Disclaimers: Karakter-karakter yang disebutkan di sini jelas bukan milik kami dan kami tidak mengambil keuntungan sedikitpun dari pemublikasian fanfiksi ini.

Disclaimers tambahan: Beberapa adegan yang tercantum di sini adalah modifikasi dari karya-karya aicchan dan Licarline Aida Clyne. Jaja Miharja pun bukan milik kami, melainkan milik... istrinya.

Warnings: Fanfiksi ini mengandung hal-hal berbau gay atau hubungan homoseksual, pikiran-pikiran berat sebelah dari kami selaku pengarangnya, lelucon garing dan perusakan imej karakter. Bagi yang keberatan silakan tekan tombol back sekarang juga. Selain itu, rusaknya moral dan kesucian pikiran pembaca pasca membaca fic ini tidak menjadi tanggung jawab pengarang.

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Chapter 5: Best Straight Couple, Best Slash Couple, Best Kiss

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Tirai yang menutupi jalan masuk dari backstage ke panggung utama tersingkap sedikit. Sepasang mata berwarna cokelat mengawasi kondisi tribun penonton. Avido telah diringkus dengan bantuan Hakurei dan diikat menggunakan teknik Shogyou Danzai milik Fudou. Bisnis perjudian dadakannya dibubarkan dan orang-orang telah kembali duduk anteng di tempat masing-masing setelah Athena Maaya mengultimatum bahwa ia akan memerintahkan para Saint Aquarius untuk membekukan siapapun yang menolak menunggu acara dilanjutkan dengan tenang.

Oke, tidak sepenuhnya kalem.

Beberapa dari mereka, entah karena bosan atau ada hubungannya dengan kategori-kategori yang akan dibacakan di sesi berikutnya, mulai bermesraan dengan pasangan masing-masing. Bahkan ada yang sampai memohon-mohon untuk tukaran tempat duduk karena sebelumnya tidak duduk bersebelahan dengan sang pasangan. Pengawas yang menonton dari balik tirai itu menggelengkan kepala takjub.

"Kayaknya memang karena sebentar lagi kategorinya tentang cinta-cintaan semua, mereka jadi adu kemesraan begitu."

Suara tawa perempuan menyambut ucapan si pengawas. "Bisa dimaklumi. Kalau kamu tidak ada tugas untuk menggantikan Milo, pastinya sekarang kamu juga sedang duduk berdekatan dengan orang yang kamu taksir, Lionet."

"Pavlin-san, tolong jangan ikut-ikutan orang lain dan menuduh kalau saya naksir Sonia!" Souma berteriak frustasi dan pura-pura tidak senang, tapi rona di wajahnya berkata lain.

"Lho, saya 'kan Cuma bilang 'orang yang kamu taksir'. Sama sekali nggak nyebut nama." Ada senyuman licik di wajah pemilik zirah konstelasi merak itu. "Kamu langsung main menafsirkan gitu... jangan-jangan memang naksir dia, lagi?"

"Sudahlah, Pavlin. Jangan digodai terus. Kasihan anak orang." Esmeralda datang melerai sebelum Souma bisa menyanggah lagi. "Nggak enak juga ribut di depan kelompok teman-temannya Dohko-sama."

Ketiganya langsung diam dan melirik ke satu arah di mana berdiri sepasang manusia cantik jelita. Yang satu adalah Feiyan, salah seorang teman dekat Libra Dohko dari perguruan yang sama, dan Mudan, adik dari Feiyan. Keduanya tengah mengobrol entah apa dengan suara pelan dan sepertinya sama sekali tidak memedulikan kondisi di sekeliling mereka. Yup, mereka berdua yang akan menjadi pembaca nominasi untuk sesi berikutnya.

"Baiknya kita mulai acaranya sekarang, deh, daripada kelamaan."

Ide Esmeralda itu disambut anggukan dari dua orang lainnya. Esmeralda dan Pavlin pergi meninggalkan Souma sementara Saint Perunggu satu itu mempersiapkan diri. Sambil berdiri di depan sebuah kaca seukuran tubuh manusia ia mulai mengecek satu persatu perlengkapan dan penampilannya.

"Mic, oke. Pakaian, rapi. Rambut, no problemo. Senyum ganteng, siap!"

"Soumaaaa!"

"Aduh, apalagi nih?" Membalikkan badan, ia melihat Aiolia melambai ke arahnya. Saint Leo tersebut tengah duduk di samping kasur yang didatangkan entah dari mana untuk menampung Milo, yang tampak memar di sana-sini. "Ada apa, Aiolia-san?" tanya Souma setelah berada di dekat seniornya itu.

"Kamu beneran nggak apa buka acara sendirian? Aku bisa nemenin, 'kok, kalau Cuma sebentar aja gitu." Terlihat jelas bahwa Aiolia mencemaskan juniornya yang masih muda belia dan kurang pengalaman itu. Ia tahu kalau Souma sempat menjadi host di acara red carpet, tapi menjadi pembawa acara utama butuh kekuatan mental yang berbeda, terutama karena acara pemberian penghargaan ini telah berlangsung terlalu lama dan para penonton sudah semakin absurd.

Tapi pemuda asal negara Meksiko itu menunjukkan cengiran pede dan mengacungkan jempol. "Tenang! Aiolia-san di sini aja nemenin Milo-san. Aku pasti bisa! Lagian, nanti kalau aku takut sama yang beginian doang, bisa-bisa aku dikatain kucing kecil penakut sama si narator."

Tapi kamu memang kucing kecil, Souma.

"Narator berisik! Nimbrung aja kerjaannya!"

Aiolia tertawa pelan melihat sang Saint Perunggu bertengkar dengan sosok narator yang tak kasat mata. "Oke, oke... kalau kamu percaya diri sampai segitunya, berarti memang nggak ada masalah. Semangat, ya! Jangan kicep kalau dilabain penonton!"

Jawaban dari Souma hanyalah sebuah anggukan mantap sebelum ia berjalan ke arah panggung, diiringi dengan aba-aba Esmeralda kepada kameramen untuk mulai merekam jalannya acara.

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK END

oOoOoOoOoOoOoOoOo

"Selamat datang kembali di acara Saint Seiya Awards!"

Seruan Souma dibalas tepuk tangan dan sorak sorai antusias dari para penonton. Sepertinya mereka memang benar-benar bersemangat menantikan pembacaan nominasi pada sesi ini. Souma menunggu keriuhan itu mereda sebelum mulai mengoceh,

"Oke! Mungkin ada yang bingung kenapa yang muncul bukan Aiolia-san dan Milo-san tapi saya. Yah, semuanya pasti masih inget, 'kan, di sesi sebelumnya Milo-san dikejar-kejar sekompi orang-orang yang kalah taruhan? Nah, gara-gara mereka-mereka itu sekarang dia nggak bisa bangkit dari tempat tidur."

"Aneh, deh. Perasaan tadi dia larinya cepet banget sampai-sampai kita nggak bisa nangkep dia, tapi kok kesannya kita ngebikin dia babak belur?" Pharaoh memiringkan kepalanya sedikit, bingung.

"Memang nggak sampai babak belur, tapi kita sukses bikin dia nabrak tembok, tumpukan kardus, tersandung kabel, dan lain sebagainya," Byaku mengingatkan.

"Ya, pokoknya karena itu! Jadinya produser nunjuk saya buat ngegantiin mereka berdua..." Souma mengibas-ngibaskan tangannya acuh tak acuh.

"Terus, Aiolia-nya? Bukannya dia nggak kenapa-kenapa?" Aiolos ikut-ikutan bingung.

"Nemenin Milo-san."

"Kenapa bukan Camus aja yang nemenin dia? Katanya sahabatan..." Aspros ikut-ikutan bersuara.

"Sahabatan bukan berarti kemana-mana saya harus nempelin dia, 'kan?" Camus menjawab dingin.

"Psst!" Secara efektif Kardia membuat perhatian semua orang teralih padanya. "Udah, nggak usah dibahas lagi! Si Camus lagi bete, barusan dapet sms dari salah seorang sutradara buat perpanjangan kontrak film. Di filmnya dia nggak pasangan sama Milo, 'sih."

"Iya, tapi pasangannya sama kamu," Dégel memutar bola matanya.

"Ng? Cemburu, Penguin?"

"Siapa yang kau sebut Penguin?"

"Woooii! Mentang-mentang sebentar lagi kita mau ngebahas pasangan-pasangan yahud di fandom kita, jangan mulai ngeributin tentang pasangan-pasangan dong!" Souma memprotes keras, tidak terima karena merasa diacuhkan.

"Apa? Kamu lebih milih kami ngeributin gosip hubungan kamu sama putri sulungnya Mars?" Celetukan Paradox sukses membuat sebagian besar penonton kembali riuh, apalagi ditambah dengan ucapan Mischa berikutnya,

"Saya nggak bakal kaget kalau kamu masuk nominasi bareng Sonia. Saya sudah merestui, 'kok!"

Koor "CIEEEEEEEEE!" menenggelamkan bantahan Sonia dan membuat wajah gadis itu memerah. Mendengar keramaian yang disebabkan para penonton itu, Aiolia sempat berniat untuk turun tangan dan keluar dari belakang panggung, namun ternyata Souma menolak untuk takluk dibawah intimidasi para tamu acara. Ia membalas ucapan-ucapan usil mereka dengan sebuah ancaman.

"Cukuuuupp! Kalau kalian nggak diem juga, piala-pialanya saya anulir jadi buat saya semua, 'nih!"

Ngiiiiiiingg.

Ancaman tersebut, di luar dugaan lumayan efektif.

Yah, lumayan.

"Lo mau ngambil piala Best Slash Couple juga? Jadi, lo mengakui kalo lo gay sama Kouga?" Deathmask menyeringai lebar dari tempatnya duduk. Aphrodite cekikikan di sebelahnya.

"KENAPA SAMA GUE!?" Kouga menjerit tidak terima.

