Yaaaa…. Minna, saia datang lagi! Dengan fic paling alay yang pernah saia bikin! Nyahahaa…. Tapi biarpun begitu, saia berterimakasih sama semua yang udah menyempatkan diri buat baca apalagi sampe review… Buat LalaNur Aprilia, VEnomouSakuRa, Himeka Kyousuke, Haza ShiRaifu, Hyou Hyouichiffer, dan Luchia Hiruma, udah saia bales lewat PM ya.. terus, buat yang gak log in,

Renji Maruko: nyahaha…. Iyah! Udah saia tulis di warning kalo cerita ini kayak sinetron. Makasiih banyak yaa… XDD

Pinkyukka: Kenapa? Kenapa kamu nyuruh cepet-cepet tamat?! Ada juga kamu yang cepet publish itu fic!#plakplakplak XPP taoi ini ceritanya ga akan panjang kok, semoga aja chapter 7 bisa tamat(ga yakin)#dor. Emmm….. sama siapa ya? Mamo enaknya sama siapa yaa? Fufufufu…. Makanya, kamu wajib ikuti terus!#ditendang

Guest: aahaha…. Makasiih kalo kamu ga bosen baca cerita ini…huhu..terharu MAX! Ah, aku ga suka sad ending kok, tenang aja XD makasiih banyak!#bungkukbungkuk.

Yosh! Dengan bangga mempersembahkan… fic sinet dengan ide cerita yan pasaran…

JENG JENG*back song gitar Akaba*

.

.

Disclaimer: Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Story: Mayou Fietry

Pair: Mamori Anezaki, Youichi Hiruma, Takeru Yamato

Rated: T

Genre: Romance, drama

Warning: AU, OOC, typo, gaje, ide pasaran, abal, kayak sinetron, dan segala keburukan lainnya yang bisa bikin keracunan..

.

.

.

"Selama ini, sehari pun aku tidak pernah melupakanmu, Youichi"/ "Saat bersamaku, apa kau juga selalu mengingatnya?"/ "Takeru dan Youichi itu berbeda, kalian tidak bisa dibandingkan."/ "Tidak apa, Mamori, aku akan menunggu…"/ "Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Pergi meninggalkannya atau memaksanya ikut denganku sementara hatinya ada pada orang lain? Keduanya sama-sama menyakitkan."

KIMI NO KIOKU

Chapter 4


Hagito menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang menggila, membuat Akaba yang duduk di sebelahnya melesakkan punggung ke kursi sambil memeluk erat gitar cantik yang ia bawa, seolah tidak ingin si 'merah' kesayangannya itu jatuh dan terluka.

"Hei! Aku belum mau mati!" Akaba hampir menjerit.

Tapi Hagito seperti tidak mendengar, ia hanya terus melaju hingga sebuah guncangan yang cukup keras memaksanya untuk menepi, dengan bantingan setir dan rem mendadak, tentu saja.

Wajah putih Hagito tampak sedikit pucat, nafasnya memburu dan beberapa bulir keringat menghiasi keningnya yang mulus. Mendadak tadi jantungnya berdetak dengan cepat. Ada rasa takut dalam dirinya. Tapi bukan karena guncangan tadi, Hagito seperti teringat pada sesuatu yang lebih mengerikan.

"Fuh, dasar ceroboh," desis Akaba yang sepertinya juga terkena serangan jantung mendadak.

"Aku… dejavu," Hagito tidak memperdulikan komentar Akaba. Ia masih menata detak jantungnya. "Mungkin…." Lanjutnya ragu-ragu.

Akaba langsung melotot ke arah Hagito sesaat setelah degup jantungnya kembali normal. "Kau, ingat sesuatu?" tanyanya penasaran.

Hagito meliriknya sekilas. Ia memasukan permen karet bebas gula dalam mulutnya, mengunyah permen karet membuat perasaannya jauh lebih baik. "Mungkin," jawab Hagito tidak pasti. "Sepertinya, aku pernah mengalami kejadian seperti itu."


Dua orang itu masih serius memperhatikan Hagito yang sedang take vocal di ruangan sebelah. Mereka hampir tidak berkedip melihat Hagito dari sekat kaca yang memisahkan ruangan tempat mereka dan Hagito berada.

"Dia semakin baik, 'kan?" tanya Musashi pada pria bermata merah yang berdiri di sampingnya. Pandangannya belum terlepas dari Hagito.

"Fuh, selera musik anak itu memang luar biasa, ritmenya hari ini sangat baik." Komentar si mata merah Akaba. "Selain itu, kondisinya juga makin membaik, mungkin ingatannya akan segera kembali."

Musashi terbelalak dan langsung menoleh pada Akaba. "Maksudmu… dia?"

"Kemarin dia bilang pernah mengalami kejadian yang sama."

"Mungkin itu hanya dejavu biasa."

"Fuh, aku jadi penasaran dengan gadis itu," Akaba sepertinya tidak menanggapi respon Musashi.

"Gadis?" Musashi menaikan sebelah alisnya.

"Fuh," Akaba lagi-lagi tidak menanggapi respon Musashi. Ia malah menunjukan senyum kecil yang mencurigakan, membuat Musashi menatapnya dengan wajah aneh. Penyakitnya sedang kambuh, batin Musashi.

