Title : Admire

Chapter : 1/?

Author : Oh Michele

Cast : Sehun, Kai, etc.

Pair : Hunkai

Warning : cerita abal, banyak typo, yaoi, ga jelas, etc

HAPPY READING ^^

"Sehunnie tunggu aku…."

"Sudah ku bilang berhenti mengikutiku!"

Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia melihat namja dengan senyum mengembang sedang berdiri di belakangnya. Sedari tadi namja bernama Jongin itu terus saja mengikutinya. Bukan kali ini saja Jongin melakukan itu. Ini sudah berlangsung cukup lama hingga Sehun lupa kapan awal mula Jongin mulai mengikutinya.

"Sebenarnya apa maumu?"Sehun mengurut keningnya. Ia tidak habis pikir dengan namja di hadapannya ini.

"Kau sudah menanyakan hal ini berkali-kali Hunnie. Aku sudah bilang, aku tidak mau apa-apa. Aku hanya menyukaimu." Jongin sedikit tertawa menanggapi pertanyaan Sehun.

"Tapi aku tidak menyukaimu!"Sehun hampir berteriak namun ia mencoba menahannya.

Jongin yang seperti sudah hafal dengan jawaban Sehun hanya mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku tidak pernah menyuruhmu menyukaiku kan?"

Sehun makin geram. Kalau saja dia bukan ketua osis pasti dia sudah menghajar namja dihadapannya. Namja itu benar-benar merepotkan dan menyebalkan.

"Asal kau tau saja, aku tidak akan pernah menyukaimu! Jangan ganggu hidupku!" Sehun berteriak tepat di wajah Jongin. Kemudian ia berlalu meninggalkan Jongin yang masih terkejut.

Jongin masih diam di tempatnya. Terlalu terkejut dengan respon Sehun kali ini. Benar-benar dahsyat. "Galak sekali." Pikir Jongin. Namun ia kembali tersenyum. Ia tidak akan lemah karna hal begini. Ia pasti bisa membuat Sehun melihat keberadaannya. Jongin sudah melakukan banyak hal untuk ini. Ia tidak ingin usahanya sia-sia.

"Tunggulah Oh Sehun….."

00000

Sehun berlari dengan tergesa-gesa menuju ruang dance. Sepanjang jalan ia terus mengumpat pada guru pembimbing osis yang menahannya cukup lama saat rapat tadi. Sehun jadi terlambat untuk pelajaran seni dan temannya yang bernama Moonkyu pasti akan mengomel padanya. Rasanya lengkap sekali kesialannya hari ini.

"Sehun, kau pintar sekali datang saat jam pelajaran akan selesai."Moonkyu langsung menyindirnya saat Sehun baru saja duduk di sebelahnya.

Sehun memutar bola matanya. Ia sudah cukup lelah untuk meladeni Moonkyu. Mereka akhirnya diam sambil melihat teman-temannya yang lain menari.

"Hey Oh Sehun, Jongin menitipkan ini padaku untukmu." Seseorang tiba-tiba menghampiri Sehun dan memberikan kotak bekal padanya. Sehun dan Moonkyu sama-sama terdiam memandangi kotak bekal yang ada di depan mereka sekarang.

"Lagi-lagi dia membuatkanmu bekal. Benar-benar pantang menyerah." Moonkyu mulai membuka kotak bekal itu. Sementara Sehun masih memandangi kotak itu. Jujur saja ia belum makan sejak pagi. Ia juga memiliki banyak sekali kegiatan, sehingga tidak sempat pergi ke kantin. Tapi ini makanan buatan Jongin. Sehun saja membenci Jongin mana sudi memakan masakannya.

"Tapi bagus juga. Kau kan tidak pernah mau memakan bekal darinya. Aku jadi mendapat makanan gratis setiap hari. Benar-benar menguntungkan. Seandainya aku jadi kau mungkin aku sudah menjadikannya namjachinguku. Kau tau masakannya benar-benar lezat."

Sehun menelan ludahnya kasar. Dia hanya mendengar kata-kata Moonkyu yang mengatakan bahwa makanannya lezat. Sedari tadi pikirannya terpusat pada makanan yang memang tampak lezat di di hadapannya.

