-PART 2-
Chan Yeol's POV
Aku sangat kaget saat ada yang membuka pintu unit kesehatan. Aku langsung menyembunyikan buku yang sedang kubaca lalu membungkus tubuhku dengan selimut. Ini pertama kalinya ada yang mengunjungi unit kesehatan sejak 3 bulan aku selalu bersembunyi di sini.
Seperti biasa, gadis itu selalu menggangguku dan membuat aku kesal. Aku pun mengeluarkan kata-kata keras hingga dia mengalah dan pergi berbaring di ranjang sebelahku.
Kulihat gadis itu meringkuk di ranjang sebelahku. Membelakangiku sambil sesekali menggaruk kakinya dengan kakinya yang lain. Ia pasti kedinginan. Sadar dengan itu, aku pun melemparkan bantal dan selimut untuknya dan kembali berbaring seperti tak terjadi apapun.
"pakailah bantal itu, tanganmu yang kecil bisa lumpuh jika digunakan alas kepalamu yang besar. Dan selimut itu, gunakanlah untuk meutupi rokmu. Kau pikir kau menggoda?" aku membelakanginya dengan ekspresi menahan tawa.
Buggh~
Ia kembali melemparkan bantal yang telah aku berikan, maksudku bantal yang telah kulemparkan tadi.
"kau selalu tak bisa melihat ketulusan dari setiap perbuatanku" bentakku kesal.
"niat baik harus dilakukan dengan cara yang baik!" ia malah balik membentak.
"setiap bertemu denganmu aku selalu merasa kesal!" ucapku serius.
"aku tak ingin berbagi lagi takdir denganmu. Jadi mulai sekarang, marilah kita saling menjauh" sambungku mantap. Akupun pergi meninggalkan gadis itu. Dekat dengannya membuatku selalu merasa kesal.
Aku sekarang telah jauh dari gadis itu. Kini aku ada di tempat persembunyianku yang lain. Tangga belakang sekolah. Aku memang sangat suka bersembunyi.
Sayup-sayup terdengar sebuah suara, suara Lu Han. Lu Han juga teman Kris hyung, jadi aku tahu persis suaranya.
Setahuku tangga ini tak pernah dikunjungi murid lain karena semua yakin di tangga ini ada banyak hantu. Tapi sebenarnya itu semua tak ada, aku yang pertama kali menyebarkan berita itu agar semua menjauh dari sini.
Loteng ini adalah tempat paling tinggi di sekolah oleh sebab itu aku bisa melihat sebagian kecil wilayah Seoul dari loteng ini. Dan oleh sebab itu aku menjadikannya tempat bersembunyi dan berusaha menjauhkan semua orang dari sini.
"Kai, sebenarnya Baek Hyun itu menyukai Kris sejak kelas 1 dulu" terdengar suara Lu Han di bawah tangga.
"benarkah? Tapi Kyung Soo juga menyukai Kris" jawab Kai panic.
"sssttt.. makanya kau jangan pernah bicarakan ini pada Kyung Soo maupun Kris. Aku mengatakan ini padamu agar kita tak kau tak menjodoh-jodohkan Kyung Soo di depan Baek Hyun lagi. Baek Hyun akan terluka.." Lu Han berkata pelan namun masih terdengar.
"baiklah, aku janji!" Kai menyanggupi.
"sekarang bersikaplah biasa lagi. Ayo kita ke kelas!" ajak Lu Han. Derap langkah mereka pun kini makin tak terdengar, termakan batas dengarku dan jarak yang makin melebar.
"Gadis itu menyukai Kris hyung?" gumamku tak percaya. Mana mungkin gadis pemarah sepertinya memiliki rasa cinta? Tak mudah dipercaya!
"tapi.. mereka sangat cocok. Sama-sama sangat menyebalkan dan payah…"
"dengan kenyataan ini, aku semakin tidak suka dengan gadis itu! Gadis bodoh!" umpatku kesal.
