Holla, minna-san! Aku update, dan ini chapter terakhir, maaf kalau ceritanya nambah berantakan. Yosh, pokoknya silahkan membaca ^^

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OOC(s), rush, gaje, alay, dll.

Yosh, happy reading...

Hari ini, hujan membasahi bumi. Membuat Yamanaka Ino malas beranjak dari tempat tidurnya. Namun, teriakan ayah tercinta membuatnya harus rela untuk meninggalkan dunia fantasinya.

"Ada apa, Ayah? Hari ini aku tidak enak badan, jadi aku tidak bisa sekolah. Tolong ayah buatkan surat izin saja."

"Hoo, begitu? Kalau begitu kasihan sekali temanmu yang datang kemari untuk menjemputmu. Kau tahu, sekarang dia kedinginan dan basah kuyup di ruang tamu."

Ucapan pedas ayahnya membuat kedua mata Ino terbuka sepenuhnya. Ia beringsut dari kasur, kemudian menatap ayahnya dengan tatapan ayah-bercanda-bukan-? Dan senyum misterius pun bertengger di wajah ayahnya.

Dengan malas, tubuh Ino beranjak dari kasur. Sekedar untuk melihat apakah ayahnya benar-benar serius atau hanya memberi omong kosong belaka. Diseretnya kaki jenjangnya menuju ruang tamu. Dan kedua bola matanya membulat sempurna ketika ia menangkap sesosok pemuda berambut nanas basah kuyup dan kedinginan.

Satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan pemuda dihadapannya saat ini: gila.

Ino mendesah pelan sebelum tubuhnya bergerak ke arah pemuda itu. Menatapnya khawatir sebelum ia memapah Shikamaru ke kamarnya.

"Kau, tunggu di sini. Akan kuambilkan pakaian, handuk, dan teh untukmu. Dan jangan tertidur." Ino berkata dengan nada khawatir. Membuat Shikamaru tersenyum tipis mendengarnya.

Sepertinya hujan kali ini benar-benar menyenangkan.

OoOoOo

Kelas nampak sepi, hanya Sakura sendiri. Kepalanya menengok ke arah jendela—berharap teman-temannya akan datang, namun, sepertinya hujan membuat mereka malas ke sekolah, bahkan guru-guru pun tak kelihatan batang hidungnya.

Tak sengaja kedua bola mata berwarna hijau itu menangkap sosok berambut pirang. Jendela yang menjadi akses untuk melihat ke luar tak berfungsi dengan baik. Rintik-rintik hujan membasahi permukaan jendela sehingga membuat jendela itu buram dan berembun.

Penasaran, Sakura pun beranjak dari tempatnya dan menuju ke luar kelas. Sedikit demi sedikit rintik-rintik hujan membasahi rambut dan pipinya. Dan kedua bola matanya melebar ketika melihat Naruto berjalan ke arah kelas. Pakaiannya basah dan Sakura bisa melihat tubuh Naruto bergetar hebat.

Ketika Naruto berhasil sampai ke kelas, kedua bola matanya terbelalak lebar melihat keadaan kelasnya. Kelasnya nyaris kosong jika ia dan Sakura tidak datang hari ini.

Naruto mengulum senyum ke arah Sakura. Sakura dapat melihat betapa pucatnya wajah Naruto saat ini.

"Jadi ... hanya kita berdua di kelas? Hah~ , harusnya aku teruskan saja tidur di rumah," ujar Naruto seraya menduduki bangkunya. Kedua tangannya saling bergesekan satu sama lain hanya untuk menghangatkan diri.

Sakura menatap heran Naruto, sebelum ia beranjak dari tempatnya dan mengambil handuk di dalam tasnya. Iris biru milik Naruto membesar ketika ia merasakan tangan Sakura mengusap kepalanya menggunakan handuk.

"Seharusnya kau bawa payung, Naruto. Kalau begini kau bisa sakit," ujar Sakura, "dan jangan berpikir kalau aku melakukan hal ini karena aku peduli, bodoh. Aku melakukan ini karena aku kasihan pada orangtuamu jika kau sakit esok hari."

