Disclaimers: Karakter-karakter yang disebutkan di sini jelas bukan milik kami dan kami tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari pemublikasian fanfiksi ini.
Warnings: Fanfiksi ini mengandung hal-hal berbau gay atau hubungan homoseksual, pikiran-pikiran berat sebelah dari kami selaku pengarangnya, lelucon garing dan perusakan imej karakter. Bagi yang keberatan silakan tekan tombol back sekarang juga.
oOoOoOoOoOoOoOoOo
Chapter 2: Ter-Baik, Teraniaya, Ter-Jutek
oOoOoOoOoOoOoOoOo
oOoOoOoOoOoOoOoOo
COMMERCIAL BREAK END
oOoOoOoOoOoOoOoOo
Kamera menyorot situasi Coliseum dari atas dan perlahan-lahan turun ke bawah, membantu memperlihatkan keadaan di dalam bangunan tersebut kepada para penonton yang hanya bisa menonton dari layar Aurora Vision maupun televisi rumah.
Seperti yang telah diutarakan di episode sebelumnya, bangunan tua tersebut telah diubah agar dapat menampung acara pembagian penghargaan yang baru pertama kali diadakan di fandom ini yaitu Saint Seiya Awards atau disingkat SSA. Di sekelilingnya terdapat lampu-lampu besar, seperti yang dimiliki stadion-stadion olahraga, yang kini menerangi bagian dalam Coliseum. Tempat duduknya yang terbuat dari batu telah dilapisi karpet berwarna hijau dan di tempat-tempat spesial, yaitu yang diperuntukan bagi para dewa-dewi dan juga 'jenderal-jenderal' dari pasukan-pasukan sang dewa-dewi terdapat bantal kecil yang dapat digunakan jikalau mereka mendadak terkena 'feromon'-nya Dewa Hypnos. Di salah satu sudut Coliseum adalah panggung dengan sebuah display screen super besar yang mampu menampilkan dengan jelas wajah siapapun yang nantinya akan berdiri di atas panggung itu.
Setelah puas menyoroti kemegahan tampilan baru dari Coliseum milik Dewi Athena itu, kamera mengarah ke beberapa sudut Coliseum, menyorot wajah-wajah partisipan acara seperti kelompok Titan yang kompak memasang tampang antara senang karena diundang ke acara tersebut dan kesal karena kelompok Dodekatheon mendapat tempat duduk spesial sementara mereka tidak, juga beberapa anak buah Hades dan Athena yang bersikap imbisil. Intinya, suasana di tempat itu begitu ramai, hingga mendadak cahaya penerangan dipadamkan, memunculkan situasi remang-remang yang bertahan selama beberapa saat, sebelum sepasang spotlight mengarah kepada dua sosok yang berjalan memasuki area panggung diiringi oleh gemuruh tepuk tangan.
"Semuanya, selamat malam!" seru Scorpio Milo, yang segera disahut "malaaaaaaamm!" dengan suara keras oleh para penonton.
"Selamat datang di acara Saint Seiya Awards!" Sambutan dari Leo Aiolia dibalas dengan sorak sorai dan tepuk tangan lagi.
Milo menunggu suara tepuk tangan mereda sebelum berbicara lagi. "Wah, Lia... lihat, deh. Banyak banget yang dateng, ya!"
"Ho-oh, Mil. Nggak nyangka, deh. Kirain bakal banyak tamu undangan yang nolak dateng. Secara dari judulnya aja gitu, Saint Seiya Awards, kayaknya ada bau-bau kalau yang nyabet awardnya rata-rata dari kalangan Saint Athena," ucapan Aiolia membuatnya segera diolok dengan 'boo' keras dari kubu musuh-musuh Athena.
"Heh! Gini-gini kita pede kalau popularitas kita nggak kalah dari kroco-kroconya dewi kalian!" seru Phantasos angkuh.
"Iya! Lagian, 'kan, katanya nominasinya terbagi rata!" Baian ikut menimpali.
"Kayaknya, 'sih, nggak rata-rata amat, soalnya yang bikin acara nggak terlalu ngikutin Next Dimension dan Episode G," Hilda menggumam pelan.
"Udah gitu, sutradara dan produsernya udah mengakui kalau mereka bias, lagi..." Izo menggeleng pelan.
"Cukup, cukup! Jangan pada ribut, dong, pembukaannya nggak kelar-kelar, 'nih!" Aiolia mencoba menengahi.
"'Kan ini gara-gara ucapanmu, Kucing..." Deathmask memutar bola matanya secara imajinatif.
Aiolia, yang tadinya berusaha untuk tetap kalem dan tak terpengaruh sekitar, mendadak murka. "Heh! Siapa yang lo panggil kucing, hah!"
"Elo lah! Siapa lagi? Oh, bentar, ada dua kucing lainnya di sini, ya..."
"Dua? Bukannya ada lebih dari dua, ya?" Shura mulai menghitung dengan jarinya sambil menggumamkan nama para 'kucing'. "Regulus, Ilias, Mycenae, Kaiser, Goldie..."
"Bocah phoenix dan bocah perunggu di red carpet tadi juga kucing, bro."
"Giling... banyak banget ya yang zodiaknya Leo di pasukan Athena..." Aphrodite geleng-geleng kepala.
"Eh, tolol, yang bener tuh 'ada banyak pengguna sah Cloth Leo'. Kalau yang zodiaknya Leo aja, 'sih, ga Cuma gue berdelapan sama yang lo-lo pada sebutin tadi," cecar Aiolia, masih sensi.
"Siapa yang lo bilang tolol, hah!"