"NGGAK GITU JUGA MAKSUDNYA!" Souma menahan hasratnya untuk melempar benda tumpul dan keras terdekat yang bisa ia jangkau untuk menimpuk kepala ksatria yang dinaungi perlindungan konstelasi kepiting itu. "Ah, udah! Daripada kelamaan, langsung aja: beri tepuk tangan yang meriah untuk pembaca nominasi kita kali ini: Bai Ze Feiyan dan Sparrow Mudan!"

Kembali para penonton bertepuk tangan saat lampu menyoroti sepasang kakak beradik yang hari itu kompak mengenakan pakaian tradisional Cina—qipao untuk Mudan dan shenyi untuk Feiyan—dengan dominan warna hitam dan emas. Keduanya berdiri di tengah panggung, memberi salam sopan lalu kemudian menggunakan mike untuk menyapa semua yang tengah memperhatikan mereka.

"Selamat malam semuanya!" Suara Mudan keras dan nyaris menenggelamkan suara kakaknya.

"Malaaaaam!" para penonton menyahut dengan suara tak kalah keras.

"Wow, penontonnya pada semangat semua, 'nih! Nggak sabaran, ya, nunggu nama kalian disebut bareng gebetan masing-masing?"

Sebagian menjawab "iya" dengan kencang dan berapi-api, sementara beberapa lainnya yang sok menjaga imej kalem hanya mengangguk-angguk antusias atau nyengir tolol.

Mudan mengikik pelan sebelum menoleh ke arah abangnya tersayang. "Ya sudah, kalau begitu kita langsung menjelaskan tentang betapa spesialnya sesi kali ini, yuk, Kak!"

Feiyan mengangguk lalu mengedarkan pandangannya ke para tamu di tribun, memastikan mereka cukup tenang untuk mendengarkan ucapannya, sebelum berbicara, "Untuk sesi ini, kami akan mengumumkan nama-nama pemenang untuk kategori Best Straight Couple, Best Slash Couple, dan Best Kiss. Namun, dikarenakan banyaknya jumlah pasangan yang ada di fandom ini, para juri tidak bisa menentukan nama mana-mana saja yang pantas dan tidak pantas untuk dinominasikan karena mereka yakin keputusan mereka akan terpengaruh oleh bias mereka."

"Jadi intinya, semua pasangan yang ada di fandom ini berhak dinominasikan. Mau yang memang resmi berpasangan, kek... atau hanya memiliki hint, baik yang terlihat jelas maupun samar... bahkan juga yang tidak terlihat dekat sama sekali! Para voters bebas memilih pasangan apapun dari puluhan—ah, nggak... ratusan pasangan yang ada di sini!"

Para penonton kontan ricuh mendengar pengumuman kakak beradik itu. Mereka yang awalnya yakin akan menang karena sering umbar kemesraan, baik di depan umum maupun saat bekerja di depan kamera, mulai ragu. Begitu juga sebaliknya—yang merasa tidak mesra-mesra amat jadi lebih percaya diri bahwa mereka bisa terpilih menjadi calon pemenang.

Lune mengangkat tangannya, hendak bertanya. Ketika dipersilahkan, ia berkata, "Terus... kalian bakal langsung menyebutkan nama pemenangnya, begitu?"

"Karena sutradaranya bilang, 'tidak seru kalau langsung main nyebut nama pemenangnya', jadi, tidak." Feiyan menggeleng. "Sebagai gantinya, akan ditunjukan sebuah diagram yang menunjukan persentase atau jumlah suara yang mendukung para pasangan-pasangan yang dipilih oleh para voters. Pemenangnya, tentu saja, yang memiliki persentase jumlah suara yang paling banyak."

"Untuk lebih jelasnya, berikut kami perlihatkan contoh diagramnya."

Mudan menjentikkan jarinya dan layar besar di belakang mereka berdua langsung menampilkan sebuah diagram berbentuk pie chart. Diagram tersebut terbagi menjadi beberapa belahan dalam berbagai warna. Tertera di bagian samping diagram itu adalah label warna dan nama-nama mereka yang dinominasikan. Dilihat dari nama-nama yang ada, bisa dipastikan bahwa diagram tersebut menggunakan hasil voting Kategori Ter-Galau yang telah lalu.

"Nah, lihat, 'kan? Potongan yang paling besar itu menandakan jumlah dukungan yang diberikan kepada Scorpio Milo di sesi Ter-Galau beberapa waktu yang lalu itu, kemudian yang paling besar setelahnya itu punya Leo Aiolia..." Mudan lanjut menjelaskan cara membaca diagramnya.

"Li..."

Aiolia yang masih berada di belakang panggung dan menemani partner MC-nya itu menoleh ke arah asal suara. "Apa, Mil?"

"Nama gue disebut-sebut, ya...? Ada apaan emangnya...?" Milo bertanya dengan suara lemas.

"... ah, nggak. Nggak usah dipikirin. Udah, tidur lagi aja sana."

"—jadi begitulah!" Dengan satu jentikan jari lagi, gambar diagram tadi menghilang dan kembali digantikan oleh close up wajah Mudan dan Feiyan. "Nggak ada pertanyaan, 'kan? Bisa kita mulai membacakan kategorinya?"

Tidak ada yang bersuara atau mengangkat tangan, jadi Feiyan menganggap bahwa ia boleh lanjut berbicara. "Kami akan mulai dari Best Straight Couple."

"Sebelum kami memperlihatkan diagramnya, kami akan menampilkan sebuah video klip berisi kumpulan foto dan potongan adegan-adegan di film yang dibintangi oleh para pasangan heteroseksual yang terdeteksi oleh kru acara ini. Silakan!"

Kini semua pandangan tertuju pada layar besar di panggung yang mempertontonkan video amatir hasil garapan para Saint yang seenak jidat direkrut oleh produser dan sutradara untuk mengkoordinir acara. Hasilnya lumayan bagus. Para pasangan yang diperlihatkan betapa mesranya mereka dilihat dari sudut pandang kamera ada yang saling melirik lalu tersipu malu seperti Dégel dan Seraphina, ada yang secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka bangga dan kembali saling flirting seperti Ludwig dan Mischa, ada yang syok dan tidak menyangka bahwa mereka dianggap seperti pasangan.

Seperti yang berikut ini.

"Sebentar, sebentar!" Paradox mencondongkan tubuhnya, seolah dengan begitu ia bisa melihat lebih jelas apa yang terpampang di layar. "Itu apaan ada foto gue dan Genbu di videonya! Kapan gue pernah mesra-mesraan sama dia!"

"'Kan kalian pernah jadi model di beberapa majalah dan disuruh berpose ala pasangan..." Harbringer mengingatkan.

"... Iya, 'sih. Aaaaah! Tau bakal begini jadinya mending gue nggak usah nerima tawaran-tawaran begitu!"

"Ih, santai, dong, mbak. Mending juga Kak Shunrei daripada kamu," Genbu menyahut sinis.

"Heh! Yang ini statusnya udah taken! Married!" Shiryu memeluk protektif istrinya.

Ksatria Libra dari era Omega itu mengerang frustasi. "Cuma ngebandingin doang! Pada nggak nyantai semua, 'nih..."

"Bro, ada lu sama si Nona Besar, tuh," Minos menyenggol Rhadamanthys yang duduk di sebelahnya ketika layar menampilkan adegan mesra sang Wyvern dengan Pandora dari beberapa film berbeda. "Kok lu mau aja, 'sih, dipasangin sama dia di film-film begitu?"

"Kenapa nggak? Dia cantik, 'kok," Rhadamanthys menjawab acuh tak acuh.

"Cantikan Violate, ah," Aiacos seenak jidat menimpali, tak mempedulikan tatapan dua orang sohibnya yang seolah mengatakan, 'sumpah gue nggak ngerti lo ngeliat apanya dari cewek kekar penuh bekas luka dan super garang itu'. "Eh, iya, gue baru sadar... di antara kita, Cuma Minos, ya, yang nggak pernah dipasangin sama cewek?"

"Bukannya dia pernah sekali dipasangin sama si bocah perempuan itu? Agasha?"

"Cuma pas foto bareng buat sebuah majalah. Itu pun bareng beberapa orang lainnya, sebenarnya." Minos mengibaskan tangannya santai. "Gue, 'sih, nggak masalah nggak pernah dipasangin sama cewek kalau main film, iklan, atau yang lain-lain. Albafica lebih cantik dari cewek manapun, 'sih. Jadi gay pun gue rela asal bisa ngedapetin dia."

Sementara itu, bulu kuduk Albafica berdiri dan ia mengigil mendadak.

Begitu video selesai diputar, perhatian semua orang kembali tertuju pada kedua pembaca nominasi. Mudan lah yang kembali membuka pembicaraan. "Oke, itu tadi calon-calon pemenang kategori ini! Agak sedih juga, tadi ada inses Hades Alone dan Pandora, tapi kenapa kita nggak ada, ya, Kak?"

"Mereka tidak dihitung inses, Mudan. Dan aku bersyukur kita tidak dianggap pasangan." Feiyan memutar bola matanya. "Berikut ini adalah diagramnya."

Sebuah diagram, berbeda dari sebelumnya, terpampang di layar. Beberapa mengangkat alis dan mengerutkan dahi ketika melihatnya. Pasalnya, jika dilihat sekilas, orang akan mengira bahwa diagram itu hanya terdiri dari dua belahan, satu belahan yang sangat besar dan satu belahan yang lebih kecil. Namun jika diteliti lagi, belahan yang lebih kecil itu ternyata terdiri dari potongan-potongan yang lebih kecil lagi dan ukurannya kurang lebih sama.

Intinya?

"Wow..." Mudan terkesiap memandang layar di belakangnya. "Ternyata pemenang kategori ini menang mutlak atas calon-calon lainnya!"

Bisik-bisik kagum dan penasaran terdengar dari arah tribun penonton. Mereka sama-sama bertanya-tanya, siapakah pasangan yang berhasil membuat kemenangan menakjubkan itu?

