Yo! Minna~ hisashiburi~~~ (^^)/

Wah gak terasa dah lama banget ya dari terakhir aku update chapter? 0_0

Mohon maaf yaa, maklum dah jadi mbak-mbak kantoran jadi sibuk, waktu untuk nulis FF berkurang T_T

Tapi akhirnya aku sempat juga nulis lanjutannya *yeay*

Kalau gitu, langsung aja ya? Monggo dibaca-baca jika berminat :D

~GakuPuri~

Hari pertama persiapan festival di klub tenis Rikkai. Setelah selesai melihat arena untuk masing-masing stand, kami semua kembali ke ruang rapat.

"Baiklah, pertama-tama Izumi akan menyampaikan berita baru dari ketua panitia" ujar Sanada membuka rapat

Aku segera bangkit dari kursiku, "Pada hari terakhir festival akan diadakan lomba atraksi. Seluruh anggota diharapkan untuk mengikuti salah satu atraksi tersebut. Atraksi ini bersifat berkelompok, dan memungkinkan anggotanya berasal sekolah lain" jelasku

"Dari sekolah lain? Ribet donk kalau mau ngumpul latihan" tanya Kuwahara

Sambil mengotak-atik komputer di hadapannya, Yanagi menambahkan "Untuk list atraksi yang bisa diikuti serta pendaftarannya dilakukan dengan menggunakan komputer. Begitu pula untuk janji pertemuan dengan anggota grup tersebut" ujarnya

"Hee, praktis ya?" cetus Kirihara

"Dan, tentu saja pemenangnya akan mendapatkan hadiah" ucapku melanjutkan

Marui yang sedari tadi sibuk mengunyah permen karet akhirnya ikut bicara, "Kalau begitu, aku tidak boleh kalah"

"Tentu saja! Kita anggota klub tenis Rikkai, harus menang dalam pertandingan apapun" balas Sanada bersemangat

Yanagi meminta perhatian anggotanya, "Jadi kita mulai saja, kalian ingin ikut atraksi apa?" tanyanya

"Sudah ada listnya kah?" ujar Yagyuu balas bertanya

"Hm, pertama Wadaiko," sahut Yanagi

Niou yang sejak tadi terdiam akhirnya mengangkat tangannya, "Aku ikut itu" cetusnya singkat

"Ok, Niou, Wadaiko, enter. Hm, sepertinya menarik, aku juga ikut ini saja" balas Yanagi sambil memasukan nama mereka di komputer

"Lalu, ada Dance Floor," sambung Yanagi begitu melihat list atraksi baru

Marui memecahkan gelembung permen karetnya, "Hm, sepertinya seru. Yanagi, aku ikut itu" ujarnya santai

"Ok, Marui, Dance Floor. Ah, ada lagi nih, Drama Hamlet oleh Atobe" balas Yanagi begitu melihat list baru di layar komputer

"Hm, Hamlet ya? Menarik, tolong masukan nama saya di sana, Yanagi" ujar Yagyuu sambil membetulkan letak kacamatanya

Yanagi kembali memainkan jarinya di atas keyboard komputer, "Ok, Yagyuu, Drama Hamlet. Ah, sepertinya ini list terakhir, Drama Nobunaga" sahut Yanagi

"Drama Nobunaga? Hee menarik kayaknya, Yanagi senpai aku mau ikut itu" ucap Kirihara bersemangat

"Ok. Kirihara, Drama Nobunaga" balas Yanagi singkat

"Hoo, Renji, aku juga ikut Drama Nobunaga" cetus Sanada

Yanagi tersenyum kecil, "Sip, Sanada, Drama Nobunaga" ujarnya menanggapi

Kirihara terlihat terkejut setengah pingsan, "Sanada fukubucho, beneran mau ikut Drama Nobunaga?" tanya Kirihara tak percaya

