Yaaay… datang lagi dengan fic yang udah karatan di Ffn karena kelamaan update XD #bangga

Ano, karena kemarin ada yang tanya soal lagu yang dibawaain si 'Hiruma' saia mau info sedikit, itu lagunya Jealkb, yang kebetulan vokalis band ini Atsushi Tamura(Haderu) adalah seiyu dari Hiruma Youichi. Tiap kali dengerin dia nyanyi itu kayak dengerin Hiruma yang nyanyi~fufufu… suaranya itu sekseh banget/ Gegara itu juga saia jadi punya ide buat bikin fic ini. Nyehehe…. Saia juga mau ngucapin makasiih buat Hyou Hyouichifer, Kuro Nami, Pinkyukka, LalaNur Aprilia, dan Hiruma Yuzu, yang udah berbaik hati buat meninggalkan review..arigatou ^^ dan juga buat…

Guest : Gomeeeeennn….maafkan kesalahan fatal saia ga bales review kamu chap kemarin, ini ga akan panjang kok, paling panjang mungkin sampai 6 chap… Mamo nanti sama siapa ikuti terus yaa… ehehe… makasiih koreksinya yaa..XD

Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Story: Mayou Fietry

Pair: Mamori Anezaki, Youichi Hiruma, Takeru Yamato

Rated: T

Genre: Romance, drama

Warning: AU, OOC, typo, gaje, ide pasaran, abal, kayak sinetron, dan segala keburukan lainnya yang bisa bikin keracunan..

.

.

.

"Selama ini, sehari pun aku tidak pernah melupakanmu, Youichi"/ "Saat bersamaku, apa kau juga selalu mengingatnya?"/ "Takeru dan Youichi itu berbeda, kalian tidak bisa dibandingkan."/ "Tidak apa, Mamori, aku akan menunggu…"/ "Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Pergi meninggalkannya atau memaksanya ikut denganku sementara hatinya ada pada orang lain? Keduanya sama-sama menyakitkan."

KIMI NO KIOKU

Chapter 3


"YOUICHI!"

"Eh…?"

"Mamori-neechan, itu bukan—"

"Aku harus bertemu dengannya!" kata Mamori yang tiba-tiba saja histeris. Membuat Yamato dan yang lain terkejut.

"Biar kami keluar dari sini. Kalian lanjutkan saja nonton tanpa kami," ujar Yamato akhirnya. Ia merangkul bahu Mamori dan sedikit menuntun gadis itu keluar kerumunan yang sekarang tengah menatapnya. Pria itu membungkuk sambil tersenyum kecil dan mengucapkan permintaan maaf. Ia sadar, orang-orang pasti terganggu dengan aksi Mamori barusan.

Yamato dan Mamori akhirnya hanya duduk di sebuah bangku taman, 'tak begitu jauh dari tempat konser.

"Kau lihat 'kan, tadi itu Youichi," Mamori bergumam pelan, seperti ia berbicara dengan dirinya sendiri. Jemarinya erat menggenggam cangkir berisi coklat hangat yang dibelikan Yamato beberapa saat lalu.

"Aku melihatnya, meski aku cuma melihat Hiruma dari foto kemarin, aku mengenalinya. Pria tadi memang Hiruma. Tapi, bagaimana mungkin, Hiruma sudah meninggal sejak tujuh tahun lalu." Yamato menjawab. Seolah tahu apa yang tengah berkecamuk dalam kepala kekasihnya ini.

"Kalau Youichi ada di sini, itu berarti dia belum meninggal!" suara Mamori meninggi. Gadis itu lalu mengusap wajahnya, menyesal membentak Yamato. "Gomen," ucapnya.

"Tidak apa-apa," Yamato tersenyum pada Mamori. Senyum yang membuat Mamori merasa lebih tenang.

Keduanya tidak bicara lagi. Mereka memandangi konser yang masih berlangsung. Penonton berteriak keras dan suara husky itu kembali terdengar bersama gambar seorang pria berambut spike pirang yang tengah menyeringai senang sambil bernyanyi di layar besar dekat panggung. Baik Yamato dan Mamori akhirnya hanya melihat pertunjukan itu tanpa bicara apa pun. Pikiran Mamori telah penuh dengan segala sesuatu tentang pria itu, sementara Yamato tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan Mamori.

Entah sudah berapa lama mereka saling diam. Bahkan setelah band bernama Akuma itu selesai bermain, mereka masih tetap diam.

"Mamo-nee…."

Dua orang itu menoleh keasal suara saat mendengar panggilan yang familiar itu. Mereka tersenyum kompak menyambut Suzuna, Sena, dan Monta yang menghampiri keduanya.

"Maaf soal yang tadi," ungkap Mamori saat tiga orang itu berada diantaranya.