"Dan sekarang kami akan tampilkan nama pasangan-pasangan yang terpilih itu. Ini dia."

Dengan satu jentikan jari Feiyan, muncul nama-nama di samping potongan-potongan pada diagram tersebut. Semua mata mencoba melihat nama pasangan yang tertera di sebelah potongan yang paling besar. Pasangan pemenang. Mereka yang sukses membacanya terkesiap kaget. Sebagian yang lain, yang kemampuan matanya tidak begitu baik, merasa terbantu ketika Mudan berseru.

"Pemenangnya adalah pasangan Sagittarius Sisyphus dan Athena Sasha!"

Dua orang yang namanya disebutkan itu sama-sama terbelalak kaget. Memperhatikan layar baik-baik, benar saja ternyata ada nama mereka di samping belahan yang paling besar itu. Keduanya pun berganti memandang satu sama lain lumayan lama, lalu sama-sama tersipu malu.

"Sisyphus..." Terdengar suara Ilias yang membuat Sisyphus kontan menoleh ke belakang, ke tempat para Gold Saint level sepuh seperti Ilias duduk berjejer. "Kamu nggak pernah bilang-bilang kalau kamu pacaran sama Athena-sama."

"A-aku memang nggak pacaran dengan beliau!" Ksatria rasi bintang Sagittarius itu menyahut. Warna merah di wajahnya semakin pekat.

"Nggak pacaran, tapi sering main film dan iklan bareng jadi pasangan dan model majalah juga," Lugonis ikut meledek.

"Jalan bareng juga sering," Regulus tertawa cekikikan di sebelahnya.

"Melihat betapa seringnya kalian ketemuan baik di tempat kerja maupun di publik, 'sih, gue ga heran banyak orang yang ngira kalian pacaran, tapi gue tau lo orangnya jujur, jadi..." Manigoldo menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat berikutnya dengan gaya berlebihan: "... CIYUS MIAPAH LO BELUM NEMBAK DIA? SUMPAOON?"

Tingkahnya itu membuatnya dihantam dengan sepatu oleh Aspros, yang memang duduk di sebelahnya. "Nggak usah lebay!"

Sisyphus memandang teman-temannya yang semakin ribut dan menanyainya tentang kebenaran pernyataannya tadi. Dari ujung matanya, ia pun melihat Sasha diinterogasi oleh kedua orang inkarnasi Athena lainnya yang sama-sama mengapitnya, juga oleh Alone. Di saat ia panik dan bingung harus melakukan apa, ia merasakan tarikan kuat pada lengannya. Ketika ia menoleh, ternyata Albafica berusaha menariknya untuk beranjak berdiri.

"Daripada kelamaan, sana, ke panggung bareng Athena. Biar cepat selesai," tukas sang Pisces.

Mengangguk, Sisyphus tersenyum meminta maaf kepada kawan-kawannya yang masih ngotot bertanya-tanya, entah karena iseng ingin menggodainya atau memang penasaran. Ia menghampiri tribun para dewa-dewi, menjemput Sasha agar mereka bisa naik ke atas panggung bersama-sama. Para kaum hawa yang ada di dalam Coliseum itu memekik 'aww' pelan saat sang Ksatria Emas mengulurkan tangannya dengan sedikit gugup, dan yang lelaki sebagian besar bersiul riuh ketika sang Athena menerima uluran tangan itu. Mereka berjalan beriringan hingga tiba di depan Feiyan dan Mudan, yang menyerahkan trofi penghargaan kepada mereka.

"Selamat, ya! Kalian memang pantas, 'kok, dapet penghargaan ini, meskipun kalian bukan pasangan resmi." Sebelum Sasha maupun Sisyphus bisa membalas ucapannya, gadis berdarah Asia itu menambahkan: "Nggak sekalian aja diresmiin di sini? Langsung ngelamar nikah, biar acara ini semakin sensasional."

Spontan para penonton bersorak riuh, menyetujui usul Mudan. Sebagian besar menyemangati Sisyphus untuk berbuat nekat dengan melamar Sasha di hadapan ratusan—ah, tidak, ribuan penonton, baik yang hadir di Coliseum maupun yang menonton melalui layar televisi di rumah. Pasangan sejoli itu wajahnya kembali memerah mendengar sorakan orang-orang. Mereka saling lirik sebentar, sebelum Sasha berbicara pada mikrofon yang disodorkan padanya.

"Sisyphus memang ada rencana melamar saya, tapi katanya dia akan menunggu hingga saya cukup umur baru akan melamar saya sesuai prosedur."

Hening sejenak, lalu...

"AAAAAAAAPPPPAAAAAAAAAHHHH!?"

"SISYPHUS, KAMU NGGAK BILANG-BILANG KE KITA!" Hasgard berteriak tak percaya.

"BAHKAN KE AKU PUN TIDAK BILANG-BILANG!" Regulus ikut-ikutan berteriak, sedikit kecewa, yang dibalas dengan bisikan pelan oleh Albafica, "Kamu terlalu polos, 'sih, Regu..."

"Wah, baguslah kalau sudah ada niat. Jadinya kau tidak perlu khawatir dia jadi perjaka tua, ya, Sage?" Hakurei tertawa kebapakan, dan kembarannya pun melakukan hal yang sama.

"Yah, Sisyphus juga sudah kuanggap anak sendiri, sama seperti yang lain. Sedih juga kalau seandainya dia benar-benar jadi perjaka selamanya karena tidak kunjung berani melamar orang yang disukainya."

"Jadi... intinya Sisyphus bakal jadi kakak ipar kalian berdua, dong, ya?" Yato menoleh ke arah Alone dan Tenma, yang pada awalnya tadi sedikit terguncang namun sekarang terlihat lebih baikan.

"Hm... nggak masalah, 'sih, kalau Sisyphus yang menikahi Sasha. Sisyphus orang baik." Alone tersenyum lembut, yang diikuti anggukan Tenma. "Meskipun jarak usia mereka lumayan jauh, tapi kalau Sasha tidak ada masalah dengan itu, aku juga tidak akan mempermasalahkannya."

Kericuhan tidak hanya terjadi di kubu Saint Athena, ternyata. Bahkan dari kubu Pasukan Hades pun ada kelompok kecil yang meributkan pengumuman mendadak ini.

"Ternyata si Sagittarius itu sudah mau menikah dengan Athena-nya sendiri. Apa yang mau kau lakukan sekarang..." Phantasos melirik salah seorang abangnya sambil tersenyum mencemooh, "... Oneiros?"

Oneiros tetap bungkam. Pandangannya tertuju pada pemanah yang pernah ia kurung dalam dunianya. Ekspresinya gusar ketika menangkap rona merah di wajah Sisyphus saat ia bertukar pandang dengan Sasha. Hypnos, yang mendengar ucapan anak bungsunya itu, menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. "Kau suka si Sagittarius itu? Kenapa tidak bilang-bilang?"

"Emang kalau Oneiros bilang, Ayah mau ngapain?" Morpheus ikut-ikutan menaikkan sebelah alis.

"'Kan bisa Ayah bantuin apa, 'kek... nyantet dia biar bisa suka sama Oneiros, misalnya."

Thanatos, yang duduk tepat di sebelah abangnya tersayang, mendadak mendapat hasrat untuk jatuh tersungkur di tempat landai terdekat. "Kak... kamu bukan dukun..."

Sementara orang-orang masih ribut dengan topik masing-masing, Sasha dan Sisyphus pamit undur diri dari panggung dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Iya, masing-masing. Karena mereka belum halal untuk satu sama lain jadi mereka ingin tetap menjaga jarak meskipun prospek hubungan mereka untuk ke depannya sudah pasti. Tidak mengerti maksudnya? Tenang, narator sendiri pun tidak mengerti apa yang sedang ia narasikan.

"Oke... sudah, sudah! Semuanya tenang!" Mudan mengetuk-ngetuk mikrofon di tangannya, mencoba menarik kembali perhatian para penonton agar acara bisa dilanjutkan. "Belum juga sampai Best Kiss sudah ribut begini... tahan, ya. Sebentar lagi, 'kok."

Feiyan mengangguk mengiyakan. "Untuk mempersingkat waktu, kita langsung saja masuk ke bagian Best Slash Couple, yaitu penghargaan untuk pasangan homoseksual dari fandom kita."

"Yep! Dan pasangan-pasangan ini jumlahnya jaaaaaaaaauh lebih banyak daripada pasangan heteroseksual. Karena apa? Karena fandom kita penuh oleh cowok-cowok keren dan gagah yang kadang suka lengket dengan partner atau sahabatnya masing-masing, dan cewek-cewek abnormal yang mengikuti perkembangan kisah di fandom kita malah mengimajinasikan hal-hal yang nyeleneh!"

"Seperti kamu, Mudan."

"Iya, seperti sa—eh! Kakak!" Mudan meninju pelan lengan kakaknya. "Jangan buka aib, dong! Itu rahasia!"

Hui, yang menonton dari tribun karakter minor, memutar bola matanya. "Rahasia? Kayaknya semua anggota kelompok kita udah tau kalau kamu tergabung dalam AFFSS."

"AF—apa? Apaan tuh?" Liuxing mengernyit bingung.

"AFFSS. Asosiasi Fujoshi untuk Fandom Saint Seiya," Ahimsa menghela napas berat. "Bahkan cewek-cewek di sini," ia menunjuk para perempuan yang duduk di deretan yang sama dengan mereka, "juga masuk asosiasi itu. Parahnya, mereka bahkan nggak ragu-ragu masangin cowok yang berpeluang jadi pasangan mereka untuk jadi pasangan gay dengan cowok lain. Seperti Calvera, misalnya."

"Hei, kalau aku, 'sih, memang nggak ada harapan dengan Kardia soalnya dia lebih perhatian sama dokternya dan Sasha-chan. Nggak masalah, dong, kalau aku mendukung percintaan penolongku?" Calvera membalas sengit.

