Sadistic Murder Ch.7
By : Tobiagare Ryuuta
Ryuuta : "Yo, Minna! Chapter 7 ga koko ni-"
All except Ryuuta : "DA YO~!"
Ryuuta : *sweatdrop* "...Etto, kalian kenapa?"
Hichi : "Lah 'kan lo kalo pembukaan suka ngomong 'Chapter X wa koko ni da yo~!'!" *ngikutin gayanya Ryuuta*
Ryuuta : "idiih, imut-imut(?) lo Нi! Okey, sapa yang mau bacain ripiu?"
TenZan : *buru-buru ngacung* "gue! Dari Shiori Tsubaki!"
Ryuuta : "Hyaa~! Arigatou Shiori-san! Okey, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Mugen : "and next, dari Hikary Cresenti Ravenia!"
Ryuuta : "Heheh... Arigatou, Hika-san! Okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Ichi : "and next, from Guest1 a.k.a Kato!"
Ryuuta : "Hwaa~! Arigatou Kato-san! Heheh, 'kan dia punya pabrik yang bisa nyiptain apaan aja sesuai kehendak! Jadi... Bikin bom molotov make timer pun gak masalah! (Abaikan argumen sinting ini!) Okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Hichi : "and next, from Guest2 a.k.a Kitsune!"
Ryuuta : "arigatou, Kitsune-san! Hm... Buat alesan kenapa Rukia jadi pembunuh berdarah muda(?), maksudnya berdarah dingin mungkin bakal dibahas pas chapter terakhir, dan bakal ada 3 elemen kejutan di chapter terahir itu! Penasaran? Stay reading this fict okay, Kitsune-san? And, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
TenZan : "and next, from Guest3 a.k.a Ikki!"
Ryuuta : "arigatou, Ikki-san! Heheh, 'kan ceritanya disini Rukia ikutan karate, jadi bisa donk ngangkatin Hinamori walou badannya kecil!" *disikut Rukia* "okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Hichi : "and next from bluegirl02. reini!"
Ryuuta : "arigatou, Reini-san! Hihihi, soalnya idenya keren semua sih... Heheh... *Devil Grin* now, LET'S KILL RIRUKAA~!" *dikeroyok Riruka FC* "okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Ichi : "and next, from HinaRiku-" *sweatdrop* "...mau ganti nama?"
Ryuuta : "hm... Ryuuta juga tau kok kenapa Hina-san gak review. Ryuuta ikut berdukacita ya, Hina-san. Arigatou! Iya nih, Hina-san! Sabar aja ya Нi!"
Hichi : *pundung di pojokan*
Ryuuta : *sweatdrop* "o-okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
TenZan : "and next from Guest4!"
Ryuuta : *sweatdrop* "...etto, emang segitu sadisnya ya? Demo, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Ichi : "and next, fron Guest5!"
Ryuuta : "hee? Sou ka? Arigatou~! Padahal Ryuuta gak tau loh, gore itu artinya apa!" *digebug berjamaah* "okay, thanks for review and happy enjoying this sadistic fiction!"
Mugen : "and next, from My Narsisest(?) Fangirl a.k.a Uchiha Yue!"
Ryuuta : "hoho, lo tuh emang pantes di-cero sama Hichi! Demo... Woy! Ini gue! Ryuuta si kebo yang slalu lo katain istri(?)-nya si porselen itu di sekolah!" *nunjuk-nunjuk Hichi*
Hichi : *sweatdrop* "...Mulei lagi..."
Ichi : "ya udah deh, karna si Ryuuta lagi pasea sama si Yue, langsung aja ditengok chapter 7-nya!"
Sadistic Murder
By : Tobiagare Ryuuta
Rating : Sekarang mah Jadi M for Blood n Sadistic
Pairing : Ada, Tapi Gak Terlalu Serius
Disclaimer : Bleach ntu udah pasti punya Tite Kubo-senpai!
Warning : AU, OOC, Gaje ada, Garing ada, Bloody, Sadistic, Death of Chara, No Flame, and Don't Like Don't Read! Wakatta?!