"Ne, tidak apa-apa, Mamori-san, waktu pertama dia muncul kami juga berfikir dia itu Hiruma-san." Jawab Monta.

"Maksudmu, dia bukan Hiruma?" Yamato terbelalak. Padahal dia yakin pria yang mereka lihat tadi adalah Hiruma Youichi.

"Tentu saja bukan, namanya Hagito Arata," kali ini Sena yang menjawab.

"Yaah, tapi Akkun memang mirip dengan You-nii sih," timpal Suzuna sembari mengangkat bahu.

Yamato melirik Mamori yang hanya diam seperti tengah mencerna kata-kata tiga orang ini.

"Mana mungkin ada orang yang begitu mirip. Tidak, dia bukan cuma mirip. Aku yakin kalau orang itu Youichi."

"Hiruma-san sudah meninggal, Mamori-neechan, yang tadi itu bukan dia," kata Sena.

"Kalau begitu dia meniru Youichi! Kau lihat 'kan Sena? Rambut pirang, telinga runcing, suara…."

"I-itu, aku tidak tahu soal itu," Sena merinding mendengar kata-kata Mamori barusan.

"Mamori," Yamato menyentuh bahu Mamori pelan. "Mungkin semuanya cuma kebetulan."

"Tapi…," Mamori menghentikan kata-katanya, ia lalu menoleh kearah panggung yang masih menyuguhkan konser musik itu. "Yah, mungkin memang cuma kebetulan."

"Yah, baiklah… apa kalian masih mau jalan-jalan?" Yamato mengalihkan pembicaraan.

Tiga orang di depannya menggeleng kompak.

"Sudah cukup, lebih baik kita pulang saja… besok 'kan kita bisa jalan-jalan lagi." Jawab Suzuna.

Yang lainnya mengangguk setuju kemudian beranjak untuk pulang. Rasanya sama sekali tidak menyenangkan kalau melanjutkan acara hari ini sementara pikiran Mamori baru terganggu dengan orang itu. Mau tidak mau, mereka memang harus pulang.


Layar laptop itu masih menyala menampilkan gambar serta profil pria berambut pirang jabrik yang tengah memamerkan sebuah senjata api.

"Hhh…." Mamori kembali menghela nafas. Ia mengacak rambutnya setelah membaca profil pria itu di internet. "Hagito Arata, 4 Desember, punya koleksi senjata api, makanan favoritenya yang tidak mengandung gula, dia adalah orang yang tidak suka urusan pribadinya diusik media, makanya tidak ada yang tahu kehidupan pribadi dari Hagito Arata." Mamori membaca beberapa baris dari profil Hagito secara acak, tapi ia tidak menemukan apa pun yang mungkin ada hubungannya dengan Hiruma. Sepertinya Hagito dan Hiruma memang dua orang yang berbeda.

Tok tok tok.

"Masuk," kata Mamori tanpa mengalihkan pandangannya.

"Mamo, ada temanmu yang kemarin…." Tampak sosok Mami Anezaki dari balik pintu kamar Mamori.

Gadis itu memutar tubuhnya menghadap sang ibu. "Siapa?"

"Seorang gadis berambut biru," jawab Mami.

"Suzuna! Biarkan dia masuk, bu."

Mami mengangguk sebelum menghilang dari pandangan putrinya, sementara Mamori sendiri langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Mami keluar kamar.

"Mamo-nee!"

Mamori tersenyum mendengar sapaan ceria itu. "Suzuna-chan, masuklah!" jawabnya. Ia bisa melihat gadis ber-in-line skate itu meluncur kearahnya setelah sebelumnya memberi salam pada Mami.

"Ne, Mamo-nee, kau masih penasaran dengan Akkun?" tanya Suzuna setelah tiba di depan Mamori.

"Kalau yang kau maksud itu Hagito Arata, iya, aku masih penasaran dengannya," jawab Mamori. Ia mengajak Suzuna masuk dalam kamarnya dan menunjukan layar laptop yang masih menampilkan profil Hagito.

"Kalau Mamo-nee penasaran tinggal tanya langsung pada orangnya 'kan?" Suzuna mengedipkan sebelah matanya.

"Apa maksudmu?" Mamori bertanya balik.

"Aku tahu, Mamo-nee mengira Akkun adalah You-nii bukan tanpa alasan, tidak mungkin di dunia ini ada dua orang yang begitu mirip. Yah, sebenarnya mungkin saja sih, tapi pasti ada perbedaannya. Mamo-nee yang sudah tujuh tahun tidak bertemu You-nii bisa bersikap seperti kemarin, aku jadi ikut penasaran. Jadi kupikir, mungkin aku akan membantu Mamo-nee menanyakannya pada Akkun."

