Disclaimers: Karakter-karakter yang disebutkan di sini jelas bukan milik kami dan kami tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari pemublikasian fanfiksi ini.

Warnings: Fanfiksi ini mengandung hal-hal berbau gay atau hubungan homoseksual, pikiran-pikiran berat sebelah dari kami selaku pengarangnya, lelucon garing dan perusakan imej karakter. Bagi yang keberatan silakan tekan tombol back sekarang juga. Selain itu, rusaknya moral dan kesucian pikiran pembaca pasca membaca fic ini tidak menjadi tanggung jawab pengarang.

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Chapter 4: Ter-Lebay, Ter-Kharismatik, Ter-Galau

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Waktu istirahat yang diisi oleh—untuk yang menonton melalui layar televisi—iklan-iklan sebentar lagi akan berakhir. Para tamu undangan mulai merapikan penampilan mereka masing-masing, antisipasi kalau-kalau kamera menyorot ke arah mereka. Semuanya duduk manis di tempatnya sendiri-sendiri, menanti salah seorang kru acara memberi isyarat bahwa kamera akan kembali dinyalakan.

Semua, kecuali mereka yang berkumpul di salah satu pojokan Coliseum.

"Itu ribut-ribut apaan, 'sih?" Cain mendongakkan kepala untuk melihat ke arah pojokan ang dimaksud. Abel, yang mendengar pertanyaannya, mengangkat bahu tanda ia pun tak tahu.

"Kru acaranya nggak ada yang mau nyamperin dan nyuruh mereka diem apa? Berisik sumpah," Cardinale menggerutu pelan dari tempatnya duduk.

"Gimana kalau kamu aja yang ngelakuin itu?" usul Ox.

"Males, ah. Ntar kalau aku ditabok karena ngeganggu mereka trus pipiku bengkak, bisa-bisa Shijima nggak naksir aku lagi."

"... Untung orangnya lagi ke toilet bareng konco-konco sesama Virgo-nya, kalau nggak dia yang bakal nabok kamu. Eniwei, bukannya Shijima nggak bisa ngeliat kamu, ya?"

"Kan dia ngeliat dengan ngeraba mukaku."

"Oh..."

"Tapi, serius, mereka lagi ngapain, 'sih? Heboh bener," Izo mengerutkan dahi penasaran. Namun, sama seperti teman-temannya, ia ogah beranjak dari tempat duduknya. Sudah dapat pewe, 'sih—posisi wuenak.

"Taruhan." Deathtoll mendadak bersuara ketika ia kembali ke tempat duduknya. Dan pada detik itulah, kamerad-kameradnya baru sadar bahwa sang Cancer tadi telah pergi entah ke mana—kemungkinan besar ke pojokan ramai yang sedari tadi dibicarakan. "Laki-laki yang menyebut dirinya Don Avido itu membuka taruhan kecil-kecilan tentang siapa yang bakal memenangkan Kategori Ter-Galau nanti; Scorpio Milo atau Leo Aiolia."

"Kenapa harus dua orang itu?" Abel mengernyit heran. "Kenapa bukan penerusku dan Cain, atau siapa gitu..."

"'Kan daritadi di layar gede itu," Deathtoll menunjuk layar besar di panggung, "diperlihatkan jumlah voting yang masuk tiap beberapa menit sekali. Nggak liat, ya, nama mereka berdua dapet voting banyak?"

"Jelas aja kita nggak liat, tempat duduk kita jauh di belakang tribun begini..." Kaiser menyahut frustasi.

"... oh iya. Pokoknya, mereka berdua kalau nggak salah seimbang. Trus di tempat taruhan itu, kita bisa milih yang menang kira-kira si kalajengking atau si singa atau mereka malah seri atau pemenangnya malah bukan salah satu di antara mereka berdua."

Cardinale mengangguk-angguk sok mengerti. "Lalu, kamu milih siapa?"

"Milih seri! Dan berharap beneran seri. Mau milih pilihan yang manapun, harga tiket taruhannya sama mahalnya, bo. Yang nggak menang taruhan bakal frustasi berat kalau kalah..."

"Supaya tidak frustasi, ya, jangan beli tiket-tiket begitu, dong."

Barisan Saint Emas dari seri Next Dimension langsung menoleh ke arah asal suara. Shijima. Sepertinya ia baru saja kembali dan langsung disambut pembicaraan setengah serius kawan-kawannya tentang tiket taruhan. Segera setelah sang Virgo duduk kembali di tempatnya, dibantu oleh Cardinale, ia memulai ceramahnya.

"Kau sudah tahu bahwa ada kemungkinan kalau kau akan kalah dan uangmu terbuang percuma, lalu kenapa kau tetap melakukannya? Kau—kalian juga sudah kuberitahu berkali-kali kalau berjudi itu tidak sehat, baik dari segi keuangan maupun batin. Kalau kau, Deathtoll, beralasan bahwa imanmu tidak kuat, sebaiknya—"

"Errrrrr Shijima?" Suara Cain menginterupsi sesi kultum si rambut merah. "Kru acaranya sudah memberi tanda untuk diam dan fokus ke arah panggung, tuh. Ceramahnya nanti saja, oke?"

Shijima seperti hendak mengatakan sesuatu, namun memutuskan untuk diam saja ketika mendengar suara lantang staf acara yang menghitung mundur detik-detik ditekannya tombol merekam kamera-kamera di tempat itu.

"—2... 1... dan, MULAI!"

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK END

oOoOoOoOoOoOoOoOo

"Selamat malam pemirsa! Kembali bersama kami berdua di acara Saint Seiya Awards!"