Baek Hyun's POV
Baek Hyun-ah~ kau mendapat nilai 100 untuk ulangan integral-mu. Chukkae~! ^^
Kyung Soo mengirimku pesan seperti itu. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Bukan karena aku tak senang mendapat nilai sempurna, aku senang. Tapi itu sudah biasa terjadi, aku selalu mendapat nilai tertinggi untuk semua mata pelajaran. Bagaimanapun juga, hal menakjubkan sehebat apapun jika terjadi berulang-ulang takkan mengesankan lagi.
"arghh!" aku menggeram kesal. Perasaanku galau. Kadang aku tak tahu apa yang sebenarnya diriku mau. Aku belum sepenuhnya mengerti diriku sendiri.
Kulemparkan tubuhku ke ranjang kecil tempatku biasa tidur. Menatap langit-langit rumahku dengan pandangan menerawang. Jauh.
Oh ya! Aku teringat sesuatu. Buku milik Chan Yeol. Dengan cepat kuambil buku itu dari tas sekolahku. Lalu kubaca buku itu dengan saksama sambil berbaring santai di ranjang biruku.
"Chan Yeol Si Biang Onar?" aku terkekeh saat membaca lembar awal buku itu. Tertera nama itu dengan tulisannya yang buruk.
"orang ini lucu sekali, bisa-bisanya membuat nickname yang payah seperti ini!" aku tertawa semakin keras saat menyadari ia salah menulis namanya sendiri. Ia sudah 18 tahun, tapi ia belum bisa menulis hangeul dengan benar. Payah!
"Ming, ada apa?" eomma berteriak memanggilku saat aku tertawa semakin keras.
"tak ada apa-apa eomma, aku hanya sedang membaca komik yang sangat lucu" jawabku dengan setengah berteriak. Aku pun menahan sekuat-kuatnya gelakku.
Setelah tawaku mulai mereda aku pun membuka halaman selanjutnya, dan aku menemukan sebuah gambar hati yang sangat buruk rupa. Benjol sana-sini. Pasti gambar hati itu sangat menyesal karena telah diciptakan dengan yang seburuk-buruknya bentuk.
Tapi ada sebaris kalimat yang membuatku berhenti menertawakan hati bodoh itu. Sebaris kalimat yang sungguh menginspirasiku. Walaupun tulisannya buruk, aku pelan-pelan bisa membacanya.
Aku mencintaimu karena segenap alam semesta membantuku untuk menemukanmu..
Aku membelalakkan mataku. Mengangakan mulutku saking tak percayanya. Aku tahu ini adalah kutipan yang diambil dari buku ini, ini kalimat yang diucapkan Santiago pada Fatima. Benarkah ini ditulis oleh Chan Yeol?
"Baek Hyun.. kau sudah bangun?" ketukkan pintu membangunkanku dari tidurku. Terpaksa membuka mata dan menggeliat-geliat malas dalam menghadapi dunia hari ini.
"ye eomma, aku sudah bangun.." jawabku pelan karena terselingi oleh aksi menguapku.
"cepatlah, ini sudah jam 6.40, kau bisa kesiangan.." eomma berteriak lagi.
6.40? Mataku mendadak membelalak. Aku kesiangan!
Sudah jam 7.05, aku telah kesiangan! Kukayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Rambutku yang kukuncir kini berantakan tertiup angin dan peluh mulai menetes di tengukku yang kepanasan, dan aku yakin saat ini aku pasti sangat buruk rupa. Seburuk bentuk hati yang digambar Chan Yeol di bukunya itu.
"aku pasti terkena kutukan buku Chan Yeol itu! Sial!" aku mengumpat sepanjang perjalanan seperti orang gila. Tatapan mata orang-orang tak kupedulikan lagi, tujuanku kini hanya satu. Tiba di sekolah tepat waktu, walau itu mustahil.
"maaf sonsaenim, aku kesiangan.." aku membungkuk saat Kim sonsaenim mencegatku di gerbang sekolah.
