.
.
.
Kakak..., kau tahu?
Aku begitu iri padamu. Sangat.. Tubuhku rasanya terlalu dingin, Kak. Aku lupa bagaimana berharganya darah untuk menghangatkan ragaku. Tapi melihatmu senang sekarang, itu sudah cukup bagiku. Kau dan dia adalah anugerah terhebat dalam hidup..., dan matiku.
.
.
.
Disclaimer : Naruto and all characters is belong to Masashi Kishimoto. This story is mine.
Genre : Angst & Drama
Rate : T
Pair : SasuSaku, ItaSaku & DeiIta
Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), Gak Jelas, etc. Umur karakter:
Sakura Haruno : 14 tahun
Sasuke Uchiha : 14 tahun
Itachi Uchiha : 22 tahun
Summary :
Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.
Let Me In
By
Uchiha Cesa
Gadis dengan mata beriris emerald itu masih terus menjaga kesadarannya meski malam sudah semakin larut. Ia menolehkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, tapi tetap tidak bisa melenyapkan kenangan indah itu. Saat ciuman pertamanya dengan rela ia berikan pada pemuda yang sudah dikenalnya semenjak 5 tahun yang lalu.
Alas kasur biru mudanya sudah kusut, begitu juga dengan surai merah mudanya. Pipinya yang merona merah dan bibirnya yang tidak bisa berhenti tersenyum selalu menghiasi wajahnya. 'Rasanya..., manis.' Selimut langsung menutupi kepalanya dengan terburu-buru saat memikirkan bagaimana rasanya dua bibir mereka bersatu. Pagutan yang terasa di ujung bibirnya membuat darah mengalir dan tertahan di tempat yang terhisap bibir. Meski sedikit saja terasa perih, namun ada perasaan bergejolak di dalam perutnya yang gadis itu tak tahu apa. Yang ia tahu, rasanya begitu nyaman, begitu membuatnya bebas.
Jari telunjuk dan tengahnya menyusuri sepanjang bibir ranumnya, ingin merasakan bagaimana sensasi bergejolak tak terdefinisi yang ia rasakan tadi. Basahnya, lembutnya, begitu memabukkan. Dan malam panjang itu terlewati dengan senyum manis terukir di wajah Sakura.
.
.
TOK TOK
Suara ketukan pintu menggema dari arah depan kamar tamu yang Sakura tempati. Tapi gadis itu bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk turun dari ranjang apalagi membukakan pintu kamarnya. Jangankan turun, Sakura saja enggan untuk membuka kelopak matanya. Ia ingat semalam tidur jam berapa hingga rasanya terlalu berat untuk sekedar menyapa matahari yang baru tampak di pagi hari.
Suara ketukan terdengar lagi. Namun kali ini dengan sapaan namanya oleh pemuda yang membuatnya susah tidur semalam, dan hal itu sukses membuat Sakura membuka matanya.
"Sakura? Kau di dalam?" Sapa-atau tanya- pemuda yang berdiri gelisah di balik pintu kamar Sakura. Ia takut Sakura marah akan sikapnya yang kurang ajar-mencium Sakura dengan tiba-tiba. Tapi Itachi hanya menuruti instingnya yang terpukau pada bibir ranum yang berjarak beberapa senti di depannya.
Suara bergedebukan cukup keras terdengar dari dalam kamar Sakura. Membuat Itachi melarikan bola onyx-nya kemana-mana dan mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Khawatir dengan suara tak jelas yang Sakura timbulkan di dalam. Tapi itu tak berlangsung lama saat suara kenop pintu terdengar dan daun pintu terbuka. Menampilkan sosok kacau dari seorang gadis yang meringis malu.
Itachi tersenyum lembut dan mengacak rambut Sakura gemas, membuat Sakura mengerucutkan bibirnya sebal karena penampilannya yang semakin kacau. Ingin rasanya Itachi mengecup bibir itu lagi, tapi keinginannya itu ia tahan. Takut kalau Sakura menganggapnya mesum.
"Ano..., Itachi-nii? Ada apa pagi-pagi kema-" Sakura menguap lebar yang segera ia tutupi dengan telapak tangannya."-ri? Lihat, rambutku jadi kacau." Ucap Sakura sambil menyingkirkan tangan Itachi yang besar dari puncak kepalanya.
