.

.

.

Orang bilang, sebelum 40 hari kematian seseorang, orang itu masih berkeliaran di sekitar tempat yang pernah membawa kenangan untuknya. Mengulang bekas, kebanyakan orang bilang begitu. Dan Sasuke tak menyangka bahwa perkataan orang-orang itu benar dan terjadi padanya.

Sekarang, ia bisa pergi dengan tenang. Dengan kepakan sayap putih yang membentang lebar di punggungnya. Yang membawanya pergi menghadap Sang Pencipta.

.

.

.


Disclaimer : Naruto and all characters is belong to Masashi Kishimoto. This story is mine.

Genre : Angst & Drama

Rate : T+(for this chapter)

Pair : SasuSaku, ItaSaku & DeiIta

Warning : Alternative Universe, Out Of Characters, Typo(s), There's no bashing chara. Just for support this story, I don't need any flame(s) but critiques and support will be appreciated, DLDR, etc.

Summary :

Aku ingin percaya jika ia memanglah nyata. Tapi kenyataan malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa ia akan meninggalkanku setelah cinta yang ia sematkan kuat di hatiku. Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkannya dalam kebisuan.


Let Me In

By

Uchiha Cesa


Gemerisik hujan menambah keruhnya suasana hati si gadis berambut merah muda. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa kebahagiaan yang ia rasakan bersama pemuda yang dulu ia anggap menyebalkan akan berakhir dengan rentang waktu yang muda. Entah kenapa hatinya mengutuk angin yang berhembus meremangkan kulitnya. Seperti sedang mengolok kebodohannya karena tak pernah menyadari keganjilan yang ada pada pemuda berambut dark blue yang baru meninggalkannya. Desau angin yang membisik lewat di telinganya menyadarkan pada kejamnya realita kehidupan.

Jahat sekali. Kenapa dia tak pernah memberitahuku?

Hanya itu yang selalu Sakura racaukan dalam kegundahan hatinya.

Terpekur sendiri di sudut kamar dengan lutut tertekuk dan dipeluk. Linangan airmata dengan setia membasahi wajahnya. Sepasang emerald menembus tajam pada pemandangan di luar jendela yang dipenuhi panah hujan dari langit. Yang menusuk tanah sekaligus hati si pemilik emerald indah.

"Sakit, Sasuke..."

Suara serak itu seperti mengadu pada sosok yang telah menghilang. Tidak peduli hal itu membuatnya makin merasa sesak. Yang Sakura tahu, ia ingin sekali bertemu dengan pemuda itu. Meski hanya sekali.

Kilasan balik tentang kenangan ia bersama pemuda berambut hitam itu berkelebat seperti sebuah slide video.

Saat pertama kali bertemu dengannya. Dengan dia yang menghidupkan suara lonceng untuk mengisi kecanggungan di antara mereka. Dengan dia yang bermulut pedas dan membuat hatinya diremas. Sekaligus dengan dia yang meninggalkan luka menganga dan berbekas di hatinya.

Masih membekas di ingatannya saat pemuda itu memberinya misi untuk menanam cinta di hati pemuda pujaannya. Saat pemuda itu mempercayainya dan berkata akan selalu berada di sisinya.

"Kau bohong, Sasuke. Kau bilang akan selalu ada di sampingku. Kenapa kau menghilang sekarang?" Tanya Sakura. Masih dengan suaranya yang serak dan sengau.

Kaus biru muda gadis itu lecek di bagian dada karena pemiliknya lagi-lagi meremas kuat material itu. Sudah tentu gadis itu merasa sesak. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa Sasuke akan meninggalkannya. Padahal ia sudah menganggap pemuda itu sebagai sahabat baiknya.

Benarkah hanya sahabat?

Sakura semakin merasa sesak. Matanya terasa semakin perih saja memikirkan pertanyaan baru yang kembali menghantui pikirannya.

Permen merah berbentuk apel yang ia beli tempo hari membuatnya ragu akan perasaannya pada bungsu Uchiha itu. Dimana debaran itu datang saat jarak pemuda itu hanya beberapa sentimeter di belakangnya. Saat suara baritone itu membuat akalnya menghilang dan rasa gelisah yang hebat kembali menyapanya. Membuatnya salah tingkah.

Atau bagaimana perasaan damai menyeruak memenuhi hatinya saat mereka berjalan bersama di bawah pohon ginkgo biloba. Nyaman, tenang, hangat, sekaligus dengan debaran menggila yang selalu datang saat mereka berdekatan. Itu yang ia rasakan saat bersama dengan Sasuke. Membuatnya ragu untuk menganggap pemuda itu hanya sebagai sahabat.

Setiap ia butuh seseorang untuk menguatkan dan membesarkan hatinya, di situlah Sasuke selalu ada. Pemuda itu selalu memberi penghiburan hanya dengan eksistensinya bagi dirinya. Dan ia tak pernah bisa menyadari semua ini sebelum Sasuke menghilang dari pandangannya—dari hidupnya.

Andai saja aku tahu kau akan pergi meninggalkanku seperti ini, aku pasti akan menghabiskan banyak waktu bersamamu, Sasuke. Memastikan banyak hal—perasaanku. Bodohnya aku baru sadar betapa aku mencintaimu setelah kau pergi.

Batin Sakura bergejolak tak tentu arah. Matanya kembali terasa panas dan mengeluarkan liquid hangat yang sepertinya susah untuk tertahan di pelupuk matanya.

Jika Itachi yang pergi dari hidupnya sekarang, mungkin rasa sakitnya akan sama seperti Sasuke yang meninggalkannya -seperti ini. Sakura merutuki kebodohannya lagi karena terlambat menyadari. Tapi fakta tak sesuai keinginan Sakura. Ia telah pergi—dan tak akan kembali.

Masih kuat di ingatannya saat Sasuke tersenyum lembut ke arahnya. Bibir Sasuke yang menempel di bibirnya meski ia tak merasakan apapun selain angin yang bertiup menerbangkan helai rambutnya yang menggelitik bibirnya. Hal yang membuatnya sesak setelah pengakuan cinta dari si pemuda.

Gadis itu mengusap pipinya kasar. Sakit hati yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa perih di pipinya yang tak sengaja terkena kuku tajamnya. Sekarang, ia harus mengadu pada siapa tentang perasaannya? Pada tuhan? Tuhan yang mengambil kehidupan Sasuke darinya? Tidak. Untuk sekarang Sakura tak ingin mengadu apapun pada siapapun. Merelakan Sasuke sama seperti merelakan jantungnya untuk dimakan serigala.

.

.


Suara napas yang tertarik kuat oleh hidung mancungnya menjadi melodi yang menemani detik jam di dinding dan rintik hujan yang sayup-sayup terdengar dari luar. Seakan baru tersadar dengan gelapnya pemandangan di luar, ia pun bangkit dari posisinya yang duduk memeluk lutut. Baru ia sadari tubuhnya terasa sakit dan ototnya kaku. Matanya terlihat sipit dan agak membengkak, akibat dari airmata yang Sakura tak tahu berapa lama keluar.

