.
.
.
Satu, lampu hidup, angin berhembus, payungku datang saat badai menendang gunung.
.
.
Dua, lampu redup, badai mereda, warna jingga membayang di ujung cakrawala.
.
.
Tiga, lampu mati, cakrawala tersenyum hangat, udaraku adalah dia.
.
.
.
Disclaimer : Naruto and all characters is belong to Masashi Kishimoto. This story is mine.
Genre : Angst & Drama
Rate : T
Pair : SasuSaku, ItaSaku & DeiIta
Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), Gak Jelas, etc. Umur karakter:
Sakura Haruno : 14 tahun
Sasuke Uchiha : 14 tahun
Itachi Uchiha : 22 tahun
Summary :
Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.
Let Me In
By
Uchiha Cesa
Satu...
Emosinya memuncak saat badai salju 11 tahun yang lalu, saat ibunya membawa seorang lelaki dan berciuman mesra di depan pintu.
Saat itu, rasa marah dan sesak kembali menghantam hati terdalamnya, ingin rasanya menangis, tapi tak bisa. Itu semua terlihat di raut wajahnya yang masih polos menahan amarah yang mendesak untuk keluar. Iris mata birunya mulai berkaca, namun segera diusapnya kasar kelopak matanya dan mendongak, menahan airmata. Ia teringat pada ayahnya yang mengusap lembut ujung kepalanya dan berpamitan sambil mencium kedua pipinya, dan berpesan segera pulang dalam waktu dekat. Kemarin, ayahnya meninggalkannya untuk pergi bekerja ke luar negeri, lagi-lagi meninggalkannya berdua dengan ibunya. Dan sekarang di hadapannya, ibunya membawa masuk lelaki asing dan mencumbu ibunya, meski ia masih berumur 11 tahun, tapi ia tahu apa yang diperbuat oleh orang yang melahirkannya itu dari film-film yang pernah ia tonton dengan ayahnya, hal yang ibunya lakukan adalah salah. Ya, salah... karena mengkhianati ayahnya.
Semua berawal dari malam yang penuh salju dan angin yang berlomba menusuk kulit itu, membuatnya hancur dan membenci segala hal tentang perempuan. Malam saat ia meninggalkan rumah hanya dengan piyama dan jaket tebal serta tas yang hanya berisi uang tabungan yang tidak terlalu besar jumlahnya. Pergi dari rumah sampai sekarang tanpa sedikitpun menoleh pada dua orang pengkhianat yang menghancurkan hati serta masa depannya. Tak ada airmata, tak ada penyesalan yang tersisa, malam itu ia hanya pergi dengan senyum sedih yang terpahat jelas di wajah mungilnya.
Saat dingin semakin membuat tubuhnya membeku dan bibirnya bergemeletuk dengan keras, ia hanya melihat kegelapan di ujung sana dengan sedikit penerangan di sekitarnya. Tempat itu sepi, tak ada kendaraan yang lewat, tidak ada yang duduk di bangku taman di samping lampu jalan yang biasa ia lihat, bahkan hewan pun tak sudi untuk sekedar menemaninya berjalan.
Pandangannya mulai mengabur dan beberapa saat kemudian, kakinya melemas dan ia ambruk di sisi jalan. Saat napasnya mulai terasa berat dan pandangannya menggelap, ia merasa sesuatu yang lembut membalut rambut pirangnya, menutup wajahnya. Sayup-sayup ia mendengar suara seorang anak kecil berteriak-tapi ia tak tahu apa yang diteriakkan oleh anak itu. Sampai detik selanjutnya, sesuatu yang lembut itu meninggalkan kepalanya dan berganti membalut tubuhnya. Perlahan ia merasakan pipinya dijamah lembut oleh tangan mungil yang mulai mengusap-ngusap-memberi kehangatan pada wajahnya. Dan kelopak matanya terbuka, menampakkan iris birunya dan langsung menangkap siluet seorang bocah yang seumuran dengannya balik memandangnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan pandangannya mulai jernih kembali. Iris onyx menatapnya dengan tatapan khawatir, membuat rasa hangat sedikit menjalar di hatinya. Kemudian, matanya menutup dan kegelapan kembali menyapanya-ia pingsan.
Senyum masih terpatri di wajahnya. Ia bersyukur. Paling tidak, masih ada yang memedulikannya, khawatir padanya. Saat itu seakan semangat hidup kembali menariknya, ia pun mengerti kalau masih ada tempat untuknya pulang.
.
.
Dua...
