Segalanya gelap.
Etherland. Ya, ia bisa merasakan detakan lain dari suatu arah.
Rasa sakit itu masih menggerayangi. Dalam keadaan lemah ia berusaha bangkit, kelopak matanya perlahan terbuka.
Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah laptop. Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa dia berada dalam ruangan asing—sebuah ruang kerja.
Ya, ia merasa aneh menatap layar monitor yang menampilkan sebuah file ketikan sepanjang lima ribu kata; sejenis laporan. Belum selesai ia mencerna apa yang ada di sekitarnya, suara-suara lain bergemuruh dari luar ruangan.
Suara anak-anak.
Ia berjalan tertatih-tatih dan menatap bingung sekeliling. Ruangan tempatnya berpijak tertata cukup rapi dan sederet dokumen tersusun teratur di setiap rak. Tak lama, ia memilih berkutat dengan laptop misterius. Digerakkannya kursor dengan ragu, membuka salah satu tab yang ternyata menuju ke sebuah situs kepolisian Denmark.
Etherland masih bingung dan kembali mengedarkan pandangan ke sekitar. Langit bewarna biru gelap dan hawa dingin menyelimuti. Ia lirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya; pukul 05:00 pagi.
Ia belum sempat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi ketika seorang bocah dengan surai rambut pirang membuka pintu ruangan. Berjingkrak layaknya anak hiperaktif—memang begitu, sepertinya— menyapa dirinya dengan cengiran lebar.
"Yo, selamat pagi Iggy!"
Tunggu...
Ada yang salah. Ada yang benar-benar salah dengan semua ini.
Brocken
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Brocken © Me
.
Beta Reader : 3PlusC
Warning:
AU. AT. Kata-kata kasar. Western(?) Menjurus ke rated M(maybe?) komentar nyeleneh dll
Anda sudah di peringatkan. Do at your own risk!
.
Happy Reading
Don't like don't read!
Etherland Neftmmel. Pengusaha Belanda. Seringkali dipanggil Jabrik atau Tulip.
….
Dan sekarang, dia dipanggil 'Iggy'.
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dalam benak pria Belanda itu. Jujur, ia bahkan tidak mengerti bagaimana cara kerja topengnya. Sebelum itu, ucapkan selamat padanya yang berhasil kembali ke masa lampau—ah tidak, ia tidak begitu senang. Ia kembali ke masa lampau dalam tubuh orang lain, sesuatu yang menyusahkan, kan?
Ia menghela nafas dan menyajikan sepiring sandwich kepada dua—ya, dua orang anak yang telah duduk di meja makan. Disertai dua gelas susu dan secangkir kopi, jadilah makan pagi yang begitu sederhana..., hingga menimbulkan tanda tanya. Ya, reaksi itu tergabar jelas dari dua anak—oke, namanya Alfred dan Matthew.
'Apa yang salah? Aku salah bikin menu? ' tanya Etherland dalam batin. Sigh, ia tidak kenal sama sekali dengan orang bernama Iggy ini. Oke, ia memang merasa aneh dengan logat Inggrisnya yang mendadak kental. Tapi..., apa yang salah dengan sandwich?
Etherland hanya bisa duduk dengan senyum hambar sembari menyeruput secangkir kopi—kemudian membuat dirinya terbatuk-batuk hebat seolah menolak minuman yang harusnya biasa ia teguk tiap hari.
Dua anak dengan fisik yang hampir identik tersebut saling berpandangan. Akhirnya, bocah berambut pirang panjang mendekatinya, mengelus-elus punggungnya dan menanyai apakah dirinya baik-baik saja. Suara bocah pemilik beruang putih itu sangat halus..., bahkan nyaris tidak tertangkap di telinga Etherland.
"Ja-jangan paksakan diri minum kopi, Kak Arthur…"
Arthur? Jadi nama sebenarnya itu Arthur atau Iggy?
Etherland mengangguk sembari tersenyum dingin. Buru-buru ia mencari lap untuk membersihkan meja yang terkena noda kopinya, dan ia terkejut ketika mendapati lemari dapur didominasi oleh kotak teh, sebagian besar adalah teh inggris. Setelah sempat ragu, ia pun mau juga menyeruput Earl Grey hangat seperti layaknya gentleman—Hei, atau jangan-jangan orang yang namanya Arthur ini memang begitu?
"Hahaha! Ini pasti karena Iggy tak mau makan hamburger HERO! Yeah!" Bocah hiperaktif dengan iris aqua-blue menatapnya dengan penuh semangat, mengenakan hoodie warna cerah, senada dengan ekspresi dan suaranya yang lantang. Mood Etherland mendadak rusak, dan dengan jutek ia menyuruh keduanya untuk segera menghabiskan sarapan.
Sebenarnya, Etherland cukup heran saat menyadari bahwa ia dan anak-anak di depannya kini bercakap-cakap bukan dengan menggunakan bahasa Belanda. Apa dirinya sedang berada di Amerika? Atau Inggris? Ia harap tidak keduanya, karena kalau begitu ia akan semakin sulit untuk menyelamatkan bidadarinya.
"Bukan scone yang biasa, yaa…" Guman Alfred di sela kunyahannya yang kesekian, "Munch—dahal munch lebih munch enak munch ang munch munch munch munch scone munch bi munch asa munch!"
Etherland diam. Tak merespon celotehan yang diaggapnya memancing masalah. Melihatnya, dua anak itu kembali saling pandang. 'Apakah mereka menyadari bahwa aku bukan orang yang asli?'
"Kau baik-baik saja, Kak Arthur?" Matthew bertanya, lagi, dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Etherland terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk kaku, "Hn."
Ia tidak bisa meminta tolong pada orang lain, ia tak tahu berapa lama sampai akhirnya identitasnya bocor, ia tidak tahu sampai kapan harus menyamar,
...ia tak tahu…, siapa sebetulnya Arthur.
Ia harus menjalani sebuah kehidupan yang tak pernah ia ketahui sama sekali. Sebuah kehidupan baru, yang bahkan belum terhitung satu hari.
"Yosh!" Alfred berseru dengan penuh semangat, "Ayo kita pergi Iggy! Kau tidak boleh absen untuk menangkap pelaku yang sangat tidak HERO di luar sana!"
Etherland yang tengah membereskan meja makan mendadak bungkam. Diantara pikiran masih carut marut dan belum mengerti betul tentang suasana, dengan polos ia bertanya, "Apa maksudmu?"
Sukses. Suasana kembali hening dan menciptakan atmosfir tak nyaman. Ia bisa melihat Alfred yang mengernyitkan dahi dan Matthew yang tampak bingung sebelum akhirnya bocah dengan ahoge unik yang mencuat itu berjingkrak-jingkrak mendekati dirinya, "Tentu saja polisi, Iggy!" Serunya dengan penuh semangat, "Yeah! Kau hajar dan borgol mereka dalam sekali hantam! Masa' kau lupa? kepalamu kebentur, ya?"
"Aku bukan preman, Alfred."
"Oh, tapi kau kadang pakai baju gaya preman detektif! Ciaat—ciaat!"
Dan sekarang Etherland tahu bahwa kostum ala intelejen eksekutif kaya yang ia kenakan bukan pilihan yang bagus.
Dengan senyum yang dipaksakan, ia menghentikan tingkah bocah yang tengah mengepalkan tinju ke udara, bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian. Bukan preman—yang santai saja, tekannya dalam batin. Sesaat ia melirik tumpukan file dan tergoda untuk mencari informasi mengenai si Arthur atau Iggy ini, tapi segera ia abaikan dan memilih untuk cepat mengantar dua anak itu. Lima belas menit kemudian, ia sudah keluar dan duduk di jok pengemudi sebuah mobil. Perasaannya sedikit tenang ketika ia melihat kondisi perkotaan tersebut; Amstelveen—hanya beberapa menit dari De Pijp. Familiar.
"Belok."
"Huh?" Etherland memperlambat kendaraannya dan melirik dua bocah yang duduk di jok belakang dengan bingung. Oke, ia memang tak begitu tahu jalan di daerah yang satu ini— dan di pandu oleh bocah-bocah cilik membuatnya merasa aneh, apalagi dengan tubuh barunya; alis tebal, rambut sepirang jerami, tanpa syal ataupun pakaian necis. Etherland sedikit kesal lantaran tak bisa menikmati rokok pipanya kesayangannya—ditambah kopi, jangan lupakan itu.
"Haha! Aristokrat galak itu pasti akan mengomel kalau HERO ke sana!"Alfred berseru riang seolah tak merasakan hal aneh yang terlihat jelas pada sosok 'Arthur' hari ini. "Padahal HERO ingin menolong orang! Eh, belok Iggy, belok! HERO tidak boleh terlambat! Amstelschool belok ke kiri! Kau masih hidup, kan, Iggy?"
Cerewet!
Langit musim panas cerah membentang ke seluruh penjuru cakrawala Belanda. Awan-awan kecil bergerak malas mengarungi langit biru, seakan tak bersemangat mencecapi terik musim panas yang diselingi helaan angin sesaat.
Seorang pria Prancis berjalan mengerecutkan bibir, sembari mengelus kepalanya yang baru saja digetok penuh suka cita oleh tunangannya yang baru pulang dari pemotretan di Rue de Choiseul, Paris. Sebenarnya lantaran masalah kecil; mabuk. Oke, tapi saat dia mabuk… Sechy berbaik hati mengantarnya ke mansion dan entah bagaimana tangannya sudah berkeliaran nakal menggerayangi gadis itu. Sukses mendapat pukulan hangat yang setengah menyadarkan, kini kembali mendapat getokan dari Jeanne yang datang di waktu yang tidak tepat.
Ohonohonohon, memang sulit ya punya dua cewek yang saling memperebutkan abang~
Abaikan komentarnya—Francis Bonnefoy—, pembaca yang budiman. Abaikan. Kali ini pria tersebut menghentikan langkah di depan bangunan yang menjadi markasnya. Ia menolehkan kepala ketika menyadari ada yang melangkah beberapa meter di belakangnya, alisnya terangkat ketika mengetahui bahwa itu adalah orang-yang-sangat-dikenalnya. Iris matanya yang bewarna biru bertemu dengan iris emerald. Ia senyum kecil dan... mendadak firasatnya mengatakan ada yang aneh dengan orang itu. Ia bisa merasakan tatapan yang berbeda... dari Arthur Kirkland yang biasa.
