.
.
.
Andai airmataku tak mengering mengikuti jasadku, mungkin saja parasku sudah dihujani airmata...
.
.
.
Disclaimer : Naruto and all characters is belong to Masashi Kishimoto. This story is mine.
Genre : Angst & Drama
Rate : T
Pair : SasuSaku, ItaSaku & DeiIta
Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), Gak Jelas, etc. Umur karakter:
Sakura Haruno : 14 tahun
Sasuke Uchiha : 14 tahun
Itachi Uchiha : 22 tahun
Summary :
Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.
Let Me In
By
Uchiha Cesa
Sepeninggal Itachi yang pergi bekerja, Sakura hanya berdiam diri di kamarnya. Punggungnya ia sandarkan di kepala ranjang, kakinya ia selonjorkan malas-malasan, dan tangannya masih setia memutar-mutar ponselnya-kebiasaannya saat sedang bosan. Kepalanya tertoleh ke arah ponselnya saat didengarnya benda itu berdering mengalunkan nada pemberitahuan SMS masuk. Ia segera duduk tegak dan membuka pesannya.
Sakura, kau CURANG! :O
Pupil mata Sakura melebar, segera ia melarikan matanya untuk melihat siapa pengirimnya. Naruto?
Sakura mendengus kecil sambil mengetikkan pesan balasan pada sahabat dari kecilnya yang berdarah setengah Amerika itu.
Hei, Mister Pirang. Apa kabar? :D
Beberapa detik setelah pesannya terkirim, Naruto dengan cepat membalasnya.
Aku buruk. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau ke Jepang, Sakura?! Bagaimana kalau ada orang jahat yang menculikmu, lalu memperkosamu, memutilasimu, dan membuang jasadmu ke-aaargh...! Aku tidak mau membayangkannya! :'(
Sakura terkikik melihat isi pesan dengan seluruh ungkapan emosi Naruto itu, daripada membuat sahabatnya itu khawatir, ia segera menekan tanda telepon hijau untuk menghubungi sahabat pirangnya tersebut.
Tidak butuh 2 detik sampai Naruto mengangkat teleponnya, dan sambutan suara teriakan Naruto dari sana membuatnya menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"SAKURAAA! AKU KANGEN!" Teriak Naruto; antara marah, kesal dan sedikit merajuk di sana.
"Kau berisik, Naruto!" Sahut Sakura tajam yang dibalas 'huuu' oleh Naruto. "Maaf sebelumnya aku tidak memberitahumu," Ucapnya dengan nada bersalah, kemudian melanjutkan, "aku tahu kau pasti akan memaksa ikut. Maaf saja. Aku ingin menyelesaikan sesuatu sendiri di sini." Kali ini nadanya berubah menjadi ejekan seakan Naruto akan menjadi parasit baginya.
"Kau kejam sekali, Sakura. Curang! Dasar jahat! Keluar negeri sendirian. Aku kan juga ingin merasakan salju di sana." Ucap lelaki bersuara cempreng-serak-berat di seberang telepon dengan menggebu-gebu.
Sakura tak bisa menahan tawanya. "Salju apanya? Ini baru akhir bulan februari. Jelas-jelas masih musim semi di sini. Kau tidak akan menemukan setitik kristal salju pun yang melayang di udara saat ini."
"A-aku kan t-tidak tahu kapan musim di sana berganti, Sakura...," Ucap Naruto terbata. Sepertinya dia malu. "jadi, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, Kawan. Bagaimana kabar paman Minato dan bibi Kushina?" Tanya Sakura.
Ia teringat kedua orangtua dari sahabatnya itu selalu saja bersikap baik dan ramah padanya saat ia berkunjung ke rumah mereka yang besar. Ia masih ingat bagaimana ayah Naruto yang adalah seorang walikota itu sibuk dan jarang berada di rumah. Membuat Kushina sering sekali memanggilnya untuk main ke rumah, karena rumah mereka yang berhadapan dan terpisah oleh jalan yang cukup lebar-dan juga karena Sakura adalah sahabat Naruto, tentunya. Berbagi berbagai hal, dan itu terasa menyenangkan bagi Sakura. Ah, ia jadi kangen bibi Kushina.