"Sudah, kalian berdua!" Giliran Aiolos yang mencoba menengahi. "Deathmask, Shura, Aphrodite, tolong kembali tenang dan tidak ikut-ikutan menginterupsi. Aiolia, jaga ucapanmu dan lanjutkan tugasmu."
Aiolia merengut sebal karena dihardik abangnya, tapi tidak protes sama sekali dan mengangguk patuh. Deathmask seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi delikan tajam dari Aiolos dan juga ditambah Saga sukses membuatnya bungkam. Milo yang sedaritadi diam dan asyik menyaksikan perdebatan yang terjadi akhirnya tertawa kecil.
"Udahan berantemnya? Kurang seru, ah."
"Heh, bukannya mencoba menengahi, kamu sebagai host malah nonton dari pinggir!" Shaina mencibir.
"Habis tadi kayaknya lebih asyik diem dan nontonin, 'sih." Cengiran lebar terpampang di bibir sang Ksatria dari Kuil Scorpio, kemudian ia buru-buru menambahkan sebelum kena hardik oleh sahabatnya sendiri yang, ia lihat dari ujung matanya, telah membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. "Eniwei baidewei ketabrak baswei... daripada berlama-lama lagi, kita panggil pembaca nominasinya, yuk, Li!"
Lelaki berambut cokelat ikal itu menghela napas sejenak sebelum berbicara. "Yah, tanpa berbasa-basi lagi, kita sambut..." ia memberi jeda panjang sembari melirik partnernya, yang mengangguk tanda mengerti dan bersama-sama menyebutkan dua nama dengan lantang:
"Phoenix Ikki dan Andromeda Shun!"
Tepuk tangan kembali memenuhi tempat acara saat Ikki dan Shun naik ke atas panggung dan berdiri di tengahnya. Sang adik tersenyum dan melambai sedikit ke arah orang-orang yang berteriak menyemangatinya, sementara abangnya memasang tampang cuek bebek.
"Selamat malam, semuanya!" Shun menyapa ramah, yang juga dibalas dengan tak kalah ramahnya oleh para penonton. "Rasanya seneng banget bisa berdiri di atas panggung ini dan diberi kesempatan untuk membacakan nama orang-orang yang dinominasikan dan juga pemenang kategori-kategori yang ada... apalagi bareng Kakak!"
Ikki Cuma mengangguk kalem. Dia juga kelihatan senang, tapi untuk alasan yang berbeda. Kalau Shun senang karena mendapat kehormatan untuk menjadi pembaca nominasi, pemilik zirah burung abadi itu bahagia karena adiknya bisa meninggalkan sisi dewa bermuka datar itu—Hades. Pemisahan sang dewa dari inkarnasinya itu tidak berjalan begitu lancar, tentunya. Hades awalnya ngotot tidak mengijinkan Shun untuk pergi. Ia bahkan tidak berpikir dua kali untuk meraih gagang pedangnya ketika Ikki dan dibantu Hyoga tak kunjung menghentikan usaha mereka untuk membujuk sang dewa, namun pertumpahan darah babak kedua berhasil digagalkan saat Saori Kido mendatangi pamannya itu dan membisikkan sesuatu entah apa.
(Pertumpahan darah babak pertama adalah Minos vs Manigoldo, meski darah yang tertumpahkan tidak berasal dari proses adu jotos keduanya, melainkan efek pukulan harisen yang dilancarkan Sage kepada muridnya dan sukses membuat sang murid mimisan dan tak sadarkan diri, juga akibat tinju Lugonis yang telak mengenai hidung si Specter berambut keperakan—siapa suruh dia mencoba menggerayangi putri, eh, putranya tanpa meminta izin darinya terlebih dahulu?)
Pokoknya, berkat Saori kini Shun dapat berdiri berdampingan dengan Ikki di atas panggung, yang membuat lelaki yang mengidap brother complex level akut itu bahagia bukan kepalang.
"Kak?"
Ikki tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah adiknya. "Ada apa, Shun?"
"Malah bengong... Ngelamunin apa, 'sih?" Shun mengangkat sebelah alisnya.
"Ah, nggak. Cuma seneng aja akhirnya aku bisa tampil bareng lagi sama kamu. Nggak Cuma di opening Saint Seiya Omega atau sekedar flashback aja."
"... masih bete, ya, soal itu?"
"Jujur? Iya banget."
Sang adik tertawa pelan melihat abangnya sedikit memonyongkan bibir karena kesal dengan nasibnya yang tak kunjung bisa pamer kekuatan di hadapan junior-junior mereka dari seri terbaru, padahal 50 lebih episode telah ditayangkan. "Oke... daripada bete, mending kita mulai membacakan nama-nama orang yang masuk nominasi, yuk?"
"Hmm. Kita mulai dari Kategori Ter-Baik." Ikki melirik cue card di tangannya untuk membacakan penjelasan yang telah disiapkan. "Maksud dari Kategori Ter-Baik ini bukan seperti Best Character atau apa, melainkan karakter yang punya sifat baik, ramah, lembut, tidak sombong, taat beribadah, dan rajin menabung."
Calvera sweatdrop mendengarnya. "Kayaknya aku nggak yakin karakter-karakter yang akan disebutkan nanti memenuhi semua syarat itu."
"Iya, ya. Habisnya rata-rata anggota kita kayaknya kagak punya duit," Flourite mengimbuhi.
"Ibadah juga ibadah apaan, nyembah dewa-dewi tapi kagak semuanya taat," Vermeer tersenyum mencemooh.
"Diam kalian semua! Jangan banyak bacot, adek gue mau ngebacain nama-namanya!" Ikki menyentak dan menatap tajam siapapun yang berani membuka mulut dan hendak berbicara. Setelah diyakininya mereka tidak akan menginterupsi, ia memberi isyarat pada Shun untuk memulai.
