Disclaimer: Masih milik Om Konomi Takeshi. Om, kapan mau dihibahkan ke saya? *pasang puppy eyes*
Warning: Maaf ya pembicaraannya selalu berkisar pada ruang PKK dan kue, habis teorinya Bunta=Kue kan? XD
~GakuPuri~
Liburan musim panas di usiaku yang ke 14 tahun. Hari ini, teman baikku berulang tahun. Aku berencana untuk menghadiahkannya cake ulang tahun buatanku. Karena itu, diam-diam aku menggunakan ruang PKK untuk membuatnya. Cake untuk temanku hampir selesai, aku hanya perlu mendekorasinya. Di samping itu, aku juga membuat cake lain dengan bahan sisa untuk aku bawa pulang dan kuberikan untuk kakakku di rumah. Sambil menunggu cake matang, aku melanjutan dekorasinya.
"Yap, selasai! Hm~ sempurna" ucapku begitu selesai menghias cake
Saat itu terdengar bunyi pintu ruang PKK yang terbuka, dan kulihat laki-laki berambut merah memasuki ruangan diikuti temannya.
"U~n, tidak salah lagi wangi kuenya berasal dari sini. Wow, bingo! Ne, Jackal?" cetus laki-laki itu begitu memasuki ruang PKK
Jackal yang seperti sudah lelah mengikuti ulah temannya, hanya bisa menjawab pasrah "Yah, urusan kue, kamu memang jagonya deh"
Melihat sosok yang berdiri di depan pintu, aku langsung terkejut "Ma, marui senpai.."
Laki-laki itu membelalakan matanya, dengan ekspresi yang tidak kalah terkejut denganku "Eh? Kamu mengenalku?"
Kemudian dia berjalan mendekatiku, memperhatikanku dengan seksama "Ah! Kamu pasti yang dulu membuat kue sus untuk remedial kan? Kalau tidak salah namamu, Izumi. Ya kan?"
(Aduh, penulis dodol. Kata "remedial"nya ga usah di bold kenapa? *getok penulis pake panci*)
"Senpai ingat?" tanyaku tak percaya
"Tentu saja. Aku tidak mungkin lupa wajah orang yang telah memberiku kue" ujarnya sambil tersenyum lebar
Ini dia! Senyum ini yang telah membuatku jatuh cinta. Tanpa kusadari semburat merah telah mewarnai kedua belah pipiku. Untuk menutupinya, aku menundukkan pandanganku
"Hei, by the way, cake itu kamu yang buat?" tanya Marui sambil menunjuk ke arah kue yang baru saja aku dekorasi
Sambil mengikuti arah pandangannya, aku berkata "Ah ini? Iya, aku membuatnya untuk temanku yang berulang tahun"
"Waaa, asik sekali ya temanmu. Aku jadi pengen ulang tahun sekarang biar ada yang kasih aku cake~" cetus Marui dengan tatapan berbinar-binar
"Bunta pikirannya kue terus" sela Kuwahara yang sudah give up melihat kelakuan temannya
Mendengar perkataan temannya, Marui sedikit cemberut "Tidak apa-apa kan, aku suka kok. Ah~ aku jadi pengen makan kue"
"Memang itu tujuanmu datang ke sini kan?" balas Kuwahara malas
Mendengar percakapan mereka, aku memberanikan diri untuk bertanya, "Ka, kalau senpai bersedia, aku sedang membuat cake lain, kalau sudah jadi, senpai boleh memakannya"
"Benarkah? Wahh, kamu baik sekali" cetus Marui bersemangat
Melihat ekspresinya yang bersemangat, aku jadi ikut-ikutan bersemangat. Aku tersenyum kecil dan berkata, "Ya, senpai silakan duduk di situ, aku akan menghias cake ini sedikit"
"Roger!" sahutnya ceria
Lalu, cake satu lagi pun jadi. Aku memotongnya menjadi 8 bagian dan menaruh potongannya dalam piring kecil, kemudian menyerahkannya ke Marui dan Kuwahara.
