"Siapa itu Kartini?"

Etherland menelan ludah gugup saat mereka mengerubunginya dengan tatapan intens. Ia bahkan tidak tahu lagi kemana gadis itu pergi.

"Aku…"

GLEK

Membocorkan identitas Kartini berarti membuka kedoknya.

...

"Kau menyembunyikan sesuatu?"

"Kartini itu kenalanmu?"

"Ada sesuatu yang tidak awesome?"

Etherland menghindari tatapan tiga orang tersebut dan memandang Alfred, bocah Amerika itu menatapnya balik, otaknya bekerja keras dan sesuatu akhirnya terbesit setelah terhenyak sepersekian menit, "Alfred—! Apa itu bentol-bentol di dahimu?!"

"EH?!"

Ketika perhatian terarah pada bocah itu, Etherland lantas mengambil tenaga dan menerobos tiga makhluk di hadapannya tersebut. Segera saja ia berlari cepat menjauhi mereka, membuat mereka terkejut dan memanggil-manggil namanya.

"Mein Gott! Apa sih yang ada dalam kepala alis itu?!" Sungut Gilbert dengan kesal, meringis sakit lantaran tubuhnya seenak saja diterobos dengan keras. Raut wajahnya tampak jengkel, menarik nafas dengan emosi. Terlebih ketika ponselnya bordering. Eww, ini bukan saat yang tepat untuk bertelepon.

Mereka membolos kerja dan sekarang Arthur kabur entah mengapa. Gilbert harap telepon ini tidak mengindikasikan bahwa rekan-rekannya di sana tahu mengenai hal yang mereka lakukan. Yah, setidaknya berharap saja Lukas tidak menelponnya untuk memanggilnya ke TKP bersama Arthur.

"Halo, Beilschmidt."

Tunggu, ini bukan gaya Lukas. Firasat Gilbert tidak enak. Orang di seberang telepon berhenti sejenak menyusun kata dalam keheningan sebelum akhirnya melanjutkan.

"… Aku sudah menyingkirkan dua penganggu dari kalian."


Brocken


Hetalia © Hidekaz Himaruya.

.

Brocken © Me

[+]

Semi-AU, konyol(?), moga nggak OOC, moga nggak bikin sakit mata.

[+]

Segala nama, tempat, merek yang keseret dalam fict ini tidak di klaim ataupun dimaksudkan untuk hal-hal negatif oleh author. Just for fun, 'kay?

-Happy Reading-

Don't like don't read


Di sisi lain, Etherland tengah berjalan sendiri sembari melempar pandangan ke sekitar. Mencari Kartini di antara lautan manusia seperti ini memang menyulitkan, apalagi handphone-nya sedari tadi berdering tak jelas. Lima belas kali panggilan Gilbert ia abaikan. Kalau saja mereka itu tidak menghalangi dirinya, mungkin ia sudah bisa bertemu dengan Kartini sekarang ini.

Ia perlu bicara padanya.

Ya, ya, kalian pun pasti akan melakukannya jika dalam posisi sang tokoh utama kita ini. Etherland memperhatikan ke belakang sejenak, memastikan bahwa orang-orang itu tak ada di belakang. Ngomong-ngomong, kok dia bisa lupa ya kalau hari ini ada Kartini? Jika saja ia sadar, mungkin dari awal ia tidak perlu menolak ajakan Alfred pagi itu, apalagi bersikap kasar padanya. Etherland jadi tidak enak.

Sejauh ini, Etherland telah berkeliling tanpa arahan yang jelas. Baiklah, dengan berat hati dirinya mengakui bahwa dia tersesat, belum menemukan sosok Kartini, dan dalam status dikejar oleh komplotan kepolisiannya. Oh, satu lagi; dia ingin buang air kecil sekarang. Ada yang bisa kasih solusi?

Ah, benar. Teleponlah Kartini dulu, baik, tokoh utama kita menekan nomor telepon sang pujaan. Perlu waktu lima menit menunggu sebelum kembali bersumpah serapah lantaran mendapat jawaban dari operator bahwa nomornya sedang sibuk. Kartini nelpon siapa coba pagi-pagi begini?

Dan tiga menit kemudian kekesalan Etherland bertambah lantaran tahu pulsanya sudah habis. Mijn God, ia tidak bisa menelpon nomornya yang itu. Pemuda beralis tebal tersebut akhirnya menarik nafas berat dan berhenti di depan sebuah stan kecil makanan. Seorang pemuda berambut pirang yang berjaga memandanginya dengan bosan sembari mengunyah permen karet, "Ingin pesan sesuatu?"

Etherland buru-buru meralat apa yang barusan ingin dia katakan, "Hmph, apa kau melihat seorang gadis Asia lewat sini?"

"Hei!" Tegur sang pemuda dengan dahi berkerut, "Kau tidak sedang ingin membeli daganganku."

"Oke, oke." Etherland tampak setengah hati meladeni,"Satu hotdog untukku."

Perempatan menyembul di pelipis Etherland kala melihat lawan bicaranya tersenyum puas, kini ia malah boros uang untuk sebuah hotdog yang tidak diinginkannya. Sialan.

"Jadi… hm, ada sesuatu yang harus kau urus tentang gadis itu?" Iris hazel menatapnya sekilas dengan jemu, Etherland mengangguk saja sembari mengorek dompet. "Sesuatu yang salah telah di lakukan gadis itu, Pak Polisi?"

Dan, Etherland baru sadar bahwa dia masih pakai seragam dinasnya. Hah. Bagus. Tamatlah riwayatnya kalau mereka semua ketahuan nongkrong di tempat seperti ini oleh Roderich, "…Aku perlu mencarinya."

"Bagian informasi selalu terbuka."

"Aku tidak bisa menggunakannya." Jawab Etherland dengan ketus, "Ini situasi genting."

"Sedang di kejar sesuatu, hm? Atau kau takut ketahuan sedang bolos?"

"Tidak bisakah kau langsung menjawab pertanyaanku?"

"Sayangnya aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu." Ujar sang pedagang dengan senyum tanpa dosa menyodorkan pesanannya, "Lebih tepatnya aku tidak melihat orang yang kau cari."

PLIK-PLIK-PLIK

"Woi woi! Kau ingin membuat hotdog-mu penyet? Tidak bisa di ajak bercanda sedikit, ya." Pedagang muda tersebut berjengit ngeri ketika menyadari hawa hitam di belakang Etherland. "Dasar, karena inilah aku kurang suka dengan polisi."

"…."

"Seorang gadis Asia berambut hitam dan fotografer membeli hotdog-ku lima belas menit lalu."

"…Kau bercanda."

"Selera humormu jelek sekali kalau kau menganggapnya begitu." Komentar singkat sang pedagang hotdog. "Gadis asia cantik rambut hitam panjang kan?"

"Ja, ja." Etherland mengiyakan dengan sungguh-sungguh.

"Siapamu itu?"

"Tunangan."

"Cih, alis tebal menyebalkan dirimu dengan gadis manis seperti dia? Kau pasti meracuninya, ya?"

"Tidak bisakah kau tidak mengalihkan pembicaraan? Durasi, durasi."

"Oke, oke, dia membeli—"

"Tidak, tidak, aku tak peduli soal itu. Kemana arah perginya?"

"Di sana." Tunjuk sang pedagang dengan jutek, Etherland menatap arah yang di tunjuk dan menimbang-nimbang sesaat sebelum akhirnya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Pheuw, walau sempat sebal, setidaknya ia tidak pergi dengan tangan koso—TRRTT—Oh, sebentar pembaca yang budiman, handphone Etherland berdering.

Pemuda tersebut memandang sesaat nama pemanggil yang tertera sembari membuka bungkus hotdog penyetnya. Untuk apa coba nelpon di saat genting sekarang?