Bocah berumur 11 tahun itu masih memandang hampa pada putihnya salju yang menutupi daun-daun di pohon dari balkon kamarnya. Sudah seminggu sejak kejadian saat ia hampir kehilangan nyawanya, dan juga sebagai saat dimana ia bertemu dengan malaikat penolongnya.
Bahunya menghangat karena tepukan dari seorang bocah berambut hitam yang sekarang beralih ke sampingnya dan tersenyum hangat padanya. Memberinya semangat, kekuatan untuk hidup. Ia pun membalas senyum bocah bermata onyx itu dengan sedikit kaku. Pasalnya, ia memang merasa bersalah karena membuat keluarga bocah itu repot dengan kehadirannya. Ia kembali menatap pohon-pohon dengan tumpukan salju di atasnya, tidak ingin menatap bocah di sampingnya yang masih menatapnya penasaran.
"Deidara-kun, apa kau baik-baik saja?" Suara cempreng dari bocah itu membuatnya berpaling ke samping, menatap si penanya.
Ia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia sudah menceritakan hal apa yang membuatnya nekat kabur dari rumah di tengah badai salju. Kembali sebuah tepukan mendarat di bahunya.
"Aku mengerti perasaanmu. Orangtuaku bercerai dua bulan yang lalu. Ibuku selingkuh, sama seperti ibumu." Ucap bocah berambut hitam panjang itu lancar dengan nada sedih di dalamnya.
Hal itu membuat kedua pupil yang dikelilingi iris birunya membesar, terkejut tak percaya. Ia menoleh cepat pada bocah yang berada di sampingnya. Mulutnya sedikit terbuka, ingin berucap, tapi tak bisa. Oksigen bahkan seakan enggan masuk ke mulutnya.
Saat dilihatnya airmata menuruni pipi bocah berambut hitam, ia segera menghapus airmata itu dengan ibu jarinya. Tak ada isakan dari bibir mungil bocah di depannya. Menangis tanpa suara. Bahkan itu lebih menyakitkan ketimbang mendengar suara tangisan pilu. Perasaan sesak kembali menyeruak memenuhi dadanya. Ia terpukul. Masih ada anak yang tidak beruntung sepertinya.
Perlahan tangannya melingkar di sekeliling tubuh bocah beriris onyx itu. Mengikuti nalurinya untuk memeluk bocah itu. Perlahan pelukannya mengerat saat pemuda berambut hitam panjang itu membalas pelukannya. Sekarang ia juga menangis tanpa suara.
.
.
"Itachi-kun...," Panggilnya pada pemuda berambut hitam panjang itu, "maafkan aku." Nadanya terdengar serak. Ia merasa harus meminta maaf karena membuat bocah itu menangis.
Pelukan mereka melonggar, Itachi kemudian terkekeh kecil, "Maaf untuk apa?"
Ia pun melepaskan pelukan mereka dan menatap bocah di depannya yang sudah tersenyum lembut. "Kau tidak menangis lagi? Aku pikir, aku harus minta maaf." Ucapnya dengan hati-hati sambil menatap dalam onyx di depannya.
Itachi menggeleng, lalu tersenyum lebar padanya. "Kau tidak harus minta maaf. Bagaimana kalau traktir aku es krim vanilla?"
"Dasar..."
Akhirnya ia bisa juga tertawa untuk pertama kalinya setelah kejadian itu. Dan ia berhutang besar pada Itachi.
.
.
Tiga...
Sudah sebulan berlalu sejak ia kabur dari rumah. Ayahnya sudah kembali dari luar negeri 2 minggu yang lalu. Kini mereka menetap di apartemen. Enggan kembali ke rumah yang memberi kenangan indah sekaligus buruk bagi mereka. Saat diberitahu perihal kaburnya ia dari rumah, ayahnya segera menceraikan ibunya dan meninggalkan rumah itu. Ia juga harus berpisah dengan Itachi. Hal yang cukup menyesakkan baginya setelah ia mendapat teman yang berharga. Tapi siapa sangka perasaan yang awalnya ia kira sebatas teman dapat berevolusi menjadi cinta itu. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa memastikan. Cinta bisa datang kapan saja, di mana saja, dan untuk siapa saja.
Ia tidak ingin lagi mengingat ibunya. Mengubur kenangannya dengan wanita yang sudah melahirkannya itu dalam-dalam. Membuang semua hal yang pernah berhubungan dengan ibunya. Dan itu yang ia lakukan sekarang. Membakar tas, piyama, sepatu serta jaket yang ia bawa kabur saat malam badai salju itu.
Sekarang ia merasa gelisah. Ia ingin sekali bertemu dengan Itachi lagi. Maka dari itu ia memberitahukan ayahnya agar menyekolahkan ia di sekolah tempat Itachi menuntut ilmu. Permintaannya terkabul.