"Eh…? Ba-bagaimana caranya?"

"Interview!" Suzuna menjawab dengan ceria sembari memamerkan ponselnya. "Aku akan menghubungi manajer mereka." Ujarnya. Tangan gadis itu mulai sibuk dengan ponselnya.

"Ta-tapi Suzuna-chan, kita tidak boleh sembarangan. Hagito itu selebriti."

"Ckckck… Mamo-nee tenang saja, serahkan semuanya padaku." Suzuna menempelkan poselnya ke telinga. Sepertinya ia sedang menghubungi seseorang.

"Haaah…." Mamori hanya menghela nafas tidak lega melihat kelakuan Suzuna.

"Moshi-moshi… Koizumi-san? Ah, aku Suzuna Taki dari Universitas Enma… Iya, bisakah aku mewawancarai Akuma? Iya, untuk majalah kampus. Besok, baiklah aku akan datang bersama temanku jam tiga sore besok. Terima kasih."

Mamori hanya mengernyitkan kening melihat temannya itu. "Apa yang kau lakukan Suzuna-chan?"

"Tenang saja, Mamo-nee… Aku tidak bohong soal majalah kampus itu, tapi, dengan begini Mamo-nee juga bisa bertanya langsung padanya 'kan? Satu kali dayung, dua-tiga pulau terlampaui…."


Mamori dan Suzuna sekarang sudah berada di depan studio tempat band Akuma berlatih. Keduanya menarik nafas perlahan untuk menyiapkan mental. Meski masih setengah hati melakukan ide gila Suzuna ini, tapi Mamori ingin tetap melanjutkannya sampai akhir. Ia penasaran, ada sesuatu dalam hatinya yang mengatakan bahwa Hagito Arata adalah orang yang ia rindukan selama tujuh tahun ini.

"Nah, Mamo-nee, ayo kita masuk." Kata Suzuna yang dijawab sebuah anggukan pasti dari Mamori.

Keduanya lalu mulai melangkah masuk studio musik tersebut. Suzuna berbicara pada seorang pria di sana yang kemudian mengantar mereka masuk ke ruangan yang seperti ruang tamu. Di sana seorang gadis cantik berambut pirang panjang segera menyambut kedatangan Mamori dan Suzuna.

"Suzuna Taki dari Universitas Enma?" sapanya ramah.

Suzuna dan Mamori membungkukan badan. "Hajimemashitte." Ucap keduanya keduanya kompak.

"Hajimemashitte." Jawab gadis itu sambil membungkukan badan.

"Aku Suzuna dan temanku, Mamori Anezaki, kami ingin interview sebentar dengan Akuma untuk majalah kampus, dan mungkin Mamo-nee akan menginterview Hagito-san untuk kolom khusus." Suzuna menjelaskan lagi maksud kedatangannya seperti kemarin di telpon.

"Yoroshiku, Anezaki-san, Suzuna-san, aku Karin Koizumi. Akuma sebentar lagi selesai latihan dan bisa interview. Tapi, ano, untuk Hagito-san, kalian tidak bilang sebelumnya, semoga saja Hagito mau untuk interview khusus itu." raut wajah gadis bernama Karin itu berubah agak pucat saat mengucapkan kalimat terakhir. Kelihatannya dia ragu.

"Apa Hagito orang yang keras?" tanya Mamori tiba-tiba.

"I-itu…."

"Kubilang aku tidak mau! Dasar sampah!"

"Berhenti membantah. Dread sialan! Atau aku bunuh kau!"

Perkataan Karin terhenti saat suara-suara kasar itu terdengar dari ruangan sebelah tempat Akuma berlatih.

"Sumimasen," pamit Karin lalu pergi meninggalkan Suzuna dan Mamori.

"Sepertinya nama band ini menunjukan sifat membernya," bisik Suzuna.

Mamori mengangguk menganggapi.

Dua gadis itu lalu hanya berdiri kaku saat Karin kembali bersama lima orang pria yang tidak lain adalah personel band Akuma.

"Minna, perkenalkan ini Suzuna Taki dan Mamori Anezaki dari Universitas Enma, mereka akan interview dengan kalian, seperti yang kemarin aku bilang." Kata Karin pada lima pria itu.

Suzuna dan Mamori segera saja membungkuk dan mengucapkan salam.

"Ano, Hagito-san, ada interview khusus denganmu, a-apa kau keberatan?" tanya Karin takut-takut.

Hagito memandang Karin lalu beralih pada Mamori dan Suzuna. "Aku tidak mau kalau itu hanya interview yang tidak berguna dan memakan waktu lama."

"Tidak akan lama," spontan Mamori menjawab. Gadis itu lalu segera menundukan wajahnya saat tatapan mata Hagito yang tegas jatuh di wajahnya.