Pip

"Hm?" Sapa Etherland sembari mengunyah hotdog-nya, "Goeden Morgen—"

"Akulah sang pembunuh yang kalian cari."

BHUH! Etherland menyemburkan makanan yang baru saja ia kunyah. Setengah karena kaget, setengahnya lagi karena rasa pedas makanannya. Etherland berbalik sekilas memicingkan mata pada si pedagang hotdog yang melambai dengan seringai jahil di kejauhan. Orang iseng itu menambahkan wasabi dan mustard dalam jumlah yang banyak. Kini lidah Etherland terasa terbakar. Ia tersedak.

"UHUK-UHUKSsshh—" Etherland tampak kesulitan untuk berkata-kata, "…Apa katamu tadi?"

"Temanmu itu sudah kubungkam."

Perut Etherland terasa sakit, ia tidak bisa berkosentrasi kalau begini "Sshh, haaahh, haah, benarkah? Memang seseorang haahh, perlu membungkam mulut tajamnya. Sssh, dia rajin mengkritik ku."

"…."

"Sshh, kau buang pulsa orang aja cuma mau ngomong lelucon garing begini. Konyol tau nggak. Sshhh, udah ah, sumpah, pedesnya gila. Aku juga lagi sibuk, shh, jangan di telpon lagi ya. Sshh, haah, hhaa—UAAAGGH!"

Etherland menabrak seseorang. Handphone (bukan miliknya) tersebut jatuh membentur permukaan semen dengan keras, matanya terbelalak ketika menyadari bahwa benda elektronik tersebut berhamburan. Dengan cepat ia berjongkok dan memungutinya. Di sisi lain, rekan-rekannya telah berdiri tak jauh dari tempatnya berada—

"Mon Cheer, sudahlah Gilbo~~Lukas pasti bercanda, honhonhonhon."

"Bego. Gaya ngomongnya aja udah beda. Yang ini makin nggak awesome, tau nggak!"

"Tidak baik bertengkar seperti ini, . Ini pasti karena kalian belum makan tomat kirimanku yang segar luar biasa, manis—dan—"

"Stop. Stop." Gilbert memotong omongan Antonio, "Kau memperkeruh suasana aja ya. Kita nggak bisa pulang ini kalau si Alis itu nggak ditemukan!"

"Loh? Gimana kalau kita bagi aja jadi dua kelompok. Satu cari Arthur, satu nolongin Lukas. Biar gampang."

"Terus anak-anak ini mau di bawa kemana?"

"Titipkan saja pada Abang Francis, honhonhonhon~"

Antonio dan Gilbert saling pandang sebelum akhirnya mengangguk bersama dan menatap tajam Francis, "Itu ide terburuk yang pernah kudengar sepanjang pagi ini."

Hati Francis meretak. Nge-jleb banget ya.

"Ada kemungkinan pembunuh itu nelpon ke semua kontak rekan kerja Lukas. Jadi kaya'nya kantor udah bergerak…"

"Terus?"

"Ya terus akhirnya kita bakal dicari. Si Aristokrat itu pasti akan ceramah lagi. Kalau kita pulang berlima doang, Arthurnya gimana? Bisa jadi di sini ada komplotan si pembunuhnya, lalu mengincar kita dan…"

"Kau khawatir sekali dengan Arthur, Gilbo~"

"Memangnya kau tidak khawatir dengan atasanmu sendiri?" Gilbert mendecak kesal pada Francis yang kembali menggodainya.

"Tapi tak apa-apa nih kalau adek-adek si Arthur kita libatkan?" Antonio bertanya dengan ekspresi polos, Gilbert menghela nafas berat memandangi sepasang bocah asuhan Arthur. Ini situasi rumit.

Dan sepertinya pemuda Jerman tersebut tak menyadari bahwa sedari tadi Alfred F. Jones ingin mengatakan sesuatu…

"Arthur pasti nggak jauh-jauh amat dari sini. Kita harus tetap semangat mencarinya, . Mungkin dia sedang bersembunyi dari kita."

Sementara itu, sang tokoh utama masih berjongkok mencari SIM Card-nya yang copot entah kemana.

"Bhuu, nggak mungkin! Dia kan bukan orang yang suka sembunyi."

"HUACHIMM!"

"….Kalian dengar itu?"

Etherland mendongak kepalanya dengan pandangan linglung. Tak menyadari bahwa BTT sudah berdiri beberapa meter di belakangnya, dan makin lama jarak itu berkurang…

Sekeliling Etherland memandangi dirinya dengan ilfeel.

"Siapa coba yang ngomongin Aku?"

"Bisa saja itu Arthur yang sedang bersin karena kita ngomongin dia!"

"Idiih, pernah gitu lu denger dia bersin sebelumnya? Nggak awesome."

Etherland berusaha menahan bersinnya. Tubuhnya kaya' bersin otomatis gitu. Huks, atau jangan-jangan dia mau kena flu? Ngomong-ngomong lidah Etherland masih terasa terpanggang…

Dan dua kubu ini tak menyadari posisinya masing-masing meski jarak mereka dalam kerumunan massa sudah dekat.

"Suaranya dari sana lho!"

Etherland masih mencari SIM Cardnya.

7

6

5

Tep.

"Dih, mana coba?! Udah ah, paling lu kena halusinasi tomat yang tidak awesome! Kita balik aja dah!"

Dan tepat ketika perdebatan kusir BTT berlangsung, seseorang berbaju hitam tertutup menepuk punggung Etherland. Hawa dingin menyelimuti, kemudian—

BETS!

"Anton?"

He?

Laki-laki itu menjabat tangannya dengan pandangan intens, "Kamu… Kamu Anton bukan?! Iya kan? Yang ada di iklan shampoo itu? Ngapain jongkok di sini?"

Etherland mengerutkan dahi memandang bingung pada orang asing berpenampilan nyentrik di sampingnya, tak tahu harus berkata apa. Pikirannya kalut.

"Jangan ganggu aku—huachim!"

"Anton flu? Mau kubawakan obat? Kau harus jaga kesehatan dong…"

"Jangan ganggu aku!"

"Tapi…"

Emosi Etherland naik. Serta merta ia bangkit memandang tajam si pengganggu dengan sebal. "Serius ya! Huachim! Aku itu Arthur Kirkland bukan Anton! HUACHIM! Nggak usah Sok kenal sok dekat dan huachiim! Anjritt! Siapa coba yang ngomongin ak—"

Etherland terpaku ketika tahu-tahu BTT memandangi dirinya dalam jarak hitungan meter. Kata-katanya terputus. Suaranya tadi cukup keras?

GLEK

"IGGYYY!"

"NOOO!"

Kejar-kejaran pun dimulai.

DRAP

DRAP

DRAP

Maaf. Maaf. Etherland hanya bisa meringis sakit ketika menabrak orang sana-sini. Sumpah, kakinya capek, ia perlu mencari Kartini tapi malah sekarang ia di kejar-kejar oleh komplotannya. Ia jadi seperti buronan! Ia harus cari cara untuk menghindari mereka di sana.

Lalu dirinya menyelip di antara kerumunan, sebentar, kartu SIM-nya ketinggalan. Etherland menghentikan langkah sejenak memandang ke belakang. Mendecih kesal lantaran kesempatan yang sempit ini. Etherland melanjutkan larinya, tapi kini ia malah masuk ke dalam sebuah wahana berbata gelap.

Sementara itu BTT menghentikan langkah sejenak memandangi bangunan yang dimasuki Etherland, saling pandang satu sama lain. Perubahan signifikan ekspresi Alfred terlihat jelas karena sekarang dirinya menjadi pucat.

"… Alfred?"

