.

.

.

Tanpa Deidara sadari, sepasang onyx sedang menatapnya dengan tatapan benci. Enggan untuk melihat pemuda psycho di depannya, ia pun berlalu pergi.

Dibandingkan dengan rasa bencinya pada pemuda tak waras itu, ia lebih mengkhawatirkan Sakura dan kakaknya sekarang. Maka dari itu, ia segera terbang dengan cepat. Tujuannya hanyalah untuk memperingatkan Sakura. Jangan sampai ada yang menjadi korban lagi, pikirnya kalut.

.

.

.

Disclaimer : Naruto and all characters is belong to Masashi Kishimoto. This story is mine.

Genre : Angst & Drama

Rate : T

Pair : SasuSaku, ItaSaku & DeiIta

Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), There's no bashing chara. Just for support this story, etc. Umur karakter:

Sakura Haruno : 14 tahun

Sasuke Uchiha : 14 tahun

Itachi Uchiha : 22 tahun

Summary :

Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.


Let Me In

By

Uchiha Cesa


Kota Kyoto masih sama seperti beberapa tahun yang lalu saat Sasuke mengunjungi tempat ini untuk menghabiskan masa liburan bersama kakaknya. Masih banyak bangunan sederhana di tepi kota ataupun suasana pedesaan di sekitar gunung Fuji. Tetapi gedung-gedung tinggi menjulang tetap berdiri tegak mengisi pusat kota.

Tapi, bukan itu yang Sasuke ingin temui. Bukan pula mengingat kenangan terburuk sepanjang hidupnya di kota ini. Ia hanya ingin menemui Itachi dan Sakura.

Semoga masih sempat, harapnya.

.

.


Hari minggu.

Gadis berhelai merah muda sedang menikmati awan yang bergerak lambat dari balik dinding berkaca transparan di lantai teratas rumah keluarga dari Itachi Uchiha. Ia biarkan jendela di salah satu dinding kayu berukir klasik di ruangan itu terbuka sehingga angin lembut menyapa indera perasa di kulitnya. Bahkan beberapa helai merah mudanya melambai menemani angin yang terkadang berhembus lumayan kencang. Pagi ini terasa sejuk dan tenang bagi Sakura.

Suasananya begitu damai dan Sakura menikmatinya—sampai suara dari seorang pemuda yang hobi mengagetkannya kembali membuat matanya terbelalak. Sakura reflek mengangkat tubuhnya dan duduk di lantai berkarpet sambil menoleh pada asal suara.

Sasuke...

"Yo, Sakura. Ketemu lagi." Sapa Sasuke sambil mengangkat tangannya. Tersenyum kaku pada gadis yang mengangkat alis merah mudanya bingung.

"Kenapa kau bisa kemari? Dan kenapa bisa ada di sini?" Tanya Sakura cemas sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan—memastikan tidak ada seorangpun di sana selain ia dan Sasuke.

Pemuda berambut hitam kebiruan itu menurunkan tangannya dan berjalan mendekati Sakura. Ia kemudian duduk dengan jarak semeter di sebelah Sakura. Mata onyx-nya mengikuti awan yang bergerak di balik dinding kaca.

"Mudah bagiku untuk datang ke kota ini. Juga, Neko baa-san dengan senang hati mengijinkanku naik ke ruangan favoritnya ini." Jelas Sasuke cuek tanpa mengalihkan tatapannya untuk sekedar melihat ekspresi mengerti dari Sakura.

Sakura mengangguk mengerti. Neko baa-san adalah nenek dari Itachi Uchiha dan Sasuke Uchiha. Tentu saja ia akan mengijinkan cucu-cucunya berkunjung atau bahkan menginap di sini. Ia hampir lupa status Sasuke sebagai seorang cucu dari pemilik rumah yang ia dan Itachi tinggali sementara sekarang. Namun, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Sakura tentang laki-laki yang dengan cueknya mulai berbaring di sampingnya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Ada urusan apa kau kemari, Sasuke?" Tanya Sakura penasaran.

Sasuke menoleh padanya—memandang lurus emerald Sakura. Meski onyx itu terlihat datar tanpa emosi, hanya pemilik dan tuhannya yang tahu kalau Sasuke menyembunyikan rasa cemasnya yang luar biasa. Sasuke membuka mulutnya, bersiap untuk berucap.