"Sama. Manigoldo dan Albafica itu cocok banget, 'kok. Meskipun Manigoldo bilang dia mau kencan denganku kalau aku sudah dewasa, aku rasa dia lebih senang kalau bisa kencan dengan Albafica," Gioca ikut mendukung argumen Calvera.

"Tapi Albafica-sama lebih suka Shion-sama," Agasha ikut berbicara.

"Cukup! Cukuuup!" Lacaille berteriak keras, menggagalkan usaha percakapan antar fujoshi itu untuk berlanjut ke tingkat yang lebih jauh. "Diam kalian semua! Kalau tidak..."

"'Kalau tidak' apa? Kamu mau memukul kami?" Fluorite tersenyum menantang.

"Tidak. Aku tidak akan memukul kalian. Tapi." Murid El Cid itu menunjuk ke satu arah, ke arah seseorang yang sedang memandangi para gadis dengan... tatapan mesum? "Nahualpilli akan dengan senang hati melakukannya untukku."

Gadis-gadis itu spontan diam, duduk manis menghadap panggung sementara para cowok menghela napas lega lalu ikut melihat ke arah para pembaca nominasi. Ternyata selama mereka ribut tadi, Feiyan dan Mudan tetap melanjutkan tugas mereka. Kini, di layar besar di belakang mereka telah terpampang video klip berisikan pasangan-pasangan homoseksual yang ada di fandom mereka. Pantas saja keributan kecil di kelompok karakter minor tadi tidak digubris, ternyata yang lainnya sibuk mengomentari pasangan-pasangan yang ditampilkan.

"Nah! 'Ga! Liat, 'Ga! Itu kamu sama Aiolos, tuh!" Kanon menyikuti kakak kembarnya. "Lega, 'kan? Meskipun tadi ada bagiannya Sisyphus dan El Cid, ternyata Aiolos kenanya sama kamu, bukan sama Shura."

Shura yang mendengar hal itu hanya bisa diam, makjleb akibat ucapan Kanon. Kedua sahabatnya berbaik hati menghiburnya dengan menepuk-nepuk kepala dan pundaknya. "Sabar, Shur. Pasti ada, deh, foto kamu bareng Aiolos. Tungguin aja," ucap Aphrodite lembut.

"Yo'a. Tadi aja ada gue sama Dite, trus Aiolos bareng adeknya juga... nggak ada alasan nggak bakal ada cuplikan ketika lu bareng Aiolos," Deathmask menimpali.

"Bener juga, ya. Ini sampai ada inses, pasangan nggak nyambung tapi disambung-sambungin..." Dohko menggeleng-gelengkan kepala takjub, dan matanya membelalak lebar saat layar menampilkan beberapa pose mesra Aldebaran bersama dengan Mu. "Eh! Kalian berdua juga ada, ternyata!"

"Wah... iya, ya. Nggak nyangka. Kirain krunya bakal lupa kalau aku pernah main film bareng kamu," Aldebaran tertawa pelan. Ada rona merah di pipinya.

"Hm... aku nggak begitu banyak main film romansa juga, 'sih, jadi kukira aku dan lawan mainku nggak bakal ada yang disorot di sini," Mu tersenyum tipis sambil terus menonton video yang kini menampilkan pasangan Aquarius paling yahud dan dijagokan untuk memenangkan kategori ini: Camus dan Milo. Tidak ada komentar untuk pasangan yang satu ini, juga untuk pasangan berikutnya—Kardia dan Dégel.

"APAAAN TUUUUHH!?"

Perhatian nyaris semua penonton di Coliseum segera teralihkan ke satu titik. Ke satu orang yang duduk di tribun Saint Perunggu. Ke satu-satunya lelaki yang spontan berdiri dari tempat duduknya ketika melihat klip pasangan yang ditampilkan sesudah sejumlah foto dan potongan adegan film-film yang diperankan oleh Defteros dan Asmita. Ke arah salah seorang abang paling protektif di jagat Saint Seiya: Phoenix Ikki. Tangannya bergetar sambil menunjuk ke arah layar yang tengah memampangkan beberapa foto mesra adiknya dengan Cygnus Hyoga.

"Gue kira Jaja Miharja diundang juga ke acara ini, ternyata si Phoenix itu bersikap lebay lagi," ucap Rami dengan sedikit gusar.

Cheshire, yang duduk di sebelahnya mengerutkan dahi. "Ada urusan apa Jaja Miharja sampai diundang ke acara ini?"

"Kali aja nanti pas commercial break berikutnya dia bakal ngisi waktu dengan nyanyi atau membawakan kuis kecil-kecilan biar kita nggak suntuk."

"Kak, jangan berlebihan begitu dong reaksinya!" Shun berusaha membujuk abangnya tersayang agar kembali duduk manis di tempatnya. "Malu, 'nih. Lagian dari dulu aku juga udah sering dipasangin sama Hyoga, kenapa hebohnya baru sekarang?"

"Karena sebelumnya nggak terlalu digembor-gemborin! Kalo diperlihatkan kayak begini, nanti bisa-bisa ada berita heboh di acara-acara infotainment!" Ikki dengan menggebu-gebu menyatakan protesnya, menolak untuk ditenangkan begitu saja meskipun sudah dielus lengan dan punggungnya, juga diiming-imingi makanan kecil dan duit.

"Ah, masa' 'sih, nggak pernah digembor-gemborin? Bukannya dulu sempat ricuh, ya, waktu jaman-jaman main bareng di edisi Klasik?" Pandora mulai bergosip dengan Aizawa Erii. Wadah dari Dewi Eris itu terkikik pelan sambil mengangguk-angguk mengiyakan.

Sementara situasi mulai memanas di tribun penonton akibat segala macam pasangan yang ditampilkan di video klip buatan kru acara, Feiyan dan Mudan hanya diam menonton dari tempat mereka berdiri di atas panggung. Bukannya mereka menikmati keadaan tersebut—oke, Mudan jelas terlihat senang menyaksikan para penonton, baik fujoshi maupun bukan, meributkan kecocokan pasangan-pasangan yang disertakan di dalam video yang baru saja selesai diputar itu—namun mereka diam karena tidak tahu harus melakukan apa agar bisa kembali mendapatkan perhatian orang-orang.

"Kak, kalau mereka kuserang saja, bagaimana?" Mudan mencoba memberi usul. Wajahnya penuh senyum sehingga orang awam dapat dengan mudahnya menganggap bahwa ia hanya bercanda dan asal-asalan mengajukan saran, namun Feiyan tahu bahwa adiknya itu benar-benar berhasrat untuk melancarkan tekniknya ke arah penonton.

"Tidak boleh, Mudan. Nanti kamu dimarahi produser." Feiyan menghela napas pelan.

"Sebenarnya boleh-boleh saja, 'sih."

Sahutan itu membuat keduanya menoleh. Seorang pemuda berambut merah jambu panjang yang diikat ala poni kuda mendadak telah muncul di samping mereka. Mereka sama-sama mengenalinya sebagai produser acara tersebut. Beliau tersenyum ke arah dua bersaudara itu lalu lanjut berkata-kata, "Kalau salah satu di antara kalian tidak mau menggunakan jurus ofensif untuk menarik perhatian penonton, aku mau melancarkan tembakan peringatan."

Feiyan melirik ke arah tangan si produser yang masing-masing menggenggam sebuah pistol. Melihat bahwa beliau serius dengan kata-katanya, Feiyan jadi menimang-nimang, apakah sebaiknya ia membiarkan Mudan beraksi atau biar produser saja yang turun tangan? Setelah menilai bahwa tembakan peringatan tidak hanya terdengar lebih efektif dan tidak akan menimbulkan luka-luka kepada penonton jika dibandingkan dengan jurus serangan gelombang suaranya Mudan, sang Bai Ze memberi tanda untuk mempersilakan sang produser menjalankan rencananya.

DOR! DOR!

Sekali, dua kali suara peluru dimuntahkan keluar dari kedua laras pistol di tangan produser dan para penonton langsung terdiam karena kaget. Semua tatapan tertuju ke arah si produser yang masih tersenyum lembut, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sambil tersenyum itu ia berujar lantang kepada tamu-tamu undangan,

"Sekali lagi kalian berisik sampai menganggu proses pengumuman nama pemenang, saya nggak akan segan-segan menembak kalian tepat di jidat."

Seolah-olah hendak meyakinkan bahwa ucapannya tadi bukanlah ancaman belaka, sang produser menyibakkan jaketnya, memperlihatkan sejumlah pistol lain yang tersimpan di balik jaket dan tersabuk di pinggang kepada para penonton sebelum berbalik berjalan ke arah belakang panggung. Suasana di dalam Coliseum menjadi begitu sunyi setelah kepergiannya, yang kemudian dipecahkan oleh suara tepuk tangan Mudan.

"Oke, oke! Sekarang kalian sudah tenang, jadi kita lanjut ke nama pasangan yang menang, yuk!"

Dengan satu jentikan jari dari Mudan, layar di panggung berubah menayangkan diagram untuk kategori Best Slash Couple. Ada bisik-bisik pelan ketika semua yang ada di sana melihat bagaimana diagram itu kurang lebih serupa dengan diagram pada kategori sebelumnya—sebagian besar didominasi oleh satu pasangan, sementara pasangan-pasangan lainnya hanya menerima dukungan suara sebesar benih kacang.

"Lagi-lagi menang mutlak! Ajaib bener!" Souma berkomentar pelan dari tempatnya menonton di belakang panggung.

Aiolia pun memasang pose berpikir dan berkata dengan nada misterius, "Jangan-jangan, ada persekongkolan di balik semua ini? Seperti misalnya sutradara atau produser disuap oleh seseorang untuk memenangkan pasangan-pasangan i—aduh!"

