Sebelumnya, saya berterima kasih kepada orang-orang yang mau meripiu dan nge-fave cerita abal-abal saya…
Terimakasih : Suukie 'Suu' Foxie, Ann kei, Shanchan Anime Lover, agustya, Hanakaze-noo-ookami (maaf kalau namanya salah)
Terimakasih, yang sudah ngefave, ngeriview, dan yang membaca fict abal saya#nangis terharu..
Happy reading…
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre : Humor? Romance?
Chapter 5
"Hei ketua Sosis, bisakah kau lepaskan tanganku?" tanya Ino, sedangkan pria itu masih menarik pergelangan tangan gadis itu.
"Sampai.." ucap pria itu, lalu melepas tangan gadis itu.
"Hei, panda. Kenapa kau membawaku ke sini? Makan siang kok di atas atap?" tanya gadis itu.
"Memangnya mau dimana lagi?"
"Hei, kok malah balik tanya, kenapa kita tidak makan di kantin? Kan lebih baik."
"Dikantin itu banyak orang, sesak. Kalau kau mau mati muda, silahkan saja makan di kantin."
"Siapa bilang, aku sudah pernah datang ke-"
"Kau bawa bekal?"
"Tidak, aku sudah janjian sama Sakura kalau istirahat makannya di kantin."
"Nih." Gaara memberi sebuah roti isi pada Ino.
"Hah? Kita datang jauh-jauh begini, di atas atap, cuma makan roti isi? Kau pelit." kata Ino sambil menggembungkan pipinya.
"Apa katamu? Salah sendiri kau tak bawa bekal, masih mending ku beri kau roti. Kalau aku makannya ini." Gaara mengambil kotak bekalnya.
"Tak adil, masa kau makan nasi sedangkan aku makan roti?" kata Ino, walaupun begitu roti pemberian Gaara tetap ia embat juga#Ino rakus.
"Itu deritamu!" kata Gaara lalu mencuil roti Ino, gadis itu terkejut.
"Hei, itu punyaku tau. Kenapa kau makan, dasar panda rakus!"
"Enak saja, ngomong-ngomong kau mau bento ini?" kata Gaara nawarin.
Sebenarnya Ino mau, tapi karena ia gengsi jadi dia tahan.
"Gak!" jawab gadis itu ketus.
"Ya sudah, kalau gak mau aku makan ni."kata Gaara sambil menyuap makanannya, gadis itu akhirnya minta juga.
"Gaara, minta." kata Ino melas, ingin sekali pria itu tertawa, tapi ia kan sedang makan.
"Katanya gak mau."
"Itu kan tadi, sekarang aku berubah pikiran."
"Baiklah." Gaara mengambil sumpit itu lalu menyuap ke mulut Ino, gadis itu sudah membuka mulutnya, tapi naas sumpit itu berbelok kea rah Gaara.
"Gaara!" kata gadis itu kesal, pria yang di sebut namanya tertawa terbahak-bahak.
Sementara tidak jauh dari atap tempat mereka mekan, seorang pria berambut nanas melihat mereka dengan tatapan miris.
'Jadi, ini maksudmu Sakura?'
TENGTENG
Ino berjalan dengan santai, ia tak menyangka bahwa Gaara bisa sehangat itu. Ia pikir kalau Gaara itu dingin, cuek, gak humoris dll. Ketika sampai di kelas, Ino senyam-senyum gak jelas.
"Wah, sepertinya Ino terjerat oleh pesona Gaara ya?" kata Sakura.
"Tidak, siapa bilang." kata Ino berkilah.
"Semua orang juga tau kalau orang jatuh cinta pasti senyam-senyum gak jelas, Ino!" kata Shikamaru.
"Tidak, siapa bilang. Yang aku cintai hanya Nara, bukan Gaara!" kata Ino, Shikamaru terkejut mendengar ucapan gadis itu, begitu juga Sakura.
"Ino, apa yang terjadi jika dia sudah lupa padamu?" ucap Shikamaru.
"Tidak, dia tidak akan lupa padaku. Lagipula… dia pasti ingat janjinya waktu itu."
"Janji? Janji apa?" kata Sakura.
