Sadistic Murder Ch.5

By : Tobiagare Ryuuta

Ryuuta : "Nee, Yokatta! Chapter 5 wa koko ni da yo!"

Mugen : "..."

Ryuuta : *ngelirik Mugen* "...lo masih sakit gigi?"

Mugen : *ngangguk-ngangguk*

Ryuuta : "kasian..." *digaplok Mugen*

Ichi : "Hoe! Ripiu tuh! Bales sonoh!"

Ryuuta : "ya udah. Sapa yang mo bacain?"

Hichi : *natep curiga* "...nih! Dari HinaRiku-chan!"

Ryuuta : "Hyaa! Arigatou gozaimasu, Hina-san! Iya nih, soalnya idenya keren abis dua-duanya! Jadinya dikolaborasiin deh! Etto, buat korban selanjutnya... Gomen ne, masih belom tepat. Okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"

TenZan : "and next, dari Mugetsu's weirdest fangirl a.k.a Uchiha Yue!"

Ryuuta : "woy! Mereka ntu cuman sahabat tau! Sa-ha-bat! Jadi pantes lah kalo dia sedih kaya gitu! Demo, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"

Ichi : "and next, dari Shiori Tsubaki!"

Ryuuta : "Arigatou, Shiori-san! Demo, manggilnya Ryuuta aja ya! Oia, tentang korban selanjutnya... Jawabannya bener! Omedetou! Okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"

Hichi : "next, dari !"

Ryuuta : "Arigatou, reini-san! Iya, ini pertama kalinya Ryuuta bikin tragedy. Tapi ini mungkin karna Ryuuta sering nonton film sadistic ex. Final Destination. Jadinya gini deh... Okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"

TenZan : "and last, 3 reviews from guest! Eh, etto... Kato!"

Ryuuta : "Arigatou, Kato-san! Demo, Hee? Sou ka? Zannen desu nee... Okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"

Hichi : "...perasaan banyak banget yang nge-review..."

Ryuuta : "oia, Hicchi. Lo lagi puasa ya?"

Hichi : *bingung mode on* "maksud lo?"

Ryuuta : "ya, kata guru agama gue, orang yang puasa ntu muka putih bersih gituh, jadi..." *digaplok Hichi*

Mugen : *sweatdrop, terus bikin isyarat make tangan* (gue lagi sakit gigi kaya gini masih aja kesiksa sama ntu orang! Dasar author kebo! Ya udahlah, silahkan dibaca lanjutan dari fict ini ya...)

Sadistic Murder

By : Tobiagare Ryuuta

Rating : Sekarang mah Jadi M for Blood n Sadistic

Pairing : Ada, Tapi Gak Terlalu Serius

Disclaimer : Bleach ntu udah pasti punya Tite Kubo-senpai!

Warning : AU, OOC, Gaje ada, Garing ada, Bloody, Sadistic, Death of Chara, No Flame, and Don't Like Don't Read! Wakatta?!

Chapter 5

The Heart-Wrenching Condition

.

.

.

"Da-darah... Ge-genangan darah..." Gemetar Mugetsu. Dan begitu mereka melihat sekitarnya, barulah mereka sadar bahwa di sekitar mereka banyak genangan darah yang berceceran dimana-mana!

"Shi-Shiro-kun! A-aku takut!" Gumam Hinamori pelan sambil nyumput di belakangnya Hichigo. Dan begitu mereka melihat ke arah kolam paling ujung yang dalamnya sekitar 6 meter, barulah terlihat mayat Inoue yang badannya hancur terkoyak dan mengapung dengan keadaan kedua tangan dan kaki tertusuk rantai di kolam yang menjadi merah karna darahnya sendiri! Spontan Mugetsu pun membulatkan matanya dan terduduk lemas. Dan tanpa sadar, matanya mengeluarkan setitik air mata. "...Himerin..."

DAK! Hichigo menonjok dinding di sebelahnya sambil menggertakkan giginya. "Cih! Sial!"