"Honhonhon, bounjour, mon cheer~!" Sapanya sambil berkedip genit, bergelanyut di bahu mungil lawan bicara. Entah mengapa ia tampak menikmati godaannya, "Kau tak berpakaian dinas, Sayang? Atau kau habis melakukan pengamatan di lapangan? Penampilanmu berantakan sekali."
Francis Bonnefoy, asal Prancis. Bukan nama yang asing lagi bagi kepolisian Amsterdam-Amstelland—tanyakan pada cewek polisi air dan kau akan mendapati bahwa 90% diantara mereka pernah di godai atau sampai kencan dengan si-Raja-Gombal berjanggut seksi. Ia memang sosok kondang di antara 32 tim kepolisian yang tersebar di berbagai daerah. Well, walau harus diakui bahwa reputasinya sebagian besar lantaran tingkahnya yang mampu membuat seseorang seperti De hoofdofficier, Roderich Edelstein naik darah mendadak. Tak hanya cewek, bahkan cowok pun mampu di embatnya.
'Cinta itu buta, Say.' Begitulah katanya, jangan heran kalau kadang ada benda yang terlempar ke arahnya disertai caci maki, atau melihatnya berlari mengejar seseorang—kaum pria heteroseksual yang mempertahankan diri dari terkaman. Terutama Arthur Kirkland, yang memang sering berkelahi dengan si Kodok Mesum, julukan spesial untuk pacar—lebih dari itu, tunangan!— model FME yang cukup tersohor di kalangan para pengikut fashion, Jeanne D'Arc.
Walau masih menjadi pertanyaan mengapa gadis cantik dari Domremy itu mau berhubungan dengan Francis Bonnefoy yang notabene adalah petualang cinta alias playboy kelas kakap. Sampai bertunangan, dan akan segera menikah musim semi nanti pula. Steeven Kaano pun tak dapat memberi jawaban pasti mengenai hubungan tersebut saat di wawancarai di ajang D&G Fashion Show Winter Fall di Milan beberapa bulan lalu.
"Menjijikan."
Dan sekarang, hati hati pria berjanggut yang mengenakan seragam dinas lengan pendek warna putih langsung tertusuk saat mendengar penuturan dari si pemuda beralis tebal.
"Tapi sebenarnya Arthur itu sering pakai seragam dinas atau baju preman sih?"
Francis ternganga dan mulai melonggarkan diri dari tubuh mungil itu. Alisnya bertautan dan merasa aneh dengan respon Arthur yang tidak biasa kali ini—dan apa yang barusan dia katakan? 'Abang nggak salah dengar...'kan?'
"Halo..? hoi!" Etherland mencoba menyadarkan pria Prancis yang tak di kenalnya itu, dan akhirnya tersadar akan kesalahan teknis yang sudah terjadi. Petir menggelegar dalam otak. Keduanya terdiam di depan gedung berdinding putih tersebut. Tiba-tiba lidah terasa kelu…
"Ya, sudahlah." Buru-buru Etherland mencoba mengalihkan pembicaraan dan bersiap untuk masuk sebelum akhirnya pria Prancis itu menepuk bahunya dan memandanginya dengan penuh simpati, "Mon cheer, apa kau baik-baik saja? jangan bilang kau baru mabuk…"
Bukan mabuk, Jenggot. Etherland merutuk kesal. Sepertinya hari ini akan di penuhi oleh pertanyaan macam 'Apa kau baik-baik saja?' atau 'Apa kepalamu terbentur?'
Salahkan mengapa ia bisa kembali ke masa lampau dalam tubuh orang lain!
"…Atau kau habis mengkonsumsi Cannabis di coffeshop?" Francis berceloteh dengan raut wajah khawatir, "Ah, kau tidak kelewatan kan mengkonsumsinya? Roddie pasti akan mengomel, walau sebenarnya wajahnya makin terlihat seksi saat begitu, sih~ ...atau kau masih depresi tentang kasus yang kita tangani? Tenang saja, abang mau kok menemanimu malam ini dengan penuh cinta~!"
"Kau lah yang terlihat mabuk daripada aku." Etherland berkomentar dingin.
"Honhonhon, tak perlu sebegitu pada Abang~, Abang tahu kau selalu menginginkanku, hm?"
...
"Hoi!"
PLAK!
Sebuah file di arahkan ke kepala pria berjanggut—sukses membuat si empu mengaduh kesakitan. Etherland mengalihkan pandangan kepada orang ketiga yang menengahi mereka; sosok pemuda dengan iris ruby merah. Sinar matahari hangat menerpa sebagian wajahnya, ia mengenakan seragam dinas yang hampir serupa dengan milik pria-berjanggut-entah-siapa, hanya saja dia mengenakan kemeja lengan panjang.
"Berhenti menebar kegombalanmu, Francis. Kau terlalu cepat untuk membuat pagi ini menjadi tidak awesome—HAHAHA! Memang tidak ada yang awesome selain AKU!"
Dan seruan di pagi hari pemuda dengan surai rambut silver itu sukses membuat Etherland menepuk kepala. 'Ugh, apa disini tidak ada orang yang waras?'
"Selalu bersemangat seperti biasa, Gilbo~! Honhonhon~, dan tega nian kau pukul Abang Francis dengan file tebal begitu." Kali ini pria berjanggut, Francis, berkata dengan raut merajuk, "Eli bisa tak mau menerima cintamu kalau kau begitu anarkis."
Dan Etherland semakin merasa tidak nyambung.
"Berisik!" Semburat merah terlihat jelas di pipi pemuda itu, aksen Jermannya terlihat jelas, "Jangan ungkit soal dia!"
Francis tertawa mendengarnya dan kini beralih target; menggodai orang yang dipanggil Gilbo oleh si Francis, satu tinju mendarat dan Etherland bisa melihat si Gilbo meringis sembari bersemu merah setelah Francis membisikan sesuatu lewat daun telinga. Apa-apa'an mereka?
"Tampaknya file yang kuketik ngebut ini punya fungsi baru, Art!" Gilbo berkata padanya, Etherland menyipitkan mata tak senang dengan panggilan seenak jidat itu, "Hantam saja kalau penyakit mesumnya kambuh, kau pasti akan membutuhkanya—ide yang awesome, kan? Tapi pastikan tidak ada yang lecet! Aku yang begitu keren nan awesome ini sudah mati-matian mengerjakannya semalaman."
"…." Etherland mengangguk walau tak sepenuhnya paham dengan situasi yang telah terjadi, "Jadi tugasnya sudah selesai, kan?"
Biasanya, Arthur Kirkland akan berkoar-koar jika mendapati ada Francis si Kodok Mesum di dekatnya—adu mulut pun tak terelakkan. Terlebih kalau pria Prancis itu mulai menggodainya, pemuda alis tebal tersebut bisa melemparinya dengan bolpoin dan menjauh sesegera mungkin sembari mengancam akan mengutuknya dengan sihir legendaris; sebuah tindakan yang seringkali mendapat teguran keras Roderich atau gadis-Belarus-menyeramkan yang duduk di bagian Personalia. Namun terkadang ia tak ambil pusing dan memilih untuk tidak menanggapi—terutama saat-saat pelik suatu kasus berjalan. Begitulah penilaian Gilbert Beilschmidt selama karirnya dalam kepolisian. Namun... deskripsi di atas harus dipertimbangkan jika melihat tingkah laku rekannya hari ini.
"Astaga Francis." Kali ini Gilbo merangkul tubuh mungil Arthur dengan penuh semangat, "Kau tidak memberinya minum kan? Hei Alis, sungguh tak awesome! Tentu hari ini kita masih harus mendiskusikan kasusnya! Hantaman gadis Vietnam yang kita interogasi minggu lalu itu keras sekali, ya?"
Kasus? Interogasi? Gadis Vietnam? Tugas? Etherland benar-benar tidak paham sama sekali apa yang dua orang itu maksud—mungkin kalau orang yang asli bakal nyambung. Namun sayangnya kali ini yang berada dalam tubuh seorang Arthur adalah dirinya, Etherland Netfmmel. Soal hantaman..., oh, pantas dia merasakan ada benjolan kecil di kepalanya, dan gadis yang di maksud pasti beda dengan bidadarinya. Tentu, lagian dia tidak berminat menggaet orang lain, cukup Kartini. Titik. Nggak bakal selingkuh, deh! Ya, itu salah satu perkataan yang ia ingat dari sederet kosakata gombal sehari-harinya.
Beralih dari persoalan tidak nyambung di atas, Etherland kini mengalihkan pandangan kepada map biru yang di serahkan...Gilbo. Ada burung bulat warna kuning yang bertengger di kepala orang itu. Boleh ya bawa peliharaan di sini?
Oke, daripada mengomentari burung awesome—(kutip kata awesome si pemilik), lebih baik ia berusaha menguasai persoalan yang akan dibahas orang-orang di sini, yang disebut-sebut sebagai kasusnya. Ia tak mau terus bertingkah seperti orang bodoh yang mendadak amnesia…
"Sudahlah," Etherland menyudahi percakapan tak jelas yang terjadi pagi ini, "berhenti ngomong soal yang nonsense—kita harus menuntaskan kasus."
"Dan kau benar, Alis—kita harus cepat, ntuh si Biola dateng. Bisa-bisa kita digerek kalau ketangkep basah lagi santai di sini…EH! Alis! Lewat sini!"Gilbo memanggilnya sembari berseru nyaring, dan dirinya seperti tersengat ketika sadar bahwa ia mengambil jalan yang salah "Buruan! Kau itu kenapa, sih?!"
Oh, shit. Ia benci soal ini. Dan apakah sempat ia mempelajari situasi dengan suasana seperti ini; di tengah kumpulan orang-orang aneh. Ia tak akan heran kalau pemilik tubuh yang sebenarnya ini adalah orang yang sering ngedumel kesal. Ia pun mungkin akan begitu, dan sekarang dirinya jadi merasa rindu dengan kehidupan lamanya yang tenang dan elit.
Jika kita gambarkan, maka situasi yang di hadapi Etherland bagaikan aktor piawai pembawa peran jahat, dan tiba-tiba saja disuruh mementaskan peran konyol dalam sebuah drama kehidupan bahagia tanpa arahan naskah, kurang dari 24 jam.