Penonton bertepuk tangan heboh sesuai arahan kru acara. Namun, tidak seperti sebelum-sebelumnya, tindakan para tamu undangan itu tidak dibalas dengan ucapan-ucapan penuh semangat oleh kedua pembawa acara. Mereka melirik dan menyikut satu sama lain, saling menyuruh satu dan yang lainnya untuk mulai berbicara.

"Mereka ngapain?" Apollo mengerjap bingung.

"Nggak tau. Kayak boneka yang malfungsi, ya? Kalau kulempar sepatu, mungkin bakal bener lagi," Ares sudah mencopot sebelah sepatu yang ia pakai dan bersiap melempar.

"Yuk, bareng-bareng aja biar persentasi kenanya semakin tinggi." Saori ikut-ikutan melepas sepatunya, yang hari itu bukanlah bermerek sama dengan nama tongkatnya, melainkan stilleto karya Manolo Blahnik.

Beruntung sebelum dua orang bersaudara dengan tingkat kelabilan akut itu berhasil melancarkan niatan mereka, Zeus tumben-tumbennya bersikap seperti seorang ayah yang bertanggung jawab dan menggeplak kepala dua orang anaknya itu.

"Kalau kalian mulai ngelempar sepatu, yang lainnya bakal ikut-ikutan ngelempar sepatu!" tegur raja dari para dewa-dewi Yunani itu sambil menunjuk beberapa orang lainnya yang juga sudah melepas sebelah sepatu mereka, seperti Eris dan Poseidon. "Kasih taunya secara baik-baik aja, bisa, 'kan?"

Kalimat itu seolah-olah menjadi isyarat bagi seseorang untuk muncul. Seseorang yang membuat Minos dan Aiacos tersentak kaget dan kompak mendesiskan suatu nama—atau lebih tepatnya, julukan.

"Si sutradara!"

Ya, si sutradara yang digosipkan berwajah mirip dengan Dewi Pallas muncul dari belakang panggung, untuk kemudian menjewer sebelah telinga kedua pembawa acara dan membisikkan sesuatu yang membuat Aiolia dan Milo pucat. Setelah dua Ksatria Emas itu mengangguk lemah, sang sutradara melenggang pergi, kembali ke belakang panggung.

"Baiklah... sori kita tadi openingnya ga bener. Tadi kita agak... down." Milo berujar sembari cengengesan. "Lupain aja, ya? Baiknya kita panggilin pembaca nominasinya sekarang, Li'."

Aiolia mengangguk. "Pembaca nominasi kali ini... lagi-lagi sepasang kakak beradik dalam tanda kutip." Ia tertawa sambil membuat gestur memberi tanda kutip pada ucapannya. "Maksudnya dalam tanda kutip itu mereka bukan kakak beradik kandung, tapi... yah, begitulah. Gimana jelasinnya, ya?"

"Nggak usah dijelasin. Langsung ajalah kita suruh naik ke atas panggung."

"Oke. Beri tepuk tangan yang meriah untuk..."

"Pisces Albafica dan Leo Regulus!"

Koor "oh" pertanda kemafhuman para penonton menyelingi gemuruh tepuk tangan yang mengiring masuknya Albafica dan Regulus ke atas panggung. Mereka paham seperti apa hubungan keduanya ketika tidak berakting di depan kamera... juga tentang affair kedua orang tua mereka.

"Malam, semuanya, baik yang ada di sini maupun yang sedang nonton di rumah!" Regulus tersenyum lebar sambil melambai ke arah kamera. "Saya dan Albafica diserahi tugas untuk membacakan nama-nama kandidat pemenang dari tiga kategori, yaitu Ter-Lebay, Ter-Kharismatik, dan Ter-Galau! Mulai darimana, ya, enaknya?" Ia mendongak untuk melirik ke arah partnernya. "Albafica mau baca dari yang mana dulu?"

Pria rupawan itu mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Aku tak tahu. Kau ingin membaca yang mana terlebih dahulu?"

Pemilik konstelasi singa itu merenung sejenak. Benar-benar hanya sejenak, yaitu sekitar tiga detik saja. "Mulai dari yang Ter-Lebay dulu, deh! Ngomong-ngomong, maksudnya lebay itu apa, ya?"

"Maksudnya itu orang-orang tingkahnya terlalu mendramatisir. Berlebihan. Contohnya seperti Aphrodite ketika botol pewangi badannya jatuh dan pecah karena kamu senggol tempo hari itu."

"GUE UDAH BILANG ITU NAMANYA PARFUM DAN HARGANYA ITU SUPER DUPER MAHAL, YA JELAS AJA GUE JADI LEBAAAAY!" Aphrodite berteriak emosi dari bangku penonton. Bagaimana ia tidak emosi mendengar inkarnasinya menyebut parfum sebagai pewangi badan dan menganggap remeh pecahnya sebotol parfum Dior yang ia beli setelah perjuangan berat? Deathmask dan Shura yang ada di kedua sisinya langsung sigap menenangkannya.

"... nah, yang begitu itu lebay, meskipun taraf lebaynya nggak separah orang-orang yang dinominasikan untuk kategori ini. Paham?"

Regulus mengangguk girang. "Makasih, Al! Kalau gitu, kita mulai aja baca dari nominasi pertama yaitu—" Ia diam sebentar. Alisnya terangkat naik. "—Balor? Dia lebay darimananya?"

"Sisi posesif terhadap putrinya itu lebay, kayaknya. Ditinggal si anak kawin sama menantu sendiri aja jadi dendaman gitu! Nggak keren!" Atavaka tertawa mencemooh.