"Baiklah," jawab Hagito.

Karin mempersilahkan mereka duduk di sofa sebelum ia beranjak meninggalkan Mamori dan Suzuna bersama pria-pria yang sepertinya menyeramkan itu.

"Ano… bisakah kalian perkenalkan nama dan posisi masing-masing?" tanya Suzuna mengawali interviewnya.

"Kau gugup, manis?" tanya seorang diantara mereka. Dia berambut gimbal dengan warna ungu dan berkulit gelap. Terlihat paling menyeramkan dari yang lain. "Namaku Agon Kongo, drum, habis ini kau ada waktu untuk jalan-jalan?"

"Hentikan Dread sialan! Sudah kubilang berhentilah menggoda cewek-cewek sialan!" gertak Hagito kasar.

Jantung Mamori berdegup dengan cepat mendengar cara bicara itu. Bagaimana bisa, cara bicara orang ini sama dengan Youichi-nya? Ingin rasanya Mamori segera mewawancarai pria itu. Berdua saja.

"Fuh, maaf… irama mereka memang sedang jelek," ujar seorang pria berambut merah. "Aku Hayato Akaba, gitar."

"Juumonji Kazuki, gitar."

"Rui Habashira, bass."

"Hagito Arata, vocal. Kurasa sebenarnya kalian sudah tahu nama kami."

"Benar, tapi… akan lebih baik kalau ada perkenalan dulu kan?" sahut Suzuna ceria. Ia lalu mulai menanyai personel akuma satu per satu. Mamori bahkan kagum karena Suzuna benar-benar terlihat seperti seorang wartawan.

Gadis itu bahkan sudah terlihat akrab dengan pria-pria itu. Dia tidak ragu untuk menanyakan hal-hal yang sedikit pribadi seperti urusan percintaan. Dan sepertinya personel Akuma yang terkesan menyeramkan itu menanggapi tiap pertanyaan Suzuna dengan santai. Mamori jadi merasa seperti sudah lama mengenal orang-orang ini, meski memang sikap pria yang bernama Agon itu terkadang menyebalkan.

"Arigatou gozaimasu," ucap Suzuna saat ia selesai dengan interviewnya. "Sekarang bisakah kalian melanjutkan interview berikutnya? Mamo-nee, dan Hagito-san?"

"Ayo, cepat kita selesaikan." Hagito beranjak dari tempatnya, ia berjalan ke ruangan sebelah diikuti Mamori.

Jantung Mamori rasanya sudah ingin melompat keluar. Ia bahkan belum menyiapkan pertanyaan. Lalu bagaimana? Mamori bingung sendiri apa yang akan ia tanyakan nanti.

"Ayo cepat!"

Suara khas milik Hagito membuyarkan lamunan Mamori. Gadis itu memandangi tempatnya berada sekarang, sepertinya di sinilah Akuma berlatih, tempat ini penuh dengan berbagai macam alat musik dan sound system. Mamori lalu menatap Hagito yang duduk di depannya. Ia meghela nafas sebentar lalu menarik sebuah kursi untuk duduk, sama seperti yang dilakukan Hagito.

"Ano, yoroshiku, Hagito-san," Mamori memulai. "Uhm, yang memberi nama Akuma untuk band ini, kau 'kan? Kenapa kau memilih Akuma?"

"Karena aku menyukainya." Hagito menyeringai kecil sambil memasukan permen karet dalam mulutnya.

"Kenapa kau melakukannya?"

"Karena aku menyukainya."

Mamori kembali menghela nafas, dia belum lima menit bersama pria ini dan Mamori seperti mengalami de javu. "Tapi, Akuma itu… Yah, kurasa kau mengerti, apa itu tidak terlalu menyeramkan?"

"Karena band ini memang v-kei, menyeramkan itu bukan masalah."

Mamori mengangguk, lalu menuliskan sesuatu di buku kecil yang ia bawa. "Symbol Akuma, kelelawar… Kenapa bukan akuma?"

"Kau tidak tahu, kelelawar itu seperti sudah terikat dengan setan, kelelawar melambangkan sesuatu yang menyeramkan. Tempat yang dihuni kelelawar biasanya tempat yang juga dihuni akuma. Setidaknya begitulah kesan yang ditinggalkan oleh kelelawar." Hagito lalu membuat balon dari permen karet dalam mulutnya.

"Kau makan permen karet mint, bebas gula?" tanya Mamori ragu.

Sesaat bola mata Hagito membulat mendengar pertanyaan Mamori. Selama ini tidak ada satu pun media yang tahu apa jenis permen karet yang selalu ia konsumsi. Setidaknya, tidak ada yang menanyakan hal itu.

"Benar," jawab Hagito akhirnya.

