Hola semua … apa kabar? Baik 'kan? Syukur kalau kalian dalam keadaan yang baik-baik saja #sok bijak. Ada yang masih ingat sama fic ini? Readers: He? Yang mana? Udah lupa. Me: #pundung di pojokan. Pokoknya terima kasih yang sudah mau baca dan review fic ini.
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Warning: Gaje, OOC (maybe), Typo(s), plot loncat-loncat (?), dan kesalahan manusia lainnya.
Chapter 6
Happy reading …
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Ino dengan sangarnya.
Pria yang sedang duduk di sofa itu hanya menghela napas. Demi Tuhan … kenapa ia bisa menyukai gadis ini sih?
"Sudah kubilang kalau aku akan menjemputmu. Lagipula …ayahmu telah menyetujuinya."
Kalau bisa, ingin sekali Ino meninju pria di hadapannya. Tapi, ia tak ingin mendengar bahwa keesokan harinya ia akan menjadi 'artis' dadakandi Tv karena melakukan perbuatan asusila.
"Hei kalian, cepatlah berangkat! Nanti terlambat!" kata Inoichi.
Ino mengangguk, begitu juga dengan pemuda itu.
"Ayo pergi, Gaara," yang dipanggil Gaara hanya mengangguk.
Baru saja mereka melangkah,tiba-tiba mereka melihat seseorang berlari menuju rumah Ino. Mereka terkejut, apalagi Ino. Bagaimana tidak? Seseorang yang datang ke rumahnya adalah …
JENG JENG JENG
… Shikamaru.
"Permisi, saya datang kemari untuk menjemput Ino," kata Shikamaru.
Inoichi menampar pipinya berkali-kali untuk memastikan jika ini bukan mimpi. Gaara bersikap santai, sedangkan Ino memberi tatapan kau-tidak-sakit-'kan?
Kali ini Ino benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke mata tombak yang tajam.
'Pagi ini benar-benar kacau.' Ino membatin.
Gadis berambut pirang itu menoleh ke arah ayahnya. Ayahnya tersenyum, kemudian berkata. "Sekarepmu, hime. I'm happy if you happy."
Ino menghela napas, ia melirik kedua orang pria yang-menurutnya- rela datang ke rumahnya hanya untuk menjemputnya.
"Baiklah, aku akan pergi dengan-"
"Permi-"
"-Sakura!" kata gadis itu lantang. Kemudian ia menarik tangan Sakura. Ketiga orang itu hanya melongo melihat tingkah dua gadis belia tersebut.
Gaara mengendarai motornya dengan cepat, bagitu juga dengan Shikamaru yang mengendarai sepedanya dengan cepat. Mereka dongkol setengah mati karena Ino meninggalkan mereka berdua.
"Kalau kau tidak datang, semua tidak akan menjadi seperti ini kepala nanas," kata Gaara sengit
"Enak saja, harusnya aku yang bilang begitu. Dasar panda!" kata Shikamaru tak kalah sengit.
"Heh, aku malas meladenimu. Lebih baik aku duluan. Sampai jumpa di sekolah kepala nanas," kata Gaara sambil mempercepat motornya.
Shikamaru mendengus sebal, tiba-tiba handphonenya bergetar dari saku celananya. Dia memarkirkan sepedanya di pinggir jalan, kemudian mengangkat teleponnya.
"Yo, Shikamaru di sini."
"Hei Shika, tolong jemput Ino di jalan Konoha 02 ya!"
"Tunggu dulu, ini siapa?"
"Baka, ini Sakura. Cepat kau jemput dia, ban sepedaku pecah."
"Ya, baiklah. Terima kasih."
Shikamaru menutup teleponnya, ia tersenyum kemudian mengayuh sepedanya dengan kencang.
"Ino, kau berangkat bareng Shika aja ya?" kata Sakura.
"He? Kenapa bisa begitu?"
"Kau 'kan tahu ban sepedaku pecah, untuk itu aku menelpon Shikamaru untuk menjemputmu."
"Tapi … kau bagaimana?" tanya Ino khawatir.
"Aku akan tetap di sini, kau duluan saja," kata Sakura sambil tersenyum ke arah Ino.