Chapter 7
The Mythology of Death
.
.
.
"Si-siapa yang meledakkan gudang ini?!" Panik Shuren
"Mungkin orang iseng!" Timpal Zangetsu. Kemudian ekor mata Kokuto menangkap sesuatu, yakni sebuah cepol berwarna biru muda yang selalu dipakai oleh Hinamori dalam keadaan setengah terbakar
"...Bukan Tensa-kun! Ini... Bukan perbuatan iseng!" Kata Kokuto sambil menghampiri cepol setengah hangus itu
"...Maksudmu?" Gugup Ichigo
"...Kita terlambat!" Bales Kokuto yang sukses bikin Hichigo kaget!
"...Jangan bohong padaku, Kokuto-san! Apa maksudmu kita terlambat?! Jangan membuatku marah!" Bentak Hichigo sambil mencengkram kerah baju Kokuto. Tapi Kokuto stay cool dan menyerahkan potongan cepol itu ke Hichigo
"Apa ini yang kau katakan belum terlambat?! Terimalah! Hinamori-chan sudah mati!" Bentak balik Kokuto. Hichigo pun membulatkan matanya dan perlahan melepas cengkramannya. Lalu dengan gemetar ia mengambil potongan cepol itu.
"...Momo-chan? Gak mungkin, gak mungkin!" Isak Hichigo sambil terduduk lemas dan meremas potongan cepol Hinamori. "MOMO-CHAAA~N!"
.
.
.
KRIEEET... Pintu terbuka dengan pelannya. Dan tampaklah sesosok albino dengan muka kusut sekusut baju setrikaan ibunya *ditampol Hichi*. Dia pun berjalan ke tangga melewati dapur. Tapi tiba-tiba ia berhenti karna melihat sang Ibu tercinta sedang masak bersama otouto tercinta-nya
"...Nii-chan belum pulang?" Tanya si Ibu berambut wavy orange dengan body dan wajah kaya orang umur 25 tahunan, padahal usianya hampir 34 tahun a.k.a Shirosaki Rangiku
"Belum, Kaa-san! Nii-chan bilang dia ada urusan, tapi..." Jawab si adik a.k.a Shirosaki Toushirou dengan nada khawatir. Sang ibu pun cuma menghela napas dan kembali memotong ikan
"...Tadaima..." Lesu si albino a.k.a Hichigo sambil masuk ke dapur. Spontan adek dan Ibunya itu kaget sekaligus gembira
"Okairi, Nii-chan!" Riang Toushirou sambil meluk Aniki-nya itu. Maklum, Toushirou baru kelas 4 SD. Jadi bisa kebayang 'kan betapa childish-nya Toushirou kita yang satu ini *dibantai Toushirou*. Si Ibu pun kaget karna melihat muka anak sulungnya itu kusut, dia segera mengambil handuk hangat dan menghampiri Hichigo
"Nee? Kau kenapa Hichi? Mukamu kusut banget! Nih, cuci muka dulu biar agak segeran!" Ucap Rangiku sambil ngasihin handuk hangat itu. Hichigo cuma bisa senyum dan nurutin apa kata ibunya. Begitu selesai mengelap muka, keluarga Shirosaki itu pun berkumpul di meja untuk menikmati sarapan. Ketika sarapan, Toushirou bingung karna biasanya Aniki-nya itu semanget banget kalo udah ngadepin yang namanya makanan. tapi sekarang dia lihat kalou Aniki-nya itu gak napsu makan
"...Nii-chan? Nii-chan kenapa?" Tanya Toushirou sambil tetap mengunyah sashimi favoritnya. "Nii-chan mau Toushirou suapin?"
"...gak usah, Shiro-chan! Nii-chan, lagi gak napsu makan..." Lesu Hichigo sambil tersenyum walou sebenarnya dia ingin menangis. "Oh ya. Cepet abisin sarapannya! Nanti Karin-chan keburu nyamper loh!"
"Toushiro! Ayo berangkat!"