Dari pada memikirkan Akaba yang penyakit anehnya kambuh, Musashi memilih kembali memperhatikan Hagito yang sepertinya sudah selesai dengan sesi rekaman. Pria itu kini tengah melangkah menuju Musashi dan Akaba.

"Kerja bagus, istirahatlah!" kata Musashi sambil menyerahkan botol minum pada Hagito.

Si penyanyi dengan suara seksi itu menyambarnya tanpa berkata apa pun, ia hanya terus melangkah menjauh dari dua orang itu dan keluar dari ruangan. Diminumnya sedikit air mineral dalam botol itu. Rekaman memang lumayan melelahkan. Meski hanya bernyanyi, Hagito merasa hari ini melelahkan.

"KYAAAAA…!"

Tiba-tiba seorang gadis cantik dengan rambut pirang menerjangnya hingga Hagito kehilangan keseimbangan dan terjatuh, pria itu sempat menutup mata sebelum tubuhnya menyentuh lantai. Malangnya, si gadis cantik ini juga ikut terjatuh menindih Hagito.

"Ha-Hagito-san!" suara gadis itu terdengar panik dan takut.

"Bangun! Hei, kau dengar aku tidak? Ayo bangun! Kau bodoh, lagi-lagi menyelamatkanku. Cepat bangun! Kau tidak mati 'kan?"

"Kekekeke… Mana mungkin aku mati, monster sia—" Hagito membuka matanya dan mendapati Karin−sang manajer yang tadi menabraknya bersama Akaba dan Musashi yang memandanginya dengan tatapan bingung.

"Kau… mengigau?" tanya Akaba setelah mencerna kata-kata Hagito barusan.

"Hagito-san, maafkan aku. Aku ceroboh. Tadi aku buru-buru makanya lari, aku tidak sengaja menabrakmu, maafkan aku." Ucapan Karin terdengar penuh penyesalan. Ia yang kini ada di samping Hagito yang masih terlentang di lantai membungkuk dalam-dalam.

"Cih, lain kali jangan berlarian di sini, kepang sialan! Kau pikir ini lapangan?!" sentak Hagito sembari bangun dari posisinya.

"Maaf," ujar Karin yang sudah pucat.

'Apa tadi itu? Dejavu lagi?' batin Hagito mengingat kembali suara yang ia dengar saat jatuh tadi. "Sialan," desis Hagito pelan lalu mulai beranjak pergi, disusul Musashi yang masih bingung dengan yang baru saja terjadi. Sementara Akaba tersenyum kecil melihat kepergian Hagito.

"Karin, aku boleh minta nomor wartawan yang kemarin? Yang…hm, Anezaki siapa….?"

"Anezaki?"gumam Karin seraya menatap Akaba.

"Kau punya 'kan?"

"Bu-buat apa?"

"Fuuh,"

Karin menaikan alisnya mendengar jawaban Akaba. Jawaban apa itu? Batin Karin. "Akaba-kun?" panggilnya.

"Kau pikir aku akan menyalahgunakannya?"

"Siapa tahu."

Akaba tersenyum melihat wajah Karin. "Tidak, aku hanya ada urusan dengannya, kalau kau mendapat laporan tidak menyenangkan setelahnya, aku akan berhenti main gitar."

"Eh?" Karin melotot mendengar kata-kata Akaba. Kemudian ia mengangguk. "Baiklah,"

"Nah, begitu baru cantik." Akaba tersenyum sambil membenarkan letak kaca matanya. Sementara wajah Karin berubah merah mendengar perkataan Akaba.


Mamori tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Perasaannya sedikit kacau setelah beberapa menit yang lalu yang lalu ia melihat video klip milik band bernama Akuma. Hagito, lagi-lagi orang itu muncul di kepalanya. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju jendela. Memandangi hamparan bintang di langit.

Apa, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa hatinya jadi kacau begini? Mamori ingin percaya bahwa Hagito bukanlah Hiruma, tapi hatinya mengatakan bahwa Hagito adalah orang yang selama ini ia rindukan, dan Mamori tahu, seharusnya, hati kecilnya itu tidak salah. Tapi….

'Siapa itu Hiruma Youichi?'

Pertanyaan itu rasanya membuat dada Mamori sesak. Hagito benar-benar tidak mengenal Hiruma, atau berpura-pura tidak mengenalnya, karena dia sudah membuang kehidupan Hiruma?

Mamori mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menenangkan hati. Ia lalu melirik sebuah bingkai foto yang terpajang manis di atas meja belajarnya. Di sana ada foto Mamori yang sedang bersama Hiruma, foto yang diambil saat mereka baru akan memasuki SMP. Dalam foto itu, tampak Mamori menjewer telinga Hiruma, dan Hiruma menjambak rambut Mamori, keduanya terlihat seperti sedang berteriak.

Mamori tersenyum kecil melihat foto itu. Sampai sekarang pun dia belum percaya, kalau Hiruma benar-benar sudah meninggal. Apa lagi jenazahnya tidak pernah ditemukan. "Youichi, kau dimana?" Mamori bergumam pelan.

Drrt… Drrrttt….

Malaikat cantik itu kembali menatap meja belajar saat handphone-nya bergetar, benda metalik warna pink itu berkedip-kedip. Mamori segera mengulurkan tangannya meraih benda itu, ingin tahu apa yang membuatnya bergetar.

Sebuah panggilan. Dari nomor yang tidak dikenal Mamori.

