Ehm, halo minna ^^ anggi kembali dengan chapter 2 dari fic abal anggi -,- dan ehm, maaf beribu maaf untuk akbar123 dan Kara-chan karena updatenya meleset dari waktu yang pernah saya bilang. Soalnya saya sedang sibuk-sibuknya ngurus pendaftaran SMA. Maafkanlah author gaje ini, huhuhu.

okesip, itu aja, mari kita mulai ceritanya *jengjeng

.

.

Disclaimer: Walaupun Sasori tuh calon suami Anggi *ditimpuk massa*, tetep aja Sasori dan karakter di Naruto tuh punyanya om Masashi Kishimoto

.

.

Warning: Abal, Gaje, Alur Membingungkan, OOC, Eyd Kacau, Typo(S), Banyak Lah Kekurangannya

.

.

Summary: Dia adalah gadis aneh yang sangat menyukai gelembung yang bersembunyi di balik topeng dinginnya. "Percayalah aku tidak pernah menganggapmu aneh…"/ "Aku ingin menjadi gelembung karena…"/ "Bangun, jangan tinggalkan aku…" / "Aishiteru…"

.

.

Bubbles and Dandelion

By: AkasunaAnggi

Rate: T

Pairing: SasoSaku

Happy reading, Don't like don't read

.

.

Siang itu di depan pintu gerbang KHS, walaupun matahari bersinar dengan penuh semangat sehingga membuat suhu terasa menyengat, seorang pemuda tetap terlihat berlari tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. Ternyata, pemuda yang bernama Sasori tersebut sedang mengejar seorang gadis berambut pink yang memakai seragam serupa dengannya yang kita ketahui bernama Sakura.

"Sakura, tunggu" teriak Sasori pada Sakura yang berlari. Ada apa sebenarnya? Mari kita lihat kejadian beberapa menit lalu.

-Flashback on-

Bel tanda pulang baru saja berbunyi di KHS sehingga seluruh siswa pun mengemasi perlengkapan mereka dan berjalan keluar. Tidak terkecuali Sakura. Dia membereskan seluruh peralatan sekolahnya. Setelah selesai, dia pun berjalan keluar kelasnya. Namun, sebelum dia melangkahkan kakinya keluar, Sakura sudah dihadang oleh Karin dan 2 temannya, Tayuya dan Shion.

"Heh Haruno gila, kenapa kau mendekati Sasori-kun kami, hah?!" bentak Karin pada Sakura. Sedangkan Sakura hanya diam.

"Kalau ditanya, dijawab!" kali ini, Tayuya yang membentak Sakura. Namun, Sakura masih diam dan hanya menatap mereka dengan tatapan dinginnya. Karin pun mulai emosi karena merasa diabaikan. Dia pun menjambak rambut Sakura. Sedangkan Sakura masih diam, bahkan meringis kesakitan pun tidak. Melihat itu, Karin pun melepaskan jambakannya pada rambut Sakura dan kemudian menampar Sakura.

"Heh Haruno gila! Mau apa lagi kau mendekati Sasori-kun? Tidak cukupkah kau telah merebut membunuh Sasuke-kun kami?" bentak Karin lagi dengan nada yang lebih tinggi. Kali ini Sakura menatap Karin dengan tatapan membunuh yang membuat Karin cs bergidik takut. Dan kemudian-

PLAAK…

Sakura menampar Karin dengan kuat.

"Sekali lagi kau berkata begitu, aku tidak segan-segan membunuhmu!" ancam Sakura. Namun, bukannya takut, Karin malah semakin menjadi-jadi.

"Namun benar bukan, kau yang telah membunuhnya? Kalau saja kau tidak mengejar gelembung bodoh itu, Sasuke-kun tidak akan mengorbankan dirinya untukmu. Cih, tidakkah dia tahu betapa sia-sianya perbuatannya saat itu?!" cibir Karin yang membuat sakura tertegun sejenak.