"Uhm… cara bicaramu, tidak seperti tadi saat bicara dengan pria berambut gimbal itu…." Mamori bergumam, tapi tentu saja Hagito masih mendengarnya dengan jelas.

"Jadi kau ingin aku bicara seperti tadi? Baiklah, wartawan sialan. Melelahkan bicara dengan cara seperti barusan!"

Kali ini mata Mamori yang membulat melihat perubahan Hagito. "Jadi memang seperti ini cara kau bicara?"

"Ya. Kau keberatan?!"

"Tidak." Mamori menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku…senang," ia kembali bergumam. "Ano, apa warna rambutmu sebenarnya adalah hitam?"

"Dari mana kau tahu?!" tanya Hagito cepat. Ia terkejut mendengar pertanyaan Mamori. Sementara Mamori juga terkejut melihat reaksi Hagito.

"Apa itu benar?" tanya Mamori menghiraukan pertanyaan Hagito sebelumnya. "Lalu, apa nama aslimu itu, Hiruma Youichi?" Mamori kembali bertanya. Ia terlihat sangat penasaran.

Kali ini Hagito menaikan sebelah alisnya sebagai reaksi. "Apa yang kau bicarakan wartawan sialan, siapa itu Hiruma Youichi?"

DEG!

Mamori rasanya tidak bisa bernafas. Padahal ia sudah sangat yakin kalau pria di depannya ini adalah Youichi-nya. Tapi? Hagito bahkan tidak mengenal siapa itu Hiruma Youichi.

"Kau… bukan Youichi?" Mamori bisa merasakan pelupuk matanya mulai panas.

"Tentu saja bukan. Siapa orang sialan itu?"

Mamori meneteskan air matanya. "Kau, kenapa bukan dia? Kenapa kau bisa mirip sekali dengannya?"

"Siapa yang sebenarnya kau bicarakan, wartawan sialan?!"

"Hiruma Youichi, dia pria yang mirip denganmu, dia punya wajah dan suara sepertimu, rambut hitam yang dicat pirang, anting, permen karet mint, maniak senjata, bahkan cara bicaranya juga sama denganmu, juga symbol Akuma itu, Youichi memilikinya." Mamori menjelaskan dengan cepat. Ia bisa merasakan kalau air matanya segera menetes.

"Keh, Hiruma sialan itu pasti cuma fans yang ingin menyamaiku!" balas Hagito tajam. Wajahnya tampak menunjukan ekspresi tidak suka.

"Hiruma Youichi hilang dalam kecelakaan bis tujuh tahun lalu!" nada bicara Mamori meninggi. "Kau tahu apa artinya? Kalau kau bukan dia itu berarti kau yang menirunya!"

Muncul tiga siku-siku di dahi Hagito. Ia sama sekali tidak menyembunyikan ekspresi kesalnya pada gadis ini. Baru saja bertemu, gadis aneh ini sudah menuduhnya peniru.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, wartawan sialan. Tapi aku mengerti tujuanmu kemari. Kau cuma ingin mengintrogasiku, memastikan apakah aku Hiruma sialan itu atau bukan! Cih, cara picik itu menjijikan, wartawan gadungan sialan! Sekarang pergi dari sini."

Suara pria itu tidak terdengar seperti sebuah bentakan. Ia mengatakannya dengan nada yang datas namun sangat tegas dan tajam, dan terasa sangat menyeramkan. Membuat Mamori rasanya ingin meledak. Meski ia salut pada kehebatan pria di depannya ini dalam menebak semua kebohongan yang ia lakukan. Tapi. Mamori tetap saja kesal, pria ini memanggil Hiruma dengan sebutas sialan, dan sekarang mengusirnya.

"Kau menirunya—"

"Aku bahkan tidak mengenalnya. Bagaimana aku bisa menirunya?! Dasar idiot. Pergi dari sini!" Hagito akhirnya berteriak sekarang. Membuat Mamori mau tidak mau akhirnya beranjak meninggalkan tempat itu, sambil menangis.

"Suzuna, ayo kita pulang." Ujar Mamori cepat saat ia tiba di tempat Suzuna.

Gadis berambut biru gelap itu menatap Mamori dengan pandangan heran, namun tetap mengikuti kata-kata Mamori.

"Semuanya, terima kasih banyak." Suzuna membungkuk sebelum akhirnya menyusul langkah Mamori yang sudah mulai menjauh.

"Jangan lupa hubungi aku, manis." Rayu Agon sambil tersenyum.

Suzuna hanya menjawabnya dengan lambaian tangan.

"Fuuh, apa yang dilakukan si bodoh itu sampai membuat nona Anezaki menangis? dia benar-benar hard rock." Komentar Akaba.

"Hard rock?" gumam Juumonji sambil mengerutkan kening.