Ia dan Itachi mulai menjalin hubungan persahabatan yang selalu bersama kemanapun mereka berada di lingkungan sekolah. Bahkan tak jarang ia menginap di rumah Itachi ataupun sebaliknya. Saling membela dan terlibat perkelahian. Saling menjaga dan menghibur, berbagi suka dan duka.
Itachi baginya seperti candu yang tak bisa ia lepas. Seperti udara yang harus dia hirup tiap detiknya.
Dan itu berlaku sampai ia menjadi seorang pemuda berumur 22 tahun sekarang. Itachi masih tetap menjadi udaranya.
.
.
"Mungkin Itachi-nii sudah pulang." Suara baritone itu mengagetkan Sakura dan menyadarkannya dari lamunannya. "Sebaiknya kau segera beritahu dan nasihati kakakku."
Sakura menoleh pada Sasuke, tatapannya terlihat gelisah. "Ta-"
"Kau sudah berjanji akan menolongku. Jangan menyerah. Sampai ketemu lagi, Sakura." Ucap Sasuke dan berbelok arah yang berlawanan dari jalan menuju rumahnya.
Sakura berteriak kesal pada pemuda yang berjalan meninggalkannya itu. "Kapan aku berjanji padamu, Sasuke?!" Siku-siku mulai muncul di pelipisnya saat dilihatnya Sasuke mengangkat sebelah tangannya dengan gaya melambai tanpa sedikitpun mengeluarkan suara untuk menyahut Sakura.
Kesal, Sakura pun melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya di sepanjang jalan menuju rumah Itachi. Cuaca sudah mulai menggelap, membiaskan cahaya jingga dari belakang punggung Sakura. Jalanan juga mulai terlihat sepi dan lampu jalan mulai menyala, memberinya sedikit penerangan. Sepanjang jalan otaknya kembali teringat pada ucapan Sasuke. Sebaiknya kau segera beritahu dan nasihati kakakku.
Kepala Sakura kembali tertekuk dan bibirnya mengerucut. Kesal dengan pemuda yang seenaknya memberikan tugas susah itu padanya. Dan sesaat kemudian, ia mengutuki kebodohannya karena menyetujui usul Sasuke.
Gadis bersurai pink itu menendang kerikil yang tergeletak di jalan dengan semangat dan keluhan sakit dari suara yang amat dikenalnya itu membuat wajahnya memucat. Oh, gawat!
"Itachi-nii...! Maaf..., aku tidak melihat Itachi-nii tadi. Mana yang sakit?" Tanya Sakura panik sambil berlari mendekati Itachi yang terlihat memegang siku kirinya.
"Ternyata kau, Sakura. Aku tidak apa-apa." Ucap Itachi memaksakan senyumnya meski terlihat senyum itu berubah menjadi meringis sakit.
Sakura menggigit ibu jarinya, merasa bersalah, kemudian emerald-nya menangkap gerakan tangan Itachi yang mengusap sikunya. Segera ia mengambil lengan kiri Itachi dengan hati-hati dan matanya kemudian membelalak. Siku kiri Itachi mengeluarkan cairan merah pekat yang mulai mengotori bagian depan kemeja birunya.
"Maafkan aku, Itachi-nii. Aku tidak sengaja dan tidak melihatmu di sini." Ucap Sakura. Nadanya terdengar sangat bersalah. Ia lalu menyeka darah yang mulai berhenti keluar dari luka di siku pemuda yang dicintainya itu. "Kita masuk ke dalam saja, Itachi-nii. Beritahu aku kotak P3K di rumahmu di mana." Ujar Sakura. Ia kemudian memapah Itachi memasuki rumah. Wajah Sakura terlihat pucat dan raut bersalah terlihat jelas di sana.
.
.
Sakura masih menyeka dengan lembut luka Itachi dengan kapas yang sudah ia tetesi dengan antiseptik. Wajahnya terlihat sangat serius. Membuat Itachi tersenyum geli padanya. Sakura yang menyadari senyum Itachi, wajahnya mulai memerah malu.
"Ke-kenapa?" Tanya gadis itu terbata. Ia masih memandang onyx yang menatap lembut padanya.
"Kau lucu, Sakura." Ucap Itachi terkekeh geli. "Kenapa menendang kerikil begitu? Ada masalah?" Tanya Itachi. Memandang lurus dan dalam pada sepasang emerald Sakura.
Masalahku itu kamu, Itachi-nii. Batin Sakura gemas.