Naruto mengerutkan keningnya. Mencerna kata-kata yang terlontar pada mulut Sakura. Tak lama kemudian, senyum lebar menghiasi wajah Naruto.

"Ne, ne, bilang saja kau peduli padaku, ne?"

Kata-kata Naruto membuat wajahnya merona. Untungnya ia berada di belakang Naruto, sehingga pemuda berkulit tan itu tak dapat melihat rona yang menghiasi pipinya.

Entah mengapa, hujan kali ini terasa hangat.

OoOoOo

Desahan napas pelan meluncur dari bibir Temari. Ia sudah siap berangkat ke sekolah tetapi hujan menghambatnya. Untung saja ia belum keluar dari rumah sehingga ia tidak merasakan rintik-rintik hujan yang menerpa kulitnya.

Kedua matanya kemudian menatap ke arah Gaara. Adik bungsu kesayangannya itu tengah menatap rintik-rintik hujan yang menghantam tanah.

"Yah, hujan. Sayang sekali, ya, Gaara?" kata Temari sambil menatap Gaara dengan usil.

Gaara mengerutkan keningnya. "Lalu?"

"Kalau hujan kita tak bisa berangkat ke sekolah," ucap Temari, "dan kalau tidak sekolah kau tak bertemu si gadis pirang bermata biru itu."

Alis tipis Gaara naik sebelah. Apa katanya tadi? Gadis pirang bermata biru? Siapa itu? Ia pun mencoba mengingat-ingat gadis yang dibicarakan kakaknya ini. Setelah mencerna kata-kata kakaknya, Gaara pun melipat kedua tangannya di atas dada—bersikap defensif.

"Namanya Ino. Dan bukannya kita sama? Hari ini nee-chan tak bisa bertemu dengan Shikamaru."

"Lalu, apa urusannya denganku? Bertemu atau tidak dengannya itu sama saja buatku."

"Bukannya nee-chan menyukainya?"

"Suka?" tanya Temari dengan nada sarkastis, sebelum ia tertawa beberapa saat kemudian. Membuat Gaara berpikir bahwa kakaknya memiliki kelainan jiwa.

"Aku tak menyukainya," ujar Temari, "dia sudah kuanggap adik sendiri. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Gaara."

Gaara makin mengerutkan kening, pernyataan kakaknya membuatnya pusing . "Lalu ... mengapa kau mengejarnya waktu itu?"

"Itu semua sandiwara."

"Hah?"

"Iya, itu semua hanya sandiwara. Aku melakukan hal itu agar si gadis pirang bermata biru itu cemburu, tapi ternyata dia tak cemburu sama sekali. Dan, rencana Shikamaru gagal total waktu itu."

Gaara mengangguk paham, mengerti apa yang kakaknya ucapkan. Sebegitukah Shikamaru mencintai Yamanaka Ino? Jujur saja, ia salut terhadap Shikamaru yang berusaha untuk membuat Ino mengingatnya kembali dengan caranya sendiri.

"Jadi, setelah mendengar ceritaku kau masih ingin mengejar gadis pirang bermata biru itu lagi?" tanya Temari, suara tawanya mengalahkan suara hujan yang menghantam tanah.

"Kurasa aku sudah bisa merelakannya untuk Shikamaru," ucap Gaara, "dan aku percaya padanya."

Temari tersenyum. Adiknya benar-benar dewasa dan membuatnya bangga.

"Ne, sebaiknya kita ganti baju dan masuk ke dalam. Kau bisa membeku jika di sini lama-lama."

Dan kata-kata Temari pun dibalas oleh senyum tipis oleh Gaara.

OoOoOo

Seperti yang Ino janjikan, ia membawakan teh, handuk, dan pakaian untuk Shikamaru. Keadaan Shikamaru yang tadinya menggigil kini sudah mulai berhenti. Ino bersyukur karena Shikamaru pulih dengan cepat.

Dengan langkah malas, gadis pirang itu melangkah keluar kamar. Menaruh gelas kotor dan baju basah Shikamaru. Ino menaruh pakaian ke dalam mesin cuci asal-asalan. Hampir saja ia menutup mesin cuci jika ia tak melihat plakat nama tertempel di baju Shikamaru. Ketika Ino hendak melepas plakat nama tersebut, bola matanya membulat sempurna.