Segera ia langkahkan kakinya mendekati jendela dan menatap pemandangan gelap sekilas di luar yang membawa hawa dingin bagi tubuhnya. Suara besi beradu menjadi lagu pengiring menutupnya daun jendela tanpa celah sekarang. Menghela napas sebentar, Sakura berbalik dan menuju ranjang lalu berbaring di atas kasurnya. Menutup kedua matanya dengan lengan kirinya. Empuknya kasur tidak lantas membuat kesedihannya memudar. Berhentinya airmata yang mengalir tidak lantas juga mengartikan bahwa Sakura berhenti untuk bersedih.

Suara aneh muncul dari arah perut Sakura. Ya, gadis itu memang lapar. Terakhir kali ia makan saat pagi tadi. Ia masih ingat suara Itachi yang memanggil dan menyuruhnya makan beberapa jam yang lalu –ah, ia tak ingat kapan. Tapi Sakura tak menyahut atau merespon Itachi. Bahkan tak bergerak seincipun dari posisinya. Membuat pemuda itu menyerah dan tak memaksa Sakura.

Melupakan rasa lapar di perutnya, wajah Sasuke kembali terngiang di ingatannya.

Aku ingin percaya jika kau memang nyata, Sasuke. Tapi kenyataan ini malah mengolokku dan melemparku ke dalam fakta bahwa kau meninggalkanku setelah membuatku mencintaimu sebesar ini.

Tentu saja nyata yang Sakura maksud adalah hidup. Sasuke hidup; tersentuh oleh panca indera Sakura. Tapi arwahnya yang seperti ilusi yang selama ini menemaninya membuatnya merasa sesak kembali.

Tapi secara teknis, akulah yang meninggalkanmu tanpa berkata apa-apa. Perasaanku...padamu.

Airmata Sakura kembali mengalir. Memainkan isak tangis sebagai melodi kesedihan. Ya, Sakura memang meninggalkan Sasuke. Meninggalkan Sasuke dalam dinginnya rengkuhan tanah, sedangkan ia sendiri hidup dan sedang bernapas. Fakta bahwa Sakura hidup dan meninggalkan Sasuke yang memang sudah mati semenjak sebulan lebih 4 hari sebelum pertemuan pertama mereka. Terlebih ia tak membalas atau berucap apapun pada Sasuke di saat terakhir pemuda itu di dunia—meski sebagai arwah—itu terasa sangat menyesakkan.

Bunuh diri menjadi topik pikiran Sakura saat ini. Ia ingin menyusul Sasuke dan menemaninya dalam gelap dunia lain. Ingin berbagi rasa dingin bersama. Dengan begitu, ia tidak meninggalkan Sasuke dengan bersenang-senang di dunia. Sakura bisa merasa pikirannya mulai gila.

Wajar saja. Sakura masih 14 tahun. Gadis yang baru tumbuh dengan pemikiran labil, apalagi setelah semua yang membebaninya selama sepekan ini. Setiap manusia mempunyai watak yang berbeda. Tergantung kadar sifat dasar manusia masing-masing.

Namun, mengingat ayahnya yang begitu mencintainya sekarang membuat Sakura mematikan niatnya. Ia tak sanggup melihat ayahnya sendiri dengan rasa sedih dan bersalah di dunia ini. Setidaknya, ia ingin membahagiakan orang yang merawat dan menyayanginya dengan tulus. Juga untuk memenuhi permintaan terakhir Sasuke. Untung saja akalnya masih bisa terkontrol.

Wajahnya tertoleh pada daun pintu kamarnya saat suara ketukan membuyarkan semua lamunannya.

.

.

TOK TOK

"Sakura? Let me in."

Suara khas pemuda dewasa sayup-sayup terdengar oleh telinga Sakura. Dengan cepat Sakura hapus jejak airmata di wajahnya. Memposisikan tubuhnya untuk duduk di sisi kasur. Itachi baru saja memanggil namanya dan meminta izin untuk masuk ke ruangannya. Jelas saja Sakura tidak ingin terlihat kacau di mata pemuda itu.

"Ya. Ada apa, Itachi-nii?" Tanya Sakura dengan senyum palsu di wajahnya. Bisa ia lihat Itachi membuka pintu dan masuk mendekatinya.

"Sebaiknya kau makan, Sakura. Neko baa-san sudah membuatkan nasi kare untukmu. Makanlah."

Itachi menyodorkan piring berisi nasi kare yang masih mengepulkan uap kecil di atasnya pada Sakura yang diterima gadis itu dengan setengah rela. Pandangan Itachi melembut. Setelah piring itu diterima Sakura, ia segera menepuk puncak kepala gadis yang masih terduduk dan menunduk.

"Jangan memendam kesedihan seperti itu. Aku yakin ini tentang adikku. Kalau kau merasa ingin ditemani, panggil aku saja, Sakura." Ucap Itachi sambil mengacak pelan rambut Sakura dan berbalik meninggalkan Sakura setelah gadis itu mengangguk singkat.

Sebelum Itachi benar-benar menutup kembali pintunya, ia berbalik dengan cepat tanpa melangkah mendekati Sakura. Membuat gadis itu menoleh padanya.

"Besok, kau ikut aku menjenguk Deidara-kun. Ayahmu bilang, besok ia akan menjemputmu ke sini. Jadi setelah dari rumah sakit, kita pulang ke Tokyo dan langsung ke bandara. Jam delapan kau sudah harus siap, oke?" Tanya Itachi pada Sakura yang lagi-lagi tersenyum palsu pada Itachi.

Senyum palsu pada pemuda yang juga dicintainya. Untuk sekarang, Sakura memang tak bisa tersenyum tulus dari dasar hatinya setelah kepergian pemuda yang berharga di hidupnya.

"Baiklah, Itachi-nii." Setuju Sakura.

BLAM

Dan pintu pun tertutup sempurna.

.

.


Gadis beriris emerald itu sudah tahu ayahnya akan datang ke Jepang—menemui sekaligus menjemputnya. Jadi wajar jika ia tidak terkejut saat Itachi memberitahukan perihal tentang kedatangan ayahnya besok pagi. Ia merasa senang. Tentu. Tapi pikiran tentang Sasuke sepertinya lebih kuat dan mengikis sedikit demi sedikit rasa senangnya.

Ia alihkan bola mata emerald-nya pada sepiring makanan di atas meja samping kasurnya. Ia lapar, tentu saja. Tapi niat untuk menyentuh apalagi memakannya sama sekali tidak ada bagi Sakura. Napsu makannya pergi entah kemana. Membuatnya tersiksa lapar sekaligus enggan untuk makan. Bibirnya terasa kering dan lidahnya kelu saat dirasa tenggorokannya rindu segelas air. Segera ia langkahkan kakinya ke pintu dan membukanya.

Derap langkah kakinya saat menuruni tangga bergema di ruangan yang hening. Ruang dimana ia melihat Sasuke untuk terakhir kali. Dada Sakura kembali terasa sesak dan napasnya menjadi berat. Dengan cepat Sakura langkahkan kakinya menuju dispenser dan mengambil gelas yang tak jauh dari tempat itu. Menenggak segelas air sampai habis, ia pun pergi tanpa ingin menoleh ke arah yang membuatnya sesak tadi.