Gadis itu menautkan alisnya, bingung. Siapa yang menghubunginya malam-malam begini?

"Moshi-moshi," Mamori menyapa dengan sopan, seperti biasanya.

"Fuh," terdengar sahutan dari seberang telepon.

'Fuh?' batin Mamori. Apa maksudnya 'fuh'?

"Kau, Anezaki Mamori, benar?" tanya suara seorang pria dari seberang membuat Mamori kembali ke alam nyata.

"I-iya benar, siapa ini?"

"Akaba, Akaba Hayato." Jawab si penelpon.

"Akaba?" Mamori bergumam. Rasanya ia tidak asing dengan nama itu.

"Benar, aku Akaba Akuma."

"Ah!" Mamori memekik setelah mengingat orang yang meneleponnya ini. "Ada perlu apa kau meneleponku?"

"Hm, apa besok kau ada waktu? Aku ingin bertemu denganmu."

"Eh?" mata Mamori membulat mendengar ajakan Akaba. Mau apa pria itu? Pikir Mamori

"Fuh, jangan berfikir macam-macam, ini bukan ajakan kencan atau semacamnya. Aku tidak mungkin mengajakmu kencan, ritme kita berbeda."

"Ritme?" gumam Mamori bingung. "Jadi, ada perlu apa?" ia langsung ke pokok pembicaraan sebelum Akaba bicara lebih jauh soal 'ritme'.

"Fuh, irama yang menarik," komentar Akaba. "Aku ingin tahu, apa kau kenal dengan orang bernama Hiruma Youichi?"

Pertanyaan itu sukses membuat jantung Mamori hampir melompat keluar. Ia bahkan merasakan handphone-nya hampir terjatuh karena terlalu kaget.

"Kau… mengenalnya?" tanya Mamori penasaran.

"Tidak," Jawab Akaba yang langsung membuat Mamori lemas. "Karena aku tidak mengenalnya, makanya aku ingin bertemu denganmu, kau mengenalnya 'kan?"

"Begitu," lirih Mamori. "Baiklah, kau ingin bertemu dimana?" tanyanya.

"Chelonia café, jam makan siang."

"Chelonia…? Yang di dekat Tokyo Sky Tree?"

"Benar."

"Baiklah, aku akan datang jam 12 siang besok." Putus Mamori.

"Aku tunggu. Terima kasih, Anezaki. Selamat malam." Dengan itu Akaba mengakhiri panggilannya.

Mamori merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ia jadi tidak sabar menunggu besok. Gadis itu melangkah menuju tempat tidurnya dan mulai memejamkan mata, bersiap untuk pertemuannya besok.


Hagito menemukan dirinya tengah berjalan gontai dalam teriknya siang. Tubuhnya terasa lemas dan sakit. Tapi Hagito sendiri tidak mengerti kenapa ia sampai seperti itu. Dan satu hal, Hagito merasa tubuhnya jauh lebih pendek dari yang ia ingat.

Kaki pria itu terus melangkah, menyeret tubuhnya yang nyaris remuk. Ada apa sebenarnya? Ia bertanya-tanya. Hagito berbelok ke sebuah rumah—entah milik siapa, ia sendiri tidak tahu. Tangannya terulur untuk membuka pintu, dan saat itulah Hagito menyadari, bahwa ukuran tangannya yang seperti tangan anak kecil, penuh dengan luka. Apa yang terjadi?

Hagito membuka pintu di depannya, mungkin dengan ini ia akan tahu apa yang sedang terjadi. Tapi saat pria itu bersiap untuk masuk, kakinya mendadak lemas, tidak bisa menahan bobot tubuhnya, dan membuatnya ambruk sebelum melangkah. Ada apa? Lagi-lagi Hagito membatin.

Pandangannya tiba-tiba memudar, dan Hagito bisa merasakan asin serta amis dalam mulutnya. Darah? Seperti rasa darah. Hagito ingin sekali mengecek apakah bibirnya berdarah atau tidak, tapi tangannya tidak bisa digerakkan.

"KYAAAAAAA… IIBBBUUUUUU!"

Hagito bisa mendengar suara anak perempuan berteriak. Mungkin dia anak pemilik rumah ini yang kaget karena kedatangan 'tamu' sepertinya.

"Ada apa?" kali ini terdengar suara wanita dewasa. "Astaga!"

Siapa? Hagito ingin melihat siapa orang-orang ini, tapi matanya tidak mau terbuka. Terlalu berat.

"Kau kenapa?" suara gadis cilik itu terdengar lagi. "Ayahmu memu—"

"Ssstt!" wanita dewasa itu memotong ucapan si gadis cilik. "Cepat ambilkan obat dan kompres, ibu akan membawanya ke kamarmu." Perintah wanita itu.

Setelahnya Hagito seperti terbang, rasanya nyaman dan hangat, terayun-ayun bersama wangi stroberi yang menyeruak kepenciumannya yang benci manis. Hagito mendarat di sebuah tempat yang lembut dan 'tak kalah hangat, dengan aroma lavender yang kembali membuatnya merasa nyaman. Meski ia tidak suka dengan wewangian, tapi dua aroma ini membuatnya merasa sangat nyaman.

"Ibu, biar aku yang menanganinya." Suara si gadis kecil lagi.

Hagito tidak mendengar jawaban, tapi ia mendengar suara langkah menjauh. Sepertinya saat ini ia hanya berdua dengan gadis kecil ini.