"Itu bukan urusanmu" kata Sakura dengan dingin dan penuh penekanan. Kemudian ia pun berjalan menjauhi Karin cs. Mereka sama sekali tidak sadar kalau sepasang mata hazel menatap mereka sedari tadi.

-Sasori PoV-

Apa? Jadi Sakura adalah mantan kekasih mendiang Sasuke. Hei, tunggu sebentar. Niatku ke sini kan ingin mengajak Sakura pulang bersama. Hah, gara-gara nenek lampir ini gagal deh rencanaku. Loh, kenapa bahu Sakura agak bergetar seperti menahan tangisan. Dan hei, kenapa ia berlari? Mungkinkah, dia sedih dengan perkataan nenek lampir ini? Baiklah, kususul saja dia.

-Normal PoV-

-Flashback off-

Ketika keluar dari lingkungan sekolah, Sakura pun segera berlari. Air matanya tidak bias terbendung lagi. Untunglah para siswa sudah banyak yang pulang sehingga tidak ada yang melihatnya menangis. Dia pun mengarahkan kakinya ke sebuah taman kecil tersembunyi yang dulu ditemukannya bersama Sasuke. Ia terus berlari tanpa menyadari kalau Sasori mengejarnya dari belakang. Sesampainya di sana, Sakura langsung bersandar di sebuah pohon dan mendongakkan wajahnya ke atas.

"Sasuke-kun, apakah menurutmu menyelamatkanku adalah suati kesia-siaan belakang? Kenapa Sasuke-kun? Kenapa tidak kau biarkan saja aku mati saat itu? Padahal walau bagaimana pun aku tetap akan segera meninggalkan dunia ini." Kata Sakura dengan sebuah bisikan parau dan sebuah senyuman pilu dan kemudian ia pun menangis dengan terisak-isak. Sedangkan Sasori yang sedari Sakura berbicara hanya bersembunyi di balik pohon pun merasa sangat sakit mendengar gadis yang dicintainya itu menangis. Ia pun keluar dan menarik Sakura ke dalam pelukannya dan mengelus pelan rambut Sakura. Sementara Sakura tidak memberontak karena ia memang tidak sanggup dan di satu sisi ia merasakan kehangatan seperti yang ia rasakan bersama Sasuke dulu. Ia hanya menangis di dalam dekapan Sasori. Sasori pun tidak keberatan dengan air mata Sakura yang membasahi seragam sekolahnya.

"Sudahlah, jangan menangis lagi, dia pun tidak akan suka melihatmu seperti ini. Dan aku yakin dia tidak akan merasa kalau menyelamatkanmu adalah suatu kesia-siaan" ucap Sasori pelan. Jujur, ia tidak tahu sama sekali mengenai peristiwa yang disinggung oleh Karin sehingga Sakura yang terkenal dingin ini bisa menangis. Namun karena otaknya yang jenius dan kecermatannya dalam menguping tadi, ia dapat menyimpulkan kalau sepertinya mendiang Sasuke dulu meninggal karena menyelamatkan Sakura. Yah, dia memang kurang tahu sih, karena Sasori memang bukan tipe orang yang peduli dengan berita-berita dan gossip-gosip di sekolah. Yang ia ketahui hanya berita kalau Sasuke meninggal, selebihnya, tidak ia pedulikan. Namun, sepertinya ia akan bertanya lebih lanjut mengenai kematian Sasuke kepada Deidara.

Kemudian tangisan Sakura pun mulai reda dan Sasori melepaskan dekapannya. Kemudian ia pun mengusap sisa air mata di pipi Sakura. Sedangkan Sakura hanya terdiam dengan pipi yang agak memerah.

"Jangan pernah menangisi kepergian seseorang, Sakura. Karena yakinlah kalau orang itu tidak akan senang melihat seseorang yang disayanginya bersedih" kata Sasori sambil menatap Sakura dengan lembut. 'Aku pun begitu' tambahnya dalam hati. Sedangkan Sakura hanya mengangguk pelan.

"Arigatou, Sasori" ucap Sakura pelan dan tersenyum tulus yang membuat wajah Sasori agak memanas.