"Erm, baik. Nominasi pertama untuk kategori Ter-Baik adalah... Sagittarius Aiolos!"
"Saya?" Aiolos mengerjap sementara orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan dan menyelamatinya. "Tapi... saya, 'kan, Cuma dapet screentime sebentar jadi sifat saya nggak terekspos banyak."
"Tapi itu sudah cukup untuk memberi impresi pada fans bahwa kamu itu orang baik," Mu menyahut, diiringi anggukan setuju oleh kamerad-kamerad mereka.
"Berikutnya adalah inkarnasinya sendiri: Sagittarius Sisyphus!" Ikki membacakan.
Reaksi Sisyphus kurang lebih sama seperti reinkarnasinya—kaget dan merasa tak terlalu pantas untuk dinominasikan. Namun kamerad-kameradnya tidak mendengarkan dan terus-terusan memberinya tepuk tangan. Abang dan keponakannya juga menyelamatinya. Dan ketika ia melirik ke arah tempat duduk para dewa-dewi, ia melihat Sasha tersenyum bangga kepadanya.
"Selanjutnya..." Shun tersenyum ketika membaca nama-nama berikutnya. "Ada sepasang kakek dan cucunya. Libra Dohko dan Dragon Ryuho!"
"Selamat, Ryuho!" Rombongan Ksatria Perunggu dari era Omega kontan berseru riang dan memberinya berbagai macam bentuk ucapan selamat—ada yang menepuk pundaknya, mengacak rambutnya, menyalaminya... Paradox bahkan mencoba menghadiahi kecupan di pipi, namun sayang Genbu menahannya di tempat.
"Aduh, kalian... padahal, 'kan, baru masuk nominasi saja. Belum dipastikan menang..." Ryuho berusaha merendah.
"Tidak apa-apa, nak!" Dohko berseru bangga dari tempat duduknya. "Teman-temanmu hanya turut senang karena kau seperti wakil dari kubu Omega. Terima saja!"
Shiryu sweatdrop. "Kubu... kita, 'kan, tidak sedang berkompetisi."
Eden, yang duduk bersama golongan Marsian, menatap dingin kawan-kawannya yang masih ribut, kemudian ke arah Aria yang juga ikut-ikutan menyelamati Ryuho. "Kenapa si naga itu yang dinominasikan, tapi Aria tidak?" Ia menggumam, sedikit tak rela.
Tapi, entah apakah ia menggumam sedikit terlalu keras atau pengaruh fakta bahwa sang Phoenix punya kualifikasi untuk naik pangkat menjadi Saint Emas, Ikki segera membalas ucapan Eden. "Tidak. Aria juga ada di dalam nominasi ini."
"Eh, serius?!" Kouga tersenyum lebar dan langsung menoleh ke arah Aria, yang sedikit terkejut mendengar pernyataan tersebut. "Selamat, Aria!" Ucap pemuda berambut merah itu mendahului Eden, membuatnya dilempari tatapan jengkel dari sang Pangeran.
"Setelah Aria, ada kakak beradik—Alone dan Sasha!"
Alone dan Sasha, yang memang duduk berdampingan, langsung melirik satu sama lain dan tersenyum berbarengan sementara orang-orang di sekitar mereka memberi ucapan selamat dan tepuk tangan.
Julian Solo, yang duduk di salah satu sisi Saori, melirik Hades yang memasang wajah kusut lalu berbisik kepada sang dewi, "Dia kelihatan kesal sekali, ya, karena semua 'tubuh'-nya sudah bisa dipastikan akan masuk kategori ini."
Saori mengangkat bahu. "Siapa suruh dia selalu mimilih 'manusia berjiwa paling murni di dunia' sebagai wadahnya?"
"Dan dua nominasi terakhir adalah Seraphina of Bluegard dan, tentu saja," ada sedikit senyum bangga di wajah Ikki ketika menyebutkan kalimat-kalimat selanjutnya, "adik saya, Andromeda Shun."
"Awalnya kupikir Ikki bakalan bete kalau Shun benar-benar dinominasikan, tapi ternyata dia bangga juga?"
June, yang duduk di dekat Hyoga dan mendengar ucapan sang Cygnus yang nyaris tenggelam di dalam gemuruh tepuk tangan untuk Seraphina dan Shun, mengangkat sebelah alisnya tanda bingung. "Memangnya ada alasan yang bisa bikin dia bete?"
"Ada, dong. Bukannya dari jaman kapan tau dia selalu bete kalau Shun bersikap lenje, seperti nggak mau ngebunuh musuhnya, nangis, dan lain sebagainya?"
"Oh, iya... yah, mungkin sebenarnya dia senang karena punya adik yang baik dan manis macam Shun, Cuma jengkel kalau dia melenje saat bertarung. Aku juga kadang-kadang bete, 'sih, kalau ngeliat Shun begitu."
"... Sama."
Suara tepuk tangan berhenti dan kembali lampu dipadamkan, meninggalkan satu lampu sorot untuk menyinari Ikki dan Shun yang ada di panggung. Mereka berdua membuka sebuah amplop tersegel, mengeluarkan cue card lain dari dalamnya dan membaca apa yang tertera di sana. Seketika wajah Ikki tertekuk, seperti tidak rela, sementara Shun tersenyum girang.
"Kok, bukan kamu yang menang?" Ikki memprotes pelan.
"Soalnya vote yang Kakak kasih kalah dari vote orang-orang," canda Shun. "Jangan bete gitu, dong, Kak. Ayo, kita baca bareng-bareng."