"Ayo buka bajumu," ujar gadis kecil itu sambil meraih ujung kaos Hagito. "Disana pasti lebih banyak luka."

Hagito sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi entah kenapa tubuhnya bergerak begitu saja, ia menurut saat gadis itu membuka kaosnya. Begitu selesai, ia kemudian menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan posisi tengkurap.

"Nnggh." Hagito mengerang saat merasakan sebuah benda lembut dan lembab menyentuh punggungnya pelan-pelan. Perih. Mungkin gadis itu tengah mengobatinya.

"Hiks."

Apa? Gadis cilik itu menangis?

"Kenapa? Kenapa kau selalu saja begini?! Hiks, kau selalu saja terluka. Kenapa ayahmu selalu memukulmu? Kau 'kan anak baik!"

Jadi, semua luka ini dari ayahnya? Pikir Hagito. Tapi kenapa?

"Cengeng." Ucap Hagito. Tapi aneh, suara yang keluar bukanlah suara milik Hagito yang biasanya. Suara yang berasal dari bibirnya terdengar cempreng seperti suara anak kecil.

"Terserah kau mau bilang apa! Aku sedih tiap melihatmu begini! Kau itu tidak seharusnya disiksa, apalagi oleh ayahmu sendiri!" gadis itu bersimpuh di lantai, di samping tempat tidur, hingga kini wajahnya sejajar dengan Hagito.

Pria itu membuka matanya perlahan. Buram. Tapi ia masih bisa melihat wajah gadis itu. Cantik. Auburn. Apa, rambut auburn? Tidak mungkin! Batin Hagito yang tiba-tiba saja teringat seseorang. Tangan Hagito terulur dengan sendirinya, menyentuh helaian rambut berwarna unik itu. "Ma−Mamo."

Apa? Dia menyebutkan nama siapa?

"Kau tahu tidak, aku ini sayang sekali padamu, Youichi!"

GSAP!

Hagito hampir melompat dari tempat tidur. Nafasnya tampak memburu dan wajahnya yang tampan sedikit pucat. Tentu saja, ia bangun dengan tiba-tiba dari tidurnya yang nyenyak. Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kamarnya. Ia menghela nafas lega, karena sadar bahwa apa yang ia alami tadi hanya sebuah mimpi.

"Mimpi sialan!" Hagito mendesis sambil kembali menghempaskan tubuh, mengubah posisinya yang tadi terduduk menjadi kembali tiduran di ranjang. Kantuknya mendadak lenyap, terbang bersama mimpi sialan barusan.

Pandangan mata hijau itu meredup saat menatap langit-langit kamarnya. Apakah tadi, kenangan milik kehidupan sebelumnya? Hagito akhirnya kembali bangkit. Dengan selimut masih menutupi sebagian tubuhnya, ia meraih laptop di meja samping tempat tidurnya, kemudian segera membuka internet. Pria itu melakukan pencarian dengan nama Hiruma Youichi dan menemukan sebuah blog milik Anezaki Mamori.

Hagito terdiam sebentar. Haruskah? Tentu saja! Ia mengclick hasil pencarian itu dan berhasil masuk ke blog milik Anezaki Mamori si wartawan gadungan sialan.

"Hiruma Youichi?" gumam Hagito saat menemukan sebuah tulisan dalam blog tersebut. Ia mengclick tulisan itu.

"Hari ini, hari kematian Youichi. Sudah enam tahun, tapi aku masih saja belum percaya. Tidak tahu, aku hanya merasa, Youichi masih hidup. Entah dia ada dimana, tapi dia masih hidup. Yah, mungkin aku memang gila. Aku selalu berkhayal tentangnya, tentang kami yang bertemu lagi suatu saat nanti. Sungguh, aku tidak percaya kalau hari itu Youichi meninggal. Aku tidak percaya. Hari ini aku ingin mendoakannya—karena kata ibu ini hari kematiannya. Sayangnya aku tidak bisa menemukan kuil di New York, kurasa tidak apa-apa mendoakannya di rumah. Lagi pula, aku selalu mendoakannya kok. Yah, kalau Youichi masih hidup, aku harap dia selalu sehat dan bahagia, tapi… kalau memang Youichi sudah tidak ada, semoga dia bahagia di alam sana, aku selalu, selalu, dan selalu, berdoa untukmu, Youichi. Suatu saat nanti aku juga akan menyusulmu. Aku kangen padamu, T_T"

Hagito terdiam membaca tulisan yang diposting lebih dari setahun lalu itu. Pikirannya mendadak kacau. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pusing. Hagito merasa tidak nyaman dengan kondisinya sekarang. Ia jadi sangat penasaran.

"Semalam tiba-tiba mimpi bertemu Youichi. Ada yang aneh dengannya dalam mimpiku. Dia terlihat seumuran denganku, harusnya dia 'kan masih kelas 1 SMA—saat dia diberitakan meninggal. Dan dia melihatku seperti orang asing. Apa? Ada apa dengannya, dia hanya diam melihatku seolah tidak pernah mengenalku. Oh… apa ada yang bisa menafsirkan arti dari mimpi ini? Sesak rasanya saat dia menatapku dengan pandangan yang dingin seperti itu. Huhu…."

"Cih, ngapain cewek bodoh ini menulis hal nggak berguna begitu di internet? Memalukan!" komentar Hagito yang entah kenapa merasa tertuduh membaca tulisan Mamori yang diposting delapan bulan lalu itu.