"Sa-sama-sama Sakura" Ucap Sasori disertai sebuah senyuman lembut. Sedangkan Sakura tertegun ketika melihat senyuman Sasori. 'Kenapa melihatnya tersenyum seperti itu membuatku merasa hangat seperti ketika Sasuke-kun tersenyum padaku?' inner Sakura. Kemudian mereka berdua pun duduk di bawah pohon tadi.

"Nah, Sakura. Mulai sekarang aku adalah temanmu. Jadi ceritakanlah semuanya padaku. Jangan pendam sendirian. Ada aku di sini" kata Sasori sehingga membuat pipi Sakura memerah (lagi) ketika mendengar kalimat terakhir dari Sasori. 'Ada aku di sini'.

-Flashback-

Di sebuah taman bermain, terlihat seorang anak kecil berambut soft pink yang kira-kira masih berusia 7 tahun. Pipi gadis kecil itu telah basah karena air mata yang terus mengalir dari matanya.

"Kaa…Kaa-san…hiks…Kaa-san" teriak gadis kecil itu yang ternyata bernama Sakura. Sakura kecil tersesat di taman bermain yang luas dan ramai hari itu. Tadi ia sedang mengejar sebuah gelembung tanpa menyadari kalau ia sudah terpisah dengan ibunya. Ia terus memanggil-manggil ibunya dengan suara yang mulai serak. Namun, entah mengapa tidak ada yang berniat membantu gadis kecil itu. Karena putus asa, Sakura pun duduk di sebuah bangku dan menangkupkan kedua tangannya di pipi chubby-nya sembari terus menangis. Tiba-tiba datang seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya. Anak laki-laki itu menatap Sakura datar. Kemudian ia pun menghampiri Sakura dan menyingkirkan tangan Sakura dari wajah imut yang beruraian air mata itu.

"Kau kenapa?" Tanya anak laki-laki itu dengan nada datar walaupun terdapat kekhawatiran dan perhatian di balik nada datarnya.

"Hiks…a-aku terpisah dari…Hiks…Kaa-san ka-karena mengejar gelembung…Hiks" jawab Sakura pelan dan masih terisak-isak. Tanpa disangka, anak laki-laki itu memeluk Sakura dengan lembut.

"Tenanglah, jangan menangis! Ada aku di sini" kata anak itu sembari mengelus pelan kepala Sakura. Biasanya, jika ia menangis Kaa-san nya akan memperlakukannya seperti ini, karena itulah anak laki-laki tersebut melakukan hal itu. Sedangkan Sakura pun mulai tenang dan tidak terisak-isak lagi.

"Ayo kubantu mencari Kaa-san mu" kata anak laki-laki itu setelah ia melepaskan pelukannya. Sakura pun tersenyum lebar saat mengetahui anak di depannya akan membantunya. Ia pun mengangguk antusias.

"Kau mau? Arigatou, eer- siapa namamu?" Tanya Sakura pada anak itu. Setelah Sakura perhatikan, anak di depannya memiliki model rambut yang aneh. Mirip sekali dengan pantat ayam.

"Sasuke, Uchiha Sasuke. Kau?"

"Aku Haruno Sakura, salam kenal Sasuke-kun." Ucap Sakura dengan senyuman yang lebar sehingga Sasuke kecil pun blushing ketika melihatnya.

"Sekarang, ayo kita ke tempat Kaa-san ku, dia pasti bisa membantu kita" kata Sasuke seraya menarik pelan tangan kecil Sakura. Sedangkan Sakura hanya mengikuti Sasuke. Mereka pun sampai di sebuah bangku dimana duduk seorang wanita dengan rambut sewarna dengan Sasuke.

"Eh, kau sudah kembali Sasuke? Bukankah katamu kau mau naik wahana-wahana di sana?" Tanya wanita itu yang sepertinya adalah ibu Sasuke. Kemudian matanya pun menangkap sosok Sakura yang berdiri dengan malu-malu di belakang Sasuke.

"Dia siapa Sasuke? Apakah dia temanmu?" Tanyanya lagi kepada Sasuke.