Flashback
"Nara-Nara, ayo kesini!" teriak seorak bocah berumur 7 tahun, mata aquamarine nya berbinar-binar, rambut pendeknya pun menari-nari akibat tiupan angin.
"Ada apa, Ino?"
"Bunga ini cantik ya! Indah sekali." gadis itu menunjuk bunga berwarna biru muda di hadapannya.
"Tapi, lebih cantik lagi begini."ujar Nara, ia menyelipkan bunga itu di rambut gadis itu.
"A-a… apa benar kalau aku cantik?"
"Tentu, apalagi kalau ada bunga di rambutmu. Kau sangat manis."
"A-arigatou, Nara."
"Ino.."
"Ya?"
"Kau benar-benar… akan pindah ya?" tanya bocah itu dengan tatapan sendu.
"Iya, aku harus ikut Tou-san ku. Jangan lupakan aku ya Nara!" ucap gadis itu, gadis itu menahan agar air matanya tidak tumpah.
"Tentu, Ino. Ketika kau kembali aku akan melamarmu."
"Benarkah?" kata Ino tak percaya.
'Tentu, jangan lupakan aku ya!"
"Tidak akan, Nara!" ucapnya senang.
Normal POV
"Oh, so sweet…" ucap Sakura
Ketika sedang asyik mengobrol, datanglah sang guru olahraga Maito Gai.
"Siang anak-anak!"
"Siang…"
"Cepat ganti baju kalian, hari ini kita olahraga basket. Yang telat datang ke lapangan lima menit, akan ada hukumannya." kata bapak itu.
"Ya, pak." Teriak anak-anak.
"Yuk Ino, kita ganti baju." kata Sakura.
"Ayok."
Ketika sampai, gadis itu mengganti bajunya di toilet. Ino merasakan bahwa celananya olahraganya basah, ketika ia melihatnya ada bercak darah di celana itu.
"Hah, Tembus aduh gimana nih!" Ino kehabisan akal, Sakura mungkin sudah ada di lapangan karena dia ditinggal oleh Sakura.
"Telpon Sakura aja!" kata Ino, akhirnya ia menelpon gadis itu.
"Halo, napa No?" kata Sakura.
"Sak, kamu bawa jaket kan?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Aku pinjam, Sak. Tolong anterin di toilet tempat aku ganti baju, oke!"
"Ambil aja sendiri."
"Tapi Sak, ini UGD."
"Emangnya kenapa?"
"Aku tembus, Sak. Bantuin aku, Sak!"
"Baiklah, tunggu di sana."
Beberapa menit kemudian.
"Nih, cepet pakai."
"Thanks, Sak."
Setelah memakai jaket milik Sakura, akhirnya mereka sampai ke lapangan dengan selamat.
"Ino, kenapa jaketnya kau gantungkan seperti tali pinggang? Oh ya, kau telat 1 menit. Jadi, berdiri di sana dan lepaskan jaket itu." kata Gai.
"Ta-tapi pak-"
"Tak ada tape-tapean, sekarang lepaskan jaket itu dan berdiri di sana!"
Sakura iba melihat penderitaan sahabatnya itu, lalu ia mencoba menolong sahabatnya itu.
"Pak, ada yang ingin ku bicarakan." kata Sakura.
"Baik."
Sakura pun membawa pria itu menjauh, lalu membisikkan sesuatu di telinga si guru. Sang guru pun manggut-manggut mengerti, lalu mereka kembali ke lapangann.
"Ino, jaketnya tak usah dilepas. Tapi, kau musti berdiri disana selama jam pelajaran."
"Baiklah, pak." gadis itu hanya pasrah, akhirnya ia berdiri disana dan menemukan sesosok manusia yang juga berdiri di sana.
"Huh, kau lagi. Kenapa sih, aku selalu bertemu kamu disaat seperti ini!" kata Ino.
"Hei, harusnya aku yang berkata seperti itu tau. Jangan-jangan, kau menyukaiku ya sampai-sampai kau sengaja melakukan hal ini agar bisa berduaan denganku." kata Shikamaru.
"APA? Jangan pernah berharap kalau aku menyukaimu! itu tidak akan pernah terjadi."