"Tentu saja, ada masalah Akaya?" balasnya sambil menatap Kirihara

"Glek! Ti, tidak ada" jawab Kirihara gugup

Kirihara kembali duduk manis di pojokan, "Cih, kenapa Sanada fukubuchou selalu pilih yang sama denganku sih?" gumam Kirihara pelan

"Kamu tidak suka bareng aku, Akaya?" tanya Sanada tiba-tiba

"Fu, fukubuchou, bagaimana bisa mendengar suara pelanku dari kejauhan?!" cetus Kirihara kaget sampai-sampai terjatuh dari tempat duduknya

"Tentu saja terdengar. Kalau mau membicarakanku, usahakan agar aku tidak mendengarnya" balas Sanada kalem

'Tidak ketahuan oleh Sanada senpai? itu tidak mungkin kan? Sanada fukubuchou kan punya telinga iblis' gumam Kirihara, kali ini diucapkan dalam hatinya

Kuwahara senpai, Marui senpai, dan Niou senpai tertawa melihat mereka berdua, aku pun tanpa sadar jadi ikut tertawa, "Senpai jangan ketawa terus donk, Izumi juga!" ucap Kirihara ngambek

"Wah, wah kelihatannya seru sekali ya?" terdengar suara dari arah pintu masuk ruangan

Serentak semua menoleh ke asal suara, "Yukimura!" panggil mereka berbarengan

"Fufu, semuanya lama tidak bertemu" balas Yukimura sambil tersenyum lembut

"Sudah lama sekali sejak terakhir kali melihat Yukimura kun memakai seragam sekolah" cetus Yagyuu semangat

Yukimura menoleh ke arah Yagyuu "Benar juga ya. Kalian sehat-sehat saja kan?" tanya Yukimura sambil melihat anggotanya satu persatu

"Kami baik-baik saja. Yukimura juga, apakah sudah benar-benar sehat?" ucap Marui sedikit khawatir

"Tentu saja, kalau tidak, aku tidak mungkin bisa ke sini kan? Bunta terlalu khawatir nih" jawab Yukimura sambil mengacak-acak rambut Marui

Marui terlihat senang sekali begitu Yukimura bergabung di sini. Sebenarnya tidak hanya Marui, semua terlihat begitu antusias terutama Sanada, baru kali ini aku melihat Sanada tersenyum begitu senang. Yukimura pasti begitu berharga bagi anggotanya. Setelah lama di rawat di rumah sakit, tentunya mereka saling kangen. Aku hanya bisa tersenyum melihat reuni mereka.

Kemudian seperti tersadarkan, Marui menoleh ke arahku dan memperkenalkanku kepada Yukimura, "Yukimura, dia Izumi Rina, dia akan membantu kita selama festival ini"

"Saya Izumi Rina, salam kenal" ucapku sopan

Yukimura mengalihkan pandangannya padaku, "Hee, Izumi ya? Aku Yukimura Seiichi, salam kenal" balasnya sambil tersenyum lembut padaku

"Jadi, kita akan membuat stand apa?" tanya Yukimura kepada para anggotanya

"Ano, Yukimura senpai, ini daftar rincian hasil rapat kemarin dan hari ini" ucapku sambil menyerahkan print out kepadanya

Yukimura kembali menatapku, lalu dia tersenyum "Kamu rajin ya?" pujinya

"Tentu saja, dia sangat pekerja keras. Makanya aku memintanya untuk menjadi panitia" sahut Marui turut memujiku

Mendengar Marui senpai memujiku, pipiku kembali bersemu merah.