"Orang itu memang idiot." Rui ikut berkomentar. Tapi perkataannya bukan ditujukan pada Hagito, melainkan Akaba.

"Haah… besok aku harus minta maaf pada Anezaki karena dia sampai dibuat seperti itu oleh Hagito," wajah manis Karin nampak kesal karena kelakuan Hagito, tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri saja takut pada pria itu.


Mamori meneguk tehnya dengan gusar. Ia masih merasa sangat kesal dengan kejadian beberapa jam tadi. Sementara Yamato yang duduk di depannya memasang wajah lucu melihat tingkah Mamori seperti itu. Ia tidak pernah melihat kekasihnya dengan wajah penuh amarah seperti sekarang ini. Pria itu melirik Suzuna yang ada di samping Mamori, tampaknya gadis itu bingung apa yang telah terjadi pada Mamori. Tadi Mamori menangis, sekarang telihat kesal.

"Ada apa sebenarnya, Mamo-nee?" ia akhirnya memutuskan untuk bertanya.

"Hagito itu menyebalkan. Dia tadi mengusirku!" jawab Mamori. Ia menggelembungkan pipinya.

"Memangnya apa yang kau lakukan?" tanya Yamato.

"Aku bilang dia meniru Youichi."

"Haa… Mamo-nee mengatakan hal itu padanya?" Suzuna kehilatan shock mendengar jawaban Mamori.

"Kenyataannya memang seperti itu!"

"Lalu dia mengusirmu?" Yamato tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Dari awal dia sudah tidak setuju dengan ide gila dua gadis ini. Ternyata benar dugaannya, usaha mereka tidak membawa hasil.

"Mou! Berhenti mentertawakanku!" Mamori kembali menggelembungkan pipinya.

"Baiklah, maaf…maaf, kalian berdua lucu sekali sih, maafkan aku," ujar Yamato akhirnya.

"Tapi, bukan hanya wajahnya yang mirip Youichi, percaya atau tidak dia punya warna rambut yang sama dengan Youichi."

"Pirang?" tanya Suzuna.

"Hitam, apa kau tidak tahu kalau warna rambut Hagito sebenarnya hitam?"

Suzuna dan Yamato menaikan alis mereka bersamaan.

"Dan mereka senang mengkonsumsi permen karet mint, bebas gula, bahkan cara dia bicara persis Youichi. Aku tidak percaya ada orang yang berbeda tapi memiliki banyak kesamaan seperti itu."

"Mamo, tidakkah kau berfikir Hagito itu jahat?" tanya Yamato tiba-tiba.

Mamori menaikan alisnya sebagai tanggapan.

"Aku juga merasa aneh kalau ada orang yang memiliki banyak kesamaan seperti itu. Tapi, kalau memang Hagito adalah Hiruma, seharusnya dia mengenalimu, atau setidaknya dia sadar saat kau menanyakan namanya. Tapi, kalau dia bilang tidak tahu siapa itu Hiruma, sementara mungkin dia adalah Hiruma, itu berarti dia membuang nama aslinya dan tidak ingin berhubungan dengan segala hal yang ada hubungannya dengan Hiruma. Makanya dia mengusirmu. Kau mengerti maksudku?"

Mamori mengangguk sementara Suzuna terlihat bingung mencerna kata-kata Yamato barusan.

"Kalau begitu, seandainya dia benar Youichi, dia tidak ingin aku mengganggunya? Jahat sekali…."

"Semoga saja dia memang Hagito, bukan Hiruma seperti dalam bayanganku. Sebaiknya kita tidak terlalu memikirkannya." Kata Yamato. Ia jadi kikuk melihat ekspresi Mamori yang hampir menangis karena asumsinya.

Mamori mengangguk. "Youichi meninggal tujuh tahun lalu, Hagito bukan siapa-siapa. Aku tidak mengenalnya." Mamori sedikit meracau, seperti sedang menenangkan diri sendiri.


Hagito Arata memandangi hamparan kota Tokyo yang panas dari jendela apartementnya yang besar. Sesaat setelah pulang tadi, ia hanya berdiri diam di dekat jendela sambil melihat keluar. Tapi sepertinya, pikiran penyanyi bersuara keren ini sedang tidak ditempatnya. Ia menggelembungkan lagi balon dari permen karet dalam mulutnya sambil terus memperhatikan cahaya matahari sore yang menyelimuti gedung-gedung bertingkat di depan matanya.

"Hiruma Youichi, dia pria yang mirip denganmu, dia punya wajah dan suara sepertimu, rambut hitam yang dicat pirang, anting, permen karet mint, maniak senjata, bahkan cara bicaranya juga sama denganmu, juga symbol Akuma itu, Youichi memilikinya."