Itachi terkekeh kecil, kemudian menyampaikan maksudnya mendatangi Sakura, "Aku minta maaf soal semalam," jeda sejenak, "aku tahu sikapku yang tiba-tiba semalam pasti membuatmu tidak enak padaku. Jadi a-hmb." Kata-kata itu terhenti saat Sakura menutup mulut Itachi dengan bibirnya.
Mata Itachi membelalak lebar saat Sakura semakin menekan bibirnya dan memberi pagutan lembut di sana. Rasa bergejolak asing di dasar perutnya memberikan sensasi menggelitik sekaligus menyenangkan baginya. Ia kemudian membalas pagutan Sakura dan meletakkan telapak tangan kanannya ke tengkuk Sakura. Menariknya dan memperdalam ciuman mereka. Rasa panas dari napas yang membaur di wajah kedua insan itu tidak dihiraukan. Dan ciuman cukup panas itu terlepas saat kebutuhan akan oksigen semakin menguat dibandingkan ego menghangatkan satu sama lainnya.
Mereka tidak saling bertatapan. Lebih tepatnya mengalihkan perhatian mereka dari orang yang berada di hadapan mereka masing-masing. Malu, pastinya.
Itachi tak pernah merasakan hal senyaman dan sebenar itu melakukan suatu hal kecuali apa yang mereka lakukan tadi. Ia merasa inilah yang ia butuhkan. Bukan sebuah perhatian semu secara sepihak yang diberikan Deidara padanya. Tapi kebutuhan akan saling memiliki dan mengasihi. Selama ini ia tak pernah bisa dekat dengan seorang wanita pun. Hanya Sakura yang bisa sejauh ini bersama dan berdialog dengannya. Bahkan 'menyentuhnya'.
Sedangkan Sakura, ia masih menunduk dengan wajah merona. Jantungnya berdentum keras sekali. Tak menyangka ia seagresif itu. Tapi ia memang tak ingin Itachi merasa tak enak padanya karena ia juga sebenarnya memang menginginkan hal 'itu'.
"Err..., Sakura? Soal yang tadi, aku minta maaf." Ucap Itachi pelan. Melihat gadis di depannya itu masih menunduk, ia kembali khawatir.
Sakura kemudian mendongakkan kepalanya dengan senyum kikuk. Berusaha menghindar dari menatap sepasang bola onyx Itachi. "A-aku yang seharusnya minta maaf, Itachi-nii." Ucap Sakura terbata-bata. Ia berjengit tatkala tangan besar nan hangat milik Itachi bertengger di pipinya dan mengangkat wajahnya.
Emerald dan onyx saling menatap lurus dan dalam.
"Tidak apa. Terima kasih, Sakura." Senyum lembut masih terpeta di wajah tampan itu. Sakura tak bisa mengalihkan pandangannya dari apapun selain wajah rupawan itu. Namun tatapannya teralihkan saat bel rumah berbunyi. Itachi menolehkan kepalanya sebentar ke arah pintu depan dan kembali menatap Sakura. "Sepertinya ada tamu. Aku mau buka pintu dulu. Sebaiknya kau mandi, Sakura." Setelah melempar senyum, ia pun bergegas pergi dari hadapan Sakura.
.
.
CEKLEK
"Ah, Deidara-kun." Sapa Itachi sambil tersenyum. Tapi bukan seperti senyum yang biasanya ia berikan pada kekasihnya itu. Raut bersalah lebih mendominasi di wajahnya, membuat Deidara memicingkan matanya pada Itachi. Menelisik lebih jauh perihal ekspresi orang yang dicintainya.
Setelah Itachi mempersilakan Deidara masuk ke dalam dan menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu, ia pun bergegas pergi mengambilkan air untuk pria tampan berambut pirang panjang dan bermata biru yang sepantaran dengannya itu. Deidara memperhatikan keadaan sekitar. Tidak ada yang berubah sampai ia melihat helai rambut merah muda yang tergeletak di lantai. Segera ia mengambilnya dan mengernyit bingung. 'Rambut manusia, eh? Seorang gadiskah? Mustahil...' pikir Deidara. Tapi ia merasa harus menanyakan langsung hal itu pada Itachi nanti.
Itachi kemudian datang dengan segelas air putih dingin di tangannya. Eskpresinya masih tidak berubah dari yang tadi. Membuat pemuda berambut pirang itu tak sabar untuk bertanya.