Sementara kubu BTT tengah bingung mendapati wajah Alfred yang memucat, Etherland terengah-engah berdiri di antara antrian panjang sebuah wahana. Memandang khawatir ke belakang kalau-kalau mereka mendatanginya sekarang. Bersukurlah bahwa hal itu tidak terjadi; setidaknya untuk saat ini.

"Huh, gila—hari ini kenapa nasibku nahas banget ya? Buat apa coba mereka mengejarku sampai di sini?! Nggak tau apa gue lagi sibuk?!"

"…."

Makhluk di depan Etherland berbalik menatap aneh, oke, siapapun juga pasti penasaran akan manusia yang mencerocos panjang lebar dengan serentetan kata kasar, terlebih kalau semua itu di iringi oleh hembusan nafas kekesalan yang pasti tidak nyaman didengar.

Etherland tak menghiraukannya.

Ya Tuhan…, tunjukanlah di mana Kartini. Ampun deh, ia bisa tepar kalau di suruh keliling semua area dengan rintangan yang berjibun banyaknya; di kejar BTT misalkan. Ngomong-ngomong, ia jengkel karena nanti harus mengeluarkan uang cuma buat beli SIM Card baru. Hiks. Mulutnya masih pedes. Dan apa yang harus di perbuatnya dengan handphone rongsokan ini?

Dan gilirannya kali ini. Etherland merasa tak enak saat memasukinya. Semoga saja bukan wahana yang buruk—dan tunggu—dia ini sebenarnya masuk tempat apa?

Etherland memandang sekelilingnya, alisnya berkedut sesaat sebelum akhirnya terkejut ketika menyadari wahana apa yang sedang ia mainkan.

MIJN GOODD!

Untuk beberapa saat ini Etherland hanya bisa speechless. Sungguh, fantastis… Ia nyasar ke rumah hantu? Oke, ia harus pastikan untuk menuntut sang penulis setelah ini. Ini sungguh…

Brr, Etherland bergidik ngeri menyentuh lehernya. Bulu kuduknya merinding, tempat ini selalu mengingatkannya pada rumah Kartini yang sungguh, pajangan-pajangan aneh itu membuat rumahnya terkesan mistis…

Apesnya lagi pemirsa sekalian, Etherland (masih) kebelet. Berdoalah semoga 'tidak terjadi apa-apa' pada tokoh utama kita, nggak keren amat kan kalau dia kaget sampai terkencing-kencing?

Ehem. Etherland menghentikan langkah dan memandang kedepan dengan ragu. Humh, dirinya mengambil nafas; mempersiapkan diri. Semoga saja tak ada yang mukanya sehancur wajah hantu Indonesia.

Kereta datang, ia tak memperhatikan yang lain dan segera mengambil tempat duduk di pojok. Kalau saja bukan karena di kejar orang-orang itu, ia tak akan terjebak di sini.

"Hei, cewek itu manis."

Etherland mengalihkan perhatian ketika mendengar sepotong percakapan dua pria di depannya. Pasti mereka sedang menunjuk gadis cantik seksi layaknya adegan di film-film dan… OH MY GOD!

Etherland mengucek-ngucek matanya. Tak percaya siapa gadis yang di maksud itu—dia memang sangat cantik dan… dia adalah Kartini saudara-saudara! Kartini! Tangan Etherland melambai mencoba memanggil, dan sang target yang sedari tadi di buru oleh pemuda beralis tebal (palsu) menatapnya sepersekian detik. Hati Etherland melayang.

TRAK. Dan patahlah hatinya ketika ternyata Kartini tak menanggapi panggilannya tersebut. Ia malah duduk tiga bangku di depannya bersama dirinya di masa lalu dengan canda ria. Etherland merengut tak terima melihatnya—ugh…

"…Kart!...Kartini! Kartini, kau—"

"SHHH!"

Orang di sebelahnya menegur. Etherland makin merengut tanpa menatap siapa makhluk di sebelahnya. Kini ia berganti taktik dengan melakukan gerakan-gerakan mencolok untuk Kartini meski itu berarti ia harus menghancurkan mukanya di hadapan umum.

Taktik itu gagal. Entah apa Etherland kurang gigih atau Kartini terlalu polos untuk mencerna sinyal Etherland. Sedari tadi Etherland sudah mendesis, bersuara, berseru untuk mencoba menarik perhatian Kartini yang tampak asyik sendiri. Sial…

"Kau tidak bisa diam sama sekali, ya. SLURPP."

Merasa tak bisa apa-apa lagi Etherland mendengus kesal menyerah, perkataan penumpang di sampingnya memicu emosi. Tahu apa orang itu dengan upaya yang telah ia lakukan?! Komentarnya terlalu jujur dan menyakitkan…

Lho?

Etherland membatu sepersekian detik.

"…."

"…"

"Kamu…"

TIK

TIK

TIK

"ARRRGGHH!"

Dua teriakan bersatu, tepat ketika kereta baru berjalan dan sensasi horor rumah hantu baru muncul. Seisi kereta memandang dua makhluk hidup yang berteriak bersamaan dan merusak suasana tersebut dengan kesal. Yang di pelototin masih diam membekap mulut masing-masing dengan gugup.

"SHH—!"

….

BLETAK

"sejak kapan kau di sini?!"

"…Aduuuhh!" Pemuda di samping Etherland meringis sakit mengelus kepalanya yang benjol oleh pukulan Etherland. "Kenapa kau jahat sekali padaku, Arthur?"

"Berisik."

"…Kaulah yang berisik sekali, Arthur. Kau melihatku seperti melihat hantu saja. Memangnya aku—AW! ARTHURR—JANGAN INJAK KAKIKU DOONG!"

Heh. Rasakan itu. Rasakan. Siapa suruh membuatku menjerit? Nggak tahu suasana aja. Dan kenapa diantara seluruh makhluk hidup di muka bumi ini harus kau yang duduk di sampingku sekarang? Kenapa? Kenapa Antonioo?!

DUK

Satu kotak susu kemasan melayang ke kepala Etherland. Rupanya seekor bocah tengil dua bangku di depannya menganggapnya tong sampah yang bisa berbicara—maksudnya—sangat mengganggu, yeah.

PLIK

PLIK

"… A-Arthur, tenang dulu! Dia…"

BETS

Berani-beraninyaa!

"Arthuurr!"

PLEK

...

… EH?

Alih-alih membalas lemparan kotak susu kemasan tadi kepada bocah sialan barusan, kotak susu itu meleceng jauh dengan menghantam kepala orang lain. Etherland melongo cengok dan membisu. Sang korban membalikan badan dan menatap Etherland dari kejauhan, dan tahukah kalian siapa dia? Hohohoho, Kartini. Gadis yang sedari tadi di tatap oleh Etherland. Kartini! Iya, Kartini! Senyum Etherland mengembang.

Dan dirinya melambai, menarik senyum cerah yang lembut pada gadis manis tersebut. Seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya, berkali-kali ia menyebut nama Kartini. Tampaknya hantu-hantuan dalam wahana tersebut sudah teralihkan oleh sosok sang pujaan hati.

Namun alih-alih merespon, gadis itu malah bergidik ngeri dan berbalik. Apa mukanya seseram itu? Etherland hanya bisa menelan angin dalam diam.

BUAGH!

Kotak susu kemasan itu kembali ke jidatnya dengan kecepatan super bak cahaya. Lemparan pedas itu sukses membuat tokoh utama kita tak berkutik. Bukan, bukan gadis itu yang melempar, tapi dirinya di masa lalu.

Hidungnya…

"…A-Arthur?"

...sakit.

"Arthurr?"

"Berisik! Ini semua gara-gara kau tau nggak?!"

"AW!"


Dam Square, Amusement Park [?], Netherland – 30 menit kemudian.

"Hoi! Jalannya pelan-pelan!"