"Hei, kalian berdua. Kalau pacaran jangan disini, dihukum masih aja sempet-sempetnya pacaran." kata Gai.
"A-apa? Kami tidak- " perkataan Ino terputus ketika Shikamaru memotongnya.
"Ya, tak apa kan sensei. Lagipula kami sedang dihukum, berduaan pula. Jadi, tak ada salahnya kan kami berpacaran? Ya kan, Ino sayang?" kata Shikamaru dan sukses membuat Ino melempar deathglare terbaiknya.
"Sekarepmu lah!(Terserahmu lah!)" kata sang guru lalu mulai melakukan aktivitasnya lagi.
"APA MAKSUDMU DENGAN PERKATAAN ITU, HAH?" tanya Ino kesal.
"Tidak ada, lagipula guru itu juga tidak terlalu memperhatikan kita."
"Kau bodoh, nanti seluruh kelas bakal ngegosipin kita berdua tau!"
"Biarkan saja, toh itu kan cuma gossip."
"SHIKAMARUUUU!"
Pria yang dipanggil hanya tertawa, tidak lama kemudian angin berhembus sehingga jaket yang Ino kalungkan dipinggangnya, menari-nari di udara. Tanpa sengaja mata Shikamaru melihat bercak darah di celana bagian belakang gadis itu.
"Ino, kok celanamu ada darah?" tanya Shikamaru, dan sukses membuat gadis pirang itu malu dan merapatkan jaketnya untuk menutupi bercak darah yang ada di celananya.
Shikamaru yang otaknya jenius itu mulai berpikir, dan secara spontan ia langsung berteriak.
"INO, KAU TEMBUS YA?" tanya Pemuda itu dan sontak membuat seluruh murid itu tertawa terdahak-dahak(?), sedangkan wajah Ino memerah.
"Sudahlah, berhenti ketawanya. Kalau gak berhenti nanti di seruduk kebo loh!" kata guru Gai sehingga sukses membuat mereka diam.
TENGTENG..
Gadis bermata aquamarine itu sedang membereskan bawaannya, lalu meninggalkan kelas dengan seorang gadis yang cantik tapi sayang jidatnya sedikit lebar.
"Ino, ayo pulang." kata Gaara tiba-tiba lalu menarik tangan gadis bermata aquamarine itu, yang ditarik tidak bisa berkata apapun karena tangan mungilnya digenggam begitu erat.
"Ino.." kata Sakura, namun ia melihat sosok pria menghampirinya. Pria yang selama ini ia sukai.
"Sakura-chan, kita pulang sama-sama yuk." kata pria itu sambil tersenyum kearahnya, membuat Sakura terpana.
"Iya, Naruto." kata gadis itu.
'Thanks God' ucap Sakura dalam hati.
"Gaara, lepasin sakit tau!" kata gadis itu sengit dan pada akhirnya Gaara melepas tangan gadis itu.
"Gaara, kenapa kamu dengan seenak jidatnya Sakura menarik tanganku dan minta pulang denganku tanpa ada jawaban dariku?" tanya Ino.
"Aku kan pacarmu, jadi apa salahnya?"
"Hai Ino!" sontak gadis yang di panggil menoleh asal nada sumbang itu.
"Oh, hai Shikamaru.." kata Ino sambil tersenyum.
"Hai Gaara." ucapnya datar.
"Hn." kata Gaara datar, terlihat dengan jelas bahwa kedua mata mereka saling adu deathglare, sehingga menimbulkan kilatan listrik.
"Shikamaru-chan…" seorang gadis pirang berkuncir empat berlari-lari kecil menghampiri mereka.
'Cih, dia lagi! Oh God help me!' teriak Shikamaru dalam hati.
"Mau apa kau kesini?" tanya Shikamaru.
"Aa.. Shikamaru-chan galak deh, makin galak makin imut loh!" kata Temari sambil memegang tangan Shikamaru.
"Jangan pangil aku dengan embel-embal chan."kata si rambut nanas.
"Shikamaru-chan malu ya? Ayo kita pulang!"
"Nee-chan apa-apaan sih, kek anak kecil aja. Lepasin dia, kasian tuh." kata Gaara.