Dan Gilbo bilang soal kasus? Apakah itu artinya dia akan jadi semacam tokoh-tokoh di novel kriminal? 'Brengsek, kenapa harus seperti ini, sih?! Arthur Kirkland, siapapun kau—jangan salahkan aku kalau pamormu tercoreng moreng di tanganku dalam waktu kurang dari sehari!'
Kriiieet...
Etherland menahan nafas sejenak, iris emerald-nya bisa menangkap tiga orang yang sudah duduk di kursi. Salah satu di antara mereka masih berkutat dengan laptop. Ketiganya melemparkan pandangan sesaat kepada yang baru datang lalu kembali ke pekerjaannya masing-masing.
Sepertinya mereka bertiga normal, itu penilaian Etherland ketika memasuki ruangan itu, dan...,
BRUGH!
Seseorang menubruknya dari belakang, orang berambut gimbal tersebut hanya melemparkan cengiran tanpa dosa. Seolah-olah insiden itu bukan perangai apa-apa—meskipun Etherland sudah melempakan pandangan mencela, buru-buru ia bangkit, merapikan pakaian dan mengambil posisi duduk di sebelah pemuda berkulit gelap dengan ghutrah di kepalanya. Etherland merasa agak aneh dengan penampilan orang di sebelahnya yang tampak mencolok… apakah dia dari Timur Tengah? Mesir misalnya?
"Jadi sekarang bagaimana?" Itu yang di tanyakan oleh Etherland ketika grup itu tampak sudah terkumpul.
Seorang pemuda bertampang datar dengan jepit rambut mendengus kesal dan akhirnya angkat bicara lebih dulu. Beberapa orang memanggilnya Lukas—Etherland cukup terperanjat ketika ingat bahwa Lukas yang ada di dekatnya ini adalah kawan almarhum tunangannya. Selama 10 menit Lukas menyimpulkan hasil interogasi dari beberapa saksi. Salinan berkas di serahkan padanya, dan ia sudah mulai paham akan apa yang di bicarakan semua orang—Etherland nyaris terbahak melihat judulnya—dan nama proyek yang di garap kelompoknya itu adalah... Operasi Kaus Kaki. Sudah korban ketiga, semuanya masih SMU, salah satu kaus kaki mereka hilang entah kemana ditambah sambungan tangan yang berbeda dan terbalik. Tampaknya pelaku menyambungkan tangan dari korban lainnya. Ya ampun, Etherland menggeleng-geleng kepala, mengerikan! Apa yang di pikirkan pelaku sih? Rasanya dunia semakin gila saja…
"Kurasa kita harus menghubungi secara langsung Divisi Pembunuhan di tujuh negara secepatnya," Pria berambut gimbal berkata riang sembari menepuk bahu Lukas dengan cukup keras, "Bagaimana kalau kita mulai di Kopenhagen atau…Washington? Ah, pastikan bahwa kita mendapat sambungan dengan frekuensi UHF. Pasti kesannya sangat penting."
"Lupakan ocehan orang ini, Kirkland." Lukas menyela dengan nada dingin, disingkirkannya tangan berbulu yang menempel dibahunya. Pandangannya menusuk Etherland, "Biar aku selesaikan laporanku, tangan yang disambungkan tidak terdapat dalam database manapun milik kita. Eduard sudah pastikan itu—intinya ada 3 Jane Doe lain yang tidak teridentifikasi. Kurasa sekarang kita sedang berhadapan dengan pengidap Acrotomophiliac-Necrophilia.Dari hasil otopsi korban ketiga di temukan bekas sabun Tar Wright di bagian vagina, jadi pelaku berhubungan dengan korban terakhir yang memang paling cantik ketimbang sebelumnya…"
Menjijikan, batin Etherland. Ia tidak habis pikir dengan pelaku sadis yang memiliki ketertarikan seksual dengan amputasi dan mayat.
"…Aku sudah menyelidiki bersama Eduard sesuai perintahmu."
'Ya Tuhan, kenapa orang itu bisa menuturkan hal yang mengerikan sedemikian tenangnya', tanya Etherland dalam batin.
"Fotonya ada di dalam sana, aku tidak melihat adanya relasi antara ketiganya. Oh, dan satu hal lagi, guru olahraga itu benar-benar bajingan."
Tawa meledak. Lukas mendelik kesal, sementara Etherland menatap bingung apa yang sebenarnya terjadi. Gilbert dan Francis mendekati pemuda Nordic—Lukas— itu dan mencoba memberi penghiburan, "Oh, ayolah, Manis~, kurasa dia tak serius~"
"Diam kau, dasar mesum. Kau pikir aku menikmati saat dia dengan seenak jidat menggodaiku di ruang olahraga?!"
"Wajahmu terlihat horny saat itu, mon cheer. Kenapa kau tidak mencoba menerima orang itu—maksudku Mathias. Yeah, ku pikir kalian akan sangat serasi." Francis berguman dengan seringai terpampang jelas di wajahnya, "Atau kau mau aku ikut bergabung dengan kalian nanti? Abang dengan senang hati melayani kalian~!"
"Simpan kata-katamu, Francis." Si pemuda ghutrah mengingatkan, "Bisakah kalian tidak membicarakan hal jorok di tengah diskusi kita?"
"Jangan merajuk seperti itu dong, Lukiee~"
Kali ini Gilbert angkat bicara, mengabaikan teguran pemuda Timur Tengah di sana. "Kesesesese, aku sepakat dengan Francis, kalian cocok. Tak kusangka acara interogasi di lapangan ternyata membuahkan pasangan baru di kepolisian. Mungkin kita harus lebih banyak interogasi di luar kantor~"
"Gilbert…."
"Eits! Tapi bukan berarti aku yang awesome ini mendadak punya hobi yang sama dengan Elizaveta! Aku masih normal, ja?" Buru-buru pemuda berambut putih itu menambah, "Taruhan, kami akan melihat kalian di Canal Parade Agustus nanti…, atau tahun depan? Hm?"
Dan Lukas sudah tampak seperti akan 'meledak' sebelum akhirnya Etherland menyela, mencoba memperbaiki situasi yang kelewat jalur, ...dan abnormal. Ia tak pernah menyukai situasi bisnis yang seperti ini, di mana obrolan bisa mendadak banting setir ke arah hal-hal yang nonsense. Darimana pula pembahasan interogasi bisa sampai nyasar ke acara tahunan homoseksual?
"Bagaimana kalau kita melihat relasi antara pelaku dengan korban, bukan korban dengan korban?" Terima kasih, hai seseorang bernama Eduard. Setidaknya opinimu menyeret semuanya kembali ke permasalahan utama.
"Dan menurutku pelakunya tahu soal kedokteran."
Etherland bisa melihat pemuda itu kembali berkutat dengan laptopnya, menandakan bahwa pemiliknya memiliki daya intelegensi cukup tinggi soal teknologi.
"Ada rentang waktu sekitar satu minggu antara ketiga korban—"
"Kalau soal itu sih Gilbird juga tahu, Kacamata. Mungkin pelaku membeli potongan-potongan tangan mayat dari suatu tempat—atau beli di internet? Sigh, sungguh tak awesome." Gilbert buru-buru memotong opini pemuda beraksen Slavia itu, "Kurasa Rusia termasuk exportir soal ini, India juga. Perlu kita ke sana?"
Ada nada yang kurang enak saat dia menyebutkan kata Rusia. Entah mengapa sosok pemuda beriris ruby merah itu meningatkannya dengan Ivan Branginski—apa dia yang di maksud Ivan? Pria Rusia itu pernah menceritakan mengenai seorang pemuda Jerman yang ke Belanda.
...
Diskusi berjalan cukup lama. Bergelut dengan bahan-bahan yang sama sekali bukan bidangnya membuat Etherland tak banyak bicara dan mengangguk-angguk saja. Sesekali suasana diwarnai oleh celotehan riang yang berakhir dengan tatapan tajam Lukas yang entah mengapa seperti gadis sensitif yang tengah PMS.
"Hei, bagaimana kalau kita coba hubungi Belgia dan Luxembourg lebih dulu?" Kali ini pria gimbal kembali mencetuskan sebuah ide, kulit cokelat gelapnya tampak mencolok di tengah kumpulan ras kaukasia (minus si pemuda Timur Tengah—Gupta). "Kita bisa minta bantuan seperti biasa dari mereka, kebetulan aku banyak kenalan saat pertemuan Interpol."
"Dan membiarkan media mengendus beritanya lebih jauh?" Sindir Lukas dengan dingin, "Aku tak ingin berurusan dengan para pencari sensasi. Kau tahu, mereka terkadang bisa lebih membuat kita sakit kepala ketimbang kasusnya sendiri."
"Aku tahu kamu masih kesal lantaran di jodohkan sebelah pihak oleh Gilbert dan Francis." Entah kenapa kali ini mulut Etherland meluncurkan kata-kata secara tak sadar, perkataannya sukses mengundang lirikan sinisme pemuda Eropa Utara itu, "Mereka kan tidak serius—"
"Mati kau, Alis Tebal." Sumpahan yang menyakitkan, "Berhenti mengungkit soal itu. Atau kau mau menghadapi konfrensi pers sabtu depan."
Perkataan dinginnya berbalas dengan ucapan yang tak kalah beku meski di satu sisi bisa menampilkan kesan keren. Perempatan sudah menyembul di pelipis Etherland. 'Keparat, apa dia bilang? Alis tebal? Oh, maaf sekali Tuan-Muka-Datar.Ini. BUKAN. alisku.'
Tarik pernyataan bahwa Tuan Lukas yang Terhormat adalah salah satu orang normal selain Tuan Timur Tengah. Bagi Etherland, kelompoknya ini memang tak ada yang waras. Kecuali dirinya. Hei, benar, kan?
Walau mungkin ia akan terjangkit virus kegilaan ini, setidaknya ia tidak akan menari striptease dengan penuh semangat dalam gedung kepolisian. Memikirkan hal itu, rasanya ia akan semakin gila bisa terjebak di waktu lampau dalam tubuh orang lain, bermain peran yang bahkan ia tak tahu siapa.
