.
.
.
Sedikit kilatan ragu terpeta di iris emerald itu, namun ia segera mengerjap dan tatapan yakin kembali hadir di sana. Sakura pun mengangguk.
"Bagus," ucap Sasuke sedikit semangat. "jadi, misi kita adalah..." Sasuke menggantungkan kalimatnya. Ia mendekati Sakura dan mengarahkan mulutnya ke dekat telinga Sakura. "ambil hati Itachi-nii."
Sakura mengangguk gugup saat Sasuke menatapnya kembali setelah membisikkan misi mereka.
Good job, Sakura...
Seperti keluar dari kandang singa, kau langsung masuk ke kandang naga.
.
.
.
Disclaimer : Naruto and all characters is belong to Masashi Kishimoto. This story is mine.
Genre : Angst & Drama
Rate : T
Pair : SasuSaku & ItaSaku
Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), Gak Jelas, etc. Umur karakter:
Sakura Haruno : 14 tahun
Sasuke Uchiha : 14 tahun
Itachi Uchiha : 22 tahun
Summary :
Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.
Let Me In
By
Uchiha Cesa
Detik jam bergema di ruang depan, mengusik indera pendengaran dua mahkluk berbeda dunia yang terlelap dalam lamunan masing-masing. Sang gadis, salah satu dari makhluk yang disebut di atas, bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat dari normalnya 'detak' manusia. Pikirannya kalut akan tindakan apa yang akan diambilnya. Tak cukup berbeda dari makhluk lainnya yang bersandar di dinding di sampingnya. Yang membedakan mereka adalah, sang lelaki tak memiliki detak jantung yang menghangatkan tubuhnya lagi. Bibir tipis si lelaki mulai terbuka. Sepertinya akan menyampaikan sesuatu.
"Jadi..." Suara baritone menginterupsi lamunan Sakura, "apa yang akan kaulakukan?"
Gadis bersurai merah muda itu berjengit sedikit dan menoleh cepat pada pemuda pucat di sampingnya. "Aa... Aku masih memikirkannya." Ucapnya pelan.
Hening kembali...
Melihat Sakura meremas tangannya, ia pun berucap, "Maafkan aku, Sakura. Kaujadi ikut menanggung beban." Nada bersalah terdengar jelas dari Sasuke. Ia kemudian menutup matanya.
Gadis yang dimaksud pemuda itu menggeleng lemah meski si pemuda tak melihatnya. "Tak apa, Sasuke. Kaumempercayaiku, kan?" Tanya Sakura. Memandang Sasuke yang kembali memperlihatkan onyx kelamnya.
"Sangat." Hanya itu jawaban dari Sasuke. Ia tak memandang lawan bicaranya. Tapi dari gelombang suaranya tadi, itu sudah cukup meyakinkan Sakura.
"Kalau begitu, apa yang perlu kutakutkan lagi? Kaumemilihku, mempercayaiku. Karena aku hebat, kan? Hahaha..." Sakura berusaha mencairkan suasana kaku di antara mereka. Dan itu berhasil. Buktinya saja Sasuke mendengus geli karenanya.
"Kau itu. Percaya diri sekali..." Nada gemas tak Sasuke sembunyikan. Untuk sesaat wajahnya cerah, namun setelahnya kembali muram. "Aku takut kauterluka lagi."
Sakura maju menghadap Sasuke, ia mengacungkan jari jempolnya dengan senyum lebar di wajahnya. Lalu dengan riang ia berkata, "Kalau pun aku harus terluka lagi, kaukan akan menghiburku, Sasuke." Kerlingnya. Tak menyadari raut wajah Sasuke yang makin memucat. Sakura menatap dari atas ke bawah penampilan Sasuke yang mengenakan celana putih panjang dan baju berkerah putih yang berlengan panjang. "Tapi... kau itu bukan orang yang bisa membuatku terhibur, kecuali wajahmu yang tampan itu. Hahaha..." Tawa Sakura kembali meledak. Tidak merasa malu sudah memuji orang di depannya.
Bibir Sasuke bergetar menahan senyum. 'Itachi-nii benar. Sakura itu ceria sekali.'