"Uwaa.. kelihatannya sangat enak! Selamat makan" cetus Marui dengan wajah tidak sabar untuk menyantap cake di hadapannya
"Selamat makan" ujarku dan Kuwahara berbarengan
Sambil terus menguyah cake di tangannya, Marui berkata dengan mata yang berbinar-binar, "U~m enak sekali. Cake ini benar-benar enak! Kamu benar-benar memiliki bakat memasak ya?"
Semburat merah kembali mewarnai pipiku, "Tidak kok, dibandingkan dengan senpai, aku tidak ada apa-apanya. Aku hanya bisa membuat cake. Waktu itu juga, aku tidak bisa membuat kue sus kan?" tanyaku
"Tapi kue susmu lumayan enak loh. Cake ini juga TOP banget! Ya kan Jackal?" balasnya sambil menjilati jari-jari yang terkena krim
"Ya, enak sekali" sahut Kuwahara menyetujui perkataan temannya
Begitu cake ditangannya habis, dia kembali menatapku, "Hey, aku boleh tambah kan?" ucapnya diiringan senyuman lembut
"Bo, boleh, silahkan" jawabku gugup melihat ekspresi cute-nya yang sukses membuat jantungku memaksa untuk keluar
"Thank you~" balasnya singkat
Semburat merah makin jelas menghiasi pipiku, jantungku berdetak tidak karuan. Melihatnya sedekat ini, rambut merahnya, suaranya yang lembut, senyumnya yang berkilauan, aku merasa tidak dapat mengendalikan jantungku. 'Aku rasa, aku akan pingsan kehabisan nafas dalam hitungan menit' pikirku dalam hati
Untuk menutupi hal itu, aku berusaha mencari topik pembicaraan, "Ngomong-ngomong senpai sering datang ke sini?"
"Kalau tidak ketahuan Sanada" balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari kue yang sedang ia makan
"Sanada?" tanyaku bingung
"Dia wakil ketua klub tenis" jawab Kuwahara menjelaskan
"Aku dengar klub tenis tidak memiliki pelatih dan manager, benarkah?" tanyaku penasaran
Sambil memakan cake, Kuwahara kembali menjelaskan kepadaku, "Ya, Yukimura dan Sanada menjadi pelatih, sedangkan Yanagi menjadi manager. Mereka adalah Big Three, pemain tenis terhebat. Mereka pula yang membuat klub tenis menjadi juara nasional dua kali berturut-turut"
"Waa hebat sekali" pujiku mendengar kehebatan klub tenis
Tidak mau kalah, Marui angkat bicara sambil tetap melahap cakenya, "Aku juga tidak kalah hebat loh. Akhir musim panas nanti, aku dan Jackal akan turun dalam turnamen nasional"
Aku mengalihkan pandanganku padanya, "Benarkan? Senpai hebat!" ujarku kagum
"Jelas donk! Aku kan tensai. By the way, memangnya kamu belum pernah melihat permainan tenisku?" balas Marui
"Ah, sayang sekali aku tidak punya kesempatan untuk melihatnya" ucapku sedikit kecewa
Melihatku agak murung, Marui segera menghidupkan suasana dengan keceriaannya, "Lain waktu datanglah ke klub, nanti akan kutunjukan jurusku yang hebat" ujarnya sambil tersenyum lebar
"Eh? Boleh?" tanyaku tak percaya
"Tentu saja, kalau kamu mau. Anggap saja sebagai balasan karena kamu sudah memberiku kue" balasnya meyakinkanku
Senyum kembali menghiasi wajahku, dengan semangat aku menjawab, "Tentu! Aku pasti datang!"