"Baek Hyun.." Kim sonsaenim tak percaya melihatku kini ada di depannya. Bukan sebagai murid yang akan maju di depan kelas untuk mengerjakan soal kimia, tapi sebagai terdakwa dengan tuduhan kesiangan.
Aku menunduk dalam. Sangat malu.
"baiklah, sekarang pergilah ke perpustakaan dan buatlah sebuah karangan tentang kedaulatan korea dalam bahasa inggris" Kim sonsaenim mencatat namaku dalam agenda buku kesiangan. Akupun melangkah gontai ke arah perpustakaan. Bagiku perpustakaan memang tempat yang sangat menyenangkan, tapi bukan saat ini.
Aku pun masuk ke perpustakaan yang sangat lengang. Tak ada satupun orang di sana kecuali penjaga perpustakaan sekolah kami, Sung Min Eonni.
Aku masuk dengan mengendap-endap, aku cukup malu kesiangan dan ketahuan oleh Kim sonsaenim. Aku tak mau lagi malu karena ketahuan Sung Min eonnie yang galak itu.
Aku memilih posisi paling terasing, di pojok utara ruang perpustakaan ini. Dibalik rak koran dan kamus bahasa asing. Aku yakin, tak ada yang akan datang ke sini di jam seperti ini.
"apa yang harus kutulis?" aku memainkan pensilku dan sesekali memukulkannya ke kepalaku sendiri.
"oh ya!' seruku senang, aku mendapat ide!
Aku berdiri dengan susah payah, kakiku kram. Aku ingin mengambil sebuah kamus korea-inggris di rak yang ada di depanku. Tapi, aku tak kepalang kagetnya saat melihat sosok yang membawa kutukan di pagiku ini. Chan Yeol!
"omona!" seruku melonjak kaget. Ia menoleh lalu membuang nafas berat.
"katanya kau tak mau berbagi takdir denganku, tapi mengapa kau selalu ada di sekitarku?" aku tertawa mengejek.
"setiap pagi aku memang selalu di sini" ia merapikan buku-buku catatannya yang berserakan di lantai. Aku tak menyangka ia punya buku catatan.
"bilang saja kau kesiangan dan dihukum menulis karangan berbahasa inggris" aku kembali duduk di lantai, kini kami dihalangi sebuah rak besar yang diisi koran dan kamus –kamus bahasa asing. Puas aku mengejeknya.
"lalu kau? Kau tak kesiangan?" tanyanya dengan nada sangat tak sopan.
"a-a-ku.. aku hampir selesai menulis karangan itu!" aku sempat terbata. Untungnya aku sudah punya plan B dalam menghadapi serangan mendadak seperti ini.
"kalau begitu, kerjakanlah dengan baik anak PINTAR!" ia bangkit hendak melangkah dengan kata-kata yang menyinggung perasaanku yang ia tekankan di akhir ucapannya.
"kau? Apa kau sudah selesai? Atau malah kau tak bisa mengerjakannya?" cecarku dengan berbagai macam pertanyaan yang menohok. Memang aku sadar ini sangat tidak sopan, tapi ia yang pertama memulai melukai harga diriku.
Ia berbalik lalu melangkah mendekatiku. Aku telah siap-siap memegang kamus inggis-korea yang cukup tebal, itu cukup untuk membuatnya terjengkang dalam satu pukulan apabila ia melakukan hal buruk padaku.
Ia semakin melangkah pasti mendekatiku. Dan kini ia jongkok di depanku. Genggaman tanganku pada kamus yang kupegang tadi makin kuperkuat.
"aku sudah selesai mengerjakannya. I can speak English fluently" ia menatapku dan melemparkan tawa mengejek padaku.
"…." Aku termangu tak percaya. Ia tak sebodoh yang aku kira.
Pasti wajahku sangat terlihat bodoh saat ini.
Chan Yeol pun pergi dengan santai mengabaikanku yang masih terpana dan shock berat.
TBC/DELETE?
Thanks udah bacanya. Mian post nya kelamaan. Abis perang bersama berpuluh-puluh soal soalnya /abaikan/
Keep RnR ne