"Ah! Itu pasti Karin! Aku pergi dulu ya, Nii-chan! Kaa-san!" Pamit Toushirou sambil mengambil tasnya dan langsung keluar rumah. "Jaa!"
Rangiku pun mulai memperhatikan anak sulungnya itu. Memang benar, mukanya sedikit agak pucet (bukannya biasa juga udah pucet ya?). Dia pun menaikkan satu alisnya dan memiringkan kepalanya.
"...Shiro-chan bener. Kamu kenapa? Gak biasanya kamu kaya gini?" Tanya Rangiku setengah cemas sambil tetap mengunyah sashimi.
"...aku gak napsu makan, Kaa-san!" Lesu Hichigo sambil beranjak ke kamarnya
"Hi-Hichi! Makan dulu! Nanti kamu sakit loh! Hichi!" Teriak Rangiku sambil ngikutin anak sulungnya itu. Tapi percuma, Hichigo gak ngepeduliin teriakan ibunya dan langsung beranjak ke kamar. Ia langsung terjun ke kasur dan menangis sejadi-jadi-nya
"HWAAA~! Hiks, hiks, AAA~!" Isak Hichigo sambil meremas bantalnya. Air mata berjatuhan dari pipi pucatnya itu, dan kondisinya kini membuat Rangiku kaget saat membuka pintu kamar anaknya itu dan langsung menghampirinya
"Hichi?! Kenapa kamu nangis? Hichi?!" Cemas Rangiku sembari menggoyangkan badan Hichigo. Hichigo hanya diam sambil terisak-isak. Rangiku pun duduk di sebelahnya dan mengelus rambut Hichigo
"Haah... Tidak biasanya anakku yang satu ini nangis, kalo Shiro-chan sih... Udah biasa. Tapi kamu? Kamu kenapa Hichi?" Tanya Rangiku. Hichigo pun mengangkat wajahnya. Terlihat air mata membanjiri seluruh wajahnya juga hidungnya yang kini memerah.
"Mo-Momo-chan..." Isak Hichigo
"Haah?! Putra sulung Kaa-san nangis gara-gara diputusin cewek?!" Kaget Rangiku sebelum Hichigo nyelesei-in kata-katanya
"Bukan karna itu Kaa-san! Momo-chan meninggal! Dia dibunuh tadi malam!" Ambek Hichigo. Spontan Rangiku pun kaget. Yang ia tahu, Hinamori adalah anak yang baik, sopan dan santun. Bahkan saat main ke rumah saja, dia selalu memakai bahasa formal padanya padahal Rangiku menyuruh untuk memakai bahasa informal saja
"...Maksudmu Hinamori-chan?!" Kaget Rangiku sambil mengoreh kupingnya dengan kelingking seakan salah denger
"Iya Kaa-san! Momo-chan yang sering maen ke sini! Yang sering ngasih C*db*r* ke Shiro-chan!" Isak Hichigo. Rangiku pun membulatkan matanya dan menutup mulut tandanya tidak percaya akan hal yang baru saja ia dengar
"...Kaa-san turut berduka, Hichi..." Ucap Rangiku dengan nada sedih. Ia tak tega melihat anaknya itu menangis terus karna ditinggal mati pacarnya. Jadi, Rangiku mengelus kepala Hichigo dan menyenderkannya di bahunya sendiri
"Ka-Kaa-san! Kalo ketauan tetangga ntar gimana?!" Gugup Hichigo sambil blushing karena dia jadi teringat waktu nganterin ibunya ke kantor make mobil sedan ibunya. Alhasil? Para penggemar Rangiku di kantor pada nge-death-glare-in Hichigo sehingga dia kapok kalo disuruh nganterin ibunda tercinta-nya itu ke kantor
"Gapapa! Kamu anakku 'kan Hichi? Curhat aja ke Kaa-san soalnya kalo ke tembok ntar kamu dikiranya orang gila loh!" Usul Rangiku setengah ngeledek. Hichigo pun cuma senyum yang saking manisnya bisa bikin Author tepar ngeliatnya *dikeplak Readers dan Hichigo FG*. Dan akhirnya Hichigo menceritakan semuanya mulai dari kasus pembunuhan Senna, Inoue hingga Hinamori yang sukses bikin Rangiku merinding!