Dengan langkah tergesa, Ino menuju ke kamarnya. Mati-matian ia bendung air matanya. Ingin sekali ia meluapkan kemarahannya pada Shikamaru, sungguh. Sayang, Shikamaru sedang tertidur pulas di ranjangnya, dengan selimut tebal melingkupi tubuhnya.

Ino berjalan dengan perlahan, tak ingin membangunkan pemuda yang suka menatap awan itu. Ino pun duduk di tepi ranjang, menyaksikan betapa lelapnya pemuda itu tertidur. Tanpa sadar, jemari Ino menari di rambut hitam Shikamaru.

"Baka, kenapa kau tak bilang yang sebenarnya, hah?" Ino tersenyum miris, "kenapa kau tak bilang kalau kau itu Nara."

"Kalau kubilang yang sebenarnya, lalu apa yang akan kaulakukan?"

Terkejut, Ino pun melompat dari kasur dan menabrak dinding. Kekonyolan Ino membuat Shikamaru tertawa. Gadis cantik itu merengut sebal, kesal karena ditertawakan.

Ino mengusap kepalanya pelan dan menggerutu sebal. Kemudian dia mendekati Shikamaru yang masih duduk di ranjangnya.

"Kenapa kau tak menolongku, sih? And Why are you laughing? Jahat tenan ente!" sembur Ino sambil menggunakan bahasa campuran miliknya.

Shikamaru yang masih tertawa pun berusaha menghentikan tawanya. Bola mata hitam Shikamaru bergulir ke arahnya. "Itu tadi lucu sekali, kau tahu? Dan tolong jawab pertanyaanku."

Ino terdiam. Memikirkan jawaban yang akan ia lontarkan. Sedangkan Shikamaru memandangnya dengan sebal.

"Hahh, kau ini benar-benar, ya..." kata Shikamaru sambil mendengus.

"Habis, aku tidak tahu mau jawab apa." Ino menunduk.

"Kau ini benar-benar merepotkan sekali. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, maka akan ada dua kemungkinan. Kau akan menganggapku gila karena mengatakan kalau aku ini Nara atau kau akan jijik padaku dan menjauhi secara perlahan karena aku sok akrab denganmu."

Ino mangut-mangut. Mengerti dengan perkataan Shikamaru. Ino mendongak, menatap Shikamaru lembut. "Maaf, Shikamaru. Maaf aku melupakanmu."

Shikamaru tersenyum, kemudian mengacak rambut Ino pelan. "Hah, jangan tatap aku begitu. Baiklah, baiklah, aku memaafkanmu."

Mendengar jawaban Shikamaru, Ino tersenyum lebar.

"Lagipula... aku datang kemari untuk mengatakan padamu bahwa aku akan pergi meninggalkan Konoha..."

Kebahagiaan yang Ino rasakan saat itu lenyap tak berbekas. Ia baru saja mengetahui fakta bahwa Shikamaru adalah Nara yang ia cari. Ia baru saja ingin menangih janji yang mereka ucapkan waktu itu. Dan sekarang... setelah ia menemukan teman lamanya—merangkap cinta pertamanya—ia harus menerima bahwa Shikamaru akan meninggalkannya.

Bola mata Ino bertemu pandang dengan bola mata Shikamaru, mencoba melihat apakah Shikamaru bercanda mengatakan hal ini. Namun, yang dapat ia lihat dari bola mata pemuda itu adalah kebenaran. Perkataannya benar, Shikamaru akan meninggalkan Konoha.

"Apa-apaan ini semua, Shikamaru? Aku baru saja mengetahui bahwa kau adalah orang yang kucari selama ini, bahwa kau adalah orang yang selalu kutunggu dari waktu ke waktu. Dan sekarang, setelah aku mengetahui kenyataan, kau akan pergi meninggalkanku begitu saja?" tanya Ino dengan suara parau, ia tahan air matanya agar tak jatuh di pipi.

Shikamaru hanya diam, tak berinisiatif untuk menenangkan gadis yang ada di hadapannya, "kau benar-benar tak berubah, ya?"

"Eh?"

