Minna~~ sudah lama ga jumpa XDD
arigatou gozaimasu buat semua yang udah sempet mampir dan meninggalkan review… dan saia minta maaf, soalnya lago-lagi ga bisa update cepet T.T tapi mungkin setelah ini kegiatan saia jadi berkurang dan bisa kembali fokus samaFfn XD
Buat cila-miyuki,, Iin cka you-nii, Nurrafa Aprilia, Kuro Nami, Himeka Kyousuke, dan Hyou Hyouichiffer, terima kasih banyak… sudah saia balas lewat PM ya, dan buat yang ga log in,
Numpangreview: arigatou…..#bungkukbungkuk kalo penasaran berarti wajib ikutin ceritanya sampai selesai..kekeke XD
.
.
.
Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Story: Mayou Fietry
Pair: Mamori Anezaki, Youichi Hiruma, Takeru Yamato
Rated: T
Genre: Romance, drama
Warning: AU, OOC, typo, gaje, ide pasaran, abal, kayak sinetron, dan segala keburukan lainnya yang bisa bikin keracunan..
.
.
.
"Selama ini, sehari pun aku tidak pernah melupakanmu, Youichi"/ "Saat bersamaku, apa kau juga selalu mengingatnya?"/ "Takeru dan Youichi itu berbeda, kalian tidak bisa dibandingkan."/ "Tidak apa, Mamori, aku akan menunggu…"/ "Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Pergi meninggalkannya atau memaksanya ikut denganku sementara hatinya ada pada orang lain? Keduanya sama-sama menyakitkan."
KIMI NO KIOKU
Chapter 2
7 years later
Mamori Anezaki masih belum bosan memperhatikan jalanan yang ia lewati. Gedung-gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, taman bermain. Gadis bersurai auburn itu tersenyum kecil. Sudah tujuh tahun ia tidak melihat pemandangan indah negeri tercintainya.
Dan sekarang, setelah ia kembali dari New York, Mamori ingin memanjakan diri dengan melihat keindahan kota kelahirannya itu.
Sudah tujuh tahun, pikir Mamori. Benar, sudah tujuh tahun ia tidak pernah melihat Jepang. Dengan bunga sakura dan hanami, festival musim panas, taiko, kabuki, Mamori sangat merindukannya.
"Mamori, kau baik-baik saja?" tanya seorang pria berambut coklat liar yang duduk di sebelahnya.
"Eh… Tidak apa-apa, Takeru-kun, aku hanya sedang melihat-lihat, sudah tujuh tahun tidak lihat Jepang," jawab Mamori sambil tersenyum.
Pria bernama lengkap Takeru Yamato itu ikut tersenyum melihat Mamori. Ia tahu, tunangannya ini memang cinta sekali dengan Jepang. Jadi wajar, kalau setelah tujuh tahun berkelana di negeri orang, Mamori tampak tidak mau melewatkan sedikit pun pemandangan ibu kota ini.
Yamato meraih jemari Mamori, memperlihatkan cincin kembar yang mereka pakai. Pria itu tersenyum kecil. Sejak lulus dari Akademi Teikoku di Osaka, ia melanjutkan studi di universitas yang sama seperti Mamori. Itulah saat pertama kali mereka bertemu. Karena sama-sama dari Jepang, keduanya menjadi akrab hingga berakhir dalam sebuah hubungan yang serius. Tujuan utama keduanya kembali ke Jepang, adalah untuk melangsungkan upacara pernikahan.
"Ehm… Takeru, kau akan langsung kembali ke Osaka?" tanya Mami Anezaki yang duduk di belakang kemudi.
Yamato membenarkan posisi duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke depan sebelum menjawab pertanyaan calon mertuanya itu. "Mungkin minggu depan aku akan kembali ke sana. Hari ini aku ingin istirahat sebentar di rumah kaa-san dan mencari apartemen, boleh bukan?"
"Tentu saja boleh," jawab Mami. Wanita yang masih terlihat muda itu melirik sedikit putrinya yang masih memperhatikan jalanan. Mami tahu, yang ada dalam pikiran Mamori bukan hanya sekedar pemandangan Tokyo yang sudah lama tidak ia lihat.