Meski masih merasa sedikit kecewa, Ikki setuju untuk menunjukkan secuil senyum ketika ia menyebut nama si pemenang bersamaan dengan adiknya. "Pemenang Kategori Ter-Baik adalah... ALONE!"
Kembali gemuruh tepuk tangan memenuhi Coliseum saat spotlight menyinari sosok Alone, kali ini dua kali lebih keras dari sebelumnya. Sasha membantu mendorong kakaknya yang malu-malu berdiri dari tempat duduknya untuk maju ke panggung dan menerima piala. Hades menyaksikan semua proses itu sambil menahan hasrat untuk menabrakkan kepala ke dinding terdekat. Alone tersenyum kecil setelah mendapatkan pialanya dari Shun dan lalu memulai pidato singkatnya.
"Pertama-tama... terima kasih untuk dukungan semua fans saya. Saya bisa menang dan mendapatkan piala ini berkat voting kalian." Alone tersenyum manis ke arah kamera. "Lalu terima kasih juga untuk adik dan sahabat saya yang sudah bersama dengan saya sejak kecil hingga akhirnya saya jadi punya sifat seperti ini. Ah, berarti saya harus berterima kasih pada Oom Youma juga, karena sudah memindahkan jiwa saya agar terlahir jadi kakaknya Sasha dan bisa bertemu Tenma... terima kasih, ya, Oom!"
"... cih, dia malah seneng takdirnya dikacaukan," Youma menggerundel pelan. "Dan lagi, kenapa manggilnya Oom, coba..."
"'Kan kamu memang sudah om-om, sayang..." Partita menyahut ala kadarnya.
"Tapi kesannya jadi kayak manggil om-om hidung belang..."
Setelah Alone turun dengan diiringi tepuk tangan (lagi) dan kembali ke tempat duduknya dengan aman sentosa, Ikki dan Shun kembali mengambil posisi di tengah panggung.
"Meskipun bukan saya yang menang, rasanya ikut bahagia juga... soalnya, yang menang itu orang yang senasib sama saya," Shun tertawa kecil. "Nah, setelah Kategori Ter-Baik kita punya kategori apa, Kak?"
"Teraniaya," Ikki menyahut sambil menahan tawa. Sejumlah penonton juga terlihat menahan tawa. Sungguh kasihan siapapun pemenang kategori ini. "Untuk nominasi pertama ada Ahimsa, dari Asmita Gaiden."
"Oooh! Ternyata karakter Anecdote kebagian jatah nominasi juga!" Calvera menyeringai senang.
"Berarti ada harapan kalau nama kita masuk kategori lain!" Fluorite ikut-ikutan senang.
"Selamat, ya, Ahimsa. Kau jadi yang pertama dari 'kaum' kita untuk masuk nominasi!" Giocca menepuk-nepuk lengan lelaki berkulit hitam itu agak kelewat keras.
"... Dapat nominasi untuk kategori nelangsa begini nggak membuatku senang sama sekali..." bisik Ahimsa, tersenyum miris.
"Yang kedua ada lelaki berkulit hitam lainnya—Gemini Defteros!"
Kontan Aspros dan Asmita, yang duduk di kanan-kiri Defteros, menoleh ke arahnya. "Kenapa kamu bisa masuk teraniaya? Kamu dianiaya siapa?" tanya mereka berbarengan.
"Mana gue tau! Tanya sama kru acaranya, dong! 'Kan mereka yang nentuin nominasinya!" Defteros membalas spontan. Dia sendiri ikut kaget dan bingung, kenapa bisa namanya termasuk dalam daftar nominasi?
"Tenang, ada penjelasannya, 'kok." Tatapan mata Shun terarah pada cue card di tangannya seraya ia membaca, "'Defteros dinominasikan karena nasibnya ngenes. Mulai dari dituduh sebagai pembawa sial, dibuat digenci oleh kembarannya sendiri karena manipulasi Kairos, dibuat membunuh abangnya sendiri, terus waktu tinggal di Gunung Kanon juga bajunya jadi Cuma sepotong celana doang! Selain itu, dia ditinggal mati duluan sama Asmita! Ngenes abis, lah, pokoknya!'... kata sutradara."
"Selain itu, banyak juga film yang digarap sutradara-sutradara kita (baca: author fanfiksi) di mana kamu dibikin galau," Sage ikut menambahkan.
"Eh, kalau itu termasuk dalam faktor yang menentukan ngenes atau tidaknya seorang karakter, gue punya firasat kalau gue masuk dalam deretan nominasi, 'nih..." Milo yang berada di backstage bersama Aiolia mulai memucat.
Sang Saint Leo mengernyit heran. "Kenapa gitu?"
"Nggak inget, ya, jaman-jaman duluuuu banget, gue sering diminta main film bareng Camus. Plotnya lebih sering galau. Tentang Camus yang mati dibunuh Hyoga, lah, yang jadi Specter lah... macem-macem."
"Oh... iya, inget. Kadang juga disangkut pautin sama Kardia dan Dégel."
"Bukannya sampai sekarang juga masih sering main di film galau, ya?" Yoshitomi, bertugas di belakang panggung bersama beberapa karakter dari seri Omega lainnya, mendekat dan menimbrungi obrolan mereka. "Kemarin aku baru nonton, lho, film yang kamu jadi—"
"Berikutnya ada dua orang bawahan setia Hades: Suikyo dan Zelos!" suara Ikki menenggelamkan sisa kalimat Yoshitomi.
"Saya? Teraniaya?" Suikyo memiringkan kepalanya sedikit. Ia berpikir sebentar tapi tetap tidak mengerti. "Saya tidak pernah merasa teraniaya... atau diperlakukan buruk. Kecuali kalau dibuat bertarung dengan murid saya sendiri terhitung 'teraniaya secara mental'."