"Gue ga lebay! Lagian, orang tua mana sih yang rela anak cewe kesayangan dan satu-satunya dinikahin sama cowok yang belum direstui?" Balor menatap tajam para pria yang diketahuinya menjabat sebagai ayah.

"Biasa saja," sahut Zeus kalem, disambut anggukan kepala dari sebagian besar kaum ayah yang menghadiri acara itu.

"Kalau putri saya memang senang dan bahagia jika bersama lelaki yang dinikahinya, saya rela-rela saja," Ludwig ikut berpendapat.

"Itu namanya sudah kamu restui, dong..." Youma memutar bola matanya secara imajinatif.

"Berikutnya ada... teman sejawat kami berdua dan muridnya, Libra Dohko dan Dragon Shiryu."

Dohko mengerjap kaget. "Saya dan Shiryu? Kita lebay darimananya?" Ia bertanya-tanya sambil melihat ke arah orang-orang di sekitarnya, berharap ada yang mau menjawab, tapi kebanyakan dari mereka hanya bisa mengangkat bahu ketika bertemu pandang dengannya.

"Oh! Mungkin karena Roushi dan Shiryu kalo lagi bergairah saat bertarung mendadak suka topless begitu? Aku ngerasa itu agak lebay, 'sih," Seiya tertawa pelan.

"Itu lebay, ya? Kirain udah tradisinya orang Cina kalau bertarung itu mesti topless," tanya Shun polos.

"Tapi, Ryuho nggak begitu, deh, seingatku..." Kouga melirik sang Naga kawannya.

Ryuho agak salah tingkah karena ia dilirik dan dimasukkan ke dalam pembicaraan. "Itu... eh... a-aku, 'kan, nggak berotot macam Ayah dan Roushi, jadi kurang pede kalau mau buka-bukaan..."

"Nggak pede, atau ada yang ngelarang?" Yoshitomi berbisik pelan dari tempatnya menonton di belakang panggung, membuat Pavlin yang ada di dekatnya cekikikan.

"Kemudian kita punya Garnet!"

"Lho? Kok bisa?" Garnet menoleh ke arah pasukan kecilnya, yang berjejer di kanan kiri tempatnya duduk. "Aku lebay? Dari mana?"

"Dandananmu lebay," sahut Flint, tentunya dalam hati.

"Caramu berpakaian lebay," jawab Carnelian, juga dalam hati.

"Obsesimu terhadap hidup muda dan abadi lebay," Chalcedony ikut menjawab dalam hati.

"Nggak... nggak tau! Saya nggak merasa nona lebay, 'kok," hanya Tourmaline yang berani menjawab pertanyaan nona mereka itu.

"'Kan?" Nona besar itu menghela napas, lalu kembali menatap kedua pembaca nominasi. "Hei, kamu tidak salah baca? Mungkin sebenarnya yang tertulis di sana itu si pelayan miskin itu, Fluorite. Dia, 'kan, lebay sekali."

"Heh! Maksudnya apa, ya! Dasar tante-tante ber-make up menor!" Fluorite sudah akan meninggalkan bangkunya jika saja tidak ditahan oleh Celintha dan Conner.

"Nggak, 'kok, di sini benar-benar ditulis G-A-R-N-E-T. Garnet." Regulus tersenyum manis, yang telah sering terbukti manjur membuat orang-orang luluh dan berhenti marah-marah. "Terima saja, ya? Dikejar durasi, 'nih, nanti kita kena amuk sutradara. He he."

"Selanjutnya..." Albafica berhenti sejenak, memicingkan matanya dan mendekatkan cue card ke wajahnya. Sepertinya tulisan yang akan ia baca dicetak dalam ukuran mini. "... 'tiga orang gemulai', Cygnus Hyoga, Aquarius Tokisada, dan Wolf Haruto."

"HAH!?" Teriakan ketiga orang itu kalah oleh suara tawa dari para penonton di sekitar mereka.

"Tunggu! Kalau dua orang itu," Haruto menunjuk ke arah Hyoga dan Tokisada, yang langsung mendelik tajam ke arahnya, "masih bisa dimengerti. Tapi, aku? Lebay? Gemulai? Nggak salah?"

"Reaksimu itu bisa dihitung lebay, lho," Souma menyahut, lalu tertawa lagi.

"Kalau nggak salah, caramu make Wolf Cloth di season pertama juga lumayan lebay. Gemulai-gemulai gimana, gitu, ngalah-ngalahin Yuna," Hooke menambahkan.

"Dan di season baru, kamu lebih lebay lagi. Pakai acara jadi penyanyi rock segala..." ayah Haruto, Zenzou, geleng-geleng kepala kecewa.

"... YA ITU, 'KAN, SALAHNYA SI TATSU—"

Haruto tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Mendadak mulutnya sudah disumpal bongkahan balok es yang lumayan besar. Berkat Hyoga, tentunya.

"Bisa dilanjutkan, 'kan? Oke." Regulus melirik kartunya. "Yang terakhir adalah Athena Saori!"

Saori membuat ekspresi terkejut seelegan mungkin. "Aku lebay? Ah, masa'? Ciyus miapah?"

"Mi goreng campur nasi goreng! Sedap, tuh!" Pandora berteriak frustasi. "Sumpah, ya. Ngomong biasa aja kamu udah lebay, sekarang ditambah ngomong alay, lagi!"

"Beneran? Aku nggak ngerasa lebay, ah."

"Kalau dilihat dari reaksi kandidat-kandidat sebelum kamu, mereka juga denial kalau mereka lebay, 'kok," Julian Solo mengetuk-ngetukkan jarinya pada bangkunya, tak sabaran.