SLRUPP

"Fred! Respon dikit napa?! Masa' gue yang awesome mampus begini dikacangin?!"

NYAM-NYAM

"ALFRED!"

Sang bocah menoleh dengan tatapan tajam khas komikal. Tak terima dirinya di perlakukan seakan-akan ada makhluk super narsis yang tengah menangkap tikus di jalan—dan itu dirinya. Wajah pucatnya sudah memudar, tapi kekhawatiran masih terlintas di benaknya. Kekhawatiran tentang…

"Kau ini ya masa' ngabisin makan-minumnya sendiri dengan seenaknya begitu?! Gue itu laper! Laper! Tau nggak?"

"Terus?"

"Ya jangan comot semuanya dong! Yang bayarin siapa juga coba?! Memangnya kau tidak diajarin oleh si Alis?"

"Humh?" Alfred menatap sepasang ruby merah Gilbert dengan polos, "Kita itu harus selalu berhemat."

"Hah?"

"Kata 'Iggy' kita itu harus memanfaatkan peluang yang ada dan berhemat serta menimalisir pengeluaran rumah tangga yang membengkak. Jadi…"

"Lu makan makanan gue sampai habis gitu?" Gilbert menurunkan Alfred dan menjitaknya setengah tenaga, "Nggak awesome banget sumpah! Lu kira diriku yang tampan dan mempesona ini akan percaya?"

"Sakiitt~! Bisa-bisanya kau menjitak kepala hero seperti ini!" Sungut Alfred kesal.

"Berisik! Sini jatah gue~!" Rebut Gilbert dengan dongkol, "Lagian elu ngelesnya nggak elit banget. Sejak kapan Arthur kau gambarkan mata duitan begitu? Konyol banget. Oh—munch munch, satu lagi, nggak ada yang awesome, ganteng dan hebat selain gue. Jadi hentikan embel-embel hero mu itu."

"Enak aja! Gil! Balikin sodanya dong! Hero mau minum! Jangan di habisin dong—Gil—"

BRUK

Splash!

"…."

Dua makhluk berisik ini terpaku menatap tumpahan soda di kostum beruang yang tengah membagikan balon gratisan pada anak-anak, sang badut beruang tersebut menatap keduanya tanpa bisa berkata apa-apa mendapati kostum belakangnya basah, tak lupa sensasi dingin yang menggelitik dirinya…

"Ma-Maaf!" Alfred meminta maaf lebih dulu, sementara sang badut masih diam dengan tatapan horor sementara keduanya mengorek kantong mencari sapu tangan, "Orang yang bersamaku ini sangat ceroboh—"

"Gara-gara siapa coba!"

"…."

Bocah tersebut tersenyum pada sosok di balik kostum bulu coklat yang tingginya mencapai 170 cm. "Bagaimana kalau kita cari toilet dan membersihkan baju kotormu? Kau tampak tak awesome lho—"

….

"…Hey."

Seandainya saja dua makhluk itu tahu bahwa orang yang mereka hadapi ini adalah manusia yang melatarbelakangi kegiatan mereka berkeliling tempat ini berjam-jam. Yah, Etherland harap semua tak berakhir sampai di sini. Ia masih harus menemukan gadis itu—dan menghindari kejaran Antonio, sekarang Gilbert dan Alfred ada di hadapannya menciptakan masalah baru. Satu lagi, ia malu kalau kepergok pakai kostum konyol begini deh…

"Tidak usah…"

Kalau saja setengah jam lalu ia tak keluar dari wahana rumah hantu sambil di kejar Antonio, ia tak akan nyungsep ke sebuah gang kecil di mana dengan sangat tidak elitnya ia membuat orang yang harusnya menempati posisi badut beruang ini pingsan. Apa tindakannya masuk dalam pelanggaran hukum? Duuh, padahal ia baru mengambil nafas lega bisa mengkibuli pecinta tomat satu itu.

"Tidak apa-apa, kesesesesesese, tidak perlu malu dengan diriku yang sangaat awesome ini. Fufu, bagaimana kalau topengmu di buka dulu. Pasti sumpek ya pakai bahan yang tebal begit—"

"NGGAK USAH!"

Aku…

"…."

Aku...

BETS

"A-Aku masih harus membagikan balon—tidak perlu repot-repot dan—"

"Oy…"

"…Lain kali lebih hati-hati, ya."

BREST!

"TUNGGU DULU!"

Etherland mati rasa. Tubuhnya di angkat begitu saja oleh Gilbert—apa tubuh Arthur seringan itu? Atau Gilbert baru saja mendapat power untuk mengangkatnya bak kucing ini? Tunggu, bukan ini masalahnya.

"Kau mencurigakan. Kenapa kau takut sekali pada kami ini, hm?"

Bagaimana ini?

Tubuhnya kepanasan, selajutnya Etherland hanya bisa diam mendengar celotehan pemuda Jerman tersebut. Ia tidak ingin penyamarannya ini semakin dicurigai…

"Kau tahu? Sikap ketusmu itu seperti temanku lho! Kesesesesese."

Eh? Perkataan Gilbert itu membuatnya menoleh, menatap dari balik lubang mata kostumnya. Yang bisa ia lihat hanyalah sepasang ruby merah yang menatapnya intens. Gilbert ngomong apa sih?

"Haha! Kau terkesan dengan kata-kataku yang begitu keren? Atau kau malah lebih penasaran dengan orang yang kumaksud?"

Saputangan Gilbert bersentuhan dengan kostum berbulu yang basah kena soda. Kepala Etherland terasa pusing…

"Dia makhluk alis tebal menyebalkan yang mendadak aneh saat ini, kesesesesese."

Yaah, wajar sih kalau si Gilbert ngomong gitu. Dia kan bukan Arthur yang asli—Etherland bisa menebak apa yang akan dikatakan Gilbert. Paling-paling soal…

"Aku sih nggak peduli soal itu. Tapi aku tak bisa membiarkan temanku menanggung sesuatu seorang diri."

A-Apa?

Pikirannya carut marut. Diluar dugaan Gilbert mengatakan sesuatu yang lain padanya, Etherland bisa merasakan bahwa mata itu menatapnya serius. Hanya mata itu. Dan ia bisa membayangkan Gilbert tengah menarik seringainya di bawah sinar matahari.

.

Teman.

"…Aku mengerti."

"EH?"

BRUAGH!

Tubuh Etherland jatuh setelah mendorong Gilbert yang nyaris membuka topengnya, rasa sakit menggerayanginya. Pemuda albino tersebut tampak terkejut mendapat serangan seperti ini, begitu pula dengan Alfred. Topeng kepala beruang itu akhirnya di lepasnya tanpa ragu, membuat dua orang di hadapannya kaget.

"ARTHUR!"

Etherland hanya tersenyum dingin, "…Jangan ikut campur urusanku."

BETS!

"IGGY!"

Ia tidak bisa…

Ia tidak perlu belas kasihan seperti itu…

Iasudah tidak bisa mundur lagi…hal seperti ini…

Hal seperti ini…


Haah

Hah

"Aku sudah bersumpah tidak ingin naik wahana yang berputar-putar tapi malah kejebak di sini…" Keluh Etherland, memandangi wahana komidi putar dengan wajah bete. Huft… Etherland masih tersengal-sengal, ia ingat dirinya dengan tolol berlari kesana kemari menghindari dua pengejarnya dengan kostum tebal nan berat. Semua orang memandangnya aneh hari ini. Yaah, penampilannya berantakan sekali sih.

Sudahlah, yang penting lolos dulu dari dua makhluk di sana itu. Kartini sekarang di mana ya? Kartini~Kartini~

'…Aku tak bisa membiarkan…'

ARRGGHH! Seseorang! Singkirkan kata-kata laknat Gilbert dari kepalaku!