"Ayah sibuk seperti biasa, kau tahu? Tapi dia sehat, ibu juga. Ibu sering sekali menanyakanmu. Kangen, sama sepertiku. Hahaha..." Jelas Naruto dengan suara tawa canggung.
"Hahaha... Aku juga kangen sama bibi Kushina. Kuharap ia tidak kesepian di sana." Sahut Sakura dengan tulus.
"Sakuraaa..., kejaaaam!" Rengek Naruto dengan suara sedih yang kentara sekali dibuat-buatnya. Membuat alis Sakura terangkat sebelah. "Kau tidak kangen padaku? Tidak mengkhawatirkanku?" Cecar Naruto yang membuat Sakura tertawa terpingkal-pingkal.
"Ahahaha... Kau itu, Naruto. Aku juga kangen padamu."
Hening. Sakura bisa menebak sahabatnya itu menyeringai senang di sana.
"Kutebak. Kau sedang tersenyum 5 jari sekarang, kan?" Sakura terkikik geli.
"Ap- ah, tidak!" Kilah Naruto dari seberang.
"Jangan menggaruk pipimu." Suruh Sakura. Dia sudah hapal mati dengan sikap sahabatnya itu.
"Siapa yang menggaruk pipi?" Tantang Naruto.
"Kau. Tidak usah berdiri dengan mata membelalak begitu. Ahahaha..." Sakura masih terkikik geli dan sesekali tawanya terlepas.
"Aaargh..., kau itu, Sakura." Keluh Naruto. Jelas sekali semua tebakan Sakura benar padanya. "Jadi, kau tinggal di mana selama di sana? Kau kesepian?"
Sakura menghentikan tawanya dan senyum kemenangan terpahat jelas di wajah manisnya. "Ee.., aku tinggal di rumah kak Itachi, aa-" sela Sakura saat mendengar Naruto yang akan menyelanya. "-Itachi-nii. Orang yang kau kenal. Kakak laki-laki favoritmu dari Jepang," Sakura tersenyum saat Naruto memberi respon 'Ooh' padanya. "dan aku tidak kesepian." Ucap Sakura riang.
"Oh, yeah? Siapa temanmu di sana selain Itachi-nii? Kau bilang tidak kesepian. Aku jadi iri padamu~" Lagi-lagi terdengar nada sedih yang dibuat-buat oleh pemuda pirang itu.
"Tidak ada alasan bagimu untuk iri padaku, Naruto." Sahut Sakura enteng. "Kau bisa menyusulku kapanpun kau mau."
"Benar juga, sih.. Hehehe..." kekeh Naruto pelan. "Ceritakan padaku soal teman-temanmu di sana." Sambung Naruto semangat.
"Temanku di sini hanya Itachi-nii dan adiknya, Sasuke Uchiha. Kau tahu? Dia itu lelaki paling menyebalkan, paling sadis omongannya, paling dingin, paling angkuh, paling misterius, dan yang terakhir ini aku harus akui kalau ia lelaki paling tampan yang pernah kulihat." Ucap Sakura berapi-api dengan kekehan kecil di akhirnya. Berlebihan, memang. Tapi Sakura hanya menjawab Naruto dengan sejujur-jujurnya ia.
"Eeeh?!" Suara Naruto terdengar shock. "Memang ada yang lebih tampan dariku? Kulitku eksotis, rambutku pirang dan mataku biru mempesona seperti indahnya laut, wajahku pun sangat tampan. Kenapa kau bilang dia lelaki paling tampan yang pernah kau lihat, Sakuraaa?" Teriak Naruto frustasi sekaligus bernarsis-ria yang dibalas gelak tawa oleh si penelepon.
"Ahahaha... Cukup, Naruto. Kenarsisanmu itu membuatku sakit perut." Suruh Sakura. Bisa ia bayangkan sekarang, wajah Naruto triple cemberut dari yang biasa ia lihat.
