Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Forest Of Death © Kithara Blue

Warning : Typo, OOC, weird story, AU, ect.

Pairing : Sasuke X Sakura

Rated : T

Genre: Adventure, Mystery, Tragedy, and Horror


Summary : Sasuke, Sakura dan Naruto yang terjebak dalam penelitian mereka di hutan Konoha yang dikenal dengan "Forest Of Death", dan harus dihadapkan dengan penduduk asli hutan itu yang membawa mereka pada jurang kematian. Disini mereka akan berjuang untuk keluar dari hutan yang berusaha merenggut nyawa mereka. Apakah mereka akan berhasil?

Don't Like? Don't Read

~Yosh! Happy Reading Minna-san

Hope you like it :D And Don't Forget to Review, Ok?

~oo000oo~

Salah satu fic untuk Challenge 24 Hour 10 Fic

Forest Of Death

(1/10)

.

.

Suigetsu mengikuti mereka dari awal. Tampak seringai licik di wajahnya, kemudian dia bersembunyi dibalik pohon. Dia tertawa kecil kemudian mengalihkan pandangannya kearah Sakura dan Karin di balik pohon. Seketika matanya terbelalak melihat makhluk yang bergantung dipohon tempatnya bersembunyi, menatapnya penuh rasa kelaparan.

"Aaaaa.." suara Suigetsu seketika menggema bersama burung-burung yang meninggalkan dahan pohon menimbulkan suara berisik dihutan tersebut.

.

.

.

Suara teriakan seseorang menggema di hutan belantara itu bersama gemerisik pepohonan dan kepakan sayap burung yang meninggalkan dahan. Angin menderu persekian detik mengisi keheningan saat keterkejutan melanda semua orang yang mendengar teriakan tadi.

Semua mengenal suara familiar itu. Mereka reflek saling memandang dan kemudian dengan sigap berlari kearah suara yang ada.

Sasuke menelisik setiap sudut daerah yang dilihatnya. Gotcha! Disana, dibawah pohon besar terdapat darah berceceran. Naruto mendekat kearah sang pemimpin penelitian ini.

"Ada apa, Teme? Kau terlihat..." Sasuke tidak menyahut barang sedikit pun. Naruto melihat kearah pandangan Sasuke dimana darah berceceran. Firasat buruk menyergap keseluruh anggota team. Sasuke sudah kembali meneliti keadaan sekitar. Mencari tahu apa yang terjadi, mungkin ada petunjuk yang tertinggal.

"Kyaaaa..."

"Ah, apa lagi sekarang?" Batin Naruto kesal.

Shikamaru dan Sai sekarang yang sudah berlari duluan. Tidak jauh dari pohon besar itu ada sebuah sungai kecil. Yang dilihat Sai pertama adalah Ino yang menangis dipelukan Sakura, sedangkan Sakura sudah seperti orang yang merenggang nyawa. Mulutnya terkatup, sedangkan matanya seakan berteriak betapa menakutkan hutan ini.

Shikamaru berjalan cepat kearah seonggok kaki yang berlumur darah. Hanya satu.

Deg.. Deg.. Deg.. Dia tidak pernah merasa setakut ini. Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?

Semua menahan nafas melihat potongan kaki. Darah segar berceceran dan betapa sangat mengerikan saat mereka mengetahui bahwa di kaki itu melekat sepotong kain celana yang telah compang-camping dan berlumur darah itu adalah milik orang yang mereka kenal.

"Apa yang terjadi? Suigetsu, apa ini salah satu tipuan bodohmu?" batin Shikamaru mendecak.

Dor.. Dor.. Dor..

Belum sempat semua mampu mencerna apa yang baru terjadi, suara tembakan telah memecah keheningan.

Dor.. Dor.. Dor..

Sekali lagi Sasuke menghantamkan pelurunya ke tubuh makhluk besar dengan bulu hitam yang melekat ditubuhnya. Makhluk itu menatapnya garang dengan penuh hasrat membunuh dengan matanya yang merah. Makhluk itu meraung berkali-kali menjauh, melompat dari dahan satu ke dahan lain. Didadanya sudah bersarang peluru yang ditembakan Sasuke. Sasuke berjalan mundur, tangannya bergetar saat mengisi pelurunya.

"Bodoh." Umpat Sasuke, dia menjatuhkan pelurunya, tangannya terlalu licin dan tidak bisa dikendalikan. Dia tidak takut tapi tangannya terus bergemetar sejak tadi melihat kepala Suigetsu ditangan makhluk itu.

"Arrgghhh..." Makhluk itu kembali bersuara dan menunjukkan taringnya yang siap menerkam Sasuke dengan ancang-ancang tubuhnya yang akan melompat. Dia melompat ke arah Sasuke...

Clek. Tak. Tak.

Sasuke selesai memasang peluru, dengan sigap mengarahkan pistolnya kearah makhluk yang sudah melompat kearahnya. Sangat dekat. Permainan siapa tercepat. Sedikit lagi kuku makhluk itu akan menerkam dan mengoyak tubuh Sasuke.

Dor.. Peluru tunggal menyelamatkan nyawa Sasuke kali ini.