"Ne, Itachi-kun. Kau baik-baik saja?" Tanya Deidara khawatir. Ia segera menerima gelas yang Itachi sodorkan padanya tapi belum meminumnya. Ia masih menatap pemuda bersurai hitam berkuncir yang mengambil tempat duduk di depannya. Keberadaan mereka dipisahkan oleh meja kayu berukir klasik.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu, Deidara-kun?" ucap Itachi pelan. Menatap lawan bicaranya yang tampak tak percaya padanya.
"Kau tidak tampak baik-baik saja." Kilah Deidara sambil memicingkan matanya. Ia kemudian menyodorkan telapak tangan yang di atasnya terdapat sehelai rambut merah muda pada Itachi. Itachi sempat melebarkan kelopak matanya sedikit, tapi itu tidak tertangkap oleh Deidara. Yang ia lihat hanyalah ekspresi datar dari kekasihnya. "Ini rambut siapa, un?"
Itachi berusaha menenangkan pikirannya dan memilih kata-kata yang tepat agar Deidara tidak mengamuk. Ia tahu betapa mengerikannya pasangan gay-nya itu saat cemburu.
Pernah suatu hari seorang gadis berambut biru terang tidak sengaja menumpahkan air di jas Itachi. Saat itu mereka sedang makan siang bersama. Saat Deidara melihat si gadis yang berusaha untuk mengeringkan jas Itachi dengan sapu tangannya, Deidara segera menangkap pergelangan tangan gadis itu erat dan mengibaskan tangan itu keras ke udara dan suara derak mengerikan yang terdengar dari tulang siku gadis itu menyusul kemudian.
Suara teriakan pilu dan tangisan histeris keluar dari bibir gadis itu yang kini terjatuh ke lantai sambil memegangi sikunya. Mengundang banyak mata yang menatap heran pada mereka. Dan saat seseorang dari mereka membantu sang gadis untuk berdiri, terkejut dan berteriak saat melihat tangan sang gadis yang berada di samping tubuhnya dengan bentuk tak wajar. Sedikit bengkok dengan tulang yang terlihat menonjol di kulit putihnya. Semua mata yang melihat kejadian tersebut ada yang berteriak panik dan ada yang menutup mulut mereka dengan tatapan tak percaya. Sedangkan saat Itachi melirik sang pelaku yang membuat tangan gadis itu tak wajar terlihat tersenyum puas seperti seorang psycho –atau memang iya?
Akhirnya Deidara bertanggung jawab membayar biaya rumah sakit untuk perawatan tangan gadis itu sampai sembuh total karena Itachi yang memaksanya.
Itachi kemudian menjawab pertanyaan Deidara dengan suara datar, "Itu rambut Sakura. Gadis dari Indonesia yang berlibur ke sini. Dia keluarga jauhku." Ia dapat melihat ekspresi tak suka dari Deidara.
"Oh." Balasnya singkat. Keadaan pun menjadi hening sampai Deidara bangkit dari duduknya dan menuju tempat Itachi. Tubuhnya agak merendah-menyejajarkan tubuhnya dengan Itachi lalu melempar tangannya ke sekeliling tubuh Itachi dan memeluk pemuda itu. Ia lalu berbisik, "Apa kau suka padanya, Itachi-kun?" Tanya Deidara dengan suara rendah, namun sekaligus terdengar berbahaya. Ia meletakkan dagunya di bahu Itachi dan mengelus rambut hitam panjang itu.
"Entahlah, Deidara-kun." Jawab Itachi. Tidak ingin salah berucap dan tak ingin membohongi kekasihnya. Ia balik memeluk Deidara. Rasanya sudah lama tidak mendapat pelukan hangat seperti itu.
"Dengar, Itachi-kun. Kau milikku. Selamanya tetap milikku." Deidara kemudian mengambil helai hitam itu dan menciumnya dalam. Lalu mengeratkan pelukan mereka. Ia benar-benar tidak ingin siapapun mengambil Itachi darinya.
Tubuh Itachi menegang. Ia bingung sekarang. Sangat, malah. Satu sisi ia memang menyayangi Deidara yang sudah menjadi tempat berbagi susah dan senang selama ini. Tapi di sisi lain ia tidak memungkiri jika gadis berambut merah muda itu mulai ikut mendominasi hati dan pikirannya. Sekarang ia benar-benar merasa dipermainkan nasib.