"Tadinya Sasuke mau main wahana-wahana itu, tapi Sasuke lihat Sakura sedang nangis di bangku sana, jadi Sasuke hampiri. Rupanya Sakura terpisah dengan Kaa-san nya, jadi Sasuke bawa ke sini saja." Jelas Sasuke panjang lebar. Sedangkan Mikoto-ibunya Sasuke- hanya mengangguk.

"Jadi, siapa namamu anak manis?" tanyanya dengan senyum lembut pada Sakura.

"Ha-haruno Sakura" jawab Sakura kecil dengan malu-malu.

"Haruno? Apakah ibumu bernama Haruno Mebuki?" Tanya Mikoto lagi yang dijawab dengan anggukan antusias dari Sakura.

"Hm, aku tau siapa ibumu. Tunggu sebentar ya" Kata Mikoto dengan senyuman lagi dan kemudian mengeluarkan sebuah handphone dan menelepon seseorang. Lalu ia kembali menatap kea rah Sakura dan tersenyum.

"Ibumu sudah menunggumu di meja pusat informasi, ayo bibi antar kesana" kata Mikoto. Dia pun meraih tangan Sakura. Dan Sakura pun meraih tangan Sasuke. Kemudian mereka bertiga pun berjalan menuju meja pusat. Setelah berjalan beberapa saat, mereka pun sampai. Di meja pusat informasi itu terlihat seorang wanita berambut senada dengan Sakura. Sakura kecil pun langsung berlari dan memeluk wanita yang ternyata ibunya itu.

"Hiks…Sakura minta maaf Kaa-san…hiks…Saku janji gak akan jauh-jauh dari Kaa-san" kata Sakura di dalam pelukan Mebuki.

"Tak apa Saku-chan" Kata Mebuki seraya mengelus pelan surai merah muda milik Sakura. Kemudian ia pun mengarahkan pandangannya ke arah Mikoto dan Sasuke.

"Arigatou Mikoto" kata Mebuki dan ia pun membungkuk pelan.

"Aah, tak apa Mebuki. Kita adalah sahabat, tak usah sungkan" kata Mikoto. Kemudian mereka berempat pun pergi ke sebuah café dan mengobrol sampai sore di café itu. Kemudian Mikoto mengantar Mebuki dan Sakura pulang. Sesampainya di rumah Sakura, Sakura dan ibunya pun turun. Tetapi kemudian Sasuke ikut turun. Dia pun menghampiri Sakura dan kemudian memeluk Sakura.

"Mulai hari ini kita adalah teman, jadi Sasuke akan selalu menjaga dan melindungi Sakura-chan. Jadi Sakura-chan tidak usah menangis lagi kalau terjadi sesuatu. Ada aku di sini" Kata Sasuke setelah melepas pelukannya. Sedangkan kedua orang dewasa yang hanya menonton itu pun tersenyum senang. Kemudian Mikoto dan Sasuke pun pulang.

Mulai hari itu, Sasuke selalu menjaga Sakura dan membantu Sakura. Misalnya saat Sakura menangis karena warna rambutnya diejek oleh beberapa anak di taman bermain, Sasuke akan datang dan mengusir anak-anak itu dan kemudian memeluk Sakura yang menangis seraya terus mengatakan kata-kata 'Tak apa, Ada aku di sini'

'Ada aku di sini'

'Ada aku di sini'

'Ada aku di sini'

-Flashback off-

"Ra…Sakura…" Sakura pun mengedipkan matanya dua kali. Sedangkan Sasori menatapnya heran.

"Eh, gomen Sasori" Kata Sakura singkat.

"Apa yang kau lamunkan?" Tanya Sasori.

"Ah, tidak ada" kilah Sakura dengan cepat dan Sasori pun hanya mengangkat kedua bahunya.

"Kalau kau punya masalah, ceritakan saja padaku, Sakura" Ucap Sasori dan dibalas dengan anggukan dari Sakura. Kemudian mereka pun duduk dalam hening, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Sudah sore, ayo kuantar kau pulang" Kata Sasori memecahkan keheningan.