"Ah, ngomong-ngomong kamu anggota klub apa?" tanya Marui tiba-tiba
"Aku? Aku tidak ikut klub apa-apa" jawabku singkat
Matanya yang berwarna coklat muda kembali menatapku, "Kenapa?" tanyanya
Menyadari dia menatapku aku sedikit menundukan pandanganku sebelum dia menyadari rona merah di wajahku, "Telat daftar"
"Ah, begitukah? Tapi, ada klub yang mau kamu masuki?" tanya sambil mengambil potongan ketiga cake yang kubuat
Aku berpikir sejenak, "Hm, belum tahu juga sih" jawabku
Marui melirik temannya sejenak, setelah mendapat anggukan dari temannya, dia kembali menatapku, "Begitu ya. Hm, kalau kamu bersedia, maukah kamu membantu klub tenis sebagai panitia dalam acara festival sekolah?" lanjutnya
"Festival sekolah?" ucapku bingung
Melihat kebingunganku, Kuwahara segera menjelaskan secara singkat, "Iya, klub tenis dari bebagai sekolah mengadakan acara bersama untuk saling mengenal satu sama lain sebelum turnamen nasional" ucapnya
"Ada acara seperti itu? Hebat" ujarku kagum
Sambil terus mengunyah cake di dalam mulutnya, Marui berkata "Yah, itu sebenarnya hanya keisengan ketua klub tenis SMP Hyoutei saja sih, orang kaya yang suka bikin acara aneh-aneh"
Aku mendengarkan dengan serius setiap kata yang diucapkannya, kemudian dia menatapku tajam, "Dan, karena klub kami tidak memiliki manager, rasanya sulit untuk mengatur jadwal latihan dan acara kepanitiaan. Kami juga tidak bisa meminta manager klub lain untuk membantu karena pastinya mereka juga sibuk. Karena itu, kami mencari orang yang belum masuk klub mana pun untuk membantu kami. Kalau kamu bersedia.." ucapnya ragu
Tanpa basa-basi lagi, "Aku bersedia!" jawabku bersemangat
Kulihat Marui dan Kuwahara agak terkejut dengan jawabanku yang 'terlalu' bersemangat, tapi kemudian Marui tersenyum lembut kepadaku "Jawaban yang bagus!"
"Yosha, selanjutnya tinggal memberitahukan hal ini kepada Sanada oleh... Jackal! " lanjutnya bersemangat
Kuwahara yang merasa namanya disebut-sebut, terkejut "Apa? Aku?"
"Iya, kamu. Tidak mau?" balas Marui
Melihat Marui menatapnya, "Bukannya aku tidak mau. Aah, baiklah, aku pergi dulu. Izumi, terima kasih cakenya ya?" ujarnya sebelum pergi
Kini tinggal aku dan Marui. Ruangan ini terasa sangat luas, tapi aku merasa sulit bernafas. Aah, aku tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa aku begitu canggung ketika berurusan dengan sesuatu yang namanya 'cinta'. Aku melirik sosok laki-laki di depanku, rambut merahnya yang bermandikan mentari senja terlihat begitu berkilauan, begitu indah. 'Tuhan, tolong hentikan waktu ini sejenak' pintaku dalam hati
"Ne, Izumi. Boleh aku minta satu potong cake lagi?" tanya laki-laki di depanku, menyadarkanku dari lamunan
Terkejut, aku langsung mengalihkan pandanganku "I, iya. Tentu saja" jawabku gugup
Seperti menyadari keanehan sikapku, dia menatapku dan berkata "Kenapa? Ada sesuatu di wajahku? Apakah ada krim yang menempel?" ujarnya seraya mengusap wajahnya
"Ti, tidak kok" balasku semakin gugup
Sejurus kemudian dia tersenyum, "Jangan-jangan kamu terpesona olehku?" godanya
Semburat merah itu muncul lagi di pipiku, kali ini lebih jelas, "Eh? Bingo?" ucapnya tidak percaya
"Ti, tidak kok!" ujarku buru-buru seraya menggelengkan kepalaku kuat-kuat
"Haha tidak perlu menyangkal segitunya kali, aku cuma bercanda kok" balas Marui tertawa lebar
Aku memasang wajah cemberut, "Marui senpai!" ucapku ngambek
"Habis kamu lucu sih" ujarnya sambil terus tertawa
Mendengar pujiannya, aku jadi malu sendiri. Di wajahku masih tersisa semburat merah, jantungku masih berdegup kencang. Aku pikir dia bisa membaca semuanya, semua yang kurasakan terhadapnya.
