.
.
.
Sesak. Hanya itu perasaan kedua insan yang saling bungkam. Perlahan isak tangis mulai terdengar dari Sakura. Ia masih menutup mulutnya dengan tangannya yang basah oleh airmata.
Sakura berharap pendengarannya menjadi tuli saat Sasuke menceritakan akhir dari kisahnya tadi. Namun semua sudah terlanjur. Arang sudah menjadi abu. Sakura hanya bisa menahan gelombang keputusasaan di dadanya. Ia benar-benar tidak mengantisipasi kemungkinan ini terjadi.
Dan Sasuke menghilang tanpa Sakura sadari, lagi.
.
.
.
Disclaimer : Naruto and All Characters's belong to Masashi Kishimoto. This story is mine.
Genre : Angst & Drama
Rate : T
Pair : SasuSaku & ItaSaku
Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), Gak Jelas, etc. Umur karakter:
Sakura Haruno : 14 tahun
Sasuke Uchiha : 14 tahun
Itachi Uchiha : 22 tahun
Summary :
Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.
Let Me In
By
Uchiha Cesa
Hampir jam tujuh. Itu yang diberitahu si penunjuk waktu yang masing-masing penghuni rumah miliki. Matahari jingga masih menggantung rendah di ujung langit yang cerah. Memamerkan keanggunannya yang berdiri menyorot banyak atensi makhluk yang mulai beraktivitas seperti biasa.
Tapi sosok gumpalan di bawah selimut tebal tampak tidak terpengaruh dengan suara-suara di luar rumah yang mulai riuh rendah.
Jejak-jejak air mata yang sudah mengering terlihat di pipi mulus Sakura. Entah sudah berapa lama ia menangis semalam. Satu jam saja tidak cukup untuk menuntaskan hasrat emosi yang membelenggu jiwanya. Kecewa, marah, dan putus asa menikam batinnya setiap kali mengingat cerita dari pemuda yang baru dikenalnya kemarin siang.
'Kenapa? Kenapa harus laki-laki?'
Hanya kata-kata itu yang membayang di mata Sakura saat ia membuka mata. Bahkan saat ia menutup kelopak matanya dengan erat, kata-kata itu begitu menghantuinya secara intens.
Menyerah untuk terus berusaha kembali tidur, Sakura membuka selimut yang menyelubunginya dengan kasar. Ia kemudian beringsut duduk dan mengusap wajahnya yang berasa tak nyaman.
Ia menatap ruangan di sekelilingnya. Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Pandangannya yang awalnya kabur perlahan mulai jernih. Memijat pelipisnya sebentar, ia perlahan menuruni ranjang.
Meregangkan otot-ototnya sebentar sambil mengeluarkan lenguhan berat untuk mengusir rasa kantuk, Sakura pun mengucek matanya sambil menguap lebar.
'Haus.'
Kaki mungilnya melangkah dengan tak tentu arah karena beberapa kali hampir terjatuh. Rasa pusing masih berkutat di kepalanya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat lorong dengan sedikit penerangan. Tujuannya kali ini hanyalah dapur.
Saat berbelok melewati tangga, jantungnya kembali terlonjak kaget mendapati pemuda yang disukainya turun dari atas tangga. Pakaiannya sudah rapi. Bersiap berangkat ke kantor, kelihatannya.
"Ah, Sakura. Selamat pagi." Sapa Itachi pada gadis yang tampak kusut di sampingnya.
Tingginya yang hanya sebahu Itachi mau tak mau membuatnya harus mendongak melihat wajah tampan pemuda itu. 'Wajah itu... Mahakarya tampan itu... Seorang gay?' Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha melenyapkan fakta buruk itu dari kepalanya.
Berusaha untuk menenangkan dirinya, Sakura pun membalas sapaan Itachi. "Selamat pagi juga, Itachi-nii." Melirik sebentar tas kerja yang ditenteng Itachi di tangan kanannya, Sakura pun berbasa-basi, "Mau berangkat kerja?"
Itachi melempar senyum pada Sakura sebelum mengangguk dan menyahut, "Ya," kemudian berdeham sebentar dan berkata singkat, "jaga rumah baik-baik ya, Sakura."
