Sadistic Murder Ch.6
By : Tobiagare Ryuuta
Ryuuta : "Hwaa~! Yokatta, Minna-san! Chapter 6 wa koko ni desu!"
Hichi : *natep curiga* "...tumben lo gak pake ahiran 'da yo'?"
Ryuuta : "ahiran ntu udah mainstream! Lagian sedikit beda gak masalah 'kan?"
Ichi : "Ryuuta~! Ada review~!" *manggil make nada bencong*
Ryuuta : *gaplok Ichi make tutup jamban(?)* "sejak kapan lo ngikutin si Yumichika, Boke! Eh iya! Ayo, sapa yang mo bacain ripiu-nya?"
Mugen : *ngangkat tangan* "...gue, dari bluegirl02. reini!"
Ryuuta : "heheh... Iya nih Reini-san, alesannya 'kan udah ditulis di chapter sebelumnya... Hwaa~! Great Idea! Okey, bakal aku masukin idenya Reini-san di chapter ini! Oia tentang si pembunuh itu, emang dia orangnya. Okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Hichi : "and next, 2 ripiu dari Guest1 a.k.a Kato!"
Ryuuta : "Hwaa~! Your idea is great, too, Kato-san! Hm... Maybe i'll make the combination again. Okay, thank for the anime sugestion, also thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Hichi : *geplakin Ryuuta* "Kebo! Ini fict basa Indonesia, boke! Jangan make basa Inggris!"
Ryuuta : "wa-wakarimashita!"
Ichi : *sweatdrop* "and next, dari Guest2 a.k.a Kitsune!"
Ryuuta : "Hyaa~! Sarannya Kitsune-san juga gak kalah sadist-nya! Okey deh, biar gak bingung Ryuuta make 3-3-nya aja! Okay thanks for the review and happy enjoying this sadistic fiction!"
TenZan : "and next, dari Guest3!"
Ryuuta : "Hee? Dareta sore? Hicchi ka? Hinamori ka? Matawa, Toushirou ka?" *digaplok gara-gara ngomong basa jepang* "ehehe, okey sebisa mungkin Ryuuta tambahin gore-nya! Okey, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Mugen : "and next, from Guest4 a.k.a Ikki in Chapter 1!"
Ryuuta : "Hee? Sou ka? Hm... Ryuuta gak ngerasa se-sadist itu!" *digebuk rame-rame* "Demo, Ryuuta masih takut buat nonton anime-anime baru, takutnya ntar ada tokoh yang lebih keren dari Hicchi, terus Ryuuta pindah deh ke fandom lain..." *dibakar massa* "okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Ichi : "and next, dari Guest5!"
Ryuuta : "Hwaa~! Sou ka? Gomen kalo bikin kecewa! Soalnya 'kan ini pertama kalinya Ryuuta bikin fict tragedy! Hontou ni gomennasai!" *ngebungkuk* "sebisa mungkin Ryuuta lebih sadist-in dan gore-nya ditambahin! Thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Hichi : "and next, from Guest6 a.k.a Taito (maybe)!"
Ryuuta : "heheh, sebenernya gak cuma Taito-san kok yang gak suka Hinamori! Si pembunuh salah satu-nya!" *dilempar panci* "okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
TenZan : "Ryuuta! Gue mo nanya, emang lo tau 'Gore' apaan?"
Ryuuta : "kagak!" *geleng-geleng make muka watados*
All except Ryuuta : *nge-gubrak ria*
Hichi : "...perasaan makin kesini makin banyak aja yang nge-review. Baguslah, jadinya si Ryuuta bakal ngurangin jadwal nyiksa harian-nya kita ber-4! Okay, silahkan dibaca chapter 6 dari fict sadist ini!"
Sadistic Murder
By : Tobiagare Ryuuta
Rating : Sekarang mah Jadi M for Blood n Sadistic
Pairing : Ada, Tapi Gak Terlalu Serius
Disclaimer : Bleach ntu udah pasti punya Tite Kubo-senpai!
Warning : AU, OOC, Gaje ada, Garing ada, Bloody, Sadistic, Death of Chara, No Flame, and Don't Like Don't Read! Wakatta?!
Chapter 6
The Silent Scream
.
.
.
"Haah, Kuchiki-san gimana sih?! Katanya mau belajar bareng, kok malah pergi les karate sih?! Payah!" Dumel Hinamori sambil berjalan cepat. Tapi tiba-tiba dia merasa diikuti seseorang. Begitu melihat kebelakang, tak ada siapapun kecuali kucing peliharaan tetangga.