"Tidak perlu, Sasori. Aku bisa pulang sendiri" tolak Sakura. Namun, Sasori tidak menerima penolakan Sakura.

"Aku tidak menerima penolakan, Sakura" tegas Sasori. Sedangkan Sakura hanya menghela nafas. 'Hah, dia keras kepala seperti Sasuke-kun dulu. Eh, kenapa aku membanding-bandingkan mereka? Ah sudahlah.' Inner Sakura. Dan Sakura pun hanya mengangguk. Lalu, Sasori pun bangkit dari duduknya dan membantu Sakura untuk berdiri. Mereka pun berjalan dalam keheningan (lagi) sampai mereka tiba di depan rumah Sakura.

"Arigatou, Sasori" kata Sakura dan ber-ojigi singkat. Sedangkan Sasori hanya tersenyum tipis dan mengelus pelan kepala Sakura yang membuat hati dan pipi Sakura menghangat.

"Tidak usah seperti itu, Sakura. Santai saja" ucap Sasori. Dan kemudian Sakura pun melangkahkan kakinya ke arah pintu rumahnya dan melambai pada Sasori.

"Jaa Sasori-kun" kata Sakura. Dan ketika menyadari panggilannya untuk Sasori, dia langsung masuk dan menutup pintunya dan kemudian menutup mulutnya. 'Ah, bagaimana mungkin aku memanggilnya dengan suffix –kun! Hah, sudahlah' batin Sakura. Sasori yang berada di luar pun hanya tersenyum geli melihat tingkah Sakura. Dia benar-benar tidak menyangka Sakura yang dikenal sebagai gadis dingin dan pendiam adalah sosok manis seperti itu.

"Jaa Saku-chan" teriak Sasori agar Sakura dapat mendengarnya dan kemudian ia berjalan menjauhi rumah Sakura dengan perasaan bahagia. Sepertinya Sakura dapat mendengar ucapan selamat tinggal Sasori dari balik pintu. Terlihat dari pipi pucat Sakura yang bersemu merah ketika medengar panggilan Sasori. Ia pun berjalan menuju kamarnya dengan bahagia tanpa mengucapkan 'Tadaima' kepada ibunya yang sedang menonton tv. Sang ibu pun hanya memasang raut heran, dan kemudian focus menonton tv kembali. Di sudut ruangan, terlihat sebuah bayang-bayang samar yang membentuk seorang laki-laki. Sosok itu pun tersenyum tipis.

"Akhirnya kau menemukan penggantiku, Saku-chan" ucap sosok itu dan kemudian menghilang tanpa jejak

.

.

.

TBC

.

.

.

Hah, akhirnya chap 2 selesai. Ditengah-tengah kesibukan anggi ngurus buat masuk SMA, anggi sempetin buat nyambung fic anggi yang gaje ini. Yah, walaupun gak kilat yang penting udah anggi update kan, hahaha *ditimpukin

Oke, sebelumnya saya balas dulu review dari yang gak login.

mako-chan: makasih atas reviewnya dan salam kenal anggi juga emosi pas nulis bagian omongannya si nenek lampir berambut merah a.k.a Karin (lha, kan yang ngarang anggi) -,-

nah, jadi gimana menurut kalian chapter ini? Maaf kalau mengecewakan, saya memang gak terlalu pinter buat cerita. Dan atas permintaan maaf karena update saya agak lama, reader boleh milih mau ending gimana, mau Sad Ending atau Happy ending? Silahkan sampaikan di kotak review.

Dan juga kalo ada kritik dan saran, atau bahkan flame pun, silahkan sampaikan melalui review. Semua anggi terima dengan lapang dada.

Special thank's to:

Akbar123, Mushi Kara-chan, Akasuna Sakurai, Hanazono yuri, Mako-chan,Nuchanegi

Dan para Silent reader

Nah, sampai di sini dulu, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Jangan lupa REVIEW yah ^^

24-Juni-13

AkasunaAnggi a.k.a Sri Anggina Harahap