"Ya sudah. Ceritakan pemuda 'paling-tampan-yang-pernah-kau-lihat-itu'." Sungut Naruto yang membuat Sakura kembali terkekeh geli untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"Jadi begini,-"
-dan percakapan antar dua sahabat yang sudah bersama sejak bayi itu pun mengalir lancar dengan beberapa perdebatan kecil. Tapi wajar, mengingat keduanya sudah menganggap satu sama lainnya sebagai saudara sendiri. Jadi pertengkaran kecil sudah wajib ada di sepanjang obrolan mereka, sebagai bentuk dari murninya rasa sayang seorang saudara yang mereka deklarasikan masing-masing di dalam hati.
.
.
"Membicarakanku, eh?" Suara baritone itu sukses membuat Sakura terlonjak kaget dan membuat ponsel yang dipandanginya tadi meluncur jatuh dari tangannya. Untung saja jatuh ke kasur. Ia baru saja memutuskan hubungan teleponnya dengan Naruto.
"Astaga, Sasuke. Kau selalu mengagetkanku. Menguping, huh?" Nada kesal tak berusaha Sakura sembunyikan. Menatap pemuda tampan yang mulai melangkah mendekatinya itu sengit.
"Tidak. Saat aku ingin mengetuk pintu kamarmu, aku mendengarmu bicara seperti ini: Kau tahu apalagi? Sasuke itu lagi main sembunyi-sembunyi dengan kakaknya! Bisa kau bayangkan betapa kekanak-kanakan sekali ia yang ingin memberi kejutan sama Itachi-nii. Seperti seorang bocah TK saja. Haha.." Jelas Sasuke sambil meniru perkataan Sakura dengan nada datar dan tawa hambarnya.
Rona merah tampak makin menggelap di wajahnya. Pertama, aku malu karena ketahuan bergosip dan menjelekkan Sasuke di belakang orangnya. Kedua, aku tidak suka pembicaraanku dicuri-dengar oleh orang lain apalagi yang bersangkutan-oke, aku akui aku salah di sini. Ketiga, kalian dengar? Sasuke menirukan omonganku tanpa sedikitpun kata yang salah-aku akui Sasuke jenius karena mengingat kata-kata yang cukup panjang yang ia dengar sekilas, mampu diulangnya secara sempurna- tapi nadanya itu, Saudara-saudara? Nadanya itu meremehkanku sekali! Batin Sakura mulai merusuh di dalam pikirannya seakan-akan banyak audiens yang mendengarnya.
Sasuke tersenyum miring melihat ekspresi Sakura yang campur aduk dan berubah-ubah setiap 5 detik. Rasanya ia berdosa membohongi gadis yang ia suka-ehem- cintai itu. Ya, Sasuke mau tak mau harus mengakui perasaannya. Entah sejak kapan dan karena apa hingga hatinya yang sudah membusuk itu masih bisa mencintai seorang wanita polos di hadapannya tersebut. Mungkin karena terpesona dengan kehebatannya yang mulai menarik perhatian kakaknya-atau karena hal lain? Entahlah. Sasuke tak tahu dan tak ingin memikirkannya. Yang ia tahu, ia ingin menjaga gadis itu lebih lama lagi. Cukup menyembunyikan fakta ini saja. Toh, ia juga senang jika Sakura bisa tersenyum walau sedikit saja. Meskipun senyum itu bukan dari ataupun ditujukan untuknya.
"Jangan bahas itu, Sasuke. Mau apa kau kemari?" Tanya Sakura-mengalihkan pembicaraannya. Ia tak mau membahas hal memalukan itu. Demi tuhan!
Wajah Sasuke masih datar. Ia mengambil waktu untuk duduk di tepi ranjang Sakura, kemudian menatap iris hijau teduh itu lurus dan dalam. Menyelami isi hati sang gadis, sekaligus terpesona pada warna yang dulu tak pernah ia suka itu. Namun, gadis ini memiliki sesuatu yang berbeda dari iris warna lainnya. Begitu menenangkan. Setidaknya itulah yang Sasuke nilai pada diri Sakura.
"Apa kau lupa kejadian kemarin?" Tanyanya pelan. Masih memandang kolam hijau bening itu.
Sakura terlihat berpikir dan beberapa detik kemudian, pandangannya kembali sendu. "Ya." Hanya itu yang bisa ia jawab. Sebenarnya ia tak ingin membahas hal menyesakkan itu. Sungguh! Melihat pemuda yang kau sukai berlaku tak wajar dengan yang lain, siapa yang tidak sakit hati? Hanya gadis sakit yang menjawab tidak sakit hati.