Mami tahu sejak pertama mengunjungi putrinya saat masih di New York. Hal yang selalu ditanyakan gadis itu adalah kematian Hiruma. Bahkan saat hari ia bertunangan dengan Yamato tahun lalu, Mamori menangisi Hiruma seharian.
Hati wanita itu terasa sedikit sakit mengingat penderitaan putrinya. Mamori memang mengaku padanya kalau ia serius dengan Yamato. Mamori selalu bilang kalau dia mencintai Yamato. Tapi Mami tahu, dalam hati malaikat kecilnya itu, masih ada Youichi Hiruma.
"Sudah sampai!" Mami Anezaki membuyarkan lamunannya sendiri. Ia menghentikan mobilnya di garasi.
Yamato dan Mamori segera turun dan mengangkut barang-barang mereka masuk ke rumah.
"Sayang sekali ayahmu masih harus bekerja, dia pasti merindukanmu, Mamo," kata Mami sambil berjalan mendahului dua orang itu. Ia membuka pintu dan mempersilahkan Mamori dan Yamato masuk.
"Aku juga kangen pada ayah, tapi apa boleh buat. Tidak apa-apa, aku akan selamanya tinggal di Jepang, 'kan!" Mamori tersenyum ceria.
Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa sementara Mami beranjak ke dapur untuk membuatkan minum. Melihat apa yang dikerjakan ibunya, Mamori langsung melesat menghampiri sang ibu untuk membantu. Membiarkan Yamato yang tengah melihat-lihat ruang tamu.
"Wah… Mamo-chan, apa ini kau waktu kecil?" tanya Yamato saat melihat sebuah foto gadis berambut auburn pendek bersama seorang pria berambut pirang jabrik.
"Hey…hey… seharusnya kau tidak melihatnya, tuan," sahut Mamori sambil membawa baki berisi tiga cangkir kopi.
"Kau sudah terlihat cantik dari kecil," goda Yamato. "Yang di sebelahmu ini, siapa?" tanyanya sambil menunjuk foto yang ia lihat tadi.
"Itu… setan yang kabur dari neraka," jawab Mamori asal. "Namanya Hiruma Youichi. Cowok bodoh yang dengan seenaknya meninggalkanku. Padahal dia bilang kalau akan menungguku kembali dari New York!" gerutu Mamori sambil meneguk kopinya perlahan.
"Oh… Jadi ini, temanmu yang meninggal dalam kecelakaan itu?"
Mamori hanya mengangguk. Sesak. Perasaan sakit dalam dadanya kembali lagi. Perasaan itu selalu kembali tiap ia mengingatnya. Pria berambut jabrik yang selalu melindunginya. Setan yang kabur dari neraka.
Apa dia kembali ke tempat dimana dia berasal? Mamori berfikir sejenak.
"Aku ingin istirahat di kamarku," ia bangkit dari tempat duduknya dan langsung melesat ke lantai dua. Dimana dulu kamarnya berada.
Begitu tiba di kamarnya. Perasaan sesak itu kembali menyerang dada Mamori. Ia menarik nafas perlahan untuk menstabilkan emosinya. Begitu berhasil melakukannya, Mamori berjalan menuju tempat tidurnya. Sudah tujuh tahun ia tidak menjamah tempat ini.
Disinilah Hiruma biasanya tertidur saat mengerjakan tugas bersama, kalau sudah begitu, biasanya Mamori akan menyelesaikan PR milik Hiruma juga. Di sini Hiruma biasa mengagetkannya dengan muncul dari jendela secara tiba-tiba. Di sini juga biasanya Mamori menemukan sekotak cream puff saat bangun tidur, atau tumpukan kado di hari ulang tahunnya. Meski Hiruma tidak pernah mengaku, Mamori tahu tidak ada orang lain yang bisa melakukannya kecuali dia.