Sakura mengangguk sekilas sebelum menjawab,"Iya."
Setelah melempar senyum singkat pada Sakura, Itachi pun pergi-berangkat kerja-.
Sepasang iris emerald itu masih setia mengikuti punggung lelaki yang disukainya sampai menghilang di balik dinding. Menghela napas berat, Sakura pun melanjutkan langkahnya ke dapur.
.
.
Dahaganya kini hilang bersamaan dengan semakin banyak volume air yang masuk ke tubuhnya. Setelah air di gelasnya tandas, ia mengelap ujung bibirnya yang sedikit basah dengan punggung tangannya. 'Haaah.. Sakit hati benar-benar menguras tenaga dan emosi,' keluhnya.
Tepat saat ia menoleh ke kursi makan di dapur untuk duduk, gelas yang dipegangnya hampir meluncur jatuh. Onyx itu... Lagi-lagi menatapnya tanpa emosi.
Sakura sama sekali tidak menyadari kehadirannya dari tadi. 'Kapan dia di situ?'
Segera saja Sakura mengambil kursi yang berada di hadapan si pemuda pemilik onyx datar namun mempesona, sekaligus membuatnya merinding itu.
Kini mereka duduk berhadapan. Eksistensi mereka hanya dibatasi meja bundar berdiameter 1 meter. Tak ada yang membuka percakapan untuk memecah keheningan dapur. Sakura menunduk. Namun tidak dengan Sasuke yang masih menatap lekat padanya.
Hening sejenak sebelum Sasuke menanyakan keadaan Sakura.
"Kau tak apa, Sakura?"
Sakura kini memandang Sasuke yang menanti jawabannya. Lalu ia menyahut, "Aku tak apa, Sasuke. Hanya sedikit shock." Suaranya terdengar serak. Akibat dari menangis semalaman.
Sedikit katanya, eh? Ia bahkan tak bisa jadi pembohong apalagi pembohong ulung. Nadanya jelas-jelas terdengar terluka. Dan Sasuke tidak buta dan tuli untuk melihat keadaan Sakura semalam. Pagi ini pun ia tak tampak semangat.
Sakura bisa mendengar Sasuke mendengus, mengejek kebodohannya yang jelas-jelas ketahuan berbohong.
"Kau pasti tahu apa yang kupikirkan, Sakura. Tidak perlu berpura-pura. Apa sekarang kau menyerah pada Itachi-nii?"
Sakura menggigit bibir bawahnya. Matanya melirik ke samping dengan tatapan dalam. Tapi sebenarnya pikiran Sakura kosong sekarang. Tidak fokus, lebih tepatnya.
Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menjawab pertanyaannya. Maka dari itu, tugas Sasuke di sini hanya bisa berinisiatif untuk menghibur gadis yang dikaguminya itu.
"Itachi-nii bilang kau itu gadis yang tegar, ceria, cerewet, sportif, dan semangat. Tapi apa kau ingin menghina kakakku yang memujimu jika dia lihat kau seperti orang tanpa nyawa sekarang?" Sasuke hanya berusaha membesarkan hati Sakura. Tapi tampaknya gadis di depannya ini sama sekali tidak bergeming.
"Padahal aku hanya ingin membesarkan hatimu yang kecil itu. Kenapa hatimu tak selebar dahimu saja?" Pertanyaan Sasuke sukses membuat Sakura menatap langsung matanya dengan tatapan jengkel. Hal itu membuat Sasuke menyeringai menang. Ia kemudian melanjutkan, "Aku tak ingin kau menyerah. Cuma kau yang kupikir bisa merubah kakakku." Jeda sejenak, "Ternyata aku salah."
Kata-kata Sasuke tadi membuat tubuh Sakura membeku. Apalagi lelaki dingin dan bermulut pedas itu mengucapkannya dengan intonasi kecewa. Ada rasa sedikit penyesalan yang menyusup ke hati Sakura. Namun egonya masih menggenggam kuat hatinya. Enggan untuk membalas kata-kata Sasuke yang seperti pedang yang sedang mengiris hatinya.
"Oke, kalau kau tidak mau menjawabku. Terus saja keras kepala seperti itu. Ternyata kakakku salah tentangmu."