"Makanya, dengarkan baik-baik. Kau ini benar-benar merepotkan."

"Aku sudah mendengarkanmu baik-baik, dan faktanya adalah, kau akan meninggalkanku setelah aku bertemu denganmu, ya,'kan?"

"Apakah pergi ke Iwa selama satu hari disebut meninggalkan?"

"Eh? Apa? Tapi kau bilang—"

"Makanya dengar baik-baik, perkataanku belum selesai, tahu." Kata Shikamaru, "Aku meninggalkan Konoha selama satu hari karena ada Olimpiade Sains di sana, sebelum aku pergi, aku ingin menepati janji kita waktu itu, kau mau, 'kan?"

"Tunggu dulu, bagaimana dengan Temari?"

"Dia? Biarkan saja, lagipula dia tak menyukaiku, kok. Jadi, bagaimana?"

"Jika kau memenangkan Olimpiade Sains, aku terima."

"Tenang saja, kupastikan kali ini janji kita menjadi kenyataan."

Dibalik dinginnya hujan, terdapat kebahagiaan bagi setiap umat manusia.

OoOoOo

Sama seperti kemarin, hujan membasahi Konoha lagi. Namun, kali ini kelas tak sesepi kemarin. Hari ini, murid-murid terpaksa hadir karena tak ingin tertinggal ulangan Fisika. Bukan pelajarannya yang menakutkan, hanya saja Anko-sensei tak segan akan memberikan hukuman berlipat ganda jika mereka tak mengikuti ulangan tanpa alasan yang jelas.

Ino menatap kursi kosong disampingnya, biasanya, seorang pemuda berambut nanas duduk di sana dengan tampang mengantuk. Mengingat itu, Ino tersenyum. Ino penasaran apa yang ia lakukan di sana.

"Sedang memikirkan apa, Pig?" tanya Sakura.

"Sejak kapan kau memanggilku 'Pig', heh, Jidat? Dan aku tak memikirkan apa-apa, kok."

"Hei, jangan memanggilku begitu, dong! Walau jidatku lebar begini tapi seksi, kan?"

Ino hanya mendengus mendengarnya.

"Tenang saja, Shikamaru pasti menang, kok! Tak usah khawatir begitu."

"Darimana kau...,"

"Aku tahu darinya, kemarin dia bercerita padaku," ucap Sakura, "dan katanya tolong jaga Ino baik-baik, dan bilang padanya untuk makan makanan bergizi karena kau gampang sakit."

Ino tersenyum mendengarnya, ternyata dia perhatian juga.

"Ah, ya, aku ingin memberitahukan sesuatu padamu," kata Sakura dengan wajah yang memerah, membuatnya terlihat manis.

"Ada apa?"

"Sebenarnya...,"

"WOI, SEMUANYAAAA!"

Teriakan Naruto membuat perkataan Sakura terputus. Semua yang ada di kelas menatap Naruto yang sedang berdiri di meja guru. Bertanya apa yang ingin ia lakukan.

"SEMUANYA, DENGAR!" kata Naruto, "HARI INI, AKU DAN SAKURA RESMI BERPACARAN."

"Yeaah~"

Suara suka cita pun menggelegar di kelas Ino, setelah mengatakan deklarasinya, Naruto dibawa ke UKS karena terkena pukulan maut Sakura.

Ino pun tersenyum senang melihat kebahagiaan di kelasnya. Ia melirik kursi kosong di sampingnya, berharap ia akan seperti Sakura nantinya.

Drrt... Drrt...

Getar handphone Ino membuatnya kembali ke alam nyata, ada satu pesan dan ia tak tahu siapa pengirimnya. Penasaran, Ino pun membukanya. Pipi Ino memerah setelah membaca pesan itu. Berikut isi pesan yang membuat pipi gadis cantik itu memerah:

From: Unknown

To: Ino

Aku menang, dan bersiap-siaplah besok, karena janji kita akan menjadi kenyataan.

Ino tersenyum lebar, berdoa agar waktu bisa dipercepat.

End

Terima kasih yang udah nge-riview, nge-fave, dan yang jadi silent reader. I Love U Full, deh XD

Thanks for reading~