"Tidak..., aku baik-baik saja, Itachi-nii." Ucap Sakura berbohong. Jujur saja ia sangat bingung dengan usulan Sasuke tadi. Emerald Sakura tak berani memandang langsung onyx Itachi.
Itachi menatap Sakura tajam, mencari kebenaran di balik kolam hijau teduh itu. Ia tahu kalau Sakura berbohong. Terlihat dari emerald di hadapannya yang bergerak gelisah. "Aku tahu kau bohong, Sakura. Jadi, apa yang menganggu pikiranmu, hm?" Tanya Itachi menyelidik.
"Ah..., maaf Itachi-nii." Ucap Sakura dengan nada menyesal. Lama ia terdiam, Itachi masih memandangnya, menunggu Sakura menceritakan masalahnya. Sampai akhirnya Sakura menyerah pada egonya dan menceritakan bahwa ia melihat kemesraan Itachi dan Deidara saat itu.
Mata Itachi terbelalak. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada Sakura. Kali ini ia bahkan tak berani memandang wajah Sakura. Rasanya malu, aibnya terbongkar sudah.
"Maaf, Sakura." Hanya itu yang bisa Itachi ungkapkan. Ia masih tak berani menatap Sakura. Sedangkan gadis itu masih menunduk dan meremas tangannya. Tapi Sakura sudah bertekad agar Itachi mau membuka sedikit hatinya untuk seorang perempuan-untuk dirinya. Maka dari itu, ia pun memberanikan diri menatap pemuda yang masih menunduk di hadapannya itu.
"Itachi-nii, maaf kalau aku lancang." Ucap Sakura dengan pelan dan hati-hati. Ia tak ingin salah berucap dan membuat Itachi tak enak hati atau marah padanya. "Bukan maksudku mencampuri urusan dan kehidupan Itachi-nii. Tapi, aku merasa bersalah kalau tak pernah menyampaikan hal ini."
Kepala Itachi mulai terangkat dan menatap Sakura dalam, menunggu Sakura untuk bicara. Melihat respon Itachi, Sakura tersenyum. Ini artinya Itachi masih mau mendengar dan membiarkan ia memberi kuliah singkat pada pemuda dewasa yang membuatnya terpikat itu.
"Tidak semua perempuan sama, Itachi-nii. Ada yang penyayang, lembut, kasar, bahkan keras kepala. Ada yang suka berdandan, cuek pada lingkungan, atau bahkan mengoleksi barang-barang aneh dan dijuluki cewek freak. Begitu juga dengan kesetiaan." Ucap Sakura hati-hati. Sungguh ia tidak ingin menyinggung hati Itachi. Ia bisa melihat mata Itachi yang menyipit padanya. Terlihat berpikir dan melempar pandang tak percaya padanya. Hal ini membuat Sakura gelisah dan kembali meremas tangannya kuat. Ia berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak keras dan berusaha berpikir tenang.
"Setiap orang punya alasan tersendiri. Ia jahat bukan berarti hatinya menginginkan hal itu, bukan begitu. Pasti ada alasan di baliknya." Sakura menarik napas, kemudian melanjutkan, "terkadang, kesetiaan goyah saat orang yang diharapkan tak kunjung memberikan perhatian. Kurang kasih sayang, Itachi-nii. Kurang perhatian," ucap Sakura meyakinkan. "satu hal yang Itachi-nii harus ingat. Pada dasarnya, perempuan itu haus akan kasih sayang, ingin dimanja. Ingin diperlakukan seperti seorang permaisuri oleh seorang lelaki, apalagi lelaki yang mencintai dan dicintainya setulus hati."
Pandangan Itachi melunak, tidak sekeras dan sekaku tadi. Hal ini membuat Sakura sedikit bernapas lega. "Seorang perempuan membutuhkan seorang laki-laki dalam hidupnya. Begitu juga sebaliknya. Mereka bisa saling mencintai dan menjaga, dan seorang anak bisa lahir di antara mereka. Kebahagiaan sebuah keluarga tidak akan lengkap tanpa anak, Itachi-nii. Bukannya tuhan sudah menciptakan keseimbangan itu dari dulu?" Tanya Sakura pelan. Menatap was-was pada Itachi yang menatapnya balik dengan tatapan tajam.
"Tapi, meskipun anak sudah lahir di antara mereka, yang namanya pengkhianatan pasti ada. Kenapa bisa begitu, Sakura?" Nada Itachi terdengar gusar. Ia menatap Sakura dalam, meminta jawaban dari gadis itu.