Tunggu, tertuduh? Hagito tercekat dalam pikirannya sendiri. Apa maksudnya tertuduh. Jelas-jelas yang dimaksud si wartawan gadungan itu Hiruma, bukan dirinya. Hagito mengacak rambutnya dengan kesal. Ia lalu segera mematikan laptop dan kembali merebahkan diri. Mencoba untuk tidur. Dia memang butuh tidur. Mungkin dengan begitu, pikiran-pikiran aneh dalam kepalanya bisa hilang.


"Baiklah, aku akan menjemputmu satu jam lagi." Ucap Yamato di seberang telepon saat Mamori mengatakan tentang pertemuannya dengan Akaba.

"Iya," jawab Mamori yang kemudian memutuskan sambungan telepon. Ia bersyukur Yamato mengizinkannya bertemu dengan Akaba. Yamato memang sangat baik. Pria itu selalu mendukungnya, dan tidak pernah memberikan larangan. Mamori jadi tidak enak sendiri, karena akhir-akhir ini dia selalu mengurusi Hiruma, bahkan ia dan Yamato hampir tidak punya waktu untuk bersama. Gadis itu tersenyum kecil lalu menyimpan handphone-nya dalam tas pundak yang ia bawa.

Saat ini dia sudah berdiri di depan Chelonia café, tempat ia akan bertemu dengan Akaba. Apa pria itu sudah ada di dalam ya? Tanya Mamori dalam hati. Ia melangkah masuk café bergaya Prancis modern itu perlahan, dan langsung menemukan seorang pria dengan rambut merah mencolok yang tengah bermain gitar di meja yang dekat dengan pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan sebelah yang lebih remang-remang.

"Akaba Hayato?" tanya Mamori saat tiba di meja Akaba.

Pria berambut merah itu menoleh pada Mamori. Ia tersenyum kecil. "Fuh, Anezaki Mamori 'kan?" Akaba memastikan.

Mamori mengangguk kecil. Membuat Akaba kembali tersenyum. "Duduklah," Akaba menunjuk kursi yang berseberangan dengannya. "Mau pesan apa?" ia menyodorkan buku menu pada Mamori begitu gadis itu duduk.

"Uhm, coklat float saja," jawab Mamori setelah melihat menu itu sekilas.

Akaba mengangguk, pria itu menjentikan jarinya untuk memangil pelayan. "Satu coklat float," ujarnya saat seorang pemuda berseragam putih menghampiri meja mereka.

"Baiklah, mohon tunggu sebentar," ucap pemuda itu kemudian kembali meninggalkan Akaba dan Mamori.

"Kau sendiri tidak pesan?" tanya Mamori karena Akaba hanya menyebutkan pesanannya.

"Sudah, mungkin akan datang sebentar lagi," jawab Akaba. "Nah, Anezaki, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari.

"Tidak, harusnya aku yang berterimakasih karena kau mengajakku kemari, untuk membahas soal Youichi."

Akaba tersenyum sambil membenahi kaca matanya yang sedikit melorot.

"Jadi, kalau kau tidak mengenal Youichi, dari mana kau tahu nama itu?" tanya Mamori langsung ke pokok pembicaraan.

"Beberapa hari yang lalu, aku melihatmu di SMU Deimon, di sana ada monumen peringatan kecelakaan tujuh tahun lalu 'kan? Aku melihatmu meletakan bunga di bawah foto dengan nama Hiruma Youichi. Jadi kupikir kau pasti tahu tentang pria itu 'kan."

"Sedang apa kau di SMU Deimon?" tanya Mamori.

"Fuh," Akaba menghela nafas, ia tidak mungkin bilang kalau waktu itu dia dan Hagito membuntuti Mamori. "Aku dan Hagito sedang ada acara di sana, dan waktu kami jalan-jalan di halaman sekolah itu, kami melihatmu." Jawabnya berbohong,

"Oh," tapi sepertinya Mamori percaya. "Jadi kau bersamanya waktu itu?"

Akaba mengangguk. "Apa yang membuatmu menangis waktu interview dengannya?"

Mamori tersentak. Tidak menyangka Akaba akan bertanya soal itu. Haruskah Mamori menjelaskan semuanya? Mungkin Akaba tidak mengerti apa-apa, tapi mungkin saja pria ini tahu sesuatu, buktinya sekarang dia menemui Mamori untuk bicara soal Hiruma yang tidak ia kenal.

"Kupikir, Hagito itu mungkin Youichi," jawab Mamori jujur. "Waktu kecelakaan tujuh tahun lalu, meski dinyatakan meninggal, jenazah Youichi tidak pernah ditemukan. Dan aku merasa Hagito adalah Youichi. Dia mirip sekali dengan Youichi."

"Memangnya seperti apa, Hiruma Youichi itu?" tanya Akaba serius.

Mamori baru akan menjawab saat seorang pelayan datang membawa satu coklat float dan satu capucinno. Gadis itu mengucapkan terima kasih lalu meminum coklat float-nya sebelum bicara. "Dia seperti Hagito. Secara fisik dan sifat, mereka berdua sama. Youichi senang bicara dengan menambahkan kata sialan, dia sangat suka pada senjata, dia tidak pernah lepas dari permen karet bebas gula rasa mint, rambutnya hitam, tapi dia mengecatnya jadi pirang saat masuk SMP, dia punya gigi taring lebih banyak dari manusia normal. Aku tidak percaya ada dua manusia yang memiliki seratus persen kesamaan. Hal seperti itu tidak mungkin ada, bahkan saudara kembar pun punya perbedaan."