Kembali ke kamar dan tidak sedikitpun niat untuk makan. Ya, piring berisi makanan itu masih teronggok di atas meja. Tak diinginkan dan mulai mendingin. Ditinggalkan sang gadis yang mulai berbaring meringkuk dan terisak kecil di sudut kasur.

.

.


Aroma khas rumah sakit mengganggu indera penciuman Sakura dan Itachi. Entah itu bau obat atau sejenisnya, mereka berdua tak mau tahu. Yang jelas, baunya tidak mengenakkan meski tidak semenyebalkan bau toilet umum. Orang-orang berseragam putih tampak sibuk berjalan cepat memenuhi koridor rumah sakit dengan beberapa bawaan seperti stetoskop—bagi para dokter—ataupun sekedar makanan yang didorong di atas kereta kecil dan papan catatan kesehatan oleh para perawat.

Tulisan dengan nomor 134 tercetak di atas pintu kamar rawat-inap. Kamar yang orang dengan rambut berbeda warna itu ingin kunjungi. Segera saja Itachi mendorong pintu agar terbuka dan tampak Deidara yang duduk menyandar di ranjang dengan 2 polisi di kanan kirinya serta seorang pemuda berambut hitam yang Itachi kenal bernama Sai sedang duduk di samping kanan Deidara. Membelakangi arah masuk mereka berdua.

Kepala Deidara tertoleh pada dua orang yang baru memasuki ruang tersebut. Dan menyipit saat memandang siapa yang datang mendekatinya.

"Deidara-kun, ogenki desu ka?" Tanya Itachi berbasa-basi, sambil menarik tempat duduk single di samping kiri Deidara dan Sakura mengikuti setelahnya.

Pemuda yang ditanya hanya memandang sekilas pada Itachi, setelah itu membuang tatapannya ke arah lain. Mulutnya terbuka, kemudian menjawab, "Mō ichido itte kudasai(Tolong katakan sekali lagi)." Desisnya rendah dan tidak bersahabat.

"Seharusnya aku tidak perlu bertanya, ya? Kepalamu, 'kan, diperban." Sahut Itachi dengan ringisan kecil.

Perban melilit kepala Deidara selebar 3 jari orang dewasa di daerah dahinya. Wajahnya pucat dan datar. Iris birunya tidak ingin menangkap siluet siapapun di ruangan itu. Baginya, saat ini horden jendela berwarna hijau lembut lebih menarik dari apapun.

"Jadi, kenapa kau di sini, Sai?" Tanya Itachi setelah mendapat sikap dingin dari Deidara. Onyx-nya beralih pada lelaki berambut hitam pendek di hadapannya.

Sai balas menatap onyx yang terlihat penasaran padanya. Tersenyum palsu, ia beranjak dari duduknya dan merogoh sesuatu dari dalam saku kemejanya. Sebelum tangan putih pucat itu keluar dari saku, ia berbalik dan menuju pintu keluar, mengundang tatapan heran dari Itachi. Sebelum sosok Sai menghilang di balik pintu, pemuda itu menoleh dan memberi isyarat pada Itachi dengan telunjuknya agar mengikutinya keluar.

"Sakura, kau tunggu di sini. Aku tidak akan lama." Setelah menyuruh Sakura agar tetap di posisinya, ia beranjak dari duduknya dan mengikuti Sai ke luar.

Deidara masih tak menoleh pada Itachi saat pemuda itu menatapnya sekilas sebelum keluar. Dahinya berkerut karena harus ditemani dua orang polisi dan gadis yang dibencinya.

Menyebalkan, pikirnya.

.

.


"Nani atta no(ada apa sih)?" Tanya Itachi yang berjalan beriringan dengan Sai di koridor rumah sakit.

Sudah 3 kali Itachi bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dan sebanyak itu pula Sai tak menjawabnya. Kakinya masih terus melangkah. Mata hitam kelam milik Sai masih tetap terarah ke bawah dengan alisnya yang berkerut. Mulutnya kadang terbuka, tapi detik kemudian menutup kembali. Beberapa kali Itachi menangkap Sai yang mengambil dan menghela napas berat. Sai tampak ragu.

"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku permisi dulu." Ucap Itachi dengan nada jengkel. Saat akan berbalik, Sai segera menahan pergelangan tangannya. Membuat Itachi mengernyit tak suka pada pemuda itu.

"Sumimasen, Itachi-san. Ada yang ingin kutunjukkan padamu." Ucap Sai. Nadanya sedikit bergetar, membuat Itachi menghela napas pelan.

"Apa itu?" Tanya Itachi sedikit penasaran.

Sai terlihat melarikan iris hitam kelamnya ke mana-mana dan beberapa kali mengerjap. Terlihat gelisah dan ragu. Namun saat dua iris mata hitam itu saling bersiborok, Sai segera menutup kelopak matanya dan mengambil napas kuat.

Itachi masih setia berdiri di tempatnya. Menunggu apa yang ingin Sai tunjukkan padanya. Ia tidak peduli Sai yang terlihat ragu atau apapun itu. Gadis berambut merah muda pucat di kamar rawat Deidara menyita kepeduliannya pada orang lain.

"Ini."

Sai mengulurkan selembar kertas foto pada Itachi dengan tangan bergetar –membuat foto yang dipegangnya pun ikut bergetar. Mengundang tautan alis Itachi, tanda tak mengerti.

Saat foto itu berpindah tangan ke tangannya, ia perhatikan isi foto itu dan lututnya terasa lemas dan gemetar. "O-omae..., apa maksudnya ini?" Desis Itachi rendah sambil memandang Sai tajam.

Pemuda berkulit putih pucat itu terkesiap saat mendengar suara Itachi yang bertanya dengan nada rendah berbahaya. Ia sedikit mundur dan bergetar. Matanya terbelalak saat Itachi menarik kerah kemejanya. Menuntut jawaban.

"I-Itachi-san..."

"Jawab aku. Apa maksudnya ini?"

Foto yang tergenggam di tangan Itachi yang sedang mencengkeram kerah kemejanya semakin kusut saat pemuda berambut hitam panjang itu menguatkan cengkeramannya. Matanya menatap lurus dan dalam pada Sai –menyipit kesal. Amarah mulai menguasai dirinya dengan pelan.

"Le-lepaskan a-aku, Itachi-san." Ucap Sai dengan terbata-bata sambil memegang pergelangan tangan Itachi yang mencengkeram kerah kemejanya. "A-aku akan menjelaskannya." Dan cengkeraman itu dilepaskan secara kasar.

"Jadi, kenapa kau bisa mendapat foto ini? Dan kenapa kau tidak menyelamatkannya?!" Raung Itachi marah. Tidak mempedulikan para perawat, dokter, serta orang sakit dan penjenguk yang berada di sekitar mereka. Memandang dengan tatapan risih pada drama yang sedang dimainkan oleh dua orang pemuda berambut dan bermata hitam di koridor rumah sakit.