'Tapi, kenapa harus si alien itu yang menjemputku?' batin Ino.
Ino mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Shikamaru. Ino melihat Shikamaru yang mengendarai sepedanya dengan kencang. Kemudian, Shikamaru berhenti di hadapan Ino.
"Cepat naik!" perintah Shikamaru, gadis berambut pirang itu hanya mendengus kesal kemudian duduk di belakang Shikamaru.
"Jangan ngebut-ngebut, ya?" kata Ino. Shikamaru mengangguk.
Shikamaru mulai mengayuh sepedanya, Ino melambai ke arah Sakura dan dibalas senyuman oleh gadis berambut pink itu.
'Mereka memang cocok, tapi … bagaimana aku bisa berangkat jika sepedanya seperti ini?' ucap Sakura dalam hati.
"Hei, Sakura-chan!"
Sakura menengok ke arah sumber suara, dan gadis itu melihat Naruto sedang mengayuh sepeda sambil melambaikan tangan pada Sakura. Kemudian ia berhenti tepat di depan gadis itu.
"Hei, kau tidak berangkat? Sebentar lagi masuk lho~" kata Naruto sambil tersenyum.
"Baka! Bagaimana aku bisa sekolah kalau sepedanya rusak?" kata Sakura sambil menunjuk ke arah ban sepeda yang pecah.
"Kalau begitu … ku antar kau sampai ke sekolah ya? Bagaimana?"
"Lalu … sepedaku bagaimana?"
"Sudah, tinggalkan saja di sini. Toh, mana ada orang yang mau maling sepeda yang bannya pecah. Iya 'kan?" kata Naruto sambil tertawa.
"Baiklah, ayo jalan!" kata Sakura riang.
Shikamaru memarkirkan sepedanya di pinggir jalan, kemudian ia menarik tangan Ino. Gadis itu hanya menggerutu kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Hei alien, kita mau ke mana? Ini bukan jalan menuju sekolah tahu!"
"Hari ini kita bolos, dasar cerewet."
Ino berhenti kemudian menarik paksa tangannya yang dicengkeram oleh Shikamaru. Kening Shikamaru membentuk perlimaan siku-siku(?)-tanda orang bingung-, Ino mendelik padanya, sedangkan dia hanya tertawa.
"Baka! Kau tahu 'kan kalau aku ini anak baru? Kata Sakura kau itu jenius, tapi kenapa jika kau bersamaku. Dirimu seakan-akan seperti orang bodoh!"
"Aku bodoh 'kan karena kau."
"He? Bagaimana bisa?"
"Karena kau telah mengambil alih pikiranku."
Blush. Wajah Ino memerah.
"Sudahlah, jangan menggombal. Lebih baik kita berangkat."
"Hah~ merepotkan," Ino mendelik pada Shikamaru.
Oke … oke … kita berangkat," kata Shikamaru. Ino pun tersenyum.
Ino beruntung, karena hari ini gurunya terlambat. Tapi, hari ini dia juga sial. Akibat dijemput Shikamaru, satu kelas men-cie-cie-kan gadis berambut pirang itu. Ino memanyunkan bibirnya dan menatap sebal pada Shikamaru.
"Tuh 'kan! Ini semua gara-gara kau, tahu!" gadis itu menggerutu.
"Sudahlah, biarkan saja. Nanti juga mereka bakal bosan sendiri,"
Pintu kelas terbuka secara perlahan, para murid menyadari adanya aura yang berbeda ketika pintu kelas mulai terbuka. Ya … sebentar lagi, dia akan datang.
Cklek!
"Hei, gurunya telat ya?" tanya Naruto. Seluruh murid hanya mengangguk.
Naruto mengajak Sakura masuk ke dalam kelas, tiba-tiba seluruh murid yang ada di kelas men-cie-cie-kan mereka. Wajah Sakura pun memerah. Langsung saja ia duduk di bangkunya sambil menutupi wajahnya.
"Hei Saku, ono opo with you?" tanya Ino bingung.