Yang baru saja memukul kepalanya dengan sebuah harisen adalah Rhea. Pallasite berwajah cantik itu membalas pelototan tidak senang Aiolia dengan delikan yang sama sangarnya dan menyrocos cepat sebelum sang Leo bisa mengutarakan protesnya,

"Jangan sekali-sekali berpikiran seperti itu! Kalau dua orang itu sampai mendengarnya, bisa-bisa gaji kita, kru acara, yang memang sudah kecil jadi semakin kecil!" Ia meringis pelan membayangkan uang hasil bekerja untuk menyukseskan acara ini berkurang. "Lagipula, memangnya kamu nggak tau kalau dua orang itu lumayan anti sama yang namanya curang dalam proses voting? Nggak pernah denger waktu mereka berdua membuat acara di fandom sebelah?"

"Oh, yang mendadak jumlah voter membludak dan dukungan-dukungan mereka itu diarahkan ke satu karakter itu? Makanya mereka curiga kalau para voter itu berbuat curang," Ymir menimbrungi ucapan atasannya tersebut.

"Terus mereka marah karena hal begituan doang?" Milo, yang sudah merasa sedikit baikan dan kini telah mampu untuk duduk tegak, mengerutkan dahi. "Wajar aja dong kalau hal semacam itu terjadi, 'kan, votingnya memperbolehkan anonim. Kalau nggak seneng, ya... jangan biarin anonim buat ikutan voting."

"Ya karena itu sebelum acara ini dibuat, mereka galau apakah harus membiarkan anonim ikutan voting atau tidak," balas Methone sambil memutar bola matanya.

Baik Aiolia dan Milo sepertinya hendak melanjutkan argumen mereka, namun suara sorak sorai dari arah tribun penonton mengalihkan perhatian mereka. Rupanya nama pemenang sudah diumumkan dan kini orang-orang berusaha menggodai pasangan yang menang itu.

"Cieee yang menang telak! Udah, nggak usah malu-malu! Sana turun!" Ahimsa berteriak dari tempatnya duduk, yang memang lumayan jauh dari tempat duduk pasangan pemenang yang dimaksud.

"Sebenarnya lagi sedih, 'sih, karena menurut diagram itu nggak ada yang ngedukung aku sama siapa kek, tapi... Defteros! Turut bangga buat kemenangan lo dan Asmita!" Usai berkata begitu ia ikut bersiul seperti beberapa orang lainnya.

Asmita dan Defteros, pemenang kategori tersebut, menerima ucapan selamat dan jabat tangan dari orang-orang di sekitar mereka selama beberapa saat (oke, hanya Defteros yang melakukannya, dan ia pun melakukannya dengan sedikit ogah-ogahan). Mereka lalu beranjak dari tempat duduk mereka untuk mengambil trofi penghargaan dari Mudan dan Feiyan di atas panggung.

"Eh." Tokusa menoel pelan bahu Kagaho, menarik perhatian sang Bennu. "Mereka itu beneran udah resmi jadi pasangan, ya?"

"Ngapain nanya ke gue? Mana gue tahu!" Inkarnasi Ikki itu membalas dengan ketus.

"Ya, 'kan, kamu kelihatannya lumayan deket sama mereka. Sempet main film bareng Defteros dan Dohko, terus kemarin di episode spesialnya si Virgo itu kamu juga ikut main. Apa nggak pernah lihat mereka mesra-mesraan di luar sorotan kamera?"

"Sering, 'sih. Tapi mesra-mesraan di luar jadwal syuting bukan berarti mereka pacaran, 'kan? Kali aja mereka Cuma latihan."

"Ah, daripada kalian main tebak-tebakan di sini, mending langsung aja minta dibuktiin!" Vermeer tersenyum puas melihat ekspresi kaget di wajah dua Specter muda tersebut akibat dirinya yang mendadak mjb—mendadak join bareng, alias tiba-tiba menimbrungi percakapan orang lain—lalu berbalik menghadap ke arah panggung. Defteros baru saja selesai dengan pidato pendeknya di mana ia berterima kasih kepada para pendukungnya. "Ayo cium pacarmu!"

Di luar dugaan, teriakan iseng-iseng dari sang Griffin membuat yang lainnya ikut bersemangat meminta Asmita dan Defteros berciuman di atas panggung. Yang dimaksud dengan 'yang lainnya' itu adalah orang-orang yang tidak takut terkena Tenbu Hourin dan Galaxian Explosion karena mereka yakin dengan kemampuan mereka untuk menghindar atau bahkan menahan kedua jurus tersebut, atau memang terlalu bodoh untuk merasa takut kepada pasangan Saint Emas yang masih berada di atas panggung itu.

"Ayo, gih, dicium. 'Kan udah biasa ciuman di depan kamera juga!" Mudan ikut mengompori.

Dari cara Asmita memutar kepala untuk menghadapkan wajahnya kepada Mudan, Feiyan mengira sang Virgo hendak menyerang adiknya dengan teknik entah apa dan hal itu membuatnya secara otomatis menarik gadis Asia itu mendekat, siap melindungi kalau memang dugaannya benar-benar terjadi. Tapi setelah ditunggu satu-dua menit, Asmita tak kunjung melakukan apa-apa. Defteros sendiri hanya tersenyum salah tingkah, menunggu keputusan Asmita. Ia tidak mungkin berani mencium kekasihnya itu tanpa persetujuan dari yang dicium, bung.

"Asmita?" Suara Defteros terdengar jelas di telinga Asmita, meskipun orang-orang masih bersorak begitu kencangnya. "Ayo kembali ke tribun."

Mudan terlihat benar-benar kecewa dengan ajakan sang Gemini adik. "Eeeh? Tidak jadi ngasih fanservice, 'nih?"

Mengabaikan seruan kekecewaan yang semakin lama semakin bertambah keras, baik dari Mudan maupun dari para penonton di tribun, Defteros menggenggam pergelangan tangan Asmita, berniat menarik lelaki asal India itu untuk turun panggung. Namun, belum sempat ia melangkah maju, Defteros merasakan tangan Asmita yang satunya menggenggam lengannya, menahannya di tempat. Pria berkulit hitam itu tidak sempat merasa bingung karena mendadak saja Asmita membuat gerakan menyentak yang membawa Defteros untuk membungkuk. Wajah mereka jadi begitu berdekatan dan Defteros—juga para fujoshi yang hadir di sana—mengira Asmita akan secara blak-blakan menciumnya, namun kenyataan berkata lain.

Ia hanya menyentuhkan hidungnya dengan hidung kekasihnya.

"Untuk saat ini, segitu saja cukup," tegas Asmita, volume suaranya cukup besar untuk didengar oleh Mudan dan sebagian penonton yang duduknya paling dekat dengan panggung. "Aku akan setuju mencium Defteros kalau kami menang kategori berikutnya juga."

Situasi mendadak sunyi dan Asmita memanfaatkannya untuk kabur dari panggung bersama. Baru ketika keduanya kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dengan selamat, mereka yang tergabung dalam AFFSS satu per satu tersadar dari syok sesaat mereka dan mulai berseru heboh. Para hadirin yang lain pun perlahan-lahan ikut-ikutan heboh. Jika saja Defteros tidak meminta Regulus untuk berhenti menggodai Asmita, tentunya Saint Leo muda itu akan dibuat lumpuh syaraf oleh tetangganya, tidak peduli apakah ayahnya turut hadir di sana atau tidak.

Suara hiruk pikuk menyurut dan Feiyan memutuskan untuk tidak berbasa-basi. "Kita tiba di kategori—puji Dewa Naga—terakhir untuk sesi kali ini: Best Kiss."

"Dan kali ini sepertinya tidak ada video klip dari kru acara... eh, atau ada, ya?" Mudan melirik abangnya. "Ada, nggak, 'sih, Kak? Kayaknya kita nggak diberitahu, 'kan, ya?"

"Entahlah. Tapi kita memang diminta untuk langsung menunjukkan diagramnya, jadi..."

Setelah Feiyan menjentikan jari, pada layar muncul diagram baru. Bentuknya kali ini benar-benar berbeda dengan diagram-diagram sebelumnya karena nyaris semua potongan memiliki ukuran yang berbeda-beda. Ada yang nyaris menguasai separuh lingkaran, ada yang hanya seperempat, dan lain-lain. Kembali bisik-bisik terdengar dari mereka yang berspekulasi tentang pasangan mana-mana saja yang mampu meraih dukungan fans dan berhasil tercantum di dalam diagram itu.

"Baiklah, mari kita mulai dari potongan paling kecil itu," Mudan menunjuk ke arah potongan pai berwarna oranye cerah. "Pemilik potongan ini adalah pasangan—?"

Lampu yang menerangi Coliseum mendadak diredupkan dan diagram pada layar digantikan oleh sebuah cuplikan film yang, jika ditelaah dari adegan yang tengah berlangsung, dibintangi oleh Aries Kiki dan Genbu.

"Roushi bisa menghantuiku seumur hidup kalau aku membiarkan Mars berlaku seenaknya." Cuplikan itu dimulai dengan close up pada wajah Genbu yang tampak begitu lega. Bukan dirinya yang selalu merengut jutek setiap kali berhadapan dengan para Saint muda di generasinya.

Kemudian kamera beralih menyorot Kiki, yang menepuk pelan pundak kawan sesama Ksatria Emas-nya itu. Senyumnya seperti ingin mengalirkan semangat kepada Genbu. "Kalau begitu apa yang kau tunggu? Pergilah dan temui takdirmu!"

Genbu mengangguk dan ketika ia bergerak, selintas ia seperti hendak meninggalkan sofa tempat mereka berdua berbincang namun yang ternyata terjadi adalah: Genbu menghadiahkan kecupan singkat pada Kiki. Pewaris zirah Libra itu baru pergi setelah membisikkan salam perpisahan begitu dekat dengan bibir yang baru saja dikecupnya. Video singkat itu ditutup dengan pemandangan Genbu berjalan ke arah pintu dan fade away.

Lampu kembali menyala terang. Orang-orang bersiul rendah ketika layar kembali memunculkan diagram, di mana pada potongan oranye yang disebutkan tadi kini tertera nama sebuah pasangan. Ya, siapa lagi kalau bukan Genbu dan Kiki.