Ketika giliran Etherland, ia mengambil posisi duduk di kuda dengan tangan berpegang erat pada tiang besi. firasatnya nggak enak naik komedi putar ini. Kaya'nya dia nggak muat—kostumnya kegedean sih, kalau sampai tangannya lepas ia bisa jatuh…

"…Om takut?"

Suara yang nyaris tak terdengar itu menyadarkan Etherland dari khayalannya. Konsentrasinya buyar tepat ketika mesin mulai jalan; ia dibuat terperanjat setengah mati akan kehadiran Matthew Williams di samping kirinya. Keseimbangannya mendadak goyah dan secara refleks ia memeluk tiang dengan penuh tenaga, memastikan agar dirinya tak jatuh.

"Eeeh…"

GLEK

Tamatlah riwayatnya.

Matthew…

"Ada apa Matthew? Kau tidak menikmati ini~?"

DEG

Etherland menolehkan kepala kearah lain, menundukan diri dan menutup kelopak matanya. Tuhan, ia tidak ingin dengar ini.

Matthew, pliss, aku emang salah besar menyikapi dingin keinginanmu tadi pagi tapi jangan ngomong sesuatu yang nggak-nggak sama makhluk mesum itu!

"Aaa, kau lapar? Tenang saja, Papa Francis akan membelikanmu makan siang setelah ini."

Tampaknya Francis belum menyadari bahwa di sebelah kanan Matthew ada Etherland Neftmmel aka Arthur. Kalau seandainya bisa, air matanya mungkin keluar beneran nih. Hari ini nasibnya apes banget! Ngomong-ngomong, selain rasa lapar kehabisan energi yang didera, hasrat untuk buang air kecil makkin besar dalam dirinya. Sial, keluh sang tokoh utama kita dengan lesu sembari memperhatikan kerumunan.

Wajah kebahagian nampak terpancar dari berbagai orang; kaukasia, blonde, hitam, afro, pria tua, anak-anak, gadis…

…Tunggu.

Masih tak berani menoleh kearah Francis dan Matthew, Etherland mengucek-ngucek mata tak percaya. Kartini dan dirinya ada di sekitar sini! Ia ingin turun sekarang juga rasanya, uratnya terasa lemas. Segala unek-unek tadi mendadak bisu, terbius akan sang target yang ada dalam jangkauan mata.

Kau itu tak cukup ya menyiksaku seperti ini, hei Kartini? Betapa besarnya pengorbananku untuk sampai ke sini melihatmu kembali—Kau membuatku terjerat dalam perasaan ini!

Satu putaran berlalu dan matanya terus memperhatikan Kartini, tak lama iris matanya bertemu di satu titik dengan dirinya di masa lalu. Dan sepasang mata Etherland Neftmmel membeliak kala dirinya di masa lalu menarik Kartini lebih dekat—dalam kerumunan massa … bibir mereka…ukh. Dirinya di masa lalu melirik kearahnya yang tengah membatu bak balok es. Err, sepertinya dia sadar telah diperhatikan.

Ciuman itu terhenti, dan Etherland masih tak tahu harus berkata apa. Ia tak bisa menahan suaranya lagi kala melihat dirinya di masa lalu semakin dekat dengan Kartini…

"A—"

"Eh?"

KAMPREET!Serta merta dirinya membekap mulutnya sendiri. Tampaknya suaranya tadi terdengar cukup keras bagi Francis yang jaraknya saja kurang dari satu meter dengannya tersebut. Tubuhnya sampai bergetar menahan diri, rasa takut menggerayangi dirinya. Francis pasti sedang menatap dirinya, iya kan? Iya kaaan?!

GRYUKK

Kenapa suara perut keroncongnya muncul di saat yang nggak lumrah siihh?! Kapan cobaan hambamu ini berakhir, Ya Tuhaaan! Etherland benar-benar bisa nangis nih kalau begini caranya.

"Hei…"

Mampus.

"…." Etherland tak berani menjawab. Apakah kisah Brocken akan berakhir di sini? Akankah? Akankah?

"Kau…"

Ia harus melakukan ini!

"Meoongg~"

Lho?

Mari kita sorotkan kamera pada wajah kosong-melongo Francis kali ini. Ia nggak tahu harus menanggapi apa pada wujud beruang mengeong ini. Mon dieu! Dari jaman Jurassic pun kaya'nya nggak ada catatan beruang bisa mengeong! Kepala manusia lagi!

Francis memperhatikan makhluk yang sedari tadi tampak tak berani menatapnya, dirinya di antara rasa penasaran dan bingung, dari segi rambut warnanya sama dengan warna rambut Arthur Kirkland, lho. Tapi kalaupun memang si alis tebal itu yang ada di dekatnya saat ini… kenapa pakai kostum beruang ya? Lecek pula! Jangan bilang kalau biang keladi dari semua masalah ini adalah karena si Arthur ingin pakai kostum beruang itu.

"Arthur…" Panggilnya halus sementara tangannya berusaha menjangkau bahu orang itu, intuisinya mengatakan bahwa sosok di dekatnya ini…

"MIAAAAWWW!"

Tik

Tik

Tik

BLETAK!

"Belom juga Abang pegaang!"

"Berisik! Jauh-jauh sono!" Etherland berbalik menepis tangan Francis dari dirinya dengan kedua tangan yang di milikinya, sesaat pria Prancis itu tampak kaget melihat wajahnya…

SYUUTT

Sebelum semua itu berlanjut, tubuh Etherland miring. Ia berusaha menggapai tiang tapi gagal, dan tubuhnya membentur lantai wahana dengan keras tepat ketika permainan itu berhenti.

"Arthurr!"

Meski harus menahan sakit, Etherland tetap berusaha bangkit. Mengabaikan beberapa petugas yang berusaha untuk membantunya. Francis menggandeng Matthew buru-buru hendak mengejar. Sebelum akhirnya mengambil handphone dan menelpon seseorang…


Etherland berlari dan terus berlari, membaur di antara kerumunan. Ia hanya bisa berharap bahwa Kartini ada di sekitar sini. Kepalanya terus berdenyut-denyut. Kostum berat itu semakin memperparah suasana seperti membuat dirinya semakin kepanasan. Cih, ia harus segera melepas kostum laknat ini!

Dalam situasi kalut, serta merta dirinya melesat mencari toilet umum. Sumpah! Ini darurat! Ia udah kebelet tingkat akut, teman-teman!

Perlahan Etherland memperlambat langkahnya, menoleh kebelakang memastikan bahwa tidak ada yang sedang mengejarnya. Bagus, dan sreeet, ia menurunkan resleting kostum yang ada di depan tersebut. Tempatnya sekarang berpijak ini sudah lenggang dari massa. Tak ada yang memperhatikannya, seolah wujud absurd-nya yang berantakan ini tak ada dalam penglihatan mereka. Etherland menarik nafas panjang dan terperanjat kala menyadari bahwa resleting itu macet di tengah jalan, macet lho saudara-saudara! Etherland menghentikan langkah menoleh ke sekitar, kemudian beralih lagi ke resleting yang macet entah kesangkut apa. Brengsek, kenapa macet di bagian sini sih?! Ada yang bisa menolong?

Satu hal lagi yang perlu Etherland pahami adalah ia tidak bisa menuntaskan masalah resleting itu di tengah jalan—orang bisa salah paham.

Oke, sekali lagi Etherland mencoba membetulkannya, sembari berjalan ngalor-ngidul, sesaat ia memperhatikan jalanan—Baik, toilet di sana. Kosentrasi Etherland, kosentrasi.

Selama detik-detik ini mata Etherland tetap fokus pada resleting macet, tanpa sadar dirinya sudah memasuki area toilet berlantai putih tersebut. Suasana benar-benar hening—barangkali semua orang sedang sibuk makan siang dan…

"KYAAA!"