"No what-what, Pig," Sakura melirik Ino sebentar kemudian menutupi wajahnya. Ino menatap ke arah Naruto, ia juga sama seperti Sakura, wajahnya memerah.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagi, Pak," sapa murid-murid pada guru tersebut.
Ino menyerengitkan dahinya, sekonyong-konyong ia baru melihat guru yang satu ini. Tatapannya dingin, sedingin 5000 balok es.
"Oh, ada murid baru ya di kelas ini? Perkenalkan, saya Utakata-sensei, guru seni di sekolah ini," katanya sambil menjabat tangan Ino, Ino hanya tersenyum canggung dan menyebutkan namanya pada Utakata.
"Wah, nama yang unik. Kau tahu, kau gadis tercantik yang pernah kutemui," kata Utakata menggombal, Ino hanya mendengus sebal mendengarnya.
"Jadi, Hotaru-sensei tidak cantik?" tanya Shikamaru. Utakata yang tadinya memasang wajah semanis gula kadaluarsa sekarang menjadi masam.
"Wah, kelihatannya … ada yang cemburu, nih?" kata Utakata dengan seringai di wajahnya.
"CIEEEE …." Sorak murid-murid, wajah Ino memerah. Shikamaru hanya mendengus kemudian memejamkan matanya–berusaha tidur-.
Utakata terkekeh kecil melihat murid-muridnya. Kemudian ia kembali duduk di kursinya.
"Diam anak-anak, pelajaran akan kita mulai," ucapnya dingin, sehingga membuat para murid bergidik ngeri.
'Astaga … kenapa hari ini aneh sekali?' batin Ino frustasi.
Skip time.
TENG TENG
"Yey pulang!" teriak para murid, mereka berlari ke luar kelas dengan riangnya.
Ino menyusun buku-bukunya sendirian. Ya, hari ini Sakura ada kegiatan penting. Sedangkan Shikamaru bilang kalau ibunya sakit.
'Hmm … bagaimana keadaan ibunya Shikamaru, ya? Apakah Shikamaru bisa merawatnya? Astaga, kenapa aku memikirkannya sih? Mungkin aku belum bilang terima kasih karena ia menolongku, yah mungkin saja,' Ino membatin.
Ia merapikan bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas, tiba-tiba Ino menyerengit heran. Ia mengambil salah satu buku yang berada di dalam tasnya. Ia mengamati buku tersebut kemudian mengingat kalau ini bukan bukunya.
"Buku siapa ini?" Ino bermonolog.
Dibukanya buku tersebut, kemudian terlihat tulisan yang bisa dibilang–sangat-mirip cacing kepanasan.
Nama pemilik buku: Shikamaru .N.
Buku Seni Budaya.
"Oh ini bukunya Shikamaru. Tapi … singkatan N itu apa?" Ino bermonolog (lagi).
Gadis itu memasukkan buku itu ke dalam tas, kemudian kaki rampingnya berjalan meninggalkan kelas.
"INO!" teriak seseorang, Ino menoleh dan mendapati sosok Gaara yang berjalan ke arahnya.
'Astaga, ada Gaara! Aduh … aku harus bagaimana? Pasti dia marah padaku karena meninggalkannya tadi di rumah. Apa sebaiknya aku lari saja? Ya, lebih baik aku lari saja.'
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Gaara. Ino bergidik ngeri, kemudian, ia menoleh ke arah Gaara sambil tersenyum manis.
"A-aku … mau pergi ke rumah Shikamaru, Jaa."
Sebelum Ino lari, Gaara telah menangkap pergelangan tangannya terlebih dahulu, jadi, dia tidak bisa kabur.
"Eh, Gaara mau ikut?" tanya Ino takut-takut.
"Tidak, aku hanya ingin mengantarmu ke rumahnya. Boleh?" ungkapnya. Ino mengangguk.
Tidak seperti biasanya, entah mengapa hari ini Gaara mengendarai motornya dengan pelan. ino saja bingung, tapi ia tidak peduli. Yang sedang ia pikirkan saat ini adalah nama singkatan 'N' dalam nama Shikamaru.
"Emm … Gaara?" gumam Ino tanpa sadar, ia melirik ke arah Gaara.
"Hn?"