Akaba terdiam mendengar cerita Mamori. Biar bagaimana pun, ia mengenal Hagito sejak lama. Ia tahu segala rahasia pria itu. "Dia punya bekas jahitan di punggung?" tanya Akaba.

Gadis di depannya tersentak. Bagaimana, bagaimana mungkin Akaba tahu? Pria ini bahkan tidak mengenalnya!

"Dari mana kau tahu?!" Mamori bisa merasakan nada bicaranya mulai meninggi.

"Fuh, tetaplah pada iramamu, Anezaki," komentar Akaba sambil tersenyum.

Tapi berhubung Mamori tidak mengerti maksudnya, ia hanya menjawab pertanyaan Akaba sebelumnya. "Luka itu didapat Youichi waktu menyelamatkanku dari berandalan saat kami kelas satu SMP, aku sendiri yang mengantarnya ke rumah sakit."

"Baiklah, kurasa aku sudah dapat kesimpulan," lagi-lagi Akaba tersenyum.

"Apa?" tanya Mamori.

"Semuanya sejak tujuh tahun lalu," Akaba mulai bercerita.

FLASHBACK

Akaba dan Musashi baru saja lolos dari macet yang diakibatkan kecelakaan di lereng gunung Fuji, sore itu mereka akan kembali ke Tokyo, tapi kecelakaan hebat yang terjadi beberapa jam lalu itu sukses menghambat perjalanan mereka.

Sekarang saat mereka sudah berhasil melewati kemacetan, Musashi tiba-tiba menghentikan mobil yang ia kemudikan saat melihat seorang kakek menggendong pemuda yang mungkin seumuran Akaba berdiri dengan wajah kusut di pinggir jalan.

Musashi membuka kaca jendelanya dan melihat kondisi dua orang itu. Pemuda dalam gendongan kakek itu tampak tidak sadar dengan tubuh penuh darah.

"Ada apa?" tanya Akaba.

Sementara Musashi yang memang punya perhatian tinggi terhadap sekitar langsung turun dari mobil. "Kenapa dengannya, kek?" tanya Musashi sopan.

"Sepertinya dia korban kecelakaan itu, bisakah kau membawanya ke rumah sakit? Dia masih hidup, tapi sepertinya kritis. Kasihan kalau tidak ada yang menolongnya." Jawab sang kakek.

"Akan kubawa ke rumah sakit." Musashi segera mengambil alih pemuda berambut pirang berantakan itu dari gendongan si kakek.

Kondisinya saat ini buruk, ada luka di kepalanya, kaos yang ia gunakan penuh dengan darah, dan dia hanya mengenakan satu sepatu. Entah hilang kemana sepatu yang satunya.

"Kita akan membawanya?" tanya Akaba saat Musashi menidurkan pria itu di jok belakang mobilnya.

"Tentu saja," jawab Musashi pasti.

Akaba tidak menjawab. Ia sangat mengerti sifat Musashi. Sudah pasti dia tidak akan tinggal diam jika ada yang membutuhkan bantuan di dekatnya.

Niat untuk segera pulang pun dibuang jauh-jauh oleh Akaba dan Musashi. Mereka berdua berbelok ke rumah sakit Jakomachi. Si pemuda asing ini harus segera dirawat.

Sejak hari itu Musashi selalu menunggui pria asing ini. Kondisinya yang buruk membuatnya koma hingga berbulan-bulan, tapi semakin hari kondisinya semakin baik. Bahkan Musashi sendiri selalu yakin bahwa pria ini akan bangun suatu saat nanti.

Dan keinginannya terwujud saat pemuda itu bangun setelah enam bulan koma. Kondisinya mulai stabil. Dia dipindah dari ruang ICU ke kamar rawat satu jam setelah bangun.

"Siapa kalian?"

Itulah kata yang keluar dari bibir si pria saat pertama kali bertemu Musashi dan dua orang temannya.

"Kau bisa memanggilku Musashi, dia Akaba dan di sebelahnya itu Juumonji." Musashi memperkenalkan diri.

Pria itu melirik malas dua orang yang dikenalkan Musashi. Seorang pemuda beratribut serba merah—termasuk rambut dan bola matanya, dan satu lagi pria dengan tampang preman berambut abu-abu pucat—nyaris putih, dan memiliki bekas luka di pipi kanan.

"Kenapa aku ada di sini?" tanya pria itu lagi.

"Enam bulan lalu, aku dan Akaba menemukanmu sedang ditolong seorang kakek di lereng gunung Fuji—"

"Ngapain ada kakek sialan menolongku di lereng gunung sialan?!" potong pria itu dengan nada tajam.

'Kakek sialan? Lereng gunung sialan?' pikir semua orang yang ada dalam ruangan itu.

"Fuh, tidak bisakah kau bicara dengan lebih sopan?" tanya Akaba.

"Enggak!" sahut si pria yang sukses membuat Juumonji siap untuk memukulnya.

"Kau kecelakaan, tidakkah lebih baik kau berterimakasih?" Musashi tersenyum menatap pria itu.