Sakura menghela napasnya keras, kemudian menjawab, "Bukannya sudah kubilang, perempuan itu haus akan kasih sayang? Ingin diperhatikan, dimanja. Itulah mereka. Itachi-nii tentu pernah mendengar istilah meraih sesuatu lebih mudah daripada mempertahankannya, kan?"
Itachi mengangguk. Kali ini ia setuju pada Sakura. Tapi sisi lain terdalam hatinya masih menentang atas sikap ibunya dulu. "Mungkin pengkhianatan dalam sebuah keluarga kecil terjadi karena ketidakseimbangan dari perhatian dan pekerjaan. Kebanyakan kasus perceraian terjadi karena ketiadaan keharmonisan rumah tangga. Sang suami sibuk bekerja dan menelantarkan istri serta anak atau bahkan sebaliknya."
Kepala Itachi kembali menunduk. Sekilas Sakura dapat melihat kabut kesedihan dalam onyx pemuda itu. "Tapi, yang namanya pengkhianatan tetaplah jahat. Terlalu kejam." Itachi tak bisa menyembunyikan nada getir dalam suaranya.
Sakura tersenyum miris mendengar pemuda yang dicintainya berucap seperti itu. Ia benar-benar menderita rupanya. "Itachi-nii...," Panggil Sakura. Ia berdiri dan mengelilingi setengah meja yang memisahkan mereka, menghampiri Itachi dan kemudian duduk di sebelah pemuda itu. "Hidup dengan tidak dipedulikan itu lebih menyakitkan dari apapun, lho. Tidak ada yang tidak ingin diperhatikan. Meskipun kejam, tapi tak ada yang bisa diperbuat. Memperbaiki juga percuma kalau kehilangan kepercayaan antara satu dengan lainnya." Ucap Sakura masih dengan nada pelan dan tak ingin membuat pemuda di sampingnya itu salah paham.
Sakura mengambil sebelah tangan Itachi dan menggenggamnya. Membagi kehangatan pada tangan yang lebih besar dari tangannya itu. "Maka dari itu, memang susah untuk mempertahankan apa yang sudah diraih. Kalau tak bisa dipertahankan, biarkan saja daripada menjadi duri dalam daging. Paling tidak, masih ada anak yang bisa menghibur, kan?"
Pupil mata Sakura melebar terkejut saat dirasakannya tubuhnya terhantam ke belakang dan tertahan di sandaran sofa. Dan yang lebih membuatnya terkejut, Itachi agak menindih dan memeluknya erat dengan tubuh bergetar. Udara seakan melarikan diri dari Sakura sehingga membuat gadis bersurai merah muda itu kewalahan untuk menarik napas. Tangan Sakura masih terkulai lemas di samping tubuhnya. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Maaf..., maaf, Sakura." Ucap Itachi serak. Sakura bisa merasakan sesuatu yang basah mulai menyapa bahunya. "Selama ini aku salah tentang ibuku."
Sakura tersenyum hangat dan membelai lembut rambut hitam panjang milik Itachi. "Jangan minta maaf padaku, Itachi-nii." Ia masih bisa merasakan bahunya yang semakin basah. Tidak mengerti apa yang harus dilakukannya selain menenangkan Itachi dengan balas memeluknya.
Detik berikutnya Itachi menceritakan apa yang terjadi dengan keluarganya. Perceraian orangtuanya bahkan kecenderungan gay yang dimilikinya. Sama seperti yang pernah Sasuke ceritakan padanya. Tapi Itachi tidak sedikitpun menyinggung soal adik semata wayangnya itu. Sakura ingin sekali bertanya pada Itachi tentang Sasuke. Tapi niat itu diurungkannya. Ini sungguh waktu yang tak tepat untuk membicarakan soal Sasuke, pikirnya.
"Itachi-nii, apa kau bisa membuka hatimu untukku meski sedikit saja?" Tanya Sakura ragu-ragu. Masih dengan memeluk Itachi. Ia benar-benar malu. Wajahnya sudah memanas tidak jelas.
Terasa di tubuhnya kalau tubuh Itachi menegang meski hanya sesaat, kemudian Itachi melepaskan pelukan mereka. Membuat wajah merona Sakura berubah menjadi pucat pasi.
CUP
Eh?
Kali ini tubuh Sakura yang menegang saat dirasakannya benda lembut menyambar bibirnya. Itachi menciumnya. Menciumnya lagi. Tapi kali ini terasa lembut tanpa napsu yang terlintas di setiap gerakan bibirnya. Itachi tidak memberikan jawaban iya atau apapun, hanya sebuah ciuman singkat yang terasa hangat dan lembut serta manis. Itu sudah lebih dari sekedar jawaban iya bagi Sakura. Dan sekarang bibirnya tak bisa berhenti tersenyum lebar. Membuat Itachi menyeringai di depannya.