"Bodoh!" Mamori menahan tawa dalam tangisannya. Rasanya baru kemarin Hiruma memberikan kalung yang kini bertengger di lehernya, seperti baru kemarin Hiruma menyelamatkannya dari preman-preman. Tapi, sekarang sudah tujuh tahun dan tidak ada kabar apa pun tentang Hiruma. Pria itu, sepertinya memang telah jadi sejarah.
"Apa aku benar-benar tidak boleh melihatnya?" tanya Yamato pelan.
Mami menggeleng tegas. "Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, Takeru."
"Baiklah, aku mengerti…," Yamato mengangguk. Ia lalu beranjak dari tempatnya. "Kalau begitu, mungkin sebaiknya aku mulai mencari apartement sekarang," lanjutnya.
"Kau yakin?"
"Ya, aku mungkin akan tinggal sementara di apartement depan." Yamato seolah sedang menunjuk apartement yang tadi mereka lewati. Lokasinya tidak begitu jauh, bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Mami tampak berfikir. Ia merasa berterima kasih pada pria ini karena mau mengerti kondisi putrinya. "Kemarilah kapan pun kau mau," ucapnya tersenyum.
"Tentu saja," Yamato membalas senyuman wanita itu sebelum beranjak pergi.
Entah jam berapa Mamori tertidur malam tadi, ia tidak ingat. Yang pasti saat ia terbangun matahari sudah mulai meninggi. Gadis itu mengucek matanya sebentar, berusaha memperoleh lagi kesadarannya. Ia melirik jam kecil di meja dekat tempat tidurnya. Jam delapan pagi. Mamori segera bangun dari tempat tidurnya. Agak aneh juga ibunya membiarkan Mamori tidur sampai siang begini.
Tok tok tok.
"Mamo-chan, kau sudah bangun?" terdengar suara Mami dari luar ruangan.
"Ya, ibu, aku sudah bangun," jawab Mamori
Terdengar suara pintu dibuka sebelum terlihat sosok cantik Mami Anezaki dari balik pintu, "Sena datang mengunjungimu," katanya sembari tersenyum.
Mata biru milik Mamori melebar. "Sena?!" dia memekik. "Suruh dia tunggu sebentar!" lalu Mamori langsung melesat ke kamar mandi meninggalkan ibunya yang hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Mamori menyelesaikan keperluannya di kamar mandi. Lima belas menit kemudian, gadis cantik itu sudah melangkah menuju ruang tamu dimana sahabat kecilnya menunggu.
"Sena!" panggil Mamori begitu ia melihat pemuda berambut coklat duduk manis di sofa hitam rumahnya bersama seorang gadis berambut biru dan pria dengan plester di hidungnya.
"Mamori-neechan," balas pria itu sambil berdiri.
"Kyaa… Sena! Kau sudah besar!" tanpa ragu Mamori langsung memeluk Sena dengan erat.
"Ma-Mamori-neechan, aku tidak bisa bernafas," ucap Sena dalam pelukan Mamori.
"Haha… gomen," Mamori lalu melepaskan pelukannya. Ia menjulurkan lidahnya lalu tertawa kecil.
"Kenalkan, ini Suzuna dan Monta, mereka teman-temanku," kata Sena memperkenalkan dua orang yang bersamanya.
"Yaa~ Mamo-nee, Sena ini sering sekali bercerita tentang Mamo-nee lho, dan waktu Sena bilang kalau Mamo-nee akan kembali dari Amerika, aku langsung minta dia mengajakku bertemu denganmu!" celoteh gadis berambut biru bernama Suzuna dengan suara yang riang.
"Haha… begitukah? Kalau begitu, yoroshiku," jawab Mamori sambil membungkukan badannya sedikit.
"Cantik MAX!" Monta berbicara pada dirinya sendiri. Tapi Mamori, Sena, dan Suzuna masih bisa .mendengarnya.
"Max?" Mamori memutar bola matanya bingung.
"Biarkan saja dia, MonMon memang idiot," kata Suzuna pelan.
Mamori hanya sweatdrop mendengar perkataan Suzuna.
"Apa Mamo-nee mau jalan-jalan? Kami mau mengantar Mamo-nee kemana pun!" Suzuna menawarkan.