Setelah mengucapkan apa yang ia pikirkan, Sasuke berlalu dari hadapan Sakura. Ia tak habis pikir dengan gadis itu. Dan rasanya Sasuke kehilangan akal untuk membuat Sakura bicara padanya. Menghiburnya percuma saja. 'Ia hanya butuh waktu sendiri'. Itu yang Sasuke yakini dalam hatinya tentang gadis itu.
Sakura meremas piyamanya. Berusaha meredam amarah di dadanya. 'Kalian pikir kalian siapa sampai berhak menilaiku seperti itu?! Aku tidak ingin menanggung sakit lebih dari ini lagi!' Raung Sakura dalam batinnya. Air mata mulai turun kembali dari kelopaknya. Dan isakan-isakan kecil selanjutnya menjadi lagu sedih di dapur.
Tanpa Sakura sadari, Sasuke masih bisa melihatnya dari atas langit-langit dapur. Tatapan Sasuke hanya menyiratkan rasa bersalah. Kesal dengan kebodohannya yang membuat Sakura menangis lagi, Sasuke pun melayang pergi keluar rumah. Enggan mendengar isakan pilu itu lagi.
.
.
Air dingin mengelilingi tubuh bawahnya sampai dagu. Rambut sebahunya ia biarkan tergerai hingga terlihat mengambang dan melebar di sekitar kepalanya. Sakura mencelupkan seluruh tubuhnya ke dalam air dingin untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Dan ternyata berhasil.
Sakura merasa lebih rileks sekarang. Ia mulai teringat kembali kata-kata Sasuke tadi di dapur.
"Kau pasti tahu apa yang kupikirkan, Sakura. Tidak perlu berpura-pura. Apa sekarang kau menyerah pada Itachi-nii?"
"Aku sendiri bingung dengan perasaanku sekarang, Sasuke. Aku masih menyukai Itachi. Tapi apa aku bisa?"
Sakura meracau sendiri di kamar mandi.
"Itachi-nii bilang kau itu gadis yang tegar, ceria, cerewet, sportif, dan semangat. Tapi apa kau ingin menghina kakakku yang memujimu jika dia lihat kau seperti orang tanpa nyawa sekarang?"
Sakura terkekeh kecil. "Apa benar Itachi-nii menganggapku seperti itu?"
Sakura tersenyum malu sambil memainkan-memilin- rambut merah mudanya dengan wajah merona.
"Aku tak ingin kau menyerah. Cuma kau yang kupikir bisa merubah kakakku. Tapi aku salah."
Tatapan Sakura yang tadinya cerah, kini meredup. Wajahnya yang tadinya merona menjadi muram dan memucat. Rasa bersalah kembali menghantam ulu hatinya. Ia hanya tak ingin terluka lebih dari ini lagi jika tetap mengejar Itachi.
"Kenapa kau harus mempercayakan kakakmu padaku, Sasuke?" Tanya Sakura lirih.
Sakura mengusap kasar airmata yang lagi-lagi turun untuk yang kesekian kalinya hari ini. Ia mencelupkan seluruh kepalanya ke dalam air kembali untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Cukup lama ia menahan diri karena tak menghirup oksigen di dalam air. Sampai akhirnya kepalanya muncul ke permukaan secara tiba-tiba dengan mulut terbuka. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dengan rakus.
Sakura kembali memikirkan kata-kata Sasuke. Kenapa pemuda itu memilihnya? Mempercayainya untuk mengubah kakaknya? Kan masih banyak gadis lain yang jauh lebih cantik darinya di luar sana.
Pertanyaan tanpa Sakura bisa menjawabnya itu terus-terusan berputar di otaknya. Tak memberinya kesempatan untuk memikirkan apapun selain hal itu.
Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. 'Tidak... Aku tak boleh seperti ini terus!' Sembari berkata seperti itu, ia menepuk kedua pipinya dengan agak keras hingga menimbulkan rona merah di pipinya. Ia memberi semangat pada dirinya sendiri.
Setelah Sakura melangkah keluar dari lingkaran bathtub, ia menyambar handuk yang tergantung tak jauh darinya dan melilitkan handuk itu ke tubuhnya.
.
.
