian pada sahabatku sendiri."
"Hah, sudahlah. Kau pikir aku enak di peluk dia, tenaganya itu kayak monster."
"Kasian deh… Shikamaru, kau tau darimana kalau Ino takut gelap?"
"Dulu, dia itu sahabatku waktu kelas 2 SD."
"Benarkah? Aku tidak percaya?"
"Kalau kau tidak percaya, ya sudah." kata Shikamaru cuek.
"Baiklah, aku percaya. Tapi, apa kau punya bukti ?" tanya Sakura menyelidiki.
"Kenapa aku harus memberi tau kan bukti itu padamu?"
"Karena kau sepupuku, jadi aku harus tau antara kamu dan Ino."
"Apa hakmu untuk tau hubungan masa laluku dengan dia? Kau kan cuma sepupu, ayah dan ibu ku saja tidak mau tau urusan aku dan dia."
"Iya juga sih, tapi tolong beritau aku."
"Huh, ternyata punya sepupu sepertimu benar-benar merepotkan. Baiklah, aku beritau."
"Nah, begitu dong. Mana buktinya?"
Shikamaru mengubek-ubek isi tasnya, dan ia mengambil sesuatu di dalam tas itu. Lalu, terdapat beberapa foto di tangannya.
"Ini buktinya." Ujar Shikamaru sambil melempar beberapa foto kearah Sakura.
"Ini, foto kau dan errr… siapa gadis kecil ini?" tanya Sakura.
"Itu Ino, dia sahabatku kelas 2 SD. Kau sudah percaya?"
"Ya, sedikit. Tapi, sepertinya ia tidak mengenalimu Shikamaru?"
"Coba kau lihat baik-baik foto itu dan aku. Apakah ada perbedaan?"
Sakura menatap foto itu, lalu beri ke Shikamaru, lalu mengangguk-angguk sebagai tanda kalau ia mengerti.
"Ya, dulu rambutmu pendek, tapi gak lurus. Dan disini mukamu ceria, tidak seperti sekarang."
"Hn."
"Jadi, kau terobsesi padanya karena dia sahabatmu sejak kecil? Sayangnya dia tidak tau kalau kau sahabat kecilnya, jadi kau menjahilinya. Apa itu benar?" tanya Sakura.
"Hei, aku tidak terobsesi padanya. Tapi, aku menyukainya tau."
"Apa bedanya? Menurutku sama saja!"
"Sekarepmu lah, sudah aku mau pulang."
Shikamaru lalu melangkah menuju pintu depan, lalu membukanya. Sebelum dia pergi meninggalkan rumah Sakura, ia mendengar sesuatu.
"Sepertinya, kau takkan bisa mendapatkan Ino lagi. Karna dia sudah dimiliki oleh seseorang." kata Sakura.
"Huh, what do you mean Sakura?" tanya Shikamaru.
"Nanti juga kau akan tau, sudah pulang sana!" kata Sakura sambil mendorong keluar pria itu.
"Sakura-"
BRAKK
"Wah, ternyata tenaga wanita itu kayak monster ya. Tapi, apa maksud dari perkataan Sakura? Lebih baik aku pulang, nanti aku pikirkan." ujar pria itu.
Keesokan Harinya
"AAA… bel udah masuk! Waduh, PR belum dikerjain nih!" ujar gadis berambut pink berlari kearah kelasnya.
"Huh, sampai juga. Ino, lihat PR Fisika mu sih?" kata Sakura.
"Ambil saja di tas, tapi kenapa kau tidak menyontek pada dia?" kata Ino sambil menunjuk orang yang duduk di sampingnya.
"Aku gak mau nyontek sama dia, dia itu pelit." kata Sakura
"Biarin." kata Shikamaru.
Sakura lalu mengubek-ngubek tas Ino dengan kasar, karena kekasaran Sakura. Tas Ino pun jatuh, dan Sakura tertarik akan lembaran kertas yang tergeletak di lantai.
"Eh, Ino. Ini foto siapa?" tanya Sakura pura-pura gak tau.
"Oh, itu foto ku dan sahabatku. Namanya, Nara." kata Ino.
"Itu bukannya nama keluarga ya?"
"Mungkin, habis nama depannya susah di hafal. Jadi aku memanggilnya Nara, dan dia itu first love aku, Sak." ujar Ino sambil tersenyum.
Shikamaru yang ikut mendengar perkataan pun langsung blushing ria, tanpa ia sadari mukanya sudah memerah. Ino yang melihat muka Shikamaru pun bingung.
"Nanas, kau kenapa? Sakit ya?" tanya Ino.
TENG TENG
"Wah, sudah masuk." kata murid-murid serempak.
"Oh, ya. PRnya belum dikerjain." kata Sakura.
Ino pun membereskan tasnya yang tergeletak di lantai, lalu memandang foto itu. Shikamaru juga lalu bertanya pada Ino.
"Kau merindukannya?"
"Bukan hanya rindu, tapi sangat rindu."
Skip time
Istirahat
"Ino, ayo ke kantin!" kata Sakura.
"Ay-"
"Ino-chan, ayo ikut aku!" kata seseorang yang tiba-tiba ada disampingnya.
"Baiklah Gaara, Sakura maaf ya aku tidak bisa i-aaaa" ucapan Ino terputus karena tangannya ditarik Gaara.
TBC
Hah, selesai juga… oh ya baru inget, mau tanya review sama flame tu apa bedanya sih? Trus humornya kerasa gak?(aku lebih mementingkan humor daripada romance). Kalau romance aku memang gak bisa bikin yang begituan, humor juga. Thanks, yang udah ngeriview, yang ngebaca dll.
Sing penting..
Riview