Tanpa Itachi duga, Deidara mengendurkan pelukannya dan mundur, mengincar leher putih dan jenjang milik Itachi untuk menjadi pendaratan bibirnya. Tubuh Itachi menegang kembali. Ciuman Deidara yang diberikan di lehernya dengan lembut dan pelan itu membuatnya merasakan gejolak sensasi yang dirasakannya saat berciuman dengan Sakura. Itachi menahan napas saat ciuman itu berubah menjadi hisapan kuat di lehernya. Rasanya perih, tapi juga nikmat, itu yang Itachi rasakan. Itachi mengeratkan pelukannya untuk meredakan rasa perih yang menyerangnya untuk sesaat. Setelah memberi tanda, Deidara menjilat bekas hisapannya yang berwarna merah dengan lembut. Setelah itu, ia menatap wajah Itachi yang memerah. Dan hal itu membuat Deidara tersenyum puas.
Deidara kemudian melangkahkan kakinya dan kembali duduk di tempat awalnya. Ia kemudian menyeringai melihat tingkah Itachi yang tidak mau melihat matanya langsung. "Kau kenapa, Itachi-kun. Hei, lihat aku." Ucap Deidara dengan nada menggoda. Ia kemudian menenggak air di gelasnya sampai habis. Jakunnya naik turun, membuat Itachi mengalihkan onyx-nya memandang leher kekasihnya itu. Ia menelan ludah gugup. Leher itu jenjang, putih dan bersih. Begitu menggoda.
Tapi ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sepertinya ia butuh sesuatu untuk membersihkan isi otaknya yang mulai terkontaminasi kemesuman adiknya yang telah tiada. Seketika ia terkesiap saat memikirkannya. Otaknya buntu. Sekarang hanya ada penyesalan yang menusuk dadanya dalam.
Deidara yang melihat perubahan wajah Itachi yang menjadi muram, segera meletakkan gelasnya di atas meja. "Itachi-kun ada masalah, un? Ceritakan padaku." Ucap Deidara dengan nada tak sabar.
Kepala Itachi bergoyang ke kanan dan kiri-menggeleng pelan. "Hanya teringat adikku."
Deidara memandang tak suka saat Itachi kembali sedih. Ia lalu segera mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kau tak masuk kerja, Itachi-kun? Ini sudah jam 10." Ucapnya sambil melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. "Bukannya kau ada jadwal kerja hari ini, un?"
"Aku..., kesiangan." Jawab Itachi jujur. Menghindari tatapan bingung dan kemudian takjub yang ditampakkan oleh kekasihnya. Kemudian ia kembali beralih pada Deidara dengan tatapan bertanya.
"Aa... Aku tahu kau tidak masuk karena aku mengunjungimu ke kantor tadi. Tapi mereka -orang-orang di kantor- bilang kau tidak masuk dan memberi mereka kabar." Jelas Deidara saat melihat pandangan bertanya yang dilayangkan kekasihnya padanya. Ia kemudian tertawa geli. "Tumben kau bangun kesiangan, Itachi-kun. Apa yang kau lakukan semalam, un?"
"Tidak ada apa-apa. Aku memang hanya tidak bisa tidur semalam." Elak Itachi. Ia sungguh tidak ingin membahas ini. Yang ia pikirkan hanyalah cepat-cepat memberitahukan ketidakhadirannya hari ini pada atasannya.
Deidara tahu ada yang disembunyikan Itachi darinya. Dari kecil mereka sudah saling mengenal dan ia hapal setiap gerak-gerik dan tiap kata dari orang yang dicintainya itu. Tapi memilih untuk tidak mempermasalahkan itu, ia kemudian mengangguk singkat.
Obrolan singkat dan ringan pun mengalir di antara mereka. Membunuh perasaan rindu yang sudah lama menggerogoti hati masing-masing.
.
.
Sakura masih terisak tertahan di kamarnya saat ia melihat adegan mesra yang diperagakan dua lelaki berwajah rupawan yang salah satunya adalah orang yang dicintainya. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa Itachi masih bisa disembuhkan, hanya trauma, dan kata-kata lain yang menenangkan hatinya. Tapi kejadian tadi menghempaskan asanya dengan begitu kejam.