"Ne, Izumi-" sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara pintu ruang PKK terbuka tiba-tiba, "Marui senpai~~~ ada di sini kan?" panggil sosok yang telah berdiri di depan pintu
Marui mengalihkan pandangannya dariku, "Ah, Akaya, ada apa?" sahut Marui begitu melihat sosok yang memanggilnya, laki-laki berambut hitam keriting seperti rumput laut
Laki-laki bernama Kirihara Akaya itu memasuki ruangan, kemudian berkata "Tadi, Sanada fukubuchou memanggil ingin membicarakan soal festival sekol- Uwaa cake! Marui senpai curang, makan cake tidak ngajak-ngajak" rajuk Kirihara melihat seniornya sedang makan cake dengan lahap
Marui pun segera menghabiskan kuenya, lalu bangkit dan mendorong juniornya untuk segera meninggalkan ruangan "Ayo Akaya, kita pergi ke tempat Sanada segera" ajak Marui
"Eh~ tapi aku juga mau makan cake~" sahut Kirihara tidak ikhlas sambil terus melihat ke arah cake di belakangnya
"Tidak boleh Akaya, kita harus menemui Sanada secepatnya atau kau mau kena hukuman dari Sanada?" ucap Marui sambil terus mendorong Kirihara keluar
"Glek! Tidak mau!" balasnya cepat, "Ayo, pergi" ajak Marui
Aku hanya bisa memandang keduanya pergi dari ruang PKK kebingungan, saat itu kulihat Marui berbalik ke arahku "Izumi, persiapan untuk festivalnya dimulai dari tanggal 22, tapi kita akan mengadakan rapat satu hari sebelumnya, saat itu shikuyoro!" ujar Marui sambil tersenyum lebar, sejurus kemudian dia sudah menghilang bersama juniornya
"A, apakah Marui senpai sudah mengetahui perasaanku?" gumamku
~Gakupuri~
Akhirnya chapter 2! Yeay! *goyang-goyang sambil bawa kecrekan*
Penulis: Maaf ya baru diupdate lagi, kemarin-kemarin sibu- DUAG! *dilempar gentong ma Bunta*
Bunta: Sibuk apaan? Cuma main game juga =_=
Penulis: Ih, sirik aja. Klo banyak protes nanti tambah gendut loh~ *dismash pake bakiak*
Bunta: Kita tinggalkan saja penulis aneh it-*dorong Bunta*
Bunta: Woii, ga sopan! *siap-siap ambil raket*
Akaya: CUT! Sebelum terjadi kerusuhan mending aku yang ngomong aja. Pertama-tama terima kasih untuk Akaichan atas bunganya~ *nari-nari di antara bunga*
Penulis+Bunta: Bunganya buat gw~!
Penulis: Apa sih Bunta? Kan aku yang nulis jadi bunganya buat aku donk?
Bunta: Gw kan main heronya, bunganya buat gw lah
Penulis+Bunta: Grrrrr
DUAG BUK BAK GEDUBRAk PRET DUT
Akaya: Maa, karena situasi makin memanas, mari kita tutup saja. Kalau ada yang mau review kami terima dengan senang hati~ *kedip-kedip ke reader*
*dorong Akaya*
Akaya: Senpaitachi! Hidoissu yo!
Penulis+Bunta: Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya~ shikuyoro!