"S-sebaiknya kita bicara di luar, Itachi-san. Orang-orang memperhatikan kita." Ucap Sai sambil berjalan cepat mendahului Itachi yang mendecak tak suka di belakangnya.

.

.


Taman samping rumah sakit terlihat luas dengan beberapa ornamen patung batu dan bunga-bunga berbagai warna dengan pohon-pohon hijau besar yang terlihat asri. Dua tiga orang pasien duduk di kursi roda dengan didorong oleh perawat atau kenalannya sambil sesekali terdengar percakapan di antara mereka. Taman yang biasanya hening itu kini menjadi sedikit ricuh dengan atraksi adu mulut oleh dua orang pemuda. Tapi sepertinya orang-orang di sana tidak terlalu mendengar percakapan mereka; terbukti dengan tidak adanya tatapan penasaran dari yang melihat kedua pemuda tersebut.

"Kau membiarkan adikku mati!" Teriak Itachi sambil menuding wajah Sai yang makin terlihat pucat.

"Tapi aku tidak membiarkannya mati, Itachi-san!" bela Sai. Ia sungguh tak pernah merasa membiarkan salah satu orang dalam objek fotonya mati. Tapi memang tidak bisa diselamatkan lagi.

"Persetan! Dan kenapa ada Deidara-kun di sana?!" Lagi-lagi tangan Itachi mencengkeram kerah kemeja Sai.

Wajah Itachi memerah menahan amarah. Ia tak habis pikir dengan foto yang baru diserahkan oleh pemuda yang baru dikenalnya kemarin. Napasnya yang terdengar berat dan memburu membuat tubuh Sai gemetar ketakutan.

Hati kecil Sai berteriak untuk berterus terang dan menjelaskannya pada Itachi. Maka dari itu, ia berusaha membulatkan tekad dan keberaniannya.

"Tolong tenang dulu, Itachi-san. Aku akan menjelaskannya. Tapi jangan mendesakku seperti ini." Mohon Sai dengan suaranya yang terdengar sabar –meski sedikit gemetar.

Itachi membuang mukanya ke arah lain dan mendecak pelan. Ia memperhatikan foto yang sudah lecek di tangannya. Foto berisikan dua orang yang sangat dikenalnya. Sasuke dan Deidara. Sasuke berada di tengah jembatan dengan posisi melayang jatuh dengan kaki berdarah yang tampak jelas di celana putih panjangnya, sedangkan Deidara di ujung jembatan dengan seringai menang dan remote contol di tangannya. Jembatan itu rubuh akibat ledakan besar yang terjadi dan Itachi ingat Sasuke memang ditemukan di sekitar tempat itu –dan tak bernyawa lagi.

Tim forensik rumah sakit memberitahukan hasil otopsi jenazah Sasuke dan menemukan kejanggalan kematiannya. Luka di kaki Sasuke disebabkan oleh bom karena terdapat sedikit bercak Sodium Lauril Ether Sulfate di sekitar kulit yang luka dan celananya. Tapi tidak ada yang bisa memastikan siapa pelakunya karena tidak ada saksi mata dalam kejadian. Semua yang berada di sekitar tempat kejadian sudah diinterogasi dan diperiksa, tapi tetap tidak ada hasilnya. Dan kasus hampir ditutup karena polisi tidak menemukan titik terang akan kasus tersebut.

Itachi lagi-lagi menggeram kesal pada pemuda yang sedang dicengkeramnya karena menutupi fakta yang selama ini susah payah didapatkan. Dasar sialan! Pikirnya dalam hati.

"Aku merasa pernah melihat pemuda bule yang menyerang Anda kemarin dan memutuskan untuk menjenguknya hari ini. Setelah menanyakan pada polisi yang menemaninya, aku jadi tahu kalau dia pernah diinterogasi di tempat terjadinya pembunuhan di jembatan itu. Dan aku berpikir untuk memberitahukan hal ini pada Anda lebih dulu. Aku tidak tahu alamat dan nomor Anda, jadinya aku tetap duduk dan menunggu Anda di sana." Jelas Sai. Cengkeraman Itachi di kerahnya melonggar.

"Tentang foto itu, aku mendapatkannya saat hunting di sekitar jembatan Momijibashi di Sento Imperial Palace saat Fuyu sebulan yang lalu. Saat itu aku mendengar suara ledakan dan segera mengambil gambar dari arah aku mendengarnya. Dan jadilah foto seperti yang Anda pegang sekarang." Ucap Sai sambil menunjuk foto yang sedang digenggam kuat oleh Itachi.

Sementara pemuda berusia 22 tahun itu masih setia mendengarkan penjelasan Sai. Ia melepaskan cengkeramannya. Kali ini ia harus tahu kebenaran tentang misteri kematian adiknya. Tak pernah ia sangka akan bertemu dengan Sai yang menyaksikan kejadian langsung dan merekam bukti dalam fotonya. Entah takdir atau kebetulan, ia tak peduli. Tuhan mendengar do'anya. Paling tidak, ia ingin Sasuke tenang di alam sana dan pembunuhnya bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Itachi melirik foto yang digenggamannya kembali. Memperhatikan sosok yang menyeringai sambil memperhatikan tubuh adiknya yang melayang jatuh di samping jembatan. Sosok Deidara yang bersembunyi di bawah pohon Maple gundul tanpa daun-daun merah yang memukau saat musim gugur. Deidara-kun? Kenapa? Apakah kau yang-

"—Kenapa Deidara-kun ada di sana?" Tanya Itachi dengan mata menyipit; mengintimidasi.

Terdengar tegukan ludah Sai yang mengiringi detik selanjutnya.

"Aku memang tidak bisa memastikan apa yang Deidara-san lakukan di sana. Tapi setelah kudengar suara benda keras jatuh ke air, aku cepat-cepat pergi ke sana dan mendapati Deidara berlari dan membuang remote control di samping jembatan. Remote-nya ada di rumahku. Aku memungutnya menggunakan sarung tangan. Kurasa sidik jari Deidara-san masih ada di sana. Entah kenapa, aku merasa harus melakukan hal itu saat itu." Jelas Sai sambil memandangi raut wajah Itachi yang tampak tak percaya.

"Lalu kau tinggalkan saja adikku di dalam sungai itu?" geram Itachi. Nadanya rendah sekaligus berbahaya.

"Aku tidak meninggalkan adik Anda di situ. Sungguh!" Ucap Sai cepat-cepat dan tegas sebelum Itachi salah paham tentangnya. Kemudian menambahkan, "Aku langsung memanggil bantuan pada orang-orang di dekat situ karena aku tidak bisa berenang. Belum sampai lima menit adik Anda tenggelam, ia sudah dibawa ke tepi sungai. Dan malangnya, nyawanya tak bisa diselamatkan karena air terlalu banyak masuk ke tubuhnya dan pendarahan parah di kakinya."

Mendadak kaki Itachi gemetar dan ia menopangkan tubuhnya pada patung di sampingnya. Bersandar sambil mengambil napas secara cepat-cepat. Sesak kembali menyerangnya. Mengingat betapa malangnya adiknya yang belum menginjak masa dewasa. Mengingat bahwa rasa sakit akan kematian lebih cepat menyambanginya di usia muda.