"Hiiiy! Kejam amat tuh pembunuh!" Gemetar Rangiku sambil bergidik mode on
"Namanya juga 'Sadistic Murder', Kaa-san!" Bales Hichigo
"Ya udah, tadi kamu bilang korban selanjutnya Dokugamine-san 'kan? Coba telpon teman-temanmu itu kesini. Siapa tahu Kaa-san bisa membantu menolong nyawa temanmu itu!" Usul Rangiku. Hichigo pun mengelap air mata di pipinya, tersenyum dan memeluk Kaa-sannya itu. Ia bersyukur karna mempunyai Ibu yang sangat penyayang dan pengertian seperti Kaa-sannya ini. Gak kaya si Ichigo yang punya bapak yang stress dan autis-nya kagak ketulungan bangeuut! *digeplak Isshin*
"...Hichi bakal ikutin usulnya Kaa-san. Arigatou, Kaa-san!" Bisik Hichigo. Rangiku cuma senyum melihat anaknya kini kembali ceria
"Douita, Hichi! Oia, makan dulu sana! Kebetulan sarapan Kaa-san juga belum habis. Ayo!"
.
.
.
Siang harinya. Kokuto, Shuren, Ulquiorra, Ichigo, Mugetsu dan Zangetsu dateng ke rumahnya Hichigo atas perintah dari Rangiku. Kokuto, Shuren dan Ulquiorra sempat mengira bahwa Hichigo udah punya pacar lagi, tapi setelah dijelaskan oleh Hichigo bahwa yang menelpon itu ibunya, akhirnya trio wek-wek itu percaya *dikeroyok Koku+Shu+Ulqui*. Sekarang ke-7 pria itu lagi ngumpul di kamarnya Hichigo nungguin Rangiku yang katanya mau membuatkan sirup untuk mereka
"Shirosaki-san! Wanita itu... Beneran ibu kandung lo?" Tanya Shuren
"Ya iyalah! Masa' gue numpang sih?" Protes Hichigo
"Kok kesannya lo sama Okaa-san lo gak mirip? Malah menurut gue, dia lebih mirip Inoue-chan daripada lo!" Kata Kokuto gak percaya
"Gue itu miripnya ama Tou-san gue dodol! Lagian emang lo gak tau kalo gue albino?!" Gereget Hichigo. Tiba-tiba...
"Nee, Minna! Cemilannya udah jadii!" Riang Rangiku sambil mendobrak pintu dengan nampan berisi 8 gelas susu jeruk dan sepiring kacang goreng di tangan. Dan begitu melihat susu jeruk, Hichigo langsung ketawa ngakak sambil nunjuk-nunjuk ke Ichigo
"Kenapa lo, Нi?" Tanya Ichigo
"G-gyahahaha! Ichigo! Rambut lo dijadiin susu tuh!" Ledek Hichigo yang sukses membuat Ichigo hampir melempar bantal ke mukanya. "Nee, Kaa-san! Kok makanannya kacang goreng sih? Perasaan tadi Hichi liat ada melon sama semangka di kulkas! Dan juga kenapa minumannya susu jeruk? Katanya mau bikin sirop!"
"Heheh, kacang itu lebih sehat dan cukup untuk menambah lemak buat orang-orang CEKING! Kalo susu jeruk ini biar meninggikan badan orang-orang yang CEBOL!" Kata Rangiku penuh penekanan sehingga sukses membiat Kokuto, Shuren Ulquiorra dan Zangetsu memunculkan 3 garis siku-siku di jidatnya
"...Sekarang gue tau apa persamaan antara Bibi Rangiku dengan Shirosaki-san!" Bisik Mugetsu ke Ichigo
"...Sama-sama nyebelin sih, emang iya!" Bales Ichigo
.
.
.