Shun menggeleng. "Kata produser, 'Suikyo dipilih karena katanya wajahnya seperti wajah orang teraniaya'."
Suikyo mendadak mendapat hasrat untuk pergi ke pojokan gelap dan mengukir tanah. Suisho menepuk-nepuk lengan sang abang dengan penuh simpati.
Rhadamanthys asyik menatap ke arah panggung saat dirasanya seseorang menowel pundaknya dari belakang. Ketika dilihat, ternyata pelakunya adalah Zelos. "Ada apa?"
"Tuan Rhadamanthys... kalau saya menang, saya boleh minta sesuatu dari Anda? Hadiah selamat, begitu."
Kini yang menoleh ke arah Zelos bukan hanya Rhadamanthys sesorang, tapi juga Minos dan Aiacos, yang memang duduk mengapit si rambut pirang, serta seluruh anggota divisi yang diketuai Rhadamanthys. Yang duduk di dekat Specter dengan zirah katak itu bisa melihat dan merasakan bahwa Zelos memiliki keinginan yang tidak-tidak. Valentine sudah siap melempar headgear-nya ke arah rekan sejawatnya itu, namun mengurungkan niatnya akibat sepatah kalimat dari pimpinannya.
"Boleh, tapi itu kalau kau menang."
Jawaban itu sudah cukup memuaskan hati Zelos. Rhade, kau tidak tahu mimpi buruk macam apa yang akan menimpamu...
"Berikutnya... dua Saint Athena dari seri klasik! Unicorn Jabu dan Scorpio Milo!" Ucapan Shun kembali menarik perhatian semua orang yang ada di Coliseum, dan seketika itu juga kubu Hades kembali terdistraksi oleh kubu Athena yang riuh bertepuk tangan dan memberi selamat kepada kedua nama yang disebutkan.
"Hei, pewarisku Cloth-ku! Selamat, ya, masuk nominasi!" Yato berteriak kencang. Maklum, tempat duduknya terpisah lumayan jauh dari tempat duduk Jabu.
"Cieee guru, bisa masuk nominasi juga ternyata!" Souma tersenyum iseng, dan langsung dihadiahi jitakan dari sang guru.
"Gue sama sekali nggak senang!" ratap Jabu. Memang, 'sih, dia merasa lumayan teraniaya dengan fakta bahwa meskipun dari dulu sepertinya dia yang paling cinta sama Dewi Athena mereka, bahkan ketika sang dewi masihlah seorang bocah kecil nan egois dan bossy, namun Saori lebih cinta pada Seiya. Setelah itu, perusahaan utama yang membuat film-film mereka juga sering melupakan eksistensinya dan kawan-kawannya sesama Saint Perunggu tapi bukan tokoh utama. Ah, tidak. Bukan hanya mereka, tapi para fans juga sering melupakan mereka. Meskipun tak rela, ia mengakui bahwa ia memang merasa teraniaya.
Sementara di belakang panggung, Lia sibuk menepuk-nepuk dan berusaha menghibur Milo karena ternyata dugaan mereka tepat sasaran. "Udah, Mil... belum tentu menang juga, nggak usah sedepresi ini, deh..."
"... gue nggak mempermasalahkan menang atau nggak," Milo menggurat simbol Aquarius di tembok dengan kukunya, "... gue Cuma galau karena diingatkan betapa ngenesnya gue beberapa tahun yang lalu itu, ketika kebanjiran job untuk melakoni film dengan genre galau."
"Sekarang juga masih ngenes, apa bedanya, 'deh..."
"Cassios! Jangan bikin Milo tambah galau!"
"Dan yang terakhir adalah..." Sudut mata Ikki berkedut ketika membacakan nama terakhir di lembar cue card-nya, "Orion Eden."
"Eden?" Medea terkesiap dengan ekspresi berlebihan. "Kamu merasa teraniaya, nak? Dianiaya siapa?"
Eden, yang sejak awal diumumkannya nama-nama kategori Teraniaya bermain-main dengan Nintendo DSi LL miliknya, menjawab acuh tak acuh. "Nggak nyadar, ya? Dianiaya Ibunda, lah. Siapa lagi?"
"... Kapan Ibunda menganiaya kamu? Ibunda, 'kan, tidak pernah main tangan kalau memarahi kamu, selalu bicara dengan halus sama kamu."
Sang Pangeran menghela napas panjang dan berhenti bermain. Ia ganti mengambil iPad-nya, mengutak-atiknya sejenak sebelum menyodorkannya pada Medea. Penyihir wanita itu melihat apa yang terpampang di layar gadget milik putranya dengan sedikit kebingungan sebelum perlahan-lahan berubah pucat. Ia diperlihatkan kumpulan klip di mana ia telah memberikan perintah-perintah yang membuat putranya sengsara, seperti keputusan untuk menjauhkannya dari Aria, menjadikan Sonia Ksatria Emas, memerintah Amour untuk membunuh Mycenae, dan lain sebagainya.
"... Bisa dilanjut?" Shun bertanya, sedikit ragu-ragu. Pertanyaannya dibalas dengan anggukan mantap dari Eden, yang kembali bermain dengan NDS-nya. "Oke... pemenang untuk Kategori Teraniaya adalah..."
Sebagian besar penonton, terutama mereka yang berasal dari kubu Hades—atau lebih tepatnya, dari divisi Rhadamanthys, berdebar-debar saat lagi-lagi lampu dipadamkan dan hanya ada spotlight yang terarah ke atas panggung. Semua menunggu pasangan kakak beradik yang berdiri di atas panggung untuk selesai mengeluarkan kartu berisi nama pemenang dari amplop tersegel. Mereka melihat keduanya mengerjap, saling pandang, mengangguk berbarengan, lalu mengambil nafas dalam-dalam sebelum berujar lantang,
"FROG ZELOS!"