Ia masih ingat saat ia keluar dari kamar mandi dan melihat-mengintip- Deidara memeluk Itachi dan mencium rambut lelaki itu. Kemudian Itachi yang balas memeluknya. Dan kejadian itu ditutup dengan tanda yang Deidara berikan di leher Itachi. Membuat Sakura sesak sampai rasanya ingin mati. Seharusnya ia sudah siap melihat itu semua. Tapi melihat kejadian itu langsung membuat airmatanya susah untuk ditahan.
Sedaritadi pula Sasuke menemaninya menangis di kamar. Menenangkannya meski lebih banyak mencemooh kecengengannya.
"Sampai kapan kau ingin menangis, Sakura?" Geram Sasuke dengan nada tak sabar. Ia benci dan risih melihat gadis yang dikagumi dan mulai disukainya itu menangis. Ia sangat tak suka keadaan seperti ini.
Ia mondar-mandir mencari akal agar Sakura berhenti mengeluarkan air penuh emosinya itu. Aha! Sakura pernah bilang senyumannya bisa menghibur Sakura. Segera saja ia mendekati gadis yang masih sesenggukan di atas kasurnya itu.
Rasanya agak konyol untuk tersenyum seperti itu. Tapi, Sasuke tak punya pilihan lain. Ini demi Sakura! Itu yang diyakininya. Maka dari itu, ia memberanikan diri untuk mengeluarkan senyum yang menurut orang-orang membuatnya sangat tampan.
"Hei, Sakura." Panggil Sasuke sambil memamerkan senyuman yang jarang ia perlihatkan. Wajahnya terlihat sangat tampan. Tapi Sakura hanya melongo memandangnya. Mungkin akibat dari otaknya yang belum bisa berpikir tenang.
"Kenapa tersenyum? Kau mengejekku? Seperti orang gila saja." Ucapan Sakura sukses melunturkan senyum di wajah Sasuke. Ekspresi pemuda itu kembali dingin.
"Kau bilang aku bisa menghiburmu dengan tersenyum. Sial! Tidak berguna sama sekali." Keluh Sasuke kesal.
"Eh? Hihi... Kau bermaksud begitu, ya?" Tanya Sakura sambil terkekeh kecil. Menyesal sudah menyebut Sasuke seperti orang gila. Ia kemudian menghapus airmatanya dengan cepat dan tersenyum hangat pada Sasuke. "Maafkan aku, Sasuke."
"Tidak apa." Balas Sasuke singkat sambil menatap ke arah lain selain Sakura.
"Kau marah?" Tanya Sakura bingung.
"Tidak." Jawab Sasuke cepat.
"Iya. Kau sedang marah." Balas Sakura tak mau kalah.
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
"Tidak."
"I-aaah..., sudahlah. Kau mempermainkanku." Ucap Sasuke kesal yang hanya dibalas dengusan geli dari Sakura.
Untuk sementara sepertinya Sakura butuh pengalihan perhatian dari masalah yang membebaninya. Dan ia bersyukur Sasuke ada di saat ia terpuruk seperti ini. Sasuke seperti malaikat saja! Pikirnya.
"Makanya, mengaku saja." Ucap Sakura sambil membelitkan kedua lengannya di dada. "Kau tidak seperti orang gila, Sasuke Uchiha. Aku benar-benar minta maaf sudah mengataimu seperti tadi." Ucap Sakura dengan nada bersalah. "Kau tahu? Kalau kau tersenyum seperti tadi, semua majalah ataupun fotografer terkenal akan mengontrakmu. Kau cocok jadi model." Puji Sakura tulus dan dibalas dengusan bosan dari pemuda itu.
"Aku tidak tertarik." Jawab Sasuke. Singkat, tepat, dan mewakili pikirannya.
"Ah, kau itu."
.
.
"Jadi, boleh aku berkenalan dengan yang namanya Sakura itu?" Tanya Deidara pada Itachi yang langsung memudarkan senyumannya. Tapi ia tidak bisa menolak keinginan pemuda berambut pirang itu.
"Tentu saja. Tunggu sebentar." Suruhnya pada Deidara yang memberikan senyum tak ikhlas padanya.
.
"Sakura? Kau di dalam?" Tanya Itachi diselingi mengetuk pintu kamar Sakura.
.
"Hah?!" Sakura terkejut karena Itachi berada tepat di balik pintunya. "Sasuke, bagaimana ini?" Tanyanya panik pada pemuda yang masih berekspresi datar di depannya.