"Deidara menyusul kemari, ke kota Kyoto. Sepertinya merencanakan sesuatu yang berbahaya, Sakura. Aku ke sini untuk memperingatkanmu. Bilang pada Itachi-nii." Nada Sasuke terdengar datar. Ia mulai bangkit dari pembaringannya dan berdiri. Meninggalkan Sakura yang masih shock dengan informasi baru yang didengarnya.

"Sebaiknya kau cepat." Saran Sasuke dengan nada pelan. Untuk yang kesekian kalinya Sasuke menghilang tanpa Sakura sadari.

Sakura tampak sibuk merogoh saku celananya dan meraih ponselnya. Ia menekan tombol untuk menelepon Itachi dengan terburu-buru. Raut panik terlihat jelas di wajahnya. Saat nada tunggu panggilannya akan berakhir, seseorang mengangkat telepon Sakura dari seberang.

"Itachi-nii! Kita harus cep-"

"Itachi-kun sedang sibuk."

Sambungan terputus. Ponsel Sakura meluncur dari tangannya. Jatuh menghantam karpet dengan suara yang sedikit keras.

Suara itu..., Deidara.. Kenapa dia yang mengangkat telepon? Itachi-nii...? Itachi-nii bersama dia?

Sakura tak bisa menahan airmatanya. Mengisak tertahan. Pikirannya tertuju pada perkataan Sasuke tadi. Hal itu membuat Sakura tak bisa berpikir jernih. Ia menoleh ke mana-mana dan mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Tapi terjatuh dan terduduk lagi. Seperti orang linglung.

Ingin menyusul Itachi pun ia tak bisa. Dia tidak tahu lokasi Itachi di mana sekarang. Dan itu benar-benar membuatnya panik.

Di balik pintu, Sasuke menutup matanya. Menyembunyikan onyx-nya dengan alis bertaut. Merasa bersalah. Ia telat. Benar-benar telat. Itachi bersama Deidara. Entah hasutan apalagi yang pemuda pirang itu layangkan pada kakaknya. Ia tak tahu dan tak mau tahu. Ingin sekali rasanya kembali ke dalam ruangan itu dan menghibur Sakura. Terlihat dari onyx-nya yang kembali tampak dan melirik ke arah pintu.

Tapi niat itu ia urungkan. Sekarang, ia harus menemui Itachi. Berusaha untuk bisa terlihat oleh sang kakak. Entah tuhan yang terlalu membencinya karena dosanya di masa lalu atau apa, tapi ia tak pernah bisa dilihat kakaknya itu dalam wujud hantunya. Dan anehnya, hanya Sakura yang bisa melihat sosok dan mendengar suaranya. Yang Sasuke yakini dari dulu, Sakura bisa melihatnya karena gadis itu masih polos dan mungkin saja berjodoh dengan kakaknya.

.

.


"Siapa yang menelepon, Deidara-kun?" Tanya Itachi yang sedang mencuci tangannya di wastafel kamar mandi.

Pemuda bule yang dipanggil Deidara itu hanya tersenyum miring menatap kekasihnya. "Bukan siapa-siapa, Itachi-kun." Jawabnya dari luar kamar mandi.

Itachi muncul dari balik pintu dan tersenyum menatap Deidara. "Aku sudah selesai."

Mengangguk sekilas sebagai respon dari perkataan Itachi, ia pun menarik pergelangan tangan pemuda itu dan mendudukinya di sofa ruang tamu.

Setelah dua orang-pasangan sama jenis itu duduk, Deidara menatap lurus ke dalam mata onyx Itachi. Namun, pemilik onyx itu hanya menunduk. Tak ingin menatap balik pemuda yang ia tahu sedang kecewa dengannya.

Deidara hanya menghela napasnya panjang kemudian membuka mulutnya, "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau ingin ke sini, Itachi-kun? Dan kenapa kau bersama gadis itu?"

Pemuda yang ditanya hanya meremas tangannya. Ia bisa mendengar suara kekasihnya terdengar kesal. Jantungnya berdebar kencang. Jujur atau berbohong. Ia tak tahu pilihan mana yang lebih menguntungkannya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan—berharap ada sesuatu atau seseorang yang bisa menolongnya dari suasana tak mengenakkan ini.