"Cih! Zakkun baka! Telponnya kagak diangkat! Kemana sih?! Gue mo ngambil Sketch Book gue nih!" Dumel Riruka yang baru saja keluar dari toko peralatan komik. Dia berusaha menelpon nomor Zangetsu, tapi yang dia dengar malahan suara operator
"Haaah! Baka! Ntar gue mati aja kaya Mirokumaru, Orihime sama Hinamori nangis lo! Huh!" Kesel Riruka sampai-sampai dia tak sengaja menabrak seseorang dan membuat barang yang ia bawa terjatuh
"Aduh!" Ringis yang ditabrak
"Hee, gomen! Daijou- Kuchiki-san?!" Kaget Riruka karna yang ditabraknya adalah Rukia!
"Hee, Dokugamine-san?! Habis dari mana nih? Tumben gak sama Tensa-san?" Tanya Rukia berbasa-basi
"Dari toko peralatan komik, Kuchiki-san. Tau tuh! Udah kutelpon berkali-kali nomernya gak aktif! Huuh!" Curhat Riruka. "Ngomong-ngomong, Kuchiki-san juga darimana nih?"
"Oh, aku dari toko kue disitu. Aku disuruh Nii-sama untuk membeli kue favoritnya" bales Rukia
"Hee? Kuchiki-san juga punya Aniki ya?" Kaget Riruka
"Heheh, biasa aja! Waloupun dia Aniki-ku, perbedaan usianya denganku 15 tahun, loh! Aku 15 tahun, dia 30 tahun!"
"Waah, kaya anak sama bapak donk!"
"Begitulah, Nii-sama terlalu sibuk sampai-sampai gak bisa beli kue buat dia sendiri!" Curhat Rukia
"Emang Aniki-nya Kuchiki-san kerja apa?"
"Kau tahu Kuchiki Corpocation? Nii-sama adalah CEO di situ."
"Hee? Pabrik yang katanya bisa nyiptain benda apa saja sesuai mimpi itu? Sugoii! Berarti Kuchiki-san orang tajir donk!" Puji Riruka
"Ehehe, biasa saja!" Ucap Rukia merendahkan diri. "Baiklah, Dokugamine-san. Aku harus segera pulang karna jika aku telat, bisa-bisa Nii-sama marah lagi padaku!"
"Oh, baiklah Kuchiki-san. Jaa!" Ucap Riruka sambil berjalan lagi tanpa mengetahui bahwa Rukia menatapnya dengan tatapan pembunuh yang sangat haus darah
"...berikutnya..." Gumam Rukia sambil tersenyum iblis. "Kau!"
.
.
.
"Nee, Minna! Mendingan kalian nginep disini aja! Lagian 'kan besok masih libur!" Tawar Rangiku ke-6 teman anaknya itu
"Bo-boleh saja. Lagian Ayah juga masih nyelidikin kasusnya Hinamori-chan." Kata Shuren
"Kaa-san! Emang ada tempatnya?!" Tanya Hichigo
"Heheh, Kaa-san sama Hichi dan Shiro-chan disini! Nah Ichigo, Tensa-san sama Shiba-san di kamar Kaa-san, terus sisanya di kamar Shiro-chan!" Kata Rangiku ngebagi-bagi kamar. Dan terlihatlah semua temannya Hichigo menahan tawa mendengar kata 'Hichi dan Kaa-san tidur disini'.
"Apa yang kalian ketawain?" Kesel Hichigo. Terus tiba-tiba hape Zangetsu berdering. Begitu dilihat, ternyata dari Riruka!
"Busyet! Rirucchi nelpon lagi nih!" Heboh Zangetsu
"Coba jawab!" Perintah Rangiku. Dan Zangetsu pun menjawab telpon itu. "Ha-halo? Rirucchi?"
'Gue bukan Rirucchi!'
Dan kalimat itu spontan bikin Zangetsu kaget! "Ma-maaf, ini siapa ya?"