"Aku akan sembunyi di balik jendela kamarmu. Kau keluarlah." Suruh Sasuke pada gadis yang masih panik itu. Saat Sakura akan membuka pintu kamarnya, suara Sasuke menahan gerakannya. "Ah, Sakura. Ingat. Kau harus berhati-hati pada laki-laki bule itu. Jangan membuat sesuatu yang memancing emosinya." Sasuke memperingatkannya. Kemudian berlalu membuka pintu jendela kamar Sakura dan bersembunyi di balik dinding setelah menutup jendela itu kembali.
Sakura segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Itachi tersenyum cemas. "Ada apa, Itachi-nii?" Tanya Sakura dengan senyum kaku di wajahnya seperti orang sakit gigi.
"Ikut aku. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang." Perintah Itachi sambil menarik pergelangan tangan gadis itu. Sakura terkejut dan hanya mengekori Itachi di belakangnya sambil melepaskan tangannya dari Itachi. Tak ingin Deidara salah paham nanti.
Sakura dibawa ke ruang tamu tempat Deidara duduk dan di sanalah pemuda bule itu -duduk membelakangi kedatangan mereka.
"Deidara-kun." Panggil Itachi. Membuat pemuda pirang itu menoleh padanya dan tersenyum kaku pada gadis berambut merah muda yang berdiri di belakang Itachi.
"Kau pasti Sakura. Namaku Deidara. Salam kenal." Ucap Deidara dengan nada riang yang dibuat-buat. Ia berdiri dari duduknya dan menjabat tangan Sakura.
"Sakura Haruno." Sakura menyebut nama panjangnya sambil menjabat tangan Deidara dengan sedikit ragu. Tidak tahu apa yang diucapkan oleh pria bule berbahasa Jepang di depannya itu. Tangannya cukup diremas kuat saat tangan mereka beradu dan membuatnya mengernyit. Tapi tangan mereka terlepas saat Itachi menginterupsi mereka dengan sebuah dehaman.
"Oke. Cukup perkenalannya. Deidara-kun, Sakura tidak bisa bahasa Jepang. Jadi maaf jika dia tidak membalas salammu." Ucap Itachi pelan.
Deidara tersenyum mengejek dan Sakura melihatnya, tapi tidak dengan Itachi yang menoleh pada Sakura tadi. Saat Itachi menatap Deidara, segera ia menggantinya dengan senyum maklum. 'Dasar muka koin!' batin Sakura.
"Tak apa, Itachi-kun. Aku mengerti." Ucapnya tersenyum lembut pada Itachi. Mengesampingkan rasa jengkel pada gadis bermata emerald yang balik memandangnya dengan wajah yang seperti menaruh dendam kesumat. "Ah, sepertinya aku harus pergi. Sampai ketemu lagi, Itachi-kun dan err..., Sakura-san." Pamit Deidara dan pergi dari rumah itu yang diantar Itachi sampai ke depan pintu rumah.
.
.
"Ano..., Itachi-nii. Kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Sakura.
"Tidak. Aku sudah meminta izin dengan atasanku tadi, Sakura. Lagipula baru kali ini aku membolos. Jadi kau tenang saja. Mereka bisa memakluminya." Ucap Itachi sambil tersenyum kecil menenangkan Sakura yang menunjukkan wajah bersalahnya.
"Syukurlah kalau memang seperti itu." Ucap Sakura pelan.
"Itachi-nii mau kubuatkan sesuatu?" Tawar Sakura sambi tersenyum.
"Kalau tidak keberatan, buatkan takoyaki untukku, ya?" Ujar Itachi sambil mengerling padanya yang dibalas seringaian Sakura.
"Baiklah. Itachi-nii tunggu saja sambil nonton TV. Maaf kalau sedikit lama." Sakura segera berlari ke kamarnya dan membuka laptop Sasuke yang dengan seizin pemiliknya ia simpan di kamarnya. Mencari cara memasak takoyaki di internet dan meng-copy-paste ke dalam Microsoft Word. Kemudian ia mengeluarkan kabel datanya dan menghubungkan ponselnya dengan laptop. Kemudian mengirim M.S Word itu ke document ponselnya. Setelah selesai, ia pun melenggang pergi dengan semangat menuju dapur dengan ponsel tergenggam erat di tangan kanannya.