"Uhm… itu, sebenarnya aku ingin ke lokasi kecelakaan Youichi," ungkap Mamori pelan.
"Lokasi kecelakaan?" Suzuna dan Monta bergumam kompak.
"Kalian ingat 'kan, kecelakaan bus tujuh tahun lalu di lereng gunung Fuji?" Sena mengingatkan teman-temannya, seolah dia tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.
"Oh… tentu saja ingat. Bus yang membawa murid SMA Deimon 'kan?" tanya Monta.
"Benar, antarkan aku ke sana," pinta Mamori.
"Tapi, Mamori-neechan, kejadiannya sudah tujuh tahun lalu…," Sena tidak meneruskan kalimatnya. Ia jadi bingung mau bicara apa.
"Tidak apa-apa, Sena, aku cuma ingin melihat," kata Mamori seolah tahu apa yang tidak bisa Sena katakan. Gadis itu tersenyum kecil.
"Baiklah."
"Tunggu sebentar, aku akan pamit pada ibu," Mamori beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Mami yang tengah mencuci piring di dapur.
"Ibu, aku mau pergi ke lokasi kecelakaan Youichi," ia berpamitan.
Mami menoleh kearah putrinya sebelum tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Mamori ikut tersenyum.
"Mamo-chan, tidak bisakah kau… melupakannya?" tanya Mami sesaat sebelum putrinya beranjak.
"Maksud ibu, Youichi?" Mamori menaikan sebelah alisnya.
Mami mengangguk. "Sudah tujuh tahun, dan selama ini ibu lihat kau terus memikirkannya. Bukankah ada Takeru? Pikirkan perasaannya."
Mamori terdiam mendengar perkataan ibunya. "Ibu benar, sudah tujuh tahun. Tapi bagiku, waktu di Jepang berhenti sejak tujuh tahun lalu. Bagiku, kecelakaan itu seperti baru terjadi kemarin. Kemarin… Youcihi masih menyelamatkanku dari derandalan sekolah, masih mengantarku pulang, dan masih meledekku…," tanpa sadar Mamori terisak. "Berat sekali menjalaninya, bu. Tapi ibu jangan khawatir, Takeru bukan pelarian." Mamori tersenyum diakhri kalimatnya.
Mami membalas senyum putrinya. "Pergilah."
Mamori mengangguk kemudian kembali menemui Sena. "Baiklah, teman-teman… ayo kita be- Eeehh?"
"Hai?!"
Mamori masih membeku di tempatnya. Matanya terbelalak melihat pria berambut coklat itu sedang asik mengobrol dengan tamu-tamunya.
"Ada apa, Mamori?" tanya si rambut coklat Yamato.
"Sejak kapan kau di sini? Kenapa tidak menghubungiku dulu?"
Yamato tersenyum. "Kupikir kondisimu masih seperti kemarin, jadi aku putuskan langsung ke sini saja." jawabnya.
"Ya sudah, karena kau juga sudah di sini, kau juga ikut kami saja ya. Aku mau ke lokasi kecelakaan Youichi, setelah itu kita jalan-jalan."
"Baiklah!" balas Yamato.
"Pacar Mamo-nee keren!" ungkap Suzuna jujur. Membuat Mamori dan Yamato tersenyum kecil.
"Baik, ayo kita berangkat!" komando Yamato.
Yamato menghentikan mobil milik keluarga Anezaki yang dibawanya setelah komando Sena. Menurut pria bermata coklat itu, di sinilah dulu bus yang membawa siswa-siswa Deimon terperosok dan menewaskan dua puluh lima siswa, termasuk Hiruma Youichi.
"Sebenarnya, waktu itu ada dua jenazah yang tidak ditemukan. Jenazah Hiruma-san dan cewek bernama Sakura Harada. Setelah pencarian selama dua minggu, jenazah Harada ditemukan sudah tidak utuh, sementara Hiruma-san sendiri tidak bisa ditemukan. Yah, Mamori-neechan pasti sudah tahu, banyak binatang buas di dalam sana."