Yukimura yang tadi menoleh ke arah Marui, kini mengalihkan pandangannya padaku. Seperti menyadari perubahan warna di pipiku, dia tersenyum penuh arti "Hm~ kamu lucu ya" ucapnya lembut

'E, eh?!' pikirku terkejut mendengar kata-kata Yukimura

"Yukimura, apa kamu ikut ambil alih dalam festival ini?" tanya Kuwahara tiba-tiba

"Yukimura masih dalam masa penyembuhan, dia tidak akan terjun langsung dalam persiapan festival. Tapi dia akan datang sesekali untuk mengawasi kita" jelas Sanada seolah-olah dia adalah juru bicara Yukimura

Yukimura hanya mengangguk-angguk setuju dengan perkataan wakilnya, "Untuk itu, Izumi, boleh aku minta nomor handphone kamu?" tanya Yukimura

"Untuk apa Yukimura?" sahut Sanada heran, diiringin dengan anggukan dari anggota lainnya

"Tentu saja untuk menanyakan perkembangan persiapan kalian. Selain itu untuk menanyakan apakah Bunta dan Jackal bekerja dengan benar, apakah Akaya tidak bolos, atau di mana Niou berada" jawab Yukimura sambil menatap anggotanya satu persatu

Kuwahara, Marui, Kirihara, dan Niou hanya bisa menelan ludah mendengar penjelasan ketua klubnya. Melihat anggotanya yang gugup, Yukimura hanya tersenyum. Tapi menurut mereka, justru senyumnya itu yang paling menakutkan.

"Ano.. senpai," panggilku pelan, memecahkan keheningan

"Ah, Izumi. Maaf ya rapatnya jadi terganggu" balas Yanagi singkat

Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak apa-apa kok senpai. Aku hanya ingin mendata kira-kira apa saja yang dibutuhkan untuk festival ini untuk aku laporkan di rapat panitia nanti"

"Ah, iya. Untuk stand makanan manis sih yang pasti meja, kursi, kompor gas, dan peralatan makan" jelas Yagyuu seraya melirik ke arah Yanagi, meminta persetujuan

Yanagi hanya mengganggukan kepalanya, "Selain itu, aku juga butuh taplak meja dan beberapa hiasan bunga untuk memperindah stand" tambah Yanagi

Aku berpikir sejenak, "Mungkin meletakan vas bunga di tiap meja akan menjadi ide yang bagus" usulku

"Hm, benar juga. Kamu hebat, Izumi" puji Marui kepadaku

Dan lagi-lagi dengan seenak jidatnya, pipiku kembali merona merah, kulihat Yukimura tertawa kecil ke arahku. 'Uh, apakah Yukimura senpai juga menyadari perasaanku?' pikirku dalam hati

"Uhm, untuk stand permainan tentunya memerlukan raket, bola tenis, dan papan. Ah, meja uketsuke juga perlu" ujar Kuwahara setelah lama berpikir

Niou menoleh ke arah Sanada, "Untuk hadiah, biar aku yang menyiapkan, puri" ucapnya datar

"Oh iya, Sanada senpai, aku berpikir untuk membuat tiga papan sekaligus agar pegunjung tidak terlalu lama mengantri dan kita dapat penghasilan yang lebih banyak" usulku menambahkan

Sanada menoleh ke arahku, "Ah! Boleh juga usulmu, kalau begitu aku mengandalkanmu, Izumi" jawabnya puas dengan ideku

"Baiklah. Ada lagi yang diperlukan?" tanyaku sambil menulis memo

Yanagi menatap anggotanya satu-persatu, "Sepertinya tidak ada" balasnya begitu melihat tidak ada reaksi dari mereka

"Kalau begitu, aku akan laporkan hasil rapat ini ke ketua panitia. Permisi" ujarku sopan sebelum meninggalkan ruangan

o000o

Rapat utama hari ini berlangsung lama. Jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Begitu semua perwakilan sudah selesai laporan, Atobe menjentikan jarinya, "Hari ini sampai di sini" ucapnya menutup rapat

Aku berjalan ke luar ruangan, 'Apakah hari ini pun Marui senpai menungguku?' pikirku, berharap dalam hati

Begitu aku tiba di luar ruangan, aku mencari-cari sosoknya. Namun sejauh mata memandang, aku sama sekali tidak melihat sosok laki-laki berambut merah yang kucari. Aku menghembuskan nafasku kecewa, "Ahahaha tidak mungkin Marui senpai menungguku setiap hari kan?" ucapku menghibur diri