"Ohonohonohon, tak perlu sebegitunya, Sayang~ Kau tahu bahwa dia tak akan bisa mengadakan konfrensi pers." Francis berguman dengan nada yang dilebih-lebihkan, membuat wajah dingin itu menyiratkan rasa ngeri bercampur jijik. "Biar Abang yang melakukannya, para gadis akan bersemangat dengan konfrensi penuh cinta Abang~"
"...Yang ada malah mereka ngeri mendengarmu, Mesum." Etherland tak terima direndahkan sebegitunya, dikira ia tak pernah bersosialisasi?
"Mereka perlu di amankan darimu." Ditatapnya lurus sosok pria Prancis itu. Anehnya orang itu malah tak terpangaruh, seolah-olah tatapan horor dirinya adalah anugrah penuh cinta.
"HEI~! Aku kan bukan makhluk buas, Arthur~ non,non,non, aku tak akan mengkhianati Jeanne. Kau tahu aku…"
"Kau pikir semua orang menganggapnya lelucon ketika kau mulai menggerayangi bokong Sechy? Gadis polisi air itu bisa melaporkanmu langsung ke 'Nona' Personalia." Gilbert kali ini angkat suara, tersenyum angkuh, "Kesesesesesesese, sungguh tak awesome!"
Plak!
Satu tapakan keras mendarat di punggung Etherland, "Dan kau semakin tidak awesome hari ini! Kemana argumenmu, hm? Apa kau masih memikirkan dua anakmu di rumah?'
"Itu bukan anakku, Gilbert." Etherland berkata dengan raut kesal, "Abad 21 belum melahirkan teknologi yang bisa merubah sperma menjadi embrio."
"Kesesese, kau mendadak jadi tidak sopan, ya!"
Apanya? kau bahkan lebih parah daripada aku, batin Etherland.
"...Tapi kau memang agak aneh sih hari ini tanpa pendapatmu setelah laporan Lukas."
Dan ucapan riang Gilbert sukses membuat pandangan terarah jelas kepada Etherland—alis tebal Kirkland saling bertautan dan buru-buru ia membuka laporan Lukas dan Gilbert. Semuanya menunggunya untuk bersuara, apa mereka juga menyadari bahwa ada yang salah dengan sosok Arthur Kirkland yang mereka kenal?
"….Well." Setelah sepersekian detik Etherland kembali bersuara. Selain aksen British yang menggelitik, nada keraguan tergambar jelas dari suaranya. Ia tak yakin apa yang akan di katakannya benar atau salah, "Menurutku, pelakunya berbahaya dan dapat mengancam keamanan. Jadi kita harus segera melacaknya."
"…land…"
"Bisa saja dia akan semakin menjadi-jadi, pelakunya tampaknya sakit jiwa." Mengabaikan perkataan seseorang, Etherland melanjutkan, "Aku harap…"
"BHUWAHAHAHAHA!"
Lirikan tajam tertuju kepada Gilbert yang tertawa terpingkal-pingkal di tengah penuturan. Jari telunjuknya menunjuk ke arah sosok beralis tebal yang mencolok, "Tidak awesome! tidak awesome! hei, Alis, kenapa kau mendadak pesimis begitu? Kau mabuk?"
Dan celotehan pemuda Jerman itu segera mendapat sambutan berupa jitakan yang membuatnya meringis. Lukas menatap cuek, "Kau berisik." Katanya dingin yang sukses membuat Gilbert terdiam.
"Tapi komentarmu untuk laporanku benar-benar payah Kirkland."
Oh, shit.
Iris emerald-nya mengedarkan pandangan, dan ia akhirnya menyadari bahwa…seisi ruangan itu mulai mencium gelagat aneh dari Arthur yang mereka kenal. "Ini hanya opiniku, tapi komentarmu tadi seakan menandakan bahwa kau adalah orang awam yang amatir di sini."
Memang benar, Etherland membatin sembari menelan ludah. Wajahnya mengeras dan ia bertemu mata dengan Lukas di satu titik. Apa dia marah? Etherland bertanya-tanya dalam hati.
"Hubungi Divisi Pembunuhan di Luxembourg dan Belgia selagi aku melacak di database milik kita." Diluar dugaan, Lukas berpaling dan berkutat dengan hal lain, "Tidak biasanya kita mendapat kasus seperti ini, kukira kita semua akan menghabiskan seumur hidup di kepolisian ini dengan memburu pencuri sepeda…"
"Hei! Memburu mereka itu juga sama sulitnya dengan pembunuh~"
"Diam kau, Beilschmidt." Potong Lukas ketus, "Dan media sudah mulai mencium gelagat aneh kita, mereka akan sangat puas mendapat santapan berita pembunuh gila yang tengah berkeliaran. ...Dan menghadapi situasi pelik seperti ini malah kau komentari dengan omongan khas orang awam yang sangat tidak professional, Kirkland."
"Loh, memangnya aku harus berkomentar apa? Apa aku harus mengatakan 'WOW' untuk setiap presentasi laporanmu gitu?"
Francis dan Gilbert jelas terkikik mendengar celetukan Etherland. Lukas mendengus kesal dan akhirnya menarik Eduard keluar, untuk melacak di database mereka, katanya.
Gupta dan si pria gimbal ditugasi untuk bertemu dengan petugas medis untuk hasil otopsi setelah makan siang. Kemudian Francis dan Gilbert bertugas mengadakan sambungan telepon ke Divisi Pembunuhan di 7 negara. Tanya kenapa, sebenarnya mereka tipe komunikatif dan cukup terkenal, terutama setelah suara 'awesome' Gilbert memecahkan jendela saat pertemuan Interpol tahunan (dan berakhir dengan detensi dari sang Bos—aristokrat berwajah menggoda, uhuk.) ditambah Francis yang menebar gombal gratisan bonus tangan nakal yang membuat seisi ruangan berjengit ngeri…
….dan Etherland?
"Kita tidak sedang membutuhkan komentar yang tidak berguna." Nada ketus Lukas menyentak Etherland, "Siram kepalamu itu dengan air es dan buka matamu. Kau akan terlihat lebih tolol di hadapan yang lain jika seperti itu, terlalu kacau untuk ukuran Kirkland yang biasa. Kuharap ini bukan karena kondisi korban yang kau temukan begitu mengerikan."
Sialan, umpat Etherland dalam batin. Terlalu jujur, Tuan Tanpa Ekspresi. Kau berkata seolah-olah aku adalah pembual buangan yang tidak berguna, aku tak akan mau bekerja sama dengan orang sepertimu dalam dunia bisnis. Begitulah Etherland berkomentar dalam hati, kesal lantaran pemuda berjepit itu terlalu sinis... dan berlidah tajam.
Blam!
Pintu tertutup kembali dan Etherland hanya bisa menghela nafas panjang di balik tubuh Arthur Kirkland.
"Sungguh dingin sekali, kesesesese. Dia seperti bos besar di antara kita, sigh, kuharap semua anak psikolog tidak seperti dia."
"Psikolog?"
"Kau lupa, Alis? Dia ahli jiwa di antara kita semua, paling waras selain Eduard, Gupta dan... tentu saja diriku yang sangat awesome ini! Hei, kau seharusnya menegur dia lantaran tidak sopan."
"Kau terlalu memandang tinggi diri sendiri." Sindir Etherland tajam, "Dan kenapa aku harus repot-repot menegurnya? Aku tidak peduli."
Perkataannya yang barusan sontak membuat Gilbert terdiam beberapa saat, kemudian mendekati Etherland—atau Arthur Kirkland yang masih duduk di kursinya, tangan itu mengetuk-ngetuk kepala Etherland, menciptakan sebuah bunyi komikal; 'tuk' 'tuk' 'tuk'.
"Francis, kau dengar aku? Memang ada yang salah dengan anak ini, kesesesesese. " Tawa aneh itu membuat Etherland merasa agak risih, pikirannya carut marut dan tanda tanya kembali mengambang di kepalanya.
"Sambutlah Arthur 'si alis' Kirkland yang mendadak konslet hari ini. Jangan bilang kau habis menghisap marijuana."
"Idiot, marijuana dilarang di Amsterdam, Tuan Narsis." Seakan tersadar, buru-buru Etherland menepis tangan pemuda berambut silver itu, "Dan berhentilah mengoceh hal yang nonsense seakan-akan aku ini tengah mabuk. Biar kutekankan sekali lagi, Gilbert. Aku baik-baik saja."
"…."
"Dan berhentilah membuang waktu di sini, kita harus bekerja."
"Apa?"
"Aku ikut kalian." Etherland berkata singkat sambil mengangkat bahu, "Bukankah kita akan menghubungi Divisi Pembunuhan di 7 negara?"
"Yaah~" Entah kenapa Francis menanggapinya agak lain, "Tapi sepertinya nanti saja…"
"…Jangan mengulur waktu…"
"Oh, bagaimana kalau kita godai saja gadis kepolisian air? Kau tahu mereka itu sangat seksi, Cheery. Ohonohonohon"
"Kuharap mereka akan menggilasmu di sungai Maas jika sungguh terjadi."
"Nyaris terjadi saat dia menggodai Mona musim panas lalu, Arthur."
"Tapi bukankah abang jadi terlihat seksi dengan tubuh basah? Abang tahu kalian menyukainya."
"Dia ini benar-benar tidak beres, ya."
"Bukannya itu kau, Arthur? Kau terlihat lebih tidak beres ketimbang dia."
"Mon dieu, tega nian kau katai Abang begitu~, kuhukum kalian dengan French Kiss dari Abang! Dengan begitu semua dapat merasakan—"
"God, seseorang bisa hentikan dia nggak, sih?" Etherland memutar bola mata dan melempar pandangan mencela, "Dan aku ini masih waras. Berhenti mengataiku seenaknya."
"Coba kau ikat dirimu dengan pita, mengenakan seragam basah, dan masuk kedalam kotak. Bakal diem deh si Francis." Gilbert menyarankan, yang segera saja mendapat hantaman keras dari Etherland(dari dalam tubuh Arthur tentunya)
"Oh, yeah, dan aku akan mengikrarkan janji seumur hidup padanya di altar pernikahan." Nada sakratis terucap dari Etherland—dan Francis terlihat bahagia mendengarnya , tapi— "Ha, kau pikir aku akan semudah itu mengatakannya?"
