Disclaimer : Hetalia milik Hidekaz Himaruya~


Feliciano melihat kepergian pelayan itu sampai dia menghilang di balik dapur, kemudian pandangannya teralihkan ketika dia mendengar suara Chiara yang menghela napas melihat gadis tadi.

"Maaf ya, tadi itu teman seapartemenku. Kalau gugup, dia selalu begitu," kata Chiara kepada mereka berdua.

Feliciano kembali tersenyum, "Ve, tidak apa-apa! Tapi akan lebih bagus lagi kalau aku sempat berkenalan dengannya. Bagaimanapun juga dia itu salah satu pegawai restoranku, apalagi dia cantik seperti kak Chiara, aku harus mengenalnya lebih jauh~~!" katanya, membuat Chiara tersipu malu.

"Hei, jaga wibawamu, bastardo," Lovino menegur Feliciano, sedangkan Feliciano tetap tersenyum cerah. Lovino lalu melihat ke arah Chiara, "jadi gadis tadi teman seapartemen yang pernah kau ceritakan? Namanya kalau tidak salah Alice, tapi kenapa dia memilih bekerja sebagai pelayan di sini?" tanyanya sambil meminum jus tomat.

"Dia sebenarnya punya pekerjaan tetap seperti aku, tapi dia tipe gadis pekerja keras, jadi bekerja itu sudah seperti hobinya," jawab Chiara.

"Hebat, vee! Aku jadi semakin kagum!" puji Feliciano, ia tadi ingin menyapanya, tapi dia juga tidak bisa sembarangan bertingkah laku, ia tetap harus menjaga sedikit wibawanya di tempat yang ia pimpin ini.

Lovino lalu melanjutkan mengobrol dengan Chiara, sedangkan Feliciano diam-diam melirik ke arah Alice yang tengah melayani tamu lain. Matanya yang daritadi tertutup kini terbuka, memperlihatkan sepasang bola mata amber yang indah. Feliciano menopang dagu sambil menyunggingkan senyum lembut ke arah Alice.

"Alice ya..."

.

Hari sudah semakin sore, untungnya para pengunjung restoran tidak seramai tadi siang. Alice menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak, dia memang lelah, tapi karena sudah terbiasa seperti ini jadi tidak apa-apa. Biasanya para pelayan bisa bekerja dengan santai di sore hari, soalnya kebanyakan orang-orang pasti pergi ke Mall atau pusat perbelanjaan lainnya kalau sore-sore.

Alice melihat ke arah meja 20 tempat Chiara dan kedua Vargas tadi duduk. Meja itu sudah kosong, jelas saja, buat apa mereka berlama-lama di restoran. Alice cukup kecewa karena ia hanya sempat melihat adik Lovino pas mengantar hidangan tadi, itu pun cara bertemunya juga tidak berkesan sama sekali.

Untuk mengisi waktu luang, Alice melihat ponselnya sejenak sambil meminum jus, barangkali ada yang mengiriminya pesan. Sesuai dugaannya, ternyata ada pesan masuk, dan pesan itu dari Chiara.

"Alice, aku hanya ingin bilang kalau aku pergi dengan Lovino memakai mobilnya, mobil yang kita pakai tadi aku tinggalkan di parkiran, jadi bisa kau pakai buat pulang."

Alice tersenyum, karena malam ini dia tidak perlu repot-repot menunggu bus untuk pulang. Ia membalas pesan Chiara dan kembali menyimpan ponselnya di saku roknya. Alice tiba-tiba ingin ke toilet untuk mencuci muka sejenak, wajahnya tampak kusam, kalau ia melayani dengan wajah mengerikan seperti ini para tamu bisa kabur. Alice selalu mematuhi salah satu moto restoran ini "Pelayan tersenyum manis, Pelanggan jadi laris".

Belum sempat ia menuju toilet, tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang. Untungnya tabrakan itu tidak terlalu kuat, wajah Alice hanya menyentuh bahu orang di depannya. Tapi yang membuat Alice pucat, jus yang tadi dipegangnya (dan belum sempat diletakkannya di meja) tumpah dan mengenai kemeja orang itu. Dan yang membuat Alice ingin menghilang dari muka bumi ini adalah... kemeja itu milik si pemuda Vargas, sang pemilik restoran, bosnya...

'Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhaaaaaan~~!'

"Ah... m-m-maafkan saya, tuan Vargas! Saya tidak sengaja, sungguh!" Alice panik bukan main dan tangannya langsung mencari-cari sapu tangan di saku apronnya. Feliciano melihat kemejanya yang basah oleh cairan jus tadi, ia lalu tersenyum melihat tingkah Alice yang kalang kabut melap kemejanya dengan sapu tangan.

Feliciano memegang tangan Alice untuk menghentikan gerakannya. "Hussh... tidak apa-apa, bella," katanya tersenyum, membuat Alice memerah malu.

"Ada apa ini?" sang manajer judes pun muncul dibalik Feliciano, seolah memperparah suasana. Si manajer melihat noda di kemeja Feliciano dan reaksinya dua kali lipat lebih heboh dari Alice tadi. Ia melihat gelas kosong yang dipegang Alice, dan langsung saja sang manajer menatap tajam gadis itu. Kemudian tatapannya melembut ketika melihat ke arah Feliciano.

"Maafkan pelayan ini, tuan Vargas. Kami akan memberikannya hukuman kalau perlu," kata si manajer, membuat Alice memucat. Ia berpikir kira-kira apa hukuman untuknya, disuruh lembur? Gaji dipotong? Jadwalnya diperbanyak? Sungguh gawat...

"Hukuman?" kata Feliciano bingung. Sang manajer mengangguk, sedangkan Alice hanya menundukkan kepalanya pasrah, ingin sekali ia protes, tapi pasti resikonya akan lebih parah.

Feliciano terdiam seperti memikirkan sesuatu, sedangkan Alice sendiri sudah semakin pucat saja. Padahal sepertinya tadi si pemuda Vargas mau memaafkannya, tapi gara-gara si manajer datang, ia jadi memikirkan hukuman untuknya.

"Bella, ikut aku ke ruanganku, sekarang juga," katanya dengan nada (yang sepertinya) serius.

'Tidaaaaaaaaak!'

Sang manajer terdengar puas mendengarnya, kemudian ia pamit pada Feliciano untuk pergi. Di dalam hati Alice ingin sekali menggantung sang manajer di puncak menara Pisa. Dengan terpaksa, Alice mengikuti Feliciano yang sudah pergi duluan.

.

Mereka berdua berjalan di sepanjang lorong dalam keheningan, Alice juga menjaga jaraknya sedikit dari Feliciano. Semakin lama Alice berjalan, ia semakin gugup, ditambah lagi Feliciano hanya diam saja dan terus berjalan. Alice heran melihatnya, ia pikir bosnya ini mempunyai sikap yang bersahabat, tapi yang sekarang ini dia bahkan tidak mengatakan sepatah katapun padanya. Alice juga tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang karena ia berjalan di belakangnya.

Alice terus mengikuti Feliciano hingga mereka sampai di tempat yang asing bagi gadis itu. Seingatnya ia tidak pernah melihat lorong yang sekarang mereka lewati ini. Saking sibuknya dengan pikiran sendiri, Alice tidak sadar kalau Feliciano membawanya ke tempat yang aneh. Memangnya ruangannya sejauh apa? Alice bahkan tidak tahu sama sekali kalau jalan ini pernah eksis. Mendadak ekspresi khawatir Alice berubah menjadi waspada, ia menatap punggung Feliciano dengan tatapan menyelidik.

Akhirnya Feliciano berhenti berjalan, ia berdiri di depan sebuah pintu ganda dari kayu dan membukanya. Feliciano melihat ke arah Alice sambil tersenyum, tapi senyum itu tidak seperti senyum ceria yang dilihatnya tadi siang. Ditambah lagi, Alice akhirnya bisa melihat kedua bola mata Feliciano yang berwarna amber itu. Tatapannya itu membuat Alice jadi salah tingkah dengan sukses.

"Ve~ silahkan masuk, bella," kata Feliciano menyilahkan Alice untuk masuk duluan. Alice menatapnya sebentar, perlahan ia menggerakkan kakinya dengan ragu menuju ruangan Feliciano. Ruangan itu gelap, satu-satunya cahaya hanya dari pintu ganda yang terbuka setengah itu.