"Hiruma Youichi hilang dalam kecelakaan bis tujuh tahun lalu! Kau tahu apa artinya? Kalau kau bukan dia itu berarti kau yang menirunya!"

Kata-kata gadis itu mendadak berputar dalam kepala Hagito. ia merasa ada sesuatu, tapi dia sendiri tidak tahu apa 'sesuatu' itu. ia menghela nafas berat dan kembali fokus memandangi hamparan kota.

"Tumben sekali kau sudah ada di sini, biasanya kau selalu pulang saat larut."

Balon permen karet milik Hagito meletus saat mendengar suara itu. Tapi pria itu tidak menoleh untuk melihat siapa yang mengajaknya berbicara. Dari suaranya saja Hagito sudah sangat tahu kalau itu adalah Musashi, manajer pribadi sekaligus satu-satunya keluarga yang ia punya.

"Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Musashi saat Hagito tidak merespon kalimatnya yang pertama.

"Orang tua sialan, apa kau tahu soal benda ini?" Hagito menunjukan kalung yang ia bawa sejak tadi pada Musashi.

Mata pria itu menyipit memandangi benda yang ditunjukan Hagito padanya. Kalung dengan lambang Akuma.

"Waktu di rumah sakit kau bilang benda itu sangat berharga. Tapi aku tidak tahu kenapa itu berharga buatmu. Kau bahkan tidak mengizinkan orang lain menyentuhnya 'kan? Ada apa dengan benda itu?"

"Tidak ada." Hagito memakai kalung itu di lehernya sebelum ia menoleh menghadap Musashi yang kini tengah minum kopi. Pria itu menyeruput kopi hitam milik Musashi seenaknya sebelum menghempaskan diri di sofa.

"Kau menemukan sesuatu?" tanya Musashi.

"Hm… Seorang gadis idiot meneriakiku meniru seseorang yang hilang tujuh tahun lalu, bukankah itu gila!"

Musashi memandangi Hagito sebentar, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. "Mungkin dia punya jawaban dari pertanyaan yang selama ini kau pikirkan," akhirnya hanya itu yang dia katakan.

Ujung mata milik Hagito melirik Musashi sekilas. "Memangnya apa yang kupikirkan, orang tua sialan? Jangan sok tahu!" sentaknya.

Musashi hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan pria yang sudah ia anggap adik itu. Ia sangat mengerti bahwa Hagito tidak pernah berkata jujur. Ia melirik Hagito yang mengeluarkan ponselnya, mengutak-atik sebenetar sebelum menempelkan benda itu ke telinganya.

"Mata merah sialan. Ke apartementku, sekarang!" dan Hagito memutuskan panggilan itu secara sepihak.

"Mau apa lagi sekarang?" tanya Musashi.

"Bukan urusanmu, dasar pak tua!" Hagito malah mengumpat. Ia bangkit dari posisinya, berjalan santai menuju kamar, dan kembali setelah berganti baju. Sepertinya dia ingin pergi.

Musashi tidak berkomentar apa pun. Ia hanya menikmati kopinya sementara Hagito mengumpat kesal karena si mata merah yang ia hubungi tadi belum juga datang.

"Fuuh… aku mendengar irama sumbang di sebelah sini."

Seorang pria berambut merah terang membuka pintu apartement Hagito perlahan dan mulai melangkah masuk.

"Oh, Akaba, sepertinya kau sedikit terlambat, dia sudah meledak tuh," Musashi menunjuk Hagito yang masih marah-marah.

"Fuuh… habis aku ragu, mau mengajak dia atau kutinggalkan di kamar," Akaba menjawab sambil menunjuk gitarnya.

"Nggak ada yang mau mengambil gitar jelek kayak gitu, mata merah sialan! Buat apa kau khawatir? Dasar sinting!" maki Hagito.

Jreeng.

"Jangan membuatnya marah, Hagito. Bisa-bisa dia ngambek dan tidak mau membantuku membuat lagu."

"Kau benar-benar sinting!" hanya itu yang Hagito katakan menanggapi kegilaan rekan satu band-nya.

"Dari pada itu, mau apa kau memanggilku?" tanya Akaba mengalihkan pembicaraan.

"Jadi supirku!" Hagito melemparkan kunci mobilnya yang langsung ditangkap Akaba.

"Dasar! Lagi-lagi kau seenaknya!" komentar Musasahi.

Sementara Akaba hanya menurut. Ia mengikuti Hagito yang sudah keluar duluan.


"Kita mau kemana?" tanya Akaba sesaat setelah ia menjalankan mobil Hagito. Ia melirik pria di sebelahnya.

"Ke tempat yang waktu itu." Hagito menjawab singkat tanpa menoleh pada Akaba.