"Aku harus bagaimana agar kaubisa terhibur, hm?" Tanyanya. Kali ini suasana tidak sekaku tadi. Berterima kasihlah pada gadis ceria yang bisa merubah suasana di depannya ini.
Sakura memasang pose berpikir. Mata melirik ke atas, bibir bawah ikut mengerucut ke atas, dagunya sedikit terangkat, jari jempol dan telunjuk mengelus dagu, dan lengan lainnya yang membentuk sudut 90 derajat. "Hm... Apa, ya?" bertanya pada diri sendiri, mau tak mau membuat Sasuke tersenyum geli memandangnya. "Ah! Itu! Kaubisa tersenyum padaku, Sasuke-tampan!" Godanya dengan kerlingan nakal. "Kautak tahu sih wajahmu itu manis sekali kalau tersenyum..." Pengakuan yang jujur.
Pemuda yang dipuji itu hanya mengeluarkan seringai kecil. 'Benar-benar deh, dasar Sakura!'
"Haa... Kenapa senyum-senyum begitu, Sasuke? Kausenang kupuji? Hahahaha..." Untuk yang kesekian kalinya tawa Sakura memenuhi rumah itu.
Mendengar itu, Sasuke memalingkan wajahnya dan berlalu pergi dari Sakura. "Sudahlah. Jangan menggodaku terus, Sakura." Ujarnya risih.
"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku, Sasuke." Geram Sakura. Ia mengekori langkah Sasuke. "Hei hei.." Panggilnya pada pemuda di depannya.
Sasuke menoleh ke belakang tanpa membalikkan badannya. "Apa?"
"Kaumempercayaiku. Kaucukup senyum padaku saat aku merasa perlu dihibur. Tapi berusahalah untuk membuatku tertawa. Tidak dari sikapmu. Dari ucapanmu itu sudah cukup buatku. Daaan..." Sakura memberi jeda sesaat sebelum melanjutkan, "Kita sekarang berteman, ya?" ujarnya dengan nada dan senyum ceria.
Sasuke tersenyum tulus sekilas pada Sakura. Kemudian tanpa memandang gadis itu, ia pun menjawab, "Kauboleh anggap aku apapun yang kaumau. Aku akan selalu ada di sampingmu."
Wajah Sakura merona. 'Apa-apaan dia? Selalu? Seumur hidup kah? Dia melamarku? Mustahil, ah. Itu jelas bukan lamaran...' Pikir Sakura sambil menggetok kepalanya asal. Melenyapkan pikiran aneh yang muncul terus-terusan di benaknya. 'Kebanyakan baca novel romance. Tapi... Kenapa aku berdebar-debar mendengarnya bicara seperti itu?'
.
.
Halaman belakang rumah dihiasi rumput kecil yang lembut yang menyelimuti hampir seluruh bagian halamannya.
Di bagian sudut kiri ada sebuah pohon yang melindungi kolam ikan dengan diameter 2 meter yang berisi ikan mas dari panasnya matahari. Kolam itu dihiasi batu-batu alam dan rumput tajam yang tidak terlalu tinggi. Memberi kesan alami. Di tengah-tengah halaman belakang terdapat ayunan tunggal yang terlihat cukup tua dengan sebuah kursi yang mengarah ke ayunan tersebut.
Di sudut kanan hanya ada beberapa jenis tanaman besar dan bunga-bunga liar yang indah. Keseluruhan elemen di halaman itu memang memberi kesan manis dan menenangkan. Namun tempat itu terlindung dari pandangan publik karena dibatasi tembok dengan tinggi 2 meter.
Di sanalah dua orang dengan rambut merah muda sebahu dan rambut biru gelap bermodel seperti pantat ayam bercakap-cakap. Si merah muda duduk di atas ayunan, sedangkan si biru gelap duduk menghadapnya.
"Kalau kaujadi Itachi-nii, saat kaupulang setelah bekerja seharian, apa yang kaumau?" Tanya Sasuke. Memberikan petunjuk pada Sakura yang masih memandangnya dengan alis terangkat.
"Aku ingin bermalas-malasan. Aku lelah dan haus. Minuman yang segar-segar kurasa harus masuk tenggorokanku." Ucap Sakura sambil menunjuk lehernya.