Sekarang tubuhnya yang terbalut handuk tadi sudah berganti menjadi kaos longgar berwarna biru muda. Kakinya yang mungil dilapisi dengan celana jeans 15 cm di atas lutut. Mengekspos pahanya yang putih dan mulus. Rambut sebahunya juga sudah disisir rapi. Ia memakai jam tangan biru gelap di tangan kirinya. Terlihat santai, namun menarik.
Telapak kakinya yang telanjang bergerak lincah menuju sisi ranjang. Tubuhnya membungkuk rendah untuk meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Saat ia merasa resah seperti ini, satu-satunya yang bisa ia andalkan hanya ayahnya.
Ia menekan huruf 'A' agak lama untuk menelpon ayahnya tanpa repot-repot mencari kontak ayahnya atau menekan beberapa digit angka yang sudah dihapalnya. Itu sudah di aturnya saat ia pertama kali dibelikan ponsel oleh ayahnya.
Setelah nada tunggu berlangsung agak lama, akhirnya ayahnya mengangkat telepon di seberang sana.
"Halo, Ayah?"
.
.
.
Indonesia, 07.15 a.m
.
Kizashi sedang menandatangani berkas-berkas di meja kerjanya. Kacamata tanpa bingkai bertengger di ujung hidung mancungnya. Entah kenapa, hatinya terasa gelisah dan terus memikirkan puterinya.
'Drrrt... Drrrt... Drrrt...'
Getaran ponsel di atas meja kerjanya membuat konsentrasi Kizashi pecah. Ia masih tak memedulikan telepon itu. Ingin segera menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tapi egonya yang ingin mengacuhkan telepon itu runtuh saat ia tidak sengaja melihat siapa penelepon yang mengganggu kerjanya itu.
'Trek... Klik'
Segera ia raih ponselnya dan mengangkat telepon itu dengan semangat. Ia rindu puteri manisnya itu. Meskipun baru dua hari tak melihatnya.
Suara tak sabar dari seberang telepon menyapa indera pendengarannya.
"Halo, Ayah?"
"Tumben anak ayah telepon. Ada apa, Sakura? Ada masalah? Itachi menyakitimu?" Cecar Kizashi.
Agak lama Sakura tak menyahut. Tapi kemudian ia menjawab, "Itachi tidak menyakitiku, Ayah." Jeda sesaat, "Apa Ayah pernah menolak orang yang meminta bantuan Ayah untuk suatu hal seperti..." kata-kata Sakura terhenti lama.
"Seperti?" Ulang Kizashi. Memaksa Sakura untuk melanjutkan bicaranya.
Hening sejenak sebelum Sakura menjawab, "Seperti menolong orang yang sedang sakit?"
Kizashi tertawa mendengar pertanyaan konyol puterinya, kemudian menjawab, "Ayah tidak pernah menolaknya, Sakura. Itu hal yang mulia. Membantu orang. Bukannya Ayah sudah pernah mengajarkanmu tentang hal itu, hm?"
Helaan napas terdengar dari si penelepon. Hal itu membuat alis Kizashi mengkerut. "Benar tidak apa-apa? Kalau ada masalah katakan saja, Sakura." Ujar Kizashi.
"Aku tidak apa-apa, Yah. Jangan khawatir..." Ucap Sakura pelan. Menenangkan ayahnya.
Kizashi menghela napas berat. "Ayah tahu kau menyembunyikan sesuatu dari Ayah, Sakura." Kizashi mengambil napas, kemudian melanjutkan, "Tidak apa kalau tak mau cerita. Tapi ingat, kau itu gadis yang kuat yang pernah Ayah kenal setelah ibumu. Anak Ayah selalu menolong yang lemah meski ia sendiri tak begitu kuat. Kau seperti ibumu, Sakura."
Hening.
"Sakura? Kau masih di sana?"
"Ah! Iya, Ayah. Aku masih di sini."
"Kau melamun?" Tanya Kizashi lagi.
"Aku hanya berpikir, ibu itu perempuan yang hebat! Hehe..." Suara Sakura sudah terdengar ceria di sana. Membuat Kizashi sedikit lega.
Kizashi ikut tertawa dengan perkataan puterinya. Lalu berucap, "Hahaha... Kalau begitu, Sakura juga hebat seperti ibumu."