DEG—Etherland terbelalak kaget dan terpaku begitu saja. Masih dengan tangan yang mengutak-atik resleting yang macetnya di sekitar panggulnya tersebut. Kartini yang baru saja keluar dari toilet sama-sama kaget melihat dirinya yang berpose demikian. Barangkali gadis tersebut mengira ada om-om alis tebal berbaju beruang tengah melakukan tindakan asusila alias tidak senonoh di hadapannya. Sementara itu Etherland baru sadar—oke, pembaca budiman, seperti yang terlihat ini…, tokoh utama kita telah salah masuk toilet; masuk ke toilet cewek! Toilet cewek!

Meninjau dari pantulan cermin besar di dekatnya, wujudnya mengerikan—yaah, keliatan dekil dengan lecet dan luka sana sini. Sudah sewajarnya Kartini bereaksi gitu, cowok masuk ke toilet cewek aja pasti udah kaget, ini dengan dandanan abal-abal plus alis abnormal. Hantu beruang dari mana coba?!

"Tu-tunggu! Aku bisa jelaskan semua ini—"

Daripada merasa gembira, Etherland sekarang tampak panik. Kartini bisa salah kaprah atas semua ini. Rencananya bisa berantakan.

"…Apa terjadi sesuatu, Nona?" Seorang petugas setempat menanyakan dari luar dengan suara nyaring, serta merta dirinya menarik gadis itu masuk ke toilet bersama. Suara langkah kaki petugas itu terdengar nyaring—Etherland cuma bisa membekap mulut Kartini untuk diam sementara dirinya berjongkok di atas kloset.

"…Nona?"

Gadis itu memberi isyarat lewat tatapan mata mereka, meski tampaknya tidak mengerti alasan semua ini, ia menurut. Setelah kondisi terkendali, Etherland melepaskan tangannya.

"…Nona? Apa terjadi sesuatu?"Petugas itu kembali bertanya.

"Aku baik-baik saja!"

"Kau di sini?"

Etherland bisa melihat ada sepasang kaki di balik pintu ini. Jantung Etherland berdetak keras, keringatnya semakin deras mengucur…

"Y-Ya…" Gadis itu menatapnya sesaat, menarik senyum kecut.

"Tapi tadi aku mendengar suara jeritan…"

"Itu…"

"Ada apa ini, Herr?"

WHAT THE HEELLL!

Ya Tuhan, katakan ini cuma bohong! Cuma bohong kaaan! Dirinyaa! Dirinya di masa laluuu! Etherland membelalakkan mata. Uratnya bisa putus saking tegangnya.

"Saya mendengar suara gadis menjerit dari sini…"

"Apa?! Hei, Kartini! Kau sungguh baik-baik saja?! Apa ada orang mesum kemari?!" Pintu putih itu di gedor kuat, "Kartini, jawab aku. Kau harus menghajarnya kalau memang benar demikian."

Jangan bilang gitu dooong!

SPLIITT

GDEBUK!

"Bo-Bodoh—" Maki Kartini dengan suara tertahan sembari menahan badan Etherland, pemuda alis tebal yang sedari tadi jongkok tampaknya oleng dan nyaris jatuh. Bisa bahaya kalau orang di balik pintu ini melihat adanya kaki berbulu. Beruntung tubuh berbalut kostum beruang tersebut hanya terantuk dinding toilet dengan keras, yah, meski gaduh…

"Indische! Kau baik-baik saja?! Apa kau pusing?! Kau sakit?"

"Ti, tidak…"

"Keluarlah, Indische!"

Hati Etherland mengerut mendengar dirinya di masa lalu itu memanggil panggilan lama tersebut. Dua orang dalam toilet tersebut hanya saling berpandangan, Kartini tanpa sadar menyentuh tangannya. Etherland merasa kelu untuk berbicara—

"Aku…"

Kartini tak menjawab, menatap Etherland ujung kaki hingga ujung kepala. Tak alam setelah memberi isyarat untuk diam, gadis itu membantunya untuk membetulkan resleting yang macet. Sementara di luar, wujud pria berambut tulip menatap cemas dengan seorang petugas di sampingnya. Sedari tadi ia mendengar krasak-krusuk dari dalam—

"Kartini! Aku benar-benar khawatir, keluarlah!" Ia berseru menggedor pintu, melihat ke bawah sesaat, "Atau ada penyusup ke sini?! Hei, aku hitung mundur dari sekarang!"

….

"Cih," Etherland mendencih, waktunya sungguh mepet. Kali ini ia harus mencopot kostum tersebut sekuat tenaga dengan jongkok sementara di luar sana hitungan sudah mencapai tujuh.

"Cepatlah!" Tekan Kartini, "Gara-gara kau aku jadi terlibat masalah."

"Kalau bukan karena kau aku juga tidak akan sampai kemari dengan kostum laknat seperti ini!" Balas Etherland dengan emosian. Kepalanya pusing.

"Apa?! Apa maksudmu?!"

"Lima—hei! Kau berbicara dengan seseorang, Kartini?!"

4

"…Kau mengerti? Kita harus melakukan ini saat pintunya ku buka."

"Kartini—Tunggu, aku perlu katakan sesuatu—"

"…."

3

2

"Kartini…"

"Aku dengar kok!"

NYEET

ASEM! Etherland merutuk kesal karena dirinya yang kini bergantungan di belakang pintu kejepit, ia harus menahan ini semua—kostum beruang tersebut ia gigit. Kartiniii! Buruan tutup pintunya!

BLAM

BRUGH

"Suara apa itu tadi…?"

"Bukan apa-apa! Kau ini kenapa seenaknya masuk toilet cewek coba?!" Di luar, Kartini tengah mengalihkan perhatian, "Aku kan tidak apa-apa!"

"Bodoh, kau kelamaan dalam kamar mandi. Seolah-olah ada penyusup masuk dan menculikmu!"

Etherland cuma bisa meringis dirinya jatuh ke lantai seperti ini, buru-buru ia mengambil posisi jongkok lagi di kloset. Sebelum orang-orang di luar itu melihat siluet kakinya di lantai.

"Tapi tadi kau seperti berbicara dengan seseorang di dalam sana…"

ORANG-ORANG ITU KAPAN KELUAR DARI SINIII?!

"Ahahahaha, itu cuma makhluk ghaib kenalanku, kok!"

"Eh?!"

"Cuma makhluk jelek yang kukenal beberapa waktu yang lalu! Aku tak menyangka dia berkeliaran di sini, hahahaha."

Perempatan sempat menyembul di pelipis saat Etherland mendengar panggilan 'makhluk jelek', ia ingin protes, tapi bagaimana lagi. Suara-suara di luar perlahan menjauh—menghilang dari jangkau dengar. Ruangan kembali menjadi sepi.

Etherland memandangi kostum beruangnya yang tak lecet lagi dengan hembus nafas lega. Sejenak, ia mengingat kembali sosok Kartini yang .. yah, menyelamatkannya beberapa saat lalu.

Tiba-tiba saja ilusi wajah lembut Kartini berubah menjadi angan-angan kematian yang menyelimuti. Perasaan kalut datang. Waktu kematian Kartini semakin dekat!

Tidak…, ia tidak ingin melihat gadis itu mati lagi. Kenapa tadi aku tak bisa mengatakannya?!

Tanya demi tanya bergelanyut memanasi hatinya, berkali-kali ia memukulkan tangan ke dinding toilet. Ia kesal.

Buru-buru Etherland bangkit kembali dengan kostum beruang di tangannya, ia harus kembali mengejar Kartini!

CLEEK

"Eh?!"

"…."

SIIIIIING

...

"KYAAA! ORANG MESUUUMM!"