"Aih... nggak nyangka untuk pemberitahuannya bakal ada cuplikan-cuplikan begini!" Mudan tertawa lepas, lalu berpura-pura kesal ketika melihat para kru acara yang menonton dari belakang panggung. "Kru acara bilang-bilang dong, biar aku bisa siap mental. Nyaris aja tadi aku teriak-teriak lebay."

"'Kan biar kejutan," Mirapolos tersenyum lebar, puas melihat reaksi Mudan dan penonton lainnya.

"Aaaah, Raki ingat film itu!" Gadis termuda dalam kelompok Lemurian itu berceletuk. "Itu film yang Raki ikut main juga... film porno-nya Guru dan Genbu-sama!"

Jika saja Kiki sedang menengak segelas minuman, tentunya ia akan menyemburkan cairan di dalam mulutnya karena mendengar ucapan muridnya yang manis itu. Sebagai gantinya, wajah dan telinganya memerah seraya ia membantah, "Raki! Itu bukan film porno!"

"Tapi, 'kan, Guru dan Genbu-sama melakukan hal porno!"

"Tapi bukan berarti itu film porno!"

"Kalau bukan film porno, apa dong?"

"Sudah, Raki, sudah." Yuzuriha berbaik hati melerai pertikaian kecil antara guru dan murid itu. Ia mengalihkan fokus Raki dari Kiki dengan mengelus rambut merah mengembang milik gadis yang lebih muda darinya itu. "Sekarang kita lanjut nonton saja dulu. Kalau kau masih penasaran, kau bisa bertanya pada Genbu nanti."

Mendengar namanya disebut, apalagi secara sepihak disodori kewajiban untuk menjelaskan perbedaan film porno dengan film... well, yang dibintanginya bersama Kiki tadi, kepada bocah kecil seperti Raki, membuat pelipis Genbu berkedut. "Kenapa aku?"

"Karena kau ikut main di film itu. Sudah, diam dulu daripada kau dibungkam seseorang."

Tahu siapa yang dimaksud oleh prajurit wanita itu tanpa perlu bertanya, Genbu pun membatalkan niatnya untuk berargumen. Feiyan, puas dengan kondisi penonton yang lumayan terkendali untuk sekarang ini, melanjutkan tugasnya sebagai pembaca nominasi. "Dan sekarang, kita lihat pasangan mana yang diwakili oleh potongan pai merah muda itu. Silakan."

"Kenapa menurutmu aku akan memutuskan untuk tinggal disini?"

Mulut Aldebaran menganga terbuka, menahan napas. Itu salah satu film yang dibintanginya bersama Mu. Dan itu tadi dirinya, di dalam cuplikan film, berbicara sambil menghadap si rambut ungu. Mereka tengah duduk bersebelahan, begitu dekat hingga jarak di antara wajah mereka jauhnya hanya beberapa centimeter saja. Sang Aries tampak tak mengharapkan pertanyaan itu terlontar dari mulutnya dan tak yakin harus menjawab apa.

"Aku... tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata."

Sambil berujar pelan seperti itu, jarak di antara wajah mereka semakin lama semakin memendek. Lengan Mu merangkul leher Aldebaran, dan sebaliknya sang Taurus pun menyelipkan tangannya melewati ketiak pria yang lebih kecil darinya itu, menyentuh punggung. Bibir mereka sama-sama menyunggingkan senyum penuh arti sebelum saling bersentuhan, lalu berpisah.

Mu menanyakan apakah kekhawatiran Aldebaran bahwa pria besar itu akan melukai dirinya masih tersisa. "Kurasa aku melupakannya," adalah jawaban Aldebaran. Mereka berdua sama-sama tertawa pelan dan video pun berakhir dengan fade away.

Ketika lampu kembali menyala terang, wajah Aldebaran telah berubah warna menjadi semerah kepiting saus padang. Mu pun mengalami reaksi serupa, meski rona merah di wajahnya tidak separah Aldebaran. Keduanya saling melirik satu sama lain ketika orang-orang di sekitar mereka mulai menggodai mereka dengan siulan atau celetukan, lalu, seperti di akhir video klip barusan, tertawa gugup.

"Mereka memang romantis banget, ya, di film itu. Nggak heran kalau mereka bisa dapet suara," Kazuma mengangguk-angguk kagum.

"Shaka... nggak ngamuk, ya?" Aiolia mencoba mengintip situasi di tempat duduk kolega-koleganya. Sang Virgo yang dikhawatirkannya tampak tenang-tenang saja. Setidaknya, 'sih, Shura dan Camus, yang duduk di sisi kanan-kiri si rambut emas itu kelihatannya tidak mendapat efek apa-apa sementara rekan-rekan mereka menyelamati Aldebaran dan Mu atas sukses kecil mereka.

Milo tertawa renyah. "Kalau dia ngamuk, banyak, 'kok, yang bisa ngehentiin dia. Jangan terlalu cemas, Li'."

"Nah!" Mudan bertepuk tangan sekali, tersenyum senang ketika tahu bahwa itu saja cukup untuk meredakan hiruk pikuk di bangku penonton, terutama di bagian kelompok Gold Saint era Klasik. "Itu tadi baru posisi ke-4. Coba tebak pasangan yang berada di posisi ke-3!"

Feiyan menggeleng-gelengkan kepala, mencoba maklum dengan tingkah adiknya yang membuat para penonton kembali ribut, kali ini karena meneriakkan nama-nama pasangan yang mereka jagokan. "Daripada menduga-duga, sebaiknya kita langsung lihat saja siapa mereka."

Sesuai aba-aba, kembali sebuah video singkat dipertunjukkan di layar. Detik pertama video itu diputar dan antusiasme penonton menyurut. Pasalnya, cuplikan adegan itu begitu familiar bagi mereka. Bagaimana tidak? Adegan tersebut adalah di ambil dari episode pertama OVA The Lost Canvas—pertemuan pertama Pandora dan Alone, awal kebangkitan Dewa Hades.

Pandora, yang baru saja membunuh anjing liar yang diselamatkan Alone tanpa perlu menyentuh hewan itu, berjalan mendekati calon wadah junjungannya. Ia menangkup wajah Alone yang bersimbah air mata, membuat pandangan mata mereka bertemu.

"Kau seseorang yang tidak memiliki rasa benci sedikitpun, ya..."

Usai menggumamkan kalimat itu, kamera meng-close up wajah Pandora yang mendekat, kemudian selama beberapa saat fokus kepada bibir mereka yang saling bersentuhan. Tampang syok Alone yang perlahan menghilang ditelan fade away mengakhiri cuplikan itu.

Untuk pasangan yang satu ini, tidak ada kehebohan apapun yang terjadi. Hanya tepuk tangan datar yang mayoritas datangnya dari kubu Hades. Alone hanya bisa tertawa hambar ketika Julian Solo menepuk pundaknya, bersimpati, sementara Pandora merengut sebal dengan respon orang-orang yang begitu datar. Terlintas di benaknya untuk mengamuk seperti yang dilakukan Athena Saori di episode sebelumnya, namun nyatanya ia terlalu malas untuk mengutarakan kekesalannya. Biarlah saat jeda istirahat nanti ia melampiaskannya pada... Zelos.

Mudan menyembunyikan kikik pelannya dengan tangan dan setelah rasa geli di perutnya mereda, ia tersenyum ke arah penonton. "Yak, itu tadi pasangan Hades Alone dan Pandora untuk posisi ke-3. Sekarang, kita lihat siapa runner-up untuk kategori ini!"

Adegan pada video ke-4 dimulai dengan Paradox menghindari teknik Kyouka Suigetsu yang dilancarkan Ryuho. Sebagai tambahan, wanita itu menangkap lengan Ryuho yang terulur dan menjelaskan alasan ia bisa menghindari jurus-jurus sang Saint Perunggu dengan sempurna karena ia mengaku tahu segalanya tentang Ryuho.

"Kalau menyangkut orang yang kucintai, aku tahu segalanya." Sambil berkata seperti itu, Paradox memperpendek jarak di antara wajahnya dan wajah remaja lelaki lawan bertarungnya. Kalimat berikutnya ia ucapkan dengan suara sepelan bisikan, tepat di sebelah telinga Ryuho. "Wanita memang seperti itu, kau tahu?"

Usai berkata seperti itu, ia menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Ryuho. Namun kecupan itu bukan kecupan biasa, karena detik berikutnya sang Naga terpental menjauh akibat tekanan aneh. Tayangan diakhiri dengan sosok Ryuho yang jatuh tersungkur dan suara kekeh pelan Paradox.

Paradox mencoba mencari sosok Ryuho begitu Coliseum terang kembali. Sebagai fans-nyaris-stalker dari bocah satu itu, ia tak butuh waktu lama untuk menemukannya, namun alih-alih mencoba melempar senyum manis atau kecupan jarak jauh, Paradox malah merengut sebal. Bagaimana tidak? Haruto merangkul Ryuho sehingga pemuda asal negeri Cina itu tidak bisa menoleh ke arah Paradox.

"Berhenti merangkul Ryuho, serigala kecil," Paradox berkata dengan nada memerintah.

Tapi ninja muda itu menjawab perintahnya dengan delikan tajam dan mengencangkan pelukannya pada Ryuho, tampak tak peduli apakah pacar kecilnya itu merasa sesak napas atau tidak. Ia menolak bertengkar secara verbal dengan seorang perempuan, terlebih yang tipenya seperti Paradox. Lagipula, ia seorang Saint. Ia lebih nyaman berduel satu lawan satu dan yakin sang Saint Gemini tidak akan menolak tantangannya jika saja ia benar melakukannya. Sayang mereka masih ada di tengah-tengah acara dan ia tidak ingin produser acara ini mendadak muncul entah darimana dan menembaknya telak di dahi. Kekhawatiran yang sama dialami oleh Schiller, yang langsung menenangkan tetangganya ketika dirasanya Paradox hendak mengambil ancang-ancang untuk menyerang Haruto.