Yamato segera memeluk tubuh Mamori. Pria itu sadar, sejak Sena mulai bercerita, tubuh kekasihnya sudah bergetar. Ia mengerti. Kematian Hiruma terlalu menyakitkan.
"Seandainya saja… aku ingin mengunjungi makamnya, aku ingin mengunjunginya." Mamori hampir menangis.
"Kau tahu 'kan, jenazahnya tidak ditemukan." Ucap Yamato pelan.
"Ne, di sekolah ada monumen peringatan kecelakaan tujuh tahun lalu 'kan?" Suzuna bergumam.
"Benar, banyak yang datang ke sana untuk sekedar mendoakan korban. Bagaimana kalau kita ke sana?" usul Sena.
"Baiklah, sepertinya kita ke sana saja," jawab Yamato kemudian memberi komando agar semua kembali ke mobil.
Seperti sebelumnya, perjalanan kali ini pun Yamato hanya mengikuti petunjuk Sena. Bagaimana pun dia sudah tujuh tahun tidak berjalan-jalan di Jepang. Apa lagi Deimon, sejak dulu Yamato belum pernah kemari.
Mobil itu akhirnya kembali berhenti saat tiba di depan sekolah yang di gerbangnya tertulis SMU Deimon. Mereka semua turun dari mobil kemudian melangkah menuju belakang sekolah, tempat dimana sebuah monumen peringatan kecil berdiri dengan kokoh. Ada foto-foto siswa yang menjadi korban dalam kecelakaan tujuh tahun lalu serta sebuah tulisan di atas foto-foto itu.
"Untuk mengenang sahabat kami tercinta."
Tangan Mamori terulur menyentuh foto pria berambut pirang jabrik yang tampak tersenyum sinis. Mamori sendiri tersenyum pahit melihat foto itu. Matanya sudah tampak berkaca-kaca.
"Hey… apa sekarang kau bahagia, Youichi?" tanyanya, meski Mamori tahu tidak akan ada jawaban. "Bodoh! Padahal aku ingin sekali menunjukan padamu kalau sekarang aku sudah lulus. Kau malah meninggalkanku!" Mamori menyeka air mata yang mendadak keluar. Ia berusaha tersenyum. "Yah, bagaimana pun, aku selalu berharap kau selalu bahagia. Sampai saatnya nanti kita bisa bertemu lagi. Benar kan?"
Yamato merangkul bahu Mamori. Ia mencoba menguatkan gadis yang ia cintai itu. "Dia pasti bahagia, dia akan lebih bahagia kalau melihatmu bahagia. Dia pasti selalu mengawasimu dari atas sana." Pria itu tersenyum kecil pada Mamori.
"Benar," Mamori mengangguk. Ia melirik Yamato dan membalas senyum pria itu. Disaat ada yang begitu menyayanginya, seharusnya dia tidak bersedih untuk pria lain. Hiruma akan bahagia. Pasti. Mamori meyakinkan hatinya.
"Waaah… mereka mesra sekali!" Suzuna menggerak-gerakan "antena cinta" di kepalanya sambil menunjuk Mamori dan Yamato dengan semangat.
"Dasar cewek aneh." Gerutu Monta yang berakhir dengan serangan in-line skate Suzuna.
Setelah merasa lebih baik, Mamori mengajak Yamato untuk menemui Sena dan yang lainnya. Mamori merasa tidak enak, hari ini dia sudah ditemani, tapi dia sendiri malah bersedih.
"Gomen, minna, padahal kalian sudah menemaniku. Tapi aku malah sibuk dengan pikiranku sendiri." Ucap Mamori.
"Tidak apa-apa, Mamo-nee. Kami mengerti. Nah, sekarang supaya kondisi Mamo-nee jadi lebih baik kita ke festival!" seru Suzuna bersemangat. Gadis manis itu langsung menggandeng tangan Mamori dan berjalan meninggalkan tiga pria di belakangnya.
"Festival?" Mamori bergumam pelan. Ia baru sadar kalau minggu ini adalah minggu pertama musim panas. Festival musim panas yang dulu jadi favorite-nya juga dimulai.