"Anda mau apa dengan saya...?" tanya Alice pelan, ia masih waspada. Entah kenapa ia merasa pemuda itu mempunyai maksud lain mengajaknya kesini. Tapi Alice berusaha untuk tetap tenang, bagaimanapun juga ia bisa melindungi dirinya kalau ada apa-apa, ia adalah gadis yang kuat.

Feliciano menyalakan saklar lampu dan saat itu juga ruangan yang gelap itu menjadi terang benderang, membuat Alice menutup matanya mendadak karena silau. Ketika ia membuka matanya kembali, Alice terkejut karena ruangan itu penuh dengan lukisan dan kanvas dimana-mana. Tapi yang lebih membuatnya terkejut, ia merasa familiar dengan semua lukisan itu. Matanya melihat satu-persatu lukisan-lukisan itu dengan seksama, salah satunya lukisan bukit kecil yang sangat familiar baginya, bahkan suasana matahari terbenamnya juga persis sekali dengan yang diingatnya.

'Ini...'

Alice juga melihat sebuah lukisan yang menggambarkan dua anak kecil, yang satu anak dengan gaya rambut dicepol berantakan, yang satu lagi anak berbaju putih. Lukisan dengan dua anak itu tidak hanya satu, tapi ada beberapa, hanya saja pose mereka berbeda-beda di setiap kanvas. Alice tahu benar siapa anak-anak yang ada di lukisan itu.

'Feli...'

"Bella, aku punya sebuah cerita untukmu. Cerita yang sudah lama sekali, tetapi selalu kukenang," kata Feliciano berjalan melewati Alice yang masih terpana dengan semua lukisan itu. Pemuda itu berhenti di sebuah lukisan anak berbaju putih yang terlihat menangis sendirian di bukit.

"Dulu ada seorang anak yang selalu dibuli oleh anak seusianya, bahkan di daerah yang baru ia datangi pun, ia juga diganggu oleh anak-anak di sana.."

Kemudian Feliciano meletakkan tangannya ke lukisan yang menggambarkan seorang anak bercepol datang menghibur si anak berbaju putih, "kemudian ada seorang anak dari daerah sana yang datang menolongnya, bahkan ia mengajaknya berteman dan berkata akan selalu melindunginya. Si anak berbaju putih pun merasa sangat bahagia," katanya sambil tersenyum hangat.

"Pertemanan mereka berlangsung sangat akrab, anak berbaju putih menganggap anak itu adalah teman yang berharga. Mereka bermain sepanjang hari di sebuah bukit kecil, dari pagi hingga sore,"

Feliciano terus menceritakan kisah itu sambil menyentuh kanvas demi kanvas yang dilewatinya. Setiap lukisan yang ia tunjukkan itu penggambarannya sangat persis dengan apa yang dia ceritakan, layaknya buku cerita bergambar. Alice memandangnya dengan sedih.

'Kalau kau menganggapku berharga, kenapa kau tiba-tiba pergi...?'

"Hari perpisahan mereka pun tiba, tidak, hari itu tidak tepat dikatakan sebagai hari perpisahan... karena anak berbaju putih itu pergi tiba-tiba tanpa memberitahu. Keluarganya menyuruhnya untuk kembali ke kota. Anak itu sangat sedih karena harus berpisah, ia ingin sekali mengucapkan kata perpisahan pada temannya, ia bahkan sampai menunggunya di bukit kecil, mau memberikan kenang-kenangan sebuah lukisan untuknya, dan..." Feliciano mendadak menghentikan kata-katanya, ia merasa pipinya memanas, "... m-mengutarakan perasaannya pada anak itu..."

Alice tersentak, tangannya sampai menutup mulutnya. Ia merasa tidak ingin menyela dan menunggu lanjutannya.

"Sayangnya semua rencana itu tidak pernah dilakukan, karena anak itu dipaksa pulang cepat oleh anak buah keluarganya, tanpa memberi kesempatan anak itu untuk menunggu temannya. Makanya ia sengaja meninggalkan lukisan yang dibuatnya itu di bukit, berharap semoga temannya menemukan kenang-kenangan itu."

Feliciano tidak berani memandang Alice, ia tahu kalau Alice pasti sangat kecewa saat itu. Ia menunggu reaksi Alice sebentar, tapi sepertinya Alice menunggunya untuk melanjutkan lagi.