"Kalau menurut testimonial dari para fans, 'sih, menurut mereka kamu lebay karena dari jaman Seiya masih Bronze cupu yang demen diomelin sama Marin sampai dia jadi Saint Emas nan gagah perkasa meskipun paling pendek, kamu tetep aja demen diculik, mesti ditolongin sama yang muda-muda, pokoknya meskipun kamu itu dewi perang, 'kok kesannya lemah sangat... gitu," Pallas membaca apa yang tertulis di layar Android yang ia pegang dan entah didapat darimana.

Saori merengut sebal. "Itu nggak lebay! Dan kalau aku sok lemah, itu dari skripnya! Lagian, udah pada lupa, ya, aksi keren ku pas ngelawan Mars dan Hades?"

"Itu doang yang keren. Selebihnya nggak." Komentar Medea disambut anggukan dari nyaris seluruh penonton yang ada di sana.

"... AAAAH INI SALAH SI SEXIST KUR—"

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Iklan muncul memotong kalimat frustasi dari sang Athena. Iklan dibuka dengan adegan di Lugonis muda, kira-kira ketika ia masih berumur 20-an, sedang ikut aksi menanam seribu pohon. Seorang anak kecil dengan wajah dan badan terkotori tanah berlumpur mendekatinya, menunjukkan sebuah tanaman herbal yang ia temukan. Lugonis tersenyum kecil dan mengusap pipi anak itu, diiringi suara latar yang sangat mirip dengan suara Ilias.

Lugonis, kecintaan Yunani. Banyak yang mengaguminya.

Oh, koreksi. Itu memang suara Ilias. Karena setelah adegan di mana Lugonis terlihat berdiri di panggung dan menerima piala penghargaan entah apa, tampak Ilias duduk di bangku penonton, bertepuk tangan bersama yang lainnya.

Pesonanya...

Adegan Lugonis menggantungkan jas yang dipakai Ilias di hanger dan memasukannya ke dalam lemari.

Cantiknya...

Kemudian Ilias membantu melepaskan kemeja yang dikenakan Lugonis. Kamera menyorot betapa mulus dan putihnya kulit punggung si rambut merah. Ilias menyunggingkan senyum manis yang jarang ia tunjukan bahkan ke putranya sendiri.

Di mataku, dia bahkan lebih cantik dari yang mereka kenal.

Adegan berganti lagi ke Lugonis, yang mengambil sebotol produk body lotion yang diiklankan dan mulai mengusap seluruh tubuhnya dengan body lotion tersebut. Mulai dari bagian tangan, perut, sampai ke bagian punggung. Narasi dari Lugonis sendiri turut mengiring.

Kurawat kulitku dari yang mudah kulihat hingga yang sulit kulihat. Seluruhnya.

Dan di saat Lugonis baru selesai mengolesi bagian punggungnya, mendadak Ilias muncul lagi. Tangannya bergerak lembut, menggerayangi punggung Lugonis yang halus nan mulus. Kemudian ia menundukkan kepalanya, mencium pertemuan antara leher dan bahu sang Pisces. Suaranya kembali terdengar.

Bangganya—menyebut dia istriku.

Iklan berakhir dengan ditunjukkannya berbagai macam dan disebutkannya nama body lotion itu, plus wajah Lugonis yang bersemu merah karena Ilias memeluknya dari belakang, dengan wajah masih begitu dekat dengan leher jenjangnya.

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK END

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Ketika iklan berakhir, sebagian besar penonton dalam keadaan lemas dan menyumpal hidung sendiri dengan tangan, tisu, atau sapu tangan. Albafica dan Regulus cengo menatap layar besar di belakang mereka—ya, ketika iklan berjalan, layar yang biasanya digunakan untuk memperjelas apa yang terjadi di atas panggung berfungsi untuk memperlihatkan iklan apa yang dilihat oleh para penonton yang menyaksikan acara tersebut melalui televisi rumah. Salah seorang yang membintangi iklan barusan tetap bertampang datar, sementara satunya menutup wajahnya sendiri dengan kedua belah tangannya.

"... Wow!" Subaru menjadi pemecah keheningan yang mendadak melingkupi Coliseum.

"... ya, wow sepertinya komentar yang cocok untuk iklan barusan," Vermeer terkekeh pelan, masih menyeka darah yang mengalir keluar dari hidungnya.

"Kulitnya… ngalah-ngalahin kita yang cewek tulen aja…" Freya masih menatap layar dengan wajah cengo.

"Meskipun sudah berumur, kulitnya masih mulus saja, 'kok," ujar Ilias sambil mengelus belakang leher Lugonis, membuatnya kemudian menerima bogem mentah telak di pipi.

"Daripada itu, aku lebih syok dengan kalimat terakhir Ilias tadi. Sutradaranya sungguhan memintamu untuk bilang begitu?" Hakurei mengangkat sebelah alisnya.

"Itu dia improvisasi, 'kok." Sisyphus angkat bicara, mewakili abangnya yang sedang sibuk ditaboki oleh Lugonis. Toh, ia masih ingat segala hal yang terjadi ketika iklan tersebut dibuat. "Ketika semua scene sudah direkam, sutradara mendatanginya dan memintanya untuk membacakan narasi yang sudah disiapkan. Tapi di narasi itu ada satu bagian yang kurang, dan sutradara membiarkan Abang untuk membuat kalimatnya sendiri."

"Dan sutradaranya setuju-setuju saja saat dia mengucapkan dialog tadi?" Shion menggelengkan kepala, heran.

"Sutradaranya penggemar berat mereka berdua, 'sih..."

"... oh, pantas."