"Woi, kantor, oi!" si pria berambut gimbal menyadarkan Etherland dari percakapannya dengan Francis dan Gilbert.
"Urus kasusnya aja di sini napa?"
Ia bisa melihat bahwa dua pemuda berkulit agak terbakar itu tengah bersiap-siap keluar ruangan, dan buru-buru ia kembali ke tempat duduknya untuk menyusun kembali kertas yang berhambur...
GREP
…an.
Tangan itu menyentaknya, menariknya tanpa sempat memberi perlawanan.
Bagus. Dirinya tengah di bawa lari oleh dua-makhluk-berisik.
"Kesesesesesesesese, tapi pagi ini rasanya makin tidak awesome tanpa beer Ore-sama!"
"Honhonhon, jadi soal itu nanti saja, yaa~ Sampaikan salam penuh cintaku kepada Mademoiselle Vainomoinen, Sayang!" Francis berlari sembari melemparkan cium jauh pada Gupta dan pria gimbal di sana.
"Francis, Tino itu COWOK."
"Oh, ya?" dengan polosnya Francis merespon ralatan Gilbert, "Tapi cheery, dia begitu manis dan terlihat menggoda~"
"Jangan harap. Kau bisa dijadikan makanan ikan Herring tak awesome oleh Berwarld."
...
"Jika kalian ingin minum dan mengobrol tentang hal-hal yang mesum, kenapa harus membawaku?" Dengan kesal Etherland bersuara.
"Honhonhon~ Bukankah kau bilang ikut kami? Jadi mari kita bersenang-senang dengan segelas wine di tengah hangatnya mentari~"
"Ta—"
"Yosh! Seporsi wurst tidak kelihatan jelek. Jangan khawatir, Mein Leiter. Si Es nggak bakal marah kok, karena AKU sangat awesome sekali! Kesesesese"
Etherland untuk pertama kalinya bisa merasakan bagaimana rasanya membolos kerja—terlebih lagi saat tahu bahwa dia adalah…Leiter. Pemimpin.
...Seorang pemimpin grup yang tengah menuntaskan kasus namun malah menghabiskan pagi dengan menegak alkohol dan mengkonsumsi Cannabis di coffe-shop terdekat?
Ya Tuhan….
"Ah, ngomong-ngomong, kau juga perlu membersihkan kepalamu yang mendadak konslet hari ini, Art! Tapi kalau tak bisa sembuh secepat kilat, Ore-sama berkenan untuk menyebarkannya lewat twitter—AH! OI! Francis! Kapan kau follback aku yang awesome?! Jangan bilang kau lupa!"
"Honhonhon~, tidak sayangku Gilbo. Akan Abang follback dirimu nanti malam~" Francis berkata dengan kedipan maut, mengabaikan Etherland yang dirundung awan hitam.
"Yaah, tapi kita memang harus membantu melepaskan strees ketua kita yang satu ini dahulu~, tidak perlu khawatir, bosku sayang, Bad Touch Trio akan selalu siap sedia~"
'Bad…apa?'
"Hm! kuharap Antonio punya sesuatu yang cukup awesome pagi ini. Pastinya wurst selalu ada! Hahahahaha!"
'Antonio?'
'Apa itu temannya mereka berdua ini? Personel yang sama kacaunya dengan dua makhluk hidup yang berada dalam radius kurang dari semeter ini? Jangan bilang kalau dia adalah tipe bartender mabuk menyebalkan yang amat tidak peka situasi dan akhirnya mengeluarkan pertanyaan; kau baik-baik saja? jika melihat dirinya sekarang ini…
"…Eh? Halooo..? Alis, kau bisa dengar aku?" Suara Gilbert menyadarkannya, "Francis! Kawan kita ini memang bermasalah…"
AKU NGGAK KONSLET, ASEM SIALAN!
DUAK
Satu tinju melayang.
"Tutup mulutmu bajingan. Peringatan terakhir, aku nggak konslet. Camkan baik-baik."
"Non, non, non. Mon cheer~, tidak perlu memaksakan diri. Dan Gilbert benar…" France menghentikan kata-katanya sejenak, memandangi Etherland yang berada di balik wujud nyata Arthur Kirkland. "Ada yang salah."
"Sudah kubilang juga apa! ini bukan Arthur! Nggak ada trademark sederet kamus 'Bloody'—"
" !" Kini Etherland agak panik mendengar Gilbert, "Memangnya apa urusanmu, dasar blo…bloody…"
Kenapa juga Etherland terlalu gegabah mengucapkan kata itu. Ia tidak tahu Arthur sering mengucapkan apa—
"…bloody bunny!"
Ampun, payah banget deh. '
Ia bisa melihat alis terangkat France dan dahi Gilbert yang berkerut. Etherland Neftmmel, usahawan yang punya lidah tajam yang lincah mendadak jadi konyol hanya karena mendengar ocehan berdurasi beberapa detik.
Tapi memangnya kalian tidak akan sepertiku kalau mengalami situasi seperti ini hah?! Berhenti menertawakanku! Aku bisa mendengarnya dari sini! Wajah Etherland bersemu merah antara marah dan malu, ia mengalihkan pandangan dan mencoba mengontrol dirinya untuk lebih tenang.
"Bloody bunny? Aku baru mendengarnya, kesesesesesese."
...
Dan sebuah pintu menyembul di kejauhan, sebuah ujung lorong bermandikan cahaya matahari dari jendela di salah satu sisi. Mereka kini berada di sayap kanan bangunan tersebut.
Etherland mengabaikan komentar Gilbert barusan. Membiarkannya hening dalam bisunya pagi.
"Bounjour, Mi Spanieshiee~"
Etherland menahan nafas sesaat ketika pintu terbuka—
Antonio.
(***)
Suasana gaduh mewarnai. Ceracauan tak jelas, kejar-kejaran, lemparan aneka benda, keseluruhan membuat beberapa orang di sana merasa risih. Gilbert menggebrak meja counter dengan gelasnya, menyeka mulut yang meneteskan sisa minuman.
"Antonio! Satu lagi, cepat! Hik!"
Antonio; pemuda asal Spanyol berkulit terbakar matahari, tersenyum riang menyambut permintaan sahabatnya. Dengan berbunga-bunga, di tuangkannya cairan oranye ke dalam gelas Gilbert. Pemuda Jerman itu kemudian meneguk dengan penuh semangat.
Francis menyusul dengan mata meredup.
"...Padahal cuma jus."
Cuma jus wahai pembaca budiman, bukan minuman keras dengan kadar alkohol tinggi.
Setelah mendapat teguran keras dari Wang Yao; Sang Kepala Agen tentang menyajikan minuman keras dan soft drugs dalam porsi terbatas di kantin, Antonio akhirnya menggantinya dengan jus tomat, mie tomat, roti selai tomat, tomat segar, tomat goreng, tomat tumis, tomat rebus, tomat Antonio, tomat seksi, tomat ngiler, tomat tidur, tomat bantal, tomat empuk, tomat manis, dan sederet tomat lainnya yang akan membuat personel kepolisian ikutan menjadi tomat; kecuali sang pemilik kantin… dan Lovino Vargas yang memegang posisi di Akademi Kepolisian sebagai Koordinator Psikologi. Keduanya bertemu saat pemuda Italia itu tengah melakukan pemantauan harian setelah menyusun sebuah tim psikolog Apeldoorn, oke, ini meleceng dari topik.
Yang jelas, ketika mengetahui bahwa wine, dan minuman pembawa nikmat lainnya yang berharga murah ketimbang air mineral sudah lenyap dari edaran lapak Antonio, Gilbert—yang rajin menghadiri Oktober Fest bersama adiknya—mengeluarkan rentet kekesalan. Seandainya saja Hoofdagen itu tak mendapati Im Yong Soo adiknya bicara ngelantur setelah menegak segelas vodka, Mungkin bocah akademi kepolisian gagal itu tak akan mendapat teguran keras dari sang Kepala Agen.
Tak ada bir, jus pun di sajikan. Wurst masih untung ada, walau rasanya mungkin tak seenak yang ada di Jerman.
Serta merta keduanya, Gilbert dan Francis, mengadakan duel kecil; meneguk jus sebanyak-banyaknya. Hal itulah yang membuat Gilbert tampak seperti orang teler.
Sebenarnya ketimbang teler lebih pas jika di katakan mabuk air. Etherland harap orang itu tak diare mendadak setelah ini.
Bilangnya ingin melepaskan 'strees'ku, tapi kenapa malah mereka yang terlihat stress? Etherland bertanya dalam batin. Ini tidak berarti dia berharap uluran tangan keduanya—
Demi Tuhan, TIDAK. Hancurlah harga diriku sampai bergantung dengan dua orang ini. Etherland meneguk segelas jus dengan datar. Saat pikirannya carut marut, bayang-bayang Kartini terbesit dalam benaknya...
Apa yang ia lakukan di sini?
Ia harusnya melindungi sang bidadari sekarang. Itulah tujuannya memutar waktu. Bukan untuk duduk-duduk di sebuah kantin kepolisian. Terbengong-bengong sementara nyawa sang tunangan berada di ujung tanduk. Sudah tanggal berapa ini? oh? Akhir Juli? Bagus sekali—berita kematiannya sekitar awal Agustus.
Jadi tinggal sebentar lagi….
"Wahahahahaha! Yes! Aku menang! Ore-sama menang!" Gilbert berseru riang ketika akhirnya Francis mengangkat tangan menyerah.
Etherland tersadar dari lamunannya dan menyadari sudah ada setumpuk wadah bekas air jus di dekat nya.
Sia-sia. Mereka membuang waktu dengan hal kekanakan seperti itu, dengus Etherland.
Bruk.
Gilbert roboh, kepalanya tersandar di meja counter. Seringai tertarik di mulut Etherland, sebuah senyum meremehkan…
"Kenapa kau ikutan menyeringai sepertiku juga, Arthur?" Antonio berguman dalam suara pelan, namun jelas bisa tertangkap oleh pendengaran Etherland. Etherland memberanikan untuk menatapnya lurus.
"Tidak ada urusan denganmu, Antonio. "
Tapi Antonio seakan tak mendengar komentar dingin Etherland. Ia merogoh sesuatu dari balik rak meja counter. Meletakan botol berwarna gelap yang mengandung suatu cairan. Perhatian France dan Gilbert terarah dengan lemas ke benda itu, dan pupil mata mereka mengecil.