Perlahan setitik airmata meluncur dari pipi Itachi. Ia arahkan foto yang berisi adiknya itu ke dadanya; menekan erat foto itu di sana. Rindu pada sosok adiknya yang tiada membuatnya tak bisa menyembunyikan airmata lebih lama lagi. Dan Sai hanya berani menepuk pundak Itachi; berniat menguatkan dan sebagai rasa prihatin.

.

.


"Usotsuki! Kusso! (Pembohong! Sialan!)"

BUGH

Kepala Deidara tertoleh ke samping saat rasa nyeri mendarat di pipinya yang dibuat oleh ayunan kepalan tangan Itachi dengan begitu kuat. Matanya membelalak tak percaya, seumur-umur ia tak pernah mendapat bogeman mentah dari Itachi seperti itu. Mendadak jantungnya memompa darah dengan cepat dan susah untuk bernapas. Ia menoleh lagi pada onyx yang menatap murka padanya.

Sementara Sakura menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Iris emerald-nya melebar mendapati adegan bak drama di hadapannya. Ia menoleh pada Itachi yang sedang ditahan oleh kedua polisi. Ia tak pernah melihat kemarahan yang begitu besar yang Itachi perlihatkan seperti sekarang. Rasanya seperti melihat orang yang berbeda.

Sedangkan Sai, ia menatap takut-takut di belakang Itachi. Masih berdiri kaku dan tanpa suara. Mata hitamnya menangkap emerald Sakura menatap tajam padanya. Menyipit –mencurigainya. Jelas saja Sakura seperti itu karena Itachi tiba-tiba datang dan menghajar Deidara. Pasti ia mengira sesuatu telah terjadi di antara mereka selama mereka menghilang tadi.

"Lepaskan aku! Aku harus membunuh lelaki brengsek yang sudah membunuh adikku ini!" Raung Itachi marah sambil berusaha melepaskan lengan kuat polisi yang menahan lengan dan tubuhnya. Menjauhkannya dari Deidara.

Sakura tak mengerti perkataan Itachi yang menggunakan bahasa Jepang itu. Ia menoleh pada Itachi dan Deidara bergantian. Tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.

"Apa maksudnya, Itachi-nii?" Suara Sakura menyeruak di antara atmosfir yang terasa awkward. Membuat Itachi berhenti berontak dan menoleh pada Sakura.

"Dia, sialan itu-" tunjuk Itachi pada Deidara yang masih memandang kosong, "-membunuh adikku dan berpura-pura menjadi orang yang paling mengerti diriku!"

Sakura lagi-lagi menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya terasa panas dan air kembali mengalir dari mata indah itu. Menangis tanpa suara.

Itachi menoleh pada Deidara dan menatapnya dendam, "Jangan pernah berpura-pura seakan kau yang paling mengerti diriku!" Raungnya marah.

"Aku tidak pernah berpura-pura menjadi orang yang mengerti dirimu, Itachi-kun!" Teriak Deidara. Matanya juga tampak berkaca.

"Oh, yeah? Lantas kenapa kau membunuh adikku, baka yaro?!"

Itachi tak bisa lagi menyaring kata-kata yang keluar dari mulutnya. Segala sumpah serapah ia layangkan pada Deidara yang masih shock di atas ranjang rumah sakit.

Perlahan tapi pasti, Deidara tersenyum dengan tatapan sedih. Kau sudah tahu rupanya...

"Sasuke selalu menentang hubungan kita, Itachi-kun. Aku tak suka dia. Dia selalu menghinaku dan menyakiti hatiku dengan kata-katanya. Selalu menghalangiku untuk bertemu dengan-"

"-Diam kau! Gila! Kau sakit! Kau membunuhnya untuk alasan seperti itu?! Dasar psycho!" Raung Itachi marah. Ia kembali berusaha berontak dari kekangan dua polisi yang terus menyuruhnya untuk tenang.

Kata-kata Itachi membuat napas Deidara putus-putus. Sesak. Ya, dia merasa sesak akibat sumpahan Itachi yang sangat kasar di telinganya. Sebelumnya pemuda itu tak pernah sekasar ini padanya. Dan sekarang, ia benar-benar sadar kalau Itachi sangat membencinya. Ia tak peduli meski ia dihukum mati sekarang. Dibenci Itachi membuat hatinya tak peduli lagi akan urusan dunia ini. Kalau cinta dibilang membutakan otak manusia, sepertinya hal itu berlaku pada Deidara yang sedang kalap sambil memegang kepalanya dan berteriak frustasi di ruangan itu.

"Kuharap kalian menahannya sampai mati, polisi." Geram Itachi dan membuang mukanya dari Deidara. Ia menoleh pada Sai yang gemetaran di belakangnya. "Dan kau, jelaskan semuanya pada polisi. Aku muak melihat seorang pembunuh seperti dia."

Setelah berucap begitu, ia menarik pergelangan tangan Sakura dan menuju pintu. Saat di daun pintu, ia melirik Deidara dan berkata, "Aku menyesal pernah mengenalmu, Deidara. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Setelah berucap begitu, Itachi pun berlalu pergi dengan Sakura yang mengikutinya. Meninggalkan teriakan serta isak tangis Deidara yang sayup-sayup terdengar dari dalam ruang bernomor 134.

.

.


"Itachi-nii, kau baik-baik saja?" Tanya Sakura takut-takut pada pemuda yang sedang mencengkeram stir erat sampai buku-buku tangannya memutih. Raut wajah Itachi masih keras seperti tadi. Ia mengendarai mobil Porsche Panamera V6 hitam itu dengan kecepatan 110 km/jam di jalan sepi menuju bandara Narita. Sakura sampai sedikit merasa mual karena kendaraan itu melesat terlalu cepat dan ia memang belum makan sejak sore kemarin.

Kini mereka memang sudah kembali ke Tokyo karena akan menjemput Kizashi Haruno yang sebentar lagi akan landing di bandara tersebut. Membuat suasana hati Sakura sedikit membaik mendapati kenyataan akan bertemu dengan ayah yang sangat dirindukannya. Kendati demikian, sikap Itachi di sebelahnya membuatnya merasa takut. Itachi daritadi hanya diam.

"Itachi-nii?" Panggil Sakura ragu sambil menyentuh lembut lengan yang dilapisi kemeja hitam bercorak garis putih. Berusaha mengambil atensi Itachi. Dan berhasil. Itachi menoleh padanya dengan raut wajah bertanya. "Kau baik-baik saja?"

Perlahan kecepatan mobil berkurang. Membuat Sakura bisa sedikit bernapas lega. Itachi meliriknnya sekilas sebelum menjawab, "Sepertinya tidak, Sakura. Aku tak pandai berakting 'aku baik-baik saja', 'kan?"

Emerald Sakura ia layangkan kembali ke depan. Menatap jalan beraspal mulus, lalu menyahut singkat, "Ya."

Tak tahu harus membicarakan apa, Sakura lebih memilih untuk membungkam mulutnya. Dan keheningan pun kembali tercipta.