"Sakura...," Panggil Itachi dengan nada rendah, membuat bulu kuduk Sakura meremang. Sepertinya Sakura berpikiran yang tidak-tidak setelah mendengar nada yang sedikit kedengaran errr, seksi? "Aku tidak jadi mengajakmu ke Tokyo Tower ataupun Ueno Park. Kurasa Kyoto lebih bagus untuk jalan-jalan. Mau?" Tawar Itachi. Masih tidak menghentikan seringai yang membuatnya terlihat sangat tampan.
Sakura segera mengetuk-ngetukkan kepalanya, malu karena sudah berpikiran yang tidak-tidak. Ia pun memandang pemuda tampan di hadapannya dan mengangguk singkat. Paling tidak besok tetap kencan dengan Itachi-nii. Asyiiik...! batin Sakura girang.
"Bagus. Kalau begitu, kau siapkan beberapa baju karena kita akan bermalam di sana. Tidak cukup kurasa mengunjungi kota itu hanya sehari, Sakura." Setelah berujar begitu, Itachi menepuk puncak kepala Sakura dan berlalu pergi.
.
.
Sakura melongo memandangi kendaraan yang bagian depannya mirip seperti kepala pesawat tapi lebih kecil. Kendaraan itu tak bersayap, karena itu adalah kendaraan darat. Memiliki rel seperti kereta api. Atau bisa dibilang, kereta apinya negara Jepang, Shinkansen.
Itachi menarik lengan Sakura agar memasuki Shinkansen karena akan segera berangkat ke Kyoto. Dan lagi-lagi bagian dalam Shinkansen membuat Sakura terpana. Dalamnya juga seperti pesawat dengan kursi model reclining seat-sandaran yang bisa direbahkan ke belakang-. Sakura segera mengambil tempat duduk di dekat jendela setelah Itachi menunjuk di mana mereka seharusnya duduk berdasarkan tiket yang sudah Itachi pesan jauh hari. Karena kalau telat membeli tiket apalagi akhir pekan seperti ini, bisa dipastikan gerbong 1 sampai 5 akan tertanda unreserved seat. Kalau sudah begitu bisa repot.
Sakura menatap antusias sekelilingnya yang kursi-kursinya sudah dipenuhi oleh orang-orang Jepang bahkan dari mancanegara. Ia pun menyandarkan punggungnya ke kursi dan melirik keluar jendela saat Shinkansen sudah bergerak pelan dan kemudian melaju meninggalkan stasiun.
Mata Sakura menyipit, ia merasa pusing melihat pemandangan yang terlihat seperti gambar yang bergerak cepat di seberang jendela. Ternyata ia tak bisa terlalu menikmati pemandangan karena Shinkansen tipe kendaraan yang cepat. Ia pun mengalihkan pandangannya pada pemuda yang duduk tenang di sampingnya sambil membaca sebuah majalah. Sakura melirik sekitar dan menemukan jawaban dari mana Itachi mendapatkan majalah itu. Di depan kursinya tepatnya di belakang sandaran kursi di depannya sudah disediakan majalah. Sakura tak ingin mengambil majalah itu. Bisa dipastikan ia tak bisa membaca huruf kanji itu.
Lama-lama juga Sakura merasa bosan, ia akhirnya menghenyakkan kembali punggungnya ke sandaran kursi dan menutup mata. Tertidur. Tanpa ia sadari, Itachi melihat gerak-gerik gadis itu dari ekor matanya.
.
.
Gadis bersurai merah muda itu merasa bahunya diguncang seseorang. Dengan malas ia membuka matanya dan melihat orang di sampingnya yang membangunkannya. Itachi tersenyum lembut pada Sakura dan memberitahukan mereka sudah sampai di tujuan. Sakura pun segera merentangkan kedua tangannya ke atas, meregangkan otot-ototnya dan mulai berdiri dari duduknya.
Mereka keluar dari Shinkansen dan berjalan menuju pintu keluar stasiun, Itachi segera menyewa taksi dan kemudian mereka menuju lokasi wisata yang akan Itachi tunjukkan pada Sakura. Sakura yang terlihat bersemangat dan antusias membuatnya ikut semangat. Bahkan melupakan rasa dahaganya.
Tujuan pertama mereka adalah mengunjungi kuil yang terkenal akan 1001 patung Buddha termasuk satu patung yang super besar, kuil Sanjusangendo. Setelah sampai di sana, kuil klasik khas Jepang zaman dulu masih terlihat kental. Kuil yang terbuat dari kayu dan terdapat banyak pintu di setiap dinding kuil.