Pemuda berambut hitam dikuncir rendah itu masih ingat Deidara mengunjungi rumah nenek Neko pagi tadi dan mengajaknya ke hotel ini. Sedari bertemu dengan pemuda pirang itu pula hatinya dimakan gelisah dengan pelan tapi pasti.

Itachi mengambil napas dalam-dalam dan menghelanya dengan pelan. Berusaha mengatur detak jantungnya yang menggila. Berupaya untuk mengontrol isi pikirannya yang mulai kacau. Saat berikutnya, dengan tekad yang sudah ia kuatkan dari dalam hati, onyx-nya membalas lurus menatap mata biru Deidara. Bagaimanapun aku harus jujur, pikirnya.

"Sebelumnya, maaf kalau aku tak memberitahumu, Deidara-kun." Ucap Itachi datar namun berusaha meyakinkan Deidara dengan tatapannya. "Alasanku membawa Sakura ke kota ini karena-" terdengar suara napas yang tertarik kuat oleh hidung mancung Itachi, "-aku mulai tertarik dengan gadis itu."

PRANG

Kaca berserakan di bawah kaki kedua pemuda itu. Bersamaan dengan cairan pekat berwarna merah yang muncrat di sekitar kaca dan tidak sedikit yang melekat di material yang mereka kenakan. Itachi terkesiap dan menghentikan napas yang dihirupnya. Tidak menyangka akan reaksi kekasihnya.

Sedangkan Deidara sendiri masih menunduk dengan luka menganga di tangan kanannya. Luka yang diakibatkan oleh kaca yang pecah karena terlalu kuat digenggamnya. Tidak sedikitpun terlihat raut kesakitan di wajah kaku Deidara. Hanya datar. Seperti mayat yang tak diterima bumi.

"Dei-"

BRUGH

"Diam."

Deidara menindih Itachi dan menahan kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan genggaman erat Deidara. Itachi hanya mengernyit dan bisa dilihatnya mata biru di atasnya terlihat kosong. Entah kenapa, tubuhnya sedikit gemetar. Takut. Ia sedikit merasa takut dengan lelaki yang 6 tahun lalu menjadi kekasihnya.

"Ta-"

"Diam."

Lagi-lagi Deidara memotong perkataan Itachi dengan nada datarnya. Itachi terkesiap saat pipinya terasa basah. Airmata?

Tidak. Itu bukan airmatanya. Itachi masih bisa merasa matanya tak mengeluarkan air. Ia mendongak dan mendapati mata biru yang menatap kosong padanya itu berkaca. Dari sudut kelopaknya, air jatuh tak berhenti membasahi wajah Itachi.

"Kenapa kau tertarik padanya?" Suara Deidara terdengar parau. Ia masih menatap Itachi dengan pandangan kosong. "Padahal ada aku. Padahal aku menyayangimu dengan begini besar."

Tak ada isakan dari Deidara. Iris biru itu masih terlihat berkaca. Nada yang ia keluarkan memang terdengar datar. Namun, kata-kata itu menohok hati Itachi dengan kejam. Perlahan ia bisa merasakan sesak yang Deidara rasakan.

"Aku sangat menyayangimu. Mencintaimu. Tidak peduli orang-orang mengutukku selama ini. Aku hanya ingin bersamamu." Perlahan tapi pasti isakan kecil terdengar dari Deidara. Tatapannya juga berganti menjadi beberapa kilasan emosi; marah, sakit, sesak, dan perasaan ambigu lainnya.

Itachi bisa merasakan cairan pekat dari Deidara di pergelangan tangannya mulai merembes ke sofa yang menjadi tempat pembaringannya. Ia berusaha untuk mendorong Deidara, tapi tak bisa. Tenaga lelaki di atasnya lebih kuat darinya. Itachi sungguh tak tahan mendengar keluhan Deidara. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah.

"Padahal kau cukup memilikiku dan hanya tertarik padaku karena aku peduli padamu. Tapi kenapa kau malah mengkhianatiku?" Kali ini Deidara menaikkan satu oktaf nadanya. Ia benar-benar dikuasai emosi sekarang.

Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Itachi. Lidahnya terasa kelu. Rasanya ingin berteriak untuk menghentikan tangis dan keluhan dari pemuda yang menindihnya itu. Tapi ia yakin suaranya akan terdengar seperti teriakan anak bisu.