Saat ia di kamar tadi, ia sempat melihat Sasuke yang masih berada di kamarnya memandang ke arahnya sambil tersenyum dan mengucapkan kata-kata penyemangat ala Sasuke padanya. Itu memang membuat mood Sakura yang sangat buruk tadi menjadi membaik.
.
.
Sakura membawa piring berisi makanan berbentuk bola berdiameter 3 cm dengan warna jingga agak kecokelatan yang terlihat gurih dan lezat yang masih mengepulkan asap di sekelilingnya. Takoyaki ala Sakura. Bagaimanapun ia harus terbiasa membuat makanan Jepang untuk pemuda yang dicintainya itu. Siapa tahu berjodoh.
Pemuda yang sedang menonton acara TV itu menolehkan kepalanya pada Sakura yang membawakan cemilan pesanannya. Ia segera mengambil piring itu dari tangan Sakura dan segera mengambil salah satu bola makanan itu dengan garpu dan langsung mencicipinya-sebelumnya ia meniupnya terlebih dahulu.
"Woah..., ini enak, Sakura." Puji Itachi tulus sambil kembali mencomot satu takoyaki lagi.
Sakura merona karena dipuji seperti itu. "Terima kasih, Itachi-nii. Ngomong-ngomong, mau minum apa?" tanyanya.
"Yang segar-segar saja, Sakura." Jawab Itachi dengan senyum senang di wajahnya.
"Baiklah."
.
Sakura dan Itachi bercakap-cakap sambil menonton film berbahasa Indonesia -yang Itachi beli dulu di negara khas batik itu- ditemani cemilan enak dan minuman segar. Suasana hangat yang terajut di antara mereka membuat benih-benih cinta tumbuh semakin subur. Melepaskan fakta bahwa si lelaki mempunyai komitmen dengan pasangannya yang terlarang. Cukup seperti ini saja, hati mereka menghangat dan saling mengisi satu sama lainnya. Mengabaikan satu makhluk lain yang menatap iri pada mereka.
.
.
Andai airmataku tak mengering mengikuti jasadku, mungkin saja parasku sudah dihujani airmata...
.
.
.
TBC
A/N : Ano..#blush# gara-gara kemarin mimpi ciuman sama pacar dan rasanya kaya nyataaa banget, jadi pengen bikin adegan ItaSaku kissing lagi..#buagh
Sekalian pengen ngebuat Itachi sadar klo dia ngelakuin hal bener sama perempuan dan bukan sama laki-laki.. eheheh#plakk
Padahal sendirinya gak pernah ciuman#huaaaa...*ngais-ngais pasir-cari emas-loh?*
Jadi maaf klo feel-nya kurang dapet#ojigi
Aku ini SasuSaku lovers sebenarnya. Tapi jadi sedikit menyukai ItaSaku. Suka aja liat karakter dewasa sama anak yg lebih muda kaya Sakura disatuin.. mueheheh~
And whaaaat? Jadi DeiIta dan parahnya lagi Itachi di sini jadi UKE!#plakk+buagh!
Sebenarnya aku juga seorang Fujoshi. Waktu SMP malah Fujoshi tingkat sedang-loh?- malah.. hahaha XD Jadi pas bikin fic ini, diriku harus memiliki hati straight sekaligus yaoi#plakk
Eum.. apalagi yah? Segitu aja deh bacotannya XD
Bales review:
AikhaTheLittleCherryBlossom : Masih lanjut kok :3 ini udah semangat lagi :D nggak gampaaar#ngasipermen.. ehehe
cruderabelica : ini udah panjang? maaf yaaah D'X
Tohko Ohmiya : makasih!#pelukpeluk# Aku juga kasian sama Sasu sa tp ini hanya tuntutan plot yg sudah kubuat.*lirik"catatanplotdiponsel* iyaaa.. orang itu loh?! XD *triple loh?*
eL-yuMiichann : maksudnya ya pergi :D aduh.. susah mau bilang. Tp pokoknya ikutin terus ceritanya ya :D Ganbarimasu :D
hanazono yuri : aku juga setuju ItaSaku XD #plakk# sama Ini cukup kilat kan? :3
Oke. Makasih ya, Kawan :D yang udah baca, komentar, fav dan follow ini fic abal :3
Review lagi? XD#plakk
Aku tahu fic ini jauuuuh dari kata sempurna tapi saya sudah berusaha semoga tidak kecewa
Aku butuh kritik, pendapat dan saran dari minna-san
So, gimme ur review, please?