"Hosh.. hosh.. Kau tidak apa-apa, Teme?" Peluru Naruto tepat mengenai kepala makhluk itu. Sasuke melirik kearah orang yang telah mennyelamatkan nyawanya. Sedikit lagi, padahal tadi makhluk itu hampir saja mengoyak tubuhnya. Dia kalah cepat dan berkat Naruto kali ini nyawanya selamat.

"Hn.." Acuh Sasuke kemudian menatap kembali ke makhluk yang telah mati itu, tangannya masih memegang kepala Suigetsu denagn kuat. Sasuke mendekat kemudian menelaah tubuh makhluk asing ini. Baru kali ini dia melihat makhluk yang begitu memiliki hasrat membunuh, lain dari hasrat memangsa binatang lainnya. Dia masih ingat tatapan matanya. Makhluk itu menyerupai manusia hanya saja lebih besar, dan badannya berbulu lebat, matanya berwarna merah dan mempunyai taring tajam.

"A.. Apa yang ditangannya itu?" Naruto tidak percaya apa yang dilihatnya. Sebuah kepala? Tidak mungkin. Bahkan anggota lain yang melihat kepala Suigetsu yang berlumur darah dan lehernya masih mengucurkan darah segar lalu matanya melotot ketakutan, raut wajahnya seakan menahan teriakan dan kesakitan.

"INI GILA!" bentak Karin, airmatanya sudah menganak sungai. "Lelucon apa ini? Aku sampai ingin muntah, hei!" Karin meracau tak jelas menatap tidak percaya apa yang terjadi dengan Suigetsu. Semua menatap Karin yang semakin meracau, dia tersenyum kemudian menangis. Apa yang bisa dipercayanya? Kematian Suigetsu?

"Bodoh! Ini tidak lucu, Keparat! Mana Suigetsu?" Karin tiba-tiba ambruk ketika Hidan sudah disampingnya. Semua masih menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi. Sebuah bukti bahwa kematian menunggu mereka di hutan ini. Apakah ini sudah mampu menjelaskan misteri hilangnya Juugo?

Seribu pertanyaan menguap di otak Sasuke. Matanya menemukan sesosok Sakura, gadisnya bersimpuh menatap kosong makhluk yang mengenggam kepala Suigetsu. Ini kejutan mengerikan yang diberikan alam kepadanya. Bukankah selama ini Sakura mencintai alam, hutan, pertualangan? Lalu ada apa dengan semua ini?

.

.

.

"Professor.. Professor Jiraya.." Kiba berlari kearah lelaki tua yang sibuk dengan berkas yang dibacanya sambil berjalan terburu-buru kearah lift yang terbuka. Kiba berlari menuju pintu lift yang akan tertutup dan kemudian menahannya sedikit agar dia bisa memasuki lift.

"Kiba?"

"Selamat siang, Professor." Sapa ramah Kiba.

"Ya, siang. Ada apa? Sepertinya ada yang mengganggumu, Kiba." Jiraya melirik sekilas Kiba dari sudut matanya. Kegelisahan tampak jelas tergambar dari mimik muka yang dipancarkan Kiba siang ini dan raut ini tertangkap dengan jelas dan mudah tentunya dari seorang Professor seperti Jiraya.

"Err.. Professor. Anda tahu tentang penelitian yang diikuti oleh Naruto?" tanya Kiba dengan ragu. Jiraya menatap sekilas mata Kiba, kemudian dia menghela nafas dan menutup dokumen yang dibacanya tadi.

"Jika kau mencemaskan tentang mitos hutan itu, kau tidak perlu repot-repot. Bukankah beberapa hari ini belum ada kabar yang mencemaskan?"

"T.. tapi, Professor. Anda tau sendirikan..."

"Ya, aku tau dengan jelas. Jika terjadi sesuatu, aku akan bertindak! Tenanglah.. Sepupu bodohmu itu akan baik-baik saja. Kita sangat membutuhkan obat itu Kiba, kau mengerti?" Tanya Jiraya yang dibalas anggukan Kiba, yang kemudian Jiraya berlalu setelah pintu lift pun terbuka.

"Iya, aku yakin Naruto akan baik-baik saja, tapi aku tidak yakin dengan Karin. Hutan itu sama saja dengan jembatan kematian. Aku punya firasat buruk tentang ini, Professor." Batin Kiba sudah merasakan hal yang tidak beres terjadi. Hutan Konoha dengan mitos mengerikan namun disanalah tersimpan obat untuk kehidupan. Cukup adil, bukan? Semua membutuhkan bayaran yang pantas. Nyawa dan Kehidupan.

.

.

.

TBC

.

.

Author's place..

Emmm.. Saya tidak tau ingin berkata apa, mungkin jika ada yang berfikir ini fic gore keterlaluan, maafkan saya. Saya termasuk orang yang menyukai beberapa hal seperti ini.. hehehe.. jadi bawa enjoy sajalah ya xD

Err... Special thanks for :

Berlian Cahyadi, SRZ, , rexyrajak, Sakurai harumika,

Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca, saya menghargai waktu anda :)

And please respect me with your review or concrit, don't just silent :)