"Setelah kejadian kemarin, kupikir kau harus lebih keras lagi untuk membuat pikiran Itachi-nii terdominasi olehmu. Kau lihat pemuda bule gila itu kemarin?"
Awalnya nada Sasuke terdengar datar meski menatap Sakura seakan menuntut persetujuan dari gadis itu. Tapi kalimat kedua darinya, terdengar nada kesal sekaligus dingin dan keras. Membuat Sakura bergidik ngeri. Entah kenapa, Sasuke terlihat amat sangat membencinya. Ia mengerti Sasuke membenci Deidara karena pemuda itu mengikat kakaknya dan membuat seolah-olah ialah orang yang paling mengerti Itachi dan tidak memberikan ruang sedikitpun bagi orang lain untuk mendekati kakaknya. Tapi, nada itu terdengar sangat berbeda dibandingkan alasan yang Sakura kemukakan. Seperti ada hal lain yang lebih kelam dan kejam. Hanya naluriku saja. Pasti begitu. Yakinnya dalam hati.
"Ya. Aku tahu, Sasuke. Tapi aku benar-benar tak tahu harus mendominasi pikiran dan hatinya dengan cara apa. Apa kau punya ide? Kali ini aku benar-benar butuh bantuanmu." Sakura menatap Sasuke dengan harapan sekaligus tatapan kecemasan yang tersirat di hijau bening itu. Entah kenapa, hal itu membuat Sasuke merasa tak suka.
Mengesampingkan egonya, ia berusaha memikirkan solusi untuk membantu Sakura. "Sebaiknya kau beritahu Itachi-nii, kalau kau melihat kemesraan mereka kemarin. Nasihati dia. Bilang padanya kelebihan seorang perempuan. Kuharap ia bisa memaklumi dan bisa sadar."
Sakura menunduk dan meremas kedua tangannya. Helai merah mudanya menutupi wajahnya. Tapi sebelah matanya masih terlihat dari pandangan Sasuke. Begitu banyak emosi yang terlintas di emerald-nya. Hal itu membuat Sasuke merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau bukan dengan kakaknya, ia tak rela membiarkan Sakura hidup dengan laki-laki lainnya.
Kepala Sakura tertoleh pada Sasuke, memberi senyum lemah pada pemuda itu. Sasuke tidak bodoh. Ia bisa melihat betapa gadis itu seperti melawan ketakutan dalam dirinya sendiri. Tapi sekali lagi Sasuke yakinkan dalam hatinya. Sakura harus kuat!
"Aku akan mencobanya, Sasuke. Terima kasih. Kau selalu membantuku. Entah bagaimana aku bisa membalasmu." Ucap Sakura tulus. Kini senyumnya lebih cerah dan kuat. Membuat Sasuke sedikit lega-kekhawatiran jelas lebih kuat di pikirannya.
"Mau jalan?" Tanya Sasuke. Kali ini ia tersenyum pada Sakura. Paling tidak, ia harus membuat Sakura senang sekarang.
"Tentu." Sahut si gadis riang.
.
.
Jalanan ini masih sama, masih bersih dan terlihat menarik. Anak-anak kecil tampak bermain dengan riang di sepanjang jalan; berlari, berjalan, bahkan mengusili temannya. Beberapa toko kecil dengan spanduk-spanduk berhuruf kanji-yang Sakura tak tahu apa arti ataupun bacaanya- di sisi jalan menjual beberapa jenis barang; sayur-mayur, ikan, daging, dan kue-kue manis yang menjadi sasaran empuk bagi pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitarnya. Sekedar ingin membeli dan memakannya atau membawa pulang ke rumah sebagai cemilan keluarga.
Sakura tersenyum riang sekali. Ia merogoh saku celana biru seperempatnya dan mengeluarkan beberapa uang yen yang diberikan Itachi beberapa hari yang lalu. Jaga-jaga jika Sakura akan memilih keluar untuk jajan-seperti sekarang. Sasuke yang melihat Sakura tersenyum seperti itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun senyum tidak lepas dari wajahnya.