"Yo, guys~ Aku punya satu botol terakhir yang tersisa. Kurasa kalian akan menyukainya?" Perkataan Antonio riang tapi terasa tajam bagi Etherland. Ia sudah tahu bahwa orang itu tengah merencanakan sesuatu dengan sebotol—minuman keras.
"Tapi sayang sekali tidak ada pemenangnya…"
"A-aku yang awesome, 'Tonio…aku yang, hik, ...menang~"
Antonio masih menarik senyuman lebar, "Ah, yaa~ tapi kau kan roboh juga~"
Ada firasat aneh dalam benak Etherland.
"Jadi kalian berdua akan mendapat hukumannyaa~~"
Kali ini kepala keduanya terangkat, mengindikasikan bahwa mereka tertarik.
"Jadi bagaimana kalau kalian kejar Arthur dan tangkap dia? Yang tercepat akan mendapat sebotol minuman terakhir ini."
BRENGSEK
Buru-buru Etherland bangkit dari tempat duduk.
Antonio menatapnya, "Kuharap permainan ini bisa memperbaiki mood-mu yang tampak jelek hari ini, Tuan British. Selamat bersenang-senang~ Jangan cemberut dong, atau kau mau aku hibur dengan senjata andalanku,"
"...fusosososo~!"
Ia mengabaikan kata aneh Antonio, karena menyadari bahwa dua orang mabuk jus itu sudah bergerak. Serta merta ia berlari, melompati meja dengan gerakan lincah ala Bruce Lee. Melempar dengan kursi , dan beberapa meja. Piring bekas pun tak luput.
"Heii~ nggak adil! Jangan pakai properti dong, Arthur~ mereka kan juga tidak pakai senjata~"
Orang itu—Antonio, sejak awal memang terlihat menyebalkan bagi Etherland. Seenaknya saja menjadikan dirinya sebagai ajang taruhan. Memperbaiki mood apanya?! Ini sih justru memperburuk mood-nya! …
"...Dan jangan pakai sihir ya, Arthur! Kasihan kalau mereka kena diare lantaran sihirmu~!"
Sihir? Hah? Jusmu lah yang akan membuat mereka diare!
Etherland Neftmmel kembali ke masa lampau untuk menyelamatkan nyawa sang tunangan, mengubah takdir, merubah nasib. Sebuah cita-cita suci yang bernafaskan cinta. Bukan untuk dirinya sendiri…, dan bukan untuk bermain-main seperti ini.
Ia kembali ke masa lalu bukan untuk berlarian seperti ini…
…dan bukan juga untuk menjadi polisi menuntaskan kasus. Bukan, bukan, kenapa ia sekarang malah memaki-maki—kenapa sekarang ia malah terlihat menikmatinya?
'SPLIT'
Ia terpeleset, meringis, menarik senyuman terpaksa saat ketiganya tertawa—menertawakan insiden kecilnya. Ia mencopot pena yang menempel di saku kemejanya, melemparkan dengan penuh tenaga. Saat benda itu membentur jidat Gilbert, ia tersenyum puas melihat bekas kemerahan di sana.
"Heei~!"
Mengabaikan teguran sang Spaniard mengenai penggunaan properti, kini Etherland berlari menuju Gilbert dan Francis. Buru-buru mereka mengambil jalan sendiri-sendiri—menghindar dari terkaman Etherland.
"Arthur menggillaaa~!"
Bukan Arthur, dasar idiot. Aku Etherland! Aku Etherlaaand!
Berapa kalipun ia mengucapkan nama itu dalam benak, tak ada yang mendengarnya—ia kini hidup dalam bayang-bayang sebuah nama lain; Arthur Kirkland. Sebuah hawa baru kehidupan yang belum pernah terjamah olehnya kini terasa jelas.
Sebuah keceriaan.
Baru ia tersadar satu hal. Kematian tunangannya telah menciptakan kelabu yang menutupi kehidupannya—menutup hak yang di miliki setiap manusia:
Tawa.
Sudah lama ia tak tertawa lepas.
Ketika senja datang dengan rona hangat mentari, Etherland keluar dari bangunan bercat putih tersebut. Peluh menetes, meski mencoba untuk menahan senyuman—ia tak bisa menyembunyikannya secara pasti. Hempasan angin lembut berdesir mengombak helaian rambut pirangnya. Ia melangkah ringan menuju parkiran.
Tampaknya hari ini tak buruk juga…mungkin memang kehidupan Arthur tak seburuk yang dia kira; cukup menyenangkan, kau tahu?
Tapi tetap saja ada yang menyebalkan.
Kalian bisa menebak siapa; Antonio. Etherland membatin sebal, entah kenapa ia merasa kurang suka dengan makhluk hidup pecinta tomat asal Spanyol tersebut…sejak awal. Dan masih terngiang dalam benaknya acara kejar-kejaran di pagi hari yang membuat setengah ruangan kantin itu porak-poranda. Wang Yao datang setengah jam kemudian dengan mengerumdel seperti ibu-ibu lantaran kegaduhan yang ia, Francis, Gilbert dan Antonio buat. Persetan, siapa peduli?
Dan sekali lagi, bayangan Kartini mengganggu batinnya. Mengusik senyum—dan perasaannya kembali tertekan. Ia merasa seperti ditarik dalam sebuah pertanyaan yang menghempaskan;
Apa yang kau lakukan?
Ugh, oke. Dia harus segera bergerak. Etherland menggosokan kedua tangannya, menciptakan panas statis di sana, mencoba mengusir kuat-kuat perasaan dingin yang mengganggunya.
Baiklah, kalau begini aku harus ke De Pijp secepatnya…atau malam ini saja?
Tapi bagaimana dengan Etherland lain…, maksudnya, dirinya di masa lalu itu? Bukankah justru aneh jika dirinya berkunjung malam-malam, berkata di hadapan keduanya; 'Hai, aku Etherland dari masa depan. Aku kembali ke masa lalu dalam wujud Arthur Kirkland.'
Gila. Bisa-bisa dia dicap sebagai pembual sakit jiwa dan didepak keluar apartemen.
Oh, membayangkan bahwa dirinya akan berkata pada dirinya yang lain, memang terasa lucu juga.
Jadi bagaimana ia harus menyelamatkan tunangannya sekarang?!
TRRRRTTT
Getaran dari balik saku celananya membuat pemuda itu tersentak. Buru-buru ia mengeluarkan ponsel dan mendapati sebuah panggilan. Iris emerald-nya bisa menangkap tulisan yang muncul di layar,
[ Iggyyy~~aku lappaarr~~~! ]
...Alfred.
Dasar perusak mood, umpat Etherland. Ia membiarkan bocah di seberang telepon sana mengoceh dulu sebelum akhirnya menjawab dengan nada kesal.
"Apa?!"
Singkat padat dan jelas, begitulah ciri khasnya.
[ Belikan burger Iggy~ belikan burger, okay? HERO tunggu, yeah! ]
Ya Tuhan, anak ini sungguh maniak burger, ya?
Pip. Panggilan telepon di akhiri secara sepihak.
Oh, bagus sekali.
Alfred F. Jones seakan tersadar kembali setelah mendengar deru mobil yang familiar. Dari jendela apartemen, ia bisa melihat mobil warna hitam dengan pemilik yang sudah tak asing. Ia bergelut ogah-ogahan di depan monitor laptop milik Arthur, tengah memainkan Inspektur Parker. Agak menakutkan dengan suara guntur tak nyaman, jeritan, dan ugh…wajah pemainnya itu. Parah semua. Kenapa sih kakaknya—Arthur—senang memainkan game seperti ini di waktu luang?
…Bukannya HERO tak tahu pekerjaan Iggy! Ia membatin, masih penuh semangat. Well, ia memang takut dengan hal-hal horror, tapi hal itu tak ingin ia permasalahkan lebih lanjut. Serentak dirinya menoleh ketika pintu terbuka.
"IGGY!"
Laptop pun terbengkalai kala Alfred mendekati Etherland.
Tas plastik belanjaan ada di tangan kanan Etherland. Ia hanya mengangguk kaku saat Alfred bertanya, "Iggy bawa pesanan HERO, kan?"
Etherland mengangkat bahu cuek dan membongkar belanjaan beberapa menit kemudian di meja dapur, alis bocah dirty blonde itu saling bertautan kala menyadari sesuatu.
"Iggy tidak bawa hamburger hero?"
"Tidak." Etherland menjawab singkat seolah tidak terjadi apa-apa, "Kau terlalu banyak mengkonsumsi junk food, Alfred."
Bocah itu menggembungkan pipi dengan ekspresi cemberut, "Tapi kan aku baik-baik saja! HERO nggak bakal jatuh sakit!"
Etherland mengacuhkan ocehan Alfred dan menyisingkan lengan baju, menyiapkan beberapa bahan mentah di meja dapur, "Terserah kau mau ngomong apa. Tapi aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun untuk makanan sampah seperti itu."
"Hah?"
"Berhemat itu penting, Alfred." Etherland beruman di sela-sela acara memasak. Pandangannya berkilat tajam ketika mengungkit soal keuangan dan pentingnya berhemat. Dirinya pun makan sembarangan saat kematian Kartini, hah, bocah itu mengingatkannya pada memori tersebut.
"Kau seharusnya banyak makan sayur dan ikan; bagus untuk pertumbuhanmu ketimbang junk food. Biar aku buatkan salad."
"Lady pinkk~!" Cetus Alfred, menyebut salah satu menu restoran India di Utrechsestraat. Yah, akui saja, Etherland pernah mengunjunginya bersama Kartini, yang ingin menjumpai sahabat lamanya dari India.
"Mahal." Gumannya mengingat harga makanan yang di maksud, menurutnya, sih.
"Baiklah, kau yang minta, ya…"
Dan bodohnya, ia tidak tahu apa dan bagaimana caranya membuat jenis salad yang satu itu. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan sebuah tindakan nekat. Eksperimen salad dimulai, dia harap tidak akan membuat kedua anak manis itu sakit perut…
Hei, kenapa sekarang dirinya jadi bersemangat? Ugh, dia belum pernah memasakan sesuatu untuk orang lain selain Kartini. Sekarang dia merasa seperti seorang ayah yang tengah membuatkan makan malam untuk anak-anaknya.