Sasuke tersenyum, kemudian berucap, "Nah, kalau kaukembali menjadi Sakura dan sudah merasa seperti apa maunya Itachi-nii, apa yang akan kaulakukan?"
Seperti melihat bohlam bersinar di atas kepalanya, Sakura pun tersenyum lebar. "Aku akan memberinya minuman segar! Yang pastinya dingin dan berasa manis."
"Gadis pintar." Puji Sasuke tulus. Ia kembali bertanya, "Kalau begitu, setelah memberinya minuman segar, kauyakin Itachi-nii hanya ingin itu? Duduk lama di depan komputer kurasa cukup berpengaruh untuk tubuhnya. Jadi?"
Sakura terlihat berpikir sebentar, kemudian memberikan jawaban-atau pertanyaan- pada Sasuke. "Kalau sebuah pijatan?"
Sasuke mendengus bosan. Tampak tidak puas dengan jawaban ragu-ragu dari Sakura. "Aku tidak memberimu petunjuk untuk sebuah pertanyaan, Sakura."
"Jadi apa? Apa aku harus memijatnya?" Tanya Sakura tak sabar.
Sasuke menatap Sakura tajam. "Pikirkan saja sendiri." Ujarnya datar.
Perempatan siku-siku muncul di pelipis Sakura. Ia kemudian berdiri dari ayunannya dan memandang Sasuke tajam.
"Memangnya kenapa tidak kaukatakan saja jawabannya daripada memberiku petunjuk, Sasuke?" Geram Sakura. Merasa kesal? Jelas.
Lagi-lagi hanya dengusan bosan yang Sasuke perlihatkan. Ia menatap Sakura dengan mata dipicingkan. Memberi kesan yang lebih tajam di matanya.
"Kalau aku memberi jawaban, apa kautidak punya inisiatif untuk melakukannya sendiri? Dari jawabanku dan tidak dengan hatimu?"
Lagi-lagi Sakura tak bisa membantah kata-kata Sasuke. Ia menunduk malu dan menggeser sebelah kakinya secara abstrak. Kebiasaannya saat tak tahu harus berbuat apa.
"Maaf, Sasuke. Kaubenar. Aku memang harus yakin dengan apa yang aku lakukan." Ucap Sakura pelan.
.
.
Gadis bersurai merah muda itu hanya mematung di kamarnya. Mondar-mandir tidak jelas. Pikirannya penuh dengan apa yang sebaiknya ia lakukan untuk mengambil hati Itachi. Tidak sengaja ia melihat bayangannya di depan cermin dan berhenti berjalan tak jelas.
Bayangan di balik cermin itu menatap balik dirinya. Gadis yang memiliki paras wajah yang manis, rambut merah muda yang lembut, kulit putih tanpa cela -wajar saja. Ia masih memiliki darah orang jepang karena kakek dari ayahnya adalah orang jepang-, tubuh tidak terlalu kurus dan tidak gemuk dengan tinggi 150 cm, dan yang paling menarik dari dirinya adalah bola emerald besar yang mengisi matanya terlihat teduh dan indah. Keseluruhan fisiknya tampak seperti boneka, tapi itu tidak lantas membuatnya sombong. Lupakan soal dahinya yang 'lumayan' lebar. Itu tidak memperburuk wajahnya.
Sakura masih menatap dirinya di cermin. Untuk ukuran seorang perempuan, ia bisa dikategorikan perempuan di atas rata-rata baik dari segi kecantikan maupun kepintarannya. Hampir tidak ada cela. Kalau dipikir dengan fisik dan otaknya, ia mudah untuk menarik hati seorang Itachi.
Tapi masalahnya, Itachi adalah seorang gay atau bisa dibilang 'cenderung gay'. Meski Sasuke bilang Itachi tak pernah berciuman ataupun melakukan seks dengan laki-laki, tetapi tetap saja Sakura masih merasa was-was. 'Itachi-nii masih bisa disembuhkan', itu yang selalu Sasuke tekankan padanya. Itachi hanya butuh perhatian dan keyakinan dari seorang perempuan bahwa perempuan itu tidak akan menyakitinya sama seperti ibunya yang menyakiti Itachi, ayahnya, dan Sasuke.