"Kau hanya bisa menjadi milikku, Itachi-kun! Kau tidak boleh menyukai orang lain! Tidak boleh! Tidak akan pernah kuijinkan!" Raung Deidara seperti kesetanan. Ia melepaskan kedua tangan Itachi dan mulai menyingkir dari kekasihnya. Berlalu pergi ke balik dinding dengan tawa mengerikan.

Pupil hitam Itachi melebar mendengar perkataan Deidara. Sekarang rasa takut mulai menggerogoti tubuhnya. Memaksa kelenjar adrenalinnya terpacu dan ia pun melihat dengan terburu-buru ke penjuru ruangan hotel itu. Tubuhnya terangkat dan kakinya melangkah dengan cepat meraih kenop pintu yang dilihatnya paling dekat dengan posisinya.

CEKLEK CEKLEK BRAKK

Itachi menghantamkan tinjunya ke pintu.

Sial! Terkunci.

Ya, pintu itu sengaja dikunci oleh penyewa kamar tersebut. Sepertinya Deidara sudah menduga Itachi akan kabur darinya.

Lagi-lagi onyx itu melarikan pandangannya mengitari ruangan. Membuka semua pintu yang bisa dijadikan jalan keluarnya. Namun, usahanya nihil. Semua pintu bahkan jendela pun terkunci. Itachi mengutuk kecerdasan Deidara dalam hati.

Pemuda yang menjadi kekasih, sekaligus orang yang ditakutinya sekarang memang dijuluki jenius di sekolah mereka dulu. Bahkan bisa dianggap sebagai Alfred Nobel kedua karena Deidara berhasil menemukan sebuah alat sekecil lalat yang bisa terbang dan mengeluarkan ledakan yang mampu memutuskan paha orang dewasa. Dan ia membuat alat itu hanya dalam waktu 3 hari. Kecintaan Deidara akan hal berbau ledakan memang berbahaya. Tapi Itachi tak pernah menganggap hal itu berbahaya baginya. Tidak heran jika otaknya yang jenius malah mengembangkan dinamit yang pertama kali ditemukan oleh Alfred Nobel menghantarkan ia menjadi ilmuwan yang meraih Penghargaan Nobel.

Tapi hal itulah yang Itachi takutkan sekarang. Ia masih ingin hidup. Ia tak ingin menjadi kelinci percobaan Deidara untuk uji coba bom lalat yang ia dengar akhir-akhir ini bisa ia kembangkan dengan remote control.

Itachi menoleh saat didengarnya suara pintu terkunci di belakangnya. Deidara terlihat dengan senyumnya yang terlihat janggal dengan seutas tali di genggaman tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih dengan luka yang menganga dengan darah yang belum berhenti menetes di sepanjang langkah Deidara.

Di sisi lain, Sasuke menatap marah pada Deidara dan berteriak kesal. Namun, tetap, suaranya tak bisa didengar oleh dua orang di ruangan itu. Apalagi wujudnya yang bagai matahari saat malam.

"Berhenti di situ atau aku akan membunuhmu, Deidara!" Raung Sasuke. Ia tak bisa berpikir sekarang. Ia bahkan tak memikirkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Dasar brengsek!" geram Sasuke sambil menghantam tubuh Deidara berkali-kali. Tapi tangannya hanya menembus tubuh Deidara. Tidak memberikan efek apapun pada pemuda yang dibencinya itu.

Sasuke mendecih dan berusaha mendorong kakaknya pergi. Tapi hal yang sama juga terjadi. Itachi tetap tidak bergeming dan tangannya dengan setia menembus tubuh kakaknya.

"Nii-san! Pergi dari tempat ini! Pemuda itu gila, Nii-san!" raung Sasuke panik. Sungguh, ia tidak ingin hidup kakaknya berakhir di tangan pemuda itu sama seperti dirinya yang terbunuh di tangan Deidara. Meskipun ia tahu usahanya sia-sia. Tapi ia benar-benar tak bisa berpikir tenang lagi.

Ia benar-benar panik saat melihat Deidara yang mendorong Itachi jatuh tertelungkup dan mengikat kedua tangan Itachi dengan tali putih di tangannya. Yang membuatnya makin membelalakkan matanya adalah saat Deidara mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Ingin rasanya Sasuke mencincang pemuda psycho itu.