Dan tiba-tiba Mugetsu pun memukul lantai dan sedikit gemetaran. "Sial! Pertama Mirokumaru, sekarang Himerin. Selanjutnya siapa?! Kenapa kita selalu terlambat menolong mereka? Kenapa?!"

Semua yang ada di sana pun terdiam, tak ada yang bersuara, dan semua pun menunduk untuk mendo'akan ketenangan jiwa Inoue.

"...baiklah." Ucap Kokuto. "Shuren! Cifer-san! Mari kita autopsi mayat Inoue-chan disini!"

.

.

.

Kemudian dengan sigap Shuren mengambil 4 gunting rantai dari ransel yang dia bawa dan menyerahkannya kepada Kokuto, Ulquiorra dan Hichigo.

"Potong rantai itu pake ini! Ini gunting khusus untuk memotong rantai." Kata Shuren ke Ulquiorra n Hichigo sambil melempar gunting rantai itu. Dan mereka ber-4 ke sudut rantai yang mengekang Inoue dan langsung menggunting rantai itu

"Shirosaki-kun! Bisa potong lebih panjang? Agar mayat Inoue-chan bisa ditarik!" Instruksi Kokuto. Hichigo pun ngangguk dan menuruti instruksi Kokuto. Lalu Hichigo menarik rantai itu dibantu oleh Ulquiorra

"...Mirokumaru-san, mayat ini... Pake raksa juga ya?" Kata Ulquiorra tetep dengan tampang stoic-nya

"Hee? Pake raksa juga? Darimana kau tau, Cifer-san?" Kaget Kokuto. Terus dia ngeliat berhelai-helai rambut yang menutupi wajah Inoue. Dan ketika Shuren mengangkat rambut Inoue dengan alat khusus, mereka semua kaget karna wajah Inoue hancur! Bahkan ada bagian yang tengkoraknya terlihat!

"Hi-hiyaa!" Teriak Riruka, Hinamori dan Rukia sambil sedikit ngejauh dan nutupin mata. Zangetsu mencoba menenangkan Mugetsu, dan Hichigo dan Ichigo cuman ngebuletin matanya

"...Kejam!" Gumam Ichigo. Terus Shuren ngambil sarung tangan dan mulei meng-autopsi tubuh hancur Inoue.

"...Organ dalamnya hilang semua, kecuali jantung yang tertancap oleh pedang ini. Lehernya digorok, mungkin karna dia berusaha melawan. Tapi dari cara penggorokannya, aku yakin si pelaku adalah wanita!" Ucap Shuren sambil memeriksa mayat Inoue. Sementara Hichigo dan Ichigo kagum melihat kemampuan Shuren meng-autopsi mayat dan membuat hipotesis

"Jangan remehkan Shuren! Walou masih kelas 11, keahliannya dalam soal mengautopsi mayat diakui oleh satuan interpol. Bahkan dia mampu menebak si pembunuh itu laki-laki atou perempuan hanya dari caranya membunuh." Kata Kokuto. Terus dia mengambil ponsel dan memencet nomor. Lalu dia mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

"...Halo, Ayah? Iya, aku tahu Ayah sibuk. Tapi, kami menemukan satu mayat lagi di kolam renang St. Claustro yang tak terpakai. Dan mayat ini dibunuh sekitar 30 menit yang lalu." Kata Kokuto ke orang yang ditelponnya. "...Ya, Ayah. Korban adalah Inoue Orihime, salah satu penemu mayat Senna-chan dan juga salah satu saksi penting. Karna itu bisakah Ayah kesini sekarang?"

"...baiklah. Aku akan menunggu di depan gerbang. Jaa!" Tutup Kokuto sambil menutup telponnya. "...Haah, Ayah akan kemari 30 menit lagi. Sementara itu, kita harus menemukan petunjuk." Instruksi Kokuto. "Dan... Kalian semua, kata Ayah kalian pulanglah duluan. Biar aku, Shuren dan Cifer-san yang jadi saksi kasus ini!"