"Aku tidak minta ditolong, jadi buat apa berterimakasih!"

"Kau ini benar-benar minta dihajar!" Juumonji sudah hampir meninjunya jika Musashi tidak menengahi mereka.

"Baiklah, kau benar. Karena kau sudah sehat, kami bisa mengantarmu pulang. Jadi, siapa namamu?" tanya Musashi sebelum terjadi perkelahian di sini.

"Nama?" pria itu terlihat bingung. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela dan terus memandangi langit yang sedikit terlihat dari sana dalam waktu yang lama. "Aku tidak ingat."

"Haaaa?" Akaba dan Juumonji memekik.

"Berisik!" komentar pria itu.

"Kau tidak ingat namamu?" Musashi memastikan. "Kau tidak sedang bercanda 'kan?"

"Tentu saja tidak, orang tua sialan. Ngapain aku bercanda denganmu!"

"Sudah kubilang bicara yang sopan," kata Akaba pelan.

"Memangnya kenapa? Cara bicaraku memang begini, kalau tidak suka tidak usah bicara denganku!"

"Tunggu sebentar, apa kau ingat, kejadian sebelum kau koma? Kau sedang apa, kenapa kau sampai ke lereng gunung Fuji waktu itu?"

Lagi-lagi pria itu mengalihakan pandangan, seperti tengah memikirkan sesuatu yang sangat rumit. "Aku tidak ingat."

"Jadi apa yang kau ingat? Masa kau cuma ingat soal sialan-sialan saja?" tanya Juumonji geregetan.

"Aku tidak ingat apa pun, preman sialan!"

"Oi, siapa yang kau sebut preman?!"

"Sudah hentikan, aku akan menemui dokter. Akaba, ayo ikut." Lagi-lagi Musashi melerai. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar diikuti Akaba.

.

"Dia mengalami amnesia disosiatif," komentar Dokter sambil mengecek hasil pemeriksaan. Padahal ia baru saja akan menemui pemuda itu di kamar, tapi Musashi sudah lebih dulu menghampirinya. "Terjadi kerusakan di struktur otak yang membentuk system limbic yang mengendalikan emosi dan kenangan. Dia tidak bisa mengingat informasi pribadi yang penting. Tapi tidak terlalu khawatir, dia akan ingat dengan sendirinya jika kalian bersabar membantunya mengingat semua masa lalunya, seperti menceritakan pengalaman atau memberikan benda-benda kesayangannya."

"Tapi bagaimana kita melakukannya? Kita bahkan tidak mengenalnya 'kan?" bisik Akaba pada Musashi.

Sepertinya Musashi tidak mendengarkannya, ia hanya terdiam mendengar penjelasan Dokter. Sepertinya ia sedang mencari cara agar semuanya baik-baik saja.

.

Musashi dan Akaba menatap pria yang kini tengah tiduran di tempat tidurnya. Beberapa menit lalu, Musashi baru saja memberitahukan hasil pemeriksaan dokter pada pria itu. Dan sekarang pria asing itu hanya terdiam sambil membuang muka. Menghindari kontak mata dengan Akaba dan Musashi. Juumonji sendiri sudah pulang sejak dua orang ini kembali, maka di sini hanya menyisakan mereka bertiga.

"Jadi kalian mau aku bagaimana?" tanya pria itu yang berhasil menarik perhatian Akaba dan Musashi. "Begitu aku benar-benar sehat aku akan pergi. Akan kuganti semua biaya rumah sakit sialan ini."

"Kau mau pergi kemana?" tanya Musashi tegas. "Kau tahu dimana rumahmu? Nama saja kau tidak ingat, bagaimana kau mau pulang?! Aku tidak akan membiarkanmu jadi gelandangan diluar sana."

"Cih, kau meremehkanku!" pria itu memutar matanya dan menatap Musashi dengan malas.

"Sambil menunggu ada orang yang mengenalimu, kau tinggal denganku. Dan mulai sekarang, namamu… Hagito Arata."

"Nama sialan macam apa itu?!"

"Itu nama sialanmu, bocah sialan. Jangan memabantah!" Musashi menjawab dengan nada yang tegas dan penuh wibawa. Bahkan pria yang kini resmi bernama Hagito Arata itu diam dibuatnya.

"Benda apa ini?" tanya Akaba saat menemukan sebuah kalung dengan liontin kelelawar terbang. Padahal sejak tadi tidak ada benda seperti itu di sini.

"Jangan menyentuhnya, mata merah sialan!" sentak Hagito.

Akaba yang hampir menyentuh kalung itu menghentikan tangannya diudara. "Milikmu?" tanyanya.

"Ya, aku memakainya tadi." Jawab Hagito dingin. "Aku tidak tahu kenapa, tapi kalung sialan itu berharga buatku. Jadi jangan sekali-kali menyentuhnya!"

END OF FLASHBACK

Mamori menitikan air mata saat Akaba menghentikan ceritanya. Sekarang ia sangat yakin bahwa Hagito adalah Youichi yang selama ini ia rindukan. "Terima kasih," ucapnya pelan.

Ya, Mamori benar-benar berterimakasih pada Akaba dan orang bernama Musashi yang sudah merawat Hiruma selama ini. Mungkin tanpa mereka, Hiruma akan benar-benar meninggal waktu itu.

"Hei, jangan menangis. Aku tidak mau dituduh sebagai pelaku yang membuatmu menangis." Akaba tersenyum kecil.