"Sasuke, kita beli permen yang seperti apel itu, ya? Temani aku." Rengek Sakura. Saat ia akan mengapit lengan Sasuke dengan lengannya, Sasuke sudah berlalu cepat dari sebelah Sakura. Membuat gadis berambut merah muda itu mengerucutkan bibirnya.
"Kau ikuti saja kata-kataku. Aku berada di belakangmu. Kau ingin beli itu, kan?" Tunjuk Sasuke pada permen bulat berwarna merah yang Sakura maksud, dan mendapat anggukan dari gadis itu. "Belajar berbicara dengan orang di sini menggunakan bahasa Jepang tidak akan membunuhmu." Ucap Sasuke lembut saat melihat Sakura terlihat gugup di belakangnya. Saat berikutnya, tatapan Sakura menajam pada Sasuke yang dibalas dengusan bosan dari pemuda itu. Ia tahu maksud tatapan Sakura. "Aku tidak akan mengerjaimu. Aku janji."
Setelah berucap seperti itu, Sakura maju mendahuluinya dan masuk ke dalam toko sederhana itu.
Bau manis menggelitik hidung Sakura. Warna-warni permen membuat tatapannya berbinar. Ia segera mendekati beberapa box permen di hadapannya. Memegang bungkusan itu, kemudian menaruhnya kembali. Begitu juga saat ia mengunjungi box jenis kue lainnya-perlakuannya pada kue-kue di tempat itu masih sama. Ia tidak mempedulikan penjaga toko yang memakai celemek dan memakai ikat kepala putih itu tersenyum padanya. Sakura tetap lebih tertarik dengan kue-kue berbau manis dan menggodanya tersebut.
"Sakura...," Tegur Sasuke, jengah akan sikap Sakura yang mulai terlihat kekanakan tersebut. Ia tidak bisa dilihat ataupun didengar orang lain selain Sakura. "kau tidak jadi membeli permen itu? Aku tinggalkan kau di sini, ya?" Tanya Sasuke. Berpura-pura meninggalkannya. Segera saja Sakura menoleh padanya dengan wajah merengut sedih. "Kalau begitu, cepat beli apa yang kau butuhkan." Geram Sasuke. Kadang-kadang ingin rasanya ia mengacak helai merah muda itu, gemas akan perilaku si pemilik surai tersebut. Tapi niat itu ia urungkan. Tidak mungkin...
Sakura mengambil batangan plastik permen yang diinginkannya itu dan menariknya dari box tempatnya dipajang. Ia menoleh pada Sasuke di belakangnya dengan tatapan meminta tolong dan menagih janji dari pemuda itu. Sasuke mengangguk dan mendekatkan wajahnya ke belakang kepala Sakura. Sasuke memasukkan kedua tangannya ke saku celana putih panjangnya dan sedikit menunduk karena Sakura hanya setinggi dagunya. Jarak wajah Sasuke dan belakang kepala Sakura hanya 3 cm. Menyadari akan posisi mereka, mendadak wajah Sakura terasa panas dan jantungnya berdetak keras sekali. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa bisa bersikap seperti itu. Untung saja Sasuke tak bisa melihat ekspresinya. Memalukan!
Sasuke mulai membisikkan beberapa bahasa Jepang pada Sakura, dan gadis itu mengulangnya kembali dengan suara yang terdengar kaku. Ingin sekali ia menguburkan dirinya ke dalam kotak pasir yang ia lihat saat mereka melewati taman tadi.
.
.
"Benar-benar tidak membuatmu mati, kan?" Tanya Sasuke sambil tersenyum geli di samping Sakura. Mata onyx-nya menatap lurus ke depan, tapi ia bisa melihat dari ekor matanya kalau si gadis menatap kesal padanya.
"Kenapa kau tidak langsung bicara dengan penjaga tokonya, Sasuke? Kau membuatku konyol. Humbh." Sakura menggembungkan kedua pipinya dengan tangan bersidekap di dada. Wajahnya ia palingkan ke arah lain selain Sasuke.
"Tidak bisa." Sahut Sasuke singkat yang dengan cepat membuat Sakura berpaling memandangnya.