Feliciano pun lalu melanjutkan, "hari-hari anak itu dilewati dengan perasaan menyesal, mengirim surat permintaan maaf pun ia sangat takut, takut kalau temannya itu marah dan tidak mau berbicara padanya lagi. Ia tidak tahu harus bagaimana, ingin mengirim surat tapi takut, ingin bertemu tapi keluarganya sangat ketat mengawasinya, perasaan menyesal itu berlanjut sampai anak itu beranjak dewasa..." saat itu juga Alice mulai mendengar suara Feliciano mulai bergetar. Sang gadis jadi tergerak hatinya ketika melihat pemuda di hadapannya itu mulai menitikkan air mata.

"Al..."

Jantung Alice serasa berdetak saat mendengar Feliciano memanggil nama panggilannya waktu kecil, nama yang sudah lama tidak dipakainya lagi. Feliciano mulai sesenggukan, ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan agar ia tidak menangis. Feliciano menyembunyikan matanya dengan telapak tangannya. "M-Maafkan aku... Al..."

Alice perlahan berjalan ke arahnya, ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Feliciano. Gadis itu melihat dalam-dalam mata amber Feliciano yang berlinang. Wajah di depannya ini memang familiar, akhirnya sekarang Alice tahu, ia memang pernah bertemu dengannya, dia adalah Felicia yang dulu. Felicia yang penakut, cengeng, dan selama ini dikiranya sebagai perempuan.

"Feli...," Alice mengucapkan nama yang sudah lama tidak disebutnya itu. Gadis itu langsung memeluk Feliciano, membuat si pemuda membelalakkan matanya.

"Akhirnya aku bertemu denganmu, Feli. Aku rindu padamu..." bisiknya di telinga si pemuda. Feliciano merasakan air matanya semakin deras, perlahan tangannya bergerak memeluk Alice kembali. Alice baru menyadari bahwa Feliciano sudah lebih tinggi darinya, padahal dulu ia sangat mungil dan rapuh. Bahkan lengan Feliciano saja cukup untuk menyelimuti tubuhnya, membuat Alice merasa hangat dan nyaman. Gadis itu menutup matanya, tidak mempedulikan waktu yang terus berjalan demi merasakan kehangatannya.

Tangis Feliciano akhirnya mulai mereda, Alice melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Feliciano. "Bahkan sampai sekarang pun kau masih cengeng ya, Feli~," kata Alice.

"H-Habisnyaa aku sangat takut kalau kau akan marah dan tidak mau memaafkanku, vee..."

"Ha? Memangnya kapan aku bilang aku memaafkanmu? Aku justru ingin menghajarmu kalau aku bertemu denganmu suatu hari!" seru Alice memijat-mijat kepalan tangannya sambil tersenyum mengerikan.

"Veeee! Ampun, bella~~, jangan pukul aku! Ampun!" Feliciano mundur beberapa meter dari Alice, bendera putih secara mendadak muncul dari tangannya. Alice berusaha menahan tawa melihat reaksi Feliciano, ia lalu mendapat ide lagi untuk 'menghukum'nya.

"Ah! Ada hantu wanita berambut panjang di belakangmu!"

"Veeee!" Feliciano langsung berlari ke belakang Alice dan memeluk pinggang gadis itu. Tak lama, Feliciano mendengar suara tertawa dari Alice, pemuda itu kebingungan dan melihat bahwa hantu wanita berambut panjang itu sebenarnya tidak ada sama sekali.

"Serius deh, Feli, kau masih tertipu dengan lelucon anak kecil seperti itu?" Alice tertawa. Ia senang sekali kalau Feli kecilnya sama sekali tidak berubah, masih polos, penakut, dan cengeng. Hal itu membuat ia kembali mengenang masa-masa mereka bermain bersama.

"Kau kejam, veeee~~~," Feliciano merengek.

"Ahh... aku belum puas balas dendam padamu, apa lagi ya? Apa aku harus memukulmu sekarang?" kata Alice melihat ke arah Feliciano yang masih memeluk pinggangnya. Feliciano sudah nangis-nangis mewek sambil mengibarkan bendera putihnya dengan panik.

"Oh iya, aku tahu!"

"Veee~~..." Feliciano pasrah.