'Itachi-nii hanya trauma. Trauma masa lalu. Ya.. Hanya trauma.' Ucap Sakura dalam hati seperti mantera yang memberikan efek penguatan pada batinnya.
'CEKLEK'
Sakura terpaku di tempatnya. Ia mendengar suara pintu terbuka dari arah pintu depan. Berarti Itachi sudah pulang.
Setelah memastikan penampilannya tidak aneh di depan cermin, Sakura bergegas berlari keluar kamar untuk menyambut Itachi.
"Selamat datang, Itachi-nii." sapa Sakura riang. Belum sempat Itachi menyahut, Sakura sudah lebih dulu berucap, "Ah, tunggu di sini sebentar." Suruh Sakura sambil berlalu pergi dari Itachi yang hanya menaikkan sebelah alisnya-bingung. Tapi ia tetap menunggu Sakura di tempat tadi.
Terlihat dari arah dapur Sakura membawa segelas cairan berwarna jingga dengan uap yang tampak seperti awan kecil bergerak cepat dan bergoyang-goyang di sekitar gelas.
"Ini," Sakura menyodorkan gelas tersebut pada Itachi yang langsung pemuda itu terima dengan kedua alis terangkat. "aku membuatkanmu jus jeruk, Itachi-nii. Kaupasti lelah bekerja seharian. Sini," ucap Sakura sambil mengambil tas dan jas Itachi. "aku akan membantumu menaruhnya di kamarmu. Itachi-nii duduk dulu di sofa di ruang keluarga dan tolong minum itu." tunjuk Sakura pada jus yang masih dipegang Itachi. Setelah selesai berceloteh panjang, ia pun bergegas ke kamar Itachi dengan langkah yang terlalu semangat.
"He-hei, Sakura!" Panggil Itachi agak nyaring karena Sakura yang sudah melesat menjauhinya. Itachi menghela napas lelah kemudian berucap, "Ya sudahlah." Kemudian nada selanjutnya kembali meninggi, "Terima kasih, Sakura!"
Setelah berterima kasih, Itachi pun menuju sofa dan duduk di atasnya sambil meminum jus jeruk dingin buatan Sakura yang memang menyegarkan tubuh dan pikirannya. Lalu menyandar dan melepaskan semua penatnya di sofa. Ia kemudian memejamkan matanya. Menyembunyikan onyx-nya yang terlihat sangat lelah.
Itachi berjengit ketika dirasakannya sebuah tangan yang memijat lembut bahunya. Ia lalu menoleh dan mendapati Sakura yang tersenyum padanya. "Kaumau apa, Sakura?"
"Aku pikir Itachi-nii lelah dan kurasa butuh sebuah pijitan. Maaf kesannya terlalu agresif, Itachi-nii. Aku hanya ingin membantumu." Ucap Sakura dengan lesu.
"Aa... Terima kasih, Sakura. Kauingin memijatku? Lakukanlah. Aku tidak keberatan. Senang bisa diperhatikan seperti ini." Itachi tersenyum lembut pada Sakura yang langsung dibalas seringai lebar dari Sakura.
Segera gadis bersurai merah muda itu mengambil posisi ke belakang Itachi dan mulai menaruh kedua tangannya di bahu pemuda itu kemudian memijatnya.
.
.
Malamnya, Sakura membuatkan Itachi sebuah teriyaki daging ayam yang langsung mendapat seringai lebar dari Itachi yang memang menyukai daging berbumbu manis itu –apalagi ia memang sangat lapar sekarang. Suasana malam yang tenang dengan dinner dadakan yang Sakura rencanakan bersama Itachi jauh-jauh hari terwujud juga malam itu.
Sakura menyiapkan dinner mulai dari makanan, meja dengan peralatan makan yang sudah ditata rapi, dan lilin merah yang menampilkan kesan romantis. Ia yang mengambilkan Itachi nasi dan menuangkan gelas Itachi dengan air. Benar-benar melayani Itachi dengan penuh perhatian. Membuat Itachi tersenyum sepanjang malam karena sudah lama ia tidak dilayani seperti itu.