"Benar juga ya, hari ini si cowok berambut merah maniak permen karet itu tidak berkeliaran di depan ruang rapat" terdengar suara laki-laki dari arah belakang

Refleks aku menoleh ke asal suara. Kulihat Atobe, laki-laki berambut coklat itu tersenyum garing ke arahku, "A, atobe-san?! Ke, kenapa masih ada di sini?" tanyaku terkejut

"Yah, banyak hal yang harus dikerjakan oleh ore-sama. Hoi, kamu pacarnya Marui?" tanya Atobe tiba-tiba seraya tersenyum menyerigai

Aku menelan ludahku. Tentu saja wajahku sudah memerah semerah rambut Marui. Akting memang bukan keahlianku, tapi kenapa semua anggota tenis regular bisa dengan mudah menebak perasaanku? Oh my god, kenapa aku selalu terjebak dalam situasi seperti ini?

"Bu, bukan kok. Kenapa Atobe san bisa berpikir seperti itu?" ucapku bertanya balik

Kurasakan Atobe masih menatapku tajam, "Oh, begitu kah? Hm, habis kemarin Marui menunggu kamu di sini kan? Aku pikir kamu pacarnya. Yah, baiklah. Sampai besok di rapat sore" ujar sang ore-sama sebelum akhirnya dia meninggalkan gedung festival

Aku menghela nafasku panjang. Kemudian aku kembali melangkah. Saat aku melewati stand permainan Rikkai, kudengar seseorang berbicara kepadaku, "Yo! Bunta's fangirl"

"Ap, apa?!" buru-buru aku menoleh ke asal suara. Kulihat laki-laki berambut perak tersenyum jahil ke arahku

"Ni, niou senpai! Apa yang senpai katakan tadi?" tanyaku kaget seraya menghampirinya

Niou hanya tertawa, "Tapi benar kan kamu suka Bunta? Trus sejak kapan? Kayaknya aku tidak pernah liat kamu di antara fangirl-fangirl Bunta deh" cerocos Niou meledekku puas

"Aku bukan fangirlnya, lagipula aku tidak pernah bilang aku suka dengan Marui senpai. Itu hanya kesimpulan sepihak Niou senpai saja" balasku tak mau kalah

Niou menaikan alisnya, lalu tertawa terbahak-bahak, "Lalu bagaimana caramu menjelaskan kenapa wajahmu bersemu merah saat ini? Kamu juga setuju kan, Yukimura?" tanyanya seraya meminta persetujuan dari seseorang di belakangku

"E, eh?" mendengar Niou menyebut nama Yukimura, aku langsung menoleh ke arah belakang

Kulihat Yukimura senpai tersenyum lembut ke arahku, "Otsukare sama, Izumi" ucapnya

"Yukimura senpai otsukare sama" balasku sambil membungkukan badanku sedikit

Niou masih terbahak-bahak melihatku, aku memasang tampang agak cemberut, "Mou, senpai jangan ledekin aku terus donk" rajukku

"Habis perasaanmu tergambar jelas di wajahmu sih. Seperti saat Bunta memujimu waktu rapat tadi pagi, mukamu sudah seperti kepiting rebus" balas Niou sambil tertawa terbahak-bahak

"Fufu, benar juga ya. Tapi Niou, jangan terlalu ngerjain Izumi loh" ujar Yukimura menanggapi

Niou menatap Yukimura selintas, "Maa, tenang saja Yukimura. Aku tidak akan ngerjain dia sampai nangis kok" jawabnya santai

"Senpai!" cetusku ngambek

"Yukimura, sudah saatnya kita pulang" cetus seseorang di belakang kami

Sanada menghampiri Yukimura, sejenak mereka berbincang-bincang. Kemudian, Yukimura mengalihkan pandangannya ke arah kami, "Kalau begitu, sampai ketemu lagi ya, Niou, Izumi" ujarnya sebelum beranjak pergi

Aku menghela nafasku, "Haah, kemarin Yanagi senpai, sekarang Yukimura senpai dan Niou senpai" keluhku

Niou menatapku, "Hoo, Yanagi juga sudah memberitahumu ya? Maa, wajar saja sih, dia kan master data Rikkai" ucapnya santai

Aku melirik Niou malas.