"...baiklah, kami mengerti." Balas Zangetsu. "Iku yo, Minna!" Perintah Zangetsu sambil beranjak ke gerbang. Sementara Mugetsu masih terduduk di sebelah mayat Inoue yang diselimuti kain putih yang mulai berubah jadi merah dan terus menatapnya. Kokuto yang mengetahuinya langsung menghampiri Mugetsu dan ikut jongkok di sebelahnya.

"...Mirokumaru-san..."

"Panggil saja Kokuto kalou kau tak keberatan"

"...Kokuto-san," panggil Mugetsu. "...Menurutmu, apa aku bisa melupakan Himerin? Sebab, dia adalah sahabatku sejak kecil..." Curhat Mugetsu sambil sedikit nunduk. Kokuto pun cuma senyum n nepukin pundaknya Mugetsu.

"Sabar ya, Mugetsu-kun! Aku juga begitu. Pertamanya, aku gak yakin kalou aku bisa ngelupain Senna-chan. Tapi... Aku menarik sebuah kesimpulan disitu."

"Kesimpulan?" Heran Mugetsu

"Hm! Kesimpulannya adalah, kita tak perlu melupakan orang yang paling kita sayangi jika dia sudah mati. Sebab, seseorang yang mati hanya bisa hidup di kenangan orang-orang yang menyayanginya."

Mugetsu terkejut mendengarnya. Ia pun mengusap air matanya dan tersenyum kecil. "Arigatou, Kokuto-san!"

"Hoe, Mugetsu! Hayo buruan! Kita tinggalin nih!" Tereak Zangetsu

"I-iya, iya! Sabar dikit napa! Dasar cebol!" Bales Mugetsu. Pertamanya ia berat untuk meninggalkan mayat Inoue. Tapi dia langsung ingat kata-kata Kokuto tadi dan segera berdiri.

"Aku titip Himerin, Kokuto-san!"

.

.

.

Malamnya, semua berada di kediaman masing-masing. Sekarang kita ngintip ke rumahnya Hichigo. Keliatannya dia lagi teteleponan sama koibito-nya.

"Haah, aku khawatir siapa korban berikutnya. Apalagi kini aku punya firasat buruk." Kata Hichigo ke lawan bicaranya itu.

'Nee, firasat apa itu, Shiro-kun?'

"Entahlah. Oh ya, Bukannya kau bilang kau akan belajar di rumah Rukia?" Tanya Hichigo

'Waah, iya juga. Baiklah, Shiro-kun. Jaa!'

"Jaa!" Lalu Hichigo menutup telponnya dan menaruhnya di meja belajar. Ia pun membuka jendela dan mengamati indahnya bintang dan cantiknya rembulan, serta menikmati angin malam yang begitu dingin.

"...bintangnya, kok semakin redup?" Juga... Fullmoon? Biasanya 'kan Fullmoon muncul tiap tanggal 15. Sementara... Sekarang sudah tanggal 23. Pertanda apa ini?" Gumam Hichigo yang sedikit mengerti ilmu keastronomian. Terus tiba-tiba ponsel-nya bergetar dan Hichigo segera mengangkat ponselnya itu.

"Hm? Siapa ini?" Dan tanpa basa-basi lagi Hichigo segera mengangkat telpon itu. "Halo?"

"Halo, Shirosaki-kun? Ini aku, Kokuto."

"Oh, Kokuto-san ya? Ada apa?"

"Begini, tim kepolisian baru saja selesai mengautopsi mayat Inoue-chan. Dan kami mendapat sebuah petunjuk mengenai korban selanjutnya."