Memanggil Sakura sekarang pun hanya akan memakan waktu yang cukup lama. Sasuke mencengkeram rambutnya frustasi. Dan tiba-tiba saja ide aneh melintas di otaknya saat teringat akan gadis itu. Peristiwa poltergeist. Sasuke pernah sekali mengeluarkan kemampuannya menggerakkan benda di dunia ini dan menunjukkannya pada Sakura. Menggerakkan kunci berbandul lonceng dengan lambang keluarganya saat pertama kali bertemu dengan Sakura.

Kali ini ia berusaha berkonsentrasi dan meyakinkan dirinya kalau ia mampu melakukan poltergeist kembali. Ia tidak akan peduli sikapnya ini akan membuatnya masuk neraka karena dianggap mengganggu kehidupan manusia. Ia ingat pernah berjanji untuk tidak menganggu manusia pada malaikat bersayap putih yang mencabut nyawanya. Tapi kali ini, Sasuke bahkan tidak peduli neraka yang sering diceritakan beberapa buku adalah tempat terseram sepanjang masa. Baginya, melihat kakaknya terbunuh sepertinya jauh membuatnya tersiksa dibandingkan dengan neraka seperti yang diceritakan kitab-kitab agama.

Setelah merasa dirinya mampu menggerakkan benda mati, segera ia ambil vas bunga yang berada di dekatnya dan tersenyum saat benda itu berhasil diangkatnya. Bisa dilihatnya kakaknya terbelalak di balik punggung Deidara yang berusaha menutup mulutnya dengan isolasi. Sebelum isolasi itu sampai di mulut Itachi, Deidara terkesiap saat rasa sakit menyerang belakang kepalanya.

PRANG BRUGH

Keramik vas tercerai-berai ke sekitar tubuh Deidara dan Itachi. Dan suara tubuh Deidara yang terjatuh dengan kepala berdarah selanjutnya menggema di ruang yang hening itu.

Itachi masih membelalak dengan tatapan tak percaya. Ia masih terdiam dan tak menyingkirkan tubuh Deidara yang terjatuh di atasnya. Berat dan rasa sesak yang menghampirinya tak ia pedulikan sekarang.

"Bagaimana bisa vas itu-?" Ucapnya dengan nada bingung.

Sasuke tersenyum tulus di samping Itachi. Meski kakaknya tak melihatnya, ia berharap kakaknya bisa merasakan kehadirannya.

"Sasuke..." Ucap Itachi pelan, namun jelas.

Membuat pupil yang dikelilingi onyx Sasuke melebar. Kali ini ia yang memandang kakaknya tak percaya.

"Nii-san..., syukurlah." Ucap Sasuke yang tak bisa menyembunyikan nada dan raut wajah senangnya.

Segera ia sambar tubuh kakaknya dan memeluknya. Rasanya sesak. Ingin rasanya Sasuke menangis bahagia. Bersyukur dengan keselamatan kakaknya. Bersyukur karena kakaknya merasakan kehadirannya.

Tak terasa tetes-tetes airmata mulai jatuh dan menuruni pipi Itachi. Entah kenapa, sekarang rasanya begitu damai. Ia merasa Sasuke bersamanya. Tersenyum padanya. Merasa tadi itu adalah pertolongan dari adiknya. Dan nama Sasuke terus bergaung dari mulutnya selama beberapa menit selanjutnya. Berharap adiknya kembali hidup dan menemaninya.

Ia tidak menyadari bahwa Sasuke sekarang memeluknya dengan perasaan rindu yang membuncah.

.

.


Pintu hotel terbuka dengan kunci cadangan oleh salah satu pegawai di sana saat mereka mendengar suara kaca yang pecah dan teriakan minta tolong dari Itachi. Ikatan di tangan Itachi pun dilepaskan oleh pegawai hotel itu.

"Arigatou." Ucap Itachi dengan senyum senang di wajahnya.

"Sama-sama. Kenapa Anda bisa seperti ini? Dan siapa pemuda itu?" Tanya pegawai berambut hitam pendek dengan kulit pucat sambil memberikan Itachi segelas air putih dingin.

Itachi mengambil gelas yang disodorkan padanya dan menenggak isinya sedikit.

"Dia marah padaku dan menyerangku. Namanya Deidara." Jawab Itachi sekenanya.