'Lo gak perlu tau nama gue. Yang perlu lo tau adalah, gue seorang malaikat maut kepercayaan Hades yang diutus untuk mencabut nyawa suci pemilik nomor ini dan mengirimnya untuk dijadikan makan malam Cerberus!' Bales si lawan bicara yang terdengar keluar karna Zangetsu mengaktifkan Loudspeaker (disuruh Rangiku) di ponselnya
"Jadi, kau sudah mengambil Dokugamine-san?" Tanya Rangiku
'Ya, tapi tenang saja. Nyawanya takkan kukirim ke wadah makan Cerberus sampai saat sang Dewa Siang duduk di tahta-nya. Aku penasaran apakah Dewi Malam akan berpihak pada kalian?'
"Kalou begitu, beritahu kami dimana Dokugamine-san sekarang!" Lanjut Hichigo
'Baiklah, Aku dan dia berada di sebuah penjara Eropa kuno, dimana seisi hutan akan pasrah jika mendengar suara jeritan dari roda waktu. Apa kalian bisa mengetahuinya? Hanya takdir yang tahu!'
TUUUT...TUUUT...
"...telponnya terputus!" Ucap Mugetsu
"Sial! Satu-satunya petunjuk adalah 'Penjara Eropa Kuno dimana seisi hutan akan pasrah jika mendengar jeritan dari roda waktu'! Teka-teki aneh apa ini?!" Geram Hichigo yang tangannya sudah gatal ingin menghajar pembunuh kekasihnya itu.
"Etto, Bibi Rangiku? Anda... Sedang apa?" Tanya Ulquiorra yang heran melihat Rangiku menopang dagu sambil menutup matanya
"Kaa-san?" Heran Hichigo. Rangiku pun membuka matanya. Melirik ke arah Ulquiorra(lah?) dan tersenyum seperti mengetahui persis jawaban dari teka-teki ini
"Cifer-san, kau ketua OSIS di St. Claustro 'kan?" Tanya Rangiku
"I-iya benar. Memangnya kenapa?" Gugup Ulquiorra tetap dengan tampang stoic-nya
"Apa ada ruangan yang seluruhnya berisi 'Chainsaw'?" Tanya Rangiku lagi
"I-iya, tapi ruangan itu sudah tak terpakai lagi!" Kaget Ulquiorra
"Bagus! Ayo kita kesana! Karna aku punya firasat bahwa malaikat maut Hades itu ada disana!" Ucap Rangiku. "Kalian naiklah duluan ke mobil! Aku akan menelpon Isane untuk menjaga Shiro-chan!"
Dan tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi, mereka ber-7 langsung naik ke mobil sedan warna hitam milik Rangiku. 10 menit kemudian, Isane sang Babysitter datang dan Rangiku pun masuk ke mobil
"Sudah siap?" Teriak Rangiku
"...perasaan Hichi gak enak deh Kaa-san!" Gugup Hichigo yang duduk di kursi sebelah pengemudi
"LET'S ROCK AND ROLL!" Teriak Rangiku sambil langsung tancep gas
"Hwaa~! Bener 'kan kata Hichi juga apaa~!"
.
.
.
~T.B.C~
.
.
.
Ryuuta : "Yokatta Minna! Chapter 7 complete!"
Ichi : "buset dah! Panjang amat nih chapter!"
Ryuuta : "sengaja, Chi! Biar 1-2 chapter ke depan nih fict kelar! Oia, gue mau ngundang 2 special guest ntar di chapter 8. Dan... Oia, ada yang bisa nebak dimana 'ruang eksekusi' Riruka?"
Mugen : *geleng-geleng kepala*
TenZan : "gak tau!"
Ichi : "tanya aja ke Rangiku-san! Kalo nggak ke anaknya tuh!" *nunjuk-nunjuk ke Hichi*
Hichi : *death-glare, terus nyekek Ichigo* "...lo berani macem-macem ama gue HAAH?!" *ngeluarin tanduk siap-siap mo nyero Ichigo*
Ichi : *tepar di cekekan(?)-nya Hichi*
Mugen, Ryuuta, TenZan : *jawdrop*
Mugen : *tetep sweatdrop* "...Okey minna, intinya silahkan review dan sarannya buat fict ini! Dan juga ada yang bisa jawab pertanyaannya Ryuuta? Tolong ya minna! Onegai-shimasu!" *bow*