Teriakan demi teriakan terdengar heboh dalam toilet. Begitu dia keluar ternyata sudah ada setumpuk cewek di dalamnya. Etherland terkepung!

Tak perlu menunggu waktu lagi sampai akhirnya para cewek itu mengeroyoknya.

"INI KESALAHAAN TEKNIIISS!"

Pesan moral : Perhitungkanlah timing yang tepat(By : Etherland)


Oke, sampai mana kita tadi? Ya, Etherland yang sebelumnya digebukin oleh para ladies juga harus memacu kecepatan bak Eyeshield 21 lantaran dikejar petugas. Suasana sempat ricuh, semua mata memperhatikannya, termasuk Gilbert Beilschmidt dan bocah sok hero yang tengah minum soda di kursi taman (untuk kesekian kalinya).

Sumpah, ia merasa seperti maling dikejar anjing herder! Kakinya sudah pegal, sementara orang-orang itu masih mengejarnya. Akhirnya Etherland melemparkan kostum beruang ke belakang, berharap itu bisa menghambat langkah kaki mereka.

Etherland berbelok, ke sebuah jalanan kecil dengan pohon-pohon rindang. Sambil berlari, ia menoleh sebentar untuk memastikan apakah situasi sudah—

BRUAGH

Ugh! Etherland menabrak seseorang. Tubuhnya jatuh membentur permukaan dengan keras.

"Ma-Maaf…"

Saat bangkit, ia terhenyak menatap sepasang iris cokelat gelap yang memandanginya balik dengan tajam. Foto-foto berhamburan dari tas orang tersebut. Untuk sesaat pemuda yang baru ditabraknya itu terlihat seperti Yao, hanya saja rambutnya dikepang panjang.

Karena tampaknya orang-orang itu tak mengejar lagi, Etherland memutuskan untuk membantu sebentar memunguti barang-barang yang berserakan. Yaah, ini memang salahnya juga sih, jalan tak lihat-lihat…

"Sepertinya kau sudah mengalami banyak hal hari ini." Orang itu membuka percakapan dengan nada sarkatis. Etherland mendongak menatap heran.

"Dari segi penampilanmu, kulihat kau sudah jatuh berkali-kali di sekitar sini. Kau dikejar seseorang dan belum lama ini mengenakan kostum berbulu tebal."

"Bisa kau anggap seperti itu." Balas Etherland dingin, menyusun foto-foto tersebut dengan ekspresi keruh. "Kau sendiri aneh. Untuk apa kau mencetak foto sebanyak ini? Padahal foto-foto sepele seperti ini bisa kau simpan dalam kompu—"

Etherland membeku melihat hasil jepretan di tangannya.

"...Ada apa?"

Foto-foto Kartini? Orang ini…

"Kau tampaknya kaget melihat foto-foto itu, kenalanmu, ya?" Pemuda itu menarik senyum, membuat Etherland makin merasa curiga.

"Kamu…"

"ARTHUURRR!"

Belum sempat Etherland bertanya, Gilbert dan Alfred sudah ada di belakang.

BRENGSEK!

Serta merta dirinya berlari, meninggalkan pemuda berkepang tersebut. Foto yang dirapikannya tadi jatuh berhamburan—ia tak peduli, ia tidak punya banyak waktu lagi. Tapi satu hal yang pasti,

Seseorang…

Seseorang mengawasi gerakan Kartini!

"IGGGYYY!"


Oranye merebak di cakrawala dengan semburat merah dan sapuan awan tipis. Sinar senja menyirami bumi, membentuk siluet pekat di sudut-sudut. Etherland terengah-engah, entah sudah berapa lama, dan berapa kalinya ia main kucing-kucingan. Lelah, lapar, panik, dan khawatir membayang-bayangi Etherland. Ia sudah tak tahu lagi kemana Kartini pergi.

Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Rasa kesal, kecewa, bingung bercampur menjadi satu. Haruskah ia menghentikan usahanya hari ini? Ia tidak…

...

Kini ia berada di antrian bianglala. Etherland harap ini menjadi sesi terakhir kesialannya. Setidaknya, ia tidak ingin Gilbert dan yang lain mengetahui posisinya. Kemudian ia mendongak, menatap bianglala. Yah, lewat ketinggian dan lanskap senja di musim panas, masih ada benih harapan untuknya menemukan sosok Kartini.

Apa harapannya terlalu tinggi?

Ia mengerti bahwa tujuannya kesini adalah segalanya, tapi ia juga harus memperhitungkan taktik juga. Tidak mudah meyakinkah orang di sekitarnya bahwa dia bukanlah Arthur Kirkland. Jangankan itu, apakah Gilbert dan yang lain akan percaya mengenai eksistensi topeng pembalik waktu?

...

Yah, terserah lah.

...

Ngomong-ngomong, siapa fotografer itu ya?

Oh tidak, pikiran Etherland kembali berputar dengan keras. Ia tidak ingat mengenal sosok tersebut. Sedikit mirip Yao, tapi… Apa itu saudara Yao? Untuk apa orang itu mengumpulkan foto Kartini? Oke, oke, ia akui saja Kartini itu cantik sehingga memiliki banyak penggemar, tapi firasatnya mengatakan bahwa tujuan orang itu bukan sekedar memotret.

Etherland memijit-mijit dahi. Sial, siapa sih?! Ada ya orang seperti itu? Kenapa...

BLAM

Pintu bianglala di tutup, menyadarkan Etherland dari renungan dan spekulasinya. Sesaat ia mengalihkan pandangan ke depan—dan seketika matanya membeliak lebar.

"Mon cheer~!"

Sebuah pelukan ia terima, tepat ketika bianglala mulai berjalan.

"Kau benar-benar membuat kami semua cemas! Kami seperti petugas kebun binatang yang memburu monyet lepas kandang keliling wahana seharian! Kenapa lib—"

"Matthew! Apa kau baik-baik saja?" Etherland mengalihkan pembicaraan, masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Francis. "Kau…tidak di apa-apa kan oleh orang ini kan?"

"Mon Dieu! Teganya! Harusnya kau mencemaskan Abang, dong. Aku dengan penuh ketulusan menjaga Matthew. Harusnya kau membayar ini dengan—"

". Bisakah kau melepaskanku?" Tegur Etherland dengan risih.

"Tak apa, dengan begini kau tak akan kabur. Lagipula Lukas…."

"Urat malumu sudah putus ya? Jangan memperlihatkan hal mesum seperti ini di depan anak kecil!"

"Honhonhon, Arthur jadi semakin manis ya~"

"Francis!" Seru Etherland dengan emosi, "Apapun yang ingin kau katakan, bisakah kau melepaskanku?! Aku benar-benar kesulitan bernafas—ugh!"

"Oke, oke,"Francis menyudahi guyonan tak menyenangkan itu dan duduk di sebelahnya, "Ngomong-ngomong kenapa kau tidak menjawab telepon kami?"

"Aku sibuk."

"Sibuk?" Tangan Francis mulai menyentuh saku celana Etherland untuk mencari handphone, yang tentu saja membuat tokoh utama kita menepisnya dengan kasar, "Aku sibukk!"

"Sibuk aja apa sibuk banget?"

.Krik

Francis harus menelan kekalahannya dalam membuat lawakan bagus untuk pemuda beralis tebal tersebut. Dia sama sekali tak tersentuh oleh humor abang Francis!

"Hei," Francis kembali berucap, "kalau kau bahkan tidak mengangkat telepon kami…"

"Berarti kau juga tidak mengangkat telepon pembunuh itu?"

...

"Apa?"


Sepasang manusia itu berjalan di sebuah jalanan yang lenggang, sesekali diselingi oleh percakapan singkat dan lekukan senyum. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat sutera hitam itu mengombak indah dalam nuansa senja.