"Jangan remehkan anggota reguler klub tenis Rikkai loh" sambungnya menakutiku

"Niou senpai, usil ih" protesku

Niou hanya tertawa, kemudian wajahnya berubah serius, "Ah, Bunta!" cetusnya tiba-tiba

"Eh, yang benar?" ucapku tak percaya, sambil mengikuti arah pandangan Niou

"Tapi bohong, puri" lanjut Niou diiringi tawanya

"Senpai, ngerjain aku terus nih" ucapku ngambek sambil memukulnya pelan

"Haha kamu lucu sih. Jadi, sejauh mana hubunganmu dengan Bunta?" tanya Niou kepadaku

Aku mengalihkan pandanganku darinya, "Tidak tahu" jawabku singkat

Niou kembali tertawa, "Yah, tidak kamu kasih tahu juga, aku bakal tahu sendiri. Soalnya aku kan sang trickster"

Aku kembali cemberut saat Niou meledekku. Dia hanya tertawa melihat reaksiku. Sepertinya dia puas sekali telah ngerjain aku.

"Izumi, Niou, kalian masih di sini?" terdengar seseorang memanggilku namaku

Aku langsung menoleh ke asal suara. Kulihat Marui sedang berjalan menghampiri kami, "Ma, marui senpai?!" balasku terkejut

"Yo, Bunta" sapa Niou begitu temannya tiba di dekatnya

"Lagi membicarakan apa? Kelihatannya seru sekali?" tanyanya polos

Niou langsung tertawa jahil, "Kita lagi membicarakan ka-" sebelum Niou menyelesaikan kalimatnya, aku segera memotongnya "Tidak membicarakan sesuatu yang penting kok. Marui senpai belum pulang?" tanyaku mengalihkan pembicaraan

"Hm, ini baru mau pulang sih. Izumi sendiri belum pulang?" balasnya bertanya balik

Seolah tidak memperdulikan Niou di belakang kami yang masih menahan tawa melihatku berbicara dengan Marui, "Aku baru saja mau pulang" ucapku kepada Marui

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang bareng?" ajak Marui

Aku dan Niou terkejut mendengar ajakan Marui, namun kemudian Niou tersenyum meledek, "Hoo, jadi cuma Izumi yang diajak pulang bareng? Hee asik ya?" ujar Niou sedikit memasang wajah iri

"Hah? Tumben-tumbenan Niou minta pulang bareng, biasanya kamu lebih suka pulang sendiri" balas Marui sedikit terkejut

Niou kembali tersenyum, "Haha tentu saja bercanda, puri. Lagipula hari ini aku dan Yagyuu mau pergi ke toko olahraga" jawabnya

Marui menghembuskan nafasnya, "Sesuai dugaan. Kalau begitu aku duluan ya, Niou" ucap Marui

"Niou senpai, sampai besok ya" sahutku seraya mengikuti Marui

"Bunta, hati-hati di jalan ya? puri" ujar Niou kepada Marui diiringi senyuman jahilnya

Melihat senyum liciknya, aku langsung protes "Ah, dasar Niou senpai!"

"Ahaha, Bunta, Izumi sampai besok~" cetus Niou sambil melambaikan tangannya ke arah kami

Aku dan Marui membalas lambaian tangannya. Lalu kami berjalan bersama. Beberapa saat, aku dan Marui hanya terdiam. Sesekali terdengar suara gelembung permen karet yang pecah.