"Hei, kalian berdua! Tidak apa-apa, 'kah?" Teriakan Aldebaran membuat Albafica dan Regulus, yang tadinya mematung di tempat, terkejut dan langsung kembali menghadap penonton. "Bisa dilanjutkan?"

"Ah... ya, tentu..." Albafica berdeham sebentar untuk menghilangkan rasa canggungnya sebelum mengeluarkan dan membuka amplop berisi nama pemenang. Ia lalu memberikannya kepada Regulus agar sang Leo bisa membacanya.

"Er, di kartunya ada penjelasan. Katanya..." Regulus membaca dalam hati kalimat yang tertera hingga selesai sebelum mengucapkannya secara lantang. "... 'orang ini menang telak atas kandidat-kandidat lainnya, di mana runner-up-nya hanya bisa mendapatkan seperempat dari total suara yang diraihnya'."

"Jumlah orang yang mendukung si runner-up Cuma seperempat dari jumlah pendukung juara satu? Gokil..." Io terkesima.

"Sepertinya aku bisa menebak siapa pemenangnya," Tokisada menggumam pelan.

"Pemenangnya adalah... ATHENA SAORI!"

"APAAAHHH!?" Saori kontan berdiri, tapi tidak langsung berjalan ke atas panggung. "Masa' saya yang menang? Ini pasti ada kesalahan, 'nih! Saya nggak lebay! Nggak! Nggak! Ng—"

Protes reinkarnasi Athena paling anyar itu terhenti saat sebuah bantal hitam menghantam belakang kepalanya. Kontan ia menoleh ke belakang dan menemukan Khronos menatap tajam ke arahnya.

"Jangan banyak bacot dan ambil pialanya, lalu kembali lagi ke sini." Salah satu dewa paling sepuh yang dimiliki kelompok Yunani itu memberi titah. "Cepat lakukan sebelum kau kuubah jadi bayi lagi dan kulempar entah ke dimensi apa!"

Terintimidasi total, Saori buru-buru mendatangi Albafica dan Regulus yang menyerahkan piala yang menjadi haknya. Ketika ia diminta berpidato sebentar, terlintas di benaknya niatan untuk kembali mengelak bahwa dia adalah seseorang yang lebay. Tapi ketika melirik ke arah tribun dewa-dewi, ternyata bukan hanya Khronos saja yang memelototinya, tapi juga dua orang omnya yang memang selalu sensi kepadanya. Jadilah ia hanya mengucapkan terima kasih seadanya dan kembali duduk di tempatnya semula.

"Nah, itu tadi pemenang Kategori Ter-Lebay. Sekarang kita maju ke kategori... hm, yang mana, ya?" Regulus mengusap-usap dagu, bimbang memilih.

"Ter-Kharismatik saja bagaimana?" Albafica mencoba mengusulkan.

Singa muda itu mengangguk-angguk setuju. "Boleh, boleh. Oke, jadi mulai dari Ter-Kharismatik! Nominasi pertamanya adalah Gemini Saga!"

"Wah, Saga... selamat, ya!" Aiolos menepuk pundak Gemini kakak satu itu, lalu menjabat tangannya. "Tuh, 'kan, kamu memang lebih cocok jadi pemimpin daripada aku."

Saga tersenyum lembut. "Berkharisma bukan satu-satunya syarat untuk jadi pemimpin yang baik, kau tahu itu. Lagipula, aku punya firasat kalau namamu juga akan disebut..."

Tepat setelah Saga menyelesaikan kalimatnya itu, Albafica berseru, "Berikutnya, ada Sagittarius Aiolos!"

"Nah, tuh, 'kan?" Celetukan Saga plus tepuk tangan dan ucapan selamat dari kamerad-kameradnya membuat Aiolos tertawa sambil sedikit tersipu malu.

"Kemudian ada... Rhadabingung?" Regulus mengerjap. "Siapa ini? Saudaranya Rhadamanthys?"

"Bro, namamu, tuh!" Minos kemudian tertawa terbahak-bahak bersama Aiacos. Rhadamanthys hanya bisa facepalm. Ia sudah paham bahwa banyak sutradara yang senang mengusilinya dengan memberinya nickname yang aneh-aneh, tapi tak pernah disangkanya mereka sampai tega memasukkan salah satu nickname-nya itu ke lembar daftar nominasi.

"Kalau Judges sampai ikut dinominasiin, kira-kira Marine General ada yang masuk juga, nggak, ya?" Tethys iseng bertanya.

"Sepertinya, 'sih, nggak. Anggota kita mana, 'sih, yang kelihatan berkharisma?" Baian menghela napas sedih.

"Gue," Isaac menyahut dengan penuh percaya diri.

"Gue juga!" Io ikut-ikutan mengaku narsis.

"... Balik ke laut kalian sendiri-sendiri sana."

"Kemudian... ada paman saya, Sisyphus, dan rekan sesama kucing, Dohko!"

"Nggak seperti pemegang Cloth Leo lainnya, dia mengakui kalau dia itu kucing," Manigoldo tertawa pelan. Ia lalu menepuk-nepuk kepala Dohko yang duduk di barisan di depannya. "Dan gue baru sadar lo juga kucing. Kucing belang. Ha ha!"

"Kucing belang ini sudah berkali-kali masuk nominasi, lho, senior kepiting," Dohko memampangkan cengiran pede.

"Tapi nggak pernah menangin satupun piala, beda sama tuan kepiting ini, yang sekali dinominasiin langsung menang. Bwahahahaha!"

"… sial."

"Kemudian ada dua orang yang pernah menduduki pimpinan tertinggi di Sanctuary setelah Athena—Cancer Sage dan Aries Shion!"