"Kenapa?" Selidik Sakura. Sekarang wajahnya seperti detektif amatir saja.
"Cerewet." Gerutu Sasuke. Ia pun mempercepat langkahnya. Tidak ingin ditanyai lebih lanjut.
Sakura menghela napas bosan di belakangnya dan dengan cepat melebarkan langkahnya. Menyejajarkan posisinya dengan Sasuke di sampingnya.
"Ya sudah kalau tak ingin menjawabnya." Sahut Sakura dengan nada acuh tak acuh, menyembunyikan rasa penasaran setinggi tinggi yang pernah tercatat paling tinggi untuk semua kategori.
Gadis bersurai merah muda itu mengetuk-ngetukkan sepatu Giant Shoes Owl Grey-nya. Ia kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket abu-abu miliknya. Ikut bersikap cool seperti pemuda di sampingnya yang masih memasang wajah datar. Ia melihat penampilan Sasuke dari atas ke bawah dan dahinya mulai berkerut.
"Sasuke?" Panggil Sakura.
"Hn?" Gumam Sasuke. Ia menoleh menatap Sakura yang menatap lurus padanya.
"Kenapa kau selalu memakai baju kemeja putih berlengan panjang dan celana putih panjang? Kau tidak punya baju lain?" Tanya Sakura. Nadanya sedikit menyelidik meski nada menggoda lebih banyak terdengar.
"Aku punya beberapa lemari pakaian yang isinya seperti ini semua." Jelas Sasuke sambil tangan kanan memegang ujung bajunya dan tangan kiri memegang celananya. "Anggap saja aku suka dengan warna dan jenis baju seperti ini." Ucapnya datar.
Tentu saja Sasuke hanya berkilah sambil menghindari tatapan Sakura. Sebuah arwah tidak membutuhkan berbagai jenis pakaian, kan? Bahkan tidak perlu menggantinya.
Bibir ranum itu hanya membentuk huruf 'O' tanpa suara. Membuat Sasuke melangkah lega-menghirup udara lega tidak termasuk ke dalam perilaku arwah.
Mereka berjalan beriringan kembali dalam diam. Menikmati angin sepoi-sepoi yang membelai lembut tubuh Sakura. Mengayunkan helai-helai merah mudanya. Tidak perlu tanyakan Sasuke. Dia tak bisa dipengaruhi oleh angin atau apapun dengan dunia ini selain keberadaan Sakura dan kakaknya.
Pohon-pohon ginkgo biloba tumbuh di sepanjang sisi jalan. Daunnya masih hijau segar di musim semi ini. Menyejukkan mata dan memberi ketenangan karena bau daunnya yang khas alami. Beberapa helai daun melayang jatuh mengikuti jejak teman-temannya yang sudah membuat koloni di tanah. Helai-helai yang berwarna hijau dan ada yang sudah menguning itu terkadang terinjak oleh mereka berdua. Menjadi melodi gemerisik setiap daun tertekan dan hancur di bawah sepatu mereka, memberi kesan alam yang begitu kuat.
Tidak perlu kata, tidak perlu sikap yang berdansa di antara mereka. Alam saja sudah memberitahu betapa mereka adalah sepasang makhluk yang serasi. Yang berjalan bersama di bawah bayang naungannya pohon emas di musim gugur. Yang di dalam hati masing-masing memeluk ketenangan dalam hening yang berjalan.
.
.
"Kau sudah menyelidikinya?" Tanya lelaki berambut pirang panjang yang dikuncir tinggi sambil memandang ke bawah apartemennya.
"Sudah, tuan muda. Sakura Haruno adalah anak dari pemilik perusahaan Golden Gain, Kizashi Haruno. Kehilangan ibunya saat ia berumur 2 tahun dikarenakan kecelakaan mobil di luar negeri. Saat itu Mebuki Haruno-ibunya melindunginya dengan memeluk Sakura, sehingga kaca yang seharusnya mengenai kepala Sakura malah langsung menancap di lehernya dan ia meninggal di tempat. Saya sudah menyelidiki hal ini dari para saksi kejadian itu dan bukti berupa foto serta video amatir yang terekam. Sakura juga terluka cukup parah dan sempat koma di rumah sakit selama 2 minggu. Selain itu ia juga sempat terkena trauma karena kejadian itu. Pernah mendapat tekanan dari berbagai pihak dan keluarga. Mengenal Itachi Uchiha saat Itachi melanjutkan pendidikan di Indonesia selama 4 tahun. Dan kabar terakhir mengatakan, ia kabur dari rumah dan Anda sendiri sudah bertemu langsung dengannya, tuan muda." Jelas seseorang di ponsel si lelaki berambut pirang panjang.