Saat Sakura ingin meminta berfoto dengan Itachi di dalam kuil bersama dengan patung super banyak, harus menelan kecewa karena Itachi bilang tidak boleh ada aktivitas foto di dalam karena tempatnya dianggap sakral. Sakura harus berpuas diri hanya dengan melihat bentuk-bentuk patung Buddha berbagai jenis dan ukuran itu serta melihat ritual ibadah para biksu berkepala botak di dalam sana.
Setelah mengunjungi kuil Sanjusangendo, mereka melanjutkan perjalanan wisata mereka ke kuil Kiyomizudera. Sakura mengutuk kakinya yang lemah karena harus berjalan menanjak dengan kemiringan 45 derajat. Banyak penjual jajanan yang membuka usaha di sepanjang tanjakan, membuat Sakura tergoda. Tapi tak jadi saat ia melihat harga jajanan yang mahal yang ia hitung lewat kurs di ponselnya. Setelah melalui godaan jajanan di sepanjang jalan, ia pun berhasil sampai ke puncak dengan Itachi yang terkekeh kecil melihat Sakura yang terlihat ngos-ngosan-berat mengambil napas. Kali ini Sakura dibuat takjub dengan bangunan kuil yang lebih bagus dari kuil pertama yang ia kunjungi. Banyak orang berlalu-lalang di sana untuk menikmati liburan mereka sambil melihat pemandangan kota Kyoto yang belum se-modern Tokyo. Intinya, Kyoto masih lebih mencerminkan kota Jepang zaman dulu. Masih terlihat asri meski bangunan besar sedikit mendominasi kota tersebut.
Sakura masih melihat pemandangan kota Kyoto tanpa mempedulikan pemuda yang membawanya kemari. Saat pipinya terasa hangat oleh benda yang baru menempel di sana, membuatnya menolehkan kepala menatap pemuda yang menempelkan benda berbau manis tersebut. Sakura memberikan seringai lebarnya pada Itachi saat pemuda itu menawarkan kue taiyaki-kue dengan bentuk ikan yang isinya kacang merah. Sakura segera meraih kue itu dan memakannya dengan semangat. Rasanya enak sekali, manis dan gurih. Apalagi dimakan saat hangat seperti itu di udara yang dingin di puncak bukit seperti ini.
Hatinya pun ikut menghangat tatkala memandang pemuda di sampingnya yang sedang memandang pemandangan indah kota Kyoto. Benar-benar kencan terindah yang pernah Sakura alami. Bibirnya tak bisa berhenti untuk mengumbar senyum. Dan Itachi yang diam-diam melihat gadis itu tersenyum pun ikut menyunggingkan senyuman meski tak terlalu lebar.
.
.
Tidak terasa hari sudah beranjak sore. Itachi segera mengajak Sakura ke restoran karena merasa lapar dan haus setelah berkeliling di sekitar kuil. Suasana Jepang klasik sangat kental di restoran itu. Meski terlihat klasik, sisi mewah tetap mereka pertahankan. Memberikan nilai elegan yang tinggi pada kondisi restoran itu. Setelah memesan Ocha dan Macha Cake, Itachi beralih pada Sakura yang masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Tempat itu tidak begitu sepi, juga tidak ramai. Itachi sengaja memilih tempat di pojokan agar Sakura tidak merasa terlalu terintimidasi dengan suasana asing di sini.
Mereka duduk di lantai tatami dengan meja rendah yang memisahkan eksistensi mereka. Saling berhadapan. Lampu berpendar jingga yang tidak terlalu terang entah kenapa terlihat romantis dengan warna krim tatami dan meja kayu cokelat tua.
"Sakura, apa kau senang?" Tanya Itachi lembut pada gadis yang masih melongokkan kepalanya ke segala arah. Harus agak meninggikan sedikit lehernya untuk melihat sekitar karena tempat makan mereka dibatasi bilik yang tidak terlalu tinggi.
Sakura menolehkan kepalanya cepat pada Itachi dan melempar seringai riang. "Tentu saja!" Sahutnya semangat. "Apa Itachi-nii juga senang?" Tanyanya antusias.
Pemuda berambut hitam panjang dikuncir itu tersenyum lembut ke arahnya. "Baguslah. Akupun begitu."