"Mungkin firasatku saja!" Gumam Hinamori sambil kembali berjalan. Dan ketika dia melewati sebuah gudang, dia menghentikan langkahnya karna merasa mengenali gudang itu.
"Gudang ini... Gudang sekolah? Kok aku bisa sampe si-!" Potong Hinamori karna ia dibius dari belakang oleh seseorang! Dan ternyata, si pelaku tak lain dan tak bukan adalah siswi bertudung yang telah membunuh Senna dan Inoue!
"Hm... Gomen ne, Hinamori-san. Demo..." Potong siswi itu. "Kau harus jadi tumbal berikutnya! Fufufu..."
.
.
.
"U-uh..." Gumam Hinamori sambil membuka matanya. Setelah pandangannya kembali normal, dia terkejut karna dia berada di dalam sebuah gudang dan tak bisa bergerak karna kaki dan tangannya diikat rantai!
"Ukh! Uukh!" Ringis Hinamori sambil berusaha melepaskan rantai yang mengekangnya. Tapi kemudian dia tambah terkejut karna mendengar langkah kaki yang berat. Dan terlihatlah sosok si pembunuh dengan jaket bertudung yang menutupi kepala dan wajahnya. Hinamori tambah takut karna jaket berwarna putih itu ternodai oleh darah dimana-mana.
"Kombanwa, Hinamori-san! Perkenalkan, aku adalah malaikat maut kepercayaan penguasa Neraka yang diperintahkan untuk menjemput nyawamu ke istana-nya!" Kata si pembunuh sambil membungkukkan diri. Lalu ia kembali menegakkan tubuhnya dan mengambil pisau bedah yang penuh bekas darah. Dari kantung jaketnya. "Oh ya, ada kata-kata lain sebelum aku menodai nyawa suci-mu dengan pisauku dan darahmu sendiri?" Tanyanya penuh nafsu membunuh
Hinamori ingin memberontak, tapi dia tak bisa berbicara karna ia baru sadar bahwa lidahnya tak ada di tempat!
"Oh, maaf. Aku lupa kalau lidahmu sudah kupotong! Fufufu..." Ucapnya sambil menunjukkan potongan lidah yang ia pegang. Mata Hinamori terbelakak, tapi kemudian si pembunuh itu mendekati wajah Hinamori dan mencengkran rahang bawahnya. Dan Hinamori pun kaget karna melihat wajah orang yang akan membunuhnya!
"Mukamu cantik ya! Boleh kunodai dengan pisau-ku ini?" Tanya si pembunuh. Lalu si pembunuh pun menggoreskan pisaunya itu ke pipi Hinamori. Hinamori pun hanya bisa nangis dan ngeberontak. Dari pipi pisau itu turun ke pundak kanan dan menuju lengan. Lalu dia menancap pisaunya lagi di pundak kiri dan menggoresnya lagi. Ia melakukan hal yang sama pada kedua kaki Hinamori. Kemudian ia bangkit dan menggenggam mata kanan Hinamori.
"Hm... Matamu indah, ya? Pantas saja albino BODOH itu memilihmu. Tapi... Dia gak cukup bodoh karna membiarkanmu berkeliaran, padahal dia tau bahwa bisa-bisa kau dibunuh seperti teman-temanmu. Apa itu yang disebut 'pacar'?" Tanya si pembunuh. Hinamori tetep nangis karna rasa sakit dari goresan di wajah, tangan, dan kaki-nya. Terus tiba-tiba si pembunuh menunjukkan ekspresi kesal dan langsung menarik mata kanan Hinamori hingga lepas dari kelopak matanya dan memutuskan urat penyambung mata itu!
"KYAAAA~!" Teriak Hinamori kesakitan karna matanya baru saja dicabut! Si pembunuh pun tertawa puas dan menginjak bola mata Hinamori di depan muka sang pemilik mata itu
"Kau takkan tau apapun tentangnya! Ngomong-ngomong, kau berminat ikut pesta..." Ajaknya sambil menyingkap selimut yang menutupi beberapa alat membunuh yang berlumuran darah! "Denganku?"