"Ayah bisa saja..." Kekehan kecil terdengar di seberang telepon.
"Sudah dulu, ya, Sakura? Ayah sedang sibuk sekarang. Kapan-kapan lagi kau telepon, ya?"
"Ah. Sorry, Dad. Hehe.. By the way, I miss you." Ucap Sakura masih dengan kekehan kecil yang terselip di ucapannya.
Kizashi tersenyum lembut kemudian membalasnya, "I miss you too, Sweetheart. Jaga diri baik-baik."
"Iya... Ayah juga."
Dan sambungan pun terputus.
.
.
.
Tokyo, 09.55 a.m
.
Sakura menghela napas lega. Rasanya ia punya solusi atas masalahnya. Namun, setiap pilihan pasti memiliki resiko. Sakura sudah siap akan hal itu. Tidak mau menunggu terlalu lama, Sakura segera melangkahkan kakinya keluar kamar. Mencari Sasuke.
.
.
"Sasuke?" Sapa Sakura saat ia membuka pintu kamar Sasuke. Namun yang disapa tidak menyahut. Bahkan tidak ada di sana.
Sakura berkeliling rumah sambil meneriakkan nama pemuda itu. Tapi tetap tidak ketemu.
Menyerah, Sakura pun berinisiatif untuk jalan-jalan keluar di sekitar rumah. Tidak akan jauh-jauh, karena Sakura buta arah dan susah menghapal jalan. Bukan berarti Sakura tidak pintar. Sakura bahkan selalu menduduki peringkat pertama dari SD sampai SMP. Ia susah menghapal jalan karena menganggap itu tidak penting.
Hei... Tidak ada manusia yang sempurna, bukan?
.
.
Jalanan lumayan lengang di sekitar kediaman Itachi. Suasananya tenang. Banyak pohon yang dipelihara di pekarangan rumah. Sakura kagum melihat pemandangan perumahan di sini.
Rumah-rumah di Tokyo terlihat berjejer dengan teratur di samping jalan yang kadang menanjak atau menurun. Setiap rumah memiliki pagar setinggi 2 meter lebih yang memisahkan pekarangan rumah dengan jalan. Membuat kesan rapi di mata siapa saja yang memandangnya, termasuk Sakura.
Yang lebih membuatnya tercengang lagi adalah, sudah berjalan lebih dari 50 meter, ia tidak melihat satupun sampah bertebaran di jalan. Orang-orang yang ditemuinya tak sengaja tadi pun terlihat ramah dan tersenyum hangat menyapanya dengan kata "konnichiwa" sambil membungkuk. Bingung sekaligus gugup, ia pun ikut membungkuk dan ikut-ikutan berucap "konnichiwa" meski ia tak mengetahui artinya. 'Ternyata orang Jepang ramah-ramah, ya?' Pikir Sakura.
Sepanjang jalan ia tersenyum. Suasana hatinya mulai membaik karena solusi yang ia temukan dan sikap ramah yang diberikan orang-orang di sekitarnya di sini.
Tak jarang ia temukan kucing-kucing tak bertuan yang mengais sisa makanan di tong sampah atau sekedar meringkuk tidur di samping tiang listrik. Sakura yang memang pada dasarnya menyukai hewan, apalagi kucing, segera menyapa kucing-kucing itu dan terkadang menggaruk leher dan mengusap kepalanya.
Ah, Sakura hampir lupa dengan tujuan awalnya mencari Sasuke. 'Masa bodoh, ah! Palingan Sasuke jalan-jalan.' Batinnya.
Merasa sudah lelah berkeliling, Sakura pun kembali ke rumah Itachi.
.
.
Saat ia membuka kunci rumah dan mendorong pintunya, Sasuke sudah berdiri menyandar di samping pintu di dalam rumah sambil bersidekap dada. Matanya tertutup. Tanpa ia buka matanya pun ia tahu Sakura yang membuka rumahnya. Sasuke memang menunggunya pulang.
Mendengus sebal, Sakura pun berkacak pinggang sambil menatap galak pada Sasuke. "Kemana saja kau, Tuan Harajuku Style?"
Alis Sasuke terangkat sebelah, kemudian menjawab sekenanya, "Jalan-jalan."