"Mamo-nee tahu, sekarang festival musim panas lebih seru karena ada konser musik juga, hari ini band yang akan tampil keren!"
"Konser musik?"
"Benar! Gratis! Sebaiknya kita cepat ke sana supaya dapat tempat paling depan!"
"Apa dia selalu seperti itu?" bisik Yamato pada Sena saat ia melihat tingkah Suzuna.
"Ya, dia memang selalu ceria," jawab Sena seadanya.
"Mungkin, kalau ada dia, Mamo bisa kembali ceria," Yamato bergumam. Ia menoleh kearah Sena dan tersenyum.
Sena mengangguk menyetujui.
"Yaa~~!" teriak Suzuna ceria. "Akhirnya sebentar lagi akan dimulai!"
Saat ini mereka sudah berada di depan sebuah panggung besar yang berdiri di taman kota, tempat berlangsungnya konser musik yang memeriahkan festival musim panas. Lima orang itu sudah menunggu sejak tiga jam lalu, dan akhirnya sekarang acara yang mereka tunggu dimulai.
"Heeey!" teriak seorang pria dari atas panggung. Sepertinya dia yang akan membawakan acara hari ini.
Semua penonton berteriak kompak menyambut sapaan pria itu.
"Siap untuk pesta?!" tanyanya setengah berteriak.
"Yaaa!"
"Oke, tidak usah berlama-lama lagi, sekarang… kalian ingin siapa?"
"AKUMA!" penonton yang mungkin jumlahnya ribuan itu berteriak kompak.
"Akuma?" Mamori dan Yamato saling pandang. Mereka berdua merasa aneh dengan nama yang diteriakan penonton, termasuk Suzuna, Sena, dan Monta.
"Apa itu Akuma?" tanya Yamato.
"Grup band v-kei yang sedang naik daun," jawab Sena.
"Mereka keren!" sambung Monta.
Pasangan yang baru kembali dari Amerika itu hanya ber'oh' ria.
"Baiklah… Kita sambut. AKUMA!" teriak si pembawa acara yang sukses membuat semua penonton menjerit senang sambil bertepuk tangan dengan semangat.
"Yeah!" terdengar suara husky seorang pria dari atas panggung yang kemudian disusul musik yang cukup keras.
"Eh…itu?" ucap Yamato kaget.
Mamori mendongak, menatap band yang tengah memainkan sebuah lagu di atas panggung. Seketika ia merasa waktu berhenti. Suara pria yang sedang bernyanyi itu sangat ia kenal. Tidak, bahkan garis wajahnya yang tampan dan terlihat tegas, rambut pirang jabrik, senyuman-bukan seringai pria itu sangat tidak asing bagi Mamori.
Dan Mamori baru menyadari, gelang yang dipakai pria itu memiliki bandul berbentuk kelelawar terbang yang persis dengan kalung miliknya.
"Dia… masih hidup," hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Mamori.
"Arigatou!" si pria yang merupakan vokalis band bernama Akuma itu berteriak diakhir lagunya sebelum ia dan personel yang lain menuju belakang panggung. Sementara semua penonton berteriak histeris sambil bertepuk tangan.
"YOUICHI!" teriak Mamori yang tidak mau kalah dengan suara bising di sekitarnya saat pria itu menghilang dari pandangannya.
Tsuzuku
Err…
Oke, sebenernya fic gaje ini terinspirasi dari band idola saia, tiap kali denger lagunya, saia selalu merasa kalau Hiruma yang nyanyi, dan gegara itu jadi pengen bikin fic yang bikin Hiruma nyanyi, tapi kalau Hiruma sih, kayaknya ga mungkin nyanyi walau dia pengen XD
Uhm, di bagian terakhir tadi, coba minna dengerin lagu Love Balance atau Kuroi Sabaku punyanya Jealkb! XDD Hirumanya dapet bangeeet….#mimisan
Yosh… seperti yang saia bilang sebelumnya, fic ini kayak sinet, jadi saia harap minna ga bosen…
Mohon review-nya minna~~
Arigatou