Hinamori kaget melihat sekumpulan alat pembunuh itu. Ia terus menangis, berteriak dan memberontak. Tapi si pembunuh malah tertawa sadis mendengar teriakan Hinamori
"Hahahaha! Musik yang sangat merdu di telingaku! Tapi, sampai lehermu putus pun takkan ada orang yang mampu mendengar lagumu! Gudang ini kedap suara, jadi percuma kau teriak!" Ucapnya sambil menampar pipi Hinamori. Hinamori cuma terisak-isak. Darah terus mengalir dari lukanya. Lalu dia mengambil sebuah golok dan mengasahnya dengan batu
"Fuuh!" Tiup si pembunuh ke golok kesayangannya itu. Lalu dia menimbang-nimbang golok itu dan menatap Hinamori sambil tersenyum sadis. "Boleh kucoba ke rambut cepol-mu itu, Hinamori-san?"
Hinamori hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berteriak gak jelas. Lalu si pembunuh pun menghampiri Hinamori dan meninju pipinya hingga lebam dan mengeluarkan sedikit darah di ujung bibirnya. Lalu dia membuka cepol Hinamori dan menjambak rambutnya dengan kuat lalu memotongnya dengan sekali tebasan!
"Cih! Kurang tajam!" Decisnya sambil melempar potongan rambut Hinamori ke sembarang arah. "Tapi... Karna sudah terlalu malam, jadi..." Dia pun mengarahkan golok itu ke arah perut Hinamori! "Jiwamu akan langsung kukirim!"
JLEB!
"G-GYAAAAA~!" Teriak Hinamori seiring dengan golok yang menembus perutnya. Si pembunuh pun terlihat menikmati alunan 'lagu kematian' yang baru saja ia dengar
"Hm... Merdu sekali. Kau berbakat jadi penyanyi, Hinamori! Kau pasti akan sukses di Neraka nanti! Hahahaha!"
Si pembunuh makin memperdalam tusukannya hingga menembus punggung, lalu mengoyak-oyaknya sehingga perut Hinamori hancur berantakan! Jeritan Hinamori pun makin menjadi. Air mata darah mengucur deras dari matanya tapi itu belum cukup bagi si pembunuh. "A-AAAAH!" Teriak (lagi) Hinamori karna si pembunuh menarik paksa golok itu hingga menyemburkan darah kemana-mana termasuk ke jaket dan wajahnya!
"Ah, sial! Wajahku kena darah kotor!" Lalu dia mengambil tisu dari kantung roknya dan membuka tudungnya, di ambang kematiannya, Hinamori kaget karna si pembunuh adalah temannya sendiri
"Khu...shike...raa? (Kuchiki-san?)" Kaget Hinamori dengan nada bicara yang aneh karna lidahnya dipotong dan nafas terputus-putus. Yap, pembunuh yang telah membunuh Senna dan Inoue adalah Kuchiki Rukia! Sang sahabat sendiri! "Kh! Eapa? (Kenapa?)"
Rukia hanya tertawa kecil. Dan di detik berikutnya, ia sudah menusukkan goloknya itu ke jantung Hinamori hingga menembus ke punggungnya!
"A-ah..." Rintih Hinamori yang pada detik berikutnya menundukkan kepala tanda nyawanya sudah melayang
"...Kau tak perlu tahu, Momo. Mungkin yang kau tahu aku adalah seorang gadis polos yang kehilangan semangat akibat Aneki-nya meninggal. Tapi..." Potong Rukia sambil memegang gagang goloknya yang tertancap di jantung Hinamori dan sedikit menariknya. "Itu semua SALAH!"
ZRAASH!
Rukia langsung menggores perut Hinamori! Lalu dia kembali menusuk jantung Hinamori, mengambil sarung tangan plastik dan merobek kulit dan otot perut Hinamori yang tersisa sehingga organ dalamnya terlihat!
"Hm... Semua organnya rusak. Mungkin karna tadi kucincang abis-abisan. Gomen ne, Momo!" Ucap Rukia yang langsung menarik paksa seluruh organ dalam Hinamori sehingga darah bercipratan kembali. Setelah seluruh organ dalam itu keluar, ia mengambil bagian pankreas yang hancur dan memasukkannya ke mulut Hinamori!
"Enak 'kan, Hinamori?" Tanya Rukia walau dia tahu kalau Hinamori gak bakal ngejawab. Lalu dia menjilat darah yang melumuri tangannya bagaikan menjilat sisa air gula!
"Hm... Darahmu sangat nikmat. Aku iri pada Hichigo, dia beruntung punya gadis sepertimu. Hanya sayang, keberuntungannya itu kini telah diambil oleh Neraka! Hahahahaha!"