"Be-benarkah?" Kaget Hichigo

"Ya, pertama dari Senna-chan. Huruf awal namanya adalah huruf 'M', tapi bukan itu inti masalahnya"

"Terus inti masalahnya apa?! Jangan memutar-mutar deh!" Protes Hichigo

"Yah, kau tahu 'kan Senna dekat dengan Kurosaki-kun? Dan menurut Shuren, absen Kurosaki-kun lebih awal daripada kalian karna awal hurufnya adalah 'K'!"

Spontan Hichigo pun kaget setengah mati. "Ja-jadi, alasan kenapa Inoue adalah korban yang dibunuh selanjutnya adalah..."

"Yap, Inoue-chan dekat dengan Mugetsu-kun, karna nama 'Shiba' lebih awal kedua dari kalian berempat. Jadi, korban selanjutnya bisa dikatakan adalah orang yang dekat denganmu, Shirosaki-kun!"

Hichigo pun langsung ngebuletin matanya karna dia langsung tau siapa korban yang akan dibunuh! "Gawat! Momo-chan dalam bahaya! Sial! Pantas saja aku merasakan firasat buruk daritadi!"

"Shirosaki-kun, kau susul Hinamori-chan ke rumahnya! Aku dan Shuren akan memanggil yang lainnya!"

"Wakarimashita! Arigatou, Kokuto-san!" Hichigo segera menutup telpon, memakai jaket dan celana jeans lalu terburu-buru turun hingga menabrak adiknya.

"Aduh!" Ringis seorang berambut putih seperti Hichigo dan bermata emerald a.k.a Toushiro, adik Hichigo. "Nii-chan mau kemana? Kok buru-buru? Ini 'kan udah malem!"

"Bilang sama Okaa-san kalou Nii-chan ada urusan penting!" Kata Hichigo terburu-buru sambil membanting pintu dan segera lari. Dia pun berusaha menghubungi Hinamori tapi sialnya, pulsanya habis karna menelpon orang yang sama terlalu lama

"Cih!" Decisnya. Lalu ia segera memasukkan ponselnya ke kantong jaket dan menambah kecepatan. "Kumohon, Momo-chan! Kumohon jangan terjadi!"

.

.

.

"Haah, Kuchiki-san gimana sih?! Katanya mau belajar bareng, kok malah pergi les karate sih?! Payah!" Dumel Hinamori sambil berjalan cepat. Tapi tiba-tiba dia merasa diikuti seseorang. Begitu melihat kebelakang, tak ada siapapun kecuali kucing peliharaan tetangga.

"Mungkin firasatku saja!" Gumam Hinamori sambil kembali berjalan. Dan ketika dia melewati sebuah gudang, dia menghentikan langkahnya karna merasa mengenali gudang itu.

"Gudang ini... Gudang sekolah? Kok aku bisa sampe si-!" Potong Hinamori karna ia dibius dari belakang oleh seseorang! Dan ternyata, si pelaku tak lain dan tak bukan adalah siswi bertudung yang telah membunuh Senna dan Inoue!

"Hm... Gomen ne, Hinamori-san. Demo..." Potong siswi itu. "Kau harus jadi tumbal berikutnya! Fufufu..."

.

.

.

~T.B.C~

.

.

.

Ryuuta : "Hwaa~! Yokatta Minna! Chapter 5 Finnii~sh!"

Hichi : "...'Kan bener perkiraan gue!"

Ichi : "korban berikutnya Hinamori nih?!"

Ryuuta : "iyap! Tapi... Gue masih bingung gimana cara ngebunuh yang paling pas, ya? Soalnya gue itu orangnya gak tegaan euy!"

TenZan : "gak tegaan kok doyan nonton Final Des-!" *keburu digaplok make buku paket IPA kelas 9*

All except Ryuuta n TenZan : *jawdrop*

Mugen : *ngomong pake isyarat (lagi)* (ckckck... Kasian si cebol ntu. Oia, silahkan review dan sarannya buat fict ini! Dan ada yang bisa ngasih sarannya buat Ryuuta? Onegai-shimasu!) *ngebungkuk sambil megangin pipi yang bengkak*