"Kruyuuuuukk"

Suara perut Sehun langsung mencuri perhatian Moonkyu. Dia yang sudah menyumpit beberapa lauk langsung terkejut melihat ekspresi Sehun. Ekspresinya tampak bodoh dengan air liur yang hampir menetes. Moonkyu mencoba menahan tawanya.

"Kau mau?"

Sehun yang tertangkap basah langsung merubah ekspresinya menjadi serius dan menggeleng sebagai tanda penolakan.

Moonkyu ikut menggelengkan kepalanya "Sudah tidak usah memikirkan harga diri. Urusan perut lebih penting. Kau bisa pingsan jika tidak makan." Ia langsung menggeser kotak bekal pemberian Jongin ke depan Sehun.

Sehun masih diam. Sebenarnya perut Sehun sudah meronta-ronta tapi ia tidak juga menyentuh makanan itu. Moonkyu yang geram melihatnya akhirnya mengambil makanan itu dan menyuapkan pada Sehun secara paksa.

"Ya! Moonkyu!"

"Sudah jangan berisik! Kunyah dan telan!"

Sehun dengan terpaksa mengunyah dan menelan makanan dalam mulutnya. Saat mengunyah ia merasakan rasa yang sangat lezat dari makanan buatan Jongin. Ia sampai terpaku. Belum pernah ia merasakan rasa semacam ini. Yah walaupun mungkin ini yang ke 2 terlezat setelah masakan ibunya.

"Bagaimana bisa selezat ini?"

00000

Jongin berangkat pagi-pagi sekali menuju sekolah. Ia ingin cepat-cepat memasukkan bekal buatannya ke loker Sehun karena jika Sehun datang lebih dulu maka ia harus menitipkan bekalnya pada orang lain. Jongin berjalan sambil tersenyum. Setiap hari ia selalu berdoa agar Sehun memakan bekalnya. Walaupun ia selalu menemukan kotak bekalnya dalam keadaan kosong namun ia tidak terlalu yakin kalau Sehun yang menghabiskannya. Sampai di tempat loker, Jongin sedikit mengendap-endap menghindari pandangan beberapa siswa yang sudah datang. Ia tidak pernah lupa dimana letak loker Sehun. Ia hendak membuka loker Sehun sampai sebuah suara menginterupsinya.

"Mengapa tak memberikannya langsung padaku?"

Jongin berbalik dan mendapati Sehun berdiri menatap tajam ke arahnya.

"A.. Ehmm…. Itu….."

"Mulai sekarang kau tidak perlu melakukan ini."ucap Sehun dan langsung berbalik membelakangi Jongin.

Jongin menunduk lesu. Padahal ia sangat senang memasak untuk Sehun.

"Kau bisa memberikannya saat jam istirahat makan siang. Aku akan menunggumu di taman sekolah." Setelah mengatakan itu Sehun langsung pergi meninggalkan Jongin.

"Apa?" Sementara Jongin merasakan debaran aneh di dadanya. Ia merasa senang sekali. Akhirnya Sehun… Sehun mau melihatnya walaupun sedikit.

Angin musim gugur terasa sangat dingin menyentuh permukaan kulit. Selain itu musim gugur juga memberikan pemandangan yang cukup indah dari dedaunan yang gugur dan tertiup angin. Terdapat kesan nyaman dari suasana itu. Dinginnya angin yang berhembus tak membuat Jongin lelah menunggu Sehun di taman sekolah. Di tangannya sudah ada kotak bekal yang tadi pagi akan dimasukkannya ke dalam loker Sehun.

"Maaf aku harus rapat dulu tadi. Apa kau lama menunggu?" suara itu langsung membuat Jongin bangkit dari tempat duduknya.

"Tidak juga."jawab Jongin sambil tersenyum manis.

"Kau memasak apa?"

"Spagetti."

"Bagus! Aku sedang ingin makan Spagetti."Sehun langsung mengambil kotak bekal yang Jongin bawa.