"Oh, ada adikku juga? Wah, adikku bawa gebetan. Pintar juga kamu pilih cewek." kata Temari yang tiba-tiba jadi dewasa.
"Hn." kata Gaara dengan dingin.
"Kalian berdua pacaran ya?" tanya Ino.
"Tid-auuuuu" ucapan cowok itu terhenti ketika gadis itu menginjak kakinya.
"Iya, kita udah lam-aaau" Temari meringis kesakitan ketika kakinya diinjak Shikamaru.
"Enak saja, aku tidak pernah pa-auuuu" kaki Shikamaru diinjak oleh Temari.
Gaara sudah tau jika kakaknya ini menyukai Shikamaru, tapi pria nanas itu lebih menyukai Ino. Jadi, ia biarkan kakaknya mendekati Shikamaru.
"Ayo kita pulang." kata Gaara sambil memegang tangan gadis itu.
"Eh.. tunggu, memangnya kau tau rumahku?" tanya Ino.
"Tidak, aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Setelah itu, baru kita pulang." kata Gaara.
"Kita naik motor?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak apa." kata Ino sambil menaiki motor itu.
"Hei kenapa kau tak memelukku?" tanya Gaara.
"Untuk apa? Kalau aku tak mau?"
"Ya sudah, kalau kau mau mati muda silahkan saja."
"Hei, apa maksud-aaaaaaaaaaa" Gaara mengendarai motor itu dengan kecapatan tinggi, sehingga membuat gadis itu (terpaksa) memeluknya.
"Sampai.." ucap Gaara.
"Hah.. hah.. hah.. Gaara hah.. kau..hah..hah.. bodoh."
"Salah sendiri kau tidak memelukku, untungnya kau tidak mati muda."
Ino terdiam, bermaksud menyudahi pertengkaran mereka. Ia takjub melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Indah sekali, Gaara darimana kau dapat tempat seperti ini?" tanya Ino sambil berlari-lari kecil menghampiri padang bunga dihadapannya.
Gaara hanya diam, terpaku melihat Ino yang sedang memetik bunga.
"Ino.."
"Ya?"
"Apa kau menyukaiku?" tanya Gaara serius.
"Iya, aku menyukaimu sebagai teman. Memangnya kenapa?" tanya Ino bingung.
"Tidak lebih?"
"Tidak, memangnya kenapa sih?"
"Ino, apa yang akan kau lakukan jika pria yang ada di hadapannmu ini menyatakan cintanya padamu, walaupun terlalu cepat?" tanya Gaara.
Ino yang mengerti maksud perkataan Gaara hanya tersenyum.
"Maaf Gaara, aku tidak bisa."
"Bisakah kau menceritakan padaku kenapa kau menolak cintaku?"
"Ya, aku menyukai teman kecilku. Namanya Nara." kata Ino dan sukses membuat Gaara tersentak.
"Nara.."
"Ya, namanya Nara. Itu nama keluarganya, tapi namanya yang asli aku tak tau. Aku menyukainya, tidak aku mencintainya. Dan aku akan selalu menunggunya."
Gaara terdiam, dia tau siapa yang dimaksud Nara oleh Ino. Tapi, apakah Shikamaru tak tau bahwa Ino adalah sahabatnya yang dulu? Setaunya Shikamaru itu sangat jenius, tapi kenapa ia tidak mengenali Ino.
"…Ino, apa yang terjadi jika ia tidak mengenalmu lagi?"
"Tentu saja ia pasti mengenalku, walaupun aku telah banyak berubah." kata Ino sambil tersenyum miris.
"Begitu ya.."
"Sekali lagi, maaf ya Gaara."
"Tak apa." ucapnya sambil mengantarkan Ino pulang.
"Hmm.. begitu ya, jadi kau menolak Gaara?" tanya Sakura.
"Iya, agak bersalah juga sih Sak…" kata Ino dengan nada sedih.
"Ino sayang… kenapa kau merasa bersalah jika kau itu gak salah?"
"Iya juga sih, makasih ya Sak."
"No What-what.." kata Sakura dan Ino menutup telponnya.
Ino merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit rumahnya. Tiba-tiba gadis itu terbelalak.