.

.


"Ayah!"

Rambut merah muda itu berkibar saat tubuh yang ditumbuhinya melesat cepat menghampiri orang yang dipanggil ayah. Raut wajah excited terpancar jelas dari Sakura. Ia dengan segera menghampiri pria bertubuh besar yang merentangkan kedua tangannya. Bersiap memeluk gadis yang berlari ke arahnya.

Tubuh ayah dan anak itu bersatu dalam sebuah pelukan erat. Menciptakan suasana haru bagi siapapun yang melihatnya.

"Aku kangen ayah." Beritahu Sakura dengan sesenggukan di sela ucapannya. Rasa rindu yang membuncah di dalam dadanya membuatnya menangis seperti orang cengeng saat ini.

Kizashi mengelus rambut anaknya dengan lembut. Ia tersenyum dan mengendurkan pelukan mereka, lalu tersenyum teduh pada anaknya. "Ayah juga kangen padamu, Sakura."

Sakura melepaskan pelukannya pada ayahnya. Menatap antusias wajah ayahnya yang terlihat sehat. Tidak tahu harus berkata apa, hanya memandang sang ayah. Mengobati rasa rindu yang menderanya selama seminggu.

Begitu pula Kizashi. Ia hanya memandang puterinya. Namun, raut tak suka tampak darinya. "Kau terlihat pucat, Sakura. Kenapa?"

Sakura buru-buru mengusap-usap wajahnya agar merona. "Aku baik-baik saja, kok, Yah. Ayah juga terlihat baik-baik saja sepertinya." Ucap Sakura dengan nada yang sengaja dibuat semangat. Berdusta agar ayahnya tak terlalu khawatir.

Belum sempat Kizashi membantah ucapan anaknya, Itachi menyapanya dengan ramah.

"Selamat sore, Haruno-san." Sapa Itachi dan tersenyum sambil membungkuk sopan pada Kizashi Haruno.

Kizashi tersenyum pada pemuda yang merupakan keluarga jauhnya ini. Ia menepuk bahu Itachi saat pemuda itu menyudahi acara bungkukan hormatnya. "Selamat sore juga, Uchiha-san. Kalau begitu, ayo kita pulang. Aku lelah."

Itachi mengangguk dan membimbing kedua orang itu kembali ke rumahnya.

.

.


Di ruang keluarga, tampak Itachi dan Kizashi sedang bercakap-cakap akrab. Membicarakan tentang Fugaku Uchiha, kerjaan Itachi di kantor, sampai urusan bisnis yang Sakura tak mengerti. Sakura lebih memilih mencomot yokan yang terbuat dari azuki; rasanya seperti agar-agar, padat dan sangat manis. Membuat Sakura ketagihan dan mengunyah kue yokan-nya dengan semangat. Tidak menghiraukan ayahnya dan Itachi yang terkadang menatap heran padanya sambil menghentikan pembicaraan mereka sejenak.

Sakura masih cuek-bebek sambil memainkan laptop Sasuke di pangkuannya. Itachi yang melihat Sakura memainkan laptop adiknya, hanya menatap sedih. Di dalam perjalanan menggunakan Shinkansen ke Tokyo tadi, Sakura sudah menceritakan apa-apa saja yang ia lakukan bersama Sasuke mulai dari pertemuan mereka sampai kata-kata terakhir Sasuke.

Folder-folder dengan isi bermacam-macam telah Sakura buka. Sedikit terkekeh karena banyak yang berbau dewasa. Baik dari anime, manga, video, foto, bahkan game. Tidak habis pikir kenapa pemuda yang dikenalnya dingin itu bisa menyimpan hal seperti ini. Folder-nya bahkan tidak dikunci sama sekali. Apa dia tidak tahu tentang aplikasi Gilisoft File Lock?

Itachi menoleh pada Sakura dan melihat screen laptop Sasuke saat dilihatnya gadis itu bengong dan terkikik geli. Senyum maklum terpancar di wajah Itachi. Kemudian pemuda itu membisikkan, "Ya, dia memang sedikit..., piktor." Dan tawa Sakura membahana di ruang itu. Membuat Kizashi menaikkan sebelah alisnya dan Itachi kembali membuka pembicaraan.

Sampai pada satu folder yang bernama Uchiha Sasuke dan mengkliknya dua kali, Sakura kembali terpana. Banyak sekali foto-foto sebuah keluarga Uchiha berisikan 4 orang. Terlihat dari nama-nama yang tertera di sana. Terkadang foto Sasuke dan Itachi yang masih kecil. Dan beberapa foto Sasuke yang sudah beranjak remaja. Membuat Sakura tersenyum sendiri. Sayang sekali kau sudah meninggal, Sasuke. Aku yakin fans-mu pasti sangat sedih.

Pandangan Sakura meredup. Sedih kembali merebak di hatinya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai menggelap. Sayup-sayup ia mendengar teriakan ayahnya dan Itachi memanggil namanya.

.

.


"Sakura?"

Bau minyak kayu putih mulai memenuhi hidungnya. Membuatnya sesak dan terganggu. Segera saja Sakura membuka kedua matanya. Mendapati raut wajah panik dari Kizashi dan Itachi.

"Ayah? Itachi-nii?" panggil Sakura sambil memandang heran kedua orang itu. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Kau pingsan, Sakura. Kau kelelahan. Apa kau belum makan, Nak?" Tanya Kizashi dengan nada khawatir sambil mengelus rambut Sakura.

Gadis berambut merah muda itu tersenyum kikuk sebelum menjawab, "Dari sore kemarin aku belum makan, Yah. Maaf."

Satu getokan singkat Kizashi layangkan pada dahi lebar Sakura. Membuat sang korban meringis sedikit. "Jangan pernah telat makan seperti itu lagi, Sakura." Nasihatnya yang langsung mendapat anggukan dari Sakura.

Mata emerald-nya beralih memandang Itachi yang tersenyum geli melihat drama anak-ayah di depannya. Membuat Sakura memutar bola matanya bosan. Saat ia sadari, ia sedang berada di kamar Sasuke. Nuansa biru langsung menerpa indera penglihatannya. Dan rasa sesak kembali menghantuinya.

"Kamar..., Sasuke?" Entah itu pertanyaan atau pernyataan, tapi Itachi hanya mengangguk pada Sakura.

Senyum sedih terpatri di keduanya. Kizashi juga tidak begitu bodoh untuk tahu apa yang terjadi. Ia kenal Sasuke dan pernah bertemu dengan pemuda yang seumuran dengan anaknya itu saat masih kecil. Dan berita tentang kematian Sasuke sebulan yang lalu cukup membuatnya kaget dan bersedih. Tapi yang tak ia habis pikir, darimana Sakura kenal dengan Sasuke. Tak mau memikirkan hal itu, ia kembali mengusap rambut puterinya.

"Kau istirahat saja, Sakura. Makan ini." Suruh Kizashi sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk udang tempura dan saus tomat pada Sakura.