Si rambut merah hanya mengangguk paham. Ia mulai menjalankan mobilnya menuju Lake Kawaguchiko di daerah dekat gunung Fuji.

Sepanjang perjalanan, kedua pria itu hanya saling diam. Akaba fokus pada jalanan sedang Hagito sibuk menikmati pemandangan. Sejak bertahun-tahun lalu, Lake Kawaguchiko adalah tujuan Hagito tiap kali perasaannya tidak enak. Dia bisa memandangi gunung fuji berlama-lama sambil menikmati udara yang lembut.

"Sampai," Akaba menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dari sini, danau yang luar biasa cantik itu terlihat dengan jelas, bahkan bukan cuma Kawaguchiko, dari sini juga terlihat empat danau lainnya yang tidak kalah cantik. Akaba langsung keluar dari mobilnya, begitu juga dengan Hagito. Mereka memandangi tempat itu dengan kagum. Tempat ini memang paling strategis untuk melihat lima danau terkenal di dekat gunung Fuji ini. Di depan sana sudah ada hamparan hutan kelihatan sangat berbahaya.

Sementara Hagito hanya mematung melihat pemandangan, Akaba meraih gitar tercinta dan mulai membuat lagu. Akaba sangat suka tempat ini, Hagito juga menyukai tempat ini sejak Akaba mengajaknya kemari.

Tiba-tiba permainan gitar Akaba berhenti. Pria itu melepas kaca matanya lalu ia menatap lurus ke depan. Dimana hamparan hutan berada. Matanya yang berwarna merah menyipit melihat seorang gadis di sana, di dekat hutan. Sepertinya dia kenal. Ia terus memperhatikannya sampai ada pria yang menghampiri gadis itu dan mereka terlihat mengobrol.

"Fuuh… Hagito, ayo kita berangkat," ajaknya saat matanya menangkap gadis itu masuk ke sebuah mobil. Akaba tidak tahu pasti, tapi ia merasa ada sesuatu yang mengharuskannya mengikuti gadis itu.

"Kemana?" tanya Hagito cuek.

"Kau akan tahu nanti," Akaba segera masuk ke mobil. Begitu juga Hagito. Mereka langsung tancap gas saat mobil milik si gadis mulai melaju.

Akaba mengikutinya dalam diam. Ia tidak ingin Hagito menyadari apa yang sedang ia lakukan sekarang. Bisa-bisa ia digantung di kamar mandi. Akaba bergidik dengan khayalannya sendiri. Tapi ia bersyukur, Hagito yang biasanya banyak protes itu hanya diam mengikuti kemana Akaba membawanya. Meski dalam hatinya ia merasakan ada yang tidak beres.

Pria berambut merah itu menghentikan mobilnya di depan sebuah sekolah bernama SMU Deimon. Ia sedikit bingung. Kenapa orang yang ia buntuti sejak tadi pergi ke sini? Tapi toh Akaba tetap keluar dari mobilnya. Begitu juga dengan Hagito.

"Ngapain kita ke sini, mata merah sialan?" tanya Hagito yang kelihatan kesal.

"Tidak tahu, ayo… kita masuk saja," Akaba menjawab seenaknya dan melangkah duluan, meninggalkan Hagito yang akhirnya mengekor. Mereka berhenti di tempat yang cukup jauh dari gadis yang sejak tadi Akaba ikuti, sepertinya gitaris hebat ini sedang mengintai gadis itu.

"Ngapain sih, mata merah sialan?!" Hagito mulai menggerutu. Ia melihat gadis yang sejak tadi diperhatikan Akaba. Dia mengenalnya. "Hoo… si wartawan gadungan sialan. Ngapain kau mengikutinya?" selidik Hagito yang sudah kesal.

"Tidak tahu. Kau diam saja dulu, jangan memainkan nada terlalu tinggi."

"Sinting."

Tidak lama, gadis yang dipanggil 'wartawan gadungan' itu beranjak dari tempatnya. Setelah gadis itu menghilang, Akaba dan Hagito keluar dari persembunyian mereka dan berjalan menuju ke tempat yang tadi dikunjungi gadis itu.

Sebuah monumen peringatan kecil kecelakaan maut tujuh tahun lalu.

"Untuk mengenang sahabat kami tercinta." Pesan yang ditulis di monumen kecil itu dibaca Akaba. Matanya yang memakan kontak lens berwarna merah menyusuri foto-foto yang terpajang di sana, sedetik kemudian ia tercekat dengan apa yang dilihatnya. "I-itu?"

"Hiruma Youichi." jawab Hagito pelan.

Tsuzuku

yaaa...akhirnya selesai juga XD
Hagito? Hagito atau Hiruma? akan terbongkar dichap berikutnya...

mohon reviewnya minna... ^^