"Seharusnya Anda laporkan hal ini pada polisi. Dia sepertinya berniat membunuh Anda." Ucap pemuda berkulit putih pucat itu sambil melirik pisau lipat yang tergenggam di tangan Deidara.

"Ya." Sahut Itachi sambil beranjak dari duduknya.

"Namaku Sai. Kau boleh menghubungiku kalau ada apa-apa." Ucap pemuda yang bernama Sai itu sambil tersenyum dan memberikan kartu pengenalnya pada Itachi.

"Baiklah. Sekali lagi, terima kasih, Sai." Ucap Itachi sambil tersenyum tulus.

Ia beranjak dari duduknya dan menghubungi polisi. Setelah polisi datang, Ia dan Sai menceritakan hal yang terjadi dan Deidara pun dibawa ke rumah sakit dalam keadaan pingsan dengan pengawalan dari beberapa polisi. Setelah menyelesaikan kronologi kejadian pada polisi, ia pun pulang ke rumah nenek Neko.

.

.


"Kau tidak perlu khawatir lagi, Sakura. Itachi-nii sekarang baik-baik saja." Ujar Sasuke dengan nada datar. Berusaha menenangkan Sakura yang seperti orang linglung daritadi.

"Bagaimana aku bisa tenang, Sasuke? Itachi-nii bersama dengan pasangan gay-nya itu." Ucap Sakura terburu-buru. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi dan berkali-kali melirik ke arah bawah dari dinding kaca ruangan itu yang menghadap langsung ke halaman depan rumah. Berharap sosok Itachi tampak di sana.

"Aku berani jamin dia baik-baik saja, Sakura." Ucap Sasuke dengan tatapan tajam. Ia menatap lurus dan dalam emerald milik Sakura.

Helaan napas panjang terdengar dari mulut gadis bersurai merah muda itu. Raut wajahnya tampak mulai tenang. Mengundang senyum di wajah Sasuke.

"Ke mana kau tadi, Sasuke?" Tanya Sakura penasaran. Sasuke meninggalkannya cukup lama tanpa memberitahunya saat pergi.

Sasuke mendekat ke arah Sakura dan menempelkan telapak tangannya di dinding kaca. Melihat pemandangan di luar. Ia mendongak dan melihat awan yang mulai berwarna abu-abu. Di penghujung langit, biru pekat mulai mendominasi langit. Sepertinya hujan deras akan segera tiba.

"Aku memastikan keadaan Itachi-nii tadi. Dia baik-baik saja sekarang. Tak perlu cemas lagi. Ah. Panjang umur. Itu dia." Jelas Sasuke dan menunjuk siluet pemuda bertubuh jangkung yang mulai memasuki pekarangan rumah nenek mereka.

Sakura dengan langkahnya yang terburu-buru, mendekati Sasuke dan melihat ke arah yang ditunjuk pemuda di sampingnya. Senyumnya melebar saat melihat Itachi yang tampak baik-baik saja mulai menghilang dari pandangannya; memasuki pintu depan rumah.

Segera ia berlari ke lantai bawah untuk menyambut pemuda itu. Sementara Sasuke tersenyum sedih sambil memandang punggung Sakura yang mulai menghilang di balik pintu.

Kalau kakak bahagia, aku juga pasti bahagia, batin Sasuke.

Perlahan sosoknya melayang dan terbang menembus dinding kaca. Melayang di atas atap sambil melihat keadaan sekitar.

.

.


"Itachi-nii! Kau baik-baik saja?" Tanya Sakura sambil celingak-celinguk memperhatikan seluruh tubuh Itachi. Dan matanya terbelalak mendapati pergelangan baju dan samping baju bagian kirinya terdapat bercak darah yang lumayan banyak. "Kau terluka?!" Tanya Sakura panik sambil menyambar lengan dan baju Itachi yang terlihat bercak darah.

Alisnya mengernyit saat tidak melihat luka di sana. Lantas, ini darah siapa?

"Darah ini milik Deidara." Itachi menjawab pertanyaan dari batin Sakura.

Segera saja gadis beriris emerald itu memandang Itachi dengan penasaran.

"Dia terluka? Bagaimana bisa? Ceritakan padaku, Itachi-nii."

-dan cerita sesuai fakta pun meluncur dari Itachi dengan iringan raut bingung, marah, kesal, dan lega dari wajah Sakura.

.

.