Saat kami sudah melewati pintu gerbang, Marui akhirnya memecahkan kesunyian, "Ne, Izumi. Kamu akrab ya dengan Niou?" tanyanya membuka topik

"Hm, bagaimana ya. Lebih tepatnya aku sering dikerjain olehnya" jawabku sedikit mengeluh

Marui tetap berjalan sambil menatap langit dengan kedua tangan dikepalanya, "Niou memang trickster sih, tapi diluar dugaan ya dia suka ngerjain kamu" ucapnya

"Niou senpai bilang ekspresiku lucu, jadi suka ngerjain aku. Yukimura senpai juga menyetujuinya" balasku sambil menghela nafas

"Hm, begitu ya.." ujar Marui singkat

Kami kembali terdiam, sampai tiba-tiba Marui menghentikan langkahnya dah menoleh ke arahku, "Izumi lebih suka memanggilku dengan margaku daripada namaku ya?" cetusnya

"Eh? Ha, habis Marui senpai kan tipe yang tidak mudah untuk membiarkan orang lain memanggil nama senpai. Di klub tenis juga, yang memanggil Marui senpai dengan nama hanya Niou senpai, Yukimura senpai, dan Jackal senpai" balasku panjang lebar

"Lalu?" ujarnya seraya membuat gelembung permen karet, kemudian memecahkannya

"Jadi, aku pikir.. hanya orang-orang spesial yang boleh memanggil senpai dengan nama" ucapku sambil menundukan kepalaku

Marui tertawa renyah, "Haha kamu boleh kok panggil aku dengan namaku" ujarnya seraya tersenyum padaku

"Eh? Yang benar?" balasku tak percaya

"Tentu saja, kamu kan spesial" ucap Marui

Aku membelalakan mataku, terkejut. Sejurus kemudian rona merah mulai mewarnai pipiku, "Se, spesial?" tanyaku terbata-bata

"Iya, kamu sering memberi aku kue. Makanya kamu spesial" jawabnya sambil ngacungkan ibu jarinya

Kembali aku membelalakan mataku, kaget bercampur kecewa, 'Haa~ ternyata spesial bagian kuenya' pikirku sambil menghela nafas

"Jadi mulai sekarang, kamu panggil aku dengan namaku ya? Aku juga akan panggil kamu dengan namamu" ucapnya seraya menatapku lembut

Aku sedikit menundukan kepalaku, malu, "Baiklah, Marui senpai" ujarku pelan

"Baru saja dibilang, kok masih panggil aku Marui sih? Coba panggil aku sekali lagi" pintanya sambil menatap mataku tajam dengan bola matanya yang berwarna coklat

Aku mengumpulkan segenap keberanianku, "Bu, bunta senpai" ucapku memanggil namanya untuk pertama kali

"Good job! Rina" ujarnya senang mendengar namanya dipanggil, kemudian dia menepuk kepalaku pelan

Wajahku pasti sudah semerah rambut Marui. Mendengarnya memanggil namaku, merasakan sentuhan lembutnya di kepalaku, debaran ini sudah tidak tertahankan lagi. Aku.. menyukai orang ini!

"Ah!" cetus Marui tiba-tiba seolah teringat sesuatu

Aku menoleh ke arahnya, "Ada apa, Senpai?" tanyaku seraya menoleh ke arahnya

"Hm, ada tempat yang mau kukunjungi, seharusnya sih tidak jauh dari sini" jawabnya sambil berpikir

Aku memiringkan kepalaku, "Tempat apa? Siapa tahu aku bisa bantu" tawarku

"Ah.. kemarin aku melihat iklan di internet, ada toko kue baru yang ratingnya bagus. Aku mau mencoba kuenya, tapi aku lupa alamatnya" balasnya terdengar sedikit menyesal

Aku berpikir sejenak, "Ah! Toko kue Michiko, yang terkenal dengan strawberry cheese cake itu?" cetusku begitu teringat sesuatu

"Ah, itu, itu! Kamu tahu? Di mana?" tanya Marui bersemangat

"Tidak jauh dari sini kok. Mau aku temani ke sana?" ujarku balas bertanya

Marui terlihat sangat senang, dia hampir saja melompat kegirangan mendengar pertanyaanku, "Ya, ya, dengan senang hati tentunya. Yosha! Rina, ayo kita langsung pergi menuju TKP!" ajaknya sambil menarik tanganku