"Hei, saudara kembarku dan muridku masuk nominasi tapi aku tidak? Kau pasti bercanda," Hakurei pura-pura kesal dan disambut tawa renyah dari adik kembarnya.

"Tidak apa, Tetua. Tidak masuk nominasi dalam acara ini bukan berarti Anda tidak berkharisma, 'kok," Yuzuriha dengan polosnya mencoba menghibur.

"Ha! Tidak masalah, Yuzuriha, aku tidak benar-benar marah." Lelaki tertua dari kelompok orang-orang Jamir itu tersenyum usil. "Lagipula, aku memang menganggap Sage lebih berkharisma daripada diriku ini. Makanya kubiarkan dia menjadi Saint Cancer."

"Dan yang terakhir ini bikin saya agak bingung... kita punya Scorpio Milo!"

Mewakili Regulus dan semua orang yang ikut merasa bingung dengan disebutkannya nama Milo sebagai salah satu kandidat penerima piala Ter-Kharismatik, Aiolia bertanya, "Lo? Kharismatik? Dilihat dari atas Menara Pisa dan diterowong lewat sedotan?"

"Eh, enak aja. Gue ini berkharisma, tauk!" Sambar sang Saint konstelasi kalajengking itu sambil menggeplak kepala partnernya dengan buku rundown acara. "Buktinya semua penantang yang datang ke kuil gue pasti terkesiap dulu kalo liat gue. Mereka begitu karena kharisma gue!"

"Nggak gitu juga, kayaknya. Lebih tepatnya, mereka takut sama kukumu yang mantep cep cep itu," Mirfak menjelaskan, lalu langsung mengambil langkah seribu ketika dipelototi oleh Milo.

Lampu-lampu diredupkan dan spotlight mulai bergerak menyapu kepala-kepala para penonton sementara Regulus membukakan segel amplop dan menyerahkan isinya pada Albafica. Si rambut biru itu membaca sejenak kartu di tangannya dan setelah yakin tidak ada tambahan apa-apa, ia mengangkat wajahnya lagi.

"Pemenang Kategori Ter-Kharismatik adalah... GEMINI SAGA!"

Tepuk tangan memenuhi Coliseum—bahkan kubu antagonis yang biasanya hanya bertepuk tangan ala kadarnya setiap kali nama pemenang disebutkan (karena nyaris semua pemenang kategori-kategori sebelumnya berasal dari kalangan Saint Athena), kini sedikit lebih semangat melakukannya. Saga naik ke atas panggung dan menjabat tangan Albafica dan Regulus setelah menerima pialanya.

"Saya... sama sekali tidak menyangka akan menang kategori ini. Saya kira Aiolos yang bakal menang, atau Pope Shion. Pasalnya... yah, tahu sendiri saya diceritain sempat berkhianat, membuat Saint bertarung satu sama lain. Saya kira saya bakal dibenci..." Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum bak malaikat. "... tapi saya senang karena ada banyak orang yang masih menerima saya dan menganggap saya cukup kharismatik untuk memenangkan kategori ini. Terima kasih untuk kalian semua."

Pidato dari Saga itu ditutup dengan gerakan membungkuk dalam dan tepuk tangan dari semua orang yang hadir di sana. Ia kembali dihujani ucapan selamat, jabatan tangan, tepukan di bahu, dan lain-lain. Albafica dan Regulus menunggu hingga huru-hara kecil itu sedikit mereda sebelum kembali memimpin acara.

"Dan kita akhirnya tiba di kategori terakhir untuk sesi kali ini, yaitu Ter-Galau!" Regulus berhenti tersenyum. Ia menoleh ke arah Albafica dan bertanya polos, "Galau itu apa, ya?"

"Menurut KBBI, 'sih, galau itu 'sibuk beramai-ramai', tapi anak jaman sekarang lebih sering mengartikannya sebagai keadaan sedih dan murung saat kepala penuh memikirkan banyak hal atau satu saja masalah namun tak kunjung selesai," Ksatria Pisces itu menerangkan dengan sabar.

"Oh... jadi orang yang gloomy-gloomy... kayak Sisyphus?"

Sisyphus kontan mengangkat wajahnya saat mendengar namanya disebut. "Saya?"

"Setuju. Sisyphus terlalu sering galau, seolah semua masalah itu jadi bebannya seorang diri," ucap El Cid. Ada sedikit kepahitan dalam ucapannya, yang membuat lelaki yang dikritik berjengit.

"Dan memang Sisyphus masuk nominasi," Albafica terkekeh pelan ketika menemukan nama sang Sagittarius di deretan nama-nama nominasi. "Selain Sisyphus, juga ada seorang Sagittarius lain, yaitu Sagittarius, atau Pegasus, Seiya."

"Tindakan gue yang mana yang menunjukkan kalau gue galau?" tanya Seiya tidak rela. Ia tahu bahwa mukanya tidak galau, karena Hyoga dan Shiryu sering mengatakan bahwa wajahnya lebih mirip wajah orang bloon.

"Daripada galau, kayaknya lebih tepat kalau dibilang lo itu gagal move on," Jabu menyeringai lebar. "Inget, 'kan? Tadi di red carpet ada yang minta lo buat move on."

"Kalau yang lo maksud dari gagal move on itu soal gue dan jurus gue yang kagak berubah-ubah dari jaman klasik sampai jaman Omega, nggak usah dibahas di sini, deh. Ntar aja lo omongin ke sutradaranya Omega. Seriusan, gue galau apanya?"

"Kamu mikirin nona Saori terus, 'kan? Sampai yang lain-lainnya nyaris nggak dipikirin," Shun tersenyum jahil saat melihat bahwa bisikannya sukses membuat Seiya tersipu-sipu.