Beginikah rasanya—tu-tunggu dulu, kenapa aku jadi berpikiran sejauh ini?!
Ingin rasanya Etherland menjedotkan kepala ke tembok, pikirannya carut marut—seandainya saja Kartini tidak mati, mungkin sekarang ia sudah melingkarkan cincin pernikahan di jari manisnya, dan tentun menghadapi situasi seperti ini bersamanya...
…Yah, seandainya saja dia masih hidup… seandainya saja dia tidak terbunuh… seandainya saja… seandainya saja... dirinya… tidak… pergi.
Etherland mencoba menahan agar tidak ada sesengukan yang memalukan. Perasaan kosong itu datang lagi. Ia mencoba meredam rasa sakit yang kembali menjilat di atas luka hatinya. Bagian yang hilang; Kartini. Tunangannya. Tawa. Janji. Janji. Janji. Darah…gelap, merah, dingin, hilang, mati….
Segalanya kacau. Segalanya terasa menggelap, mencekiknya.
Aah, apa yang ia lakukan? Ingin rasanya Etherland segera menuju ke De Pijp, meninggalkan dua orang bocah di sini dan berlari memeluk Kartini. Ingin rasanya menyudahi permainan peran ini dan melanjutkan sebuah kehidupan nyaman bersama sang kekasih. Ia ingin…ingin…ingin melindunginya. Itulah tujuannya kembali ke masa lalu. Dan Etherland merasa bodoh menghabiskan waktunya di sini untuk menjalani kehidupan Arthur Kirkland sementara sebentar lagi 'dirinya' yang lain akan mengadakan delegasi ke Jepang, meninggalkan Kartini sendiri di apartemen. Dan bisa-bisanya ia membiarkan Kartini terbunuh untuk kedua kalinya!
Tapi meskipun ia kini berlari menuju De Pijp dan menceritakan seluruhnya…akankah Kartini percaya?
Ia harus memikirkan sesuatu!
Sementara itu, di tengah pergolakan batin sang Belanda, Alfred menggumamkan sesuatu. Etherland menangkapnya, tapi kalimat itu dibiarkannya berlalu sementara pikirannya sibuk berkeliaran dalam ruang tersendiri. Mengawang-awang di langit kelabu.
Ia tidak sadar….
"Makan malam." Etherland meletakan sepiring besar... salad. Makanan tak jelas berbahan dasar sayur mayur dan buah. Seperti hasil silangan Pink Lady dan Spinach Salad; sesuatu yang begitu abstrak dan meragukan untuk di makan. Dua bocah yang di ketahui sebagai Matthew dan Alfred saling berpandangan.
Ada alis yang saling bertautan sembari menatap seonggok makanan tak biasa tersebut.
"…Serius nih?"Alfred lah yang pertama kali bersuara. Suaranya bergetar. Mencoba menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk mata.
Apa? Memangnya ada yang salah dengan salad? Kelinciku di rumah makan sayur mulu tanpa protes kok.
Ini tidak lucu, Etherland Neftmmel. Ingat, mereka bukan kelincimu.
"Bukan scone yang biasa, ya…."
Arggh, apa'an sih?! Dari pagi scone mulu-scone mulu. Gua jejelin ntuh arang tau rasa lu!
Perhatian, mendadak bahasa alien Etherland nyempil di sini.
"Fred, makan aja tanpa komen bisa nggak?" Etherland berkata singkat dengan sorot mata dingin ke arah bocah berantena di dekatnya itu.
"Tapi makanan ini…"
"Aduh dedekku sayaaang," Perkataan yang tidak sesuai dengan gejolak hati sang Belanda keluar. Seperti biasa, nada sakrasme tingkat tinggi. "Dimakan dong~ kan Abang nggak mau kamu sampai sakit."
Dan bukannya mendapat respon seperti; 'Baiklah Kakakku sayang' atau 'Waah~Kakak perhatian banget sama aku', ia malah ditatap dengan pandangan aneh. Ribuan tanda tanya sudah bercampur baur di antara mereka. Alfred memandangi dirinya dan 'benda asing' di meja makan bergantian, seperti hendak menangis seolah-olah mendapati apa yang di meja makan adalah si 'Kukur', ayam peliharaan yang telah ia rawat sejak dalam eraman induk(?)
…dan kemudian berakhir mengenaskan di meja makan, lantaran perkara yang tak elit untuk di kemukakan macam; Fred, ntuh si kukur sama temennya seenak jidat makan ban (baca: karet) di kebun gua. Jadi ntuh komplotan gua jual sebagai ganti ban yang mereka makan.
Lah, sejak kapan ayam bisa nelen karet? Ah, sudah. Lupakan lelucon tak logis barusan. Semua itu hanyalah gurauan tak penting. Abang kompeni kita memang perlu memperbaiki otaknya yang terlalu seret untuk melontarkan humor yang lebih masuk akal.
….Bukankah ini seharusnya kerjaan penulis, ya?
BRAK!
"Habisin nggak tuh makanan. Habisin!" Etherland menggebrak meja dengan tatapan liar, "Hemat tau! Hemat! Kamu pikir beli sayur itu murah apa?"
Hanya Tuhan yang tahu apa yang ada di benak anak itu saat mencecap sebuah salad ajaib hasil kreasi Etherland; Bayam dengan lumuran saus warna pink mendekati abu-abu. Pendekatan crack itu entah mengapa bisa membuat setiap orang merasa déjà vu dengan sepiring scone yang sudah melegenda…
Begitulah hasil racikan ajaib koki kita hari ini, apa kau kehabisan ide untuk memasak, Etherland?
"Bagus."Mengabaikan ocehan di atas, Etherland berkata dengan nada puas. Alfred meringis dengan senyum terpaksa, "Ini lebih baik ketimbang memakan makanan sampah itu. Kau harus menghentikan kebiasaan burukmu itu, Alfred."
'Ini lebih baik ketimbang memakan makanan sampah itu.'
"Hehe-munch-mi-munch-rip-munch-munch-Iggy-munch-munch-munch-jyaaa –munch!"
Alfred berkata di sela kunyahannya, kembali menambah porsi salad tak jelas itu. Entah apa karena enak atau terlalu lapar untuk mengomentari betapa anehnya rasa salad di hadapannya. Sepertinya ia meringis dalam hati lantaran menjadi herbivora dadakan; menu terdiri dari salad yang di tumpuki sayur dan buah-buahan—tidak ada daging, tidak ada burger, tidak ada soda.
Hanya ada salad, ingat itu, salad dengan air putih. Apa orang di depannya ini habis bertukar jiwa dengan instruktur diet?
Etherland tidak menyentuh makananan tersebut. Sedari tadi ia hanya meneguk teh hangat dengan perasaan bingung.
Jangan lupa untuk memikirkan tindakan penyelamatan Kartini setelah ini, tegasnya dalam hati. Sejujurnya, ia tak bisa berkosentrasi penuh untuk memikirkan itu di sini.
Mendadak ia tergoda untuk menegak kafein genit yang berkumpul menjadi satu cairan yang padu dengan kepulan uap tipis mengembangkan kabut di atasnya. Seharian ini ia tidak minum kopi, juga menghisap rokok. Ia perlu pelepas stress. Ia perlu menyingkirkan perasaan jenuh dan tertekan ini.
Jadi Etherland pun ke dapur, mencuri satu dua sendok kopi di mug-nya. Dadanya terasa sakit ketika lidahnya mencecap rasa manis dan pahit cairan hitam pekat itu. Bersamaan dengan perasaan tertekan yang menusuk ulu hatinya.
Sudah lama ia tidak meneteskan air mata lagi.
"Rasanya aneh, tapi tidak seburuk scone!" Alfred berkomentar riang dan Etherland menanggapinya dengan senyum tipis. Hah, tentu dong. Masakan Etherland yang keren ini enak, batinnya cerah.
Dibimbingnya anak-anak itu menuju kamar mereka. Alfred melompat riang di atas tempat tidurnya, lalu memukul tubuh Arthur, err...Etherland itu dengan gulingnya.
"Iggy~~ayo kita main perang bantal!"
Dan entah mengapa mereka berkejaran dengan iringan celoteh dan tawa riang. Sementara sosok invisible Matthew yang sedari tadi tak di tampilkan diam di atas tempat tidurnya sembari memeluk peliharaannya. Senyum tipis nampak di wajahnya saat melihat guguran isi bantal yang bocor...
"Berhenti kau, dasar anak nakal."
Grep. Etherland menangkap Alfred dari belakang. Membawanya dengan enteng, menghempaskannya dengan cukup kuat di atas kasur empuk tersebut.
Apakah aku akan seperti ini jika berkeluarga dengan Kartini nanti? Bermain dengan anak-anaknya? Etherland buru-buru menyingkirkan pemikiran itu. Ini tidak seperti aku menikmatinya! Hanya saja…anak-anak itu…yah, terlalu manis.
"Aku masih bertanya-tanya apakah jagoan kecilku ini masih minum susu cokelat sebelum tidur?" kata-kata itu lancar keluar dari mulutnya, Etherland nyaris tidak percaya dirinya akan mengatakan hal itu, seakan-akan dia ini seorang ayah yang baik hati, kemudian mencubit hidung Alfred dengan gemas. Ya Tuhan—
Ia mengabaikan eksistensi Matthew yang akhirnya memilih beringsut dalam selimutnya.
"Hahaha! Lucu Iggy! Tentu tidak—yeah! HERO bukan anak-anak lagi!"
Bukan anak-anak katanya? Ingin rasanya ia menjitak bocah ini sesegera mungkin, sok banget sih—baru juga bocah!
"Sudahlah." Mood bercanda Etherland mendadak hilang. "Cepat tidur sana!"
Ia pun mematikan lampu dan meninggalkan kam…
"ARRRGGGHHH!"
..ar…
Etherland menoleh, cukup terkejut mendapati perubahan warna wajah Alfred yang begitu cepat. "I-iggy…jangan matikan lampu, please~"
'HERO yang penakut?' Alis Etherland terangkat. 'Ah, masa bodoh.'
Jadi Ia putuskan untuk menyalakan penerangan kecil; lampu tidur, untuk mereka berdua. Suasana temaram menyelimuti ketiganya, membentuk ruang dimensi bayangan.