"Aku akan memaafkanmu kalau..." Alice menggantungkan kalimatnya, sedangkan Feliciano masih menangis saja. "... kau bersedia kencan denganku," lanjut Alice. Keadaan hening sejenak.

"Ve?"

"Mau tidak?" tanya Alice, sedikit memerah.

Wajah Feliciano berubah jadi senang, semburat merah muncul di kedua pipinya, ia pun mengangguk dengan antusias, "Ve, tentu saja aku mau, bella!"

.

Feliciano dan Alice akhirnya keluar dari ruangan, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan tepat sekali shift Alice sudah selesai. Alice pun membereskan barang-barangnya dan berganti baju untuk pulang, eh bukan, untuk kencan dengan Feliciano. Para pelayan termasuk manajer di sana memperhatikan mereka berdua. Sebagian dari mereka ada yang berbisik-bisik, ada yang mengagumi Feliciano, ada juga yang iri pada Alice karena bisa berdekatan dengan Feliciano. Si manajer sendiri menatap Alice dengan tersenyum menang, ia yakin pasti Feliciano sudah memberikan hukuman padanya. Tapi rasanya ada yang aneh, wajah Feliciano dan Alice terlihat berseri-seri, tidak tampak seperti tampang bos yang habis memberi hukuman pada pegawainya.

Feliciano tersenyum ke arah manajer itu, "Karena shift pelayan bernama Alice sudah selesai, bisakah ia diperbolehkan pulang?"

Sang manajer hanya bengong, ia mengangguk pelan. Feliciano pun mengangguk juga, lalu ia menggandeng tangan Alice, "ayo, bella."

Para pelayan pada terkejut karena bos pujaan mereka memegang tangan Alice, membuat Alice sedikit malu juga, tapi tetap saja di dalam hatinya ia merasa bangga. Mungkin seperti ini ya kalau jadi Chiara, begitulah pikir Alice.

"Uhh... tuan Vargas, hukumannya...?" tanya manajer bingung.

Feliciano menanggapinya dengan tertawa, "Tenang saja, ini mau menjalani hukuman kok, ve!" katanya ceria, lalu ia keluar dari restoran bersama Alice, mengabaikan berbagai macam reaksi dari orang-orang di restoran itu.

Alice dan Feliciano sepakat untuk menaiki mobil Alice, karena Feliciano beralasan kalau ia tadi hanya menumpang mobil Lovino. Feliciano bersikeras untuk menyetir mobilnya, karena tidak baik membiarkan seorang ragazza yang menyetir. Tujuan pertama mereka adalah mengganti penampilan mereka supaya lebih pantas, soalnya kemeja Feliciano sendiri terkena noda jus dan baju Alice terlihat biasa dan kumal.

Setelah merubah penampilan di toko pakaian, mereka memutuskan untuk menonton film, Alice memilih horor dan Feliciano memilih romance. Tapi akhirnya mereka memilih film romance juga, karena Alice pasti tidak bisa tahan mendengar teriakan atau tangisan Feliciano setiap menit sekali kalau mereka nonton film horor. Selain itu mereka juga ke taman bermain, foto-foto, berkeliling kota sambil menikmati suasana senja di Italia. Bagi Feliciano dan Alice, ini adalah kencan pertama yang mengasyikkan, mereka saling tertawa dan merasa nyaman satu sama lain, tidak ada kecanggungan sama sekali. Keduanya juga menerima perasaan masing-masing dan resmi menjalin hubungan.

"Al"

"Ya, Feli?"

"Kalau dulu aku sempat menyatakan perasaanku, kau mau menerimaku tidak, ve?"

"Tidak," jawab Alice langsung, tanpa ragu-ragu pula.

"Vee, kenapaaa?"

"Habis dulunya aku kira kau itu anak perempuan, dan aku masih normal," jawabnya. Saat itu juga, suara petir menyambar terdengar di benak Feliciano.

"... Iya vee, dulu aku memang selalu disangka anak perempuan. Bahkan selalu disuruh memakai baju-baju perempuan oleh sepupuku," jujurnya.

"Tenang saja, nasib kita bisa dibilang sama kok. Aku juga selalu disangka anak laki-laki karena pakaianku tidak pernah feminin, malah aku kira kau sendiri menganggapku sebagai anak laki-laki," katanya tertawa, "dan kalau kau suka padaku waktu itu, jangan-jangan kau ini..."