Angin semakin berhembus kencang. Menerbangkan beberapa helai daun dari pohonnya. Membuat beberapa dahan muda bergerak dan gemerisik keras terdengar dari setiap tumbuhan besar. Angin itu sepertinya membawa awan yang memulai badai.

Di salah satu sisi ruangan dengan beberapa sofa dan sebuah TV, terisi oleh tiga manusia yang mendengarkan dengan seksama cerita yang cukup menegangkan dari Itachi tentang hal yang dialaminya tadi.

"Saat ia akan menutup mulutku dengan isolasi hitam itu, tiba-tiba aku melihat sebuah vas bunga melayang dan menghantam belakang kepala Deidara. Aku benar-benar tidak pernah mempercayai hal gaib atau semacamnya sampai aku mengalami hal seperti tadi." Ucap Itachi dengan raut wajah serius. Mengundang raut super penasaran dari Sakura dan neneknya—Neko baa-san.

"Rasanya, saat itu Sasuke menolongku. Aku benar-benar merasa kehadirannya di sana saat itu." Ucap Itachi dengan nada sedih. Raut wajah Itachi dan nenek Neko pun terlihat sama sedihnya. Sedangkan Sakura, raut wajahnya tak bisa terlihat pasti; antara bingung, gelisah, dan sejenisnya.

"Sasuke? Apa maksudnya merasakan kehadirannya, Itachi-nii?" Tanya Sakura penasaran dan bingung.

Pemuda bermata onyx itu mengangkat wajahnya dan memandang Sakura sedih. Senyum terluka jelas terpahat di bibir tipisnya.

"Aku belum memberitahumu, ya, Sakura? Sasuke adalah adik semata wayangku. Ia seumuran denganmu saat ia meninggal. Empat belas tahun." Jelas Itachi.

Emerald Sakura terlihat melebar. Tubuhnya membeku. Entah kenapa, rasanya sulit sekali bernapas baginya. Bohong, 'kan? Itachi-nii pasti bohong.

"Ano..., Sakura-san?" panggil Nenek Neko ragu saat melihat Sakura yang tak bersuara bahkan tak bergerak seincipun.

Itachi juga tak bisa menyembunyikan kecemasannya melihat perubahan sikap Sakura. Ia kemudian menepuk pundak gadis itu. Membuat Sakura menoleh padanya.

"Kau tak apa, 'kan, Sakura?" Tanya Itachi khawatir.

"Itachi-nii bohong, 'kan? Mana mungkin Sasuke sudah meninggal. Lihat, itu dia." Tunjuk Sakura pada Sasuke yang menyandar di tembok di samping TV sambil tersenyum padanya.

Segera saja nenek Neko dan Itachi menoleh cepat pada arah yang ditunjuk Sakura. Jantung kedua insan itu berdetak dengan keras. Keringat mulai keluar dan menuruni pelipis kedua Uchiha itu. Pasalnya, mereka tidak melihat seorangpun di arah yang ditunjuk Sakura.

Itachi segera mendekati Sakura dan memegang kedua pundak Sakura.

"Sakura, lihat aku. Kau mengenal Sasuke?" Tanya Itachi dengan nada sedikit bergetar.

"Tentu saja aku mengenalnya, Itachi-nii." Jawab Sakura dengan senyum di wajahnya. Namun, senyum itu terlihat aneh di mata Itachi. Senyum yang tampak dipaksakan. "Itachi-nii pasti bohong. Jahat sekali. Kenapa Itachi-nii tidak menyapanya? Padahal Sasuke sudah membuatku menjaga rahasia soal keberadaannya sampai waktu yang tepat. Dan sekarang, Sasuke sudah muncul di hadapanmu dan kau tak menyapanya?"

Pemuda berkuncir itu semakin bingung. Ia sekali lagi menoleh ke belakang, mengikuti arah tunjukan Sakura dan ia benar-benar tidak melihat seorangpun di sana.

"Apa yang kau katakan, Sakura? Sasuke sudah meninggal sebulan yang lalu!" Ucap Itachi tak sabar karena melihat sikap Sakura yang ganjil. Ia pikir Sakura mungkin sedang berhalusinasi.

"Tidak. Tidak mungkin. Sasuke, coba kau ke sini." Panggil Sakura pada Sasuke sambil melambaikan tangannya pada pemuda berambut dark blue yang balik menatapnya dengan tatapan sedih. Gelengan kepala Sasuke menjadi jawaban singkat untuk Sakura.