Setelah mengecup dahi puterinya singkat, Kizashi berdiri dan meninggalkan Sakura. Sebelumnya ia melayangkan tatapan galak agar Sakura memakan makanannya dan berpesan pada Itachi agar mengawasi anaknya sampai piring itu tandas dimakan puterinya.

Kizashi menguap panjang sebelum menutup pintu kamar Sasuke, meninggalkan Sakura dan Itachi di dalamnya.

Sakura bangkit dari pembaringannya dan duduk menyandar di kepala ranjang. Ia menatap Itachi malu-malu yang menatap intens padanya dengan gaya bersiap menyuap Sakura dengan sendok yang berisi nasi dan sedikit bagian tempura di atasnya.

"Aku bisa makan sendiri, Itachi-nii." Ucap Sakura malu-malu dengan wajah memerah. Ia menyambar piring dan sendok dari tangan Itachi dan mulai memakannya dalam hening. Itachi masih setia mengawasinya makan dengan senyum di wajahnya.

Bunyi sendok yang beradu dengan piring menandakan isi piring yang semakin sedikit. Saking laparnya, Sakura melupakan gelas berisi air putih di meja sisi ranjangnya dan terus memakan salah satu makanan favoritnya itu. Membuat Itachi tersenyum maklum.

TLEK

Piring itu telah tandas isinya dan ditaruh Sakura di atas meja di samping kasurnya. Ia mengambil air putih dan menenggak isinya sampai habis. Sendawa kecil keluar dari bibir Sakura. Membuatnya menutup kedua mulutnya dengan telapak tangan serta wajah yang memerah malu. Itachi yang duduk di tepi kasur samping kaki Sakura hanya menyeringai geli.

"Tak apa. Itu wajar, Sakura." Maklum Itachi dan mendapat kekehan geli dari Sakura.

Hening kembali.

Sakura sudah selesai dengan makannya. Seharusnya Itachi sudah bisa meninggalkan kamarnya. Tapi pemuda itu tidak juga beranjak dari tempatnya. Mata onyx-nya yang redup dengan setia melihat seluruh isi kamar mendiang adiknya. Membuat Sakura ikut-ikutan sedih.

"Itachi-nii." Panggil Sakura. Membuat tatapan Itachi beralih padanya. Alisnya terangkat; tanda bertanya. "Aku kangen Sasuke."

Darah seakan berhenti mengalir untuk jantung Itachi pompa. Napasnya juga ikut berhenti untuk beberapa saat. Terkejut dengan pernyataan Sakura. Sejujurnya, ia pun sangat rindu dengan adiknya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia bukan tuhan yang mampu menghidupkan manusia kembali.

"Aku juga." Sahut Itachi.

Gigi Sakura menggigit bibirnya sendiri. Menahan isakan yang menyesakkan. Airmatanya sendiri sudah mengalir membasahi wajahnya. Membuat Itachi terkesiap dan mendekati Sakura.

"Sakura? Kau tak apa? Hei." Ucap Itachi khawatir sambil memegang kedua bahu Sakura. Membuat gadis itu mendongak menatapnya yang berdiri membungkuk.

"Rasanya sesak, Itachi-nii. Aku baru sadar kalau aku mencintainya saat ia sudah pergi seperti ini. Padahal dia sudah janji. Jahat sekali, 'kan, dia itu?" Adu Sakura. Isakan pelan mulai terdengar dari bibir tipisnya.

Jangankan Sakura yang sesak, sebagai seorang kakak, Itachi juga merasa sangat sesak. Tidak kuat untuk menahan kesedihan, ia pun memeluk Sakura yang langsung dibalas gadis itu dengan lingkaran tangannya di tubuhnya.

Hening lagi.

Hanya isakan Sakura yang terdengar, sampai...

"Sakura, apa kau mau memberiku kesempatan?" Tanya Itachi pelan. Membuat isakan Sakura berhenti. Bisa dirasakan oleh keduanya debaran di dada masing-masing yang terlampau cepat.

"Maksud Itachi-nii apa?" Tanya Sakura.

Sebenarnya ia mengerti maksud Itachi. Kesempatan untuk dekat dengannya. Tapi, Sakura juga tidak ingin terlalu percaya dengan hipotesisnya. Takut kecewa dan salah.

"Let me in your life..."

Emerald Sakura melebar. Ia tentu saja mengerti bahasa inggris yang Itachi ucapkan. Seakan tak mempercayai pendengarannya, ia pun berusaha menetralkan jantungnya yang berbisik kencang.

"Let me in your heart, Sakura."

Airmata Sakura kembali tumpah seketika. Ia mengeratkan pelukannya pada Itachi. Merasakan kehangatan yang pemuda itu berikan padanya. Meresapi ketenangan di sana.

"Of course, Itachi-nii."

Dan kecupan lembut penuh cinta menjadi awal dari kisah cinta panjang antara Sakura Haruno dan Itachi Uchiha. Membuat Sasuke Uchiha tersenyum bahagia dari surga...

.

.

.


Kacamata ber-frame biru muda bertengger manis di pangkal hidung kecil namun mancung milik Sakura. Poni merah mudanya ia ikat dengan pita hijau di atas kepalanya, menampakkan lebih jelas dahi lebar dan emerald indah yang terlihat semangat. Senyum puas bertengger manis di bibirnya saat selesai mem-publish chapter terakhir dari fiksi yang dikerjakannya.

Ia menatap sekilas laptopnya dan memundurkan kursi yang didudukinya. Merentangkan kedua tangannya ke atas untuk melemaskan otot-otot yang terasa kaku di tubuhnya. Ia mengambil ponsel di atas meja dan membalas beberapa pesan singkat dari sahabat-sahabatnya.

Terdengar sesekali kekehan geli dari bibir tipisnya saat asyik membalas SMS. Tidak terasa sudah satu jam fiksinya meluncur di dunia maya. Segera Sakura membuka email-nya dan mendapati reviewer pertama dengan nama Tuan Harajuku Style. Alis merah muda Sakura berkerut. Segera ia buka email itu dan matanya melebar.

From: Tuan Harajuku Style

Aku belum mati dan masih sehat sampai detik ini, Nona.

Aku yakin Itachi-nii akan membunuhmu setelah dia membaca ceritamu. Dan ah, Deidara juga. Teman senimanmu yang hobi memotret orang itu ikut andil juga rupanya(ah, aku benci dia. Senyumnya menyebalkan). Dan teman bulemu itu, dia masih hutang semangkuk ramen padaku.

Kau bilang kau tidak pernah ciuman. Aku jadi meragukan ceritamu padaku dulu. Sejak kapan kau suka membuka folder di laptopku, eh?

Ah, jadi kau cinta pada kakakku atau padaku? Sejak kapan? Ceritakan padaku. Jangan bohong, lho.

Aku tahu kau melotot di sana saat membaca review-ku. Tidak perlu memasang tampang seram begitu, Cherry. Aku tahu ini hanya fiksi, kok. Kau boleh membuatnya sesuka hatimu.

Hei, sebentar lagi aku akan meneleponmu. Tunggu sampai aku selesai membantu kaa-san.