Mereka duduk berdua di taman itu. Sehun dengan semangat menyantap makanan yang dibuat Jongin sementara Jongin hanya memperhatikan wajah Sehun sambil sesekali tertawa kecil. Sehun juga tidak lupa memuji masakan buatan Jongin, membuat hati Jongin semakin merasa gembira.

"Ngomong-ngomong kau ikut kegiatan tambahan apa Jongin?"Sehun tiba-tiba membuka pembicaraan.

"Ah? Aku? Aku ikut kelas musik."jawab Jongin.

"Oh begitu. Mengapa kau tak ikut kelas menari saja? Bukankah kau menyukaiku?" Sehun berucap dengan ringan sambil masih menyantap spagettinya.

Jongin tertawa pelan "Aku memang menyukaimu, tapi aku tidak bisa menari sepertimu. Aku hanya bisa menari balet."

"Benarkah? Guru menari disini juga bisa menari balet."

"Apa kau ingin aku masuk kelas menari?"Jongin bertanya dengan hati-hati.

Sehun terdiam. Ia sedikit merutuki mulutnya yang berkata macam-macam. Ah yang benar saja, kenapa mulutnya ini bicara sembarangan. Sehun sedikit berpikir. "Apa kau akan melakukannya?"

Sekarang giliran Jongin yang diam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah daun-daun yang berguguran.

"Apa kau akan melakukannya karna kau menyukaiku?"

"Mungkin."Jawab Jongin pelan. Untung saja Sehun tidak memiliki masalah pendengaran.

"Jika aku menyuruhmu berhenti menari balet, apa kau juga akan melakukannya?" Tanya Sehun lagi.

Jongin langsung membulatkan matanya mendengar pertanyaan Sehun. Ia berpikir cukup lama.

"A…. Aku….."

"Teeeet…. Teeeeeeet…." Bel tanda istirahat selesai berbunyi.

Jongin masih menatap Sehun yang dengan buru-buru menghabiskan sisa makanannya. Setelah habis, Sehun langsung menarik tangan Jongin. "Ayo cepat kita bisa terlambat."

Melihat tangannya yang di genggam oleh Sehun, Jongin langsung merasa pipinya memanas. "Tuhan bolehkah aku berharap lebih?"

00000

"Hey kau yang bernama Kim Jongin kan?"ucap seorang yeoja yang tiba-tiba menghampiri Jongin.

"Ya. Kau siapa?"

Yeoja itu tersenyum kecil. "Namaku Jessica. Kau murid baru yang menyukai Sehun itu kan?"

Jongin sedikit was-was. Mengapa yeoja ini tiba-tiba bertanya begitu? Memangnya di sekolah ini hanya dia saja yang menyukai Sehun? "Ya kau benar. Ada apa?"

"Tidak perlu berwajah tegang begitu. Aku hanya ingin mengajakmu berteman. Aku bisa memberitahumu banyak hal tentang Sehun. Sebelum masuk ke sekolah ini, aku sudah 3 tahun sekelas dengannya. Sekarang aku dan Sehun juga satu club dance. Jadi aku bisa membantumu." Ucap Jessica sambil tersenyum ramah. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

Jongin hanya mengangguk. Kemudian tersenyum menerima jabat tangan Jessica. "Senang berkenalan denganmu Jessica-sshi."

"Jessica saja. Nado Jongin. Oh iya, aku dengar kau memasak makan siang untuk Sehun?"

"Ya. Begitulah."jawab Jongin sambil tersenyum malu.

"Sekedar informasi saja. Setauku Sehun sangat suka dengan udang. Segala macam masakan udang dia sangat menyukainya. Kau bisa memasakkannya udang besok."kata Jessica sambil berfikir mengingat-ingat.

"Benarkah? Kalau begitu besok aku akan memasakkannya udang."

"Iya benar. Dia pasti akan menyukainya." Ucap Jessica sambil tersenyum.

Tiba-tiba ponsel Jongin berbunyi. Setelah sebentar mengutak-atik ponselnya, Jongin langsung berpamitan pada Jessica.

"Terima kasih informasinya Jessica. Aku harus cepat pulang…"Jongin buru-buru melambai pada Jessica dan dibalas lambaian juga.

"Jadi aku harus memasak udang ya? Hmm"

TBC