Dilihat dari raut wajahnya, jelas-jelas Mudan merasa puas dengan reaksi audiens kali ini, meskipun awalnya tadi ia tidak terlalu senang mengetahui pasangan Paradox dan Ryuho berhasil menempati posisi kedua untuk kategori Best Kiss. Dengan ringan hati ia kembali memandu acara, "Yak, sekarang kita tiba di bagian yang kita tunggu-tunggu! Apakah pemenang kategori ini pun berasal dari golongan canon atau golongan fanon?"

"Memangnya ada adegan ciuman lain di kisah canon, selain dua adegan tadi?" Teneo menggumam ketika lampu diredupkan lagi, menujukan pertanyaannya tidak kepada siapapun.

"Kalau tidak salah, di era Klasik ada, 'kok." Celintha berpikir sejenak. "Aku lupa pasangannya, tapi kalau tidak salah, 'sih, mereka tidak beneran ciuman karena diinterupsi."

"Sssh!" Salo mengagetkan kedua rekannya sesama murid Aldebaran dengan suara desisannya. "Videonya sudah mau mulai, tuh!"

Adegan dibuka dengan close up setengah badan Asmita yang mengenakan zirah emasnya dengan lengkap, seolah-olah ia hendak pergi berperang. Ia tersenyum dan mengangkat tangannya, lalu kamera berganti fokus dan menunjukkan bahwa tangannya itu ia gunakan untuk mengusap lembut wajah Defteros, yang tampak cemas.

"Maaf kalau aku tak bisa menjadi apa yang kau inginkan, tapi—aku senang bersama denganmu, Defteros."

"Jangan bicara seolah ini yang terakhir!" Secara refleks Defteros membentak, membuat Asmita tersentak kaget. Meskipun matanya tertutup menejam, Asmita tahu bahwa sang Gemini adik menatap tajam wajahnya. "Kau akan kembali ke Sanctuary! Kalau perlu aku yang akan menyeretmu pulang!"

Sesaat, mereka sama-sama terdiam. Kemudian Asmita menjauhkan tangannya dari wajah Defteros seraya berkata, "… Kurasa kabar tentang Albafica sepertinya sedikit mempengaruhiku."

Ia lalu berbalik, mengucapkan salam perpisahannya yang terakhir, namun belum juga ia mengayunkan tungkai bawahnya untuk melangkah pergi, sebelah lengannya digenggam dan ia dipaksa untuk berhenti. Seketika itu pula Defteros mendekat, menyentuhkan bibir mereka berdua selama sepersekian detik saja, lalu menjauh.

"Kau harus kembali, Asmita! Kau harus!"

Nada suaranya antara memerintah dan memohon, tapi Defteros tampaknya tak terlalu peduli. Ia pun tahu bahwa Asmita tak bisa melihat wajahnya, namun tatapan matanya seolah berpengharap bahwa sang Saint Virgo bisa memahami betapa ia menyayangi dan tak rela kehilangan dirinya. Dan memang Asmita mengerti, jika dilihat dari caranya tersenyum sebelum berjalan meninggalkan Defteros sendiri di dalam kuil—entah kuil siapa—dan berujung pada fade away tanda berakhirnya cuplikan adegan tersebut.

Suasana hening ketika lampu kembali dinyalakan, membuat Feiyan bingung. Ia mengharapkan orang-orang langsung berteriak heboh atau setidaknya bertepuk tangan ketika video selesai diputar, tapi, tidak. Semua orang bungkam. Termasuk adiknya sendiri, yang membuatnya semakin heran. Sayangnya keheningan itu tidak bertahan lama karena ketika ia baru saja akan mengkhawatirkan kondisi Mudan, gadis muda itu tiba-tiba saja bersiul.

"CIUM!" Teriaknya, dan seolah-olah teriakannya itu membangunkan para penonton dari fase cengo mereka, perlahan-lahan orang-orang mengikuti jejak Mudan—meminta Asmita dan Defteros memenuhi janji mereka untuk berciuman jika mereka berhasil memenangkan kategori Best Kiss.

Defteros pun semakin salah tingkah. Berciuman dengan Asmita memang bukan hal yang baru, mengingat bahwa mereka sudah sering melakukannya baik itu karena tuntutan peran di film-film yang mereka bintangi ataupun karena, well, keinginan sendiri. Tapi melakukannya di depan orang sebanyak ini? Mau tidak mau ia merasa sedikit canggung.

"Ayo, Defteros."

"Eh?" Lelaki berkulit hitam itu menoleh untuk melihat bahwa Asmita sudah meninggalkan tempat duduknya dan kini dalam perjalanan menuju panggung. Buru-buru ia mengejar si rambut pirangnya tersayang, pun langsung mensejajarkan lebar dan kecepatan langkahnya dengan Asmita ketika ia tiba di sisinya.

Asmita menjulurkan tangannya, hendak meraih piala yang akan diserahkan Feiyan, namun tiba-tiba Mudan berdiri di antara mereka berdua, menghalangi proses serah terima penghargaan tersebut. Senyum culas menghiasi wajah gadis itu saat ia berkata dengan nada final, "Janjimu dulu, Virgo Asmita!"

"Kukira kalian cukup pintar untuk mengerti bahwa aku hanya bercanda," Asmita mendengus kesal.

"Berarti tidak ada yang mengerti selera humormu yang memang berbeda dari manusia normal," Luco menggumam pelan, membuat Stand mendadak terbatuk demi menyembunyikan tertawanya.

"Ayolah, hanya satu kecupan saja, 'kan?" Manigoldo menyeringai lebar. "Aku tahu kalian biasa melakukan yang lebih dari itu!" Provokasinya sukses membuat penonton semakin keras bersorak membujuk.

Tapi Asmita tetap bergeming. Defteros menghela napas, pasrah dengan kelakuan pacarnya. Ia melirik ke arah Feiyan, yang masih memegang piala yang menjadi hak mereka. Sang Bai Ze pun balas mengerling ke arahnya dan keduanya berakhir mengobrol melalui kontak mata. Defteros meminta agar Feiyan menjauhkan Mudan dan langsung menghadiahkan mereka pialanya saja, namun Feiyan ragu apakah saudarinya itu akan setuju untuk mundur semudah itu.

Di saat situasi acara semakin pelik akibat penonton yang ngotot ingin melihat adegan ciuman dengan mata kepala mereka sendiri, Asmita yang sama keras kepalanya menolak untuk melakukan janji manisnya, dan dua orang paling waras di tempat—Defteros dan Feiyan—saling berdiskusi dengan isyarat mata saja, seorang (yang mungkin mampu menjadi) penyelemat kelangsungan acara itu naik ke atas panggung.

"Oke, oke, semuanya tenang! Gue punya solusinya di sini!"

Langsung saja semua orang menghentikan aktivitas mereka sebelumnya dan menoleh ke arah asal suara. Lionet Souma. Singa muda itu bergantian memandang penonton dan layar ponsel yang ia genggam dengan tangannya yang tidak memegang mikrofon. Penasaran dengan klaim bahwa ia membawa solusi pemecahan masalah yang sesungguhnya tidak penting itu, mereka semua memperhatikannya baik-baik.

"Semuanya sudah tenang? Oke. Jadi si sutradara baru kirim email ke gue," ia mengangkat ponselnya sebagai semacam bukti, meskipun tidak ada yang bisa melihat apa yang tertulis pada layar gadget tersebut karena jarak di antara mereka dan sang Saint, "supaya problema kecil yang kita hadapi sekarang ini kelar. Semoga aja berhasil, amin. Kita langsung coba aja."

Untuk menambah kesan dramatis, Souma berdeham sebelum menunjuk ke arah Asmita. "Asmita! Dialogmu salah!"

Butuh beberapa detik hingga Asmita akhirnya bereaksi. "... hah?"

"Tuli, ya? Saya bilang dialogmu salah! Di sini harusnya setelah kamu bilang 'Trick or treat!', kamu langsung nangkup mukanya Defteros terus narik dia buat ciuman penuh di bibir! Jangan langsung berhenti waktu Defteros nyoba buat berontak! Kalau perlu, bikin dia ga bisa berontak—tahan tangannya atau dorong dia ke tembok atau ke lantai. Jangan berhenti sampai saya bilang cut!" Souma mendesah, pura-pura jengkel. "Kamu ingat, 'kan? Peran kamu itu berusaha membuktikan kalau kamu memang benar cinta sama pacarnya—Defteros—dan tidak keberatan untuk serius pacaran meskipun ada resiko status kalian sebagai pasangan gay itu akan digunjing orang! Tunjukan keseriusanmu! Begini aja nggak bisa! Apa otakmu sama pirangnya dengan rambutmu, hah! Kalau nggak bisa akting, pulang sana!"

Keheningan menyambut begitu Souma menyelesaikan racauan dadakannya. Beberapa audiens memasang ekspresi horor karena pemuda itu telah berani mengomeli Asmita dengan berpura-pura sebagai seorang sutradara. Sebagian besar lainnya mengernyit bingung, ragu apakah cara itu cukup untuk membuat Asmita melakukan apa yang mereka minta. Sisanya menahan napas dan berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan antusiasme mereka, karena mereka mengerti apa maksud dari akting tiba-tiba yang dilakukan Souma—jelas-jelas ia diperintahkan sang sutradara acara untuk melakukannya.

Souma sendiri lama-kelamaan ragu, entah karena aktingnya barusan payah atau sutradara hanya bercanda dengan pesan yang dikirimnya karena Asmita tetap diam di tempatnya, tak bergerak. Namun keraguan itu hilang ketika pria asal India itu akhirnya bergerak, membalikkan badan untuk menghadap kekasihnya.

"Tolong aba-abanya, Pak Sutradara."