BLAM.
Fuuh. Etherland menghembuskan nafas panjang, berjalan menuju meja makan yang masih berantakan. Dipungutinya piring-piring kotor dan memutar keran air untuk segera mencuci.
Pikirannya masih berhamburan satu sama lain. Ingatan menyeruak jelas dalam benaknya dan senyum masih mengembang, Hari yang cukup menyenangkan. Tidak buruk juga hidup dengan dua bocah lucu dan tumpukan rekan yang berisik…walau sebenarnya agak risih juga, sih.
'…kaya' Iggy.'
Hm?
Dunia Etherland terhenti sejenak. Ia mengerjapkan mata di udara kosong.
Kata-kata itu—kata yang dilontarkan Alfred beberapa saat lalu. Otaknya memproses, menalar makna kalimat itu. Segala bayang-bayang lain seakan lenyap begitu saja.
Kaya'; mirip; serupa atau seperti, hampir menyamai…yah, hampir menyamai Arthur maksudnya.
…
DUAR!
Etherland membelalakan mata tak percaya, tiba-tiba saja gelombang keterkejutan menjalari tubuhnya. Sebuah godam raksasa menyentak dan segala angan-angan Etherland mengalami peledakan otomatis.
Tuhan…
Dan ketika satu hembusan nafas berat Etheland berkontaminasi dengan atmosfir dingin, sebuah tapak kaki dari belakang mengejutkannya. Pupil matanya sekejap mengecil. Hilang. Hilang sudah wibawa seorang Etherland yang berwajah stoik—mulutnya sedikit terbuka dan lidah terasa kelu untuk mengumbar kata sementara serentetan huruf bertebaran membentuk kalimat yang saling bertabrakan dalam kebisuannya.
Alfred F. Jones berdiri di hadapannya sekarang. Menarik sebuah senyum, sebuah senyum.
"Kenapa wajahmu pucat begitu, Iggy?"
Ada yang salah dengan anak ini. Ada yang salah. Tunggu—ia harap salad monsternya bukan biang keladi kegilaan ini. Hahaha, selera humor yang buruk, Etherland.
'Waah, kaya' Iggy~~'
Kata itu kembali terngiang dan Etherland masih membatu tak tahu apa yang harus ia komentari—ia memandang tidak percaya pada sosok bocah usia delapan tahun di hadapannya. Bocah antena dengan piyama warna biru berhias bintang.
Gila.
Satu kata yang berhasil terproses. Dalam waktu sehari—dari sederet orang yang di temuinya pagi ini, satu orang berhasil membuka kedoknya. Seorang bocah delapan tahun—entah karena Alfred memiliki otak berpentium mutakhir atau orang-orang selain dia terlalu lemot untuk membedakan Arthur yang asli dan Arthur yang palsu—berhasil menyadari keberadaannya!
"Ah, tapi kau tidak pantas di panggil Iggy oleh HERO yang keren ini, ya..."Alfred menghentikan kalimatnya sejenak.
'Apa orang ini punya indra keenam'? Batin Etherland. 'Dan sialan, masih sempat bernarsis diri dia. Apa populasi orang seperti ini menjadi tren terbaru?'
…
...
"Hahaha! Tuan Penyamar, menyerahlah pada HERO!"
...ASEM!!!
Etherland Neftmmel. Usahawan muda yang menanjaki karirnya dalam badai dunia bisnis. Usahanya lumayan sukses dengan kelihaiannya mengatur keuangan—walau kadang bermasalah secara personalia dengan beberapa pihak lantaran sifatnya. Bukan miliyuner, tampan pun tidak juga—dia lebih menganggap dirinya keren ketimbang menyebut kata tampan. Narsis akut? Tidak. Tapi kalau bicara soal lolicon... maka iya; dia maniak, suka dengan hal-hal yang berbau 'cute' . Normal? Tentu dong.
Tapi tunggu, kecualikan kondisi normal untuk saat ini. Semua diakari oleh kematian tunangannya, Kartini. Kematian yang membuatnya gendeng dengan proposal penyelamatan berbasis topeng pembalik waktu. Mengesampingkan fakta dan diburu oleh pengorbanan berlandaskan cinta, maka dia menusukkan belati ke Rizal, adik tunangannya dan kembali ke masa lalu melalui sebuah proses menyakitkan.
Sungguh tak terduga bahwa ia kembali ke masa lalu dalam tubuh orang lain—jiwanya kini berada dalam sebuah tubuh seorang polisi Belanda bernama Arthur Kirkland. Sekarang ia harus memerankan peran barunya; sebagai seorang pihak berwajib beralis tebal berlogat Inggris dan memiliki kolega tak karuan.
...
Dan sekarang kedoknya terbongkar dalam waktu kurang dari 24 jam?
Disc 02 [Started] : Ini Bukan Aliskuuu—!
Information :
Hoofdofficier : Kepala Jaksa, bertanggung jawab atas penyelidikan polisi bawahannya
Hoofdagen : Kepala Agen dalam suatu regu atau kelompok di kepolisian.
Pink Lady : Sebuah salad yang terdiri dari sayur-mayur dan di tambah oleh semacam selai berwarna pink.
Spinach Salad : Salad tulenan warna hijau yang di dominasi oleh bayam.
Cannabis : Jenis Soft-drugs yang di perbolehkan di Belanda, boleh di kosumsi dengan takaran tertentu. Tersedia di coffe shop~~
Coffeshop : Kalau di Indonesia kaya'nya macam warkop elit ya? kalau di Belanda, dalam coffe shop itu menjual obat-obatan macam Cannabis dll. Tapi tentu saja dengan aturan suepeer ketat seperti; pengunjung harus 18+, jarak dengan sekolahan adalah ratusan kilometer, makai obat-obatannya pun di tempat tertentu yang di khusus kan, dll. Malahan sekarang katanya pakai sistem member gitu~~jadi kita nggak bisa kosumsi kalau bukan member, itu pun selama setahun dulu. Porsi yang tersedia terbatas, tidak boleh lebih dari sekian gram.
Acrotomophiliac : Bentuk ketertarikan pada amputasi, tubuh yang di amputasi. Pokoknya demen sama sesuatu berbau tubuh terpotong.
Necrophiliac : Bentuk ketertarikan pada mayat
Jane Doe : Korban wanita yang tidak di ketahui identitasnya.
Ghutrah : Nama lain dari khafieyah(bener nggak nulisnya?) itu yang biasa di pakai Gupta~~
Canal Parade : Acara tahunan homoseksual yang diadakan tiap tanggal 4 Agustus. Well, karena di sana banyak jadi...ada perayaannya~
Madamemoiselle : Nona(?)
Leiter : Pemimpin. Mein Leiter : Pemimpinku
Restoran India di Utrechsestraat : Ini salah satu restoran vegetarian punya orang India di Belanda. Di sana ada menyediakan Lady Pink Salad seharga...berapa? ah, saya lupa. Ada situsnya kok, cek saja~
FME : Ford Model Europe. Salah satu agensi model di Prancis, Rue de Choiseul. Yang mimpin sekarang ini adalah Steeven Kaano. Dan D&G Winter Fall yang di ungkit merupakan acara fashion show musim dingin lalu di Milan~
Korps Amsterdam-Amstelland : Salah satu dari Korps Kepolisian Belanda, terdiri dari; Amsterdam-Amstelland-Amstelveen.
Recherkundinge : Inilah posisi yang di pegang oleh Arthur cs, yaitu...Ahli Detektif. Posisi ini mengharuskan mereka mengambil kuliah jurusan tertentu, jadi jangan heran kalau dengar bang Norge punya status psikolog. Biasanya sih mereka bisa kerja secara independent, tapi nggak menuntut kemungkinan untuk membentuk sebuah kru dalam menangani kasus.
Kriminalitas : Jujur, angka Kriminalitas di Belanda itu rendah. Hanya saja yang memang sering menjadi masalah itu adalah pencurian sepeda. Angka pencurian sepeda itu tinggi(terakhir mendata) karena itu sering kali polisi-polisi yang mungkin lain tugas bisa membantu menyelidiki~
...Lebih murah ketimbang botol air mineral : Ini sesuai dari info di buku yang saya baca == katanya di sana minuman macam wine bisa lebih murah ketimbang air biasa~~
BeNeLux : Kepolisian Belanda emang punya koneksi tersendiri kepada dua negara ini =w= jadi biasanya mereka saling kontak, terutama untuk pemburuan pelaku dll.
+Reich Private Room+
Listening : Calc - Hatsune Miku
.
Yap, yap, yap~~masih dengan saya selaku author, akhirnya fict ini di update! sebelumnya terima kasih sudah berkenan mereview. Daku berharap mampu memuaskan pembaca sekalian*bungkuk
Eheehehehehehe, karena Etherland kembali ke masa lampau dalam tubuh Arthur, jadi mohon maklum kalau melihat Arthur yang tidak biasa. Btw, bagaimana menurut kalian chapter ini? apa semakin aneh? gila? atau...gaje?
Iya, saya tahu saya masih baru di genre ringan macam romance, humor jadi mohon bantuannya. Tolong beritahu saya kalau refrensi saya ada yang keliru == mau teler rasanya ngeriset soal Nether...serius, deh. Sampai FME keseret? aih, bentuk keisengan author semakin parah saja.
Tapi lokasi, nama dll itu memang apa adanya kok, saya menampilkannya supaya lebih terasa dengan latar AU! apa menurut Anda juga begitu? Silahkan curahkan review Anda, barangkali Anda ingin mengkritik saya soal OOC, atau alur atau apapun itu yang berhubungan dengan fict ini. Silaahkaaann, saya tahu saya ini masih awam dan perlu banyak belajar =w=
Terakhir, terima kasih pada kak Chii yang sudah mati-matian berjuang keras membeta fict saya. Makasih banyak~uhuk gomen kalau adekmu ini merepotkan saja#nyungsep
Fanfic ini tidak memiliki sangkut paut dengan kejadian sebenarnya. Segala penggunaan latar, merek, nama orang dll hanyalah bentuk keisengan dan kenistaan author tanpa ada niatan untuk melecehkan, menjatuhkan dan mengklaim kepemilikan dari pemilik aslinya.
Review?
Sign
Reich