Terakhir kali kenangan manis itu terukir oleh ibunya. Namun Itachi tidak mau mengingat ibunya lagi. Sakura yang sekarang sedang mengukir kenangan indah di hidupnya. Dan ia tak ingin kenangan itu terusik oleh hal lain yang mengganggunya.
Cukup seperti ini saja. Ia sudah cukup senang. Si kepala berambut kuning dan bermata biru itu hanya pelampiasannya yang haus akan kasih sayang setelah ditinggal ayahnya yang bekerja keluar negeri 6 tahun yang lalu dan adik yang disayanginya pergi, ah-Itachi tidak ingin mengingat itu lagi.
Malam ini, ia bahagia. Perhatian dari Sakura membuatnya tenang dan ia merasa dihargai dan disayang. Cukup seperti ini saja hidupnya. Ia tak ingin yang lain lagi.
Air mata itu menetes dari kelopak matanya. Mengaliri pipi sampai dagunya. Air mata bahagia yang tak ia sadari jatuh dengan sendirinya. Sakura yang melihat itu terkejut dan segera mengelap kedua pipi Itachi yang basah dengan ibu jarinya.
Jangan salahkan hatinya yang terlalu sensitif. Ia bukanlah lelaki yang lemah. Hanya saja ia adalah pemuda yang haus akan perhatian dan kasih sayang.
Itachi hanya diam meresapi hangatnya tangan Sakura. Mereka bertatapan cukup lama sampai keduanya menutup jarak dengan bibir yang bertemu mesra.
.
.
Sepasang onyx di balik dinding hanya menatap hampa dua insan yang berambut hitam panjang setengah punggung yang dikuncir dan rambut merah muda sebahu. Bibirnya terkatup rapat dengan senyum sedih yang tersirat di sana.
Kakak..., kau tahu?
Aku begitu iri padamu. Sangat.. Tubuhku rasanya terlalu dingin, Kak. Aku lupa bagaimana berharganya darah untuk menghangatkan ragaku. Tapi melihatmu senang sekarang, itu sudah cukup bagiku. Kau dan dia adalah anugerah terhebat dalam hidup..., dan matiku.
.
.
.
TBC
A/N : Sungguh nggak puas sama chapter ini. -_-"
Kondisi buruk. Sakit. Udah mulai disibukin sama kampus -,- aish...#malah curhat#
Bales review :
Tohko Ohmiya : Gak apa" Sebenarnya cenderung gay -_-v udah dijelasin di atas 'orang itu' cuma pelarian krn Itachi butuh perhatian :D haha.. bulu mata Itachi juga lentik kaya cewe XD aku juga buta arah :3 ini udah update :D
eL-yuMiichann : hai juga eL wah.. gak bisa kasi bocoran dulu nih tapi dia nggak sakit sehat malah :D ahaha.. wah.. soal fall in love, di chapter ini pasti keliatan Saku maunya sama siapa :D dua"nya XD #buagh! Makasih udah kasi masukan :D udah kujelasin Sakuranya di atas. Semoga dapat dimengerti :3 Makasih :3 Iya genre-nya udah kusesuaiin :D tp menurut sumber yg kubaca, Angst biasanya sad ending, bukan berarti selalu sad ending :3 jadi, aku mau sedikit bereksperimen dgn genre itu :D Unleash your imagination, right? ehehe#sokbahasanyaaa*plakk* Gak apa" :D
cruderabelica : kamu terlalu memuji -/-v Aku nggak begitu kok :3 kebetulan kemaren lagi libur dan kurang kerjaan makanya cepat :3 eheheh#plakk# Gak tau deh -_-v makasih ya :* maaf nggak sekilat kemaren update-nya :'(
Anonymous : iya :3 sudut pandangnya si Sakura :3 bener lagi :D selamat! Kamu dapet p*p mie!#plakk# wah.. pertanyaan yg satu itu, belum bisa aku bocorin jawabannya :D liat aja kelanjutannya. :D maaf nggak update cepet
Ano.. panggil aku Cesa saja, ya, tomodachi :D
Boleh minta kritik, saran, dan tanggapan tentang fic ini? :D
So, gimme ur review, please?