"Tu, tunggu sebentar Senpai, tidak usah terburu-buru" ujarku sambil berusaha menyesuaikan langkahnya

Tak lama kemudian kami tiba di Toko Kue Michiko. Seperti yang dituliskan di internet, cake-cake di sini terlihat sangat lezat dan menggoda siapapun yang melihatnya untuk segera memakannya. Marui menatap cake-cake itu dengan mata yang berbinar-binar. Mulutnya masih ternganga melihat cake-cake yang terpajang di etalase seolah sudah siap untuk menyantapnya. Dan tanpa di sadari Marui telah membeli 3 dus berisi cake tersebut.

Aku menatapnya heran, "Senpai, beneran mau makan cake sebanyak itu?" tanyaku tak percaya

"Aku makan 2 dus saja kok, 1 dus lagi untuk adik-adikku di rumah" jawabnya sambil tertawa

"Senpai punya adik?" tanyaku penasaran

Marui membenarkan dus cake di tangannya agar lebih mudah di bawa, "Iya, ada 2 adik laki-laki, umur 8 tahun dan 5 tahun"

"Wah pasti adik senpai lucu-lucu ya?" ujarku seraya menatapnya

"Tentu donk! Adikku pasti imut kayak kakaknya" balasnya bangga

"Tapi, senpai benar-benar kakak yang baik ya. Mau membawakan oleh-oleh untuk adik di rumah" pujiku jujur dari dalam hati

"Ah, soalnya adikku selalu ribut mengajakku main. Padahal aku lelah sehabis latihan tenis, makanya aku kasih kue saja biar mereka diam" jelas Marui

Aku menatapnya kagum, "Aku juga ingin punya kakak seperti Bunta senpai. Habis perhatian sekali sih" ujarku sedikit iri

"Bo, bodoh! Jangan bilang seperti itu" ucap Marui malu

Aku terkejut melihat ekspresi malunya, "Kenapa?" tanyaku bingung

"Kenapa? Kenapa ya? Aa~h pokok aku tidak mau kamu jadi adikku" balas Marui kelabakan

Aku memasang wajah sedikit cemberut, "Senpai kejam" protesku

Marui menepuk kepalaku lembut, "Eh kok ngambek? Ne, Rina itu tidak cocok jadi adikku, cocoknya jadi pa-" ucapnya menjelaskan

Namun seperti tersadar dari sesuatu, dia menghentikan kalimatnya

"Jadi 'pa'?" tanyaku bingung

"Jadi pattiser! Ya, jadi pattiser! Kalau kamu jadi patisser, aku bisa makan kue enak setiap hari! Uwaa membayangkannya saja sudah bikin aku lapar" jawabnya sambil mengbayangkan kue-kue bertebangan

"Dasar senpai! Yang dibayangin kue terus" celetukku sambil tertawa melihat kelakuannya

Kami mengobrol sepanjang jalan, kadang kami juga bercanda. Tak terasa kami sudah tiba di stasiun. Aku menghentikan langkahku dan berpaling ke arah Marui, "Ah, sudah sampai stasiun" cetusku

"Ha? Kenapa cepat sekali sih, sudah sampai stasiun saja" protes Marui

Aku hanya tertawa melihat ekspresi kecewanya, kemudian dia pamit kepadaku, "Kalau begitu, sampai besok ya, Rina" ucapnya seraya melambaikan tangannya

"Ya, sampai besok, Bunta senpai" jawabku sambil membalas lambaian tangannya

~GakuPuri~

Ya! Cut!

Untuk sementara, sampai di sini dulu yaa~

Penulisnya lagi sibuk /plak/

Kalau ada saran atau kritik, silakan jangan malu-malu, saya terima dengan lapang pantat /doeng/

Ok deh, minna~ mata ne! (^^)/~~