"T-Tidak! Aku dulu sudah tahu kau adalah perempuan, ve!"

"Oh ya? Memangnya apa yang membuatmu menyukaiku waktu itu?" tanyanya mendekatkan diri pada Feliciano.

Feliciano tersenyum lebar, "aku suka padamu karena kau itu kuat, tidak pengecut, dan tidak cengeng walau kau anak perempuan. Aku menjadi kagum padamu dan menjadikanmu panutanku, ve! Dan sekarang kau menjadi gadis yang cantik, aku jadi semakin suka!"

Alice tersipu dan memukul pelan bahu Feliciano. "Teringatnya... bagaimana kau bisa tahu kalau aku ini adalah 'Al'?"

"Tentu saja informasi dari berbagai sumber! Untungnya keluargaku mempunyai koneksi sosial yang cukup luas, jadi tidak susah untuk mencarimu, ve. Ditambah lagi, kak Chiara selalu bercerita tentangmu pada fratello, dan secara tidak langsung aku jadi tahu dan menyelidikimu," jawabnya.

"Menyelidiki? Jangan-jangan kau menguntitku ya?"

"E-ehh bukan, vee! Aku hanya mencari-cari informasi saja, tapi tidak sampai menguntitmu!" jelas Feliciano sambil mundur setapak ke belakang, takut Alice akan memukulnya.

"Ah baiklah kalau begitu~~," kata Alice memeluk lengan Feliciano. Di dalam hati Alice senang Feliciano berusaha mencarinya, perbuatan itu entah kenapa terasa romantis.

"Al, mau tidak kau makan malam di rumahku?" tanya Feliciano tiba-tiba.

"Eh? Makan malam di rumahmu... maksudnya dengan keluargamu?" tanya Alice terkejut.

"Iya! Aku ingin mengenalkanmu pada kakekku, ve!"

Alice menjadi panik plus khawatir, ia belum siap untuk bertemu kakek Feliciano, sang pemilik Vargas Corp. Bagaimana kalau kakeknya ternyata tidak menyetujui hubungan mereka? Bagaimana kalau ternyata kakeknya sudah menjodohkan Feliciano dengan orang lain? Bagaimana kalau malah kakeknya sendiri yang suka padanya? Oke, yang terakhir sepertinya tidak akan mungkin terjadi.

"T-tapi Feli..."

"Tenang saja, kakekku baik sekali! Selain itu aku dengar fratello akan mengajak kak Chiara ke rumah untuk dikenalkan pada kakek juga. Jadi kau tidak sendirian, bella," mendengar itu, Alice jadi sedikit lega. Tapi tetap saja ia khawatir kalau dirinya tidak diterima kakek Feliciano, kalau Chiara sepertinya akan lulus dengan mudah.

"Dan katanya, fratello akan melamar kak Chiara setelah berkenalan dengan kakek," kata Feliciano tersenyum. Alice terkejut, tapi ia merasa senang mendengar kabar baik itu.

"Baguslah, Chiara pasti senang!" Alice kegirangan, sepertinya setelah ini ia akan memeluk Chiara erat-erat sebagai tanda selamat. "Feli, jangan-jangan kau berencana melamarku juga ya?"

"V-Ve?" Feliciano jadi memerah, "K-Kalau kau sudah siap untuk dilamar, aku mau-mau saja, bella."

"Feliii jadi maluuuu~~" goda Alice menyentuh pipi Feliciano dengan telunjuknya, "Tapi sepertinya kita akan fokus dulu pada mereka berdua, kita kan bisa menyusul, Feli."

"Iya, ve! Kita menikmati ini dulu saja~~" Feliciano memeluk Alice, kemudian mereka berdua pergi ke mobil untuk segera tancap gas ke arah rumah kediaman Vargas.

.

.

.

The End


Translate :

Bella = Beautiful

Ragazza = Girl

Fratello = Brother

AN : Akhirnya selesai juga, dan apa-apaan endingnya itu? Gak berkesan bgt, saya gak terlalu pinter bikin ending yang berkesan sih huhuhu... Sekali lagi buat Mitsuru Kaoki, semoga kamu suka T^T