Ada sorak kegirangan dan suara nafas tertahan yang menyambut begitu kalimat tersebut selesai diucapkan. Tanpa malu-malu lagi, Specter yang dimaksud beranjak ke atas panggung dengan setengah berlari diiringi oleh sorotan lampu. Ikki menyerahkan pialanya secara kasar, namun Zelos tidak terlalu mengindahkannya.
"Terima kasiiiih sebanyak-banyaknya pada semua orang yang sudah mendukung saya hingga akhirnya saya bisa mendapatkan award ini! Padahal awalnya saya kira kecil kemungkinan saya bakal memenangkan sesuatu, karena saya, 'kan, Cuma anak buah biasa..."
"Specter itu benar-benar terlihat senang," Tokisada mengerutkan dahi, tidak tahu harus memberi salut kepada Zelos atas besarnya sikap positif yang dimiliki sang Specter atau sweatdrop karena pidatonya yang agak berlebihan.
"Dan banyak orang yakin bahwa siapapun yang memenangkan kategori ini tidak akan sudi menerima piala itu, apalagi berpidato panjang lebar dengan level keceriaan maksimum begitu," Krest ikut berkomentar.
"... intinya, saya benar-benar merasa bersyukur! Sekali lagi, terima kasih, semuanyaaaa!" Dan Zelos pun turun dari panggung diiringi tepuk tangan ogah-ogahan dari para partisipan acara. Ia kembali duduk di tempatnya, tersenyum cerah saat mengelus-eluskan piala yang didapat ke pipinya.
Rhadamanthys diam sejenak sebelum berdeham pelan, menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, termasuk Zelos. "Jadi... kau benar-benar menang. Bukan sesuatu yang terlalu sulit untuk dipercaya, 'sih." Pria yang alis matanya menyatu itu menoleh, menatap lurus anak buahnya yang satu itu. "Sesuai janji... kau mau hadiah apa?"
Mulut Zelos, yang pada dasarnya memang sudah lebar, semakin melebar ketika ia menyeringai. Ia meletakkan pialanya di pangkuan, lalu mecondongkan tubuhnya ke depan agar Rhadamanthys dapat mendengar apa yang ia ucapkannya dengan lebih jelas.
"Saya ingin Anda me—"
oOoOoOoOoOoOoOoOo
COMMERCIAL BREAK
oOoOoOoOoOoOoOoOo
Bagi yang menyaksikan acara melalui layar televisi mungkin akan terkejut ketika mendadak siaran diganti iklan singkat yang dibintangi Aiacos dan Violate. Keduanya melakukan berbagai macam aksi, seperti bergaya ala India dengan main petak umpet di taman dan saling teriak dari ujung dua tebing yang saling berseberangan. Sungguh, apa yang mereka lakonkan rasanya tidak nyambung sama sekali dengan produk yang mereka promosikan: sebuah permen kacang.[1]
oOoOoOoOoOoOoOoOo
COMMERCIAL BREAK END
oOoOoOoOoOoOoOoOo
Setelah iklan berakhir, tampak Shun tengah melambai ke arah kamera dan Ikki membetulkan kerah bajunya. Mereka langsung memasang tampang profesional lagi ketika diberi tanda bahwa semua sudah siap untuk disiarkan kembali.
"Oke... maaf tadi terpotong. Ada sedikit kesalahan teknis," Shun tersenyum kalem. "Baiknya kita langsung membacakan nominasi-nominasi untuk Kategori Ter-Jutek, ya, Kak?"
Ikki mengangguk setuju. "Yang pertama adalah... lagi-lagi Orion Eden."
Sesungguhnya, Eden sangat ingin mengajukan protes terhadap cara Ikki membaca namanya. Entah kenapa ia bisa menangkap bahwa sang Saint Phoenix itu sedaritadi begitu sensi kalau sudah menyangkut soal dirinya. Tapi, lebih daripada hasrat untuk protes, keinginannya untuk mengamati bekas-bekas kekacauan yang tertinggal di bangku untuk divisi Rhadamanthys lebih kuat. Zelos telah menghilang dari tempat duduknya.
"Berikutnya ada Opiuchus Shaina!"
"Ah... sudah kuduga Shaina bakal masuk yang satu ini," Kouga tersenyum lebar, diikuti anggukan setuju dari Seiya dan Tatsumi.
"Kalian kalau butuh jasa akupuntur, bilang saja dengan jujur. Mumpung aku baru mendapat teknik baru dari Kardia dan Milo, jadi kalian bisa jadi orang pertama yang merasakannya." Karena mengenakan topeng, tidak ada yang tahu ekspresi seperti apa yang terpampang di wajahnya. Tapi, dari nada suaranya hampir semua orang di sana bisa membayangkan bahwa sang Saint wanita sedang tersenyum sadis.
"Lalu... prajurit wanita lagi: Scorpio Sonia."
"Emang cocok, deh, masuk kategori ini..." komentar Mirfak ditanggapi dengan anggukan kompak dari kawan-kawannya sesama Saint yang telah menyaksikan betapa juteknya Putri dari inkarnasi Dewa Mars itu.
"Yah... meskipun sikap dan tampangmu jutek, beruntung kamu sudah menemukan cowok baik yang mau sama kamu dan bisa membuatmu jatuh hati padanya, ya, Sonia?" Mischa tertawa pelan, membuatnya diteriaki "IBU!" oleh sang putri. Sonia bersyukur tempat duduk keluarganya berada jauh dari tempat duduk Souma.