Kejam sekali. Orangtuaku tidak bercerai dan baik-baik saja. Itachi-nii juga normal. Deidara juga. Pikiranmu liar sekali. Haha..

Segitu aja, deh.

Salam tuan ganteng.

Sakura menggeram kesal mendapati review dari pemuda yang sudah resmi menjadi sahabatnya setahun yang lalu. Apa-apaan dia? Pikir Sakura kesal.

Dering ponsel Sakura menyanyi nyaring dan segera ia sambar dengan semangat setelah melihat siapa yang meneleponnya.

"Apa?" Tanya Sakura saat menyambungkan hubungan teleponnya. Nada gadis itu terdengar kesal.

"Whoaaa..., galak sekali kau, Nona. Apa kabar?" suara baritone di seberang membuat Sakura semakin sebal.

Mengabaikan pertanyaan basa-basi pemuda itu, Sakura segera berucap, "Untuk apa kau me-review dengan kalimat-kalimat seperti itu?"

"Iseng saja."

Perempatan siku-siku muncul di pelipis Sakura. Tidak habis pikir kenapa ia bisa bersahabat dengan pemuda yang dijulukinya tuan harajuku style itu. Menyebalkan sekaligus menyenangkan. Itulah yang Sakura nilai pada pemuda yang sedang meneleponnya tersebut.

"Kenapa kau meneleponku, Sasuke?" Tanya Sakura penasaran. Padahal sahabatnya itu jarang meneleponnya. Mengirim pesan singkat saja jarang.

"Yeah. Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa? Singkat saja." Tanya Sakura mulai bosan mendengar nada sok serius dari Sasuke.

"Kau suka sama Itachi-nii?" Suara itu terdengar ragu. Membuat Sakura melirik ponsel yang ia tempelkan di telinga kanannya.

"Kau bercanda? Itachi-nii sudah seperti kakak kandungku. Yah, meskipun aku tidak punya kakak. Kenapa?"

Terdengar helaan napas lega dari Sasuke. Membuat alis Sakura bertaut. Itu bocah kenapa lagi?

Hening.

Sakura mulai memutar bola matanya bosan.

"Ponsel kepada Sasuke, ada orang di sana?" Tanya Sakura kesal.

"Aa..." Suara Sasuke terdengar ragu dari seberang. Membuat Sakura menutup matanya bosan.

"Hm, apa, Sasuke?"

"Mengutip dialog terakhir dari Itachi-nii di fiksimu..."

Dahi Sakura mulai berkerut. Memikirkan kembali dialog di fiksinya.

"Terus-"

"-So, let me in, Sakura."

"Ya, tentu sa-HA?"

Wajah kedua remaja berumur 15 tahun itu memerah malu. Tak ada yang tahu ke depannya seperti apa. Dunia hanya bisa terus berputar. Waktu hanya bisa terus berjalan. Dan Sasuke, hanya bisa mengeluarkan perasaannya pada sahabat berambut merah mudanya itu dari telepon karena tak sanggup mengaku langsung.

.

.

.

END


A/N: Lega banget udah nulis kata END di akhir fic Let Me In ini. Err... kepanjangan? Maaf -_-

Menurut hasil searching genre angst dan drama, referensi yang kutemui seperti ini:

Angst

Jika fanfiction kamu cenderung menyayat hati (atau mungkin mendayu-dayu), maka fanfiction-mu layak ber-genre yang satu ini. Biasanya berakhir sad ending.

Aku rasa terlalu banyak adegan menangisnya si Saku atau chara lainnya(bisa dibilang mendayu-dayu) dan memang LMI ini bukan sad ending. Tapi disitu hanya tertulis biasanya(yang memiliki makna secara umum) dan bukan dikhususkan/diwajibkan untuk sad ending.

Jadi, aku nggak ingin di-flame hanya gara-gara salah genre. And finally, aku pakai genre ini.

Sedangkan Drama

FF mengutamakan pada konflik emosi dan bertujuan membuat pembaca terhanyut dalam cerita. Biasanya dalam genre drama semua permasalahan ada.

Nah, aku ambil inti konflik emosi yang dirasain para chara di dalam sini yang banyak nentang sama hati sendiri. Terus semua permasalahan ada; baik cinta, persahabatan, keluarga, kejahatan. Dari situ aku pake genre ini.

Ya, untuk semua pendapatku di atas, aku sadar fic-ku jauh dari kata sempurna. Jadi harap maklum kalau tidak sesuai dengan pemikiran dan kemauan pembaca sekalian. Aku sudah memikirkan plot-nya dari awal, sih ^^

Nah, pair lagi. SasuSaku kutulis paling depan karena dari awal ngebuat fic ini, aku memang ingin berakhir SasuSaku meski tulisanku di atas hanya sebatas sahabat menuju tahap yang 'lebih'.

ItaSaku kutulis di tengah karena pair ending dari fiksi yang dibuat Saku(tapi aku yg buatnya) dan fic ini juga lebih banyak hints ItaSaku.

Terakhir, DeiIta. Ah, pair pendukung untuk kepentingan cerita. Jadi aku merasa wajib menulisnya di bagian pair.

Terus, rate T+. Itu untuk kata-kata yang kasar.

Untuk karakter Deidara, itu bukan bashing chara. Penjelasannya ada di chapter sebelumnya, 'kan? Betapa dia hanya manusia biasa yang egois dan punya sifat ingin memiliki orang yang dicintainya seumur hidup. Apalagi kudengar gay itu rasa cemburunya lebih tinggi dari pasangan normal. Menurut yang kudengar, sih. Gak tau deh gimana yang lainnya.

Ya sudah. Segitu aja deh penjelasannya. Maaf banget klo gak berkenan dan bertentangan dengan pendapat readers.

WARNING : Kalau ingin mengkritik kata-kataku yang tidak ada hubungannya dengan fiksi Let Me In ini, silahkan PM ^^

Dengan begitu, kita bisa lebih banyak bertukar kata-kata, 'kan? Tidak perlu lewat kotak review yang dikhususkan untuk me-review ceritaku dan bukan kata-kataku yang tidak ada hubungannya dengan cerita ini ^^

bales review:

Tohko Ohmiya : Sekarang Sa gak perlu nangis deh di chapter ini :D ehehe

Akira Fly : lihat warning-nya ^^

Saku-chan NaruFhia : eerrr... ano... aduh, susah bilangnya. ItaSaku end pair di fiksinya Sakura ^^#yg buatnya elu kali'!#ditembak# Udah kukirim kan? :D semoga tidak kecewa ^^

Vie : Seharusnya aku yang makasih klo kamu nungguin :D ehehe.. Nyantai aja.. Alay itu biasa X3 Nah, end pair-nya bisa dilihat di chapter ini :3

Hanazono yuri : makasih udah penasaran XD ini maaf gak kilat TAT

Pokoknya MAKASIH BANYAK PLUS PAKE BANGET buat yang udah suka, baca, ngasi pendapat, ngasi dukungan, nungguin, nge-fave dan meng-alert fic ini :D

Hontou ni arigatou, minna-san :')

Aku harap kalian tidak kecewa dengan ending-nya :(

So, mind to review?