"Tenang, Seiya! Ada satu temanmu yang juga masuk kategori ini!" Regulus cekikikan sebentar sebelum membacakan, "Cygnus Hyoga!"

"... udah gue duga." Hyoga memutar bola matanya. Ia paham betul bahwa dirinya memang sering masuk ke dalam mode galau, apalagi kalau sudah diingatkan tentang ibu, guru, dan saudara seperguruannya. Untungnya dia tidak secengeng Shun, kalau tidak mungkin dia sudah masuk nominasi Ter-Lenje... jika ada.

"Menyusul Hyoga adalah gurunya sendiri, Aquarius Camus."

"Wah, Camus. Pasti senang, ya, bisa masuk kategori bareng muridmu?" Mu tersenyum lembut. "Aku juga ingin masuk nominasi bareng Kiki, atau Shion-sensei... meski kalau bisa, bukan kategori yang tidak mengenakan begini."

"Camus senang bukan hanya karena ia dan Hyoga berhasil dinominasikan di kategori yang sama, tahu," Kanon menyeringai lebar, mencubiti pelan wajah Camus yang tetap datar. "Tapi karena sahabatnya juga sudah bisa dipastikan masuk kategori ini. Iya, 'kan?"

Seolah diaba-aba oleh kalimat sang Naga Laut, Regulus melanjutkan membaca nama yang tertera di kartu. "Dan, seperti yang sudah ditebak dari sebelum iklan, Scorpio Milo dan Leo Aiolia juga menjadi calon penerima piala!"

Belakang panggung kontan riuh oleh suara tepuk tangan dan siulan. Kedua pembaca nominasi dapat mendengar dari tempat mereka berdiri teriakan-teriakan Milo dan Aiolia yang mencoba membuat para kru acara berhenti memberi selamat kepada mereka. Akibatnya, 'kakak beradik' itu tersenyum geli dan membuat orang-orang yang menyadarinya kebingungan.

"Nah... terakhir, nih... adalah si Pangeran Marsian, Orion Eden!"

"Oh, Eden!"

Medea refleks memeluk Eden, dan detik itu juga pemuda satu itu menyesali posisi tempat duduknya yang antara nyaman dan tidak nyaman. Nyaman, karena sebenarnya ia bisa saja main game di segala macam gadget yang ia bawa dengan tenang, namun tak nyaman karena selalu ada resiko bahwa ibunya mendadak akan bertingkah terlalu mendramatisir. Seperti sekarang ini.

"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, nak. Nggak baik buat kecantikan." Sang ibu membelai sayang rambut putranya, meski kemudian wajahnya mengkerut. "Tuh, padahal kamu masih muda tapi udah ubanan kayak begini..."

"Ibunda, ini Cuma cat rambut dan tuntutan peran aja. 'Kan aku ada kontrak main film Dev—"

"HUATSYIIIIIIII!" bersin bervolume suara keras dari Vulcan sukses menenggelamkan sisa ucapan Eden, membuat hanya orang-orang di sekitar Eden yang bisa mendengarkan omongannya.

"Tuntutan peran, 'sih, boleh, tapi kalau kamu nggak syuting kayak gini, cat balik ke warna rambut asli dong. Ibunda sedih, 'nih, nggak bisa lihat warna rambutmu yang cantik dan menyerupai warna rambut Ibunda..."

"Aku malas, Ibunda, bolak-balik ngecat rambut. Kayak nggak nyita waktu aja, yang kayak gitu itu."

"Dan sekarang, pemenang dari Kategori Ter-Galau adalah..."

Bersamaan dengan diredupkannya lampu-lampu dan dua orang yang berada di atas panggung berusaha membuka segel amplop, sejumlah orang yang berada di tribun penonton mengatupkan tangannya. Mereka adalah orang-orang yang telah membeli tiket taruhan dari Avido. Beberapa komat-komit, entah membaca doa atau mantra pelet. Semuanya mengharapkan agar keinginan masing-masing terkabul.

"... oke, ini nggak terlalu susah ditebak, ya." Regulus menutup mulutnya dengan tangannya sendiri saat melihat nama yang tertulis di kartu pemenang.

Albafica mengangguk dan ikut tersenyum saat membacanya. "Ya. Sejak awal sudah ketahuan jelas."

"Piala Ter-Galau jatuh pada... SCORPIO MILO!"

"YEEEEAAAHH!" adalah teriakan orang-orang yang menjagokan Milo sebagai pemenangnya.

"NOOOOOOOOOOOOOOESS!" adalah erangan kecewa dan frustasi bagi yang memilih opsi lain.

"Berisik!" adalah seruan-seruan mereka yang duduk di dekat para petaruh. Sebagian dari mereka malah bertindak ekstrim dengan menghajar si petaruh sepersekian detik setelah mereka berteriak.

"Bukankah sudah kukatakan tadi, sebelum acara dimulai, bahwa berjudi itu tidak baik? Bukannya langsung membatalkan tiket itu dan mengambil uangmu kembali, kau malah berharap pada kemungkinan yang tak pasti. Bla bla bla bla..." Sesi ceramah dari kaum Virgo pun membahana, membuat para penonton lain makin tidak senang.

"Woi, Mil! Buruan ambil, deh! Biar cepet kelar, trus kita closing dan mereka juga langsung diem!" Aiolia berusaha mendorong karibnya itu untuk naik ke atas panggung.

"Iya, iya! Sabar, ah! Nggak perlu dorong-dorong!"