"Selanjutnya... eh! Kak! Kakak masuk nominasi, lho!" Shun nyaris melompat girang ketika membaca nama abangnya sendiri di cue card-nya. Ikki hanya bisa tersenyum miris mengetahui bahwa orang-orang ternyata menganggapnya sebagai seseorang yang judes... meskipun tidak sepenuhnya salah, 'sih.
"Sebentar... kalau Ikki masuk dalam kategori Ter-Jutek, jangan bilang kalau..." Dohko melirik ke arah seseorang yang ada di pasukan Hades. Tidak terlalu berpikir panjang untuk menebak siapa yang diliriknya itu, dan ucapan Shun membenarkan dugaannya:
"Juga ada seorang Specter yang katanya adalah reinkarnasi Kakak: Bennu Kagaho!"
Alone menoleh ke arah Kagaho, yang sedang berpose facepalm sambil Aiacos menepuk-nepuk pundaknya penuh rasa simpati. "Sudah kuduga kau juga termasuk. Selamat, ya, Kagaho!"
Kagaho menatap Alone dari sela-sela jarinya selama beberapa saat sebelum kembali merapatkannya. Ia sama sekali tidak bisa merasa senang diberi selamat seperti itu, meskipun yang mengucapkannya adalah seseorang yang tampangnya nyaris seperti pinang dibelah dua dengan almarhum adiknya.
"Berikutnya adalah..." Pemuda berambut biru pendek itu mengernyit. "Golongan Ksatria Emas: Pisces Albafica, Libra Genbu, dan Capricorn Ionia!"
Albafica, yang awalnya terlihat amat sangat bosan dengan acara tersebut, mendadak duduk tegak di tempatnya dan mengerjap berkali-kali. "Saya? Jutek? Darimananya?"
"Dari tampang kamu ketika kita bertemu di medan perang, Cantik!" Minos menyahut lantang, dan disambut siulan serta sorak sorai dari para anak buahnya. Manigoldo dan Shion menahan hasrat diri untuk menggunakan kekuatan psikokinesis mereka untuk melempar batu atau palu ke arah kepala Judge berambut perak itu.
"Serius, 'nih. Tampang saya jutek?" Albafica menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari jawaban.
"Iya. Waktu pertama kali ketemu, waktu menyelamatkanku dari Specter, kupikir... 'mbaknya cantik banget, sayang ekspresinya judes'!" Pefko menyahut dengan polos.
"Setuju! Bahkan ketika sedang santai dan tidak bertugas juga mukanya judes... tapi tetap cantik," Agasha ikut menimpali.
Albafica hendak protes ketika dua orang bocah sesama pecinta tanaman yang disayanginya bahu membahu menyudutkannya dan menghinanya 'cantik', tapi kemudian Lugonis menepuk bahunya, menenangkannya. "Sudahlah. Punya tampang jutek bukan sesuatu hal yang buruk, kok."
"Benar. Orang-orang yang bertampang jutek itu hebat, karena tidak hanya bisa membuat orang-orang ketakutan dengan sifat galak mereka, tapi juga membuat siapapun takluk karena senyum manis yang jarang mereka tunjukan," Ilias menjelaskan panjang lebar, sementara adiknya sweatdrop.
"Itu... kesimpulan yang kau dapatkan dari pengalaman pribadi, ya, Kak?"
"Tentu saja."
Melihat bahwa tidak ada protes dilayangkan dari pihak Genbu dan Ionia, Shun melirik ke arah cue card-nya. "Dan nominasi terakhir... oh, astaga. Ini teman saya sendiri. Cygnus Hyoga!"
"... Gue nggak bakal kaget kalau Camus-sensei yang disebutin namanya, tapi, gue? Dari sisi mananya gue jutek?" Ekspresi Hyoga penuh tanda tanya.
Ikki mengangkat bahu, lalu membaca penjelasan yang tertera di bawah nama Hyoga. "Kalau kata sutradaranya... 'nggak ada alasan khusus. Cuma ngerasa kalau Hyoga punya aura jutek'... udah, itu aja."
"... Sutradaranya ngaco abis."
"Baru sadar? Dari awal juga udah kentara banget kalau acara ini dibuat oleh orang-orang sinting nan ngaco," imbuh Isaac.
"Hush, kalau kalian ngolokin kru acaranya terus, bisa-bisa kualat, lho!" Crystal Saint buru-buru menghardik keduanya.
"Lalu? Lalu? Siapa pemenangnya?" Raki menatap penuh antusias Ikki dan Shun yang terlihat bercahaya di bawah lampu sorot saat mereka akan membuka segel amplop berisi nama pemenang kategori Ter-Jutek. Ia sudah siap ancang-ancang—jika Genbu yang menang, ia akan menubruk Saint Libra itu hingga terjungkal dari tempat duduknya.
Kartu berisi nama pemenang akhirnya berhasil dikeluarkan dan dua bersaudara yang berdiri di atas panggung itu sama-sama tertegun dalam waktu yang lama. Lalu kemudian Shun tertawa keras sekali sehingga mereka harus menjauhkan mic yang mereka bawa agar tidak menimbulkan bunyi desing yang menyakiti telinga. Ikki sendiri mendesah jengkel dan memasang tampang pasrah. Penonton dibuat kebingungan dengan reaksi mereka.
"Oi! Bacain nama pemenangnya, oi! Durasi, 'nih, durasi!" Milo berseru dari sisi panggung. Ia penasaran siapa yang memenangkan kategori tersebut.
Shun akhirnya berhenti tertawa, tapi bibirnya menyunggingkan senyum super lebar. "Maaf, penonton. Tapi ini... menarik sekali. Kakak mau ikut membacakan?"