Setelah pelayan datang membawakan pesanan mereka, Sakura pun langsung mengambil ocha dan meminumnya. Rasa hangat menjalar di tubuhnya. Memberi efek relaksasi dan membuatnya rileks. Ia segera menyambar mangkuk putih yang di atasnya sudah tersedia kue berbentuk buat pipih berwarna hijau dan tepinya cokelat dengan beberapa corak putih di dalam kuenya. Segera ia meraih sendok dan mulai mengambil potongan kecil kue dan mengoleskannya ke krim putih yang berada di sekitar kue. Bibirnya mengemut semangat saat dirasakan kue berasa manis dan lembut itu memanjakan indera pencecapnya.
Itachi terkekeh kecil melihat tingkah Sakura. Ia pun menutupi kekehannya dengan meminum ocha dan mulai memakan kue macha cake-nya. Dan makan malam yang penuh ketenangan itu mereka jalani dengan suka hati.
.
.
"APA?! Itachi-kun ke Kyoto?" Teriakan kaget dari pemuda berambut pirang panjang itu menggema di ruang apartemennya yang sepi. Ia menggenggam ponselnya erat di tangannya dan mematikan sambungan saat ia mengkonfirmasi kebenaran berita itu dari teman kantor Itachi.
"AAAARGHH...!" Raung Deidara marah. Ia melempar segala sesuatu yang bisa diraihnya di sekelilingnya. Menarik kasar dan menjatuhkan barang sampai ada yang pecah dan pecahan kacanya tak jarang menancap di kakinya, memompa banyak darah keluar dari kulitnya.
Rasa perih tak ia pedulikan. Saat ini hatinya terasa remuk dan tubuhnya merosot jatuh. Amarahnya bangkit saat tahu Itachi pergi dengan gadis dari Indonesia itu. Bahkan Itachi tak memberitahunya. Kekecewaan dan rasa sedih menyeruak masuk ke hatinya. Membuatnya menangis tanpa suara.
Kenapa...? KENAPA? Raung Deidara kesal dalam hatinya. Kenapa Itachi tak memberitahuku?
Mengusap airmata di pipinya dengan kasar, ia pun bangun dari duduknya dan segera menelepon Kakuzu. Memintanya untuk memesankannya pesawat dengan tujuan kota Kyoto.
Seringai kejam muncul dari mulutnya. Membuat wajahnya yang tampan terlihat menyeramkan dari biasanya. Ia tak bisa menerima jika Itachi lebih memilih seorang perempuan dibandingkan ia.
Tanpa Deidara sadari, sepasang onyx sedang menatapnya dengan tatapan benci. Enggan untuk melihat pemuda psycho di depannya, ia pun berlalu pergi.
Dibandingkan dengan rasa bencinya pada pemuda tak waras itu, ia lebih mengkhawatirkan Sakura dan kakaknya sekarang. Maka dari itu, ia segera terbang dengan cepat. Tujuannya hanyalah untuk memperingatkan Sakura. Jangan sampai ada yang menjadi korban lagi, pikirnya kalut.
.
.
.
TBC
A/N : Errr... chapter ini lebih panjang dari sebelumnya, dan lebih aneh tentunya -_-"
Maafkan aku~ DX
Aku nggak cek lagi masih ada typo apa nggak pasti ada abisnya kebut buat namatin ini fic. Jadwal kuliah padat sih D'X #alesan!#
Bales review:
AikhaTheLittleCherryBlossom : woaa.. makasih X3 haha.. klo itu, tunggu aja kelanjutannya XD
Tohko Ohmiya : Saku tuker gender ya? Aku juga suka sama karakternya yg jd cowo' X3 tp aku fujoshi yang suka gender tetep kaya' NejiSasu XD #malahcurhat*plakk# Dei emang keren kok :D tp emang psycho*bisikbisik* Udah next :D
hanazono yuri : aku juga kasian sama Sasuke #apacobaniauthormulaingaco -_-Maaf gak bisa update kilat :'( Serius maaf dah
NaruFhia sakura-chan : makasih! X'D untuk endingnya, pair-nya masih rahasia XD #plakk# Oh oke :D kapan-kapan aku mampir di ficmu X3 Salam kenal juga, Saku
Makasih ya semuanya yang udah baca, komentar, nge-fav sampai meng-alert fic abal ini :D
Review lagi ya? Biar semangat :D #buagh#
Gimana? Jelekkah? Gak ada feel-nya kah? Gak jelas kah? Hancurkah?#bantinglaptop# XD
Masih banyak yang harus kuperbaiki mulai dari EyD, diksi hancur lebur, typo gak tau ah DX
Jadi mohon dikoreksi, kawan
Butuh kritik dan saran yang membangun nih
Sekedar kasi semangat buat lanjutin fic ini aja udah buat aku senang :D
So, gimme ur review, please?