"Oh, ya! Lupa bersiin langit-langit, banyak sawangnya." kata Ino sambil keluar dari kamarnya.
Di kamar Sakura
Gadis berambut pink itu sedang menelpon seseorang, terlihat wajahnya senang sekali.
"Halo.." terdengar suara pria dari handphonenya.
"Shika, ada berita baru nih!" kata Sakura riang.
"Kalau mau ngegosip jangan sama aku, udah aku mau tidur."
"Hei, ini ada hubungannya dengan Ino tau! Kalau kau tak mau tau tentangnya, aku putuskan saja sambungan teleponnya."
"Eh.. jangan.. oke, aku dengarkan. Jadi, ada apa dengan gadisku itu?" kata Shikamaru dengan malas.
"Hei, kau masih punya peluang untuk mendapatkannya."
"Aku tau, dia kan selalu menungguku."
"Kau ini, PD sekali. Tadi, dia menolak Gaara loh! Ternyata, dia sangat mencintaimu Shika." kata Sakura memuji.
"Tentu saja, dia itu selalu menungguku tau."
"Hei, apa kau tak mengerti maksudku memuji Ino hah?" kata Sakura.
"Tidak." kata pria nanas itu singkat.
"Ayolah Shika, jangan pura-pura bodoh. Aku tau kau tau apa yang aku maksud kan? Shika kenapa kau tidak menyatakan cinta padanya, apa kau tidak mencintainya seperti dia mencintaimu?" tanya Sakura.
"Tentu, aku juga cinta pada Ino." kata Shikamaru serius.
"Lalu, kenapa kau tidak menyatakan cinta padanya sih! Kau mau bikin Ino meninggalkanmu dulu, baru kau menembaknya? Atau, kau mau Ino patah hati karena terlalu lama menunggumu dan kau menembaknya? Kau benar-benar.." kata Sakura dengan marah.
"Jangan marah dulu, masalahnya aku tidak bisa menyatakan cinta. Menurutku, itu rumit Sakura."
"Apa susahnya sih? Tinggal ngomong I love you aja kok susah."
"Tidak mau, aku mau ngetest dia dulu. Dia itu benar-benar kenal aku atau tidak."
"Kalau dia gak ingat?"
"Dia pasti ingat, aku yakin kok."
"Yayaya.. itu kan urusanmu, sudah dulu ya." kata Sakura sambil menutup telponnya.
'Haruskah aku menembaknya secepat ini?' tanya Shikamaru dalam hati.
"Ino.. kamu sekolah gak?" tanya Inoichi.
"Iya Tou-san, aku sekolah kok." kata Ino malas-malasan.
"Cepatlah keluar dari kamarmu itu, ada seseorang menjemputmu."
"Siapa Tou-san? Laki-laki atau perempuan?" kata Ino yang masih berada di kamarnya.
"Banci!" kata Inoichi geram.
Gadis itu pun membuka pintu kamarnya, ia terkikik pelan melihat wajah ayahnya yang sedang menahan marah.
"Tou-san imut sekali, jadi pengen nyubit deh."
"Tidak ada waktu untuk bercanda, hime. Ada orang menunggumu."
"Siapa?"
"Laki-laki." kata ayahnya dengan sedikit penekanan pada perkataannya lagi.
Ino terkejut, selama ini tidak ada pria yang berani datang ke rumahnya dikarenakan ayahnya yang garang. Tapi, kenapa ayahnya sekarang malah sebaliknya.
"Tou-san gak sakit kan?" tanya Ino.
"Nggak, cepet sana. Kasian yang nunggu." kata Inoichi sambil mendorong tubuh Ino keluar.
Ino pun keluar dari kamarnya dan melihat orang itu dengan sedikit melongo.
"Heh, ada angin apa kau kemari?" tanya Ino pada pria itu.
"Tidak ada, hanya ingin menjemputmu."
TBC
Hmm.. Gomen jika ceritanya makin melenceng dari alur, apakah fict ini masih ada typonya? Apakah fict ini makin GaJe? Buat yang udah ngeriview, ngefave, ngeread(?) thank alot…
Mind to R*I*V*I*E*W*?