Dalam sekilas pandangannya, yang gadis itu lihat adalah seorang pemuda Asia yang tengah memotret alam sekitar, memotret taman-taman…

Tanpa sadar bahwa sepasang manik cokelat gelap itu menatapnya intens dari arah belakang.


"Mon cheer~! Aku sudah dapatkan dia!"

Tak terasa sudah hampir malam saat Francis menelpon rekan-rekan sejawatnya, mengabari dengan bangga, seolah berhasil makhluk paling langka di muka bumi. Etherland merasa risih, Matthew juga tak melakukan hal banyak. Suasana macam apa ini?

Di atas semua itu, ia tak berhasil bicara dengan Kartini. Sepertinya ia beneran digandeng oleh makhluk mesum ini bagaikan binatang peliharaan yang manis. Ia lapar, ia muak dan ia kecewa. Tubuhnya terasa kosong, hanya ada api kekesalan yang memercik membakar dunianya. Buru-buru dirinya melepaskan diri dari rangkulan Francis dan menatap tajam pemuda berjanggut tersebut,

"Jauh-jauh dariku, dasar mesum! Aku bisa jalan sendiri!"

"Oy. Hey…Arthur!Hoi!"

Etherland telah mengambil langkah duluan meninggalkan Francis, menghentakan kakinya dengan sebal. Haaah, ia harus memikirkan bagaimana memberikan alasan logis pada semuanya. Lalu, ia masih setengah tidak percaya bahwa pembunuh itu benar mengatakan bahwa ia telah melukai Lukas dan yang lain.

Pembunuhan ya…

Mendadak Etherland tersadar, kenapa ia tidak terpikir ini sejak dulu, ya?

Kenapa Kartini harus di bunuh? Dirampok juga nggak, diculik apalagi. Sepengetahuan dirinya, Kartini tidak memiliki masalah dengan orang lain…

Tapi bagaimana…

Eh.

Etherland menghentikan langkah, tertegun mendapati gadis itu ternyata ada dalam jarak tak jauh darinya. Etherland menoleh kebelakang, Francis dan Matthew tampak mengejar-ngejarnya, tanpa berpikir panjang dirinya menepikan diri ke sebuah gang kecil yang gelap. Dua orang tersebut berlari melewati gang kecil tempatnya bersembunyi dan berbelok ke arah lain. Untuk sesaat dirinya menghela nafas lega.

"Iggy~~!" Suara itu membuatnya terkejut. Diluar dugaan, Alfred datang mendekat, bocah itu berlari dalam gang sempit tersebut, "Aku tersesat nih dari Gilbert~~tahu-tahu aku ada di sini. Sumpah ya, nggak elit banget hero macam diriku ini nyasar ke gang sempit beginian, hahahahahahaha!"

"Berisik!"Tegur Etherland dengan wajah kusut.

"…Kenapa sih?"Alfred mengernyitkan dahi merengut, tampak tak suka saat dirinya di tegur dengan nada kasar begitu, Etherland tak menatap Alfred, pandangannya hanya fokus di luar gang. Bocah Amerika tersebut jadi penasaran dan ikut-ikutan melongo keluar, ia bisa melihat gadis berambut hitam berhenti di tengah jalan mengobrol dengan orang-orang.

"…Loh? Itu kan cewek yang kau kejar-kejar? Kenapa…"

"SHHH!"

Etherland membekap mulutnya untuk diam, Etherland menyipitkan mata kala melihat si fotografer itu berjalan melalui dirinya. Pemuda misterius itu lagi-lagi mengambil gambar Kartini, lagi, dan lagi tanpa di sadari oleh cewek Indonesia tersebut. Cih, siapa sih sebenarnya orang itu?!

Pemuda asia tersebut kemudian mengeluarkan handphone-nya. Menelpon seseorang dengan ekspresi dingin. Percakapan itu tak bisa di dengar oleh Etherland, dirinya jadi makin cemas.

Sampai ketika hari semakin gelap, Etherland menatap orang itu dengan intens. Tampaknya pemuda itu sudah selesai membuntuti Kartini. Gadis itu sudah pergi. Lenyap dari batas pandangan Etherland.

Ada seringai yang terlukis sesaat di wajah itu, membuat Etherland berjengit ngeri. Apapun yang di perbincangkan orang itu…Itu pasti bukan sesuatu yang biasa.

Etherland makin cemas. Bagaimana kalau orang itu yang merencanakan kematian Kartini? Bagaimana kalau dia? Bagaimana kalau ternyata…

DEG

DEG

Kalau ternyata orang itu…


Rembulan menggantung di cakrawala dalam tirai bermanik yang membentuk rasi bintang. Lampu-lampu bangunan memancar bagaikan kunang-kunang di malam hari. Beberapa kendaraan melintas dan hidup masih di katakan aktif dari banyaknya lalu lalang manusia di trotoar. Teratur. Rapi. Kanal-kanal pun tampak menikmati kehidupan malam yang tampak selaras.

Pemuda itu menyudahi pekerjaannya dalam kantor, mengemasi barang-barang di mejanya yang di penuhi oleh hiasan dan oleh-oleh unik dan terkesan esentrik. Ia menegak habis kopinya yang tersisa dan berjalan enteng dengan kunci mobil di tasnya. Sesaat ia mengecek handphone-nya, tanpa menghilangkan senyum semangat yang tergambar di wajah. Sejenak ia mempertimbangkan apakah ia akan mampir sebentar ke coffeshop? Ini masih tak begitu larut, rekan-rekannya juga masih ada yang bekerja lembur.

Hingga tak terasa ia sampai ke parkiran. Suasana benar-benar sunyi. Ia tak mendapati siapapun di sana.

Ketika ia berada hitungan langkah menuju mobilnya semakin menipis, sebuah tangan menepuk bahunya, begitu dingin… dan cepat.

"Hello, Aussie."

Ia tidak pernah menyangka bahwa petualangan ini telah mengarah ke sesuatu yang lebih jauh, sesuatu yang tak pernah ia pikirkan…Ini bukan hanya soal nyawa Kartini. Ini menyangkut sebuah rahasia, hal yang tak pernah ia ketahui,

sebuah misteri.


Disc 003-002 : Kejar dan Dikejar!


Reich Corner

+Play : The Real You – Unwound+

Yoossh~~Sebelumnya izinkan daku meminta maaf atas keterlambatan dalam hal mengupdate fict ini. Maaf membuat kalian semua menunggu(hahahaha) Beberapa waktu lalu daku banyak kelibat masalah, termasuk masalah kesehatan#poor

Dan mungkin author kena kualat bikin Etherland di chapter sebelumnya kena detensi mengerikan bang Roderich, yeah, author mengalami hal yang serupa:huhuhuhu:*buka aib*

Ehem, maaf curcol nggak penting barusan. Bagaimana dengan part yang baru ini? Apakah memuaskan? Atau kurang? Garing? Gaje? Abal? =w= maafkan dakuu~~/\

Dan tampaknya hubungan antara BTT-Alfred-Matthew-Etherland jadi lebih akrab~~hohohoho, ngomong-ngomong latarnya ancur ya? Daku kurang riset(banget) pasalnya semenjak masalah keluarga terjadi daku nggak bisa berkonek ria dengan internet selancar dan seluwes sebelumnya TT_TT mohon pengertiannya*bletak

Silahkan, bagi Anda sekalian yang ingin mengeluarkan uneg-uneg seputar fict ini~~Author muda ini masih perlu bimbingan dan arahan supaya bisa menghasilkan karya yang lebih bermutu dan bagus dari yang sekarang. Daku harap ini bisa menghibur kalian semua ^^

Akhir kata, terima kasih kepada kalian semua, yang telah berkenan membaca, memberikan review, ataupun mendukung fict ini. Kita ketemu lagi di chapter selanjutnya!

Sign

Reich