"Tidak lucu, Shun." Balasan ketus dari Ikki malah memaksa tawa kecil untuk menyelinap keluar dari bibir sang adik.
"Baik, baik. Jadi, pemenangnya adalah Pisces Albafica..."
Penonton serentak mengangkat tangan dan siap bertepuk tangan sekeras mungkun untuk si cantik berambut biru itu, namun sebelum sempat mereka melakukannya, Shun menyelesaikan kalimatnya.
"... dan abang saya, Phoenix Ikki!"
Seperti mengikuti komando Shun, dua spotlight menyala, menyoroti dua orang; Albafica dan Ikki. Sebagian pesar partisipan di dalam Coliseum mengerjap bingung, lalu segera sibuk berbisik-bisik satu sama lain. Beberapa dengan lantang meminta penjelasan—terutama Minos dan Manigoldo, yang sangat ingin Albafica menang agar mereka bisa memberi hadiah spesial bersama dengan ucapan selamat, misalnya kecupan hangat atau pelukan mesra.
"Tenang dulu, pemirsa, tenang..." Shun mengangkat tangan, mencoba mengendalikan situasi. "Saya juga nggak mengerti jelas, tapi di kartu ini," ia mengacungkan kartu yang tadi dibacanya, "tertulis dua nama—Albafica dan Kakak."
"Itu benar!"
Seluruh pandangan teralihkan ke arah Milo dan Aiolia, yang kembali memasuki arena panggung setelah lampu Coliseum kembali dinyalakan sepenuhnya. Keduanya berdiri di dekat Shun dan Ikki, menghadap ke arah penonton yang menatap keempatnya dengan sorot mata yang menuntun penjelasan.
"Nggak usah emosi dulu pemirsa. Semua hal pasti ada penjelasannya, termasuk kasus kita sekarang ini." Milo tersenyum sok. "Kita baru dapat pesan mail dari sutradara. Sok, bacain, Li!"
Aiolia berdeham pelan sebelum mulai membacakan pesan yang tiba di ponselnya beberapa menit yang lalu. "Kata sutradara... nama Albafica dan Ikki tertera bersama-sama di kartu pemenang itu bukan kesalahan. Mereka berdua mendapat perolehan voting yang sama, sehingga keduanya sama-sama berhak memenangkan Kategori Terjutek."
"Jadi... pialanya mau dibagi dua?" Regulus memiringkan kepalanya sedikit.
"Tidak bisa. Piala-pialanya sudah dijampi-jampi supaya tidak bisa dirusak bahkan oleh Excalibur dan senjata-senjata Libra," Athena dari abad ke-16 mendesah panjang. Kenapa dia bisa tahu? Tentunya karena dia ikut membantu menjampi piala-piala yang akan dihadiahkan malam itu.
"Lah, terus? Pialanya mau dibagaimanakan?" Ada bayangan tanda tanya besar bertengger di atas kepala Esmeralda.
"Ya... tidak dibagaimanakan. Pialanya tetap seperti itu." Milo berkacak pinggang, menatap Albafica dan Ikki bergantian. "Kalau mau, kalian diskusi aja siapa yang akan menerima piala itu. Dan sementara kalian berdiskusi, kita mau closing!"
"Yap!" Aiolia merapat pada Milo agar wajah mereka berdua dapat masuk ke dalam frame kamera sekaligus menutupi Ikki dan Shun yang turun dari panggung. "Baru sesi pertama tapi acaranya sudah kacau. Tadi dari kelompok Specter pakai ada ribut-ribut segala, lagi... kasian banget si Zelos."
"Nggak usah kasian. 'Kan dia menang Teraniaya. Sudah sepantasnya dia dianiaya."
"... Tega banget, Mil. Mentang-mentang lepas dari ancaman menerima penghargaan salah satu kategori ngenes yang ada."
Pemuda berambut emas bergelombang itu menunjukkan cengiran lebar khasnya. "Tapi, yah... lihat sendiri, 'kan, betapa serunya acara ini? Makanya, jangan pindah channel dan terus ikuti perkembangan Saint Seiya Awards ini!"
"Setelah rehat sejenak, acara akan dilanjutkan dengan pembacaan kategori Terlupakan, Ter-Seksi, dan Ter-Asyik! Jangan lupa untuk voting, pemirsa! Waktu penutupan voting untuk tiga kategori itu masih lumayan lama, jadi silakan vote sebanyak-banyaknya!"
"Saya Scorpio Milo-"
"-dan saya Leo Aiolia-"
"-pamit!"
oOoOoOoOoOoOoOoOo
COMMERCIAL BREAK
oOoOoOoOoOoOoOoOo
Footnote:
[1] Coba tebak, parodi iklan apakah ini? Reviewer yang menebak dengan tepat, votingnya akan dilipat gandakan tiga kali! Siapa cepat, dia dapat, ya!
.
Kembali bersama dengan kami di pojok author's note, dua orang sinting dengan selera humor mengering, jadi maaf saja kalau humornya makin terasa kurang. Berikut adalah nominasi untuk chapter berikutnya:
Terlupakan: Jabu, Yato, Kairos, Marin, Okko, Schiller
Ter-seksi: Sasha, Saori, Athena XVI, Albafica, Defteros, Yuzuriha, Shura, Yuna
Ter-asyik: Souma, Dohko, Kardia, Manigoldo, Phantasos, Regulus, Milo, Kanon, Aiolia
Batas waktu voting diterima adalah hari Sabtu, 11 Mei, pukul 23:59:59. Voting yang masuk setelah itu tidak akan dihitung. Jika masih ada yang tidak dimengerti, silakan hubungi kami via PM atau di twitter kami.
Sampai bertemu di chapter berikutnya!