"Bagus. Terima kasih, Kakuzu. Bayaranmu sudah kukirim ke rekeningmu." Ucap Deidara-si lelaki berambut pirang panjang sambil menyeringai senang.
"Sama-sama, tuan muda. Saya siap melayani Anda kapanpun Anda butuh bantuan saya."
"Ya. Terima kasih." Sahut Deidara. Ia memutuskan sambungan telepon dan tersenyum berbahaya.
Orang-orang yang terlihat dari atas apartemennya seperti koloni semut yang berlalu lalang dan membuat matanya bosan. Ia kembali melarikan mata birunya ke layar ponselnya. Dimana wallpaper ponselnya menampilkan 2 orang lelaki berwajah rupawan-yang salah satunya adalah dia- yang sedang berangkulan dan tersenyum ke arahnya.
"Itachi-kun..." ucapnya lirih sambil memandang lelaki berambut hitam panjang yang sedang di rangkulnya di layar ponselnya.
Tatapannya terlihat mendamba, begitu memuja. Namun sekaligus terlihat sangat terluka. Ia tak peduli meski dunia menentangnya, membuangnya. Ia hanya tak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi. Tidak lagi... Ia tak ingin kehilangan Itachi apapun yang terjadi.
Perlahan genggamannya pada ponselnya menguat, sampai terdengar bunyi gemeretak kecil dari elektronik portabel itu.
.
.
.
Satu, lampu hidup, angin berhembus, payungku datang saat badai menendang gunung.
.
.
Dua, lampu redup, badai mereda, warna jingga membayang di ujung cakrawala.
.
.
Tiga, lampu mati, cakrawala tersenyum hangat, udaraku adalah dia.
.
.
.
TBC
A/N : mood buruk banget waktu ngerjain chapter ini. Karena besok udah masuk kuliah. Siap-siap telat update huh...
Bales review:
hanazono yuri : huaaa... maaaf :'( Karena kemarin ItaSaku nya banyak, jadi aku mau banyakin SasuSakunya di chapter ini Tapi chapter depan kubanyakin ItaSakunya deh :D
Tami-chan : sampe nangis? *nyodorin permen yg dibeli Saku tadi* Mau? :3 Makasih X3 *pelukpeluk*#plakk# di chapter ini perasaan Sasunya galau deh kayanya XD
Tohko Ohmiya : wahahaha.. gagal Xp Masih rahasia :D *sok-sok-an rahasia -_-* Aku... 80% straight, 20% fujoshi :D hahaha.. udah sempat berenti jadi fujoshi semenjak SMA -_- tp pas masuk kuliah malah terkontaminasi sama si Painter, temenku -,- #digetok#malah curhat -_-" Dirimu nggak lagi? Anak baik :D
NaruFhia sakura-chan : suka fic-nya? :/ Ga suka sama fujoshi? Aku sedikit fujoshi X3 *ngibas-ngibasin tangan* udah biasa :D asal kamu suka fic-ku :D #siapa yg suka coba?#*pingsan* Maaf deh ilfil sama DeiItanya X3 tuntutan plot X3 Makasih XD ini udah lanjut :D
Makasih ya yang udah baca, komen, nge-fav sampai meng-alert fic abal ini :D
Review lagi? :D #geplaked#
Aku tahu pasti banyak penulisanku yang salah aturan EyD, typo kaya' bintang di langit cerah, diksi ancur lebur, cerita membosankan, gak ada feel, dan kerusakan lainnya -_-" tapi aku sudah berusaha meminimalisirnya
Jadi aku bener-bener butuh kritik dan saran serta pendapat yang membangun, minna-san.
Kasi tau aku salahnya di mana -_-v
So, gimme ur review, please?