"Apa kau tahu singkatan 'N' dalam nama Shikamaru?" pertanyaan Ino sukses membuat Gaara mengerem motornya secara mendadak. Ino yang tidak siap hampir saja terjengkang ke belakang.
"Hei, kalau mau berhenti bilang dong!" kata Ino marah-marah.
"Kenapa kau menanyakan hal tersebut?"
"Entahlah, aku hanya penasaran. Apa kau tahu singkatan huruf 'N' itu?"
"Lebih baik kautanya saja dengan Shikamaru, dia yang punya nama."
"Lalu … kenapa kau berhenti?"
"Tadi ada ayam yang menyeberang jalan, cepat naik," Ino mendengus, namun pada akhirnya ia tetap naik juga.
'Apa jangan-jangan singkatan 'N' itu Nara? Ah, tidak mungkin! Nara tidak mungkin jadi pemalas. Tapi … entahlah, setiap aku bersamanya aku merasa nyaman–walaupun sering betengkar. Eh, apa yang kupikirkan, sih? Astaga, si nanas itu benar-benar membuatku gila!' batin Ino frustasi.
"Sampai," ucapan Gaara membuat gadis berambut blonde itu meninggalkan dunianya.
"Hn, terima kasih, Gaara." Ino melangkahkan kakinya menjauhi Gaara.
Gaara tersenyum tipis, kemudian ia mengendarai motornya secepat kilat.
Ino mengetuk pintu rumah Shikamaru berkali-kali tapi tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah itu. Gadis itu menghala napas. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok manusia yang sedang menguap lebar.
"Kenapa kau datang kemari? Kangen ya?" goda Shikamaru dan berakhir dengan jitakan maut Ino.
"Enak saja, aku datang ke sini untuk mengembalikan buku ini." Ino menyodorkan buku Shikamaru tepat di wajah cowok pemalas itu. Dan diambilnya buku itu dengan kasar.
"Arigatou, Ino. Kau yakin tidak kangen padaku?" godanya (lagi) dan kini ia mendapat cubitan dari Ino.
"Huh, dasar ke-pede-an (?). Sudah, aku mau pulang. Titip salam buat ibumu, ya?"
"Ya." Shikamaru menutup pintu, namun ditahan Ino.
"Ada apa lagi? Belum puas melihatku?" tanya Shikamaru
"Kau ini Ge-er sekali sih! Boleh kutanya satu hal padamu?"
"Apa?"
"Singkatan 'N' dari namamu … itu apa?"
"Hmm … Nanas mungkin." Sekali lagi Shikamaru mendapat jitakan dari Ino.
"Aku serius!"
"Baiklah, singkatan 'N' itu adalah …"
"…"
"Shikamaru Nanas!" Shikamaru terkikik kemudian menutup pintu secepat kilat. Ino mendecih kesal lalu mengutuk Shikamaru dengan khidmatnya(?).
'Sekarang belum saatnya kau tahu, tunggu tanggal mainnya.'
Skip Time
08:30 pm.
Ino berbaring di atas kasur, sambil melihat langit-langit. Ia masih penasaran dengan nama Shikamaru.
"Shikamaru 'N', huruf 'N'-nya itu apa? Shikamaru Ngatijo? Shikamaru Nunung? Shikamaru Nodame? Shikamaru Nothing? Atau … Shikamaru Nara?"
Gadis itu frustasi, Ino mengacak-acak rambutnya kemudian membenturkan kepalanya di bantal.
"Kenapa aku penasaran sekali dengan nama alien nanas itu? Dan entah kenapa nama Shikamaru Nara itu sangat cocok? Hah~ jangan dipikirkan, nanti yang ada aku bisa gila."
Ino menutup matanya perlahan, membiarkan rasa penasarannya hilang sesaat dan menyelami indahnya dunia khayalan.
TBC
Yak! Akhirnya chapter 6 selesai. Maaf ya kalau lebih gaje :D. Otaknya mampet banget buat mikirin fic ini. Belum lagi rasa malas buat ngetik fic ini. Makasih buat yang mau baca, apalagi Review :D.
Mind to RnR? :D. Flame boleh ^^ asal yang membangun. Ok?