"Tapi Sasuke sudah mening-"

"Bohong! Sasuke! Jelaskan pada mereka! Kau, 'kan, masih di sini! Hei, jangan bercanda, dong. Tidak lucu!" Racau Sakura dengan suaranya yang mulai serak. Airmatanya keluar dengan deras.

Itachi segera memeluk Sakura yang mulai terisak. Sedang nenek Neko mengelus punggung Sakura. Berharap sedikit memberi ketegaran pada gadis bersurai merah muda itu.

"Sasuke... Sasuke..." Hanya nama itu yang terus Sakura sebut dengan isakan kecil di sela tangisannya.

Langkah kaki Sasuke membawanya mendekati Sakura dan memeluknya dari belakang. Meletakkan dagunya di bahu Sakura meski sebenarnya ia tidak menyentuh Sakura.

Terlihat bahwa Itachi merengkuh Sakura dari depan dan Sasuke memeluk Sakura dari belakang. Isakan Sakura semakin keras terdengar. Bahkan napasnya menjadi cepat seakan bisa kehilangan oksigen kapan saja.

"Maafkan aku karena tidak memberitahumu selama ini, Sakura." Ucap Sasuke pelan di telinga Sakura. Membawa kesedihan bagi keduanya.

"Untuk yang terakhir, jaga Itachi-nii untukku, ya?" Ucap Sasuke dengan senyum lembut di wajahnya yang tak bisa Sakura lihat.

Perlahan, Sasuke melepaskan pelukannya dan melayang melewati tubuh Itachi di depannya. Emerald Sakura makin terbelalak melihat sosok Sasuke yang seperti itu. Bagaimanapun, rasanya ia belum percaya. Punggung Sasuke semakin terlihat transparan dan melayang menjauhinya. Membuat airmata Sakura semakin banyak keluar.

Sasuke menoleh dan tersenyum pada Sakura. "Aku tidak ingin pergi dengan menyembunyikan perasaan ini, Sakura." Ucap Sasuke pelan sambil melayang mendekati Sakura kembali.

"Aku mencintaimu, Sakura." Setelah mengakui perasaannya, Sasuke mengecup bibir Sakura meski keduanya sama-sama tak merasakan bibir yang menempel. Namun, perasaan mereka terasa hangat seperti saling mengisi.

Perlahan sosok Sasuke semakin transparan dan menghilang. Membaur dengan udara. Meninggalkan isakan tangis Sakura yang semakin keras dan pelukan Itachi yang makin mengerat.

.

.


Orang bilang, sebelum 40 hari kematian seseorang, orang itu masih berkeliaran di sekitar tempat yang pernah membawa kenangan untuknya. Mengulang bekas, kebanyakan orang bilang begitu. Dan Sasuke tak menyangka bahwa perkataan orang-orang itu benar dan terjadi padanya.

Sekarang, ia bisa pergi dengan tenang. Dengan kepakan sayap putih yang membentang lebar di punggungnya. Yang membawanya pergi menghadap Sang Pencipta.

.

.

.

TBC


A/N : chapter ini sepertinya kurang berasa feel-nya. maaf -_-

maaf juga update-nya lama #ojigi

Kritik, saran dan pendapat bakalan diterima ^^

No flame(s) ==


bales review:

rilis : hebaaat :o yap. kamu bener^^ err.. maaf gak bisa cepat update ^^"

Aikha Aizawa : setelah ini masih penasaran? :/ masih ada yg mengejutkan loh XD

Tohko Ohmiya : tp hinata lebih keren dr saku klo jd cowo' :3 pernah liat fan-art nya :D ternyata belum fujoshi tingkat akut X3 ini udah next :)

hanazono yuri : gomeeeen T,Tv telat update nih.

Saku-chan NaruFhia : emang enak banget tuh saku X3 Itachi = uke, Deidara = seme. Aih~ dei nya jadi penyerang X3 chapter depan udah end pair sekaligus end story-nya :D sama-sama ^^

Vie : eh? Makasih ya XD untung deh klo suka :3 ini udah lanjut :D

Terima kasih sudah membaca, kasi pendapat, mem-fave sampai meng-alert fiksiku :)

Mind to review?