Defteros menelan ludah. Ia paham apa yang baru saja terjadi. Souma telah memaksa Asmita untuk masuk ke dalam personanya sebagai aktor kelas atas. Ia telah beberapa kali melihatnya—bahwa setiap kali Asmita dimarahi dan dikatai tidak becus berakting oleh sutradara film-film yang dilakoninya, ia akan benar-benar tenggelam dalam sisi profesionalnya, melupakan segala hal diluar akting dan berubah total menjadi karakter yang diperankannya. Itulah yang terjadi sekarang; Asmita akan melakukan apa yang baru saja dititahkan oleh Souma dan tak akan mundur sampai perannya selesai.

"Sebentar, Asmi—"

"Kamera siap!" Souma berteriak keras—yang sesungguhnya tidak perlu karena toh ia menggunakan mic untuk berbicara—dan sukses menghentikan usaha Defteros meminta Asmita untuk tak terpengaruh suasana. "Rolling and action!"

Maka tak terelakan lagi: seperti yang didektekan oleh Souma sebelumnya, Asmita menangkup wajah Defteros setelah membisikkan 'Trick or Treat, Defteros' dengan suara seduktif, lalu membuat bibir mereka berdua saling beradu. Bukan ciuman sekilas, seperti yang berhasil membuat mereka memenangkan kategori Best Kiss, tapi benar-benar cumbuan penuh gairah.

Defteros tidak tahu harus senang atau jengkel pada Souma karena membuat mereka berada dalam situasi seperti ini. Ia merasa apa yang mereka lakukan sudah cukup menghibur penonton, yang disadarinya begitu terpukau dengan apa yang terjadi di atas panggung sampai-sampai tidak ada satupun dari mereka yang bereaksi, sehingga ia mencoba menghentikan Asmita. Namun, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Asmita benar-benar masuk ke dalam aktingnya. Usaha Defteros untuk menjauhkan dirinya membuat sang Virgo mendorong jatuh kekasihnya tanpa menghentikan ciuman mereka.

Brengsek, Defteros menggerutu dalam hati saat Asmita menggenggam kedua pergelangan tangannya dan menahan mereka di atas kepalanya. Terasa samar aliran Cosmo Asmita yang perlahan membara, memperkuat pegangan dan kendalinya atas lelaki yang saat itu berada di bawahnya. Meskipun kelihatannya itu tidak perlu, karena perlahan kontrol diri Defteros pun menghilang dan beberapa saat kemudian ia membalas ciuman itu. Serempak mereka menggerakkan kepala, mencari posisi yang lebih nyaman. Cengkeraman Asmita pun melonggar dan Defteros memanfaatkan kesempatan itu untuk merengkuh kekasihnya, menarik pria yang lebih mungil itu agar tubuh mereka semakin berdekatan.

Tentunya aksi mereka itu akan terus berlanjut berhubung Souma tak kunjung mengucapkan 'cut' untuk menghentikan Asmita. Namun sepertinya pemuda itu sama sekali tidak ada niatan untuk membuat mereka berhenti. Kamera yang tadinya menyorot aksi panas pasangan kekasih itu sekarang berganti menyorot wajah Souma, yang masih asyik menonton dan terlihat benar-benar puas dengan hasil kerjanya. Aiolia kemudian masuk dalam jarak pandang kamera karena memang ia berniat mendatangi juniornya untuk menggeplak kepala sang Lionet.

"Aduh! Apa-apaan, 'sih, Aiolia-san!"

"Malah nanya apa lagi... 'kan kamu disuruh untuk langsung closing begitu misimu tercapai!" Geram Aiolia seraya menunjuk-nunjuk ponsel di dalam genggaman Souma. Sepertinya pada email yang diterimanya memang ada perintah seperti itu. "Ayo buruan, terus kita langsung berhentiin mereka! Bisa-bisa nanti mereka buka-bukaan juga di sini!"

"Udah mulai buka-bukaan, 'kok," Feiyan memberitahu mereka dengan nada datar. Sejumlah anggota AFSS yang telah berhenti terkesima pun kini nekat mendekati panggung demi merekam fanservice gratis itu.

"Ah, gila! Woi, jangan foto-foto, woi!" Aiolia mulai panik. "Souma, cepetan kamu closing, terus nanti bantu aku menghalau cewek-cewek ini dan hentiin Asmita dan Defteros!"

"Oke, oke..." Souma mendesah kecewa karena kesenangan barunya harus segera berakhir. "Dan itulah hasil untuk sesi ini, pemirsa. Pada kategori Best Couple, yang bagian Straight Couple dimenangkan oleh Sagittarius Sisyphus dan Sasha, sementara yang Slash Couple dimenangkan oleh Gemini Defteros dan Virgo Asmita, yang secara beruntun juga memenangkan Best Kiss dan sekarang sepertinya sedang terlewat asyik di dunia mereka sendiri." Cengirannya melebar usai berkata seperti itu.

"SOUMA, KELAMAAN!" Seseorang berteriak dari belakang, entah siapa. Jelasnya ia salah seorang yang berusaha memisahkan Asmita dari Defteros.

MC muda itu menahan diri untuk tidak berteriak balik dan terus tersenyum ke arah kamera. "Jangan pindah-pindah channel dulu karena setelah commercial break ini, kita akan lanjut ke sesi ke-2 dari akhir. Iya, masih ada dua sesi lagi sebelum acara ini selesai. Dan sesi berikutnya akan dibacakan kategori Best Siblings, Best Parent, dan Best Deity dan pastinya nggak bakal kalah heboh dengan sesi yang sudah-sudah, jadi jangan sampai kelewatan. Saya Lionet Souma, pamit!"

oOoOoOoOoOoOoOoOo

COMMERCIAL BREAK

oOoOoOoOoOoOoOoOo

Omatase shimashita! Hoshi wo yozora eee~ (WE ARE STA—

*menghindari lemparan botol bekas*

Kita berjumpa lagi. Seperti sebelum-sebelumnya, maafkan keterlambatan kami. Yang mengikuti akun Twitter kami tentu tahu bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah tugas yang harus kami selesaikan demi menambah akumulasi nilai dan adanya UAS (Ujian Agak Serius), selain itu sutradara pun diseret kawan-kawannya untuk berpelesir ke Jawa Tengah tepat setelah ujian berakhir. Akibatnya jelas, kami baru bisa melanjutkan kisah ini sekarang.

Selain itu kami pun harus meminta maaf karena kami tidak bisa menghitung masuk voting yang dilakukan Sayaka Minamoto dan chiyan-puranae semata-mata karena kami tidak rajin mengecek inbox email akun ini, sehingga kami baru tahu tadi, ketika hendak mengeposkan edisi kali ini. PM mereka masuk dalam tenggat waktu yang diijinkan, namun akibat keteledoran kami, voting mereka tidak sempat kami masukkan ke dalam kisah ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. (Meski kalau kami buat masuk pun pasangan yang kalian dukung agaknya mustahil mengalahkan pemenang yang tercantum di atas).

Untuk teka-teki di edisi sebelumnya, yaitu "film apa yang dibintangi Eden, yang mengharuskan rambutnya tetap dibiarkan putih?" jawaban yang benar adalah Devil Survivor 2 the Animation. Alasannya sederhana: di anime tersebut, Suwabe Jun'ichi, seiyuu atau pengisi suara Orion Eden, turut berperan di sana dan menyuarakan karakter bernama Hotsuin Yamato, yang dianimasikan memiliki rambut putih keperakan pula. Kami sering bergurau setiap kali menemukan karakter dari seri lain yang memiliki suara serupa dengan karakter SS karena disuarakan oleh seiyuu yang sama itu berarti sang karakter SS tengah 'membintangi' anime tersebut, semisalnya 'Griffin Minos main film di Psycho-Pass, Shirokuma Cafe, dan Devil Survivor 2'. Tidak penting, 'sih.

Untuk chapter depan, kalian diharuskan memvoting untuk Best Siblings, Best Parent, dan Best Deity. Untuk Best Siblings, kalian bebas memilih pasangan atau kelompok saudara yang ada di seri ini, seperti Ikki-Shun atau kuintet anak-anaknya HypnosOneiros, Icelos, Morpheus, Phantasos, dan Phobetor. Untuk Best Parent, tidak terbatas pada karakter yang memang memiliki anak seperti Leo Ilias, tapi kaum guru pun termasuk, seperti Pisces Lugonis. Pilih satu saja. Terakhir, untuk Best Deity pun kalian diharuskan memilih satu di antara begitu banyaknya kaum dewa-dewi yang ada di seri ini. Tidak terbatas pada dewa-dewi Yunani, tapi juga mengijinkan Titanes, Gigantes, dewa-dewi Roman (Mars), Mesoamerika (Quetzacoatl), Nordik (Odin), Cina (Hakuryuu), Kelt (Lugh), agama Hindu (Syiwa), dan Mesir (Ra).

Untuk tebak-tebakan kali ini, "temukan satu perbedaan antara edisi kali ini dengan edisi sebelumnya". Ya, cukup satu saja. Perbedaan yang dimaksud bukanlah tentang karakter yang ada atau jalan ceritanya, melainkan pada struktur chapter kali ini. Orang pertama yang berhasil menebaknya, maka votingnya akan dilipatgandakan sebanyak tujuh kali lipat.

Batas waktu voting diterima adalah hari Sabtu, 27 Juli, pukul 23:59:59. Voting yang masuk setelah itu tidak akan dihitung. Agar tidak terulang kesalahan seperti kali ini, harap melakukan voting melalui jalur review saja. Jika ingin melakukan voting susulan karena ketika mensubmit sebelumnya melakukan abstain pada kategori-kategori yang ada, silakan logout dari akun Anda dan mensubmit dengan anon review, tentunya sertakan username kalian agar tidak membuat kami bingung. Voting susulan sah jika 1) sebelumnya kalian telah memvoting namun ada kategori yang dilewatkan / abstain dan mengatakan hendak berpikir dulu dan membuat voting susulan kemudian, dan 2) disubmit sebelum tenggat waktu yang tertera di atas.

Jika masih ada yang tidak dimengerti, silakan hubungi kami via PM atau di twitter kami.

Sampai bertemu di chapter berikutnya!