Dia pun menaruh organ dalam Hinamori di sebelahnya. Lalu dia memasukkan tangannya ke lubang di perutnya Hinamori dan tiba-tiba terdengar suara 'KRAK!'. Dan begitu Rukia mengeluarkan tangannya, terlihatlah bahwa ia memegang tulang rusuk Hinamori yang dia patahkan tadi!
"Hm... Tulang rusuk yang indah, lebih indah daripada gading gajah berlapis emas milik Nii-sama!" Kagum Rukia. Lalu ia mengangkat wajah Hinamori dan membidik ke arah mata kiri Hinamori yang terbuka. Di detik berikutnya si tulang rusuk itu telah menancap tepat di mata kiri Hinamori!
"Nih, untukmu saja! Lumayan untuk menghias mata indahmu itu, Momo!" Lalu dia mengambil pisau dan menggorok leher Hinamori hingga hampir putus! Lalu dia mengambil bom molotov dari tasnya dan memasang waktu sekitar 15 detik!
"Baiklah, Momo! Tugasku dari penguasa Neraka sudah selesai. Sampai jumpa di sana! Hahahaha!" Rukia pun memakai tudungnya dan langsung keluar dari gudang itu.
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
DUAAAAR!
Ledakan dari bom itu cukup dahsyat sehingga menyebabkan Hichigo, Kokuto, Shuren, Ichigo, Zangetsu, Mugetsu dan Ulquiorra kaget akibat guncangan yang luar biasa!
"Le-ledakan apa itu?!" Kaget Ichigo
"Dari gudang lama St. Claustro! Ayo!" Teriak Ulquiorra sambil berlari duluan. Dan begitu mereka sampai di tempat, tak ada apapun selain gudang yang setengah hangus.
"Si-siapa yang meledakkan gudang ini?!" Panik Shuren
"Mungkin orang iseng!" Timpal Zangetsu. Kemudian ekor mata Kokuto menangkap sesuatu, yakni sebuah cepol berwarna biru muda yang selalu dipakai oleh Hinamori dalam keadaan setengah terbakar
"...Bukan Tensa-kun! Ini... Bukan perbuatan iseng!" Kata Kokuto sambil menghampiri cepol setengah hangus itu
"...Maksudmu?" Gugup Ichigo
"...Kita terlambat!" Bales Kokuto yang sukses bikin Hichigo kaget!
"...Jangan bohong padaku, Kokuto-san! Apa maksudmu kita terlambat?! Jangan membuatku marah!" Bentak Hichigo sambil mencengkram kerah baju Kokuto. Tapi Kokuto stay cool dan menyerahkan potongan cepol itu ke Hichigo
"Apa ini yang kau katakan belum terlambat?! Terimalah! Hinamori-chan sudah mati!" Bentak balik Kokuto. Hichigo pun membulatkan matanya dan perlahan melepas cengkramannya. Lalu dengan gemetar ia mengambil potongan cepol itu.
"...Momo-chan? Gak mungkin, gak mungkin!" Isak Hichigo sambil terduduk lemas dan meremas potongan cepol Hinamori. "MOMO-CHAAA~N!"
.
.
.
~T.B.C~
.
.
.
Ryuuta : "Hyaa~! Yokatta Minna~! Chapter 6 complete!"
Hichi : *sweatdrop* "bukannya itu kata-kata gue ya?"
Ryuuta : "pinjem bentar napa sih! Pelit amat!"
Ichi : "...sadist bener lo ngebunuh si Hinamori! Ketauan si Toushiro aja jadi beku lo!"
Ryuuta : "ini masih permulaan! Dan lagian Toushiro 'kan disini jadi adeknya Hichi!"
Mugen : "emaknya siapa?"
Ryuuta : "Yah... Siapa lagi? Si Matsumoto Rangiku ntu lah!"
Ichi : "WTF?! Rangiku-san jadi emaknya porselen ntu?! BWAAHAHAHAA~!" *ketawa gugulingan mode on*
Hichi : *death-glare, terus langsung nindihin Ichi*
Ryuuta : "GYAA~! HichiIchi~! Poto ah poto!" *jepret!* "nah, tinggal dimasukin ke Twitter dah!" *ngacir gak tau kemana*
Mugen n TenZan : *sweatdrop*
TenZan : *tetep sweatdrop* "...Dasar Author Fujoshi Kebo! Okeylah, silahkan RnR dan sarannya buat fict ini! Onegai-shimasu!" *membungkuk*