Milo berhati-hati berjalan ke atas panggung dan, sesuai ucapan sang Leo, para penonton perlahan-lahan berhenti bersuara untuk menontonnya diserahi piala. Begitu ia selesai menjabat tangan Albafica dan Regulus yang memberinya selamat dan berbalik untuk menyampaikan pidato singkat, ia langsung merasakan hawa-hawa tidak enak. Seperti hawa membunuh. Sepertinya mereka-mereka yang tidak memenangkan pertaruhan merasa dendam padanya.

"Er... hai." Milo memulai pidatonya dengan lambaian tangan dan cengiran gugup. "Oke, jadi... erm, aduh, kok mendadak gue ngerasa canggung, ya? Aneh."

"Psst! Mil!" Suara Aiolia membuatnya mengalihkan pandangan ke arah jalan menuju belakang panggung. "Nggak usah kebanyakan cingcong! Sutradara bilang nyawa lo dalam bahaya!"

Mulut pria berambut biru keunguan itu membuka dan menutup. Tak ada suara yang keluar, tapi jelas ia mencoba bertanya "seriusan?" pada kawannya itu. Untung Aiolia sudah mengenal Milo cukup lama untuk mengerti bahasa gerak bibirnya dan ia mengkonfirmasi pertanyaan itu dengan anggukan tegas. Milo menelan ludah dan kembali menatap ke arah para tamu undangan. Hawa-hawa mencekam terasa semakin kuat.

"Oke, gue ga bakal lama-lama ngomong, jadi tenang aja. Erm, pertama, trims buat sohib gue, Camus, karena lo penyebab utama gue jadi galau dan berakhir dinominasikan untuk kategori ini. Lalu trims buat yang udah ngevote untuk gue dan yang udah meletakkan pilihan kalian untuk bertaruh kalau gue bakal menang kategori Ter—"

"—HAJAR DIA!"

Entah siapa yang berteriak itu, tapi mendadak sebagian besar penonton beranjak dari tempat duduk mereka dan berlari ke arah Milo. Sang Scorpio, paham benar maksud dari ucapan bahwa 'nyawanya dalam bahaya', segera melarikan diri. Suasana jadi kacau balau karenanya dan para Athena—minus Saori yang masih meratapi nasibnya menerima gelar Ter-Lebay—terpaksa turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kamera kemudian menyorot wajah Aiolia yang pucat pasi. Tanpa perlu ditanya, ia pastinya lumayan syok melihat kejadian yang menimpa partnernya dalam membawakan acara tersebut. Tapi, tugas adalah tugas. Tak peduli sekarang ia hanya sendirian dalam menjalankannya, Aiolia wajib menuntaskan kewajibannya.

"Yak, pemirsa... itu tadi hasil dari tiga kategori untuk sesi ini. Athena Saori mendapatkan piala Ter-Lebay, Saga disepakati sebagai Ter-Kharismatik, dan Milo menjadi Ter-Galau dan membuatnya sekarang dikejar-kejar oleh orang-orang yang dendam karena ia menang." Aiolia menghela napas berat. "Sepertinya, mau sampai kapan pun acara ini akan diputus break saat kondisi tidak tenang. Seperti yang sekarang ini...

"Ah, sudahlah. Sesi berikutnya, kita punya tiga kategori yang pastinya kalian semua tunggu-tunggu—Best Straight Couple, Best Slash Couple, dan Best Kiss! Vote sebanyak-banyaknya untuk jagoan kalian, ya! Saya Leo Aiolia... pamit!"

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Halo, kami kembali lagi. Maaf atas keterlambatannya lagi. Untuk mempersingkat waktu, langsung saja kami katakan yang penting-penting saja. Pertama, tentang teka-teki di edisi lalu, yaitu "tagline dari dua iklan yang muncul di chapter 3". Rata-rata semua menjawab benar bahwa iklan itu adalah iklan Indocafe Cappucino dan Axe Effect, sayangnya tidak ada yang bisa tepat menebak tagline kedua iklan tersebut dengan benar. Jawaban yang benar adalah Indocafe Cappucino, Numero Uno! dan untuk iklan Axe, tidak ada tagline yang diucapkan.

Teka-teki untuk edisi kali ini: "film apa yang dibintangi Eden, yang mengharuskan rambutnya tetap dibiarkan putih?". Hint 1: film yang dimaksud bukanlah fanfiksi. Hint 2: yang diucapkan Eden adalah judul film itu. Silakan tebak via review atau PM. Yang pertama kali menebak dengan benar, maka votingnya akan dihitung lima kali lipat.

Untuk chapter depan, kalian diharuskan memvoting untuk Best Straight Couple, Best Slash Couple, dan Best Kiss. Untuk kedua kategori couple, kalian lagi-lagi dibebaskan untuk memilih sesuka kalian. Pairingnya boleh yang canon, seperti Youma x Partita, atau yang fanon, seperti Tokisada x Sonia. Untuk Best Kiss, sebutkan satu adegan ciuman yang kalian suka, baik itu dari canon (Pandora, kepada Alone, misalnya) atau dari fanfiksi (contoh: Manigoldo kepada Albafica di 'Kizuna' milik Shara).

Batas waktu voting diterima adalah hari Sabtu, 1 Juni, pukul 23:59:59. Voting yang masuk setelah itu tidak akan dihitung. Jika masih ada yang tidak dimengerti, silakan hubungi kami via PM atau di twitter kami.

Sampai bertemu di chapter berikutnya!

PS. Ada pesan dari Shara. Dia bilang, yang merasa telah mereview oneliner tanpa memberikan komentar apapun mengenai fanfiksi ini dan juga tidak memberikan votenya tapi telah berani-beraninya meminta kami untuk meng-update fanfiksi ini, jika memang punya nyali, harap kontak kami melalui PM.