Mamori juga tersenyum. Ia lalu menunjukan kalung yang ia pakai. Kalung yang sama persis dengan milik Hiruma. "Youichi memberikan ini saat aku akan berangkat ke Amerika. Dia yang mendesain sendiri liontinnya. Makanya, aku yakin kalau Hagito adalah orang yang kucari."

Lagi-lagi Akaba tersenyum. ia menyeruput sedkikit minumannya. "Dia bukan tokoh dalam dorama yang hilang ingatan lalu diracuni dengan ingatan palsu. Sampai sekarang pun, batas ingatannya hanya sampai saat dia sadar di rumah sakit."

Mamori mengangguk sambil menyeka air matanya. Ia bersyukur, saat itu Hiruma ditemukan oleh orang-orang yang baik, dirawat dengan baik, bahkan kini ia sudah sukses. Mamori benar-benar berterimakasih.

Sementara di belakang mereka, tepatnya di ruangan sebelah. Seorang pria berambut spike pirang tampak terdiam setelah mendengarkan semua percakapan Akaba—yang sengaja ia buntuti dengan Mamori.

Ia terus diam, mencerna semua cerita yang ia dengar tanpa ada satu pun yang terlewat. Perlahan tampak gelembung dari permen karet yang dikunyahnya, ia biasanya memang berfikir sambil mengulum permen karet.

"Mungkin kalau denganmu, Hagito bisa kembali mendapatkan ingatannya." Suara Akaba terdengar.

"Aku harap begitu, aku akan melakukan apa pun supaya dia kembali ingat." Kali ini suara Mamori yang terdengar. Membuat pria tampan yang sejak tadi menguping itu memejamkan matanya sebentar, menikmati sensasi hangat yang tiba-tiba menjalari tubuhnya.

"Ya. Tidak terasa, kita sudah hampir satu jam di sini. Aku ada urusan setelah ini, jadi maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang."

"Ah, iya, tidak apa-apa. Aku dijemput tunanganku nanti."

"Hm… Kupikir pria bernama Hiruma itu pacarmu?"

"Bukan, dia sahabatku. Kami berteman sejak kecil."

Tidak ada suara lagi yang terdengar. Sepertinya Akaba dan Mamori sudah pergi dari tempat mereka. Membuat Hagito—yang sejak tadi menguping pembicaraan Akaba dan Mamori ikut beranjak dari tempatnya. Ia berjalan keluar café setelah membayar pesanannya. Bukan untuk pulang, karena ia dan rekan-rekan Akuma yang lain akan ada pertemuan di sini sebentar lagi. Hagito hanya melangkah ke pintu keluar-masuk café, dan di sana ia menemukan gadis yang ia ketahui bernama Mamori Anezaki tengah bersama Agon—salah satu rekannya di band, gadis itu menunjukan ekspresi takut.

Entah apa yang mengusik hatinya, Hagito merasa terganggu melihat itu. Maka ia menghampiri keduanya, lalu berdiri di antara mereka dengan membelakangi Mamori.

"Eh?"

Hagito bisa mendengar respon Mamori yang tampak bingung.

Sementara Agon yang kini di depannya hanya menyeringai kecil. "Kenapa kau, sampah? Ingin jadi pahlawan?" tanya Agon pelan.

"Jangan mengganggunya." Hagito menjawab singkat.

"Yare-yare, siapa yang mengganggu? Kau sepertinya salah paham, kami hanya saling sapa, iya 'kan nona manis?" Agon tersenyum manis pada Mamori yang berdiri di belakang Hagito.

"Tidak akan kubiarkan kau mengganggunya." Hagito mengabaikan pernyataan Agon. Ia menatap pria di depannya dengan pandangan tegas. "Sekarang cepat temui yang lain, Dread sialan!" ia lalu berjalan melewati Agon begitu saja.

Agon tersenyum kearah Mamori sebelum mengikuti langkah Hagito.

"Yo-Youichi!" panggil Mamori yang sukses menghentikan langkah Hagito dan Agon, serta Yamato yang baru saja datang untuk menjemput Mamori. "Apakah kau, sama sekali tidak ingat tentangku?!"

Hagito diam, ia tidak tahu apakah ia harus menjawab pertanyaan itu atau tidak. "Tidak." Jawab Hagito pelan dan mulai melanjutkan langkahnya.

"Youichi! Kau tahu, selama ini sehari pun… Sehari pun aku tidak pernah melupakanmu!"

DEG.

Kalimat itu berhasil membuat Hagito dan Yamato mendapat serangan jantung mendadak.

"Berisik kau, cewek sialan! Kau pikir kehilangan ingatan membuatku senang?!" Hagito tetap melanjutkan langkahnya dengan Agon. Seolah tidak peduli dengan gadis yang kini hampir menangis karenanya.

"Mamo, ayo pulang." Yamato menghampirinya. Pria itu menepuk pundak Mamori. Ingin memberikan kekuatan pada kekasihnya.

Mamori mengangguk. Ia menurut saa kekasihnya itu merangkulnya, membawanya menjauh dari tempat itu.

Tsuzuku

nyahahaha... chap ini sumpah nyineeett... tapi memang harus seperti ini..

mohon maaf kalau ada kesalahan...dan silahkan tinggalkan review, Minna... XDD

Arigatou~~~