Masih dengan tatapan tajam mengintimidasi Sasuke, ia membentak pemuda itu, "Aku sudah mencarimu kemana-mana, Sasuke! Aku sudah keliling rumah ini dan keluar rumah tapi kau tak ketemu. Huh! Tenggorokanku sampai sakit karena meneriakimu keliling rumah ini, tahu!"
Sasuke hanya menatap Sakura datar. "Sudah puas marah-marahnya?"
Perempatan siku-siku di pelipisnya muncul. "Sudah!" Ucap Sakura kesal.
"Itachi-nii benar. Kau cerewet sekali." Ejek Sasuke.
Wajah Sakura memerah. Antara kesal dan malu. Tapi ia tak membalas kata-kata Sasuke. Itu hanya akan membuatnya semakin kesal.
"Jadi, kenapa mencariku?" Suara baritone itu terdengar penasaran.
Sakura melepaskan tangannya yang tadi di dadanya. Tangannya terkepal erat di samping tubuhnya.
"A-aku..." Sakura menelan ludahnya gugup sebelum melanjutkan kalimatnya yang menggantung. Ia layangkan tatapan meyakinkan pada onyx di hadapannya. "aku bersedia membantumu mengubah Itachi-nii."
Sasuke tersenyum tipis. "Aku tahu kau gadis yang baik, Sakura," Ucapnya tulus. Lalu kembali berucap, "kuharap kau tahan dan membantuku sampai Itachi-nii benar-benar berubah."
Sedikit kilatan ragu terpeta di iris emerald itu, namun ia segera mengerjap dan tatapan yakin kembali hadir di sana. Sakura pun mengangguk.
"Bagus," ucap Sasuke sedikit semangat. "jadi, misi kita adalah..." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Ia mendekati Sakura dan mengarahkan mulutnya ke dekat telinga Sakura. "ambil hati Itachi-nii."
Sakura mengangguk gugup saat Sasuke menatapnya kembali setelah membisikkan misi mereka.
Good job, Sakura...
Seperti keluar dari kandang singa, kau langsung masuk ke kandang naga.
.
.
.
TBC
A/N : *lirik ke atas*
Sakura banyak nangis deh -_-"
Maaf Saku.. tuntutan plot XD #plakk
Chapter ini hanya berisi tentang Sakura yang meyakinkan dirinya untuk membantu seorang gay menjadi normal. Karena klo aku main lompat cerita ke misi ngambil hati Itachi, rasanya gak etis kalau Sakuranya nggak sedikit 'stres' XD #buagh
Ano... anggap aja Itachi sakit gay -_-v kan dia gak seperti lelaki yg seharusnya. :p
Gak normal = sakit *ngeyel*#gebuked by Itachi fans.
Bales review :
uchiharuno susi : Maaf gak cantumin namamu di chapter 1.. Pas aku update chapter 2, aku baru liat reviewmu di inbox emailku. gomeeen :( Sasuke meninggal atau nggak, baca chapter selanjutnya ya :D Makasih udah penasaran XD Salam kenal juga :3 ini udah lanjut..
hanazono yuri : Makasiiih X3 ini udah lanjut :3
AikhaTheLittleCherryBlossom : udah lanjut ini dek :3 kyaa.. dipanggil kaka X3 #nasib si bungsu.
cruderabelica : eh, ini cukup kilat kan? #keluarkeringatdingin# Aaah.. makasiiiih XD #pelukpeluk#
Mireren : hahaha.. dirimu :3 jawabannya ada di beberapa chapter mendatang :D
Makasih ya teman-teman udah suka, komen, fav, follow ini fic abal :D
Review lagi?#plakk
Alurnya terlalu cepat kah? Lambat kah? Abal kah? Deskripsinya susah dipahami kah? Gak kerasa feelnya kah? Jelek kah? Lebay kah? #woi...! banyak tanya!#bletakk
Aku butuh concrit kalian, teman.. Karena aku gak bakal tau letak kesalahanku di mana dalam hal tulis menulis ini kalau kalian gak ngasi tau -_-v
Flame(s) gak boleh karena aku butuh kritik, oke? #kedipkedip
So, gimme ur review please?
